
"Tuan Lucas?!" panggil Reinha lagi. Pria tua itu tampak melamun jauh.
"Oh Nona, bukan apa-apa. Kembalilah bekerja!"
Perkataan Tuan Lucas buat si pria yang memegang pemantik meradang, ia terlihat tidak begitu senang.
"Bukan apa-apa katamu?! Anda meminjam 20.000 Euro dari kami dan tidak menyicil selama setahun, Anda katakan tidak apa-apa?"
Reinha mengurut kening. Di mana-mana uang adalah sumber permasalahan utama. Uang memang bukan segalanya tetapi tanpa uang, segalanya jadi rumit. Persis sekarang.
"Beri kami waktu, Tuan ... kami sedang perbaiki sistem penjualan dan akan segera membayar utang."
Reinha bicara wakili Tuan Lucas yang terlihat tak berdaya, menyusutkan suara hingga ke volume paling dasar untuk menarik belas kasihan. Si pria melipat kening, menyimak penawaran Reinha dan menimbang. Lepas dari itu, si pria awasi Reinha Durante seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Mirip Nona Muda Durante, pembuat keonaran di kediaman Luciano beberapa waktu lalu.
"Begitukah? Apa aku bisa mempercayaimu?"
"Ya, aku janji. Beri kami waktu, kami akan segera melunasi 20.000 Euro - "
"Ditambah bunga 10%," potong si pria.
"A - APA?! 10 %?!" Reinha terbelalak. Patut disayangkan, mengapa Tuan Lucas meminjam dari rentenir?
"Kalian memeras pria tua? Ya Tuhan, baiklah! Kalian boleh pergi. Kami akan membayar 20.000 Euro dan lunasi bunga tapi tidak bisa bersamaan," seru Reinha, tak yakin toko bisa hasilkan uang sebanyak itu. Toko ini sekarat tanpa uang bahkan hanya untuk membeli sekaleng cat. Ia masih penasaran, bagaimana bisa Tuan Lucas berutang 20.000 Euro pada rentenir serakah ini?
"Kalian harus segera pergi karena aku harus bersih-bersih. Jika kalian terus di sini, orang tak akan datang karena tampang tukang pukul kalian itu!" Intonasi Reinha naik satu oktaf ditiap kalimat. Ia menggeleng ke luar toko, mengusir mereka pergi. Lama-lama ia mulai gusar.
"Bagaimana Bos?!" Pria itu bertanya ke arah pria yang sedang asyik membaca buku Love Looks Pretty on You.
Yang dipanggil Bos tak menyahut, ia masih membalik lembaran buku dan ketika bicara suara itu berat bergetar.
"Takdir yang aneh. Lihat siapa ini?! Wonder girl kota ini ... menarik," desis si pria mengejek, tetapi terselip nada bersemangat. Ia menonton Reinha semenjak tadi, bayangkan raut malaikat sang gadis dari balik buku, nikmati suara renyah gadis itu, bersyukur Reinha tak sadari kehadirannya sedari awal.
Reinha serentak berbalik dan dapati Lucky Luciano bersandar pada tiang rak, mengamatinya antusias dengan satu alis terangkat tinggi. Reinha mundur beberapa langkah hingga menempel di rak buku. Bibirnya tiba-tiba geli seolah baru saja dihinggapi rayap. Ia sempat kagum pada pria yang menyukai prosa,datang pagi-pagi ke toko buku untuk membaca kumpulan puisi, tetapi jika pria itu ... Lucky Luciano ..., ia ragu.
"Bisa bawa Pak Tua itu keluar, Francis? Aku ingin bicara berdua pada gadis yang telah menggigitku ini."
Lucky bicara alihkan matanya dari Reinha kembali pada buku. Ia membaca halaman prosa pertama dari buku itu penuh penghayatan.
Love looks pretty on you.
Makes you soft, tender, proud.
Makes you sit up and take notice.
Gives you a home to set down your things.
"Tuan Lucky, aku mohon belas kasihanmu. Jangan ganggu Nona Reinha. Biar aku saja ...."
"Keluarlah Tuan Lucas, jangan buat aku terlihat jahat di matanya!" ujar Lucky dingin. Ia lanjut membaca prosa berjudul At Last tersebut.
What a blessing it is, to have music and dancing and poetry.
Reinha menatap lembut pada tuan Lucas memohon pria tua itu percaya padanya. Tuan Lucas sepertinya tak enak hati hadapkan Reinha pada situasi rumit toko, di hari pertama kerjanya.
"Tuan Lucas jangan kuatir. Aku mengenalnya dan pergilah keluar! Lagipula aku harus bersihkan 'induk semang rayap' dan membasmi sampai telinganya putus. Anda tunggu di luar saja, ya."
Reinha berujar sambil mengutik gemas seekor rayap yang kebetulan lewat di rak paling dekat dengannya. Tingkah itu membuat Lucky Luciano tersenyum lucu, meskipun tahu, dialah rayap yang Reinha Durante maksud. Sementara seseorang yang dipanggil Francis, -seorang pria yang membakar lembaran tadi, mendorong Tuan Lucas keluar dari toko tanpa banyak membantah.
Di dalam The Windows, di antara jubelan buku-buku Reinha siap siaga. Ia bisa hadapi Lucky seperti terakhir kali dan Augusto bisa melawan para pengawal Lucky. Hanya saja, ruang toko terlalu penuh buku dan jika ia tidak bertindak awas, buku-buku bisa rusak sedang Tuan Lucas terlilit utang. Ia tak mungkin menambah masalah Tuan Lucas.
