
"Pequeena?!"
Elleanor Mendeleya memekik senang saat temukan Queena di ruang tamu rumahnya.
"Ellen ... ?!"
Keduanya saling lebarkan tangan dan berhamburan saling memeluk. Lama tak jumpa sebab Elleanor habiskan waktunya di Swiss, di Webster Geneva, yang merupakan episentrum urusan international sedang Quuena sibuk dengan sekolah kedokteran, pertemuan persepupuan benar-benar bawa kecerahan di hati keduanya.
"How I miss you, My Dear Queen!" ujar Elleanor. "Oh, aku tak dengar kabarmu beberapa waktu ini. Kemana saja kamu? Apa yang kamu lakukan?"
Queena mengangkat bahu. Keluarganya tak tahu bahwa ia diculik, dinodai lalu hamil bahkan pamannya yang walikota mungkin tak tahu. Atau beliau tahu tapi tidak mampu bertindak. Apalagi jika keputusan melibatkan Ibu Rosana.
Jeremy tersenyum senang perhatikan puteri dan ponakan yang berseri-seri berbanding terbalik dengan Nyonya Rosana, istri Pak Walikota. Seperti namanya, wanita itu cantik bak mawar yang mekar dengan anggun. Ia menengok Jeremy Mendeleya terselip mimik kecewa. Begitupula pada tingkah Elleanor yang persis remaja 15 tahun bertemu sahabat lama, lupakan segala keanggunan dan sopan santun.
"Bawa Queena ke kamarnya Ellen! Queena akan tinggal di sini sementara waktu."
"Tentu saja, Dad. Bye Mam. Oh, ini sungguh kejutan menyenangkan. Kau ingat terakhir kali kita tidur bersama? Usia kita 16 tahun dan kita menyukai Jason Cassano yang introvert dan pria itu telah jadi Dokter bedah hebat. Ei ei, kuharap kita bisa lakukan banyak hal berdua. Ceritakan padaku tentangmu Pequeena Mendeleya! Apa kau punya kekasih?"
Suara Elleanor berisik sembari mendorong Queena pergi ke kamar. Meski telah menjauh, baik Jeremy dan Rosana masih dengar keceriaan gadis itu.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Kita tak bisa berurusan dengan Viktor Mendeleya atau keluarganya saat ini. Kamu tahu bahwa kamu terus saja disorot dan gerak-gerikmu dipantau."
"Rosana, aku tak mungkin biarkan Queena berkeliaran di luar sana sendirian. Ia kehilangan orang tuanya."
"Well, kamu tak harus bawa gadis itu kemari! Kita akan menerima Nyonya Rocco Anthony sebagai besan kita, bagaimana reaksinya jika melihat Piqueena? Suaminya terbunuh oleh Viktor Mendeleya!"
"Apakah pria di kota ini telah habis? Bukankah dengan menerima Axel Anthony jadi menantu di rumah ini, kita akan terlibat dengan mafia? Kamu lupa Rocco Anthony adalah mafia."
"Mantan Mafia," geleng Rosana. "Axel Anthony bukan Mafia dan tidak pernah jadi mafia. Perusahaannya adalah perusahaan baja number one di wilayah bagian ini dan baik Axel maupun Rocco telah banyak menolong pemerintahanmu. Berkat Rocco bekerja sama denganmu, kamu bisa meringkus banyak ketua gangster dan Tetua mafia termasuk kakakmu. Banyak kasus kejahatan bawah tanah terbongkar."
"Rosana ... " keluh Jeremy. Meski Viktor penjahat, tetapi pria itu kakaknya. Berkat Viktor, ia jadi walikota kendati akhirnya ia harus bayar mahal dengan berjuang mati-matian buktikan bahwa ia tak berurusan dengan Mafia, dengan kakaknya sekalipun.
"Axel akan melamar Elleanor dua hari lagi. Temukan tempat yang tepat untuk Queena. Kamu tak bisa biarkan gadis itu di sini, Jeremy!"
Sementara Rosana pengaruhi Jeremy Mendeleya, Queena dan Elleanor di kamar mengobrol banyak hal.
