
Beberapa hari setelah Reinha pergi ke Biara. Hari-hari bertambah suram di Kediaman Durante. Elgio Durante dan Abner Luiz berbincang setelah rapat virtual dengan staff berakhir. Keduanya rapat dari ruang kantor di lantai dua sedang Marya di dapur, memasak sesuatu. Elgio mendesah berat. Mereka punya banyak masalah yang butuh diselesaikan. Kasus sianida yang sama sekali tak terpecahkan, pengaruhi produksi, akhirnya quality control diperketat sebab kabar sianida di perusahaan merebak hingga ke kuping konsumen.
Meskipun tuntutan ditarik, bukan berarti kasus ditutup, tetapi isu di luar sana terlanjur bertebaran dan sangat-sangat mematikan. Tak bisa menunggu reda sendiri. Maribella telah jadi bahan gunjingan, terdakwa, masuk penjara malah dianiaya dalam penjara, berakhir kritis di rumah sakit. Wanita itu masih terbaring di atas ranjang. Trauma pada tubuhnya perlahan menghilang tetapi trauma psikis pasca kejadian, baik Abner dan Elgio, gelisahkan jangan sampai membekas dalam ingatan.
"Baiklah Abner Luiz. Mari dinginkan pikiran, kita sedang menggigit sesuatu yang sangat pahit sekarang tetapi kau dilarang meludah, hanya harus menelan. Calm down dan intinya jangan panik!" ujar Elgio mengutip kata-kata Abner Luiz saat mereka hadapi masalah.
"Jujur Elgio, saraf-saraf otakku sedang korslet! Bisakah kau bantu aku selesaikan masalah?" Abner Luiz perhatikan Elgio, melipat kedua lengannya. Ingin tahu tinggi pada apa yang bisa bocah itu lakukan.
"Ya, akan aku coba, Abner Luiz. Kita akan mulai dengan hal ringan untuk pemanasan," kata Elgio seolah mereka akan sparing futsal. "By the way, Abner, belakangan aku punya bayangan aneh. Mungkinkah kau adalah seseorang yang sangat dekat denganku?" tanya Elgio pandangi Abner Luiz seakan cari-cari sesuatu yang identik dengannya. Atau pria itu sedang mirip-miripkan Abner dengan dirinya. Tinggi mereka hampir sama, wajah Abner adalah wajah-wajah kalem pria menjelang 30 tahun, dewasa dan matang, ya ya ya, hampir over matang sebab gagal bercinta berkali-kali. Meski tampak humoris, plegmatis tetapi ternyata Abner juga pemarah sepertinya, malah lebih parahan Abner dibanding dirinya. Elgio miringkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan, menyerah. Abner Luiz dan dirinya tak punya kemiripan karakteristik fisik. Abner punya ketampanan heteroseksual pada umumnya pria, campuran antara cool dan maskulin kecuali sorot mata teduh sayu yang bisa tenggelamkan wanita ke dalam pesonanya. Abner tipe idaman wanita yang matang secara emosional.
Abner berdecak menyipit pada Elgio. "Bocah! Apakah kau serius akan bercanda sekarang? Tentu saja kita sangat dekat, kita pernah tidur satu ranjang malah sering. Aku sering memelukmu seperti seorang Ayah saat kau tak bisa tidur. Aku bahkan tak menikmati mimpi basah lantaran sibuk berjaga-jaga di sisimu."
"Ayolah Bung, bukan itu maksudku! Apakah kau yakin bahwa kita tak punya ikatan darah?" tanya Elgio lagi. Kini ia pikirkan secara serius tentang Abner Luiz. Bagaimana bisa Ayahnya percayakan dirinya dan adik-adiknya juga harta mereka pada Abner Luiz? Benarkah Abner cuma sopir pengganti?
