
Lucky Luciano dan Reinha Durante berkendara menuju keluar kota untuk melihat kondisi Francis. Peternakan terlihat di kejauhan. Biarkan Reinha menyetir, Lucky Luciano bersandar pada Reinha acapkali mengecup lengan Reinha yang terbungkus jaket kulit. Sesekali menggerayangi gadis itu. Kekasihnya kenakan medium dress selutut dengan aksen kerutan di dadanya dan aroma Jasmine Reinha telah kacaukan otaknya sejak tadi.
"Hentikan Lucky!" seru Reinha.
"Apa yang akan kau lakukan di Dream Fashion?" tanya Lucky Luciano kendalikan dirinya, mengecup lengan Reinha, berdamai dengan hasrat ingin bercinta yang mulai memanas. Mereka mungkin akan berpisah selama seminggu untuk urusi bisnis masing-masing.
Reinha mengecup puncak kepala Lucky kilat. "Casting beberapa pria tampan untuk jadi model. Tim produksi merilis pakaian musim panas, jas dan blazer pria. Mereka menungguku untuk follow up model endorsement."
"Wah, wah, aku penasaran siapa saja mereka?" tanya Lucky berat.
"Ada pria idolaku di sana, Jhon Horta. Kau tahu bahwa casting itu cuma prosedur. Aku akan langsung memilih Jhonatan untuk bekerja sama denganku. Aku yakin, penjualan akan meroket. Matanya, hidungnya dan gaya jalanannya secara esensial sangat mendobrak. Pria itu benar-benar akan sempurnakan imajinasi semua orang. Dia ada dalam bayanganku."
Reinha bicara berapi-api hingga suaminya mengerut oleh cemburu. Menyebut nama si Horta, Reinha tunjukan antusiasme luar biasa.
"Kita lihat saja nanti, aku akan menyuruh Claire menculik pria itu untuk CL."
"Claire tak akan lakukan itu! Ia akan lakukan segala cara untuk membawa Jhon Horta padaku! Ya Tuhan Lucky, hanya melihat fotonya aku benar-benar panas dingin. Betapa seksinya dia!" tambah Reinha hingga si berandalan di sebelahnya dengki pada Jhon Horta.
"Kupikir aku adalah pria baku untukmu," keluh Lucky Luciano.
Reinha terkekeh, "Tentu saja, Sayang. Kau adalah segalanya bagiku. Kita bicarakan soal pekerjaan."
Sementara Reinha berangan-angan dengan pria setampan Jhon Horta, Lucky Luciano cemberut di sisinya, hanya mau Reinha inginkan dirinya. Melirik Reinha yang fokus mengemudi, rahang dan sorot mata yang indah, Lucky Luciano tak ingin habiskan sisa perjalanan dengan mudah untuk Reinha.
"Siapa yang lebih tampan? Aku atau dia?" tanya Lucky pergi ke leher Reinha dan merusuh di sana.
"Suamiku lebih segalanya, puas? Tolong berhenti Lucky!" sahut Reinha kerjab-kerjabkan mata, menjaga kecepatan.
"Berhentilah memuji pria lain saat kau bersamaku, Enya! Aku tak sukai itu?"
"Baiklah, Sayang. Berhenti ganggu aku!" seru Reinha untuk kesekian kalinya, berusaha menghindar.
Abaikan seruan Reinha, Lucky Luciano semakin nekat gerayangi Reinha.
"Kau tahu aku tak akan berhenti sampai aku dapatkan apa yang aku inginkan," balas Lucky semakin menjadi-jadi.
"Oh, hentikan! Kita bisa berakhir di semak-semak!" suruh Reinha coba abaikan Lucky Luciano yang berkeliaran di lehernya. Janggut yang dipelihara, bergesekan di rahang halus. Reinha kesulitan mengemudi dikarenakan bibir si pria yang menempel di cekung leher, di telinga, di tengkuk hingga Reinha kepayahan.
"Aku tak keberatan akan berakhir denganmu di mana saja," guman Lucky serak. Tangannya pergi kemana-mana, turunkan resleting jaket sampai habis, tangannya menyelinap ke balik dress bagian atas sang gadis. Model kerutan menguntungkannya. Ia mendesah sempurna saat temukan sesuatu dibalik penutup dada. Pejamkan mata dan mendesis.
"It's beautifull one."
