
"Enya!!" seru Lucky tertahan.
Ia mendekat pada Reinha yang dibalas tepisan oleh gadis itu, menampik pergi. Pipi Reinha memerah bekas tamparan tangan Elgio, sudut pipi robek dan kelopak mata tergenang air mata. Reinha menatap Lucky dengan sorot mata marah dan terluka, surutkan langkah Lucky.
Sedang Elgio menangkup wajah gunakan kedua tangan coba menahan emosi. Ia mengerang frustasi sebab baru saja menampar adik perempuan yang sangat ia sayangi. Reinha bukan adik kandungnya, tidak sedarah, hanya orang lain -sampai tangannya menggenggam tangan mungil Reinha dan mengajaknya ke Durante Land ketika Reinha masih sangat kanak-kanak. Itu terjadi beberapa hari setelah kecelakaan maut merenggut nyawa Ayah Reinha dan Benn serta buat Ayah Leon sekarat. Atas keputusannya bersama Ayah, nama family Reinha diganti, berubah ikuti namanya dan Reinha resmi jadi adik perempuan Elgio Durante.
Reinha-lah penghibur ketika Aruhi menghilang dan Ayah meninggal. Reinha berupa secercah bahagia dalam kesedihan. Saat Elgio menangis kesepian, Reinha datang dan mendekap dengan tangan-tangan mungil, kirimkan dukungan dan penguatan. Senyuman bidadari Reinha adalah angin penyejuk di masa lampau yang membuat Elgio punya alasan untuk lanjutkan hidup. Ia bertanggung jawab besar pada seorang bocah kecil dan penuhi janjinya pada Ayah untuk menjaga Reinha dengan baik.
Bagaimana bisa ... Lucky Luciano seenak perut berani permainkan adiknya?
"Enya?!" panggil Elgio pelan mendekat. Nadanya penuh sesal bercampur bingung.
"Ini salahku, aku yang mulai. Jangan sakiti, Enya!"
Tangan Lucky pegangi pergelangan tangan Elgio salah mengerti maksud Elgio yang hendak meraih Reinha pergi dari sana sebelum niat Elgio habisi Lucky terealisasi.
"Lepaskan, sebelum kupatahkan kedua tanganmu itu."
"Aku yang memeluknya tanpa ijin."
Pengakuan itu memancing murka Elgio kembali. Elgio berpaling dan ketika lihat wajah Lucky Luciano, emosinya semakin tidak terkontrol. Ia mengumpat sebelum memelintir tangan Lucky dan mendorong Lucky ke tembok.
"Berani sekali kau sentuh adikku! Haruskah kupatahkan tangan kotormu?"
Elgio mengumpat sangat kasar seraya memutar badan Lucky hingga mereka berhadap-hadapan. Jadi, Lucky Luciano tidak sibuk merayu janda dan wanita pria lain seperti dugaannya, tetapi pria itu dekati adik perempuannya.
"Jujur, aku mencintai Enya!"
"Tutup mulutmu, sialan kau!"
Elgio mengepal tangan kuat, meninju wajah Lucky keras hingga kepala pria itu terbentur tembok. Dua, tiga kali pukulan dan Lucky tak membalas ataupun menangkis. Penolakan Reinha jauh lebih menyakitkan dibanding rasa sakit ketika dipukuli. Mungkin saja, palu kepalan Elgio bisa bawa kembali kesadarannya yang selama ini mati suri.
Tidak puas meninju Lucky, Elgio mengepal sekali lagi dan ayunkan pukulan itu, menghantam tembok di samping kepala Lucky berulang kali, lampiaskan kemarahan. Tembok bangunan tua dan kaca-kaca jendela bangunan bergetar. Elgio lakukan itu berulang-ulang hingga tangannya berdarah.
Reinha yang saksikan kemarahan dan kesakitan Elgio, berlari lekas bersimpuh di kaki sang kakak, memeluk kaki pria itu dan mencium lutut Elgio.
"Kakak! Aku bersalah, maafkan aku! Mari kita pulang, Kak. Kau bisa patahkan kaki-ku seperti yang kau inginkan."
Reinha menangis sesenggukan, "Berhenti sakiti dirimu, Kak! Tolonglah, aku menyayangimu." Isakannya berubah tangisan liar.
"Tentu, kau sangat sayang padaku hingga berani ludahi wajahku."
