
Abner tak bisa tidur, ia menunggu pagi dan saat dapur dibuka, pria itu buru-buru ke kamar mandi rapikan diri dan menunggu selama 15 menit sebelum turun ke dapur. Bisa ditebak, pria itu ingin berduaan dengan Maribella.
"Apakah Anda hendak pergi jogging, Tuan?" tanya Maribella keheranan saat Abner muncul di dapur tak gunakan kostum sport. Maribella sendiri telah ber-celemek dengan sedikit coretan putih tepung yang menempel dan Natalea stand by di samping Maribella seraya ikuti sejumlah arahan halus dan lembut Maribella. Kedua wanita telah hasilkan banyak penekuk dan Maribella perhatikan Natalea saat ia buatkan saos caramel, berusaha tak terciduk sedang curi-curi pandang pada Abner.
"Tidak, Mai. Aku akan temani kau buat sarapan."
Rupanya perkataan Maribella soal impian untuk bersama Hansel di dapur sepanjang hari dan buatkan makanan, sedikit banyak beri informasi pada Abner tentang keinginan Maribella. Cobalah diterapkan pada mereka berdua, sepertinya akan sangat romantis dan semoga berakhir habis-habisan di suatu tempat. Pikir pria yang mulai melankolis itu.
"Natalea," panggil Abner pada gadis muda di sebelah Maribella.
"Berapa usiamu?"
"20 tahun, Tuan."
"Tidak sekolah? Menikahi Augusto di usia muda?" tanya Abner mengernyit.
"Saya lulus Sekolah Menengah Atas dan tidak ingin pergi kuliah," jawab Natalea pelan.
"Baiklah, kita akan mengobrol nanti. Kembalilah ke hunian-mu dan bereskan pekerjaan yang masih tertunda. Aku dengar Augusto belum selesai beres-beres. Biar aku saja yang jadi asisten Maribella, pagi ini. Hmm?"
Natalea mengangguk patuh, "Baik, Tuan Abner."
"Kembalilah kemari bersama Augusto untuk sarapan," perintah Abner lagi.
"Baik, Tuan Abner."
Natalea menghilang ke belakang. Dilly menyalak saat Natalea lewat. Sepertinya anjing itu belum terbiasa dengan Natalea.
"Apa Anda serius akan jadi asisten-ku hari ini, Tuan Abner Luiz?" tanya Maribella berupaya tidak grogi. Seumur-umur baru hari ini, Abner Luiz temani dirinya di dapur dan di pagi yang senyap dan hening.
"Berhentilah mengolok-olok aku dengan 'Tuan' juga 'Anda', Mai!" Abner tiba-tiba membungkuk dan mengecup bibir Maribella kilat sebelum pakai celemek. Maribella terperanjat. Ya, tepat sekali, segala sesuatu telah dimulai.
"Kupikir, kau hendak pergi jogging?" Maribella berubah salah tingkah. Serangan fajar dilancarkan langsung pada sasaran. Dan pria itu luar biasa tampan saat pakai celemek dan menggulung kemeja. Apakah mereka akan bersentuhan dengan intim di dapur? Oh, tidak. Maribella miringkan leher selidiki Abner lalu ke pintu dapur. Mereka mungkin akan kepergok lagi seperti semalam.
"Tidak, mari buatkan sarapan untuk para bocah," jawab Abner kaburkan lamunan Maribel. "Apakah tidur Reinha nyenyak?" tanya Abner penuh iba, menarik napas kuat-kuat. Abner berharap Reinha dapatkan seseorang seperti Elgio Durante tetapi gadis itu memilih gangster tipe Lucky Luciano. Ia harus secepatnya cari kabar soal Lucky atau Reinha akan terus uring-uringan.
"Tidak, ia terus gelisah. Berjanjilah untuk cari kabar hari ini soal Tuan Lucky, Abner. Reinha sangat gelisah. Aku tak tahan melihatnya," guman Maribella.
"Ya, Mai ... akan aku lakukan itu. Jangan cemas!"
