Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 51 Special Date For Marya ....



"Enya ...."


Lucky menengok, membujuk Reinha yang pelit senyum sebab masih merajuk, ia hanyut semakin dalam pada gadis itu. Tak akan jenuh menatap Reinha dan masih belum percaya, gadis itu mencintainya.


Keduanya rebahan menentang cakrawala biru yang sangat jernih tanpa ada awan merusuh. Angin musim panas berhembus menyibak dedaunan ... yang tua dan kemuning waktunya gugur, akhir dari pengabdian meskipun di muka tanah, tugas mereka masih berlanjut. Tanah cadas beralaskan rumput dan daun-daun kering terasa keras untuk tubuh lembut, tetapi berbaring sejengkal jauhnya dari kekasih, serasa bumi sedang berpihak. Ia akhirnya bicara tak tahan hanya mengunci bibir.


"Kau sangat jahat ...." Reinha berkata ketus. "Aku terbangun di pagi hari dan kau menghilang. Itu membuatku sangat marah." Seminggu ini terasa menyiksa, tambahnya dalam hati.


"I am so sorry, Enya ...."


Lucky mengernyih dalam hati, saat Reinha telah jadi kekasihnya, Lucky malah cenderung banyak kemelut. Ia akan seperti pagi itu ... datang dan pergi tiba-tiba, bisa jadi pergi dan tidak kembali. Ritme kehidupannya tak terduga, selalu penuh kejutan. Apakah Reinha bersedia tinggal di sisinya? Sedang ia ancang-ancang meniti jalan menuju pria terhormat dan belum seberapa langkah. Lucky pun lebih waspada sebab musuhnya terlalu banyak dan Reinha mungkin telah terekspos sebagai kekasihnya. Tinggal menunggu waktu Reinha akan berhadapan langsung dengan kehidupan Lucky yang kejam. Ia menghela napas tertahan dirongga dada ... bagaimana akhirnya nanti?


"Dari mana kau tahu aku ada di sini?" tanya Reinha mulai reda kesalnya. Ia perhatikan pria yang tampak lebam dan penuh goresan luka-luka kecil, susah payah menenggak liur, mengapa pria itu sangat seksi dengan wajah penuh luka?!


"Kau tampak hebat dengan wajah lebammu itu? Apa kau dipukuli lagi?"


Reinha ingin menyentuh wajah Lucky, tetapi ia mengaitkan jemarinya sendiri lunglai di atas perut, mencoba tak tergoda.


"Sejujurnya aku tak pernah dipukuli kecuali oleh kakak kekasihku," candanya melengkung senyum. Satu lesung pipi menyembul di sana. Reinha menahan napas.


I am so f***** love you, Lucky Luciano .... (Mengumpat dalam hati).


"Aku pergi menyelamatkan seseorang," jawabnya terdengar galau mengingat hari-hari panjang saat misi penyelamatan Queena. Ia membawa Queena tinggal di Puri Luciano dan dilindungi dengan ketat sementara Viktor dan Brigitta menghilang. Queena, gadis hebat dan tangguh, ia menyembuhkan traumanya sendiri.


"Um, apa dia wanita?" tanya Reinha, cemburunya datang macam tamu tidak diundang, penuh hasutan.


Lucky mengangguk, "Um ...."


"Aku merasa buruk, kau tinggalkan kekasihmu dan pergi menyelamatkan wanita lain ... pasti bukan wanita biasa."


Cemburu Reinha terselubung rapi tetapi sisakan sedikit cacat. Lucky menoleh padanya, takjub karena gadis itu cemburu. Ia tak akan memberi pernyataan, biarkan saja Reinha cemburu; dia manis sekali.


Surya melata naik, cahaya lolos di celah-celah daun, merambah ke pembaringan mereka. Reinha mengangkat telapak tangan, menghadang silau lalu jemarinya meliuk di udara melukis nama Lucky Luciano. Cincin di jemari berkilau, mengerling indah. Reinha coba menggenggam binar keemasan mentari. Tidak terkejut saat tangan Lucky menyusul, menelusuri jemari, temani Reinha berdansa. Mereka terjalin erat, menari bersama sebelum berubah jadi genggaman dan terlena di dekat jantung Lucky.


Lucky sering fantasi-kan hal-hal seperti ini bersama Reinha, sesuatu yang sederhana tapi mendebarkan. Ketika sungguhan terjadi, Lucky sungguh merasa beruntung. Gadis seperti Reinha Durante mencintai pria sepertinya.


