
"Anda keluarga pasien Laluna Hugo?"
Elgio Durante mengangguk pada perawat.
"Bisa ikut sebentar? Kami tidak punya stok darah O-, jadi, mungkinkah Anda bisa menolong Nona Luna Hugo?"
"Baiklah, golongan darah kami sama, Suster."
Elgio Durante seperti patung hidup mengekor di belakang perawat, berbaring di ranjang rumah sakit, diambil darahnya. Ia kemudian membeku di depan ruang operasi setelah lakukan donor darah. Golongan darah Luna O-, termasuk sangat langka sebab hanya bisa menerima transfusi darah dari golongan yang sama. Dan Elgio miliki golongan darah yang sama, O- seperti Ayahnya, Tuan Leon Durante. Cukup sebagai bukti bahwa mereka adalah saudara kembar meski bukan kembar identik. Harusnya kembar tidak identik bisa saja miliki golongan darah berbeda, tetapi oleh Tuhan, dirinya dan Luna punya golongan darah yang sama.
Laluna Hugo, gadis paling seksi satu perusahaan, menarik atensi karena lulus seleksi pegawai dengan skor tertinggi nyaris sempurna, kemudian body goals mirip model majalah dewasa, karyawan terbaik karena berulang kali dapat reward sebagai the Increadible staff adalah saudara kembarnya. Sangat-sangat tidak senang saat Luna berlaku kurang ajar pada Maribella dan gadis itu ternyata adik lima menitnya.
Saat Aruhi kecil, Elgio sering mengomel tak ingin punya adik perempuan sebab mereka sembrono dan rewel, tak menyangka saat ia lontarkan kata-kata itu, ia punya adik perempuan, seumurannya dan hidup di suatu tempat. Ya Tuhan, sungguh hidup yang tak tertebak.
Duduk bengong, pikiran Elgio Durante diisi silih berganti antara Luna Hugo, yang sedang dengannya tapi tak satu klan dan Reinha Durante yang tak sedarah dengannya tapi miliki nama klan Durante. Ia sangat ingin tahu kabar adik perempuannya yang lain, demi Reinha, ia bisa pertaruhkan hidupnya. Oh sial, gadis itu menipunya. Elgio menggerutu. Harusnya tak usah percaya saat katakan dengan air mata berderai bahwa ia akan masuk biara. Air mata buaya, berani sekali dia. Elgio akan beri hukuman berat untuk Reinha. Dan Elgio yakin Marya juga tahu. Baiklah, ia akan hukum kedua gadis itu. Akan mencambuk kedua betis gadis itu hingga urat-urat kaki mereka membiru. Lihat saja mereka nanti.
"Enya ... sebaiknya kau lekas kembali sebelum aku menyusulmu. Gadis bodoh ini!" guman pria itu bicara pada dirinya sendiri.
Abner Luiz ambil alih perwalian untuk mulai lakukan operasi pengangkatan proyektil pada Luna sementara orang tua si gadis telah dihubungi, sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Nyonya Sylvia terus-menerus bicara rutin pada Abner, ingin tahu apa saja tindakan medis untuk puterinya, terisak-isak di ponsel.
"Sudah selesai, Elgio. Apa kau akan duduk di sini dan melihat Ibumu?" tanya Abner pelan.
Elgio menggeleng, "Tidak."
"Mari kita pergi!"
Elgio mendesah berat dan akan pergi dari sana ketika segerombolan orang berjalan gelisah di koridor rumah sakit. Keluarga Luna, Elgio yakini itu. Ayah, Ibu, wanita paruh baya lainnya, beberapa orang hingga kakek dan nenek. Luna tumbuh dengan baik dikelilingi keluarganya. Jantung Elgio berdetak lebih cepat, sangat cepat tetapi ia menahan napas. Wanita itu, penulis naskah drama, artis senior terlihat dalam genggaman tangan suaminya tersedu-sedu menyusuri lorong sedang yang lain ditahan, disuruh menunggu di ruang tunggu. Jika, Luna adalah saudara kembarnya maka wanita itu seperti yang Luna katakan, mengirimnya pada Leon Durante saat mereka masih bayi; Ibunya.
