
Nona Arumi Chavez, duduk manis di bangku belakang sambil menghapal teori konflik Karl Marx. Mobil parkir di depan gerbang sekolah dan belum 24 jam jadi pengawal, ketika Nona Arumi punya banyak jadwal aneh termasuk pergi ke sekolah pagi-pagi bahkan sarapan dalam mobil demi menunggui seseorang lewat untuk mengekor di belakang pria tersebut. Arumi meneropong dari dalam mobil sambil mulutnya terus komat-kamit.
"Kau tahu ilmu sosial lebih nyata dibanding ilmu eksata. Konsepsi sosial lebih berguna dibanding rumus aljabar?"
Arumi berhenti belajar, alihkan mulutnya untuk mengunyah roti. Archilles hanya angguk-angguk. Temani Arumi belajar, berarti harus ikutan hapal materi pelajarannya. Semalaman Arumi mondar-mandir dengan teori Marxisme dan Archilles ikutan bergadang.
"Saya paham, Nona."
"Perspektif Marx kembangkan teori konflik dengan beberapa konsepsi yakni konsepsi tentang kelas sosial, perubahan sosial, kekuasaan dan negara di mana ... di mana ...." Arumi mendesah, kedapatan menatap gugup pada jalanan lengang sedang beberapa siswa terlihat mulai berdatangan.
"Konsepsi-konsepsi tersebut saling terkait dan berkesinambungan satu sama lain," sambung Archilles. "Nona, kita harus rubah jadwal Anda!"
"Mengapa demikian?" tanya Arumi.
"Anda akan latihan bela diri sepanjang sore setelah istirahat siang sesuai keinginan Tuan Elgio."
"Aku tak suka baku pukul. Lagipula, bukankah kamu dibayar untuk melindungiku?"
"Tidak, Nona. Anda harus latihan bela-diri dasar, aku tak selamanya jadi pengawal Anda. Aku akan mulai ajari Anda nanti sore."
"Baiklah. Terserah kau saja." Arumi perhatikan pengawalnya. "Oh tidak, aku juga ada kelas piano dan dance. Bagaimana ini?"
"Akan aku re- schedule rutinitas Anda, Nona. Yang harus Anda lakukan adalah dapatkan nilai tertinggi untuk ujian Ekonomi."
"Baiklah."
Arumi tersenyum riang saat melihat Marya dan Reinha turun dari mobil, kemudian mobil Claire Luciano. Saat Marya menoleh pada mobil mereka dan melambai, Archilles membungkuk di atas setir. Arumi perhatikan pengawalnya.
"Apakah kau pria itu yang hampir menodai kakakku beberapa waktu lalu?" tanya Arumi menyipit.
"Bukan aku, Nona, tetapi seseorang yang bersamaku."
"Tetap saja, apakah itu berarti kau orangnya yang hampir lukai Kakakku?" tanya Arumi penuh selidik.
"Nona, saya sungguh sesali kejadian itu."
"Berbalik kemari, Archilles Lucca!" suruh Arumi dan ikuti gaya Ethan Sanchez, Arumi mengepal tinjunya. "Tadah keningmu! Berani sekali kau sakiti kakakku."
Tok ... Tok ... Tok ... dan berhenti saat melihat Ethan datang.
"Balik ke depan! Kau lihat laki-laki itu, Archilles? Namanya Ethan Sanchez dan dia adalah pengawalku sebelum kamu. Jam pulang sekolah nanti, kita akan ikuti dia dan caritahu di mana rumahnya. Jangan banyak tanya dan kau boleh laporan pada Kakak Iparku bahwa aku menyuruhmu mencaritahu rumah seseorang bernama Ethan Sanchez."
"Baik, Nona!"
"Aku pergi, sampai nanti Archilles. Semoga hari Anda menyenangkan." Arumi buru-buru turun dari mobil, tinggalkan sang pengawal dengan kening memerah.
