Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 84 Mari Kita Putus!!!



Lucky Luciano ....


Hampir sepekan berlalu sejak Lucky tertembak dan meringkuk di atas tempat tidur rumah sakit, di ruang pemulihan. Lucky menolak pakaian pasien, ia merasa jiwa laki-lakinya berontak kenakan seragam bewarna pink dengan banyak motif feminim.


Dalam keremangan lampu rumah sakit, Reinha renungi wajah itu. Bukankah dia sangat tampan? Hardware terbaik ciptaan Tuhan, dari bentuk mata yang proporsional dengan hidung sempurna, alis tegas, dagu mempesona, rahang kokoh, bibir penuh dan sensual; Lucky Luciano manly and cool, daya tarik tinggi tak terbantahkan. Tak habis mengerti, bagaimana ia terjebak pada Lucky Luciano, pada tatapan lembut memikat, setelah terus menyebutnya bajingan, brengsek, mesum, tak bermoral dan sejuta julukan lain.


Saat tertidur pulas, kekasihnya benar-benar menggoda. Mungkin karena ketampanan itu, sekarang ia dapat banyak masalah. Reinha mengeluh, duduk semakin dekat dengan Lucky. Hari menjelang pagi, dua jam lagi ia akan pergi ke sekolah. Hampir sepekan ia telah berkeliaran tiap pagi dan sore dengan pakaian seragam di rumah sakit.


"Cepat sembuh! Aku ingin naik motor berdua denganmu di hari ulang tahunku," ujarnya tak berharap Lucky dengar. Pria itu sepertinya terbuai mimpi, tersesat di suatu tempat. Ia kembali ke sofa dan belajar. Ia ingin pergi ke Harvard tetapi belakangan ia akan pergi ke Civic Center, mengelola Dream Fashion sambil kuliah.


Baiklah, ide bagus. Menguap sekali, dua kali dan saat matanya tak sanggup lawan kantuk, gadis itu ingin tidur di atas sofa.


"Kau bangun pagi sekali, Enya?" tanya Lucky tiba-tiba terdengar paksa oleh masih mengantuk. Pria itu bangkit dan turun dari ranjang pergi ke sofa. Keadaan Lucky cepat membaik. Reinha tak jadi mengantuk. Ia amati kekasihnya itu seksama.


Saat Lucky Luciano berjalan, ia bak model catwalk, menarik dan berkarakter. Reinha menghela napas panjang, memukul kepalanya keras dengan pena sebab otaknya hanya terus memuat Lucky Luciano.


"Apa sesuatu terjadi?" Ambil posisi memeluk Reinha. "Apa yang kau pelajari di pagi buta?!"


"Redoks dan eletrokimia," sahut Reinha coba biasa saja sementara jantungnya mulai tak karuan. Ruangan tidak begitu dingin, Lucky mendekapnya, selimuti ia dari belakang. Bagaimana pria itu begitu menarik?


"Kau tak capek belajar? Apa mereka terlihat lebih masuk akal di pagi hari?" tanya Lucky pererat pelukan.


"Aku masih sekolah tingkat tiga, tugasku belajar. Katakan apa maumu?" tanya Reinha berhenti menulis dan berbalik pada kekasihnya yang mulai bosan di rumah sakit.


"Pacaran denganmu!" jawab Lucky Luciano pendek.


"Aku harus belajar, guru kimia di tingkat tiga sangat galak," gerutu Reinha. "Aku tak bisa kalahkan Ethan juga Marya, ini buruk sekali."


"Baiklah, aku akan temani kau belajar," kata Lucky topang dagunya di bahu Reinha. "Apa itu redoks? Seperti nama salah satu anak buah Valerie, redoks, dia tak punya otak hanya sekumpulan otot."


"Reaksi reduksi-oksidasi," jawab Reinha terkekeh geli bayangkan seseorang yang hanya sekumpulan otot seperti deskripsi Lucky.