Abner menyikut lengan Elgio. "Elgio ...."
"Mari kita pergi, Abner. Marya dan Maribella pasti gelisah menunggu kita." Melangkah dengan tatapan kosong, mereka berpapasan di tengah lorong. Sylvia terpana padanya mungkin saja seakan melihat jelmaan Leon Durante tetapi berlangsung secepat kilat. Elgio warisi ketampanan Ayahnya dan kesetiaan Leon. Meski tak pernah ingin bahas soal Ibu, Leon tak pernah menikah hingga pria itu wafat.
"Tuan Abner Luiz ... bagaimana keadaan Puteriku?" tanya si pria, Christian Hugo. Luna beruntung ayah tirinya tampak seperti ayah sungguhan.
"Luna sedang dalam ruangan operasi."
"Terima kasih, Tuan Abner." Christian bicara lagi sebelum menoleh pada Elgio Durante.
"Apakah Anda adalah pendonor bagi Puteriku, Tuan Durante? Kami dihubungi untuk cocokan darah tetapi tak ada satupun yang sama dengannya bahkan Ibunya. Lalu kami kembali dihubungi bahwa Anda punya golongan darah yang sama."
"Ya, telah kulakukan."
Christian mengangguk berterima kasih. Menepuk punggung Elgio pelan dan segera berlalu. Tinggalkan sang istri setelah mengelus tangan dalam genggaman berikan penguatan. Istri Christian Hugo tak mampu berkata-kata, memandang Elgio dengan ekspresi yang tak mampu dimaknai Elgio. Tak ada yang pernah menatapnya seperti itu selama ia hidup bahkan istrinya. Elgio segera abaikan. Bagaimanapun wanita ini telah membuangnya sejak ia lahir. Jadi, Elgio putuskan hanya akan miliki Leon Durante dalam hidupnya.
"Terima kasih," ujar sang wanita lambat, "kau selamatkan nyawa Luna."
Elgio mengangguk. Terdengar perih untuk diucapkan. Dua puluh tiga tahun yang panjang, ia baru tahu bahwa wanita di hadapannya adalah Ibunya.
"Ya, Nyonya. Luna adalah pegawaiku. Aku hanya jalankan kewajiban kepada karyawan terbaik. Terima kasih telah kirimkan Luna pada kami dan banyak membantu. Anda sudah di sini, aku harus segera pergi." Tersenyum tenangkan wanita yang terlihat tak beraturan akibat air mata. Ia tak tahu jika kata-katanya mungkin sakiti Sylvia sebab wanita itu terus saja berurai air mata.
"Kau persis Ayahmu," kata Sylvia semakin banyak air mata yang meluruh berguguran turun.
"Terima kasih. Aku adalah Putera Leon Durante, tentu saja aku mirip dengannya, Nyonya," sahut Elgio. "Baiklah, aku permisi. Waliku telah mengurus segala administrasi. Semoga Luna segera sembuh."
"Terima kasih."
"Harusnya, Anda tak mengirim Luna ke perusahaanku, kejadian buruk ini mungkin tak akan terjadi."
Elgio memilih pergi dari sana tanpa menoleh meski ia yakin dengar wanita itu menyebut nama "Lacielo" seperti inginkan ia tinggal lebih lama untuk dengar penjelasan.
Tak bisa ungkapkan bagaimana hatinya terlihat, tetapi Elgio berpikir untuk tidak mengubah apapun. Ia akan terus hidup sebagai yatim piatu. Hanya mengakui Reinha Durante sebagai adik perempuannya dan kedua pengasuhnya sebagai orang tua angkatnya.
Menunggu di mobil dengan pandangan kosong dan biarkan Tango bersiap di belakang kemudi, Elgio menyipit pada Abner.
"Abner, kau sungguhan tak tahu?"