Ethan Sanchez masuki gerbang dan Arumi mengekor di belakang tanpa ingin mengganggu. Rumor tersebar bahwa Ethan dan Arumi sedang pacaran buat Arumi Chavez berbunga-bunga. Tak ada yang berani mengganggunya, tidak saat ini. Mungkin nanti. Ethan Sanchez punya banyak fans aliran garis keras. Arumi tahu mereka diam-diam perhatikan dirinya. Masa bodoh, selama Marya dan Reinha bersamanya Arumi merasa di atas awan.
Arumi berpikir akan caritahu rumah Ethan Sanchez. Bagaimana kalau ia pura-pura jadi sales promotion girl yang tawarkan produk kecantikan pada Ibunda Ethan? Itu ide bagus. Atau ia pura-pura jadi pengantar susu? Apa ya yang bagus?
BUG!!!
Keasyikan melamun, Arumi tak sadari bahwa Ethan Sanchez tiba-tiba berhenti melangkah dan berbalik menungguinya. Tak bisa dihindari Arumi menabrak Ethan keras.
"Kau tak bosan pikirkan aku, Arumi Chavez?"
Gadis yang kepergok serta merta melangkah lebih cepat hendak lewati Ethan Sanchez. Ia kedapatan bengong di jalanan sekolah lantaran pikirkan Ethan. Tangan Ethan lekas terjulur saat Arumi di dekatnya, pegangi tas gadis itu kuat hingga tak bisa melangkah lebih jauh. Arumi lekas cengar-cengir.
"Konflik selalu muncul, dan golongan kuat setiap saat selalu berusaha tingkatkan posisinya dan memelihara dominasinya." Arumi menghapal sisa materi hingga Ethan berkerut.
"Teori Marxisme?" tanya Ethan. "Kau ada ujian?" Lepaskan Arumi dan mengacak rambut Arumi gemas hingga berantakan.
"Ya, tetapi lebih dari itu, kurasa Karl Max menulis teori ini untuk orang-orang sepertimu." Arumi mencibir.
"Wah, Arumi, kau luar biasa. Kau gunakan teori ekonomi untuk menyindirku? Otakmu mulai jalan. Apakah karena cinta padaku, kau semakin pintar?" tanya Ethan tanpa lepaskan pegangan.
"Mungkin."
"Kau belum putus dengan Moses?"
"Kami tak lagi berkencan. Pria itu sibuk tour keliling dunia untuk lagu terbaru. Lagipula aku berkencan untuk dapatkan perhatianmu."
"Arumi, aku tak ingin pacaran. Lupakan aku dan serius-lah belajar! Begini saja, saat kau peringkat satu untuk Ilmu Sosial, aku akan pacaran denganmu."
Bola mata Arumi membulat. "Benarkah?" tanya Arumi senang, "Aku akan berusaha!"
Ethan angkat bahu, Arumi mungkin akan dapat nilai 100 untuk ujian tetapi hanya segitu, gadis itu tak akan sampai di peringkat 1 kecuali para jenius di tingkat 1 di shuffle dan kelas Arumi hanya berisikan gadis-gadis dengan volume otak sama seperti Arumi. Lepas dari itu, metode di mana dirinya jadi "hot bottom" untuk Arumi lebih giat belajar, sepertinya tidak buruk.
Mereka melangkah bersama masuki koridor sekolah. Arumi tak suka perpisahan sebab Ethan sangat sulit didekati belakangan. Seakan paham, Ethan antarkan Arumi sampai duduk di bangku kelas sementara teman-teman sekelasnya tak mampu sembunyikan iri. Abaikan kelas yang mulai ramai, Ethan amati Arumi.
"Aku akan berikanmu bunga saat skor ujianmu 100," kata Ethan membungkuk di depannya.
"Emm, kurasa aku ingin makan malam di rumahmu," jawab Arumi.
"Itu tak akan terjadi, Arumi! Kau tak boleh datang ke rumahku! Nah, belajar saja dan semangat!"
Ethan pergi dari sana setelah mengacak-acak lagi rambut Arumi.
*****
"Elgio, Carlos Adelberth mengirim kabar."
Abner Luiz berdiri di ruangan kantor di jendela menghadap ke taman belakang. Ia meneguk sedikit teh dan perhatikan jemuran belakang, fokus saat Maribella terlihat di antara tali-temali mulai menjemur banyak gorden putih.
