Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 136 Bad Day ....



"*Holla Durante's girl* ... mau makan siang denganku?"


Elgio Durante berdiri di depan kelas, mengedip genit saat Marya dan Reinha keluar dari kelas sementara Augusto di belakang Elgio menenteng lunch bag di dua tangan membungkuk saat melihat Reinha dan Marya, hembuskan napas berat ketika Claire mengekor di belakang dan Reinha tak bisa abaikan Claire yang tak mampu menghindar, tersenyum kikuk pada Augusto. Tak percaya adik perempuan Lucky Luciano itu punya kisah asmara kandas dengan pengawal pribadinya. Sedang saat melihat Elgio, Reinha berharap, Lucky Luciano cepat kembali, datang ke sekolah seperti yang Elgio lakukan. Atau setidaknya mengatur dasi, mengikat rambutnya di pagi hari. Tiap ingat berandalan itu, hati Reinha Durante berubah suram. Tak punya kata tepat gambarkan kerinduan pada pria-nya yang sangat tampan. Lamunan Reinha bubar oleh seruan senang Marya.


"Elgio Durante!!!" Marya melompat tak tanggung-tanggung ke dalam pelukan Elgio sangat-sangat gembira dapat surprise saat lihat suaminya berdiri sangat tampan di depan kelasnya. "Ini kejutan, kau kemari!"


Meskipun Elgio Durante telah beristri tidak lantas buat para gadis berhenti meliriknya. Marya yakin teman-teman satu sekolahnya diam-diam memuja Elgio Durante dalam hati bahkan memuja bokongnya jika saja pria itu tidak pakai mantel.


"Ya Tuhan, hati-hati Marya," keluh Elgio memeluk Marya lekat dan mengusap kepala Reinha yang murung hingga Reinha tersenyum. Betapa sayangnya Elgio pada Marya juga pada dirinya.


"Kurasa ada yang salah, sejak tadi pagi Kakak sangat perhatian padaku juga sangat romantis pada Marya. Apa kau lakukan dosa yang tak penting, Kak?" tanya Reinha penuh curiga. "Kau sedang menyogok kami? Aku mencium aroma tak beres."


Jelas curiga. Pagi tadi saat sarapan, Elgio Durante juga Abner Luiz mendorong Maribella ke ruangan makan. Marya, Reinha dan Maribel duduk di meja makan baku pandang sebab mereka disuruh duduk manis sedang dua pria Durante pakai celemek dan buatkan sarapan. Elgio dan Abner bahkan berebutan suapi Reinha makan hingga Reinha terganggu.


Elgio lekas tegak. Adiknya terlalu cerdas dikelabui dan entah mengapa, Elgio berharap Carlos segera bawa kabar baik.


"Wah, kau sangat curigaan ya, Enya? Padahal aku kemari ingin mendukung kalian berdua."


"Baiklah."


Ketiganya berakhir di kantin diikuti Ethan Sanchez, Claire juga Abram Hartley. Arumi bergabung setelahnya sementara Augusto dan Archilles mengobrol kikuk di sudut kafetaria.


"Apa kabar bibi Pengasuh Durante?" tanya Abram mencomot potongan daging dari kotak Reinha terlihat iri lihat potongan daging panggang, ayam piri-piri dan nasi panas. "Kau tahu, pengasuhmu itu sangat cantik, Reinha Durante."


Abram mengunyah tanpa beban telantarkan bekal makannya sendiri.


"Kau ini mirip omnivora," kata Claire memukul tangan Abram. Meski demikian, Claire membagi isi kotak makanannya pada Abram.


"Hentikan Claire Luciano!" tegur Abram lingkari lengannya di leher Claire lalu kencangkan hingga Claire mangap-mangap.


"Hentikan bodoh! Kau menyakitiku!"


Reinha tak sanggup menahan geli sedang Marya dan Elgio seperti kasmaran tak habis-habis di pojok meja abaikan keributan.