"Aku menduga tapi aku abaikan. Maafkan aku," sahut Abner Luiz menengok Elgio Durante yang terguncang. "Maaf, tak sesuai harapanmu. Kau berharap aku adalah keluargamu, nyatanya aku hanya seorang sopir pengganti Elgio. Aku asisten pengganti Ebenn untuk Tuan Leon. Meski aku tak habis pikir mengapa Ayahmu percayakan hartanya yang luar biasa pada remaja berumur 17 tahun dan memintaku mendidikmu yang 11 tahun. Terdengar tak masuk akal tetapi nyatanya kita seperti itu."
"Ayahku punya insting tajam."
"Tidak cukup tajam untuk mengetahui bahwa beliau punya seorang Puteri."
"Mungkin Ayahku tahu tapi ia tak ingin perpanjang kasus."
"Elgio, aku tahu kau mungkin kuatirkan Luna tetapi adikmu yang lain sedang berada di Pesisir Timur untuk mencari suaminya."
"Reinha Durante lebih cocok jadi adik perempuanku," keluh Elgio benar-benar merindukan gadis itu. Pejamkan mata dan mengirim doa untuk Reinha. "Apa yang harus kulakukan?"
"Carlos bersamanya, tetapi lantas tak berhenti buatku kuatir. Ya Tuhan, gadis itu benar-benar bikin aku mati langkah. Bicaralah pada Carlos di telpon dan caritahu kabar Reinha. Aku harus lakukan sesuatu sore ini. Beberapa orang yang menyiksa Maribella bebas hari ini. Aku akan bikin perhitungan dengan mereka."
"Abner?!"
"Ikuti rapat dan selesaikan masalah, Elgio sambil terus memantau Reinha."
"Enya ... ya Tuhan ... jika suatu waktu si brengsek Luciano berani sakiti adikku, aku benar-benar akan lenyapkan berandalan itu!"
Mereka sampai di rumah sakit dan wajah Marya sumringah saat melihat Elgio. Abner masih harus beri instruksi ini itu pada Augusto, Tango juga Marco.
"Elgio, demi Tuhan, aku nyaris mati gelisah," seru Marya berlarian dan melompat seperti gadis kecil pada Elgio. Segera memeluk pria itu ketakutan.
"Hei hei, Tenanglah Marya! Kurasa kau harus kembali ke rumah, sebab aku harus ke kantor." Duduk di sofa biarkan Marya di lehernya.
"Elgio, aku akan temani Maribella di sini. Mengapa tak pindahkan Maribella ke rumah Elgio. Aku bisa merawatnya! Keadaannya mulai membaik." Meski terlihat sibuk bergelayutan pada Elgio. Marya menguping rencana Tuan Abner. Ia akan bertindak satu langkah di depan. Jika Tuan Abner akan bergerak untuk menculik ketiga orang itu nanti malam saat ketiganya pergi ke Pub untuk bersenang-senang, maka Marya akan menculik mereka di jalan. Targetnya adalah Angel Saclamente sebab wanita itu yang paling banyak lakukan kekerasan pada Maribella.
"Kita akan pergi ke Biara secepatnya untuk melihat, Reinha," ujar Elgio dan ingin lihat reaksi istrinya.
Marya menatap Elgio sebelum mengangguk. "Baiklah, Sayang. Mari kita pergi ke Biara besok dan bertemu Reinha."
****
Archilles berkendara pulang ke rumah sakit menjemput Nyonya Marya. Ia tak terluka tetapi tangannya sedikit sakit sebab si Egiana mirip Iguana menggigit tangannya hingga berdarah.
Ia akan menculik para tahanan dan bawa mereka ke suatu tempat atas instruksi Hellton agar Aruhi dapat lakukan sesuatu pada mereka tanpa timbulkan cedera. Hellton tak berharap Aruhi ikuti jejak mereka, tetapi gadis itu berjanji hanya akan berikan sedikit efek jera agar mereka tahu bahwa Maribella punya pelindung. Sekiranya, itu sebuah rencana yang disusun untuk menolong Marya, mempermudah gadis 17 tahun itu untuk balas dendam. Marya menunggunya. Matahari terbit lebih lambat, Marya naik ke mobil duduk dengan tenang di bangku belakang. Terkejut ketika Marya bicara dan mengubah rencana.
