
"Mau bergabung?"
Bulan mendaki ke puncak langit, bercahaya indah dan saat menyentuh permukaan ilalang kering di sekitar danau, bayi-bayi spektrum kuning keemasan lahir di sana. Bayangan di ujung danau memantul indah, meliuk-liuk di air danau yang bergelombang. Angin menerpa dedaunan cemara depan pondokan hasilkan bunyi bak seribu jarum terjun di lantai keramik. Irama alam itu cepat menyatu dengan telinga Reinha Durante yang mengamati kekasihnya berendam di tepian danau.
Suara Francis dan para prajurit lain terdengar bersorak dekat api unggun. Mereka lantunkan lagu Despacito penuh semangat hingga lagu itu terdengar seperti hendak menantang para wanita untuk datangi mereka, dinyanyikan sembari memanggang daging. Pesta api unggun telah dimulai.
"Tidak," tolak Reinha.
Ia ingin bergabung tetapi ia tak suka danau sebab takut tenggelam. Sewaktu kecil, ia pernah kemping di tepi danau bersama kedua orangtuanya, tanpa sengaja ia tercebur ke danau dan nyaris tenggelam. Tubuh kecilnya tertarik hingga ke dasar danau dan akar-akar tanaman di dasar menjerat kakinya. Sungguh menakutkan. Sejak itu, ia tak suka danau. Ia hanya duduk di tepi dermaga dan kakinya bermain-main di air menyimak Lucky Luciano.
"Air danau cukup hangat ... Kemarilah! Kau tak mungkin bertukar gaun merah sementara bau-bauan lumut hutan menempel padamu?"
Ia segera merona mengingat peristiwa yang terjadi di hutan tadi.
"Tidak, terima kasih. Aku akan mandi dalam pondokan."
"Tak ada air di sana, kerannya macet."
"Benarkah?! Padahal aku berharap bisa berendam di sana dengan nyaman."
"Coba diperiksa kalau-kalau aku berbohong padamu."
Apakah ia akan pulang ke Durante Land dengan aroma hutan dan mendapat seribu pertanyaan dari kakaknya? Tubuhnya dihinggapi bau apek dan lembab, ia sendiri hampir muntah. Reinha menimang, apakah ia akan terjun ke danau dan bersama Lucky? Mereka mungkin akan mulai lagi menulis ayat-ayat ciuman, bait demi bait lalu akhirnya jadi sebuah prosa tanpa kata; hanya desahan. Prosa tanpa judul, tanpa lirik sebab itu yang mereka lakukan sedari tadi. Reinha merona lagi.
"Aku tak akan menyentuhmu. Aku janji." Pria itu pasti titisan lurus ahli nujum, bisa tahu pikiran orang.
"Itu bukanlah masalahnya," sahutnya. "Aku tak bisa berenang di danau."
"Mengapa?!"
"Hanya tak bisa saja, aku takut tenggelam."
Lucky berenang lincah, menari di air pamerkan lengan dan punggung seksi ... ya Tuhan, ia terus saja sekarat karena pria itu. Lucky mendekat padanya, ia menyembul di tepi dermaga, mengatur napas. Rambutnya basah, hitam mengkilap di bawah sinar bulan dan menutupi hampir separuh wajah. Reinha tergerak singkirkan helaian rambut hingga bisa melihat mata Lucky yang bersorot lembut saat menatapnya. Indah sekali dia. Reinha menunduk, kecanduan padanya. Jika suatu saat mereka berpisah ... semoga tak pernah terjadi ... Reinha tak yakin akan mencintai orang lain seperti yang dirasakannya pada Lucky Luciano, sebab hatinya telah jadi milik Lucky tanpa sisa. Jangan sampai terjadi, tidak akan terjadi.
"Aku akan memegangimu," ujar Lucky berat, melingkari lengan-lengan kokohnya di pinggang Reinha dan menarik Reinha turun ke air tanpa persetujuan. Lucky menahannya agar tetap berada di permukaan sementara Reinha berpegangan erat. Ia memeluknya antara takut tenggelam dan yang lain ... entah apa ....
Okay, Enya ... kau bisa mati karena terpesona padanya. Oh sial sekali kenapa harus jatuh cinta sampai kepayahan seperti ini?!
"Danau ini dangkal, kau tak perlu takut tenggelam."
"Kau benar dan aku justru tak suka itu."