"Aku hidup di panti asuhan dan dibiayai oleh sebuah yayasan amal hingga aku dibawa dari panti asuhan ke Durante Land oleh Ebben Amarante. Tapi jika kau ingin dokumen palsu tentang ikatan darah, aku akan buatkan. Masukkan aku sebagai saudara tirimu. Tuan Leon Durante sangat tampan, aku yakin ia punya lebih dari satu istri. Dan aku adalah Putera dari istri Tuan Durante yang lain. Berikan aku sebagian hartamu!" Abner Luiz amati Elgio Durante, menghirup udara kuat-kuat. Elgio terlihat sangat inginkan dirinya sebagai keluarganya. "Aku ditinggalkan di panti asuhan saat masih bayi tetapi tak pernah diijinkan untuk diadopsi. Jadi, berhenti berpikir yang tidak-tidak! Aku hanya seorang sopir pengganti, Elgio Durante! Mari kita urus silsilah keluarga nanti, saat masalah kita beres."
"Apa kau kenal Ibuku?"
"Tidak. Aku tak kenal Ibumu tetapi jika kau nonton televisi dan perhatikan aktris senior bernama Sylvia Chaterine, kau akan lihat bahwa kau mungkin puteranya. Aku pernah dengar bahwa Ayahmu terlibat cinta lokasi dengan salah satu lawan mainnya di sebuah proyek dan Sylvia adalah wanita yang paling sering terlibat dengan Tuan Leon. Apa kau butuh Ibumu sekarang? Kau tidak puas padaku?" tanya Abner.
"Aish, maksudku mungkin saja kau pamanku atau sejenisnya."
"Kau dan aku cuma berjarak 6 tahun," ucap Abner. Baiklah, mereka butuh pembahasan penuh halusinasi sebagai hiburan otak yang sedang rumit. "Pamanmu? Bukankah itu berarti aku kelewatan tua? Apa aku tampak tua dan lelah? Aku bahkan bisa kalahkanmu di ring tinju, kau tak pernah menang dariku! Aku bisa hancurkan ginjalmu sekali hantam jika kau macam-macam denganku!"
"Kau dan Maribella, sempurna! Bahagianya bayiku nanti punya kakek-nenek sepertimu dan Maribella!"
Abner Luiz jadi pening sendiri.
"Kakek, nenek?! Aku dan Maribella berjarak 6 tahun darimu." Mengingat Maribella, wajah Abner Luiz seketika menyusut. Ia terlihat ingin kabur dan pergi bersama Maribella. Ia akan bawa Maribella piknik di tepian hutan penuh dandelion. "Pemanasan otakmu kelewatan lima menit. Mari fokus pada masalah, Elgio Durante!"
"Ya kau benar," putus Elgio berharap Abner benar-benar keluarganya. Mengapa tak tanya Maribella saja? Pengasuhnya lahir dan besar di Durante Land. Maribella pasti tahu sesuatu. Elgio segera singkirkan semua pikiran yang kelayapan di dinding otaknya. "Baiklah, sahabatku, Abner Luiz. Mari fokus. Pelajari akar masalah dan selesaikan satu-persatu. Pertama, tentang Lucky Luciano sebab aku sudah berjanji pada Reinha. Abner, apapun yang terjadi kita akan masuk ke Pesisir Timur sebagai investor dari pihak swasta dan temukan Lucky Luciano sebelum Reinha berubah pikiran dan pergi ke sana mencari suaminya! Ya Tuhan, aku bisa gila! Mari berkunjung akhir pekan ke Biara, aku curigai sesuatu. Kau tahu adikku sangat cerdas. Aku tak yakin ia pergi ke Biara untuk bertapa dan meditasi. Aku yakin ia sedang rencanakan sesuatu!"
"Tidak Elgio, Kepala Biara telah menjamin keberadaanya, mengirim aktivitas Reinha tiap hari. Tadi pagi aku minta potret Reinha Durante dan Suster Kepala katakan Reinha sedang ada di Tabernacle (tempat paling suci dalam biara) sedang lakukan devosi."