"Kau mungkin pikirkan metode penyiksaan pada mereka seperti yang dilakukan veteran. Atau perlakukan mereka seperti yang mereka lakukan pada Maribella. Tetapi, Archilles aku pikirkan sesuatu yang lain. Yang bisa lenyapkan mereka selamanya dari kehidupan ini," ujar Marya dan saat bicara, sorot matanya setajam Salsa Diomanta. Archilles entah mengapa tak suka tatapan itu, pria itu membungkuk.
"Apa yang ingin Anda lakukan, Nyonya!"
"Hubungi Angel Saclamente dan dua temannya, tuntun mereka padaku, Archilles. Reservasi untukku tempat di Burka Countenance Club'. Bawa mereka sebelum Tuan Abner. Dapatkan mereka untukku."
"Nyonya ...."
"Lakukan saja!"
"Baiklah."
Mengganti penampilan, mengubah riasan oleh seorang MUA terkenal, Marya menjiblak penampilan sempurna Cleopatra. Ia kemudian diantar ke club yang di maksud. Bukan sembarang klub. Tempat itu supermewah dan letak "tak biasa" sangat sulit diakses, hanya oleh yang benar-benar berduit, yang bisa injakan kaki di sana. Tersembunyi beberapa meter di bawah tanah, klub malam itu hanya terlihat seperti parkiran mobil pada umumnya. Namun, hanya miliarder yang bisa sambangi tempat itu. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.
Diomanta termasuk salah satu member klub. Keanggotaan Pub US$ 1,5 juta (21,6 milliar) per tahun untuk kelas VIP dan mendapat banyak hak layanan terbaik, fasilitas lengkap seperti bepergian dengan jet pribadi dan parkiran mobil mewah, Marya untuk pertama kali gunakan identitas Aruhi Diomanta agar bisa masuk ke sana.
"Nyonya ... kita sudah sampai. Apakah Anda yakin akan masuk sendirian?"
Marya mengangguk. "Apa mereka ada di dalam?"
"Belum Nyonya. Mereka tak bisa masuk tanpa jaminan dari Anda."
"Archilles, aku akan bekerja sendirian. Mari terus berkomunikasi. Pastikan saja, Elgio Durante tak tahu aku di sini. Juga, pastikan paket menunggu tuannya."
"Sedang dikerjakan, Nyonya! Tolong jaga diri, Anda!"
Marya si gadis setengah sosiofobia yang baru sembuh menahan debaran jantung yang akan meledak, bernapas berulang kali, untuk yakini dirinya sendiri.
"Apakah Anda baik-baik saja?"
Archilles lebih pikirkan keselamatan Marya dibanding nyawanya sendiri sebab ia yakin Elgio Durante akan menggantungnya hidup-hidup jika mereka ketahuan.
"Kau tahu Archilles, beberapa kejahatan yang menyerang kebaikan butuh untuk dibasmi. Aku akan mengirim mereka berdua ke neraka."
Marya turun dari mobil, melangkah di atas high heels sedang tubuhnya berbalut dress elegan yang dibuat oleh salah seorang perancang Italia untuk Ibunya. Ia menggesek ID Card dan dipersilahkan masuk oleh seorang pelayan Club', seorang pria yang lebih mirip model papan atas ketimbang pelayan Club'. Burka club seperti namanya sangat tertutup, cuma bisa diakses oleh pemimpin senior sebuah perusahaan, beberapa kalangan selebritas yang lolos seleksi dan pemimpin usaha lain yang sedang naik daun, Marya melangkah dengan pasti ke salah satu meja yang telah disiapkan untuknya. Suasana club' lengang. Dalam sehari mereka hanya layani 2 - 3 tamu. Tempat itu menjaga privasi tingkat tinggi tanpa kamera pengawas dan semboyan "diam adalah emas". Anda tak akan dapatkan informasi apapun dari pelayan club' yang selalu senyap. Pelayan dalam club itu dilarang bicara kecuali diajak bicara terlebih dahulu oleh tamu. Dan satu lagi, dalam ruang privasi yang berkelas, club' itu sangat rahasia.