"Kau pikir aku tak tahu, kau bersama Profesor Samael kemarin sore, Claire Luciano?" bisik Abram hingga wajah Claire memerah.


"Ya Tuhan, kau mata-mata?"


Ethan berdecak lihat tingkah laku para sahabatnya. "Kalian sangat berisik, aku tak ingin sayuran tersangkut di ujung rongga mulutku!" keluh Ethan bangkit pergi bawa serta kotak makanan Arumi. Mau tak mau yang punya kotak makanan melambai pada penghuni meja makan dan bergabung bersama Ethan Sanchez, sangat berbinar-binar sebab akan berduaan dengan Ethan.


"Lihatlah mereka berdua, tak pacaran hanya buat sensasi saja!" cibir Abram Hartley pada Ethan Sanchez, kemudian kembali pada Claire Luciano bicara sedang tangannya masih lingkari leher Claire. "Apa kau merayu Tuan Samael agar bisa lolos ke kompetisi?" Abram kembali mengacau.


"Hentikan!" jerit Claire gusar sembari pukuli Abram berusaha lepaskan diri. Mereka belum mulai makan tetapi Abram mulai bertingkah merusuh.


"Jujur padaku, apakah kau beralih dari pengawal Augusto pada Profesor tampan itu, Claire Luciano? Dia bahkan menyuruhmu ke ruangannya sendirian!"


"Oh sialan kau, beliau mentor kita. Hati-hati bicara serampangan tentangnya!"


Claire temui pria itu hanya ingin Prof. Samael berhenti mengganggunya untuk ikut ke kompetisi, sebab ia tak fokus terus pikirkan kakaknya dan ingin mencari-tahu keberadaan Lucky. Jika Lucky pergi, ia akan sendirian dan pikirkan itu, Claire tak akan sanggup. Claire tahu bahwa Francis sedang koma dan ia ingin pergi ke perbatasan, mencari kabar Lucky tetapi Carlos Adelberth bersih keras akan temukan Lucky Luciano jadi Claire ingin bawa pulang Francis. Reinha sepertinya belum tahu atau sebaiknya Reinha tidak tahu untuk sementara waktu sebab Claire yakin Lucky akan kembali. Raut murung Claire meski sepintas tertangkap Reinha Durante.


"Aku pergi sebentar," kata Claire tiba-tiba mendorong Abram kuat, lepaskan pelukan dan berlari keluar. Elgio hembuskan napas berat menduga Claire telah dengar kabar. Reinha perhatikan Claire lalu pada Elgio, makanan segera tertahan di tenggorokannya.


"Aku akan melihat, Claire!" Reinha berdiri.


"Hei Enya! Beri dia waktu untuk sendiri!"


Reinha bertambah curiga. Ia hendak menyusul tetapi Augusto mencegah Reinha.


"Aku saja yang akan lihat Nona Claire, Anda tunggu di sini, Nona Reinha."


Reinha menatap Kakaknya tajam. "Apa sesuatu terjadi?" tanya Reinha waspada.


"Hei, Enya, apa maksudmu?"


"Kau tahu sesuatu kan, Kak?"


"Tidak, kau bisa tanya Claire jika kau curiga padaku, Enya!"


Reinha menyipit sebelum pergi menyusul Claire. Apa Claire tahu sesuatu? Augusto terlihat di taman belakang sekolah sodorkan saputangan pada Claire tetapi gadis itu abaikan. Ia hanya sesegukkan di atas bangku taman. Reinha merasa hatinya ikut bersedih, entah oleh apa? Ia ingin mendekat dan bertanya tetapi sepertinya Claire bermasalah dengan Augusto. Terlihat dari tatapan terluka Claire dan pengawalnya yang hanya berdiri terpaku.


"Nona Claire, apa sesuatu terjadi?"


Claire menggeleng, "Tolong pergilah! Aku ingin sendiri!"


Reinha perhatikan pengawalnya yang seakan tak pernah sama lagi semenjak kembali dari desa. Augusto berubah murung, datar dan tak banyak bicara berbeda dengan Augusto yang ia kenal dulu.


