Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 122 Don't My Baby!!!



"Ibu, aku mencintai Queena."


Axel Anthony pandangi Nyonya Anthony yang terduduk di kursi dapur dengan pandangan hampa.


"Tidak!" cegat Nyonya Anthony dingin. "Atau kau akan lihat aku mati dengan mudah, Axel," kata Nyonya Anthony gusar. Mata wanita itu sembab oleh tangisan.


"Ibu?!"


"Aku tak akan restui sampai aku mati, tak akan. Kau tahu, hubungan yang tak direstui oleh orang tua Axel, kemana akan berakhir?" ancamnya berapi-api.


"Ibu, ini semua salah paham. Queena sama sekali tak terlibat pada kematian Ayah."


"Axel!!!" seru Nyonya Anthony keheranan lantas naik pitam, pegangi dada yang berdenyut nyeri. "Pikirmu berapa lama aku bisa hidup tanpa Ayahmu? Penderitaan seperti apa yang diberikan mereka padaku?"


"Ibu ...."


"Pergilah pada Puteri Viktor dan kau akan kehilangan aku."


"Ibu, dia sedang mengandung bayiku. Tega-kah Ibu padanya? Ia tak punya siapa-siapa Ibu," keluh Axel datangi sang Ibu dan memeluk wanita itu hangat coba untuk membujuknya.


"Kau sungguh-sungguh pada keluarga pembunuh itu?" tanya Nyonya Anthony.


"Ibu, pahamilah, aku tak bisa biarkan Queena sendiri, Ibu. Maafkan aku, ia mungkin sedang kesakitan saat ini."


"Baiklah, pergilah padanya Axel Anthony dan jangan temui aku!"


Nyonya Anthony lepaskan pelukan pergi dari apartemen dengan bayangan raut sedih dan kecewa. Demi apapun, ia benci Queena Mendeleya.


Axel masih berdiri bingung selepas ibunya pergi. Aroma sarapan naik ke udara dan Queena-nya entah di mana. Apakah wanita itu pergi ke Puri Luciano? Ini sungguh mengerikan. Mengapa ia harus ada di tengah situasi buruk ini.


Apakah ia perlu mengejar Ibu? Bagaimana jika wanita yang sakit hati itu terjerembab di jalanan dan tekanan darahnya naik. Bagaimana jika Ibu pingsan di tengah jalan akibat perdebatan mereka?


"Ghost Damn ...." makinya kasar sebelum meraih kunci mobil. Ia keluar apartemen dengan kaos polos dan celana olahraga. Pikirannya bercabang kesana-kemari, pada Ibunya dan juga pada Queena. Siapa yang harus diutamakan? Wanita yang melahirkannya atau wanita yang akan melahirkan anaknya?


Sementara Queena meringkuk kesakitan di atas sofa sedang darah mulai merah-kan sofa cream tempat is berbaring. Aroma Ibunya ada di sana, di sofa itu sebab Ibu habiskan banyak waktu di sofa empuk itu. Ia kadang berpelukan dengan Ayah di sana.


"Ayah ... tega sekali Ayah pada kami. Lihatlah derita seperti apa yang ditimpakan padaku dan Ibu?" erangnya pilu.


"Kau pergi dengan berapi-api ke peternakan Mendeleya dan menyeret kedua sampah itu dari sana."


Kata-kata Nyonya Anthony bergaung di telinganya, berulang-ulang hingga Queena tak tahan. Ia mencintai pria yang telah menyeret wanita yang dicintainya. Neraka macam apa ini?


"AXXEELL!!!"


Pekik Queena menjerit histeris antara marah, terluka, sakit hati dan segala emosi campur aduk. Terlebih dapati dirinya inginkan Axel Anthony datang meski hatinya sangat-sangat terluka. Queena mengerang sakit, ia mulai mual dan berkunang-kunang, bernapas tak teratur, menahan nyeri hebat di perutnya.