"Nyonya Angelic ?!" sapa Angel melirik temannya Patricia saat mereka dipersilahkan masuk. Marya tak mampu tutupi mual dan rasa ingin muntah tetapi ia telah kadung jerumuskan dirinya pada dendam. Butuh melihat seberapa hebat otaknya yang jenius berikan pelajaran pada dua sampah di hadapannya.
"Ya, duduklah. Aku dapatkan rekomendasi dari seseorang bahwa Anda berdua bisa lakukan pekerjaan apapun untuk bayaran tinggi."
Satu yang dipelajari Marya dari Queen Mafia adalah to the point dan seperlunya.
Kedua wanita tampak mengerut, curiga padanya.
"The Boss need the Doctor! White flag to Indonesia and Singapura. Aku akan berikan Anda berdua 60.000 Euro saat Bos berhasil dapatkan Perawatan. Ditambah insentif dan banyak bonus saat kita kembali bertemu di sini setelah misi selesai."
Gunakan kode rahasia yang didapat dari Paman Hellton, Marya berhasil buat dua pelacur di depannya percaya bahwa ia adalah salah satu jaringan yang punya banyak uang.
"Itu terlalu murah tidak sepadan dengan resiko yang akan kami tanggung."
"Berapa yang kau inginkan?"
"100 ribu ...."
"65.000 ... " tolak Marya, "aku akan cari orang lain jika kita tak sepakat," tambahnya dengan kepercayaan diri luar biasa seakan nyawa Salsa Diomanta baru saja berhembus padanya.
"Apa saja yang harus kami kirimkan?"
"Wood Oily (istilah untuk g**nja cair yang disamarkan ke dalam minyak esensial), white flag (s***bu), dan sebuah koper black heart (kok****n campur padatan plastik hitam yang dibuat semirip dinding koper untuk kelabui pihak Bea Cukai). Aku tak ingin tahu bagaimana caranya kalian sampai di sana, oleh sebab itu aku pekerjakan kalian sebab aku tahu kalian sangat profesional. Aku akan bayar kalian dengan uang tunai. Setengah di depan dan sisanya saat Bos Hidup," ujar Marya meneguk minuman dengan gaya seorang wanita kelas atas, meniru keanggunan Ibunya. Menatap tajam kedua wanita di depannya, tak ingin kompromi.
"Dealing."
"Ingat bahwa saat kalian kepergok, aku cuci tangan! Itu aturan mainnya. Kalian bekerja sendiri tanpa Tuan. Jadi, berhati-hatilah! Ambillah paket di sebuah gudang kayu, di kitchen set nomer 15 dan 16. Hubungan kita putus saat keluar dari sini." Marya menunjuk gambar di ponsel. "Uang sudah ditaruh di salah satu mobil rusak 564 di bengkel tua, River Forrest. Silahkan hubungi seseorang untuk mengecek ke sana."
Keduanya mengangguk-angguk.
"Clear? Kita sepakat?" tanya Marya.
"Yes, Sihnorita."
"Silahkan pesan makanan dan minuman. Aku traktir!" ujar Marya sementara telapak tangannya telah berkeringat sangat banyak, menetes jatuh dari ujung jemari seperti keran tak tertutup.
"Apakah kehidupan di penjara menyenangkan?" tanya Marya mengorek informasi. "Sipir penjara beritahu aku, seorang wanita bernama Maribella yang disiksa di penjara beberapa waktu lalu oleh kalian bertiga, alami cedera serius pada kepala dan perutnya."
Angel tersenyum sakit. "Anda dekat juga dengan sipir penjara?"