"Apa Anda marah padaku?"


"Augusto, apakah aku terlihat sedang marah padamu? Tolong pergi saja! Aku benar-benar ingin sendiri."


Reinha perhatikan dua orang itu, Claire terlihat sangat-sangat sedih. Ini terjadi seperti saat ia kisahkan kehidupan kelam mereka di masa kecil. Tak tahan, Reinha mendekat.


"Apa sesuatu terjadi?" tanya Reinha duduk di sisi Claire sedang Augusto tak ingin beranjak dari sana. Tegak seperti patung hidup.


"Tidak, Reinha. Aku mungkin cuma kelelahan sebab harus kerjakan banyak hal gantikan kakakku. Aku berharap Profesor Samael berhenti menodongku untuk ikut kompetisi sebab skor ku tertinggal 14 poin darimu dan aku tak bisa tinggalkan Double L juga CL saat ini."


"Beritahu aku, jika kau butuh bantuan, Cla. Aku akan menolongmu."


"Fokuslah, Reinha! Abaikan aku untuk sementara waktu!"


Reinha mengangguk meski tahu sahabatnya lagi bersedih tetapi ia tak ingin ikut campur terlalu jauh. Claire kedapatan berbohong. "Baiklah."


Setiap bicara pada Claire, Reinha merasa Lucky ada didekatnya. Itu dikarenakan gaya bicara mereka hampir mirip, urakan dan asal bunyi ditambah mata Claire yang sangat mirip dengan mata Lucky, Reinha merasa semakin rindukan Lucky Luciano.


"Where are you now, Honey?"


Reinha bertekad dalam hati, hanya perlu meraih medali emas dan buat Lucky Luciano datang di hari itu. Abaikan hati yang semakin jadi-jadi merindu pada Lucky Luciano, Reinha cukup percaya saja pada janji yang dibuat Lucky. Helaan napas berat dan hembusan yang malah terasa makin sesakkan dada, Reinha berharap suaminya baik-baik saja dan Claire temukan seseorang sebab Augusto telah menikah.


Pikirannya yang keliru. Seandainya Reinha tahu bahwa Lucky menghilang ....


***


Maribella berinisiatif minta maaf pada Luna. Jadi ia siapkan kotak makanan jelang makan siang. Tiga kotak makan. Ia dan Abner akan menikah dan ia tak bisa abaikan penderitaan Luna.


Abner mengajak Maribella siang itu untuk melihat keperluan pernikahan. Tetapi, mereka mampir di kantor terlebih dahulu. Pernikahan keduanya ditunda sebab Abner harus bertemu Tuan Nakamura di Bali gantikan Elgio Durante lantaran Elgio tak ingin tinggalkan Marya yang sedang mengandung.


"Maaf ya, kita harus menunda pernikahan kita."


"Tak masalah, Abner. Kurasa waktu Tuhan adalah waktu terbaik."


Mereka di kantor Abner sedang jam makan siang hampir dekat.


"Masuk!" suruh Abner.


Luna Hugo berdiri di ambang pintu. "Maaf aku mengganggu. Aku bawakan shipping documents seperti yang Anda minta. Berkas Commercial Invoices, Packing list, Bill of Lading telah rampung; semua yang dibutuhkan pihak importir dari kita. Tetapi, sepertinya Anda sedang sibuk, aku akan kembali lagi nanti." Luna terlihat ingin pergi seketika setelah laporan.


"Baiklah. Terima kasih, Luna."


"Nona Luna, bisa kita bicara?" Maribella cegah Luna pergi, lupakan kata-kata kasar Luna padanya soal pelayan rendahan dan pelacur murahan, jiwa damainya terusik oleh permasalahan mereka. Luna terpaku sejenak di ambang sebelum mengangguk dan masuk ke dalam ruangan. Maribella mengerti kenapa Luna sangat berharga di kantor, ia sangat cekatan dengan pekerjaannya dan sangat profesional.