"Abner, apakah Lucky Luciano baik-baik saja?" tanya Elgio sebab Abner Luiz yang selalu ramai berubah suram.
"Carlos tak punya jawaban untuk Lucky. Ia akan kembali ke Desa Thomas dan mulai mencari Lucky Luciano."
"Abner, apa yang terjadi?" tanya Elgio hempaskan tubuh ke kursi dan mengurut kening kuat.
"Mereka berhasil yakinkan Thomas dan bawa Oriana, mereka akan kembali pulang ketika sekelompok orang bersenjata tiba-tiba menyerang. Francis tertembak dan Lucky Luciano tetap tinggal agar pesawat bisa terbang. Francis dalam kondisi kritis saat ini di rumah sakit militer perbatasan. Ia tak akan sadar dalam waktu dekat sebab lukanya cukup parah. Carlos sedang berusaha temukan Lucky Luciano."
"Menurut Carlos, mobil tempat Lucky berlindung meledak dan pria itu belum sempat selamatkan dirinya, Elgio. Ini sungguh buruk."
"Jangan beritahu Reinha untuk sementara waktu Abner."
"Ya, Carlos katakan hal yang sama. Carlos akan kembali untuk temukan Lucky. Ia meminta kita menunggu selama dua Minggu."
"Aku yakin brengsek itu baik-baik saja," balas Elgio embuskan napas kuat, bayangkan apa yang akan terjadi pada Reinha Durante saat dengar kabar tidak menyenangkan ini. Reinha adalah tipe gadis pemberontak yang terbungkus bagus dibalik sikapnya yang gemulai. Elgio kuatir, Reinha akan pergi diam-diam untuk menyusul Lucky Luciano.
"Abner, kurasa kita harus buat Reinha sibuk sampai Carlos temukan Lucky! Panggil Augusto dan kali ini, aku akan menembaknya jika ia berani tak patuh! Augusto harus awasi Reinha saat kita sibuk!"
"Kau tahu, Lucky Luciano akan baik-baik saja, Elgio. Jika sesuatu terjadi padanya, ia tahu bahwa Reinha akan sangat menderita. Aku yakin Lucky Luciano pikirkan hal itu."
Abner kembali amati taman belakang. Tiap melihat Maribella pikirannya kacau. Ia tak pernah begitu sebelumnya. Selama ini ia abaikan Maribella karena sibuk urusi perusahaan, Elgio dan banyak hal. Atau ia benar-benar tak sadari hidup bertahun-tahun bersama sebuah berlian. Ia baru sadari saat Hansel akan kencani Maribella. Mereka pergi memesan cincin kemarin, Maribella inginkan sesuatu yang sederhana tanpa motif apapun, hanya sebuah cincin biasa.
"Elgio, apa yang terjadi jika kau bertemu dengan seorang wanita yang miliki karakter istrimu dan adik perempuanmu?"
Elgio amati Abner yang berdiri dekat jendela longgarkan dasi sambil nikmati teh, perhatian Abner pasti pada sesuatu yang menarik di taman belakang. Dia mulai lagi.
"Apa maksudmu? Kau suruh aku bayangkan seseorang dengan kepribadian Marya dan Reinha?" tanya Elgio, coba bayangkan.
"Bagaimana jika Marya dan Reinha ditemukan dalam satu pribadi lain," kata Abner lagi pandangi Elgio serius. "Apa kau punya bayangan?"
Elgio pejamkan mata, saat ia kembali ia merinding sendiri. "Marya tambah Reinha saat marah sama dengan menakutkan. Ini rumus baku, Marya+Reinha\=bahaya melanda. Itu hasil sketsa dalam otakku."
"Ya, kau benar," sahut Abner. Maribella melangkah di taman tanpa alas kaki sedikit pincang. Sejak kemarin Abner perhatikan kaki wanita itu bermasalah.
"Abner kurasa kau tertimpuk cinta ribuan ton hingga lumpuh pada Maribella, kau terlihat tidak waras dan sangat kacau belakangan. Apakah kau berhasil, um, you know-lah. Apakah kau berhasil pergi ke ranjang? Kulihat kau sangat gigih," goda Elgio garuk-garuk kupingnya.