Maribella kembali dengan adonan pancake yang tersisa dan Abner di sisinya. Maribella serahkan pada Abner untuk segera diselesaikan. Dalam balutan sweater pas badan dan tubuh yang terawat baik, em, Maribella hempaskan napas berat. Kedip-kedipkan mata untuk mengusir pikiran yang tidak-tidak. Ya ampun, apakah ini yang namanya jatuh cinta? Ia pernah melihat Marya juga Reinha mabuk cinta dan apakah kini akan menimpa dirinya?
"Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan," gumannya tanpa sadar.
"Maribella?" tegur Abner heran lihat Maribella bergidik ngeri.
"Oh, tolong bantu aku selesaikan dadarnya. Aku akan siapkan adonan roti," kata Maribella gugup mulai mengaduk air hangat dan sedikit bibit roti, cegah pikirannya mengapung ke mana-mana.
"Mai, kurasa, aku hanya ingin berduaan denganmu hari ini. Aku tak ingin pergi ke kantor." Abner tiba-tiba saja berucap, tuangkan satu cup kecil adonan di atas pan.
Maribella berhenti mengaduk adonan dan menoleh pada Abner. Sedang Abner kembali pada dadar, memarut apel untuk mengisi dadar yang masih setengah kering sebelum menggulung dengan rapi gunakan sumpit. Maribella lekas terpesona, padahal pria itu jarang di dapur.
"Pergilah bekerja dan kita akan bersama sepanjang hari di akhir pekan," kata Maribella.
"Kurasa tidak, aku ingin bersamamu." Abner memaksa Maribella berhenti, menatap padanya. Oh bahaya, dia mulai mabuk kepayang lagi. Bukan cuma Abner, mereka berdua mulai terjerat, tinggal menunggu siapa yang akan lebih dulu ambil alih kemudi.
"Tuan Abner, wajahmu sungguh tampan di pagi hari," keluh Maribella. Apa pria itu sengaja berpenampilan seksi untuk memikatnya?
"Aku hanya malas bercukur," jawab Abner saat Maribella meneguk liur susah payah, kembali pada adonan roti, Abner tak lepas pandangi Maribella.
Yang dipandang pura-pura sibuk berharap tak terpancing sebab jika tidak, sesuatu akan segera terjadi. Maribella menutup adonan dengan serbet, ambil alih adonan pancake dari tangan Abner, tuangkan adonan ke atas pan panas dan taburi parutan mentimun di atasnya saat dadar setengah kering sebelum menggulung dadar tersebut. Adonan terakhir dalam pan, kesabaran Abner menipis. Maribella lebih lezat dari potongan pancakes yang dicelup ke dalam saos caramel dan tanpa menunda gairahnya pada Maribella, Abner serta merta merenggut Maribella ke dalam pelukannya.
"Kau manis sekali, Maribella," bisik Abner mengecup Maribella, sengaja rintangi pandangan sang wanita dari pan.
"Aku harus awasi pan, Tuan. Jika tidak bisa gosong. Lagipula aku ingin buatkan roti panggang topping avocado untuk Marya. Kurasa sebentar lagi me ...."
Satu ciuman dan ocehan Maribella berhenti.
"Aroma manis," kata Abner sukai pagi itu dan mulai mencumbu Maribella.
"Dadarnya bisa gosong, Abner!" keluh Maribella berusaha menengok pan.
Abner matikan api, menggendong Maribella dan mulai kacaukan sang wanita dengan ciuman panjang yang mendesak. Sepertinya pria itu baru akan puas jika saja hasrat bercumbunya terpenuhi. Telusuri tangan Maribella dan kaitkan di tengkuknya, mereka benar-benar awali pagi dengan ciuman yang menderu-deru.
"Abner bagaimana kalau anak-anak sudah bangun dan ...."
"Tidak akan," sahut Abner menaruh Maribella di kursi dekat meja dan mereka mulai lagi seakan tak ingin berhenti. Telapak tangan si pria di leher si wanita dengan jempol sibuk mengelus rahang Maribella yang mulai tersihir oleh rayuan maut bibir si pria.
"Maribella, apa Abner sudah lebih ...." Elgio Durante muncul di dapur dengan pakaian olahraga hanya untuk terkena lemparan keras.
Alas kaki bergerigi melayang cepat ke arah Elgio dan Elgio terlambat mengelak. Benda itu menghantam lengannya.
Plaaakkk !!!
"Aaawhhh ... apa ini?" pekik Elgio kesakitan.