"Itu pelajaran yang sulit," keluh Lucky Luciano.


"Mudah saja, tergantung sudut pandang. Redoks, contohnya pengkaratan besi," jelas Reinha.


"Oh," angguk Lucky, lebih mudah merakit senjata. "Cintaku padamu tak akan mudah teroksidasi layaknya besi karatan. Tak ada satupun reaksi kimia yang bisa jelaskan cintaku padamu sebab kau adalah reaksi kimia itu, Enya."


Reinha takjub. "Amazing." Pria itu baru saja buka jurus gombal, ciptakan baris-baris puisi gunakan rumus kimia.


"Ya, agar tidak mudah karatan seperti besi, kau harus melapisinya dengan banyak cinta, kasih sayang dan kejujuran," sambung Reinha.


"Semoga bisa selama kau percaya padaku, Enya. Kau tahu, reaksi tubuhku menghangat saat bersamamu, aku harap reaksi di antara kita bukan reaksi searah tetapi reaksi bolak-balik."


Reinha berhenti belajar berbalik pada pria itu dengan hati-hati agar tak menyentuh sisi kiri tubuh Lucky yang luka.


"Kau tahu, aku mencintaimu secara sederhana, lewat banyak kata yang tak terucapkan seperti sebongkah garam pada lautan, yang mengharuskannya meluruh jadi tiada," balas Reinha hingga Lucky mati langkah, ternganga. "Kau seperti lautan, menawan dan rupawan tetapi menakutkan di saat bersamaan karena menyimpan sejuta misteri."


Mata mereka bertemu. Reinha perhatikan jabang janggut yang tumbuh di sepanjang rahang, di atas bibir Lucky Luciano. Meneguk ludah susah payah, si seksi ini benar-benar menggiurkan. Ia menyentuh bibir pria itu, suka saat pipi mereka beradu, dan Reinha berdecak, ... seksi sekali.


"Coretan kenangan tentang kita, kau dan aku serta cara kita bersua, tak mudah dipahami. Tentang hatimu yang sukar lalu menyerah padaku, tak mudah dicerna. Takan habis sejuta syair, guratkan parasmu, Enya. Butuh untaian barisan prosa panjang, uraikan pesona-mu.


Cintaku telah habis, tak tersisa meski untuk diriku sendiri. Karena telah habis untuk mencintaimu.


Terpikirkan aku tanpamu


Bekas, rusak, hancur


Liar, tak bermoral


Tak lebih hanya seorang pendosa


Kau selamatkan aku dari buntu


Bantu aku temukan arti hidup


Tanpamu,


Aku bersarang dalam kegelapan


Bersayap kejahatan


Aku berharap


Kita bersama sampai suntuk umur


Ketika aku mulai keriput


Dan beruban .... Kau tahu, aku tak bisa hidup kini tanpamu."


Pria itu dan sisi melankolisnya yang bangkit.


Reinha mengecup bibir pria itu sekali lagi tak tahan godaan, berguman dengan tatapan lurus yang rontokan jantung Lucky. "Emmm, puisi yang sangat bagus. Aku suka, apa kau ciptakan puisi untuk semua wanita yang kencan denganmu?"


Lucky langsung merana, padahal ia sungguh-sungguh berpuisi. "Tidak, kau tak tahu, bahwa puisi dan prosa tidak asal tercipta. Kau bisa tanya William Shakespeare."


"Bacakan lagi hingga aku tertidur." Pelukan Lucky, aroma glacier pria itu serta berbaris-baris puisi buat ia terbuai. Ia menguap, matanya mulai berair, mengantuk di dada pria itu. Keduanya tertidur di sofa hingga Reinha tersadar, ia hampir telat.


Susah lepaskan diri dari Lucky Luciano yang menjalin kaki-kaki mereka, turun pelan-pelan dari sana.