"Oh shits," umpat Reinha pelan, kehilangan konsentrasi, kurangi kecepatan dan buru-buru menepi sebelum keduanya benaran nyungsep menabrak pembatas jalanan dan terjun bebas ke lereng curam. Ia membalas suaminya yang telah sekarat oleh gairah. Saling menyambar dan bertautan hingga decakan terdengar dari balik tenggorokan. Susah payah Reinha kendalikan suaminya yang menggila, tetapi Lucky Luciano menolak diredam. Jiwa brengsek Lucky menyembul ke permukaan, bergerak sedikit liar ingin hanyutkan gadis di dalam rengkuhannya. Napasnya terputus-putus, dibiarkan saja dirinya diperbudak hasrat. Tak butuh waktu lama untuk pindahkan istrinya dari balik kemudi ke pangkuannya setelah sandaran bangku mobil diturunkan agar Reinha nyaman. Ia mulai mencumbu Reinha seakan tak ada hari lain.
"No no no, Lucky, se ... tidaknya saat kita sampai di peternakan," keluh Reinha terbata-bata, berikan peringatan.
"Aku tak bisa menunggu hingga sampai ke sana," balas Lucky di dada Reinha. Tangannya menahan kedua tangan Reinha di belakang pinggang sang gadis agar tak halangi aksinya.
"Ya Tu .. han, in ... i di te ... ngah jalan," ujar Reinha tersengal-sengal. Meski telah berkendara selama 30 menit lewati hutan-hutan Pinus yang menjulang tinggi, mereka tak berpapasan dengan satupun kendaraan.
"Apakah ada aturan baru jangan bercinta di tengah jalan?"
"Oh tidak, jangan lakukan ini! Ba ... gaimana ka ... lau ada pengguna jalan lain yang le ... wat?"
"Ini kawasan peternakan, Sayang. Tak akan ada yang lewat kecuali kita atau Claire," balas Lucky bicara secepat kilat, lepaskan jaket kulit Reinha yang mengganggu, dilempar ke belakang. Menyingkap dress Reinha naik hingga paha-paha polos terpampang. Jemarinya menyusuri paha yang mulus itu hingga Reinha gelagapan.
"Ayo ... lah Lucky! Aku tak sa ... ba ... ran ingin melihat Amora."
"Sssshhh ... " bujuk Lucky Luciano membungkam istrinya yang terus protes. Tak sulit berperang, sebab Reinha sangat terbuka untuk menerima serangan. Lucky temukan posisi favorit untuk bangkitkan hasrat Reinha. Menghapal model dress yang dipakai Reinha dan akan siapkan banyak agar mudah menyentuh istrinya.
"Kau brengsek Lucky!" maki si gadis saat ia merasa akan meledak oleh ulah suaminya. Kedua tangannya memeluk leher Lucky erat.
"Enya ... aku mencintaimu seperti orang gila! Just do this Baby!" desah Lucky yang segera kehilangan akal sehat.
"Oh, kau brengsek sialan!" erang Reinha ketika Lucky mengigit kecil lehernya berpindah ke dadanya, munculkan sejuta gairah memabukkan. Pria itu menyatukan tubuh mereka perlahan. Dalam sekali hentakan Lucky mulai bergerak langsung dengan tempo cepat yang mencengangkan. Lucky bergerak liar di dalam Reinha, menyangga pinggang si gadis yang semaput hingga tubuh Reinha bergetar hebat. Mereka temukan sensasi bercinta dalam ruang mobil yang sempit, tak butuh waktu lama ciptakan peluh.
Lucky Luciano memang tahu cara yang tepat untuk menyerang dan menaklukan Reinha, tak peduli bahwa mereka sedang di alam terbuka.
Ckckckckck ....
"Bagaimana kalau kita punya baby?" Lucky Luciano bersuara berat pindah ke bibir Reinha, meraup tanpa kurangi laju geriknya. Urat-urat leher mencuat dibalik kulit cokelat kemerahan saat ia mengerang. Desis ciumannya bergema di sana.
"Kau sialan, Lucky!"
"Just say that again, baby! I like it," bisiknya meracau di leher Reinha, rasakan kekasihnya yang gemetaran. "Just say you want me! Please, Enya!" desak Lucky semakin sengit.
"I want you!"
"Again Enya!" tuntut pria itu nikmati remasan tangan Reinha di rambutnya yang menguat seiring dorongan tubuh yang menggelegak.