"Darimana kau tahu aku ada di sini?" Reinha berjanji tak akan memanggil Lucky brengsek lagi.


"Mau kuperlihatkan sesuatu?" Lucky menoleh, menekuri wajah indah Reinha, memahat raut itu di dinding hati.


Lucky bangkit berdiri, menarik Reinha ikut serta. Ia menyapu pandangan ke sekeliling, mengambil senjata, mengalungkan tali pada lehernya dan menuntun Reinha mendaki ke posisi lebih tinggi. Ia melepas Reinha berat hati dan pergi ke salah satu pohon, naik kemudian bertengger di atas. Tangannya terulur meminta Reinha ikut.


"Buka dulu jaketmu, Enya. Kau harus seperti bunglon ... kamuflase ... jaketmu sungguh menarik perhatian musuh."


Reinha mesem, lepaskan jaket dan biarkan Lucky membimbingnya naik, berdiri belakangi Lucky. Nyaris terjerembab saat oleng seimbang, Lucky merangkulnya erat. Sentuhan yang manis.


Dari atas pohon, Puri Luciano terlihat sangat jelas. Lucky menaruh senjata di salah satu dahan dan ia mengutak-atik sebelum meminta Reinha mendekat.


"Kemarilah!"


Reinha tidak yakin. Dengan Lucky menempel di belakangnya, ia mendadak ingin punya dua sayap, ingin terbang dari sana bersama pria itu. Napas Lucky berhembus di telinganya.


Wow, Enya ... mendebarkan.


"Coba perhatikan seksama, Nona! Apa yang kau lihat? Kau harus fokus."


Reinha mengamati. Susah fokus sebab Lucky menempel padanya. Ia menggeleng keberatan.


"Aku tak bisa fokus!" sahut Reinha. "Bagaimana aku bisa melihat dengan jelas jika kau terus merangkul pinggangku?" Reinha mulai sekarat oleh detak jantung yang serampangan.


Lucky tertawa renyah, suka pada kepolosan dan terus terang Reinha, semakin eratkan pelukan, tak berniat melepas Reinha.


"Sniper ada di lantai paling atas. Ia mengintaimu sejak tadi," bisik Lucky sedramatis mungkin. Aroma Jasmine Reinha adalah aroma yang mengikutinya ke dalam hutan belantara.


"Ha?!" Reinha meneliti, tak temukan apa-apa.


"Ya, katanya ada seorang gadis bodoh berpakaian merah, mengintai Puri Luciano. Sniper meminta ijin untuk menembak penyusup," bisik Lucky parau di telinganya. Itu bukan kalimat cinta, anehnya Reinha merinding. Ia makin limbung dan akan terjungkal bebas ke dasar jurang jika Lucky tak memeluknya. "Kau itu bisa bahayakan dirimu sendiri," tambah Lucky lagi.


"Gadis bodoh?! Baiklah aku akan merobek mulutnya dari sini." Reinha kesulitan mengatur napas.


Lucky tertawa berat, "Melambai padanya! Ia sedang melihatmu. Instruktur-mu tidak bilang kalau ingin jadi sniper kau harus pandai menyamar kecuali kau hanya ingin berbaris bersama regu penembak jitu."


""Darimana kau tahu aku belajar menembak?"


"Augusto ...."


"Aku akan memecatnya, nanti. Jadi penembak jitu dan sniper itu berbeda?"


"Um, secara teknis berbeda meskipun sama-sama terapkan skill akurasi."


"Aku baru tahu ...."


"Sniper terlatih bergerak seperti siluman berbeda dengan penembak jitu."


"Apakah kau mau mengajariku?"


"Untuk apa?" Lucky bicara di tengkuknya. Reinha tidak menghindar.


Aku akan menembak kepalamu suatu saat nanti, jika kau berani menyakitiku. Ia bicara dalam hati.


"Kau cantik sebagai kepompong," goda Lucky.


"Kepompong?"


"Ya, bergelung dalam selimut dan menungguku."


"Dan meninggalkan aku kapan saja kau suka?"


Rainha mendengus kembali pada teleskop. Sementara Lucky masih menggelitik tengkuknya sembari terkekeh membuat konsentrasi Reinha kocar-kacir, begitupun jantungnya. Ia memeluk leher Lucky dengan tangan kirinya sebab ia merasa akan terjun bebas oleh ulah Lucky.


"Bisakah kau berhenti menggangguku?"


"Tidak, aku akan membuatmu sekarat dan semakin menginginkanku ... " usil Lucky lagi.