Abner Luiz ternyata telah siapkan senjata seakan bisa menebak peristiwa di mana Elgio mungkin saja merusuh tanpa sengaja. Ternyata prediksinya tak meleset. Jadi ia bergerak sangat cepat, kembali lemparkan sebelah alas kaki lainnya. Sandal kesehatan yang sangat berat terbuat dari kayu terbang pada Elgio.
"Aaawwwhhh, Ya Tuhan, apa salahku?" keluh Elgio saat benda keras itu menghantam perutnya.
"Go out right now, Bocah Nakal! Cukup dua kali Elgio, tidak ada yang ketiga kalinya. Pergi sana!" usir Abner dengan napas memburu akibat ciuman yang bergairah juga kesal lantaran kesenangannya terjeda.
Maribella menjauh. "Abner?! Apa yang kau lakukan?" tanya Maribella.
"Sssshhh, jangan ikut campur Maribella. Ini urusanku dengannya!"
"Memangnya aku sengaja kemari dan tahu kau sedang rajin di dapur pagi ini? Kupikir kau tinggalkan aku duluan ke Broken Boulivard? Aku kemari karena ingin minum air dan ingin bertanya pada Maribella." Elgio mendelik pada Abner, mengusap lengan yang sakit.
"Lima langkah kau maju, Elgio Durante, aku akan lempari-mu dengan tutupan panci, selusin piring, 5 lusin cangkir, wajan dan akan berhenti saat kepalamu berlubang!"
"Sadis sekali kau, Bung! Berhenti marah-marah! Aku akan minum air keran di taman bunga saja. Silahkan kau mesum di dapur, Abner Luiz! Tingkatkan keahlianmu!" ejek Elgio segera ambil langkah seribu sebab Abner sungguhan pegangi tutupan panci hendak melemparinya.
"Aku akan joging dengan Dilly dan Azel," teriak Elgio dari luar.
"Abner?! Tuan Muda hanya ...."
"Oh yang benar saja, lihat kelakuannya!"
"Jadi, di mana mestinya kita berciuman, Maribella?" Abner menyipit.
Tanpa menunggu jawaban, Abner membawa Maribella keluar dari dapur pergi ke hunian wanita itu. Ada celah yang bagus untuk berduaan. Elgio akan putari lintasan lima kali putaran penuh. Itu berarti pria itu akan ada di Broken Boulivard selama 45 menit lebih. Abner pikir waktunya cukup untuk berduaan dengan Maribella.
"Ya Tuhan, ini tidak benar! Aku sedang buatkan anak-anak sarapan," keluh Maribella terantuk-antuk di belakang Abner.
"Sebentar saja!" bujuk Abner menggendong Maribella ke dalam hunian.
"Hentikan! Anda keterlaluan, Tuan!" tegur Maribella saat pintu tertutup di belakang mereka. Mungkin bicara formal bisa menampar otak Abner Luiz yang tertutup kabut tebal.
Azel, si kucing yang suka kerjain Maribella, begitu bahagia temukan dapur sepi lengang tanpa Maribella. Pintu dapur menganga dan aroma susu yang lezat melambai-lambai bangkitkan 9 nyawa Azel hingga terpanggil. Si kucing mengendap-endap ke dapur, sukai aroma penekuk yang lezat, tanpa aba-aba segera berburu. Seperti surga, ada telur, ada roti, ada banyak makanan.
"Apa dayaku?" gerutu Abner benar-benar lupakan dua prinsip radikal-nya soal bercinta.
Tak butuh kelanjutannya? Atau mungkin perlu ya?
Kedua manusia oleh hasrat terselubung bak es di kutub Utara, mencair dengan cepat, mereka benar-benar akan jelang pagi dengan berbagi hasrat yang pending berkali-kali. Agak terburu-buru, seakan takut Elgio kembali dan mericuh. Belakangan Elgio Durante bak CCTV berjalan. Abner menarik lepas celemek Maribella sebab ia berasa berciuman dengan satu karung terigu akibat aroma debu tepung yang melengket di celemek Maribella.
"Oh ya Tuhan, kurasa sebaiknya kita menikah dulu!" kata Maribella terengah-engah oleh parade kecupan panjang yang berubah jadi demonstrasi ciuman kacau-balau sebab Abner tak ingin taat protokol.