Reinha merinding geli oleh kaki-kakinya yang serasa menginjak sesuatu yang licin. Ia memeluk Lucky lebih kuat, menendang-nendang air, ia bahkan telah melingkarkan kaki-kakinya di pinggang pria itu. Bayangan monster air yang menjulur seperti di film-film horor tiba-tiba menghantuinya.
"Eeeuuu, ini seram. Aku tidak mau mandi di danau ini. Kau bisa bantu aku keluar? Aku akan gunakan air mineral untuk mandi."
Lucky terkekeh, "Tidak, aku akan membuatmu tetap mengapung. Aku akan menggendongmu atau kau bisa naik di punggungku. Lagipula, kau bersamaku. Apakah kau akan menonton kekasihmu berendam sementara waktu kencan kita hampir habis."
Lucky memeluknya dan membawanya serta cebur ke bawah permukaan air. Benar kata Lucky, air danau terasa hangat mungkin karena mentari cerah menghangatkannya sepanjang hari. Dan bersama kekasihmu yang tampan di bawah permukaan air, kau tak perlu takutkan apapun, sungguh kenangan yang berkesan. Disertai riak-riak air di muka danau, mereka mengingat pertemuan di bawah bulan itu sebagai pertemuan yang paling bikin kecanduan.
"Aroma apa itu?!" tanya Reinha ketika mereka kembali mengapung. Ia merasa kelaparan. Tentu saja Berlarian di hutan dan berendam di danau, kombinasi tepat untuk lahirkan rasa lapar ditambah aroma lezat itu ... memancing liurnya.
"Daging panggang lada hitam, sedikit bawang putih mungkin ... " jawab Lucky.
"Kurasa waktunya makan malam."
Bukan makan malam romantis sebab Reinha akan makan bersama kekasihnya ditemani satu pasukan gangster. Lihat reaksi Elgio jika tahu ini tetapi lebih baik jika mereka cuma kencan berdua. Bisa jadi ... bisa jadi ... sesuatu....
"Em, tidak sekarang. Aku ingin bersamamu lebih lama lagi."
"Ini akan berakhir buruk ...."
"Siapa peduli?!"
Tentu saja ada yang peduli. Langkah kaki mendekat dan Francis berdiri di tepian dermaga, tidak enak mengganggu si Bos tetapi tidak punya pilihan lain.
"Maaf, Bos, bisakah kita makan sekarang? Kami sungguh kelaparan."
Lucky mengeluh tidak suka ada interupsi. Ia hanya ingin berduaan dengan Reinha.
"Kau bisa menahan lapar di hutan selama berhari-hari, mengapa hari ini kau cepat kelaparan? Mengganggu saja!"
Meski begitu ia membawa Reinha merapat ke dermaga dan mereka kembali ke pondokan untuk bertukar pakaian.
"Mau kubantu?" tanya Lucky ketika melihat Reinha kesulitan dengan kancing gaunnya.
"Em, ya ... " jawab Reinha ragu.
Lucky berdiri di belakangnya, tanpa sengaja menyentuh kulit halus hingga Reinha meremang. Pria itu menarik pelan resleting gaun dan memeluknya dari belakang setelah itu. Ia mendarat di tengkuk Reinha perlahan. Aroma Jasmine masih melekat di sana, ia menghirup dalam-dalam, seakan gadis itu memang terlahir dengan wewangian feminim itu.
"Aku akan menunjukanmu sesuatu." Pria itu memutar tubuh Reinha agar menghadap padanya.
Tak ada kata tersisa untuk diucapkan. Pria itu memakai singlet hingga Reinha tak melihat apapun. Saat dilepas, Reinha mati gaya. Dada pria itu tak lagi polos seperti terakhir yang ia lihat saat mengunjungi Puri Luciano untuk menghajar Lucky. Reinha menahan napas. Potret dirinya bersidekap dengan kedua tangan menyilang, rambut terurai dengan crown flower serta bola mata tajam terpampang di dada Lucky. Pria itu menambahkan dua sayap hingga ia terlihat bak peri. Masih terlihat bengkak, itu berarti masih baru. Mungkin baru semalam.
"Ini abadi, aku ingin kau bersamaku sepanjang waktu."
"Bagaimana jika kita tak berjodoh, kau mungkin menikahi wanita lain ... atau ...."
"Maka aku akan tersiksa sepanjang waktu karena menyimpanmu di sini."