"Apakah wanita itu yang kau selamatkan?" guman Reinha pelan.


"Kau melihat sesuatu?"


Lucky berhenti mengganggunya, ia mengamati teleskop lalu mendesis, "Queena?!"


Pria itu mengecup belakang rambut Reinha. Menggendongnya dan turun dengan cepat dari pohon. Raut muka yang biasa tenang kehilangan kendali.


"Aku harus pergi, Enya ...."


***


Sebuah mobil membelah lengang Country Road di sore itu. Elgio duduk dibalik setir, mengemudi dengan tenang sementara Marya terkantuk-kantuk di bangku sebelah. Elgio membawa Marya pulang dari Paviliun Diomanta ke Durante Land untuk makan malam bersama.


"Kemarilah, bersandar padaku! Lehermu bisa sakit jika terus-terusan miring," katanya pelan pada Marya seraya meraih gadis itu untuk bersandar padanya. Gadisnya kelelahan karena mengurus Salsa meski ia tak mengeluh lelah. Hati gadis itu seperti permen kapas.


Lampu beranda rumah-rumah mulai menyala menutup hari, mereka telah sampai di Durante Land. Meski demikian, melewati Broken Boulivard, Elgio tidak kembali ke Paviliun tetapi terus lurus ke arah pemukiman. Penghuni Durante Land adalah para pekerja lebih tepat keluarga besarnya. Mereka bekerja untuk keluarga Durante secara turun-temurun di perkebunan dan telah tinggal di sana sejak buyutnya membeli tanah yang sangat luas itu dan setiap pekerja mendapat kapling-kapling untuk membuat hunian. Kompleks hunian itu akhirnya bernama Durante Land dan orang-orang selalu bangga terlebih rasa kepemilikan yang tinggi jika menyebut asal mereka dari Durante Land.


Tanpa sepengetahuan Marya, Elgio akan mengajaknya makan malam di tempat pribadi dan bersyukur gadis itu tertidur lelap. Mereka sampai di sisi belakang Durante Land, dibalik bukit batu, di sebuah hamparan padang luas yang dikelilingi pinus.


Sebuah tenda tegak di sudut padang yang agak tinggi, di sisi timur, dipenuhi lampu senar LED warna-warni. Dua bangku terlihat di sana, dekat api unggun yang menyala, sedang speaker portabel memutar musik lembut, menambah romansa. Azel melekat di punggung Dilly menunggui tenda, sisakan keheranan di wajah Elgio lantaran dua hewan beda haluan itu tampak sangat akur. Apa karena mereka mengincar ikan panggang lada hitam di atas karpet? Mata keduanya berkilat-kilat tertuju ke sana, seakan satu aba-aba dari kentut ayam ... mereka akan berlomba untuk mulai menyerbu persis seperti di perlombaan pekan raya.


Marya masih terlelap dan Elgio menyukai Marya saat tidur. Ia sering menyelinap diam-diam ke kamar gadis itu dan menontonnya saat tidur. Elgio menggendong Marya mendatangi tenda sementara Bibi Mai mengatur makan malam romantis di atas karpet.


Matahari akan segera terbenam, menakjubkan Elgio akan menikmatinya dengan Marya di sisinya.


"Ada apa dengannya?" tanya Bibi Mai gelisah melihat Marya yang lelap seperti pingsan.


"Marya ketiduran, ia bekerja seharian mengurus keluarganya."


"Anak baik ...." Bibi Maribel manggut-manggut sukai kepribadian Marya. "Ayo Dilly, Azel kita pergi! Kalian akan kuberi semangkuk sarden."


Dilly awalnya bergeming sebelum bangun dengan malas-malasan mengikuti Bibi Mai pulang ke Paviliun. Herder itu memohon pada Elgio untuk tinggal.


"Pergilah, aku akan ajak kau besok, Dilly. Kau tak bisa ikut kali ini," kata Elgio iba. Dilly bangkit pergi dengan lesu membawa Azel yang masih lengket di punggungnya.


"Makasih Bibi Mai ... " kata Elgio hargai kerja keras sang pengasuh sebelum wanita itu pergi.


"Nikmati kencan Anda, Tuan Muda."


Bibi Maribel tersenyum lebar hingga dua pipinya mengembang. Elgio masih mendengar omelan Bibi Maribel pada Dilly sebelum hilang dibalik pepohonan.