Maribella berdiri, ia tak lagi memakai pakaian yang mungkin memprovokasi Luna meski tetap saja gunakan mantel bagus dan tas Hermes. Ia tak mengerti mengapa orang harus menilai penampilan dari outfit yang dipakai?


"Aku minta maaf oleh tindakan burukku padamu beberapa waktu lalu."


Maribella bicara dengan suara rendah dan tenang.


"Lupakan, Nona Maribella! Kurasa aku juga kelewatan. Aku hanya ingin mengejar karir untuk saat ini dan fokus bekerja. Kau tahu, aku patah hati dua kali dalam seminggu. Kurasa para pria yang dekati aku hanya jadikan aku objek fantasi mereka dan tempat pelampiasan untuk buat wanita lain cemburu." Mengeluh dan sindiran terakhir untuk Abner.


"Maafkan aku dan Tuan Abner, Luna." Maribella bicara sembari ambilkan kantong berisi kotak makanan. "Aku buatkan makanan untuk makan siang Tuan Abner dan untukmu Nona Luna. Aku harap kau mau menerimanya."


Maribella datangi Luna dan meraih tangan gadis itu untuk terima makanan darinya.


"Sebenarnya tak perlu repot," jawab Luna tampak enggan bersentuhan dengan Maribella. Terlihat ingin menolak sebab ia merasa kalah dari sang pelayan. "Tetapi, aku akan terima ini sebagai tanda kita berbaikan," tambahnya berubah pikiran tiba-tiba senang.


"Semoga hari Anda menyenangkan Nona Luna."


"Tentu saja. Harimu juga, Maribella, semoga menyenangkan," sahut Luna.


Sepeninggal Luna, Abner perhatikan Maribella yang tak bisa sembunyikan riang setelah berbaikan dengan Luna.


"Apa kau merasa senang?"


"Ya, Abner," angguk Maribella. "Makanlah, Abner!"


"Well, coba lihat apa yang Maribella-ku masak?"


"Aku hanya buatkan sup sayuran, daging panggang, nasi. Optional aku bawakan ayam piri-piri juga kentang rebus. Mau yang mana?"


"Tak masalah, aku suka nasi. Mari makan, Maribella. Aku ingin daging panggang. Aroma garlic dan ladanya sungguh menggoda. Tak ada yang bisa kalahkan nasi panas dan daging panggang yang disatukan."


Pria itu habiskan sup sayuran sebelum makan daging panggang dan nasi dengan lahap. Maribella amati Abner tanpa kedip sebelum habiskan makanannya. Mereka makan siang berdua dan tidak bisa menutupi cinta yang mekar di antara mereka, nikmati momen sederhana tetapi sangat berbunga-bunga. Tak ingin bicara, hanya mengisi perut.


Meskipun tampak kenyang, Abner masih habiskan satu mangkuk doce da casa dan masih minta segelas kafe delta. Abner suka minum kopi sehabis makan siang, rata-rata para pria suka habiskan segelas kopi setelah makan siang yang sangat banyak.


"Maribella kurasa jika Elgio sibuk, kau harus temani Marya ke dokter. Mereka terus menunda periksa kehamilan." Seruput kopi. Semakin banyak nikmati makanan, semakin banyak porsi olahraga ditambah.


"Aku pikirkan itu juga, Abner. Tetapi kurasa sebaiknya Tuan Elgio pergi bersama Marya. Kau tahu bahwa dampaknya bagus untuk bayi dan untuk mereka berdua sendiri."


"Baiklah, kau tak habiskan makananmu Maribella?" tanya Abner amati kotak makan Maribella yang tak habis di makan lalu pada tubuh Maribella yang makin imut saja dari hari ke hari.


"Aku terus berkutat di dapur untuk masak, Abner. Saat waktu makan, aku mulai kehilangan selera," keluh Maribella. "Aku akan beres-beres dan kita bisa pergi sebentar lagi."


Ketukan mendesak di pintu, tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka. Seorang staf melongok ke dalam ruangan.