Pria itu benar-benar mencintainya. Jemari Reinha menelusuri citra dirinya dan itu membuat Lucky Luciano berdiri kaku padahal Reinha bukan sengaja memancingnya. Ia berdebar-debar.
"Kau mencuri foto-ku?"
"Seorang pria menyimpan foto kekasihnya, itu bukan pencurian," katanya parau.
Mereka saling menerawang. Sepertinya akan mulai lagi ketika perut Reinha berdering nyaring seperti lonceng di jam menara Carmelito.
"Ups, aku lapar," kata Reinha menyengir. Ciuman tak membuatnya kenyang, ia harus lekas mengganjal perut.
"Baiklah, lagipula makanannya jadi tak enak jika dingin."
Mereka pergi keluar bergabung dekat perapian. Daging panggang begitu meleleh di mulut dan para gangster itu mulai minum wine. Francis menawarinya dengan sopan tetapi Lucky mengusirnya.
"Jangan beri padanya! Jangan sampai ia meracau nanti! Bisa gawat jika ia tak ingin kembali ke Durante Land. Aku bisa dibekuk oleh kakaknya yang sangat pemarah."
Reinha mencibir, "Aku juga tak suka minum."
Selesai makan mereka berdansa dengan tempo cepat, diiringi nyanyian acapella berirama tepuk tangan para pria itu. Keramaian yang berhasil memecah keheningan malam. Lucky menggiringnya berputar-putar di atas pasir danau, terkadang ia seolah dilempar ke udara sebelum didekap dengan erat dan mengelilingi api unggun hingga ia merasa akan tumpahkan semua isi perut. Pria itu juga bernyanyi lebih nyaring dari lainnya, hingga Reinha tersipu-sipu.
**I love you baby
and if it's quite alright
I need you baby
to warm the lonely night
I love you baby
Trust in me when I say
Oh pretty baby,
don't bring me down, I pray
Oh pretty baby
now that I found you, stay
Ander me love you, baby
Let me love you** ...
Reinha melirik jam dan berharap semua jam di Durante Land rusak agar ia bisa lebih lama lagi bersama Lucky. Semoga Marya bisa diandalkan, menahan Elgio lebih lama sampai ia kembali. Ketika waktunya hampir habis, Reinha mengecup jemari Lucky.
"Aku harus pulang sekarang ... " kata Reinha berat.
"Makasih untuk kencan yang luar biasa. Aku akan mengambil mantelku di dalam." Reinha melepaskan tangan Lucky dan masuk ke pondokan. Ia memakai mantel gundah gulana dan hendak keluar saat Francis dan Lucky terdengar bicara sangat serius.
"Bagaimana keadaanya?"
"Nona Queena baik-baik saja, Bos. Aku tak cukup yakin, ini sepertinya cukup membuat Nona Queena terguncang."
"Bisakah kau antar Nona Enya pulang ke Durante Land, aku harus kembali ke Puri!" Pria itu tiba-tiba gelisah dan terlihat frustasi sedang Reinha berdiri tegang di balik pintu.
Jangan pergi ... tolong ... jangan pergi ... Lucky tolong! Aku mohon ....
Hatinya terus berteriak-teriak. Ia ingin pergi keluar dan bilang "Lucky jangan pergi", alih-alih mendesah dari balik pintu.
"Tidak, Bos. Kurasa Anda harus mengantar Nona Reinha terlebih dahulu. Aku akan menunggu Anda di Puri."
"Baiklah."
Jawaban putus asa Lucky, dan Reinha menghembuskan napas lega, mengucap terima kasih pada Francis yang pengertian.
"Aku siap ...." Reinha bicara santai seakan tak menguping percakapan dua orang tadi.
Di sana akhirnya mereka, di rute perjalanan pulang menuju Durante Land sedang Lucky mengemudi dalam diam dan cukup mengebut. Ia terlihat ingin cepat-cepat sampai. Reinha meremas kedua tangannya sendiri membendung rasa aneh yang hinggap di relung hati. Satu kalimat. Ia cemburu pada Queena.
Lampu merah menyala. Lucky semakin tak sabaran membaca angka di traffic light seakan durasi jam tunggu traffic light selama 25 detik berganti lebih lambat dua kali lipat.
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Reinha lirih. "Apa aku perlu turun dan naik taxi?"