Ia pindah hunian hampir seminggu, bolak-balik ke sekolah dari Rumah Sakit, sesuatu yang sangat mencengangkan dilakukan oleh seorang gadis yang baru akan 18 tahun bulan depan yang begitu setia pada kekasihnya.


Lucky terbangun saat Reinha melepas baju berganti ke pakaian seragam, tersenyum dan menahan diri untuk tidak bertindak. Ia amati gadis itu. Lucky akan tanya Claire, apa yang akan dibuatnya untuk Reinha di hari ulang tahun gadis itu. Reinha menungguinya sambil belajar di sofa sampai ketiduran kadang mereka mengobrol sampai malam. Mereka adalah kekasih, sahabatan meski kadang jadi musuh kebuyutan saat tak sepaham.


"Kemarilah, Enya!"


"Eh?! Kau sudah bangun?" tanya Reinha cepat-cepat berbalik badan. Pria itu sakit fisik tapi jiwa brengseknya tidak, jangan sampai pancing-pancing pagi hari. "Aku akan pergi ke sekolah!"


"Baiklah, Francis akan mengantarmu! Aku akan keluar dari Rumah Sakit hari ini, membosankan harus tinggal di atas tempat tidur rumah sakit setiap saat."


Lucky berdiri menariknya dan mengancingkan seragam gadis itu, pasangkan dasi dan pakaikan jas seragam sekolah. Ia berdecak, ia jatuh cinta setengah mati pada seorang gadis ABG.


"Aku tak bisa temani nanti, sebab kami akan bersiap-siap untuk wawancara di sekolah. Kau tahu, Irish akan menulis artikel tentang prestasi kami setelah menang lomba karya ilmiah," ujar Reinha agak tidak suka saat menyebut nama Irish Bella.


"Apa kau terganggu pada kata-katanya?" tanya Lucky pelan.


"Ya, juga pada tatapan matanya pada Elgio. Lupakan saja, aku akan pergi setelah beres-beres buku."


Saat itulah seseorang mendesak masuk ruangan Lucky, Seoza.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya wanita itu datangi Lucky, abaikan Reinha yang rapikan buku-bukunya.


Francis menahan wanita itu agar tidak menyentuh Lucky.


"Minggir, Francis!" tolaknya tetapi Francis pegangi Seoza kuat. Francis tak akan biarkan wanita dari masa lalu menyentuh Lucky sebab Bosnya kini telah temukan jati diri dan tujuan hidup bersama Reinha Durante. Lucky telah tinggalkan kehidupan yang kelam meski secara teknis Lucky Luciano sedang kejar-kejaran dengan masa lalu. Francis akan berada di sisi Bosnya dengan setia seperti Nona Reinha.


"Kau campakkan aku untuk merayu seorang gadis ingusan?" seru Seoza murka melirik pada Reinha. Mereka pernah bertemu di hari di mana Reinha menghajar Lucky dengan lada bubuk, wanita itu di sana. Reinha tampak tak peduli, ya Tuhan, berapa banyak wanita? Ia menggaruk keningnya.


"Pergilah, Seoza! Aku pikir Francis cukup jelas tentang hubungan kita beberapa Minggu lalu," kata Lucky dingin.


"Ya, aku tahu. Kita tanpa ikatan ...."


"Lalu ... ?!"


"Kupikir ada celah agar kita bisa bersama," sahut wanita itu mengeluh.


"Maafkan aku buatmu salah paham. Bukankah kau tahu bahwa aku tak pernah benar-benar bersama seorang wanita selama hidupku. Aku punya banyak wanita dulu, tetapi tidak lagi, aku hanya punya satu wanita, satu kekasih. Di sebelah sana! Jangan panggil dia gadis ingusan! Dia bisa menjahit mulutmu!"


Reinha memutar bola matanya dan berdecak, selipkan pena di saku seragamnya sebelum memakai tas sekolah. Lihatlah pria itu dan reaksi seksualnya di masa lalu? Itulah mengapa seorang badboy selalu bermasalah sebab mereka itu urakan dalam menjalin sebuah hubungan, menganggap diri mereka keren dan hebat, lihatlah apa jadinya sekarang?