"Lucky, oh, kau brengsek paling gila." Reinha tak berdaya dibuatnya.
"Kau hanya boleh inginkan aku. Kau tahu bahwa aku hanya melihat kita bercinta dalam tidurku," ujar Lucky terpatah-patah di antara desah napas yang menggebu.
Cengkeraman Reinha turun di leher Lucky saat Lucky secara sensual nan brutal, mempercepat tekanan. Otot-otot lengannya menyembul sedang kemejanya entah kemana.
"Love me Enya like i love you!"
Segera melenguh tak berdaya, lepas kendali, memeluk pinggang Reinha kuat, pecah berkeping-keping, mendongak mencari-cari bibir Reinha. Ia melambat tapi tak ingin lepaskan Reinha, terbenam di dada sang gadis.
"Kau bercinta dengan gadis 18 tahun di mobil? Ya Tuhan ... aku menikahi pria mesum!" Mereka berciuman, tak berhenti menjalin bibir.
"Kau akan menyukainya," balas Lucky nikmati elusan di rambut hitamnya.
"Urrgghhhhh ... ini gila!"
Lucky terbenam di dada Reinha. "Bisakah kita punya bayi?"
Reinha menggeleng mengecup bibir suaminya yang memandangnya penuh harap. "Tidak Lucky! Aku masih 18 tahun dan kita akan punya bayi saat usiaku 24 tahun mungkin 26 tahun. Saat aku benar-benar siap jadi Ibu. Saat ini aku hanya ingin berikan kasih sayangku pada Amora dan Baby Cute."
Tetapi jika Lucky terus merayunya di sembarang tempat seperti tayangan yang barusan lewat, ia yakin akan punya bayi dengan cepat. Oh tidak, jangan sampai terjadi.
"Baiklah, mari pacaran dan bersenang-senang!" Lucky Luciano masih mendekap Reinha erat, redakan semua denyutan di seluruh tubuh yang berdetak kencang. Meski ia telah bercinta dengan Reinha sejak mereka kembali dari Pesisir Timur, ia tetap saja kembali membuas ketika melihat Reinha. Bahkan saat mereka berdansa di tengah keramaian ketika pesta pernikahan Tuan Abner, ia menyeret Reinha pergi ke kamar gadis itu dan bercinta dengannya di antara hingar bingar musik.
Ambil alih kemudi, mereka sampai di peternakan. Masih tetap berciuman dengan panas dan baru berhenti ketika Septi terlihat hendak menyambut mereka. Dari Claire, Reinha tahu bahwa Queena sempat dibawa ke peternakan tetapi kemudian dijemput oleh ajudan walikota. Jadi, Queena bersama Pamannya saat ini. Reinha ingin tahu kabar Queena.
"Oh Septie kami harus mandi baru akan menimang Amora," ujar Reinha salah tingkah, menahan diri untuk tidak menyentuh Amora.
"Ya, apa kau butuh pakaian ganti? Anda berdua terlihat berantakan dan ... se ... dikit mengkilap," sahut September jujur.
"Ummm ... sampai nanti Amora," lambai Reinha dengan wajah memerah segera menarik suaminya ikut dengannya sisakan kerutan di kening September yang berpraduga.
"Oh, hentikan, tolonglah!"
"Ayolah, Enya! Kau tahu, bahwa bercinta di bawah air sungguh menggairahkan."
Reinha menggeleng keras, mendorong Lucky ke dalam kamar mandi. "Tidak! Cepat mandi sana! Kau tak lihat Amora Shine? Ya Tuhan, dia sangat menggemaskan! Cepatlah Lucky! Apakah kau akan terus bercinta sedang sahabatmu belum siuman!"
Kata-kata Reinha cukup untuk pudarkan gelora Lucky Luciano. Apakah nanti brengsek ini akan mengganggunya saat ia sedang sekolah hanya untuk bercinta?
September kembali menyambut mereka bersama Amora Shine yang benar-benar bertambah lucu selepas ditinggal Reinha sebab ia memakai bando bayi dengan bunga matahari yang besar di kepalanya.
"Oh Ya Tuhan, lihatlah dia! Kita akan bersenang-senang hari ini, My Baby," ujar Reinha menggendong Amora, mencium pipi si bayi yang tembem dan terus menggigit bibirnya saking gemas pada Amora. "Ya Tuhan, kau tahu, aku sangat merindukanmu Amora?!"