Suara merpati kelaparan begitu gaduh di luar sana. Tak ada yang lempari mereka jagung dan mereka merana ditinggal pergi persis dirinya. tak tahu kemana tuannya pergi. Queena menahan tangis. Meski ia seorang Dokter muda, ia sadari ia hanya manusia biasa dan patah hati mendalam menggerogoti semua akal bahkan ilmu yang dipelajari lenyap entah kemana. Geliat tubuh kesakitan dengan darah terus mengucur, Queena tak bisa hindari pikiran buruk. Tuhan tolonglah! Axel Anthony terus mengulang kata tentang milik, saling memiliki dan apakah pria itu akan tinggalkan dirinya sekarat mungkin akan kehilangan bayi mereka?


"Axel ... tolong aku," bisiknya pelan. Bagaimana jika Axel masih tetap terpaku di dapur? Bagaimana jika Axel masih tenangkan Ibunya? Mungkinkah Ibundanya sakit setelah pertemuan tadi dan Axel antarkan beliau pulang? Bagaimana jika pria itu mengira dirinya pergi ke Puri Luciano dan mencarinya ke sana?


"Tidak, jangan datang. Kau penjahat, Axel," geleng-nya lagi. "Berani sekali kau menyeret Brigitta-ku yang baik hati. Aku membencimu! Biarkan saja aku mati di sini, di rumahku dan aku akan pergi bertemu Ibuku. Kau akan menderita setelah aku pergi, aku akan awasi kau dari balik kuburan," katanya mulai meracau tidak jelas, menggeram hingga urat-urat leher mencuat dari kulitnya.


"QUENAA???!!!" seruan panik menggema dalam ruangan diikuti dentuman suara kaki.


Axel Anthony muncul di pintu dapur dengan mimik syok berat saat lihat Queena-nya yang biasa manis untuk dipandang, terbaring lemah di sofa sedang darah mengalir dari kedua paha. Wanita itu tergolek kesakitan di sana.


"Queena ... ya Tuhan, Ya Tuhan ... apa yang telah kulakukan padamu?"


Abaikan Queena yang marah, Axel tanpa basa-basi segera menggendong wanitanya ke mobil, tanpa banyak pertanyaan. Pikirannya kalut. Ia baringkan Queena di bangku belakang sementara ia pergi ke balik kemudi, menyetir dengan wajah ketakutan. Darah bukan sesuatu yang asing tetapi lihat Queena berdarah, ia malah hampir pingsan.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Apa yang kulakukan padanya? Ya Tuhan, Ya Tuhan," keluh Axel menegang dan memukuli setir mobil kuat.


"Apa yang kau lakukan pada Ibuku, Axel?" tanya Queena lemah dari belakang.


"Kita akan bertengkar nanti, Pequeena! Tidak sekarang, kau harus dapatkan pertolongan!"


"Kau menculik dan menyeret Ibuku, kau sungguh sangat kejam Axel," keluh Queena sembari terisak, pegangi perutnya.


"Aku memang menculik Ibumu juga Viktor malam itu karena terhasut oleh kematian Ayahku. Tetapi, aku tak menyeretnya seperti yang kau dengar dari Ibuku, itu tidak benar," seru Axel. "Meskipun Ayahku dilubangi lehernya dan ponakanku jadi gila karena insiden itu, aku tak lakukan hal buruk pada Ibumu. Kau tahu, Ayahmu tak menarik perintah eksekusi senyap pada Ayahku! Itu berarti, Ayahmu tetap akan membunuh Ayahku. Aku sama sepertimu, hanya hidup sebagai seorang arsitek yang mengelola perusahaan baja dan Ibuku sama seperti Ibumu tak tahu apapun sampai hari Ayahku dibaringkan di peti mati, Queena. Aku tak menyeretnya, Queena. Demi Tuhan," sambung Axel akhirnya terpancing.


"Jangan kelabui aku!" jerit Queena. "Kau mampu lakukan itu padaku, dengan kekuatan fisik memaksaku berserah padamu. Bagaimana bisa kau berharap aku percaya kau tak kasar pada Ibuku?"