"Tuan Abner, Luna keracunan makanan."


"Keracunan?"


"Ya Tuan, Luna mengeluh keram di perut, mual, muntah-muntah sebelum akhirnya lemas dan pingsan."


"Apa yang dia makan?" tanya Abner dan sadari kebodohan pertanyaan itu, menoleh pada Maribella yang menggeleng ketakutan. Meskipun Luna terlihat mau berbaikan dengan Maribella tapi wajah Luna terlihat enggan makan sesuatu yang dimasak Maribella. Abner segera curiga pada motif Luna, tetapi racuni diri sendiri hingga terluka sepertinya tak mungkin dilakukan oleh gadis secerdas Luna.


"Abner, makanannya sama dengan yang kita makan!" sahut Maribella terlihat panik.


"Ssshhh ... tetaplah tinggal dan bungkus makanan sisa kita Maribella. Kita mungkin akan diperiksa."


"Aku ikut Abner, aku tak ingin tinggal sendirian," jawab Maribella makin ketakutan. Bagaimana jika orang mencurigai dirinya?


Abner mengunci ruangan sebab yakin pasti kasus ini akan diselidiki. Ia genggam erat tangan Maribella yang gelisah dan pergi ikuti staf pembawa kabar. Luna segera dilarikan ke rumah sakit sebab muntah tanpa henti bahkan keluarkan darah. Gadis itu langsung dinyatakan dalam keadaan kritis.


Bisa ditebak kelanjutannya. Keluarga Luna yang marah menuntut perusahaan dan segera laporkan kasus keracunan itu sebagai indikasi pembunuhan yang direncanakan. Menerima laporan kejadian, pihak kepolisian langsung bekerja cepat melalui pemeriksaan berstruktur lakukan pendalaman penyelidikan. Hasilnya luar biasa mencengangkan. Dalam waktu singkat hasil dari Laboratorium Kesehatan yang memeriksa makanan dari kotak makan siang Maribella untuk Luna, ditemukan zat beracun yang sangat berbahaya dan bisa berujung pada kematian. Daging panggang, ayam piri-piri itu terbukti mengandung racun potasium sianida.


Jadi, akhir dari sore yang tak tertebak itu adalah Maribella di bawa ke kantor polisi untuk diperiksa.


"Abner, aku tak mungkin lakukan itu! Aku hanya ingin berbaikan dengan Nona Luna."


Maribella dibalik jeruji besi, meski ketakutan, ia akhirnya terlihat lebih kuat sebab yakin ia tak bersalah. Meski demikian, sel yang dingin dan lembab buatnya gelisah.


"Maribella, aku akan keluarkan kau dari sini, sabar ya! Ini hanya prosedur saja."


"Tak masalah aku di sini, Abner. Bagaimana dengan Nona Luna? Lakukan sesuatu, seseorang pasti ingin menjebakmu Abner."


Di celah-celah tiang besi Abner menggenggam tangan Maribella yang dingin.


"Luna akan baik-baik saja, Mai. Ia telah ditangani dengan baik."


Abner segera memanggil pengacara, yakini Maribella dijebak tetapi bukti sangat kuat mengarah pada Maribella. Ditambah Luna dan Maribella diketahui terlibat cekcok dan perkelahian hari kemarin kemudian adanya skandal cinta segitiga konyol mereka yang terkuak. Lagipula, banyak pegawai kantor bersaksi melihat Luna keluar dari ruang kantor Abner dengan kotak makanan pemberian Maribella hingga Maribel benar-benar dijadikan tersangka.


Abner tak menyangka, langkah keliru untuk berkencan dengan Luna berakhir dengan Maribella di penjara.


***


Me Update 2 Chapter hari ini sambil nunggu Lucky diketahui posisinya.


Where is Lucky Luciano? Hanya harus menunggu sebab butuh waktu untuk tahu dan rentetan cerita yang tak bisa kupotong, i am so sorry. Aku selalu penuh kejutan, nantikan saja ya, aku mencintaimu Readers.