"Berkat kau, aku gagal berkali-kali," semprot Abner ketus.
"Bahkan terakhir kali? Di pagi kemarin? Bukankah waktumu cukup dan aku tak mengganggu?" tanya Elgio keheranan. "Apakah kau sangat slow motion Abner? Saat di gudang kau terlihat sangat rusuh, seakan-akan kejar target jadi striker hebat raih Ballon d'Or saingi Lionel Messi," ujar Elgio keheranan separuh mengejek benarkan dugaan Abner bahwa Elgio Durante dan komplotannya mengintip. Oh sial sekali.
"Jaga mulutmu, Bocah. Yang kau bicarakan adalah hubungan dua orang pengasuhmu."
"Aku menyinggungmu, Abner Luiz bukan Maribella. Kita bicarakan ini sebagai sahabat, kau dan aku, bukan percakapan tidak senonoh, hanya diskusi di antara para pria. Jadi, dapur berantakan, kau lempari aku bahkan gunakan sweater terbalik, tak ada sarapan, hanya untuk kesia-siaan? No score?"
"Aku ingin pecahkan kepalamu dengan cangkir," keluh Abner.
"Saat kau lakukan itu, aku akan memecatmu jadi waliku."
"Um, lakukan saja. Aku akan pergi bersama Maribella ke Grindelwald dan bahagia bersamanya di sana. Lakukan itu Elgio, pecat aku dan Maribella. Biarkan kami pergi ke Swiss. Kami akan nikmati hidup berkualitas dengan latar kebun, aroma manis pegunungan Alpen yang indah." Abner mulai berimajinasi. Lalu bayangan Reinha melambai-lambai. Pria itu tersenyum lesu, "Oh tidak, aku tak akan lakukan itu sebab Puteriku sedang menderita karena suaminya menghilang," geleng Abner lagi.
Elgio mengangguk benarkan gestur sang wali. "Abner, apa yang harus kita lakukan? Kurasa aku tak bisa hanya menunggu dalam dua Minggu."
"Tidak. Kita akan menunggu, Elgio. Reinha akan ikut Olimpiade 20 hari lagi, kita tak mungkin beritahu Reinha atau segalanya akan jadi kacau. Kau kenal Reinha, kau pikir ia akan diam saja saat tahu Lucky hilang? Yakinlah, Carlos Adelberth akan beri kita kabar baik."
"Aku harap. Apa gelisahmu kumat, Abner Luiz?" Elgio perhatikan Abner yang bicara padanya tapi terus tatapi taman belakang. Elgio yakin seribu persen, Maribella ada di sana.
Kau benar Elgio Durante.
Maribella sendirian bentangkan satin putih dan melompat menggapai tali. "Aku akan kembali, Elgio Durante!"
"Eh, kau mau kemana? Berhentilah banyak tingkah Abner! Kau selalu bolos tiba-tiba ke dapur dan bermesraan, Ya Tuhan, kurasa aku tak segila dirimu saat jatuh cinta pada Marya."
Abner jentikkan jari, "Kau benar, aku begini karena kutukanmu. Nah, kerjakan saja tugasmu dan aku akan bereskan sisanya. Sampai jumpa nanti!"
"Hei, hei, Abner Luiz?! Abner Luiz kembali dalam 30 menit atau aku akan gunakan pengeras suara untuk meneriakimu." Elgio mendesah jengkel sembari menggerutu.