"Queena, Valerie sengaja buat Ibuku gembira dengan mengarang cerita. Kau bisa bunuh aku atau campakkan aku sesukamu atau melukaiku, aku tak peduli. Kau bisa lakukan itu nanti! Jangan bicarakan hal-hal yang menguras emosimu! Aku janji kita akan bicara nanti, tidak sekarang," balas Axel tajam berharap Valerie terbakar di neraka karena sebabkan masalah pelik di antara mereka. Jika Ayahnya tak terbunuh, ia tak akan tahu pekerjaan kotor Ayahnya secara lebih rinci. Ia tak akan mengejar Viktor dan dapatkan Queena. Ia tak akan nodai Queena dan mungkin Queena akan tetap bekerja di rumah sakit. Mereka mungkin bertemu dengan cara lain, misalnya, ia kecelakaan saat bekerja dan pergi ke rumah sakit lalu Queena-lah dokter yang merawatnya. Axel memikirkan kemungkinan itu alih-alih gunakan kekuasaan Ayahnya yang tertinggal yang diberikan Valerie dan menyerang Queena dengan brutal. Ia menyisir rambutnya depresi sendiri.


"Tak ada nanti, mari berpisah Axel!"


"Aku tak bisa bela diriku tadi pagi, di hadapan Ibuku atau Ibuku akan terluka. Maaf mengorbankan-mu. Hal buruk yang menimpamu, Queena, maafkan aku, maafkan aku. Queena, bertahanlah sedikit saja. Kau tahu aku mencarimu selama berhari-hari setelah Lucky Luciano membawamu. Aku memikirkanmu dan berharap bisa bersamamu, Queena. Aku tak bisa lepaskanmu begitu saja. Kau milikku, Queena."


"Tidak Axel, mari berpisah!"


"Jika kau ingin kita berpisah, baiklah. Mari berpisah. Berhenti marah, Queena! Aku akan temukan Ibumu dan membawanya padamu. Kita bisa berpisah di hari itu, di mana aku kembalikan Nyonya Brigitta padamu."


Axel bicara tak tentu arah, menguntai janji karena ketakutan sedang tangannya telah berlumuran darah.


"Queena, bicaralah padaku! Aku tak bisa perbaiki banyak hal karena kesalah-pahaman di antara kita, tapi aku berjanji akan temukan Ibumu, aku yakin Queena, Nyonya Brigitta tak dibunuh seperti pengakuan Valerie."


"Kau akan tepati janjimu?"


"Aku akan berusaha temukan Ibumu, tolong kendalikan dirimu!"


Axel mengebut ketika sampai di jalanan menuju ke kota dan perhatikan Queena dari spion dengan gelisah.


"Axel, jangan bawa aku ke Rumah Sakit. Teman-temanku akan tertawakan aku!"


Begitulah akhirnya Axel membawa Queena pergi ke sebuah klinik, tempat di mana para mafia obati diri mereka saat terluka dan Anna Marillyn menyambut dengan kerutan di keningnya.


"Minggu ini sungguh banyak kejutan dari pria-pria skeptis pada cinta. Mula-mula si Iblis Pascalito dan kini si pria Introvert, Axel Anthony. Kurasa Dewi cinta sedang turun ke bumi dan menarik panah. Ia bahkan awasi kedua pria aneh ini."


"Diamlah Anna!" sahut Axel baringkan Queena di tempat tidur beroda dan para petugas kesehatan mendorong tempat tidur. Roda-roda berdecit di lantai klinik. Anna lakukan pemeriksaan umum saat sampai di ruang perawatan.


"Jadi, apa yang kau lakukan pada Pequeena Mendeleya? Kupikir kalian tidak di kubu yang sama? Apa kau menculik Puteri Viktor Mendeleya dan menodainya hingga hamil, Axel Anthony?" tanya Anna mulai pakai hand-scoon dan menarik tirai.


"Anna?!"


"Kau kasar padanya?" tanya Anna lagi tidak peduli pada nada mencekam Axel. "Apakah menodai wanita yang disukai lalu bertingkah impulsif sedang tren sekarang?"


