Heart Darkness

Heart Darkness
chapter 108 Save Me From The Dark!!!



Tatapan dingin tak terlihat seperti gairah, gelora membara hanya berupa amarah, seperti itulah ketika bibir-bibir kejam berkehendak bebas berkubang pada leher Irish yang tak tahu caranya berhenti mengumpat marah. Janggut baru tumbuh yang tajam pada rahang keras Hellton bergesekan di pipi lembut temani jeritan putus asa berisi kutukan dan sumpah serapah.


Seakan sangat terganggu, Hellton mampir di bibir yang terus memaki panik, hentikan ocehan. Telusupkan lidahnya di antara irama rongga yang perih. Matanya menghujam mata cokelat Irish, memaksa si korban menerima cumbuan atau ia akan tampil lebih tamak dan lebih beringas. Pupil melebar seakan berteriak ; selamatkan aku dari kegelapan ini, si pria menjawab panggilan itu. Ia menguncupkan belahan bibirnya pada kelopak mata yang langsung menutup saat ia akan mendarat di sana, meraba-raba sudut mata Irish kembali ke bibir yang telah sepenuhnya lebam oleh tarikan dan hisapan primitif hingga Irish mengeluh kesakitan.


"Kau dan bibirmu tak terselamatkan, Irish Bella. Kau tahu betapa banyak begundal sepertiku yang ingin tidur denganmu akibat vokal dan konsonan yang kau luapkan dari bibirmu ini? Aku membuat sedikit retakan, berhati-hatilah lain kali! Ini belum seberapa!"


"Kau iblis terkutuk!"


"Aku memang terlahir di sana!"


Si pria tersenyum naikan satu sudut bibir pertanda ia abaikan serapah itu. Ia kembali beri usapan lembut satu - dua - tiga, kali seakan meminta maaf sebelum secara alami mengontrol cumbuan, jadikan petualangan gembira untuk dirinya sendiri. Tanpa peduli Irish yang kehabisan napas akibat murka, bernapas satu-satu sedang tubuh sesegukkan oleh guncangan naik pitam yang tak mampu dikendalikan. Ia menegang oleh kegusaran tetapi kehabisan tenaga untuk berontak. Paha-pahanya tertanam di atas pembaringan, terjalin kuat pada paha-paha maskulin yang kuat dan keras, segera merasa tulang-tulang pahanya menahan beton berkilo-kilo.


"Jangan lakukan ini, aku mohon! Mari bicara. Aku minta maaf karena menyinggungmu. Katakan apa maumu dan lepaskan aku!" serunya semakin panik saat ekor matanya menangkap keperkasaan yang siap bertarung. Irish merinding ketakutan setengah mati. Tamatlah riwayatnya.


Ia mulai memelas lebih baik ketimbang kata-kata umpatan hanya semakin buat si pria terapkan gerakan-gerakan gila, melata di atas tubuhnya, tinggalkan banyak jejak di permukaan kulitnya yang tanpa diperintah meremang.


"Terlambat Irish, aku telah terpancing. Harusnya kau pikirkan itu sebelum menyerang. Sediakan payung sebelum hujan."


"Baiklah, maafkan aku. Tolong jangan sentuh aku!" Mengemis ampunan agar pria itu melunak.


"Jangan kuatir aku tak akan lebih liar dan kasar dari ini, Irishak. Aku selalu prioritaskan kesenangan dan intensitas," bujuk si pria dingin dan angkuh. "Penjahat sepertiku, menyukai petualang dan selalu mengalir bebas. Kau tahu, seakan terprogram, aku selalu menyebut namamu tiap kali aku bernapas. Melihatmu berapi-api di layar kaca atau media sosial, aku selalu inginkan satu hal, bercinta denganmu dalam gerakan lambat kemudian terbakar liar. Wanita kalajengking sepertimu Irish, sebenarnya penuh gairah dan intim. Di mana keberanian dan keangkuhanmu? Kau akan rasakan aku hingga menginginkan aku lebih. Aku berjanji padamu."


Pria itu tahu Scorpio adalah bintangnya dan seberapa jauh pria itu kenali dirinya, hanya Tuhan yang tahu. Iblis ini bahkan merinci secara detil data pribadinya juga lekukan tubuhnya seakan-akan dialah pemiliknya.


Dan kata-kata serius bukan sekedar ancaman omong kosong sebab Irish benar-benar menelan sesuatu yang mendesak ke dalam tubuhnya, menyusuri dirinya dengan paksa, menikam dalam dan menohok hingga ia merasa dicabik-cabik.


"Terkutuklah kau!"