"Baiklah! Gunakan waktu ini untuk temukan Lucky Luciano. Aku kuatir Enya berubah pikiran dan diam-diam pergi ke Pesisir Timur. Jika kita jadi investor, kita bisa ke Pesisir Timur untuk mulai survei lokasi."
"Elgio, tak semudah itu. Kau tahu banyak pihak swasta berlomba-lomba untuk Public Private Partnership ke Pesisir Timur. Seleksi terhadap perusahaan yang akan berinvestasi sangat ketat. Meskipun terlihat menggiurkan, aku tak sarankan kita berurusan dengan Pesisir Timur. Bersabarlah, Carlos sedang berusaha. Dia harapan kita satu-satunya. Nona Claire selalu berikan perkembangan terbaru Francis blanco."
"Lakukan segala cara, Abner. Bukankah inilah saat yang tepat untuk gunakan uang yang telah kita timbun bertahun-tahun?"
"Aku akan atur pertemuan dengan Walikota. Dekatkan dirimu padanya dan lihat peluang!"
"Baiklah. Periksa juga, mungkinkah ada event yang libatkan walikota. Aku bisa pergi ke sana. Kau tahu aku harus penuhi undangan makan malam Diomanta untuk temani Aruhi dan Arumi di peternakan buyut mereka."
"Bersama Tuan Hellton Pascalito?"
"Ya."
"Aku penasaran, apa yang dilakukannya pada Irish?"
"Mengapa kau ingin tahu?"
"Mungkin bisa kuterapkan pada Luna. Irish berhenti mengejarmu, berhenti menyeretmu ke pengadilan! Bahkan Irish tiba-tiba menolak bersaksi, menyerah terlibat dengan bukti yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Bukankah sungguh aneh? Wanita itu bahkan dikabarkan berhenti jadi penyiar."
Elgio mengangguk sepakat. "Abner ..., Hellton Pascalito terlihat seperti pria yang bisa membungkam orang dengan sekali argumen dan ia sangat mudah menarik pelatuk. Aku tak yakin tapi kurasa ia menyekap Irish di peternakan."
"Dan kalian akan makan malam di sana?"
"Entahlah," jawab Elgio kedipkan bahu. "Apa kau temukan hal baru dari kasus Maribella?" tanya Elgio ganti percakapan. Ia tak suka bahas Irish lebih-lebih jika Marya menguping.
"Aku tak bisa berpikir soal itu, Elgio!" Abner Luiz menggeleng. "Kita bahkan tak bisa menuduh Luna."
Elgio menatap walinya prihatin. Keadaan sangat kacau. Abner Luiz adalah seorang pemikir, cendikiawan, scientist, tetapi sepertinya kondisi Maribella lumpuhkan Abner Luiz. Pria itu tak beranjak dari rumah sakit hanya temani Maribella.
"Baiklah, jangan berpikir! Bagaimana kalau begini saja, Abner. Mari pura-pura abaikan kasus yang terjadi soal Maribella, mari bikin celah hingga pelakunya berpikir kita jengah dan lakukan kesalahan. Jangan sentuh Luna untuk sementara waktu dan mari bersabar. Kita pasti akan temukan sesuatu!"
Elgio dan Abner ikut dalam pemeriksaan CCTV. Luna keluar dari ruangan kantor Abner menenteng kantong berisi kotak makan di hari itu, pergi ke kabinetnya untuk menaruh berkas yang tak jadi diberikan pada Abner. Mereka bahkan pelajari rekaman itu berulang kali bersama pengacara dan seorang detektif tetapi CCTV tunjukan bahwa Luna pergi dari sana sedang kotak makan sama sekali tak terbuka. Ia hanya menaruh berkas lalu masuk lift. Ada beberapa orang dalam lift dan Luna paling depan menghadap langsung ke kamera pengawas. Gadis itu hanya mengobrol sambil pegangi kantung berisi kotak makannya erat-erat. Ia pergi ke kafetaria bergabung bersama yang lain, buka kotak makanan dan langsung makan. Sementara CCTV saat Maribella datang dengan kantung makanan sama sekali tak terindikasi ia menaruh racun tetapi dalam ruangan kantor Abner tak ada kamera pengawas sama seperti dalam ruangan Elgio. Maribella bisa saja dituduh menaruh racun di sana sebelum berikan pada Luna.