Amora dengan mata bersinar jernih keluarkan suara-suara indah seakan pahami cinta Reinha padanya hingga Reinha semakin gemas.
"Syukurlah Anda baik-baik saja, Lucky," sapa September tampak canggung. Mungkin, merasa aneh bicara pada Lucky Luciano setelah bertingkah mirip perempuan murahan pada pria itu.
"Trims, September. Bagaimana Francis?"
September menggeleng sedih, "Aku tak mengerti apa yang terjadi padanya?"
"Percayalah, dia akan segera membaik!"
Beralih pada Amora Shine. "Hallo, Amora?!" Lucky menggendong si bayi untuk pertama kali, berharap Amora adalah puterinya dan Reinha. But well, Francis akan musuhi dirinya jika ia berani inginkan Amora apalagi sampai merebut Amora. "Daddy-mu terus memikirkanmu selama perjalanan bersamaku ke Pesisir Timur. Kau cantik sekali ya," ujar Lucky takut mencium Amora sebab ia punya janggut yang banyak di sepanjang rahangnya. Takut melukai Amora. Sesegera mungkin kembalikan Amora pada Reinha. Lucky melengkung senyum dapati leher istrinya penuh noda merah bahkan rahang Reinha ikut memerah. Ia telah mencumbu Reinha sepanjang waktu.
"Kami akan ke ruang santai," ujar September. "Bergabunglah untuk minum teh saat kau telah bicara dengan Francis," undang September. Tiap menyebut nama Francis, wanita itu kedapatan galau.
"Dalam tidurnya, aku yakin, Francis melihatmu dan Amora." Lucky menghibur.
Saat ia kritis, ia melihat Reinha. Mereka berciuman di bawah kolong langit berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari depan altar hingga di pondokan. Lucky yakin Francis alami perjalanan spiritual seperti yang ia alami.
September mengangguk. "Kurasa dia akan senang mendengar suaramu, Lucky!"
September dan Reinha beriringan pergi ke ruang santai. Lucky bernapas berat, ia akan melihat sahabatnya.
"Aha, kau di sini Lucky Luciano?" Anna Marylin menyambutnya di ruang perawatan. "Aku baru akan pergi!"
"Apa yang terjadi padanya, Anna?"
"Mungkin Anda bisa bertanya pada Tuan Carlos Adelberth. Ini bermula dari penanganan awal pasca tertembak. Operasi pengangkatan proyektil, dekat area jantung. Francis sempat alami gagal fungsi jantung. But well, pria ini membaik dengan cepat setelah dibawa kemari oleh adik perempuanmu."
"Ia tak pernah kritis lebih lama dari seminggu."
"Sering berkunjung dan bicara padanya, Lucky! Aku yakin ia akan segera kembali."
"Apakah dia bisa mendengarkan suaraku?"
"Orang dalam kondisi koma memang terlihat seperti tidur lelap, tidak bisa gerakkan anggota tubuhnya untuk merespon apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Namun, ia bisa rasakan sentuhan, mendengar suara-suara yang berlangsung di sekelilingnya. Kau bisa lihat dia, Lucky Luciano. Francis bernapas tanpa alat bantu, sirkulasi darah tetap berjalan dan organ lainnya berfungsi dengan baik tanpa intervensi eksternal. Mari berdoa agar keadaannya membaik."
"Baiklah," angguk Lucky. "Apakah ada hal lain yang lebih menggembirakan, Anna? Aku sungguh tak sabaran," keluh Lucky.
"Saat orang koma bisa gerakkan sedikit anggota tubuhnya sebagai respons refleks maka bisa dipastikan kesadarannya perlahan kembali. Tetapi, hal ini tidaklah mutlak. Ada kondisi-kondisi berbeda pada beberapa orang yang mengalami koma. Francis punya tubuh yang kuat dan sehat, yakini saja tubuhnya sedang perbaiki dirinya sendiri saat ini."
Lucky menghela napas panjang, amati Francis yang terbaring dalam tidur panjang.
"Oh ya, Lucky Luciano ..., Eagle baby (bayi elang) diminta bertemu papa lion dan singa penyendiri. Bergabunglah di gua sapi." Anna mengirim pesan bahwa Hellton Pascalito dan Axel Anthony minta bertemu dengan Lucky Luciano.