"Apa kamu seheboh ini?" tanya Queena tersenyum, duduk di sisi ranjang.
"Tidak, aku sangat gembira melihatmu. Kau tahu bahwa Adelaide sibuk kuliah, aku harus terus belajar banyak International Relationship, diplomasi, politik, bisnis dan banyak hal lain hingga otakku penuh sesak," keluh Elleanor.
"I got it," sahut Queena. Punya ibunda superior seperti Nyonya Rosana, Queena yakin Elleanor harus bekerja maksimal. Berbeda dengan Brigitta-nya yang sederhana.
"Apakah kamu masih magang di rumah sakit yang sama dengan Jason?"
"Tidak, aku pengangguran," sahut Queena pikirkan tawaran Anna untuk bekerja di klinik dengan Anna.
"Kamu akan tinggal saat aku dilamar-kan?"
"Dilamar?!" Queena tersenyum senang. Setidaknya ada berita bahagia dari sepupunya. "Aku penasaran, siapa pria yang sangat beruntung akan nikahi adik sepupuku?"
"Kamu tak dengar berita? Bahkan gosip aku dilamar telah beredar luas."
"Aku sibuk urusi hidupku yang berantakan sejak kasus Ayahku, Ellen. Aku tak baca berita."
Kehidupanku sangat kacau dan tak tahu kapan semua ini akan berakhir, tambahnya dalam hati.
"I am so sorry my Dear. Kau tahu aku sangat menyukai paman Viktor. Ya Tuhan, apakah tak ada kabar sama sekali? Di mana Paman Viktor dan Ibu Brigitta?"
Queena menggeleng sedih lantas tersenyum pura-pura ceria, tak ingin larut dalam sedih.
"Well, Elleanor Mendeleya, jadi siapa pria beruntung itu? Selera Ibu Rosana sangat tinggi. Aku yakin, dia bukan sembarang pria."
"Tentu saja ..., pria itu Axel Anthony." Elleanor bicarakan Axel dengan wajah bersemu merah.
"Axel Anthony yang mana?"
"Apakah kita punya banyak Axel Anthony?" tanya Ellen heran melihat reaksi Queena.
"Ya ... ada beberapa Axel Anthony," sahut Queena berharap benar ada banyak Axel Anthony, bukan Axel Anthony miliknya. Sadari Axel yang di maksud adalah kekasihnya, jantung Queena serasa diremas-remas hingga kering.
"Hanya ada satu Axel Anthony. Aku tak pernah dengar ada Axel lain selain Axel Anthony dari Anthony Steel Group. Kamu tahu ia punya banyak corporation di China dan Thailand."
Queena mengangguk-angguk. "Ya, aku tahu," gumannya sedih. Ia tahu dengan baik sebab saat pria itu sibuk bekerja dengan laptop dan meeting dengan kepala dari Anthony branch, Queena kadang menungguinya. "Dia pria yang hebat."
Sangat hebat karena telah hancurkan hidupnya tanpa sisa dan hebatnya karena Queena mencintai Axel Anthony tanpa tahu cara akhiri cintanya.
"Ya," sahut Elleanor perhatikan raut Queena. "Mengapa kamu sedih?" tanya Elleanor.
Queena tak bisa tutupi kegundahan di raut wajahnya.
"Itu karena kamu akan menikah Ellen. Kita mungkin tak bisa sering berjumpa."
Tak sepenuhnya bohong. Mungkin tak akan berjumpa. Apakah ia akan sanggup melihat Axel dengan Elleanor? Apakah ia tak akan tercabik-cabik nanti?
"Oh ya Tuhan, tidak akan mungkin terjadi," ujar Elleanor memeluk Queena. "Tolong jangan berpisah dariku, cukup buruk tak tahu kabarmu selama ini."
"Apa kamu telah bertemu dengannya?"
"Ya. Dia sangat sopan dan jarang bicara tetapi aku menyukai pria seperti itu. Mereka sangat misterius."
Queena mengangguk sepakat. Mata pria itu adalah salah satu dari Axel yang paling misterius. Tak banyak kata yang bisa ia katakan tetapi mata itu sangat indah, yang buat Queena tak berdaya. Jika tak ingin luluh pada Axel maka Queena harus hindari mata Axel yang dingin tetapi sangat getarkan hatinya.
