Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 101 The Sadness Heart....



Kapela Biara dua hari kemudian untuk pertama kalinya dikelilingi banyak pengawal. Lucky Luciano akan menikahi Puteri Durante dan mereka mengucap janji pranikah sehari sebelumnya. Mereka akan menikah tetapi dengan banyak ultimatum. Termasuk, kehilangan hak sebagai Puteri Durante apabila Reinha kedapatan berani melanggar janji pranikah yang diciptakan dalam waktu semalam. Salah satu di antaranya akan tinggal terpisah dari Lucky Luciano dan tetap hidup sebagai adik perempuan Elgio Durante sebagaimana kehidupannya selama belasan tahun berjalan. Lucky tak keberatan selama ia bisa menikahi Reinha dan mengikat cintanya pada Reinha.


Meski tanpa konsep pernikahan yang jelas tetapi sepertinya pernikahan itu benar-benar ala Mafia. Dikelilingi pengawal berseragam jas hitam-hitam dengan kaca mata gelap, potongan rambut serius, tampang garang dan tentu saja bersenjata di balik jas mereka ..., pasang seluruh indera; mereka akan rayakan momen pernikahan sebagai sesuatu yang pantas untuk dikenang. Sepertinya mereka belajar dari pernikahan Elgio Durante. Meski kini tanpa Valerie, Francis tak bisa ambil resiko. Gabungkan dua kekuatan penuhi jalanan menuju Kapela dengan penjaga bersenjata.


Mobil vintage masuki parkiran Kapela dan Lucky Luciano turun dari mobil. Berulang kali meneguk ludah, ia kancingkan jas hitam dan Claire mengatur ulang dasinya. Clairence Luciano tampak sangat cantik, bersinar seperti kakak laki-lakinya.


"Kau akan menikahi sahabatku, bukankah itu keren? Kalian bertemu di kelas dan kau mengejarnya tanpa sepengetahuanku, walau akhirnya aku tahu. Aku sangat bahagia untukmu dan Reinha," ujar Claire menepuk bagian depan jas kakaknya.


"Hmmm, kau sangat cantik hari ini, Cla. Apa aku terlihat tampan?"


"Um, sangat. Tak ada saingannya. Aku tak percaya kau akan menikah," kata gadis itu lagi berkaca-kaca. "Kau berhasil dengan Reinha. Gadis paling populer di sekolahku," tambahnya senang.


"Berhentilah Cla, kau tak lihat aku sangat gugup?"


"Tidak, kau tampak biasa saja."


Lucky mengangguk, bentangkan telapak tangannya dan Claire terkekeh geli. Tangan Lucky Luciano berkeringat dan menetes jatuh seperti keran bocor.


"Mari masuk, Kak! Kurasa mobil Reinha akan segera tiba," kata Claire menggandeng Lucky masuk ke Kapela.


Tak ada banyak orang di dalam Kapela. Ethan terlihat mengurut keningnya berulang kali, menyipit saat Lucky masuk. Setelah Marya Corazon kini giliran sahabatnya yang satu, Reinha Durante. Pemerintah harusnya melarang pernikahan usia dini. Mereka akan pergi ke olimpiade, ya Tuhan, apa yang mereka lakukan? Haruskah buru-buru menikah?


Queena dan Axel Anthony tampak berdiri dengan tenang di bangku paling depan. Berbagi bisik.


"Anak-anak remaja dahului kita menikah," keluh Axel Anthony.


"Ya, kita juga akan menikah. Setiap orang akan menikah. Axel, tahukah kau, pernikahan seperti apa yang aku impikan?"


"Katakan padaku, ku pikir kita hanya pergi ke Vila di Turin dan menikah diam-diam sebelum bayi kita lahir."


"Aku ingin pernikahan yang dihadiri oleh Ibuku," sahut Queena. "Kau benar-benar tidak tahu keberadaan mereka?"


Axel terdiam. Sebelum menculik Queena, Axel terlebih dahulu menculik Viktor dan Brigitta malam itu dan serahkan pada Valerie. Saat Queena tahu, apakah wanitanya itu akan tetap romantis padanya?


"Axel?!"


"Aku akan temukan Ibumu dan Ayahmu lalu membawa mereka kembali! Aku janji!" sahut Axel.


Axel menarik napas panjang dan dalam. Ibunya sendiri tak akan restui pernikahan mereka karena berpikir Ayah Queena pembunuh suaminya. Rocco Anthony dibunuh Viktor Mendeleya karena bersedia bocorkan rahasia gelap Familly Club pada pemerintah dan Rocco harus dilenyapkan sesuai peraturan Familly Club'. Begitulah yang Ibu Axel yakini. Queena dan dirinya adalah korban dari pekerjaan orang tua. Mereka berdua meski tak ikuti jejak para Ayah mereka jadi mafia, tetap saja akhirnya terjebak di dunia gelap ini. Jadi, bayi mereka mungkin akan lahir dengan kesalah-pahaman, meski, Valerie-lah tukang ricuh di sini. Mereka harus kucing-kucingan dengan Ibunda Axel, tak tahu bagaimana cara luruskan tanpa ciptakan debat dan berakhir tanpa konflik. Ini akan sangat rumit nanti.