Elgio mendengus kasar, tangannya menahan leher Lucky sedang mata menatap tajam. Gemeletuk gigi-gigi terdengar hingga ke kuping Lucky.
"Jauhi adikku!" ujar Elgio dingin. "Jika kau hidup sebagai pria terhormat, aku akan pertimbangkan cintamu padanya, tetapi jika kamu masih hidup sebagai begundal ... sebaiknya kau berhenti bermimpi! Jangan libatkan adikku dalam bisnis konyolmu ataupun dalam urusan kita."
Elgio lepaskan Lucky lalu ulurkan tangan mengelus kepala Reinha seakan minta maaf sebelum meraih tangan gadis itu, menariknya bangkit berdiri. Elgio memeluk Reinha dan membawanya keluar dari sana.
Sementara Lucky melorot turun ke lantai bangunan, menatap nanar pada separuh jiwa yang ikut melayang bersama Reinha. Tidak menyangka Reinha Durante satu-satunya wanita yang ia inginkan. Hari-hari bergulir tak akan pernah sama lagi sejak detik di mana hatinya inginkan Reinha Durante. Ia selalu tertawakan ide mengenai seorang pria bisa kehilangan akal sehat dan hidup dalam kesakitan gara-gara jatuh cinta, menyangkal mati-matian tak akan pernah sebodoh itu. Tetapi ketika terjadi padanya, ia benar-benar terengah-engah kehabisan udara.
Francis muncul di gudang dengan raut datar tanpa ekspresi tidak terkejut dapati tuannya bersandar di tembok, telantarkan satu kaki, sedang kaki lain menekuk jadikan tumpuan untuk tangan yang membentang di sana. Tuannya terkulai lemas dengan wajah memar, benar-benar telah tersesat tak tentu arah akibat cinta tak diundang.
"Tuan, Anda harus segera pergi. Tetua menunggu Anda di kediamannya! Anda tak bisa menunda."
Francis hendak memapah berdiri, tetapi Lucky menolak.
"Suruh Claire tetap di toko sampai selesai! Kita tak bisa tinggalkan toko dalam keadaan kosong."
Lucky melangkah gontai, masih tak percaya ia memeluk Reinha dan masih tak percaya Elgio Durante pergoki tepat waktu untuk hancurkan wajahnya. Mobil menunggu mereka di luar dan Lucky masuk ke dalam.
"Anda tahu bahwa Rocco Antony baru saja dibebaskan pagi ini?!"
Francis menggeser gadget dan membaca berita terbaru kemudian berikan opini.
"Pemerintah berterima kasih padanya karena telah bocorkan rahasia-rahasia penting organisasi mafia dan saat ini, ia dikawal ketat di bawah perlindungan pemerintah. Kita akan kesulitan mengirim paket dalam waktu dekat."
Lucky menerawang keluar jendela tak indahkan Francis dan beritanya. Sorot mata marah dan terluka Reinha menghasut pikiran, bergerak di sana dalam tayangan lambat. Ia pejamkan mata dan tanpa sadar hembuskan rupa Reinha ke dalam jantungnya. Ia menginginkan Reinha hingga ke dalam tulang belulang tetapi tidak tahu bagaimana baiknya.
"Apa kamu ... kebetulan tahu cara melupakan seseorang?"
Francis mengangkat wajah dari gadget dan menatap Lucky penuh pengertian. Lucky masih bisa bicara banyak sementara wajah tak berbentuk.
"Apa Anda ingin minum? Atau maukah aku menyuruh Seoza datang untuk temani Anda? Ia menunggu panggilan Anda, Tuan."
Mata pria itu masih terpejam, ia benamkan diri makin dalam pada cinta tak kesampaian. Tidak ada perempuan lain di dunia ini yang bisa mengalihkannya seperti yang dilakukan Reinha Durante.
"Lupakan saja! Katakan pada Seoza untuk jangan pernah datang lagi."
"Aku sudah katakan itu padanya berulang kali tetapi ia ingin mendengar dari Anda sendiri, Tuan."
"Buat dia pergi dariku, Francis."
Daripada singkirkan Seoza, bagaimana kalau Anda menyingkirkan Nona Durante? Wanita itu terlalu cerdas dan sangat berbahaya. Ia bisa mengacaukan Anda suatu waktu.