"Axel Anthony tak pernah punya wanita, menurut Ibunya, ia sangat pemalu," terang Elleanor. "Akkhh senangnya ada dirimu Queena. Aku tak pernah tumpahkan isi hatiku sebab aku dilarang sembarangan ungkapkan isi hatiku."
Kami punya bayi. Berkat Ibunya, aku kehilangan bayiku. Queena menggigiti kukunya. Dadanya tak habis-habis nyeri.
"Apakah kamu ingin istirahat?" tanya Elleanor ketika dilihatnya Queena mengambang.
"Ya, kupikir aku kelelahan hari ini," sahut Queena bernapas berat tidak bermaksud mengusir Elleanor yang sangat antusias padanya.
"Walaupun kamu lelah, aku penasaran, siapa kekasihmu?" tanya Elleanora menggoda Queena dengan mencolek-colek bahu Queena.
"Rumit ...."
"Rumit?!"
"Ya," angguk Queena. Tak mungkin katakan Axel Anthony adalah kekasihnya. Meskipun Queena lari dari pria itu, Axel masih kekasihnya. Tidak, semuanya sudah berakhir untuk mereka, Queena harus lanjutkan hidup. Tak bisa terus stuck pada Axel. "Aku tak bisa ceritakan tentang dia, hanya saja, dia juga sangat pendiam, jarang bicara sama seperti kekasihmu."
"Benarkah?! Oh kita menggilai pria introvert. Mula-mula Jason Cassano. Aku sangat penasaran Queena pada kekasihmu."
"Lupakan! Jadi, kapan Tuan Axel Anthony akan melamarmu Nona Elleanor?" tanya Queena pelan.
"Dua hari lagi."
"Baiklah, semoga bahagia Ellen."
Elleanor mengangguk. "Kamu tahu Daddy selalu memuja masakan-mu, kurasa, kita akan buktikan ucapan Beliau nanti malam. Aku menyayangimu."
Elleanor memeluk Queena hendak pergi dari kamar.
"My Dear Queena, please cooking something yang spesial untuk makan malam nanti! Aku akan pergi berbelanja bersama Ibu untuk keperluan lamaran. Kurasa kami tak akan makan di luar."
"Okay Ellen, sampai nanti ya!"
Queena lalu ditinggal sendiri, semakin sekarat saja hari demi hari oleh luka di hatinya. Seandainya ia punya obat untuk hentikan nyeri di hatinya. Ia memeluk lutut erat, tengkurap di sana dan menahan luka. Well, this is so crazy. Dia kehilangan segalanya. Ayah, Ibu, Kekasih, Bayi, kini Elanor ..., dan ia kehilangan pikiran.
Buru-buru mengusap mata yang lembab ketika ketukan terdengar di pintu.
"Queen, apa kamu tidur, Nak?" Suara Ibu Rosana. Queena memeriksa wajahnya di cermin sebelum mendekat ke pintu. Atau biarkan saja ia terlihat menyedihkan bukankah memang ia sangat dirundung kemalangan.
"Ibu Rosana?"
"Bisa kita bicara?" Rosana berdiri di depan ruang tidurnya dengan gestur tak enak hati mengganggu Queena.
Queena mengangguk, "Ya, tentu saja."
"I am so sorry Dear untuk semua hal buruk yang kamu lewati," ujar Rosana setelah menutup pintu. "Tetapi, kamu tahu bahwa posisi pamanmu sedang tak bagus saat ini. Bagaimana lawan politiknya sedang awasi Jeremy dan jadikan dirinya bulan-bulanan."
"Ya, aku paham. Aku tak bisa minta maaf pada Paman dan padamu, Ibu Rosana, untuk setiap keterlibatan Ayahku yang menyusahkan Paman Jeremy."
"Mari tak bicarakan soal itu," ujar Rosana. "Queena akan lamaran dalam dua hari, sekalipun aku ingin kamu temani Elleanor tetapi ...."
"Aku paham Ibu Rosana."