Di sisi satunya Marya kenakan sweater putih yang melekuk sempurna di tubuh mungilnya dengan rok tutu tule sedikit hiasan brokat daun tipis. Rambutnya terurai di curly dan poninya hilang sementara waktu. Mungkin karena sedang mengandung, aura wajahnya terlihat kelewat cantik hingga Elgio kesengsem berat, tak beralih menatap istrinya yang muda belia. Tak bosan dan tak jemu-jemu.


"Ya Tuhan, Elgio, berhenti menatapku seperti itu? Kau terlihat seperti ingin jilati wajahku?" kata Marya geli. Beruntung hanya mereka di Kapela. Enam orang pria berjas hitam, dasi kupu-kupu, kaca mata gelap ambil posisi di bagian paduan suara. Marya mengerut pada Elgio.


"Apa mereka akan paduan suara?" tanya Marya ragu.


"Mungkin," sahut Elgio memeluk Marya dan mengelus lengan istrinya. Mereka tak pernah bercinta lagi bahkan setelah menikah. Hanya tidur seranjang dan berbagi cinta. Banyak interupsi dan Marya selalu belajar sampai larut malam. Kadang Marya mengendap-endap pagi buta ke kamar mandi, muntah-muntah dan duduk berjam-jam di sana, tak ingin bangunkan Elgio.


Lucky Luciano muncul di ambang pintu tersenyum sedikit pada semua ornag yang berbalik, pamerkan satu lesung pipinya yang memikat.


"Lihatlah berandal itu," decak Elgio. "Jatuh pada adik perempuanku."


"Mereka sangat manis saat bersama," bisik Marya.


"Apa kita tidak?" tanya Elgio.


"Kau mudah sekali tersinggung, Elgio Durante. Aku mencintaimu setiap hari sejak kau selamatkan aku waktu kebakaran. Aku mencintaimu saat aku menciummu suatu pagi."


"Dan saat kita tidur bersama," sambung Elgio.


"Ya, kita sangat manis saat bersama, saking manisnya pabrik gula berhenti menggiling tebu, mereka hanya perlu amati kita berdua karena kita bisa hasilkan gula 1 ton tiap hari dari kebersamaan kita," tambah Marya menatap Elgio lembut.


"Kau sekarang pandai menggombal Marya." Elgio tiba-tiba suram ingat percakapan dengan Abner semalam. Lucky Luciano akan benar-benar digiring, tinggal menunggu waktu.


Marya tersenyum lebar hingga Elgio tak tahan dan mengecup kilat puncak kepala kekasihnya.


Ethan amati dua orang di depannya, berdecak sambil menggeleng. "Mereka saling merayu di dalam Kapela? Luar biasa."


Augusto bergabung dengan Ethan begitupula Sunny dan Abram.


"Kupikir setidaknya kau menikahi Reinha Durante setelah gagal dengan Marya, hhhh, kurasa kau akan berakhir dengan Arumi Chavez," goda Abram Hartley senang lihat Ethan Sanchez masam.


"Kau lebih cocok dengan Arumi, Abram. Kalian punya ruang otak hampir sama," jawab Ethan ketus. Arumi Chavez makin hari makin giat belajar. Ia jarang tersenyum, meski tetap patuh pada Ethan. Gadis itu, berubah sedikit demi sedikit walaupun terus terang menyukai Ethan. Arumi tak lagi asal bicara, lebih banyak belajar dan pendiam. Arumi juga jaga jarak, harusnya Ethan senang tetapi Arumi sengaja lakukan itu untuk menarik perhatiannya.


Lucky berdiri di depan altar suci menatap lurus pada pintu Kapela yang tertutup. Denting piano dan Wonderful Day bergema. Lucky Luciano tak pernah bayangkan sebelumnya akan mengikat janji suci dengan Reinha. Mereka baru beberapa bulan bertemu tapi mereka punya banyak momen manis yang berdebar-debar. Lucky meremang dalam hati mengenang bagaimana Reinha pasrah padanya di Civic Center dan mereka mungkin akan berakhir dengan jadi buronan Elgio Durante. Reinha punya pengendalian diri yang sangat bagus. Gadis itu kekasihnya. Hanya karena ia dikejar-kejar tidak berarti ia menyerah begitu mudah pada hasrat.