Francis hampir utarakan pendapatnya beruntung mereka telah sampai di tujuan. Sebuah peternakan tua dengan plang "Mendeleya Family" tertempel di sebatang pohon flamboyan di setapak masuk. Kediaman itu sangat minimalis, tenang dan damai, sangat nyaman dengan pot-pot bunga berjajar rapi dan daun-daun rambat mengelilingi rumah. Seorang wanita separuh baya berwajah sangat damai, membuka pintu dan langsung berbinar ceria, Brigitta Mendeleya.
"Lucky, apa kabarmu? Ya Tuhan, Viktor ... lihat siapa yang datang?!" serunya heboh. Ia mengatup tangan di mulutnya antusias.
"But, well, apa yang terjadi pada wajahmu, Nak?" Brigitta menatap Lucky heran sebelum berteriak ke arah dalam, "Pequeena?! Bawa kotak obatmu kemari dan obati pria ini. Ya Tuhan, apa kau masih suka berkelahi? Apa kau masih jadi ketua gangster?"
"Queena di sini, Nyonya?" tanya Lucky sopan.
"Ya, ia mengambil liburan sambil menunggu diwisuda,"jawabnya tak lepas prihatin pada kondisi Lucky hingga membuat Lucky Luciano menyesal karena telah berkunjung tanpa rapikan penampilan.
"Queena?!" teriak Nyonya Brigitta lebih kencang.
"Sabar, Mam!"
Viktor keluar dari ruangan belakang. Pria itu bertubuh tinggi tambun, perut membuncit pertanda "sangat dimanjakan istri" dan kepala botak setengah lingkaran nyaris botak sempurna.
"Lucky, lama tak jumpa. Kupikir kau abaikan orang tua renta ini?"
Francis menunduk dalam dan tingkahnya mendapat peringatan tajam dari Viktor. Francis yang sadari itu langsung salah tingkah.
"Dia hanya orang yang sangat sopan, Sayang," ujar Victor saat Brigitta melihat tingkah laku tak biasa itu.
"Tampangmu sangat kacau, Lucky Luciano. Apa kau habis dihajar seseorang?"
Seorang gadis manis menyusul dengan kotak obat di tangannya.
"Apa kabarmu Dokter Muda Pequeena Mendeleya?" Lucky melempar senyum seadanya.
Pequeena pamerkan deretan gigi-gigi putih cemerlang yang berkilau, sangat kontras dengan mata lentiknya yang indah. Gadis itu mendekati Lucky dan menggeleng keheranan.
"Kau masih seorang gangster? Kapan kau berhenti main-main dengan hidupmu?" Ia memeriksa wajah Lucky lalu berdecak, "Kau butuh es batu agar lebammu mereda."
"Biarkan saja, Queen. Aku suka seperti ini. Obati saja yang bisa diobati, tetapi sebenarnya aku tak butuh obat. Aku terbiasa babak-belur."
"Kau ini. Apa kau akan datang di kelulusanku menemani Ayah dan Ibu?"
"Tidak janji Queen, kau tahu jadwalku sibuk. Syukurlah, setidaknya nanti ada seseorang yang akan mengangkat peluru dari tubuhku jika suatu saat aku tertembak," gurau Lucky dan membuat Queena memukul pelan lengan pria itu.
"Jangan sampai itu terjadi, aku akan biarkan kau mati kehabisan darah."
"Sia-sia saja kau belajar kedokteran kalau begitu."
"Kau itu sudah dewasa dan berhentilah main-main! Apa kamu belum temukan wanita yang cocok untukmu?"
Lucky tersenyum sedikit, "Aku menemukannya tetapi dia menolak berandalan sepertiku."
"Wow, wanita hebat! Aku juga tak menyukai pria yang tidak jelas sepertimu!"
"Padahal aku tampan!"
"Justru ketampanan sangat menakutkan, tingkat narsistik mereka tinggi dan jika akut bisa berbahaya." Queena mencibir. "Selesai!"
"Terima kasih, Ibu Dokter."
"Aku jadi iri, Ayah menyuruh kami bersiap-siap menyambut kedatanganmu. Kusangka walikota yang akan berkunjung. Jika tahu itu kau, aku tak akan repot-repot memasak."
"Queena, bawakan kacang-kacangan dan jagung. Kami akan memberi makan merpati. Ada hal penting yang harus kami bicarakan," kata Viktor akhiri celotehan Queena sembari bangkit berdiri dan meminta Lucky ikut dengannya.