Abner menghilang di pintu turuni tangga tergesa-gesa dan pergi ke taman belakang. Di antara tirai tadi ia melihat Maribella. Pemandangan seorang wanita dibalik kabinet kerja, gunakan laptop dan sejumlah file tak begitu menggoda dibanding amati seorang wanita berwajah serius mengibas tirai putih di jemuran dan berjinjit untuk menggantung jemuran sedang Dilly temani wanita itu di sisinya. Angin bertiup kencang dan kain yang setengah kering menempel pada Maribella. Jemari Maribella bermain-main dengan kain sebelum menghirup aroma lembut pewangi hydrangea pada kain. Ia bahkan pejamkan mata. Abner perhatikan tingkah wanita itu tanpa ingin mengganggu. Saat jemari mungil mengelus lembaran satin, mungkin tampak sepele, tetapi benar-benar berhasil buat jantung Abner berdegup kencang. Terhipnotis, Abner Luiz dekati Maribella tanpa sepengetahuan wanita itu. Bantuan angin yang sangat berharga membentuk tubuh sang wanita dengan sempurna dan pria yang sedang kasmaran dapati dirinya datangi Maribella. Mereka bersentuhan dibatasi tirai, satukan telapak tangan. Maribella tersenyum.
"Abner, apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana jika Tuan Muda melihat kita? Berhentilah konyol!"
"Pemandangan di sini sangat indah, Mai."
Maribella biarkan saja Abner menyentuhnya. Menyusuri wajahnya sebelum kening mereka bertemu.
"Maafkan aku karena sangat kasar kemarin. Apa kau marah padaku? Aku mungkin saja buatmu malu. Kurasa aku akan buatkan makanan dan minta maaf pada Nona Luna." Maribella tak suka ada permusuhan dan ia berniat perbaiki hubungannya dengan Luna. Bagaimanapun semua ini dimulai gara-gara Abner kesal padanya karena akan berkencan dengan Hansel. Luna pantas saja sangat kecewa sebab Abner hanya jadikan Luna sebagai umpan dan pelampiasan untuk buat dirinya cemburu. Meski Maribella yakin, Luna inginkan hal lain, tetapi itu urusan Luna. Maribella hanya akan awasi tingkah gadis itu. Bagaimana caranya sementara ia hanya bertugas di dapur?
"Mai ... mengapa ribut dengannya?" tanya Abner pelan, bicara di hidungnya.
"Abner, kurasa Luna bukan gadis baik-baik. Ia menginginkanmu dan sesuatu dari Tuan Elgio."
"Baiklah, aku akan mengawasinya. Trims untuk perhatianmu. Kau tahu ..., Maribella ..., kau benar-benar telah membuat perbedaan besar, mengubah pandanganku padamu."
"Abner, berhentilah merayuku! Pergilah bekerja sebelum kita mengacau lagi!"
"Baiklah, tetapi nanti saja," putus Abner Luiz meraba-raba dari balik tirai dan saat temukan tangan Maribella ia menarik Maribella masuk ke dalam dan bergabung dengannya.
"Senang melihatmu hari ini setelah kau mengunci seluruh akses masuk ke dapur."
"Ya, aku tak ingin kejadian kemarin terulang lagi."
Abner menatap Maribella dalam-dalam, tersenyum lembut tanpa alihkan mata. "Baiklah, aku harus pergi!"
Maribella mengangguk balas tersenyum halus dan tulus, tiba-tiba tidak ingin Abner pergi. Maribella lingkari tangannya di pinggang Abner, mendekat, berjinjit meski kakinya sedikit ngilu dan satukan bibir mereka. Sedang kain tirai berkibar-kibar, mereka berciuman.
"Kau mencintai seorang pelayan, Tuan Abner Luiz."
Maribella berbisik di antara deru kibaran tirai oleh angin kencang. Tangannya mengelus wajah Abner perlahan, menyukai tatapan mata Abner yang lembut dan penuh perhatian padanya. Mereka telah beralih total dari friend zone ke romantic zone.
"Aku tak peduli. Aku juga hanya seorang pelayan, sopir pengganti yang beruntung." Abner mengecup mata Maribella kembali ke bibirnya sebelum mendekap wanita itu erat.
"Abner, bukan kebetulan Tuan Leon Durante memilihmu jadi wali sah Tuan Muda Elgio Durante. Ibuku bilang, kau adalah mutiara yang telah lama hilang."
***
Wait me up .... Suhunya 11 derajat tadi pagi padahal matahari udah bersinar, tangan membeku, otakku juga. Nikmati Chapter ringan ini ya. Sebab aku sediakan chapter yang menguras emosi di belakang ini. Jangan lupa vote Heart Darkness ya ....