"Apa ada party?"
"Tidak, kurasa mereka temukan lokasi Madre B (Brigitta Mendeleya?."
"Benarkah?" tanya Lucky senang tapi langsung muram seketika. "Aku tak mungkin bergabung, istriku tak akan lepaskan aku walau satu detik."
"Ya, bisa kulihat," sahut Anna kalem.
"Itukah alasan Axel Anthony berpisah dengan Queena?"
"Well, Pequeena tahu bahwa V dan Madre B diculik Axel Anthony untuk dihabisi meski atas perintah Valerie. Queena tak ingin toleransi. Axel berusaha temukan B. Kudengar Nyonya Rocco Anthony mengatur pernikahan Axel Anthony dengan Puteri Jeremy Mendeleya. Mereka membenci V, tapi berlomba-lomba jadi besan Jeremy Mendeleya yang hebat." Gelengkan kepala.
"Gadis yang mana?"
Walikota punya dua Puteri.
"Eleanor Mendeleya."
"Bagaimana Queena?"
"Queena bersih keras tak ingin kembali bersama Axel sampai Brigitta kembali."
"Axel tak akan lakukan itu, menikahi sepupu Queena!"
"Kita tahu bahwa Axel sangat berbakti pada Ibunya ditambah Nyonya Rocco sering sakit-sakitan. Axel berusaha temukan Brigitta agar Queena tak sedih saat ia tinggal menikah dengan Eleanor."
"Tidak mungkin pria itu menikahi wanita lain," guman Lucky Luciano pikirkan Pequeena.
"Pertunangannya digelar seminggu lagi. Axel menunda untuk selesaikan urusannya. Queena gadis yang kuat. Ia sibuk bekerja di klinik dan bahkan menerima panggilan darurat ke markas para mafia."
"Anna?!" seru Lucky agak keras, segera pelankan suara saat Anna menengok padanya tajam melirik pada Francis. Lucky terdengar frustasi. "Aku bisa berikan Queena pekerjaan yang baik dan layak. Kau tahu bahwa melayani para Mafia yang terluka beresiko tinggi padanya. Tidak semua penjahat yang ditolong merasa berutang nyawa pada penolongnya. Jangan biarkan Queena berkeliaran di dunia bawah yang gelap itu meski bayarannya besar."
"Kau tahu, ini bukan soal uang, Lucky! Queena mencintai profesinya sama seperti aku. Kami butuh salurkan ilmu dan keterampilan atau kami akan hidup jadi pecundang. Tapi Puteri Mafia King tidak diterima baik di rumah sakit manapun di negara ini meski kami tak pernah tahu-menahu pekerjaan orang tua kami. Tenanglah, aku akan menjaga Queena."
Lucky melepas kepergian Anna, berpikir harus penuhi undangan Axel dan Hellton tetapi akan beritahu Reinha. Ketika akhirnya ia merasa buntu, ia hanya merenung di sisi Francis sangat lama, mengira-ngira kemana jiwa asistennya itu pergi.
"Kau brengsek, kembalilah padaku, Francis! Aku disiksa diruang bawah tanah, dikencingi dan dipecundangi agar kau bisa dapatkan perawatan."
Lucky menyangga tangan di keningnya.
"Nyonya Lucas Gustav, mengundang kita untuk makan malam. Kau ingat The Windows? Pria tua itu dan istrinya ingin kita datang di hari ulang tahun pernikahan mereka. Bukankah sudah waktunya untuk pembaptisan Amora? Baiklah, kau bisa terus tidur dan aku akan mengambil Amora darimu. Dia butuh Ayah."
Lucky perhatikan mimik Francis yang sedikit berubah saat bicarakan Amora. Hanya sebatas itu. Lucky menggenggam tangan Francis erat. Mereka telah lalui banyak hal bersama.
"Cepatlah kembali. Kita akan bersenang-senang di pondokan, aku dan Reinha akan mengalahkanmu."
Lucky pergi dari sana setelah bicara banyak hal. Ia masih berbalik untuk menengok ajudannya itu yang berbaring tak bergerak. Seandainya ia menunggu sedikit lebih lama, Lucky Luciano akan temukan bahwa Francis Blanco baru saja meneteskan air mata.
****
Tinggalkan komentar-mu Readers... Kirim cintamu untukku, tinggalkan hadiah juga Vote. Like dan komentar.