Wanita itu memaki kasar saat tahu ia telah diperkosa oleh seorang pria asing juga aneh yang tampak sangat mengerikan saat tersenyum. Gesekan kasar, bertubi-tubi, bar-bar, ciptakan perih dan ia sama sekali melemah akibat terkejut oleh hantaman penuh emosional yang bergerak sangat intens dalam tubuhnya. Kehabisan kata untuk mengumpat dan genggaman yang terlepas, Irish menutup kedua matanya dengan punggung-punggung lengan yang bersilangan, tak mampu melihat wajah kejam yang bereksperimen pada tubuhnya.


"Kau menyakitiku," keluh Irish akhirnya setengah menangis. Ia diserahkan oleh pria yang ia inginkan pada seorang pria asing yang inginkannya, lalu dinodai dengan sadis. Keangkuhannya menguap oleh keangkuhan pria yang tengkurap di atasnya.


"Berani-beraninya kau berkeliaran dengan keperawananmu dan menjala di rimba luas ini, Irishak? Terlalu na'if." Cemo'ohan verbal yang menampar.


"Hentikan! Tolonglah! Apa maumu?"


Tak ada pernikahan impian dengan long veil sebagai cadar kesucian. Pria itu telah merenggut darinya. "Demi Tuhan, aku bersumpah akan membalasmu!" Menggertak tapi ragu-ragu.


"Baiklah, aku tunggu. Kau menantang banyak penjahat untuk datang padamu, kau mungkin akan terjerat dengan yang lebih kejam dariku! Nikmati saja aku, Irishak!" pinta Hellton lagi seakan bicara bahwa yang ia lakukan tak akan sebanding jika Irish ditemukan mafia lain. Sedang olehnya, Irish merasa kehidupan telah berakhir, hancur berkeping-keping. Irish bersumpah akan membunuh pria ini dan membalas perbuatan binal Hellton Pascalito padanya. Sebatas sumpah, para Mafia seperti Hellton Pascalito punya banyak nyawa. Mereka bisa mati hari ini, menghilang besok dan hidup di hari berikutnya.


Si pria singkirkan tangan-tangan Irish dan hapus air mata dari wajah yang bersinar meredup tetapi penuh balutan murka dan sakit hati padanya. Tidak berdaya itu sangat polos dan tercipta natural untuk ditatap. Kerapuhan yang sering disamarkan kosa-kata tajam dan berani saat menyerang mereka, kini tak tersembunyi. Ketika tangan-tangan halus berusaha mendorong tubuh kokohya, si pria malah mengunci tangan Irish dengan tangannya sendiri di tengkuknya.


Mata-mata menggelap dan tiap sudut mengerut. Tanpa desahan, meringkus dalam kesunyian hanya napas yang tak bisa menipu, menderu kuat di wajah lembut yang pasrah. Suara sapi di kejauhan juga kicauan burung-burung gereja mencicit di luar sana mengandung iringan tentang sebuah ungkapan emosi harusnya nuansa bening, cinta dan kasih sayang bukan gairah buas dan semena-mena.


Tarian lembut si pria berganti aliran; cepat, lepas, tak sabaran, di luar kendali. Genggaman pada tangan Irish semakin kencang. Ia menahan erangan di ujung bibir saat pelampiasannya butuh dituntaskan, mencapai poin-poin kritis, meletup seperti air mendidih di kawah hot spring, bisa lelehkan apa saja yang disentuh. Sesuatu yang hangat tercurah tanpa bisa dicegah dan tubuh keras yang besar itu tenggelam dalam hempasan terakhir sebelum merengkuh penuh tuntutan, meraih Irish ke dalam pelukan seakan Irish kekasihnya dan wajib berlabuh padanya. Irish menolak dengan energi tersisa beberapa watt, tak cukup kuat dianggap sebagai bentuk perlawanan.


"Carilah jalan untuk pergi dan aku akan dengan senang hati mengejarmu, Irishak!"


Tak ada sahutan, tak ada bahu terguncang hanya napas kesakitan dna marah. Menyangga kepala dengan telapak tangannya sendiri, Irish tak sanggup bergerak untuk larikan dirinya dari pelukan posesif. Lama dan menyiksa, hanya berbaring dalam kehampaan yang menakutkan. Tubuhnya diselimuti sebelum kembali didekap. Irish menahan kantuk, berbaring di atas ranjang bersama seorang pria asing, yang tak diketahui identitasnya. Ia tak ingin bertanya, sebab ia mati rasa. Termasuk, ketika denting-denting perkakas pecah belah terdengar dari ruang tengah. Aroma makanan dan sesuatu yang manis. Irish tak peduli.