"Begitukah? Kurasa sepasang kekasih tak masalah dengan ciuman dan cumbuan di pagi hari. Bisa tingkatkan imun tubuh, meredam stress dan menunda penuaan dini," sahut Abner mulai persuasif. Disangkanya Maribella salah satu klien, prospek ideal yang harus terus di follow-up agar segera bergabung jadi partner. Abner malah mulai lancarkan sedikit gombalan akibat kasmaran berat pada Maribella hingga si wanita goyah.
Ya Tuhan, Ya Tuhan, Ya Tuhan ....
Tak lama berselang Elgio Durante kembali, berlari sendirian tak seru. Bersama Abner mereka bisa lakukan sambil saling mengolok, lagipula pagi terasa cepat sekali datang. Elgio Durante tak berani pergi ke dapur takut dilempari Abner dengan meja dapur. Siapa tahu setelah mencumbu Maribella, Abner dianugerahi kekuatan bak Samson dan bersiap hancurkan kepalanya? Lebih baik ia tak coba mengintip. Biarkan saja Abner selesai dengan hasrat tertunda.
"Sampai nanti, Dilly!"
Elgio terus ke kamar untuk mandi, bantu Marya bersiap dan harus bergegas ke kantor. Sedang Dilly pergi ke dapur. Segera menggonggong senang, kibaskan ekor saat lihat Azel dengan perut mengembung hancurkan dapur. Kedua hewan kemudian kuasai dapur pagi itu sementara empunya dapur terkunci dalam lengan-lengan oleh seorang pria yang berubah penuh gelora membara.
"Abner, bisakah kendalikan dirimu?"
"Tidak Mai. Aku terkena kutukan Elgio Durante. Pria itu pernah bersumpah serapah bahwa saat aku jatuh cinta, aku akan lebih parah darinya. Sial sekali, Bocah itu benar," sahut Abner, dapati dirinya tak mampu berhenti inginkan Maribella. Semakin ditolak, kepalanya semakin pening.
"Tapi anak-anak harus sarapan sebentar lagi," sahut Maribella coba waras, tak menyangka Abner akan kelewat menggila. Pria itu lepaskan sweater sisakan kaos ketat yang buat Maribella kehilangan kata-kata. Makin parah saja.
"Abner?! Ku,ku,rasa, mari berhenti!"
"Hmmm, ya, setelah ini!" balas Abner lepaskan kancing sweater Maribella tanpa berhenti mencumbu Maribella yang lekas hanyut oleh aksinya. Abner kembali menggendong sang wanita berpindah ke ruangan bagian dalam, ke kamar Maribella dan ya begitulah. Kaosnya telah hilang dan Maribella merem melek sejak tadi oleh buaian panas. Oh astaga. Pakaiannya lenyap dan mereka benar-benar akan mulai sesi bercinta yang panas.
"Oh tidak, Maribella sadarlah!"
Sementara Elgio, Marya dan Reinha menunggu di ruang makan, menyangga dagu. Lima menit berlalu, tak ada tanda-tanda meja akan terisi piring dan mangkuk sarapan. Elgio periksa jam, 10 menit berlalu. Tak terdengar bunyi dentingan piring.
"Eh?!" Reinha keheranan. Bangkit berdiri dan hendak pergi ke dapur.
"Enya, diam di tempatmu!" seru Elgio menahan langkah Reinha.
"Em, kenapa memangnya, Kak?"
"Duduk saja! Nanti sarapanmu dibawa!" Elgio lambaikan tangannya. Tak mungkin katakan pada Reinha akan melihat pemandangan ajaib di dapur. Atau, apakah Abner bawa Maribella pindah lokasi syuting?
"Tetapi aku menangkap suara Dilly dan Azel di dapur, Kak," bantah Reinha terus ke dapur. Gadis itu lantas terbelalak dan menganga sempurna. "Oh My God ...."
"Ada apa, Enya?" tanya Elgio. Marya penasaran ikutan Reinha pergi ke dapur. "Kau melihat sesuatu? Sudah kubilang tak usah ke sana!"
Apakah walinya benaran mesum di dapur? Oh, Abner Luiz, lihat saja kau nanti.