"Ini sangat sulit sebab jika kasus ini terus diselidiki, Maribella akan jadi tersangka."
"Pasti ada kesalahan," pikir Elgio pejamkan mata. "Berhati-hatilah, Abner!"
"Ya, kita tak bisa bertindak bar-bar sebab Maribella masih belum aman."
"Plan A, mari berakting tetapi tetap waspada. Kita akan menangkap sesuatu dan langsung bertindak!"
"Bagaimana keadaan Maribella?"
"Tidak bagus. Aku sama sekali bukan kekasih yang baik. Sipir penjara yang memukulinya tiba-tiba menghilang! Tango sedang berburu. Sipir itu sepertinya disembunyikan oleh pengacara Luna."
"Pengacara Luna ... selidiki pria itu!"
"Ya, sedang kulakukan. Pria itu pengacara kotor, gunakan segala cara untuk menangkan kasus. Dia menerima bayaran mahal dari keluarga Luna."
"Baiklah. Jangan ambil tindakan. Biarkan Maribella beristirahat. Aku ingin berkunjung."
Abner menggeleng keras. "Tidak! Jangan sampai Nona Marya melihat kondisi Maribella, istrimu bisa sakit. Maribella memar di mana-mana. Ya Tuhan, kau tahu rasanya aku ingin pergi ke penjara dan pukuli teman-teman satu selnya."
"Sayang sekali, kau malah mengomel di sini!"
"Aku menunggu Elgio. Teman-teman satu sel yang jahati Maribella akan dibebaskan beberapa hari lagi. Aku menunggu untuk lakukan sesuatu pada mereka! Mungkin kutembak saja tangan mereka."
"Baiklah, mari lakukan itu nanti!"
Keduanya sibuk menyusun rencana tak sadari kehadiran Marya.
"Ada apa dengan Maribella? Mengapa Maribella memar di mana-mana? Ada apa dengan kondisi Maribella?" tanya Marya di muka pintu dengan nampan teko teh dan camilan di tangannya. Ia menyipit curiga pada Abner lalu pada Elgio. Wajahnya cepat memerah saat dapati suaminya tiba-tiba gugup dan kelu.
Marya rindukan pengasuhnya. Ia buatkan strawberry cupcakes sambil mengobrol ringan dengan Natalea tentang hebatnya Maribella. Berpikir untuk menyusul Maribella ke Mora. Jika Maribella menolak ia berkunjung, Marya berpikir untuk tinggal di Paviliun Diomanta sementara waktu bersama Ibu dan Arumi. Sebab, tanpa Reinha dan Maribella, rumah terasa sunyi. Augusto menghilang beberapa hari dan sejak liburan musim panas dimulai, Marya merasa sangat kesepian di siang hari meskipun Elgio bekerja dari rumah. Itu karena Marya tak berani mengganggu Elgio. Suaminya terlihat sangat sibuk sejak kasus Maribella dan Luna juga Tuan Lucky Luciano menghilang hingga Reinha putuskan tenangkan diri ke Biara.
Namun kini, ia tak sengaja dengar sesuatu terjadi pada pengasuhnya.
"Elgio Durante, apa yang terjadi pada Maribella? Itukah sebabnya Augusto tak di sini? Maribella tak ada di Mora kan?"
"Marya ... itu ...."
"Kau berjanji padaku untuk beritahu apapun itu masalahnya. Ada apa dengan Maribella, Elgio?" Marya menaruh nampan dan berdiri dengan gelisah.