"Ya, aku sering mengirim perintah untuk menyiksa banyak bebek yang tak pandai berenang di sisiku dan bisa buat aku kecipratan hingga basah," jawab Marya gunakan perumpamaan.
"B****tch. Wanita tua itu sangat terangsang melihat Maribella William dipukuli."
Temannya terkekeh. "Sayang sekali, dia keluar lebih cepat."
"Aku mengenalnya juga, Maribella William," kata Marya.
"Ya, dia pelayan rendahan di rumah Durante, racuni seorang karyawan dengan sianida. Kami beri dia pelajaran dengan sangat keras. Terlepas dari itu, aku sangat suka menyiksa seekor kelinci sama sepertimu," sahut Angel diikuti anggukan Patricia buktikan bahwa mereka psikopat.
"Senang satu sel dengan wanita-wanita lemah seperti Maribella, kuharap bisa berjumpa dengannya di luar penjara dan sedikit bersenang-senang! Kau tahu, aku ingin menculiknya dan menjerat lehernya sepanjang malam di tempat tidur lalu bercinta dengannya." Patricia menimpali dengan wajah mesum.
"Kalian boleh pakai seluruh fasilitas di sini!" ucap Marya tersenyum akhiri obrolan yang mengerikan itu. Keputusannya tepat. Ia mengepal tangannya kuat. Ingin hati melempar wajah di depannya dengan sesuatu.
"Apakah itu termasuk ruangan untuk bercinta?" tanya Patric duluan mendesah. Uh ah, mirip wanita hiper.
"Ya," angguk Marya.
"Patric, kau saja. Madam Angelic akan membayar pelayan pria yang di sana itu ... untukmu. Kau akan menyiksanya sebelum bercinta. Buat dia susah berjalan dan beritahu dia seberapa gairahnya jadi budak ******. Aku harus menemui pacarku." Angelica menunjuk salah seorang pelayan tampan yang tampak tersenyum saat dirinya ditunjuk.
"Oh yeah ..., " desis Patricia tirukan gaya seorang wanita yang sedang h**rny disambung tawa Angel, mengumpat penuh na***su hingga Marya bergidik tetapi hanya tersenyum kalem.
Begitulah akhirnya si pelacur itu pergi ke salah satu ruangan dan habiskan malam dengan pelayan pria sedang Angel masih bersenang-senang di meja itu.
Marya keluar dari club, masuk ke mobil dan minta Archilles pergi dari sana. Kembali minta Archilles berhenti di tepian jalan, turun dan muntah-muntah di sana. Ia merasa sangat jijik, perutnya mulas, kepalanya nyeri. Gadis itu menumpahkan seluruh isi minuman, padahal ia hanya minum sedikit untuk kelabui dua pelacur itu.
"Pakailah mantel hangat Anda, Nona dan masuklah. Angin malam sangat tak bagus untuk Anda. Kita sebaiknya segera pulang sebelum Tuan Elgio Durante kembali dari kantor."
"Baiklah. Pastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana, Archilles."
"Sudah dikerjakan, Nyonya!"
"Mereka tak akan lolos di Bandara Ngurah Rai oleh Bea Cukai. Kau tahu, Archilles, Indonesia juga Singapura, terapkan hukuman mati bagi pengedar nark***ba. Mereka akan ditangkap dan dijebloskan ke dalam sel."
Marya menarik napas panjang menatap dirinya di pantulan kaca mobil sementara malam mulai datang. Matanya bersinar sangat lembut dan halus. Archilles melirik Marya di spion mobil. Pada sorot mata kesakitan dan menderita itu. Merasa iba padanya dan berpikir harus beritahu Tuan Elgio Durante.
"Kau akan dengar kabar, mereka ditembak mati oleh barisan regu eksekusi seminggu dari sekarang."
***
Wait me up ....
Siapkan hatimu untuk chapter berikutnya. Please tinggalkan komentar wajib ditiap chapter dan like juga vote.
Cintai aku....