Bunga-bunga segar sebarkan aroma feminim dari dalam ember berpita, di dalamnya juga terdapat es dan sebotol anggur. Dua gelas anggur kosong menunggu untuk diisi.


"Apa kau akan terus tidur? Kau akan lewatkan matahari terbenam," kata Elgio kaitkan jemari dibalik tubuh Marya. Gadis dalam pelukannya menggeliat malas, makin terbenam di dada Elgio, hanya mendongak sedikit tak ingin bangun. Elgio berdecak sebab Marya terlihat menggoda dengan posisi seperti itu.


"Kita di mana?" tanya Marya serak, keberatan untuk bangun dari tidur.


"Buka matamu dan lihatlah!"


"Aku mencium aroma guacamole buatan bibi Mai dan aroma cologne-mu." Ia sipitkan mata sebelum terpesona. Kejutan awal yang menyenangkan saat melihat Elgio sedang memujanya, begitu dekat. Mata Marya mengerjab indah hingga Elgio sunggingkan senyum. Cintanya pada Marya tumbuh dengan baik malah tetap menggebu-gebu, menjalar ke sana kemari, buatnya gregetan jika berjauhan dengan Marya.


"Jangan menggodaku Marya."


Marya buru-buru berpaling, takut pada gerakan tak terduga Elgio dan kejutan lain menantinya.


"Increadible ...." Ia kembali pada Elgio dan mengecupnya berterima kasih. Pemandangan di hadapanya luar biasa romantis. Ia berseri-seri. Tenda, lampu kerlap-kerlip, api unggun, makanan, alam yang teduh dan mata kekasih yang memancar penuh cinta; katakan ada hal lain yang kau butuh kecuali berbinar-binar sebab kau merasa sangat spesial?


"Uihhh," Ia menelan liur saat matanya terpaku pada karpet di depannya. "Bruschetta dan tortilla ." Marya palingkan wajah pada Elgio, jatuh cinta makin dalam pada pria itu. Ia mengecup Elgio lagi.


"Keren sekali ...."


"Apa kau suka?" tanya Elgio tersenyum penuh cinta.


Marya mengangguk gembira pada kejutan yang dibuat Elgio padahal ia agak keberatan tinggalkan Ibu tadi, ditambah Arumi yang terkesan cuek, Marya seakan tidak ingin jauh dari sisi Ibunya.


Matahari mulai luntur perlahan di bawah garis horizon. Pendar merah, ungu - kebiruan hiasi ufuk barat ciptakan guratan alam terbaik yang dianugerahkan Tuhan untuk makhluk fana. Burung-burung bersiul kembali ke sarang, beberapa pulang dengan mengapit sesuatu di kaki-kaki mungil mereka. Suara halus api unggun dan susunan kayu yang terbakar jadi abu berderak ciptakan romansa lain.


Lagu Ed Sheeren - Thinking Out Loud mengalun mengisi keheningan.


"Mau berdansa denganku?"


Elgio berdiri dan memutar pinggang Marya tak menunggu jawaban. Mereka bergerak di atas rumput, rapatkan jarak dan berciuman di bawah kolong langit berbintang yang mulai dingin oleh angin malam. Selama didekat perapian, mereka akan baik-baik saja. Kepala Marya terkulai di atas jantung Elgio dan ia kalungkan tangan-tangannya pada leher Elgio.


"Kita akan bermalam di sini?" tanya Marya. Berbicara di dada pria itu, di bawah lengan Elgio yang lantas menariknya lebih dekat dan mengaitkan jemari di pinggangnya. Mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.


Oh me ... I fall in love with you every single day (Oh aku ... aku jatuh cinta padamu setiap hari)


"Ya, dalam satu kantong tidur," jawab Elgio tak berusaha sembunyikan nada riang.


"Hanya satu kantong tidur?" Wajah Marya memerah, bayangkan satu kantong tidur. Ia menggeleng keberatan.


"Ya ... apa kau keberatan? Apa asyiknya tidur sendirian dalam kantong tidur masing-masing kalau kita bisa berbagi cinta dalam satu kantong tidur? Lagipula ini kantong tidur ukuran queen untuk dua orang."


"Umm ...."


"Kau akan bersyukur nanti saat dapatkan kehangatan ekstra," goda Elgio lagi suka pada raut Marya yang telah memerah sama seperti senja di ujung angkasa.


Membayangkan akan memeluk Marya sampai pagi membuat Elgio bersemangat.


***


Tinggalkan komentar ... Apakah kalian menyukai Chapter ini?


Rimagasi (Terima kasih)....