Para gangster mulai bernyanyi saat Padre Pio masuk, mengasapi altar dengan dupa, kemenyan, minyak mur. Asapnya naik ke langit-langit Kapela, semerbak wangi. Beliau kemudian mengambil tempat di depan altar.


Today, I will walk with my hands in God


Today, I will trust in Him and not be afraid


For He will be there


For He will be there


Lucky Luciano memandang Reinha, tak lepas, saat sang gadis melangkah dengan buket anggrek bulan di tangannya, berjalan menuju altar untuk berdiri di sampingnya.


Every moments to share


On this wonderful day


He has made ....


Lucky Luciano masih terpaku saat Reinha sampai padanya, masih melayang, kehilangan gravitasi. Matanya awasi Reinha yang berdiri gemulai dan anggun, sedikit membungkuk padanya. Padre Pio segera sadarkan dirinya. Ia kemudian ulurkan tangan dan menggenggam jemari tangan Reinha, di depan altar, ingin mengatakan betapa takjubnya ia melihat Reinha. Pemberkatan dimulai. Para gangster dari regu bravo dan Charlie yang berperang bersama Reinha di hutan Pinus menyanyikan lagu-lagu dari Madah Syukur yang puitis tentang bahtera rumah tangga.


Mereka ucapkan janji sehidup semati, tentang bersama dalam suka dan duka, setia sebagai sepasang kekasih hingga maut memisahkan.


Agak grogi, Lucky menyingkap kerudung tipis. Ekspresi wajah pria itu lagi-lagi takzim oleh gadis dengan pipi merona peachy dan gincu nude yang elegan. Matanya yang cantik melengkung makin indah dengan hiasan mata yang makin sempurnakan karakter wajahnya. Lucky meraih tangan gadis itu, letakan di dadanya.


"Enya, kau dengar kidung degup hayat ragaku ini? Kau benar-benar menakjubkan, aku menikahi seorang Puteri sungguhan. Aku masih tak percaya."


"Lucky, akhirnya kita menikah," kata Reinha berkaca-kaca. Gadis itu tak tahu pasti kapan tepatnya ia jatuh cinta pada Lucky.


Love looks pretty on you. Makes you soft, tender, proud. Makes you sit up and take notice. Gives you a home to set down your things.


What a blessing it is, to have music and dancing and poetry. What a gift it is, to look at someone and say,


I’m so happy to have found you – at last, at last, at long, long last – you're here.


Bibir pria itu bergetar saat bacakan prosa At Last dari Love Looks Pretty on You, puisi yang sangat disukai Reinha. Gambaran sempurna untuk hati mereka yang bersyukur pada akhirnya mereka menyatu dalam ikatan perkawinan. Hati-hati Lucky Luciano miringkan kepala dan menyentuh bibir Reinha pelan sedang Reinha pejamkan mata, menyatu dalam emosi.


Bayangan saat Lucky Luciano ketika memeluknya di kelas ketika Elgio tanpa sengaja meninjunya, berkelebat kembali. Ketika ia menyerang Lucky di Puri Luciano dan untuk pertama kali ia mencium seseorang meski itu sebuah gigitan. Gadis itu tak dapat menahan haru. Cinta yang indah, cinta yang sangat bebas menikam. Saat Claire bercerita tentang kakaknya yang tampan dan terkenal playboy, Reinha tak berharap berjumpa Lucky Luciano.


Ia sesumbar tak akan jatuh pada pria yang tidur dengan banyak wanita, tetapi ia terperangkap pada pesona manly Lucky Luciano. Pada rahang persegi dengan lesung pipi yang memikat. Saat pria itu penjarakan dirinya dalam kedua lengan, mengunci dirinya antara rak buku The Windows dan tubuh kekarnya, mencium lehernya dan membuat foto, Reinha yakin ia telah jatuh. Terlebih saat pria itu racuni dirinya dengan obat anti mabuk dan memeluknya selama 7 jam perjalanan dalam bis dan saat pria itu memeluknya di ruang ganti nomer 5 Dream Fashion, terlalu banyak pelukan juga ciuman. Mereka bahkan hampir berserah satu sama lain di Civic Center. Apakah ia terlalu muda, terlalu na'if, tidak paham bahwa cintanya mungkin keliru? Tidak.


Kini saat Lucky menyusuri bibirnya sebagai seorang suami, Reinha tak mampu bendung tangis. Butiran bening pecah dari sudut mata, mengalir turun sampai pada bibirnya hingga Lucky sadari sesuatu terasa asin di antara aroma kopi lipcream sang kekasih yang kini telah resmi jadi istrinya. Mata mereka terbuka dan bertatapan dengan dalam.


Reinha tanpa sengaja mendengar percakapan Abner bahwa Lucky akan pergi ke penjara dan Elgio Durante tak bisa lindungi suami tercinta. Irish Bella telah selesai dengan ucapannya. Reinha sesegukkan cukup keras untuk buat Lucky Luciano terpana.