"Kau tahu, ada sebuah keluarga, anak perempuannya diculik di hari ulang tahunnya yang ke - 12 dan dia menghilang tanpa jejak sisakan kedua orang tuanya yang berduka-cita. Apa yang kau harapkan dari kehidupan ini? Mereka tak punya cukup uang untuk mencari dan pasrah pada keadaan. Berapa banyak lagi? Kalian hanya sampah yang merusak tatanan kehidupan sosial."


Irish bicara dengan lambat antara marah, mengeluh, mengutuk. Seluruh sendinya sakit, terlebih paha-paha mungkin memar oleh tindihan. Masih tak percaya ia ditiduri seorang Mafia dan kini tangan-tangan sedikit berbulu itu mendekapnya kuat. Jantung itu bahkan berdetak di punggungnya.


"Kirim detilnya padaku, aku akan membantumu, Irishak," sahut Hellton. Jika gadis itu masih di black hole, aku bisa keluarkan dia dari sana."


"Dia tak ada di sana, situs itu keluarkan dia sebagai 'sold out' dibeli oleh akun anonim. Bagaimana nasibnya? Ia mungkin disekap di ruang bawah tanah, diperkosa berulang-ulang dan lahirkan banyak anak," papar Irish terdengar merana.


"Kirimkan saja profilnya padaku!"


"Apa aku harus percaya pada penjahat? Kau bahkan baru saja merenggut kesucianku," desis Irish geram.


Hembusan napas Hellton kasar di tengkuknya. "Penjahat sepertiku tak pandai merayu, kami terbiasa, to the point, langsung menyerang. Kau akan terbiasa."


"Tidak akan ada yang terbiasa," sambar Irish kuat menahan perih di bibirnya. Suaranya bergetar oleh amarah. "Lepaskan aku! Janji, aku akan segera menghilang dan kau bebas lakukan kejahatanmu. Aku akan mencari suaka pada pemerintah yang bisa lindungi aku dan lepaskan kasus serta bukti pada orang lain. Kuasai dunia dengan kejahatan seperti yang kau inginkan," kata Irish terdengar putus asa. Ia hanya ingin kembali ke apartemennya dan menghilang besok pagi dalam penerbangan pertama. Dia akan pergi ke Islandia dan hidup dengan tenang di sana.


"Kau dalam pengawasanku, tak akan ada mafia yang berani menyentuhmu, selama kau bersamaku," tawar Hellton.


"Aku tak percaya siapapun," balas Irish.


"Kau akan tetap diburu!"


Carlos Adelberth akan membantunya kabur sebelum persidangan dimulai. Ia hanya harus hubungi Carlos dan minta bantuan. Pria itu bisa selundupkan dirinya di Hercules dan keluar dari negara ini tanpa ketahuan. Ia akan pergi ke Islandia dan menulis buku di sana.


"Bagaimana dengan anak perempuan yang kau cari?" tanya Hellton tak ingin lepaskan Irish begitu saja.


"Kau akan mencarinya untukku, aku hanya akan percaya saja padamu, anggap saja aku telah melunasimu dengan tubuhku," sahut Irish dingin. Pria gila yang memeluknya ini, tak gunakan pengaman dan Irish tak mungkin minum pil pencegah kehamilan atau sejenisnya. Atau dia akan minum satu botol penuh hingga berbusa dan mati. Tidak, hanya berharap ia tidak di masa subur untuk ciptakan seorang bayi dari penjahat.


"Keangkuhan yang mempesona!"


Bahkan keangkuhannya telah dilecehkan. Ia hanya harus pergi diam-diam dan bersembunyi.


Hellton bangkit dari ranjang, memakai pakaiannya dan pergi keluar. Ia kembali dengan kantong pakaian. Dress kemeja Irish telah rusak oleh gairah penuh amarah.


"Aku tak bisa antarkan kau pulang, Irish. Banyak yang inginkanmu di luar sana! Kau akan tetap tinggal di sini!"


"Tidak!" Irish bangkit dari ranjang menahan sakit. "Siapa kau? Mengapa kau tak jawab pertanyaanku sejak tadi, siapa kau sebenarnya?"


Pria di depannya tanpa senyuman hanya menatapnya dingin dan tajam.


"Dugaanku benar, kau adalah salah satu Familly Club yang paling dekat dengan Diomanta?"


"Ya, aku sepupu Sunny Diomanta. Istri Elgio Durante adalah ponakanku."


Irish bangun dan ingin menyeret langkahnya.