Reinha mulai suram. Seakan tersadar oleh sikap anehnya, Lucky berpaling pada Reinha. Gadis yang ditatap sengaja fokus bercermin pada kaca mobil. Rambutnya mulai mengering oleh angin dan bibirnya masih merah meskipun memudar. Ia mengambil lipstik dan memoles lagi.
"Lampu merah, mobil merah, gadis dengan bibir merah dan hati seorang pria yang memerah ... luar biasa." Pria itu tiba-tiba saja merengkuh Reinha dan menciumnya. "Delapan ayat ciuman cukup untuk sebuah prosa," katanya kemudian mendekap erat, menggenggam tangan Reinha. Pengendalian diri yang buruk.
"Maafkan aku, Enya. Aku harap kita bisa bersama lagi di akhir pekan. Queena sedang butuh aku."
***
Sementara Marya dan Elgio menghabiskan waktu di The Windows memilih banyak buku untuk dibeli. Marya memikirkan cara agar bisa menahan Elgio lebih lama di luar rumah sampai Reinha kembali ke Durante Land persis seperti permintaan Reinha.
"Ini hampir malam, ayo kita pulang!" ajak Elgio.
"Elgio, sepertinya kita harus ke Bridal lagi," kata Marya. "Nona asisten Bridal meminta kita mampir jika ada waktu. Mereka telah siapkan gaun lain seperti keinginan kita."
Marya fitting gaun seminggu lalu tetapi Elgio tak menyukai gaun itu karena terlalu terbuka.
"Baiklah."
Jadilah mereka berkendara ke Canal Supernova ke salah satu Bridal ternama di sana, La Bella. Bridal itu masih melayani customer hingga jauh malam di saat musim menikah. Marya pergi ke balik tirai dibantu seorang asisten Bridal, fitting gaun sedangkan Elgio menunggu di depan ruang ganti; menanti kejutan.
"Apa Anda siap?!" tanya asisten Bridal padanya. Marya mengangguk. Ia mematut diri di cermin, tak percaya itu dirinya. Sungguh cantik dalam balutan brocade lace motif daun yang sangat berkarakter.
"Semoga kekasihku menyukai ini, sebab aku jatuh cinta pada gaun ini. Bagusan ini daripada yang kemarin."
"Coba kita lihat reaksinya."
Tirai ditarik dan Marya terpampang seperti seorang bidadari cantik dengan gaun pengantin mermaid sederhana tetapi sangat elegan. Kebanyakan pria saat melihat gadisnya dalam gaun pengantin adalah terpana tanpa senyuman. Raut Elgio seperti itu, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku suka ... gaunnya sangat sopan," kata Elgio penuh cinta. Pria itu selalu begitu, sangat romantis. Ia terlihat seperti ingin pergi ke altar saat ini juga dengan Marya. "Kau tahu Padre Pio tak akan memberkati pengantin yang pakaiannya terlalu terbuka. Ini sangat pas."
"Jadi, kita pilih yang ini?" tanya Marya bersinar cemerlang di bawah lampu ruangan.
"Ya ...."
Mereka keluar dari Bridal dengan dress bag dan Marya melirik jam, semoga Reinha sudah kembali ke rumah. Tadi di kamar saat membantu Reinha yang hendak berkencan, ia dimintai tolong untuk mengajak Elgio bepergian sebab Reinha ingin habiskan waktu lebih lama bersama Lucky. Ini kedua kalinya setelah Minggu lalu demi Reinha, Marya membuat pemilik Bridal pusing setelah mencoba banyak gaun dan menolak semuanya hanya agar bisa lebih lama menahan Elgio di luar rumah. Kali ini, apa yang harus ia lakukan?! Ia belum terima pesan dari Reinha, apakah gadis itu telah kembali pulang atau belum?
"Kau terlihat sangat gelisah, mi amor. Apakah sesuatu terjadi?!"
"Ti, ti- dak, ada Elgio."
Marya hembuskan napas berat. Ia ingin memijat kepala yang mulai pening tetapi takut Elgio malah kuatir dan membawanya pulang ke rumah. Permintaan Reinha cuma satu, menahan Elgio di luar sampai ia kembali. Semoga Reinha tak lupa waktu. Langit menggelap di atas sana.
"Kau terlihat sangat gelisah?"
"Itu karena aku ingin makan sesuatu, Elgio."