Rosana mengangguk sukai sikap dan pembawaan Queena yang tenang dan mendayu-dayu. Juga kesopanan serta peringai yang tabah dari gadis itu. Tetapi ia tak bisa korbankan reputasi suaminya dan kesuksesan acara lamaran Elleanor. Nyonya Rocco Anthony membenci Viktor Mendeleya, diungkapkan secara terus terang dan terbuka saat pertemuan mereka diawal.
"Aku telah sediakan tempat untukmu beristirahat."
"Tak perlu Ibu Rosana," geleng Queena. "Anda tak perlu repot. Aku akan pergi besok, Ibu. Ada sebuah klinik di daerah terpencil, mereka butuhkan tenaga medis dan tak peduli siapa aku. Aku akan ke sana besok dengan bis pagi. Anda jangan cemas. Maafkan aku, membuat Anda resah," sahut Queena. Tanpa Ayah dan Ibunya ia seperti anak ayam tanpa induk. Berlarian kesana kemari.
Huufttt ...
"Trims Dear, kamu pahami masalah dengan baik."
Ia akan menanggung dosa Ayahnya saat ini. Queena meraih ponsel dan mengirim pesan pada Anna Marylin selepas Rosana pergi. Ia akan bekerja di klinik. Tak keberatan dengan segala persyaratan dari Anna. Bukankah sudah saatnya ia bangkit. Akhirnya ia pergi ke sana, dunia Ayahnya yang ditutupi selama 24 tahun. Menurut review Anna, ia akan lakukan bedah minor, menjahit luka para begundal atau keluarkan proyektil dari tubuh mereka. Hal-hal yang berhubungan dengan luka tembak, sabetan, tusukan. Jika sangat parah mereka akan dibawa ke klinik. Ia mungkin akan bekerja di bawah todongan senjata dan meski sangat beresiko, Queena berpikir ia akan lupakan Axel.
Pikiran kalut buat Queena jatuh tertidur. Memeluk guling ia berharap bisa memeluk bayinya. Mungkin ini maksud Tuhan mengambil bayinya. Jika si bayi terus hidup, bayinya hanya akan hidup dalam penderitaan. Queena bisa bertahan, seburuk apapun kondisi, tetapi tak yakin saat ia bersama si bayi. Mungkin ia akan sangat rapuh. Terlebih ketika mengandung, ia sangat bergantung pada Axel. Hanya ingin melihat pria itu
Bangun di sore hari, ia turun ke dapur dan mulai masak. Para Dokter sering sarankan makanan sehat pada pasien mereka tetapi banyak dari mereka yang tak menjaga makanan bahkan beberapa dari mereka mencintai makanan siap saji. Queena pandai memasak sebab, Ibunya mengajari banyak hal dan ia sangat mandiri saat tinggal jauh dari Ibu.
Ia sedang mengiris jamur ketika Elleanor mengendap-endap di dapur dan memeluknya dengan wajah gembira.
"Apa yang kamu masak, Queena?"
"Ellen?! Kau mengagetkan aku!"
"Apa yang akan kamu masak?"
"Tidak banyak, beef burguignon, Foie gras. Ini irisan jamur, lardon, garlic untuk coq au vin. Paman sangat suka makanan itu."
Axel juga sangat menyukai Coq Au Vin. Terkenang. Segera ditepis. Ia tak bisa hidup dengan bayangan pria itu memeluknya.
"Increadible. Aku akan segera kembali, Queena!"
"Bye Ellen," sahut Queena sibuk dengan irisan daging sapi dan anggur merah. Ia suka bangun pagi dan memasak sesuatu untuk sarapan pagi. Cintai pagi saat Axel turuni tangga dan ia mengecup pria itu, utarakan cinta yang mendalam. Queena mendesah berat lepaskan pisau dengan hati-hati. Ia akan mengiris daging lagi saat ia punya konsentrasi.
Asisten keluarkan hati angsa untuk ia buat foei gras. Tatapannya nanar, ia melihat hatinya sendiri. Waktu cepat berlalu, ketika Elleanor menenteng barang belanjaan diikuti para pengawal, Queena sedang mengatur ruang makan.