"Kalian hanya sekumpulan Iblis. Kau akan biarkan aku pergi," kata Irish merebut kantong dari tangan Hellton, keluarkan pakaian dari dalam dan segera berpakaian.


"Tidak, kau tak bisa pergi. Di luar sana sangat berbahaya!" Hellton tak sabaran, memegang lengan wanita keras kepala itu.


"Biarkan aku menelpon seseorang! Kau punya ponsel?"


Dengan ragu, Hellton sodorkan ponselnya dan Irish hubungi Carlos. Haru biru saat Carlos menjawab panggilannya.


"Carl, aku butuh bantuanmu!" sambar Irish saat suara Carlos terdengar di ujung sambungan di antara deru helikopter.


"Irish, ada apa? Aku baru kembali dan harus laporan ke markas. Apa sesuatu terjadi?" tanya Carlos terdengar cemas. Ia tak pernah menelpon Carlos sedarurat apapun keadaannya.


Tak menjawab, Irish menggigit bibir bawahnya.


"Irish? Kau di mana? Apa kau terlibat masalah lagi? Katakan kau di mana? Aku akan menjemputmu?"


"Bisakah, kau datang padaku di suatu tempat?" Irish mengirimkan lokasi dan ia tak sabaran ingin cepat pergi dari Hellton yang pandangi Irish dan tahu bahwa wanita itu menelpon Carlos Adelberth, salah satu tentara terbaik negara ini.


"Aku bisa lindungimu, Irish," ujar Hellton kaku.


"Tidak, kau tenang saja. Aku tak akan menyeretmu, kau bebas lakukan kejahatan bersama keluargamu. Aku tak berharap kau ajarkan ponaanmu yang polos itu untuk jadi penjahat," serunya ketus. "Aku akan mengirim profil gadis yang hilang itu padamu. Tolong temukan dia." Irish bicara dengan nada rendah.


Dressnya sangat pas dengan badannya. Ia mencari syal dan menutupi kepalanya, terseok pergi dari kamar. Helikopter terdengar di malam yang sunyi. Irish tak menyangka Carlos akan datang dengan benda itu. Ia mengusap lengan yang kedinginan pergi ke arah landingnya helikopter. Hellton mengejar dengan jaket besar di tangan, memaksa untuk selimuti tubuhnya. Irish ingin melempar pria itu ke baling-baling pesawat, menolak menatap pria yang telah merusaknya, tak ingin melihat rupanya sedikitpun. Carlos melompat turun dari helikopter masih dengan seragam militer mendatanginya dengan langkah-langkah panjang.


Irish berlarian ke sana seakan takut Hellton berubah pikiran dan akan menangkapnya.


"Irish?!" Carlos tak ragu memeluknya, amati wajah yang tak biasa, menengok ke arah Hellton yang terpaku di ujung padang rumput dengan tatapan tak tertebak seakan ingin lompati pagar dan mengejar Irish tetapi terhalang sesuatu.


"Apa dia menyakitimu?" Carlos menyipit. Ia melacak lokasi peternakan dan dapati bahwa tempat itu milik seorang pria yang sangat berpengaruh tetapi tak benar-benar muncul di publik dengan terang-terangan, salah satu pebisnis belakang layar dan punya banyak nama samaran. Hellton hampir tak pernah tersentuh karena ia sangat tertutup.


"Bisakah kita pergi saja dari sini? Harusnya aku dengarkan nasihatmu, harusnya aku pergi denganmu, Carlos Adelberth," jawab Irish kelabu penuh sesal.


"Apa dia menyakitimu?" tanya Carlos sekali lagi. Hellton masih di sana, terdiam. Carlos menarik lepas jaket dan memeriksa Irish tetapi tak cukup sinar. Ia menggiring Irish pergi dari sana dan saat Irish susah melangkah, Carlos tahu wanita itu telah dilukai. Carlos menggendong Irish dan membawanya naik helikopter. Mereka tak lekas pergi, ia memeriksa Irish. Leher memerah, garis-garis halus di sekitar rahang, tangan yang memar, Carlos meradang, meraih senjata dan hendak melompat turun. Hellton tampak tak beranjak meski Carlos telah memegang senjata di tangan. Irish memeluk lengan pria yang marah itu.


"Carl?! Bisakah kita pergi saja?! Save me, please!"


***


Karena tiap tokoh saling berkaitan, aku gak bisa ceritain satu tokoh tanpa libatkan tokoh lainnya dalam novel ini.


Ini kayaknya chapter terakhir soal Irish. I wish sih....


Apakah Elgio berhasil membujuk Marya yang marah?! Bagaimana Reinha?!


Wait me up ....