"Marya ...."
"Elgio, aku bertanya padamu. Apakah Bibi Mai ... ?" Marya mulai tak tentu arah. "Tuan Abner?"
Melihat Abner dan Elgio hanya mematung, Marya menjadi sangat marah. Namun, ia mencoba kendalikan dirinya. Elgio berulang kali sembunyikan sesuatu darinya. Ya Tuhan, Maribella adalah Ibu baginya, bagaimana mereka bisa sembunyikan kondisi Maribella darinya.
"Marya ...."
"Aku akan kembali ke dapur," kata Marya menatap Elgio tanpa kedip lalu berbalik pergi dengan tergesa-gesa.
"Astaga ... " maki Elgio buru-buru bangkit. "Kurasa kita tak bisa tutupi lagi. Aku akan melihatnya."
Abner hempaskan napas berat dan mengangguk. Elgio bergegas menyusul Marya, pergi ke dapur tak temukan Marya di sana. Sedikit mengumpat sadari bahwa Marya tak pergi ke dapur. Ia kembali ke ruang dalam dan terkejut saat Marya bersiap dengan sangat rapi. Celana kanvas cutting standar terlihat chic dan comfy dengan belt pita kupu-kupu yang dipadu sweater high neck knit warna creamy. Mantel tersampir di tangan dan kekasihnya buru-buru turun dari sana sambil menelpon.
"Tidak Elgio, trims. Kulihat kau punya banyak masalah. Aku akan pergi sendiri!"
"Kemana?" Elgio ikuti istrinya yang tak terlihat marah tetapi malah sangat menakutkan untuk diajak bicara.
"Mencari Maribella."
"Marya ... " panggil Elgio pegangi tangan Marya erat. "Mari pergi bersama."
"Aku sudah menelpon taxi, Elgio. Jika Maribella sakit, kau hanya harus katakan padaku. Aku akan bersamanya. Ya Tuhan, Elgio. Bibi Mai merawat aku sejak aku kecil hingga kau datang beberapa bulan lalu. Bagaimana bisa ...."
"Aku pikirkan kondisimu, Marya. "
"Bibi Mai butuh hiburan dan butuh aku atau Reinha di sisinya. Tega sekali sembunyikan keadaannya dariku? Lepaskan aku! Kurasa, kita hanya berkomitmen soal terbuka dan berterus terang, tetapi di sinilah masalahnya Elgio Durante."
"Sayang, cobalah mengerti, aku tak bisa beritahu kau karena aku takut kau mungkin akan terguncang!"
Yang bisa dilakukan pria yang sedang cemas itu hanyalah datangi Marya dan memeluknya.
"Elgio benar, Marya," ujar Abner Luiz turuni tangga. "Jangan salah paham dan jangan marahi Elgio! Maribella tak ingin kamu atau Reinha tahu keadaannya. Mai bahkan bersembunyi dariku."
"Biarkan aku pergi melihat Bibi Mai!" tuntut Marya.
Mereka akhirnya berkendara ke rumah sakit dalam hening. Marya tampak tak berniat lakukan percakapan di dalam mobil sebab ruang-ruang hati berubah gelap. Just like an empty space. Merasa sedih dalam relung hati bayangkan Maribella menyimpan sakit dan derita sendiri, Maribella, Peri Pengasuh yang sangat ia cintai.
Mereka sampai di rumah sakit dengan cepat, disambut Augusto yang langsung membungkuk saat mereka datang.
"Bibi Mai?!"
Marya dekati Maribella yang terbaring di atas ranjang, pupus dalam cengkeraman mimpi. Atau Peri Pengasuhnya hanya tidur tanpa bermimpi. "Apa yang terjadi padamu?" Marya kelu di sisi pembaringan, air matanya cepat luruh, tetesi pipi beningnya.