Pembicaraan serius mereka dimulai dan kehidupan kotornya menunggu seperti seorang kekasih merana menanti cumbuan. Apakah ia bisa hidup sebagai pria terhormat seperti keinginan Elgio Durante?
***
Sementara di depan The Windows ...
Elgio mendorong pelan tubuh Reinha masuk ke dalam mobil, duduk di samping Augusto yang serba salah dibalik kemudi.
"Apa Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Augusto cemas melihat wajah Reinha yang memerah.
"Reinha?!" Marya hanya melirih nama itu, tak bisa menebak apa yang sedang terjadi pada Reinha. Gadis itu sepertinya baru habis menangis.
Elgio masuk dengan wajah kusut tak lama kemudian, menjawab kegelisahan Marya.
"Bawa kami pulang, Augusto!" Nada serunya tidak enak terdengar.
Elgio Durante terdiam sepanjang perjalanan dan Marya melirik padanya ingin tahu, apakah ia bisa menenangkan pria itu. Jelas, Elgio sangat murka. Ia membatu dan gigi-giginya beradu. Sesekali ia mendesah keras dan tangannya mengepal. Saat itulah, wajah Marya memucat, punggung tangan Elgio berdarah.
"Kamu berdarah! Ya Tuhan, bisakah kamu kendalikan dirimu?" tanya Marya ketus. Ia menarik tangan Elgio dan perhatikan buku-buku jari tanpa kulit itu, tinggalkan tulang putih berdarah.
"Bisakah kita mampir di apotek, Augusto?" tanya Reinha pelan.
"Tidak usah. Kembali saja ke rumah!" jawab Elgio kasar.
Mereka kembali ke Durante Land tepat saat Abner akan pergi makan siang. Melihat wajah kusam Elgio, Abner berdecak.
"Mengapa wajahmu masam begitu Elgio? Apa ada yang mengganggu kencanmu?"
Elgio memandang Abner ingin lampiaskan marah pada Abner tapi tak temukan cara. Jadi, ia melangkah cepat naik ke lantai dua.
"Kakak?! Maafkan aku," seru Reinha mengekor dari belakang. "Kakak?! Tolong jangan begini!" Reinha berhasil menggapai Elgio di lantai dua. Ia memegang tangan Elgio kuat hentikan langkah kaki Elgio. Reinha ingin katakan bahwa Lucky memeluknya tanpa sengaja bukan atas kehendak pribadi.
"Kamu tidak boleh keluar dari rumah sampai liburan selesai, tak boleh menerima tamu dan tak boleh bicara padaku sampai kau menyadari kesalahanmu."
"Kakak, semua itu tak seperti yang kakak lihat?! Tolong jangan salah paham!"
"Enya, kau berpelukan dengan si maniak itu di gudang sepi ... bisa beritahu aku ... bagaimana aku harus bersikap?"
"Kau salah paham, Kak."
"Sejak kapan kamu bersamanya?" tanya Elgio garang.
"Kakak, ini salah paham. Aku tak bersamanya."
"Kamu jatuh cinta padanya?"
Elgio berbalik memegang kedua bahu Reinha sedang Reinha kelabakan mendapat pertanyaan itu.
"Ti, ti-ti-dak, Kak. Aku tidak menyukainya sedikitpun," jawab Reinha tetapi sinar mata bimbang terpancar lain. Elgio lepaskan pegangan pada bahu adiknya. Ia amati Reinha dengan tatapan tajam.
"Kamu tahu, siapa Lucky Luciano? Dia adalah penipu, perusak moral, bedebah sinting dan pecinta wanita, brengsek yang melakukan pemerasan, perdagangan manusia, pengedar narkoba, ia penjahat kelas kakap, Enya."
"Kakak ...."
"Aku berubah pikiran. Pilih hukumanmu, sebulan di Durante Land habiskan waktumu di kandang kuda dan bersih-bersih di sana. Atau pergilah ke Dream Fashion dan belajar menjual sesuatu? Itu lebih bagus ketimbang kupatahkan kakimu."
"Kakak?!"
"Abner, siapkan tiket dan kirim Reinha Durante ke Dream Fashion. Beri dia pekerjaan paling rendah di sana dan awasi dia 24 jam!"
***
Selamat merayakan Kuningan ya, untuk saudara, keluarga dan sahabatku di Bali.
Terkhusus untuk sahabatku tercinta Ni Made Yuli dan Luh Putu Saras.