Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 25 Bisakah Kau Memelukku?



"Tuan Muda ...."


"Ada apa Bibi Mai?"


Elgio terkejut saat Bibi Maribel menyapa di depan pintu ruangan kerja. Aura tubuh gelisah Bibi Mai mengerutkan dahi Elgio, pasti urusan penting. Ia tak sampai hati menyuruh Bibi Maribel pergi. Elgio merasa sangat lelah hari ini. Ia harus bekerja lebih keras, berkutat pelajari berkas untuk mencegah bisnis ekspor selai murbeinya dari gangguan Lucky Luciano. Kendatipun, tak ada tindakan nyata atau mungkin belum tampak serangan berarti, Elgio tak mau ambil resiko. Lebih baik sedia payung sebelum hujan. Tanpa sengaja Elgio menguap letih.


"Saya ingin bicara pada Anda, Tuan. Ini tentang Nona Marya."


Mulut Elgio mendadak kaku. Ia menatap pengasuhnya serius, coba menerka. Sesuatu bersangkutan Marya, entah mengapa, membuat inderanya bersiaga.


"Katakan saja Bibi Mai! Gadis itu istriku sekarang walaupun belum sah secara hukum dan agama. Satu hal lagi, panggil aku Elgio!"


"Maafkan saya, Tu - an Mu - da ... maaf ... saya tak terbiasa menyebut nama Anda."


"Baiklah. Katakan ada apa? Apa si Poni Kambing sakit?" Elgio mulai tak sabaran.


"Eh?!"


"Bu - kan, maksudku apa dia sakit?" Elgio meralat pertanyaan saat dapati Bibi Maribel kebingungan. Bingung pada sapaan poni kambing. Mungkin juga bingung ..., sejak kapan kambing berponi? Susah bagi Elgio menyebut 'Marya' sementara ia menyukai nama 'Aruhi'.


"Bisakah Anda ikut saya?"


Elgio mengangguk lalu mengekor di belakang Bibi Maribel menuju hunian. Hari lumayan larut sedang rumah hening seperti biasa. Reinha kembali entah darimana dan tak bicara padanya. Ia berdandan sangat aneh, lebih aneh lagi, Reinha terus menggeram padanya ketika makan siang tadi. Itu tak pernah terjadi sebelumnya. Gadis itu juga layangkan aksi mogok bicara. Elgio maklumi sebab Reinha mungkin masih butuh waktu untuk redakan badai amarah. Satu hal menarik dan sangat misterius, Elgio perhatikan Reinha kedapatan terus menggosok bibir dengan tisu mungkin kesal karena warna lipstik terlalu jelek dan susah dihapus.


Sementara Abner kembali ke apartemen pribadinya tak jauh dari Durante Land. Sang asisten itu pergi kencan buta. Abner Luiz takut jomblo menjelang kepala tiga dan Elgio penasaran wanita mana yang ia kencani?


Bibi Maribel persilahkan Elgio masuk dan memberi isyarat untuk tidak berisik sebelum mengangguk ke arah kamar mandi. Dari sana tertangkap sedu sedan di antara gemercik air keran dari westafel.


"Apa yang terjadi?" tanya Elgio berguman cemas. Maribel menarik napas panjang dan hembuskan perlahan.


"Nona Marya telah menangis di waktu pagi dan malam saat pergi ke kamar mandi. Ia bahkan tidur gelisah di tempat tidurnya sepanjang malam. Saya tak sanggup mendengar dan menyaksikan, tetapi tak tahu cara menolongnya. Saya juga tidak tahu pasti apa yang terjadi. Nona mungkin sangat menderita akan sesuatu. Ia telah meratap tangis seumur hidup, Tuan."


"Bisakah kau membujuknya?"


Bibi Maribel menggeleng lesu, "Tidak, Tuan. Ia akan menangis kira-kira 15 menitan lalu kembali tenang. Namun, akan menangis lagi esok pagi di kamar mandi."


Elgio tercenung sedih. Jadi, gadis itu telah sekarat selama bertahun-tahun. Ini pasti tentang kenangan buruknya.


"Bisakah tinggalkan kami, Bibi Mai? Aku ingin bicara dengannya."


"Baiklah, Tuan."