Marya berdiri tak jauh dari Maribella, hanya tercenung lama, tiba-tiba blank. Pengasuhnya terlihat tegar dan rapuh dalam waktu bersamaan. Marya lumayan lama menguping pembicaraan Elgio dan Tuan Abner Luiz, tidak bermaksud demikian, tetapi ia antarkan camilan di waktu yang tepat untuk dengar percakapan yang sangat-sangat lukai hatinya. Tikamannya sama saat seperti melihat ayahnya dipukuli. Bisa-bisanya orang-orang jahat itu sakiti Maribella-nya yang penyayang. Sesuatu dalam dirinya benar-benar kecewa dan marah, menyulut Marya hingga ia sangat kesakitan. Sisi lain dari dirinya bergejolak.
"Marya?!" sapa Maribella pelan saat lihat si gadis, termangu pandanginya dengan kesedihan mendalam sama seperti Aruhi terlihat ketika alami mimpi buruk. Ekspresi wajah Marya menahan sakit dan gadis itu tampak sangat menderita. Reaksi Marya buat Elgio segera tersadar, seperti yang ia takutkan, Marya sangat terguncang.
"Siapa yang lakukan ini padamu, Bibi Mai?! Mengapa kau seperti ini, Maribella William? Kupikir kau menganggap aku seperti anakmu?" tanya Marya melirih nyaris seperti berbisik. Ia mengusap air mata pelan. Puncak hidungnya lekas memerah. Ia akhirnya mendekat duduk di bibir pembaringan dan mengelus wajah Maribella perlahan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Aku baik-baik saja, Sayang! Jangan cemaskan aku, hmmm?!"
"Siapa yang lakukan ini padamu, Bibi Mai?" tanya Marya pelan, tanpa kedip dengan sorot mata tidak senang.
"Aku terjatuh di kamar mandi, jadi kepalaku sedikit terbentur dan lenganku dibalut karena aku tidur di ranjang yang keras. Aku akan segera membaik."
"Baiklah! Bisakah aku tinggal denganmu di sini untuk merawatmu?"
"No, Meu Amor! Kau sedang mengandung. Pulanglah! Kau boleh berkunjung kapan saja!"
Marya mengecup kening Maribella, mencium jemari sang pengasuh.
"Aku sangat menyayangimu! Aku akan datang besok pagi, Bibi Mai."
Marya berdiri pergi dari sana, berjalan kaku seperti robot hingga Elgio dan Abner bertukar pandang.
"Maribella, kami akan berkunjung. Sampai nanti!"
Elgio buru-buru menyusul Marya. Tak biasanya lihat Marya dengan ekspresi yang mengkuatirkan itu.
"Elgio?!" Marya berbalik menatap suaminya lurus-lurus.
"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?"
Marya mengangguk, "Bisakah kita menginap di rumah Ibu beberapa hari? Maribella di rumah sakit, Reinha di Biara, aku sangat kesepian. Aku ingin bersama Ibu dan Arumi!"
Elgio hembuskan napas yang tertahan, datangi Marya dan memeluk istrinya erat.
"Baiklah, Sayang. Kurasa itu lebih bagus. Kau tahu, ada banyak masalah yang harus diselesaikan. Aku akan pergi bekerja dan kembali untuk memelukmu nanti malam. Bagaimana?"
"Ya," sahut Marya pendek tak sabaran ingin segera sampai di rumah Ibunya. Mengapa dunia selalu tidak adil pada orang-orang lembut sepertinya dan Maribella? Mengapa mereka lukai Maribella? Marya menatap jalanan lurus di hadapannya. Akan lebih mudah hadapi orang-orang seperti Irish Bella dibanding penjahat yang gunakan kekuatan fisik.
Marya terus melamun sepanjang perjalanan, sedang Elgio yang punya banyak masalah di otaknya, tak ingin mengganggu istrinya.
"Marya, Maribella akan baik-baik saja. Jangan kuatir! Aku akan datang padamu selepas rapat, mari bepergian sebentar."