"Aku pergi, Lucky! Selesaikan urusanmu!"


Reinha melewati Seoza, tanpa diduga-duga, Seoza menjambak kuncir rambut Reinha hingga gadis itu tengadah ke langit rumah sakit dengan tengkuk menekuk ke belakang. Reinha sangat terkejut spontan menjerit kesakitan.


"Menyingkir darinya! Pacari saja bocah-bocah sekolah seumuranmu!" desis Seoza kuatkan cengkeraman dan mencekik tengkuk Reinha.


"Hei, apa yang kau lakukan?" seru Lucky marah. Lucky datangi Reinha tetapi jika ia beraksi, Seoza akan semakin sakiti Reinha. Francis lebih dulu bergerak.


"Seoza!" hardik Lucky.


"Tidak, bukankah ia bisa menjahit mulutku?! Mari kita lihat," kata Seoza mengejek Lucky.


"Lepaskan! Aku sudah telat ke sekolah!" seru Reinha tak ingin ladeni Seoza.


Seoza makin kuat mencengkeram sambil gertakan gigi. Reinha yang kesal karena hampir telat, meraih pena dalam saku baju seragamnya, lepaskan tutupan pena dan ayunkan satu tusukan spekulasi, sekuat tenaga ke arah belakang. Mengira-ngira posisi berdiri Seoza.


"Aawwwhhh, Aaawwwhhh," jerit Seoza segera lepaskan tangannya. Reinha berbalik dan kembali ayunkan satu tusukan keras di pangkal paha Seoza hingga wanita itu terduduk.


"Jangan ganggu aku, ******! Bukankah hubunganmu telah berakhir sejak kita bertemu di Puri Luciano waktu itu?"


Reinha pegangi tengkuknya yang sakit. Sementara Francis menyeret Seoza keluar dari ruangan sambil senyum-senyum.


"Enya ... ?!"


Reinha menepis tangan Lucky, "Oh yang benar saja, selesaikan urusanmu Lucky, secepatnya! Atau kau bisa bacakan sajak patah hati setiap malam karena aku pergi!"


"Enya ... ?!" Lucky merasa sangat sial sebab ia tak percaya Seoza datang mencari-carinya lagi setelah hubungan mereka berakhir lama. Ia meraih gadis itu tak punya penjelasan. "Apa kau sakit?"


Reinha masih pegangi tengkuknya, ingin hati mencongkel kedua mata Seoza. Lucky mendekat padanya, tak tahu redakan amarah sang gadis, menyisir rambut Reinha dengan jemarinya sebelum mengikat kembali rambut gadis itu.


"Enya ... " bisiknya pelan, memaksa gadis itu menatap matanya. "Kita bisa putus, jika kau mau. Kau lebih pantas bersama pria lain yang lebih terhormat dariku. Aku tak bisa kembali ke masa lalu dan perbaiki keadaan. Mari kita putus."


***


Sepekan berlalu sejak senja yang mereka namakan sweet surrender, penyerahan termanis dan terindah yang lambungkan sukma.


Elgio bersandar nyaman di kursi kerjanya, mendongak pada langit-langit kantor dengan wajah Marya yang pasrah padanya. Jiwa dan raga pulang ke hari itu.


Masih teringat kala ia terbaring dalam temaram kamar bersama napas yang mulai tenang dan kekasih terkulai di telapak tangan, ciptakan suasana begitu hangat dan manis. Tak ada kata yang terucap, hanya binar mata, sentuhan lembut, seakan lebih dari cukup luapkan serpihan rasa. Rambut cokelat Marya dibelai lembut di antara jantung yang berdamai setelah cukup kebut-kebutan di jalanan sensual yang mengguncang energi. Pipi dielus pelan pada gadis yang kini telah jadi wanita, miliknya utuh.