Sementara Marya mencoba atasi kesakitan di dalam diri berharap semudah mengucap janji pada Elgio sore tadi. Marya bertekad harus bisa. Jadi, upayanya dimulai dengan menjejali diri berpikiran positif hingga meluap-luap. Ia akan kalahkan setengah Sosiofobia sebelum penyakit aneh itu memenjarakannya seumur hidup. Ia harus bisa. Jadi, ia pandangi sikat gigi dan berulang-ulang mengatakan, "Aku baik-baik saja, aku sehat, aku kuat, aku bisa sembuh, aku bahagia."


Marya mencoba beri waktu bagi tubuh dan pikiran untuk sembuhkan diri sendiri.


"Ayah, aku merindukanmu. Aku akan ikhlas dan jalani hidupku dengan baik. Aku akan membuatmu bangga. Aku akan membuat Ibu menyesal karena telah tinggalkan kita ... Ibu ... ?!"


"Jangan membenci Ibumu, Aruhi!" Suara Ayah.


"Ibu?!"


Mata Marya berkedip-kedip sebelum makin buram. Ia mencuci wajah berulang kali mengusir suara dan wajah Ibu.


"Ibu?!"


Pusing menumbuk kepalanya barengan mual yang menjadi-jadi.


"Ibu akan datang besok," ucapnya tanpa sadar. Ia mundur menjauhi westafel dan terduduk lemas di pintu kamar mandi.


Ia akan bertemu Ibu besok, pikiran positifnya berubah jadi racun. Bayangan Ibu menarik koper, melangkah keluar rumah dan pergi dengan mobil mewah menari-nari di pelupuk mata. Tak ada ciuman perpisahan, tak ada senyum. Ucapan selamat tinggal Ibu berbentuk kalimat paling menyakitkan.


"Jika nanti kamu dewasa dan bertemu denganku, berpura-puralah, tak mengenalku. Itu bisa buatku bahagia."


Ia telah berkubang duka dan lumpuh dalam kenangan, karena Ibu. Kepahitan demi kepahitan yang Ibu tinggalkan untuknya, tak terampuni oleh jiwa merana itu. Bagaimana bisa Ayah memintanya untuk tidak membenci Ibu? Kematian Ayah adalah pohon penderitaan yang tumbuh subur selama 13 tahun, sebanding rasa bencinya pada Ibu.


"Ya Tuhan, kasihanilah aku!"


Semua rasa berkecamuk di dalam jiwa tak sanggup tertampung. Kebencian, amarah, rindu dan rupa-rupa emosi membelenggu ingatan, ciptakan nyeri yang menyiksa. Ia mendapati dirinya serupa ruang sempit tanpa sirkulasi udara, pengap dan tercekik.


Elgio selamatkan aku!


Bisik hati tersendat-sendat di antara jantung yang berdebar perih sebelum jatuh tersedot pada dasar ngarai terdalam dan tertancap pada batu-batuan cadas. Tak ada kematian hanya meregang kehabisan darah.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan keras di pintu membawa jiwanya kembali pada raga. Pintu digedor lebih keras. Bibi Maribel menyelamatkannya kali ini, ia tak menyahut seperti yang sudah-sudah sebab bibirnya kejang-kejang. Marya bergeser susah payah lalu bertumpu pada kaki yang gemetar. Ia mencengkeram gagang pintu kuat sebelum menarik diri bangkit. Kunci pintu kamar mandi diputar dan ia masih linglung coba pulihkan kesadaran. Wajah serta rambut basah oleh air keran, peluh dan air mata. Ia mengatur napas agar normal kembali.


"Aruhi?!" panggil Elgio pelan.


Elgio berdiri frustasi di hadapan Marya dengan rahang membatu dan raut muka kaku. Mata mereka bertemu untuk pertama kali setelah sekian lama. Sorot mata Elgio adalah pantulan mata Marya. Sendu terluka cerminan diri Marya, tak berdaya oleh kisah masa lalu buruk. Setidaknya, Elgio hadir menjawab panggilan hati Marya. Itu mengobati jiwanya yang hampa.


Terbersit pikiran tentang ketidak-pastian, ketidak-yakinan dan tak bisa menebak tentang masa depan cintanya bersama Elgio, Marya memelas ....


"Bisakah ... kau memelukku?"


***


Jangan lupa dukung, ya. Jempolnya. Makasih.