Marya mengangguk. "Baiklah, Sayang!"
Ketika Elgio pamit harus bekerja dan rapat, Marya melambai dari atas teras segera disambut Archilles. Pengawal adiknya itu masih sama, tak berani menatap padanya. Hanya terus tertunduk jika bertemu dengannya.
"Apa Ibu tidur?"
"Tidak, Nyonya. Tuan Hellton Pascalito sedang datang berkunjung."
Tahanan rumah tetap punya hak menerima kunjungan dari kerabat meski mereka diawasi secara ketat. Tetapi Sebenarnya, secara eksplisit tidak ada aturan atau ketentuan jelas tentang pengunjung bagi tahanan rumah yang sedang sakit, mengenai siapa saja yang boleh berkunjung atau berapa lama waktu. Ini karena Ibu sangat kooperatif saat pemeriksaan. Bahkan Aunty Sunny akan segera dibebaskan. Marya yakin Paman Hellton yang mengurusnya dan tak sabar ingin bertemu dengan sepupu Ibunya itu.
"Archilles, bisa kita bicara?" tanya Marya, tak percaya suatu waktu dalam hidupnya, ia gunakan kekuatan lewat kekuasaan yang ia miliki.
"Ya, Nyonya!"
"Aku punya permintaan padamu. Bisakah kau kerjakan tanpa sepengetahuan suamiku? Ini sangat rahasia," katanya lagi dengan nada suara rendah. "Aku butuh bantuanmu."
Archilles Lucca belum menyanggupi, seakan menimbang, terlihat ragu-ragu.
"Apakah Nyonya Marya menyuruhku mata-matai Tuan Elgio Durante? Aku tak akan sanggup lakukan itu?"
Marya menggeleng, "Tidak, Archilles. Bukan itu dan tak akan pernah!"
"Lalu apa Nyonya?"
"Kau tahu bahwa Pengasuhku, Maribella William, di penjara beberapa waktu lalu akibat fitnah beracun. Ia sedang sekarat saat ini di rumah sakit setelah keluar dari penjara. Aku yakin, apa yang dialami oleh pengasuhku adalah kebrutalan yang teroganisir. Aku tahu kau sangat dekat dengan dunia gelap itu. Dapatkan mereka untukku! Siapapun itu entah sipir penjara atau teman-teman sel yang menyiksanya."
Rentetan peristiwa yang menimpa Maribella dilakukan secara teroganisir. Marya yakin akan temukan sesuatu, termasuk jika itu Luna Hugo. Ia hanya perlu menginjak ekor untuk pegangi kepala.
"Nyonya ... Anda mungkin sedang marah, Tuan Elgio harus ...."
"Tidak, tolong jangan membantah. Lakukan saja dengan hati-hati, Archilles!"
"Baik, Nyonya! Tetapi bisakah Anda beritahukan aku apa yang ingin Anda lakukan pada mereka?"
Marya menatap Archilles tajam hingga si pengawal tak berani melihatnya. Seketika melembut saat sadari dirinya menakuti Archilles oleh murka saat melihat Maribella sekarat.
"Sedang kupikirkan!"
****
Aku dengan rendah hati ucapkan limpah terima kasih untuk vote Anda.
Saat Chapternya flat, nikmatilah informasi dalam dialog sebab bisa jadi chapter berikut adalah lonjakan emosi....
Ada dua chapter hari ini, Jam sore baru di-update lagi sebab jempolku tiba-tiba perih sentuhan sama screen ponsel. Please jangan menimbun Chapter, please. Saat dapat notif, buka aja dulu dan like. Mau pending dibaca sekalian nanti malam boleh dibuka lagi. Sebab saat readers buka dua chapter sekaligus sistem akan menghitung 1 views untuk dua chapter dan jumlah pembacanya akan anjlok. Bantu aku ya.
Aku mencintaimu, cintai aku...