"Masih terlalu sedu untuk tidur, Elgio," kata Marya geliatkan wajah di telapak tangannya.


"Hmm, pergilah mandi! Ku rasa perutku mulai konser." Ia ingin bertanya, apakah kekasihnya sakit atau mungkin tidak nyaman, tetapi Marya terbaca baik-baik saja. Mata itu bersinar penuh cinta.


"Apa kau baik-baik saja?!" Akhirnya ia bertanya setelah yakin Marya begitu kaku pada tubuhnya sendiri.


Marya mengecup telapak tangannya. "Pengendalian diri yang buruk!"


"Kau terdengar menyesal?" Napas berat.


"Tidak, aku mencintaimu Elgio," guman Marya pelan makin rapat padanya. "Apakah kita akan tidur pukul 7 malam dan kelaparan pukul 1 pagi?" keluh kekasihnya.


"Ayo bangun!"


"Baiklah!"


"Mau berendam bersama?!" tanyanya berharap bisa mendekap gadis itu dalam air di antara busa shower gel tanpa gairah, hanya ingin bersama mengukir momen.


"Oh tidak, lain waktu Elgio!" tolak Marya takut pria itu kembali bergelora dan menghajarnya. Oh tidak. Marya pergi ke kamar mandi sedikit payah. Melihat kekasihnya tertatih, ia bangkit dan menggendong Marya kembali ke ranjang.


"Hei, Elgio!"


"Tunggu di sini, sebentar ya!"


Ia pergi ke kamar mandi, menyulap bathroom jadi sangat romantis. Lilin aromaterapi di dinyalakan di sekitar bath up dan kelopak mawar di vas berubah jadi taburan kelopak mawar.


Lampu dimatikan dan cahaya lilin menerangi ruangan itu. Ia menakar seberapa banyak busa juga suhu air untuk berendam. Tak ada wine atau champagne untuk menemani mereka karena ia tak suka minum-minuman itu. Setelah siap, ia kembali ke ranjang menggendong Marya dan pergi ke bath up.


"Ya Tuhan, kau selalu sangat romantis. Sungguh berkesan," ujar Marya tak sembunyikan raut wajah berseri-seri. Tubuh mereka hanya siluet di terpa cahaya lilin-lilin.


Mereka berkubang dalam bathup dan saling memijat bahu kekasih tak segera keluar dari sana jika perut mereka tak berbunyi. Lengannya tak akan sembuh dalam waktu dekat.


"Jika kau tak keberatan, mari kita bersiap dan pergi ke rumah sakit. Lucky Luciano tertembak dan dioperasi. Aku tak tega biarkan Enya sendirian di sana."


Marya kancingkan kemejanya dan mereka masih berciuman ketika Elgio memakai mantel.


"Benarkah?! Apakah keadaan Tuan Lucky baik-baik saja?" tanya Marya mendongak padanya, ia mengecup mata gadis yang bersandar di bahunya itu.


"Aku belum dapat kabar, Marya," jawabnya kembali berikan kecupan untuk mata indah itu.


"Matamu sangat berbahaya, Marya!"


"Sama seperti bokongmu sangat berbahaya, gadis-gadis menyukainya," jawab Marya.


Elgio terkekeh, mendekap erat. "Kuharap kita bisa menikah sebelum ulang tahun perusahaan," katanya murung. Mereka menghindari percakapan tentang menikah sebab selalu terasa kelam.


"Aku akan pergi bersekolah besok, begitupula Reinha!" Marya alihkan topik bicara. Gadisnya terlihat trauma.


"Kapan lomba karya ilmiah dimulai?"


"Senin depan, Elgio! Aku akan susah konsentrasi kini sebab terus memikirkanmu."


Elgio mengusap leher dan pundak Marya yang memerah bekas bibirnya, menyipit sambil berdecak, sangat-sangat menyukai tato alami itu. Bagaimana kekasihnya akan ke sekolah besok?