"Queena, aku dapat kejutan." Elleanor memekik kecil, mengusir para pengawal segera menghilang dengan barang belanjaan dan mengatur ulang dandanannya. "Dia di sini ...."
"Siapa?!" tanya Queena amati Elleanor dan perasaan Queena tak karu-karuan. Apakah itu Axel?
"Axel Anthony," ujar Elleanora hampir tanpa suara. Wajahnya merona merah antara gugup dan sumringah, seperti gadis yang umumnya jatuh cinta.
Queena terdiam dan buruknya pria itu muncul di ruangan makan bersama Ibu Rosana tanpa Paman Jeremy. Queena tak mungkin berlari. Axel Anthony terlihat tak terkejut dan mata itu tak berkedip menatapnya seakan telah menduga pertemuan mereka. Wajah Axel kaku saat menatapnya.
Queena mengatur makanan dengan tenang. Sendiri rasakan kesakitan di relung hati, dan sadari bahwa Ibu Rosana kirimkan kode untuk menyingkir dari sana. Bergerak natural, Queena kembali ke dapur. Ia meminta para asisten menyusun makanan ke meja makan dan lepaskan afron. Ia diam-diam pergi ke taman belakang, menghirup udara sebanyak yang ia bisa.
Satu panggilan dari Anna Marilyn.
"Ya."
"Baiklah. Kamu di mana?"
"Rumah pamanku."
"Walikota?"
"Ya."
"Queena, Axel Anthony akan menikahi Elleanor Mendeleya."
"Aku tahu, dia ada di sini," sahut Queena tak ingin muram.
"Apa kau baik-baik saja? Kau tahu bahwa stress - induced cardiomyopathy (patah hati) akibat putus cinta bisa sebabkan kematian?" tanya Anna di sebelah terdengar prihatin.
"Ya, aku alami angina (nyeri dada) seharian sejak dengar pria itu akan melamar sepupuku."
"Apa kau merasa sesak napas?"
"Jangan berlebihan Anna!"
"Kamu alami kondisi emosional yang intens belakangan ini Queena. Bagaimana kalau kamu keluar dari sana sebentar dan kita nongkrong di kafe dekat Park Center?"
"Baiklah!"
Lagipula tak ada yang bisa ia lakukan. Tapi bagaimana caranya bisa menyelinap diam-diam?
"Nona Queena, Anda dipanggil ke dalam oleh Nyonya."
Queena mendongak dari bangku duduknya pada asisten rumah tangga berseragam mirip pengawal wanita.
"Ada apa? Apakah makanan tidak enak?"
"Anda diminta untuk bergabung," sahut asisten lagi.
Meringis dalam hati, Queena tak punya pilihan atau ia akan bermasalah dengan Ibu Rosana. Queena yakin, Ellen yang inginkan dirinya bergabung sebab jelas-jelas ia menerima sinyal segera menyingkir dari Ibu Rosana tadi.
"Queena ... " panggil Ibu Rosana, "duduklah dan makan malam bersama kami," tambahnya mengangguk ke bangku di samping Elleanor. Raut Ibu Rosana tersenyum tetapi Queena tahu, Ibu Rosana tak ingin ia ada di meja makan.
Ellen tersenyum padanya, gadis itu mati-matian menjaga wibawa terlihat ia ingin muntah harus mengatur ekspresi.
"Ini Axel Anthony," tambah Nyonya Rosana. "Axel, ini Queena. Maaf jika kamu mungkin tak nyaman ...." Merujuk pada Viktor Mendeleya.
"Tak masalah ...," sahut Axel cepat.
"Jika tahu Anda mampir, aku akan memanggil chef untuk memasak," ujar Ibu Rosana.
"Queena yang memasak ini," kata Elleanor dan langsung dapat tatapan tajam Ibunya.
"Tidak masalah," jawab Axel lagi. "Hai Queena," sapa Axel perhatikan Queena seksama, lalu menatap makanan di depannya. "Ini kelihatannya sangat lezat," angguknya pada coq au vin di hadapannya.
"Trims," sahut Queena, "selamat menikmati, Tuan."