"Berhentilah sok tahu, Anna! Apakah Dokter perlu mencari tahu rahasia pasien sebelum diagnosis?" sergah Axel ketus pada wanita di depannya.


"Tentu saja, aku harus tahu. Aku akan lakukan anamnesis. Aku perlu tahu identitas pasien, informasi mengenai kehamilannya, riwayat ginekologi, riwayat seksual. Apakah Queena kekasihmu? Atau terpaksa jadi kekasihmu? Riwayat sosial, status pernikahan, mungkin ada riwayat kekerasan, kau mungkin brutal padanya hingga sebabkan dia pendarahan hebat?" Anna menatap tajam.


"Hentikan Anna, tangani saja dia! Aku tak kasar padanya. Kau seperti menggali kehidupan pribadi pasien alih-alih lakukan anamnesis. Kami sepasang kekasih."


"Apakah sebelumnya masing-masing dari kalian punya pasangan?" tanya Anna lagi.


"Kami tidak pernah tidur dengan orang lain sebelumnya, jika maksudmu kau takutkan sesuatu seperti riwayat infeksi menular seksual. Queena yang pertama bagiku," jawab Axel cepat tanggap.


"Kau cerdas Axel," puji Anna. "Dan aku yakin kau memang pemalu."


"Apakah prosedurnya macam begini? Sementara wanitaku mengerang kesakitan, kalian sibuk dengan banyak pertanyaan? Obati saja dia Anna Marilyn!" seru Axel semakin gelisah dan jengkel pada Anna yang tampak tenang.


"Kau tidak sabaran. Apa kau ingin tetap tinggal Axel? Aku akan memeriksanya. Ini pemeriksaan mendalam," tanya Anna lagi sementara Queena mulai dilucuti pakaiannya. Axel bergeming, menatap muram pada Queena.


Sebuah benda di masukan di antara celah paha dan Axel berpaling, meringis ngilu.


"Queena, aku yakin kau paham situasimu sendiri," kata Anna. "Kau seorang Dokter."


Queena pejamkan matanya. Ia bangun pagi tadi menjahit banyak perca-perca harapan jadi satu rangkaian impian indah bersama Axel dan bayi mereka. Kini, ia akan kehilangan bayinya setelah terlebih dahulu kehilangan Axel. Ia benar-benar yatim piatu dan sebatang kara, kini.


"Kau alami pendarahan intrauterine, dilatasi serviks berlanjut, ostium uteri eksternum terbuka. Jaringan konsepsi masih di dalam kavum uteri," kata Anna kembali setelah pemeriksaan abdomen dan panggul, mulai diagnosis. Gunakan bahasa yang hanya dipahami keduanya buat kekesalan Axel semakin memuncak. Tetapi pria itu hanya diam.


"Aku masih miliki detak janinku. Kontraksi berhenti saat Axel datang bahkan pendarahannya berhenti," guman Queena lirih berharap terjadi keajaiban. Janin di dalam tubuhnya seakan terikat sesuatu pada Axel. Ia menjadi terkendali saat dengar suara Axel. Apakah ini terdengar konyol tetapi itulah yang terjadi padanya.


"Gejala khas Abortus Insipiens, Queena. Detak-nya masih ada. Tetapi, kau tahu bahwa ..., hasil konsepsi sedang dalam proses pengeluaran (keguguran) - "


"Tidak, demi Tuhan," potong Queena. "Aku menunggu keajaiban."


"Queena ...," rayu Anna, "proses abortus sedang berlangsung dan tidak dapat dicegah. Kita tak bisa hindari ini, i am so sorry."


"Lakukan sesuatu!" sergah Queena memelas.


"Aku tak butuh pemeriksaan apapun, Anna. Aku yakin, janinku baik-baik saja," seru Queena mengatur napas. "Beri saja aku obat penenang."


"Queena ..., hei. Jika tidak ada pembukaan serviks, aku bisa berikan kau B kompleks dan penenang ...."