"Kau harus gunakan syal Marya atau teman-temanmu akan heran kau punya stempel bibir seseorang di lehermu," bisik Elgio di antara gemericik air.


"Kau luar biasa, Elgio Durante!" keluh Marya perhatikan dirinya di cermin.


Mereka masih saja romantis di kamar makan, seperti kasmaran berat. Di mobil, di rumah sakit bahkan berhari-hari setelah itu, seakan tak bisa akhiri balas dendam soal hari sebelumnya.


***


"Halo Elgio! Apa kabarmu?!"


Irish Bella muncul di ruangan kantor buyarkan lamunannya, hingga buat Elgio terkaget-kaget. Abner muncul beberapa saat kemudian, terlihat tak suka.


"Apa kau bisa seenaknya di tempat orang, Nona?" tanya Abner.


"Aku terpaksa lakukan ini sebab atasanku menolak hasil wawancara terakhir. Hanya tiga pertanyaan dan tak bermutu. Aku terpaksa harus lakukan lagi. Tolong jangan salah sangka!" ujar Irish terlihat tak enak hati.


"Aku tak ingin di wawancara Irish, kau bisa lakukan itu dengan wali-ku!"


"Apakah lengan-lenganmu masih terluka?" tanya Irish prihatin.


"Tidak, bukan itu! Aku hanya tak ingin."


"Apakah kau takut tergoda olehku?" tanya Irish terang-terangan. "Aku mencoba untuk profesional Elgio Durante!" katanya lagi.


Elgio tersudut di kursi kerjanya. "Katakan apa saja, sesukamu Irish. Aku tak akan ladeni sebab aku sangat sibuk dan aku tak ingin ada wawancara saat ini!"


"Baiklah, ini kartu namaku. Tolong hubungi aku jika kau berubah pikiran. Apa aku perlu ke sekolah Nona Marya dan meminta ijin darinya untuk wawancara denganmu?" tanya Irish lagi.


"Sebenarnya apa maumu, Irish? Apakah kau berharap aku benar-benar kekasih masa depanmu? Kau terlihat terobsesi padaku kini?" tanya Elgio menatap wanita itu tajam.


"Aku hanya pewarta berita, memberi kabar, jurnalis. Seperti yang ku bilang tadi, kau kabur di tengah-tengah wawancara dan kami tak bisa merilis artikel. Lagipula, jika kau memang jodohku, apakah kau bisa melawan kehendak Tuhan?!" Irish tersenyum. "Aku juga punya jadwal wawancara dengan pemenang lomba karya ilmiah yang sudah harumkan nama kota ini. Kau tahu, kalau kekasihmu dan adik perempuanmu juga berkontribusi."


"Kau telah lewati batasmu, Irish! "


"Tidak, kurasa kau jadi tak bisa anggap aku biasa saja setelah tahu bahwa kau adalah kekasih masa depanku."


"Oh, konyol sekali! Hentikan Irish. Kau bisa pergi! Silahkan jika ingin wawancara dengan Reinha juga Marya, kau mungkin bisa temukan sesuatu dari keduanya. Bisakah kau pergi?"


"Bagaimana kalau begini saja, reporter lain yang akan wawancara denganmu. Jadi, kita tak perlu bertemu? Hmmm?! Aku akan minta rekan lain gantikan aku?"


Irish berdiri di ambang pintu dengan sikap percaya dirinya yang mengganggu.


"Kau bisa bicara pada wali-ku, Irish! Aku harus pergi!"


****


Aku gak ketemu feel saat nulis chapter 84 sebab aku harus handle banyak pernikahan dalam satu Minggu ini. Cintai aku, aku mencintaimu.


Beri komentarmu, ya. Jangan lupa like, rating dan segala hal yang dibutuhkan heart darkness..


Vote, jangan lupa agar Novel ini bisa banyak yang baca...


****