Mereka makan dalam diam dan hening. Elleanor tak berhenti melirik Axel di sisinya, ragu-ragu, ingin perhatian, tetapi Axel Anthony yang dingin terlihat hanya ingin makan tanpa menyela.
Menunggu hidangan penutup disajikan, Elleanor merasa ruangan makan itu seperti ada di rumah duka.
"Bagaimana cara luluhkan hati pria dingin, Queena? Katamu, kamu punya kekasih pendiam?" tanya Elleanor berkedip padanya abaikan Ibu Rosana yang tak suka Elleanor tak menjaga sikap.
"Kamu punya kekasih, Nak?" tanya Ibu Rosana.
"Rumit," sahut Elleanor.
"Apakah seorang dari keluarga berada? Apakah teman sejawat-mu di rumah sakit? Jika dia pria yang baik pertahankan, Queena."
Queena berhembus, huh. Menarik napas dan diam-diam hembuskan lagi, huh. Hatinya sakit.
"Ibunya tak restui kami, jadi, kami berpisah," sahut Queena menatap Elleanor, tersenyum miris.
"Apakah seseorang dari keluarga berada? Mungkinkah karena kasus ..., sudahlah ..., Elleanor berhenti bicarakan hal yang tidak penting. Okay?" Nyonya Rosana kendalikan situasi.
"Ini penting sebenarnya, aku ingin tahu cara taklukan hati pria introvert. Kau akan beritahu aku, Dear Queena."
"Rayu saja dia! Ia akan luluh padamu! Mereka bukan jenis pria romantis. Dalam keadaan normal mereka sangat dingin. Beberapa pria introvert butuh menenggak minuman keras dan baru bisa menyerang-mu. Kamu harus sedikit agresif," ujar Queena sadari sepenuhnya Axel Anthony sesak napas sejak tadi. Queena mengenal Axel dengan baik, bisa rasakan ketegangan pria itu.
"Segitunya?" Elleanor keheranan. "Apa seperti itu?"
"Hal semacam itu hanya dilakukan oleh pria-pria introvert yang tak punya harga diri. Pria dengan harga diri tinggi tak akan lakukan itu," ujar Ibu Rosana menatap Queena lalu pada Ellen.
"Ya Ibu Rosana, Anda benar. Kekasihku hanya seorang pria brengsek," keluh Queena pikirkan saat Axel menodainya hingga mereka punya bayi. "Tuan Axel Anthony tak akan lakukan itu," tambahnya tajam.
"Baiklah mari berhenti! Anda menunda pernikahan, aku ingin tahu alasanmu Axel?" tanya Ibu Rosana.
"Ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan," sahut Axel.
"Tak bisa menunda?"
"Ya," jawab Axel singkat.
"Well, semoga berjalan baik. Ibu, maafkan aku tak sopan. Tetapi, aku harus pergi bertemu seseorang," pamit Queena.
"Kau akan kembali-kan Queena?" tanya Elleanor cemas.
"Ya Ellen, aku akan kembali malam ini."
"Syukurlah, kamu akan gantikan Adelaide untuk temani aku saat lamaran."
"Tidak Ellen!" Ibu Rosana bicara tegas.
"Ya, i am so sorry Ellen. Aku akan pergi pagi-pagi besok."
"Kemana?"
"Queena akan bekerja di sebuah klinik di desa terpencil."
"Queena?! Mana boleh kamu begitu?"
"Elleanor?!" tegur Ibu Rosana.
"Aku pamit Ibu, Ellen. Tuan Axel, semoga acara lamarannya berjalan lancar." Tepat ketika ponselnya berdering.
"Queena, jangan sampai kamu terlihat. Wartawan ada di mana-mana. Keluarlah lewat gerbang belakang."
"Aku mengerti, Ibu Rosana."
"Hati-hati, my Dear," lambai Elleanor malas-malasan.
Apa yang ia harapkan? Tergesa-gesa naik ke mobil yang disediakan untuknya, duduk di jok belakang dan mati rasa.
"Anna?! Aku dalam perjalanan." Menunduk saat gerbang terbuka.
"I see, vou esperar (baiklah, aku tunggu) tetapi datanglah ke klinik!"