"Makan sesuatu?!" tanya Elgio heran. Ia membuka pintu mobil dan menggiring Marya masuk.
"Ya ... "
"Baiklah, mari pulang ke rumah dan makan sesuatu yang kau mau itu."
"Makanan itu tak bisa dibuatkan oleh Bibi Mai," kata Marya. Elgio memandang Marya keheranan.
"Aku ingin tahu, makanan apa yang tidak bisa dimasak oleh pengasuh kita yang hebat itu?" Herannya tak hilang.
"Makanan terenak no.1 di dunia, aku melihatnya tadi siang di kantin sekolah, saat menonton acara spot kuliner di Televisi," kata Marya.
"Rendang?!" tebak Elgio. Ia sering ke Indonesia dan cukup tahu banyak hal tentang Rendang bahkan pernah cicipi. "Honey?! Are you okay?" tanya Elgio cemas. Ia tak pernah tidur dengan Marya, mengapa gadis itu tiba-tiba ingin makanan yang kemungkinan besar tidak bisa ditemukan di wilayah ini?
"Aku sangat ingin, Elgio."
"Mau makan di The Blue Ocean?! Chef yang baru menciptakan menu-menu baru yang bisa membuatmu ketagihan. Hm?! Aku bisa reservasi sekarang jika kamu mau?"
"Tidak Elgio, aku ingin Rendang."
"Baiklah, coba lihat di google maps mungkinkah ada Restoran Indonesia di sekitar sini?"
Meskipun Negara ini dan Indonesia punya hubungan sejarah panjang tetapi Elgio tak pernah dengar ada Restoran Indonesia di wilayah tempat tinggalnya yang terpencil ini, berbeda jika mereka di Civic Center, ada restoran Indonesia di sana. Mereka tak mungkin pergi ke Civic Center malam-malam begini. Apakah mereka ke supermarket saja untuk mencari Rendang? Elgio menelpon Abner setelah tidak temukan petunjuk di google maps.
"Marya ingin makan Rendang, kau tahu, dari Indonesia."
"Ya Tuhan, kau membuatnya hamil Elgio?" Abner memekik dari seberang hingga Elgio terpaksa jauhkan ponsel dari telinga. "Cepatlah kembali ke rumah, kau harus berjalan dengan lututmu dari depan gerbang Paviliun. Aku akan menggantungmu di balkon dengan kain sprei."
"Tidak lucu, Abner!"
Sementara Elgio sibuk dengan Rendang, Marya sibuk mengirim pesan pada Augusto.
💌 Apa Nona Reinha sudah kembali?
Satu pesan balasan dari Augusto.
💌 Sudah Nona Marya.
Sudah kembali kenapa tak memberinya kabar?
Apa yang telah dilakukan Augusto? Marya sampai-sampai terlihat seperti orang ngidam karena hanya itu ide yang terlintas di benaknya. Maksudnya agar mereka berkeliling mencari Rendang.
Ia tak mungkin mengajak Elgio ke pantai. Mereka ada di dataran tinggi berjarak ribuan Mill dari pantai. Harusnya ia mencoba semua gaun di Bridal seperti kemarin tetapi mencoba satu sudah cukup membuatnya sesak napas, lagipula ia terlihat mirip "Nona Banyak Mau" jika lakukan hal itu lagi.
Harusnya ia mengajak Elgio makan di restoran. Mengapa tak terpikirkan tadi?
"Eh Elgio, kita bisa menunda mencari Rendang besok."
"Tidak apa Marya, jika kau sangat ingin." Elgio sibuk dengan ponselnya dan ia berseru beberapa menit kemudian, "Yes, aku temukan Rendang yang kau cari, Marya," kata Elgio bersemangat.
"Eh?! Di mana?!"
"Suster Zelinda baru kembali dari kampung halamannya di Indonesia. Ia punya rendang kaleng dan bersedia membagikannya pada kita."
Ternyata beberapa kilometer dari Durante Land, seseorang punya Rendang kaleng.
"Apa kau sangat ingin? Kita mungkin akan mengganggu, malam-malam begini. Bagaimana kalau kita berkunjung ke sana pagi-pagi?! Kebetulan kita akan menemui seorang pelukis di sana."
***
Sepertinya ada banyak tipooo di sini. Aku nulisnya lumayan buru-buru sebab sibuk seharian. Beritahu aku ya.
Apakah Readers suka chapter ini? Beritahu Author, ya.