"Well ... aku tak menyangka dunia ini selebar lembaran kertas. Kau ingin dengar bait terakhir dari prosa ini?!"
I'm so happy to have found you
– at last, at last, at long, long last –
you're here.
"Prosa yang sangat bagus. Aku membaca buku ini tiap kali kemari."
Lucky menutup buku datangi Reinha dalam tempo lambat, menebar pesona. Tidak akan berhasil pada Reinha lantaran gadis di depannya ini keras kepala dan menganggapnya casanova.
Berbeda jika ia tahu, tindakannya kali ini membuat perbedaan sebab ia membaca buku prosa kesukaan Reinha. Gadis itu meneguk ludah sembari merancang strategi penyerangan terbaik pada Lucky tanpa merusak toko. No Reinha. Jangan bertindak! Sebaiknya tidak memancing amarah Lucky apalagi jika dendam kesumat pria itu belum mereda akibat penyerangannya beberapa hari lalu.
Bekas gigitan Reinha masih mengecap wajah maskulin Lucky meskipun hanya samar. Lucky persempit jarak di antara mereka terlihat tanpa sikap waspada, sesuatu yang harusnya ada, mengingat Reinha pernah berinya pelajaran dan itu masih tertanda di seputaran hidung dan bibir.
Reinha menatap Lucky sinis. Apa yang membuatnya sangat menarik hingga digilai separuh wanita di kota ini? Mungkin karena ia tampan, tidak lebih; Lucky Luciano hanya seorang pecundang.
"Aku juga tak menyangka, kau datang ke toko tua ini dan bersyair sedang anak buahmu menagih utang ... salah ... memeras pria tua. Kau kehabisan uang atau apa? Kau ternyata lebih brengsek dari yang kupikirkan. Apa wanita di kota ini telah habis kau ganggu? Kau melirik pria tua sekarang?"
"Kau memikirkanku, Enya?" selidik Lucky mendalam, "Itu sangat mendebarkan."
Reinha memutar bola mata malas, "Aku memikirkan betapa brengseknya seekor rayap melubangi sebuah buku!"
Tawa Lucky pecah. Ia condongkan badan dan melempar tatapan langsung pada bola mata Reinha. Kali ini mata Lucky, entah mengapa, berhasil buat Reinha gelisah. Wajah pria itu cukup dekat dengannya yang merekat di rak buku. Lucky mengangkat tangan dan menaruh buku kembali ke rak di samping kepala Reinha tanpa melepas matanya dari Reinha. Aroma parfum terendus dan napas Lucky ciutkan kosakata Reinha. Gadis itu bicara jengkel sebab ia sedikit banyak terpengaruh pesona Lucky. Sungguh menyebalkan.
Wake up Reinha!
"Menjauh dariku!" geram Reinha.
"Kau boleh menggigitku jika kau mau."
Lucky kerucutkan bibir dan memandangi Reinha dalam-dalam. Muka malaikat gadis itu dan bulu mata lentik di bawah naungan alis melengkung natural, yang dalam diam telah bicara lebih dari kata tentang keindahan pemiliknya. Lucky berdecak, ia sungguhan tertarik pada Reinha.
"Kau seperti gugup dekatku. Apa kau suka pertemuan tidak sengaja ini? Kau menyukai pria yang suka membaca prosa dan puisi?"
Reinha terdiam. Ia tidak takut pada Lucky tapi lebih cemaskan dirinya sendiri yang terkadang bereaksi di luar nalar. Dirinya terlalu ekspresif dalam keadaan marah dan itu bisa merugikan.
"Bisa kita bicara di luar?"
"Mengapa di sini? Kau tidak suka pada berandalan sepertiku yang tidur dengan banyak wanita, jadi kenapa kau gugup?"
"Kami akan segera bayar utang," kata Reinha tanpa basa-basi. Tak ada tempat di hatinya untuk brengsek mesum model Lucky Luciano.
"Bagaimana caranya? Meminta pada Elgio? Claire sering minta padaku jika terdesak."
"Tidak, kami akan tingkatkan penjualan dan dan dan ...." Lidahnya keseleo dan sambungan terputus. Ia terganggu pada tatapan lembut Lucky.
"Sial." Reinha mengumpat ketika hati berhasil kalahkan logikanya.
"Jangan berpikir membayar utang Tuan Lucas, Enya. Bagaimana kalau kau rayu saja dia untuk menjual toko ini padaku?" bujuk Lucky suka pada kegelisahan Reinha. Untuk menaklukkan Reinha harus dengan kelembutan. Trik itu berhasil.
"Kami akan lunasi utang. Kau boleh pergi dan bawa anak buahmu juga. Kalian membuatku muak. Kau kekurangan uang atau apa? Aku akan minta Elgio menolongmu," ujar Reinha mengada-ada. Mana mungkin Elgio mau menolong Lucky? "Asalkan kau pergi dari sini dan jangan ganggu Tuan Lucas!"
Lucky kembali tertawa. Dalam posisi berdekatan, mata Lucky menatap dirinya berlama-lama tanpa kedip. Sikap Lucky mengirim pesan kalau ia kagumi kecantikan dan ingin melihat Reinha secara pelan-pelan untuk menyimpan wajah gadis itu dalam ingatan.
"Maukah kau jadi kekasihku, Enya?"
****
Selamat menikmati yah...