"Apa terjadi sesuatu?"
"Sim (ya)."
Bersandar ke jok mobil, Queena putuskan turun di tengah jalan dan gunakan taxi. Lucky Luciano telah kembali. Ia yakin pria itu menolak keras idenya bekerja di klinik dan berurusan dengan para mafia.
Taxi melaju di jalanan menuju ke klinik yang tersembunyi. Mereka sampai di perempatan menuju keluar kota. Lampu hijau. Tak diduga sebuah mobil menghadang mereka. Sopir taxi menginjak rem kuat dan ban mobil berdecit mengganggu pendengaran. Si sopir keluarkan kepala dari jendela mobil dan mengumpat marah.
"De puta madre!!!" (makian kasar)
Tak gubris kata-kata kasar sopir taxi, si pengendara turun dari mobil bagian belakang. Kibaskan jas sebelum dikancingkan. Ia melangkah arogan dekati taxi.
"¿Quién cojones eres?" (Who the hell are you?)" Si sopir menggeram dan kembali mengumpat.
Axel Anthony lemparkan sebuah dompet berisi uang lembaran untuk menutup mulut si sopir agar berhenti mengumpat. Ia membuka pintu mobil belakang dan melongok di bawah atap mobil.
"Turun!" kata Axel dingin. Aroma minuman keras penuhi ruangan taxi.
"Jauhi aku!"
"Turun? Atau aku akan memaksamu dan biarkan satu kota melihatnya!"
"Tidak, jangan ganggu aku!"
Axel Anthony tak sabaran, pegangi tangan Queena dan menyeret wanita itu turun dari taxi.
"Dompet Anda, Tuan?"
"For you and shut up your mouth!" jawab Axel kasar lampiaskan amarah. Ia mendorong Queena masuk ke bangku belakang dan mobil itu bergerak pergi dengan cepat tinggalkan kota.
"Kau akan nikahi sepupuku, apa maumu, Axel? Jangan sakiti Ellen!" seru Queena meledak marah.
"Kau pikirkan Ellen? Aku akan menyakitimu!" sahut Axel dingin. "Kita akan mengulang segala hal." Berbalik menatap Queena hingga yang ditatap merinding ngeri.
"Apa kau habis minum?"
"Ya, aku menenggak minuman agar bisa menyerangmu! Kau beri aku ide!"
"Axel ...."
"Apa hanya bayimu yang hilang Queena? Apa dia bukan bayiku? Apa aku tak inginkan dia? Aku inginkan bayimu saat Ibunya sendiri berniat untuk hilangkan dia," serunya murka. "Apakah semudah itu akhiri segala hal denganku, Queena? Ibumu akan kembali, aku akan bawa Ibumu padamu. Aku telah berjanji tak peduli pada resiko. Saat ini, kau akan bersamaku!" tuntut Axel mendadak, merengkuh Queena padanya.
"Axel, lepaskan aku!"
"Tidak," tolak Axel. "Kau pandai menyiksaku, mengapa aku harus diam kali ini?"
"Axel?!" Mendorong pria itu! "Bukankah kau lebih memilih Ibumu?"
"Jangan gunakan Ibuku sebagai alasan. Kau dan aku tahu lebih baik dari siapapun bahwa aku akan bersamamu tetapi kau tak sabaran. Kau membuat segalanya jadi rumit untukku! Kamu pikir aku datang tadi untuk Ellen?"
"Lepaskan aku!" tolak Queena ketika Axel makin kuat memeluknya. Mereka berada di luar kota kini, menuju peternakan Mendeleya.
"Tidak Queena," ujar Axel menikam mata Queena dengan tatapan tajam. "Kau dan aku akan mengulang semua hal tentang kita ... dari awal."
***
Kisah mereka ini nanti Anda baca di The Secret Love of Mr. Mafia. Doakan aku rajin menulis, menabung kata juga ide. Doakan jempolku kuat berciuman dengan touch screen.
Aku menulis chapter tergantung komentar Sebab terus terang, komentarmu adalah moodbooster.
Makasih ya sudah mengikuti aku sampai sejauh ini. Vote-nya itu, makasih. Aku cinta kalian.