"Apa yang terjadi di dapur?" tanya Marya dan ikutan tercengang saat melongok ke dapur.
Akhirnya sambil waspada, Elgio Durante ikutan ke dapur. Pria itu segera menggeram. Kedua walinya tak lagi di dapur, mereka mungkin sudah beralih ke ....?!
Ranjang?! Pagi begini?! Yang benar saja?! Tidak heran kalau Abner yang buat keputusan. Elgio geleng-geleng. Apakah ia perlu mengambil pengeras suara dan teriaki Abner? Pria itu pasti di hunian Maribella dan sedang berakrobat.
Oleh produksi hawa liar dalam daging, orang bisa lupa diri, turuti dakwaan jasmani, Itulah yang terjadi.
"Maribella Williams, kurasa inilah waktunya aku memilikimu," kata Abner berbisik lembut di telinga Maribella berisi kedalaman emosi membiru. Irama yang memabukkan akan dimulai dan Maribella separuh jalan terserap godaan. Ini hal yang indah tetapi ia sungguh gelisah. Abner baru saja ancang-ancang saat Maribella menahan tubuh pria itu.
"Abner, kurasa terjadi sesuatu," kata Maribella terbata-bata.
Kegaduhan terdengar dari arah dapur. Anjing menyalak, kucing mengeong dan suara hardikan Elgio Durante begitu sangat mengganggu diikuti jeritan Reinha juga Marya.
"Oh, apa lagi sekarang?" keluh Abner. Ia akan menculik Maribella nanti malam dan sembunyikan wanitanya di apartemen.
Maribella langsung mangap-mangap. "Abner, kita tak menutup pintu dapur tadi. Apakah, apakah, apakah ... Oh, matilah aku."
Maribella menolak Abner keras hingga pria itu nyaris terjungkang dari atas ranjang. Buru-buru berpakaian bahkan tak periksa lagi kalau kancing dressnya kelewatan satu baris hingga tampak sangat aneh untuk dilihat. Maribella berlari ke dapur seolah-olah telah terjadi kebakaran hebat. Abner Luiz tergopoh-gopoh di belakang Maribella. Mereka saling melongo dipintu dapur. Azel mencuri penekuk dan Dilly menunggu di bawah meja. Susu tumpah ruah, isi telur berhamburan di segala penjuru dapur dan tepung-tepung berserakan.
"Maribella, tak usah kuatir, kami akan sarapan di kantin sekolah!" kata Marya diikuti anggukan lesu Reinha.
Untuk pertama kali dalam hidup, warga Durante tak sarapan, dikarenakan para wali mereka sibuk memadu cinta di pagi hari hingga sarapan mereka dihabisi Dilly dan Azel.
"Abner Luiz, kurasa kau tak perlu ke kantor. Bagaimana kalau kalian berdua perbaiki hunian Maribella, ganti dengan cat warna merah muda? Kuharap kalian berdua miliki quality time. Ya Tuhan, kalian berdua sungguh menakutkan," keluh Elgio menatap Abner tajam sedang Maribella masih syok.
"Em, tidak. Aku akan menyusulmu ke kantor," tolak Abner.
"Oh, yang benar saja," ujar Elgio. "Selesaikan urusanmu, Abner. Kau sungguhan mirip maniak dan itu buatku cemas. Sebaiknya nikahi Maribella dalam waktu dekat! Temui Padre Pio hari ini dan lihat jadwalnya. Kurasa, kalian perlu menikah besok pagi."
Elgio berbalik pergi, seakan teringat sesuatu, Elgio menoleh pada Abner yang melirik Maribella cemas sebab Maribella kedapatan seakan ingin menggaruk wajah Abner dengan garpu. Elgio mengernyit.
"Abner Luiz?!"
"A,a,aapa lagi? Apa lagi?"
"Apakah model sweater terbaru memang macam begitu? Terbalik dalam keluar?"
***
Kutukan Elgio Durante untuk Abner Luiz itu ada di chapter 30 kalau tidak salah.
Aku selalu cintai sesuatu yang autentik dan mengutuk semua bentuk plagiat. Sebab tuangkan ide dalam kata bukanlah hal yang mudah. Jadi peniruan sebuah karya benar-benar bentuk kemunduran imajinasi.
Cintai aku ....