"Enya?! Apa yang terjadi? Apa aku menyakitimu?"


Reinha menggeleng keras. "Aku merasa sesak napas karena terlalu mencintaimu."Ia berbohong.


Lucky tersenyum dan mengusap air mata. Bisakah mereka pergi dan berduaan? Banyak yang ingin mereka ucapkan. Ia kembali mencium Reinha lebih sopan. Ya, harus sopan meski ia sangat ingin mengunyah Reinha. Mereka tak pernah berciuman sejak di rumah sakit saat Irish kacaukan mereka tentang September.


"Thank you for loving me," kata Lucky lagi dan kali ini mendapat tepukan tangan.


Begitulah akhirnya pernikahan itu terjadi. Mereka kembali ke Durante Land dan berdansa. Meski suasana sukacita, semua orang terlihat agak muring. Menjelang siang sesuatu yang ditakutkan Reinha terjadi.


Beberapa petugas kepolisian didampingi orang-orang kejaksaan dan satu pasukan militer bersenjata lengkap datang ke Paviliun Durante dengan surat perintah penangkapan Lucky Luciano.


Carlos Adelberth salah satu di antara militer yang bergabung dalam tim. Ia ingin bicara pada Lucky tetapi Elgio berikan kode untuk tutup mulut.


"Bisakah menunggu sampai besok?" tanya Lucky Luciano. "Aku akan datang sendiri, Anda tak perlu buat istriku ketakutan. Lagipula, bukankah kalian harus menangkapku di Puri Luciano?" keluh Lucky Luciano. Claire memeluk lengan kakaknya erat.


Para pengawal berjaga-jaga tidak berani acungkan senjata dan Elgio Durante tampak tak mampu selamatkan kekasih adiknya. Mereka akan pergi ke penjara untuk membayar kejahatan. Begitupula Marya yang tampak terpukul dan tak berdaya, mencoba tegar walau ia sangat-sangat cemas. Ibu dan aunty-nya akan di seret ke penjara untuk tiap tetes kejahatan.


"Pria ini akan serahkan diri pada pihak berwenang, Anda tak perlu lakukan hari ini. Puteri kami sedang melangsungkan pernikahan," kata Abner Luiz pada para penyidik kepolisian. "Haruskah dilakukan hari ini? Aku akan jadi penjamin. Lucky Luciano adalah kerabat Durante saat ini, kami akan mengawasinya hingga penuhi surat panggilan. Untuk hari ini, ijinkan ia lewati hari pernikahannya."


Elgio memeluk Reinha yang telah bertukar dengan gaun putih sederhana, terlihat pasrah dan mencoba tegar. Sedang Marya telah memerah sedih di sisi sebelah Elgio tanpa pria itu sadari. Marya segera berlari ke lantai atas untuk menelpon Ibunya. Mondar-mandir gelisah sebab ponsel Ibu tak diangkat. Ia tak mungkin minta Elgio lakukan sesuatu, sebab melindungi Ibu sama saja lindungi kejahatan. Ibu tak lagi lakukan kejahatan itu selama sebulan sejak mereka bertemu tetapi ibarat satu titik susu tak akan mampu merubah rasa nila satu belanga, tetap pahit. Gadis itu sesenggukan. Apakah ia perlu pergi melihat Ibu dan menemaninya?


Marya nyalakan televisi dan mencari channel khusus berita. Napasnya memburu saat melihat Irish Bella bawakan berita.


"Pemerintah sedang lakukan operasi besar-besaran Anti mafia, dan puluhan tersangka di Black Hole telah ditangkap. Familly Club' salah satu kartel terbesar di distrik ini terbukti melakukan perdagangan narkoba, senjata ilegal, pemerasan, pembunuhan, penyuapan politisi, prostitusi dan pencucian uang. Seluruh member Familly Club' akan dijemput hari ini oleh pihak penyidik, termasuk Lucky Luciano yang pada hari ini menikahi seorang gadis remaja, Puteri aktor terkenal, Leon Durante."


Marya meradang dan matikan televisi. Hatinya yang lembut menjadi sangat emosional. Haruskah berita pernikahan juga disinggung? Ia harus pergi ke rumah Ibu. Apa yang harus ia lakukan?


"Marya?!" panggil Elgio di pintu masuk berdiri serba salah.


"Bisakah kita pergi ke rumah Ibu? Aku harus melihat keadaanya."


"Marya ...."


"Aku tak minta kau selamatkan Ibuku, Elgio. Aku hanya ingin melihatnya. Ibuku baru sembuh sakit. Aku harus beri ia dukungan!"


***


Nikmati sakitnya.... Aku akan siapkan chapter yang manis untuk Reinha nanti....