Anna pandangi Queena pada keras kepala gadis itu untuk pertahankan bayinya.


"Aku memang ingin membunuhnya beberapa Minggu lalu ...," kata Queena bergetar dan ia mulai menangis sementara Anna siapkan infus. "Tetapi, aku bahagia miliki dirinya, ya Tuhan ...," tambahnya mulai terisak-isak.


"Queena ...," panggil Axel pelan dekati Queena dan membelai rambutnya. Axel akhirnya lakukan hal itu, membelai rambut Queena untuk menenangkannya. Ia tiba-tiba merasa sakit di dalam dirinya, memeluk Queena dan ciumi kening wanita itu. Seandainya ia menghadang Ibunya tadi pagi mungkin Queena tak akan menderita. Mungkin ia akan temani Ibunya di rumah sakit karena tekanan darahnya naik dan bisa jadi Ibunya akan sekarat. Axel tak punya pilihan. Tanpa sadar ia mendesah berat, menyesali hari buruk mereka.


"Aku tak ingin kehilangan bayiku," ujar Queena lagi tersendat-sendat, merasa hidupnya sungguh buruk selama beberapa bulan belakangan. "Ini semua salahku, harusnya aku menjaganya dengan baik. Aku masih miliki dia tadi pagi," katanya lagi terguncang hebat oleh rasa sakit, marah, benci, kesal, cemas, rasa bersalah dan semua emosi negatif.


"Queena," bujuk Axel ciumi lagi kening wanita yang putus asa lalu ke puncak kepalanya. "Maafkan aku, maafkan Ibuku. Aku sungguh menyesal," kata Axel.


"Aku sebatang kara dan aku berharap bisa bersama bayiku," sahut Queena berderai air mata, coba hindari Axel.


"Kau punya aku dan aku tak akan pergi seberapa keras kau mengusirku, Queena."


Queena menggeleng, "Aku ingin bayiku, Axel. Aku telah bersamanya selama ini." Anna siapkan infus dan transfusi darah. "Bisakah kita USG?" tanya Queena lagi masih menggenggam harapan. Ia memang pendarahan hebat tetapi janin itu masih di dalam. Saat mendengar suara Axel secara ajaib, Queena merasa janinnya baik-baik saja meski ia ragu.


"Queena. Kau buat semuanya jadi sulit untuk kita semua."Kau tahu bahwa janinmu tak mungkin diselamatkan." Anna coba bersabar. "Apakah kau pernah temui kasus Abortus insipiens dan janinnya selamat?"


Queena tak mampu menutupi kesedihan. Ia akhirnya terbaring dengan pasrah menderita sangat dalam.


Tidur di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus dan selang transfusi darah sedangkan Axel berdiri menunggui tak berani bicara. Ia kembali jadi pria idiot, mematung pandangi Queena dengan hampa dan pikiran melayang jauh. Ia bertengkar dengan Ibunya tadi pagi dan Ibu pergi dengan marah. Ia tak mungkin marahi Ibunya di depan Queena se-cinta apapun dirinya pada wanita itu.


Ia memeriksa ponsel dan mencari tahu keberadaan Brigitta, mengirim pesan pada semua orang yang dianggapnya bisa beri informasi dengan imbalan besar. Ia tak mungkin tinggalkan Queena saat ini.


"Queena ... maafkan aku!"


Tak tahan pada keadaan, Axel pergi ke ranjang, berbaring di sisi Queena dan memeluknya dengan paksa. Mereka habiskan banyak malam bersama dan sangat optimis untuk jalani hari.


"Aku janji akan temukan Ibumu, Queena."


"Aku tak ingin melihatmu sampai kau bawa Ibuku kembali, Axel."


"Baiklah, biarkan aku merawatmu hingga sembuh. Aku tak akan muncul di depanmu seperti keinginanmu."


Dekapan hangat dan Axel akan lakukan apapun untuk Pequeena.


***


Serius ya, aku susah nulis chapter ini. Tak bisa hindari percakapan di antara dokter. Maaf kalau sok tahu, Authornya.