
Cast for Francis Blanco....
****
"Nona September Celtiz, Anda terlihat sangat idolakan Tuan Lucky Luciano?"
Seorang pria berwajah tegas dengan binar mata tajam bicara dari sisi sebelah September saat acara amal Miopi berlangsung di sebuah pusat kesehatan kota. Lucky Luciano di hadapan kamera dengan beberapa reporter termasuk Irish Bella, dan sejumlah dokter spesialis mata dari District Eye Center Hospital. Lucky Luciano hadir menjadi donatur terpenting untuk mendukung program para dokter. Senyuman Lucky Luciano yang luar biasa indah tidak hanya menyehatkan mata juga jantung tetapi para wanita di acara itu bisa dipastikan merem melek melihatnya.
"Anda salah," sahut September tanpa alihkan matanya dari Lucky Luciano yang berhasil bikin dokter muda cantik di sebelahnya salah tingkah dan merona merah. "Lucky Luciano adalah idola untuk setiap mata yang melihat. Aku mengerti sekarang mengapa dia punya banyak kekasih, banyak skandal. Terlepas dari itu dia sangat dermawan."
"Ya, dia pria yang hebat. Jika kamu mau, aku bisa mengatur kencan untukmu dengan Tuan Lucky," ujar Francis.
"Siapa kamu?" tanya September berbalik amati pria yang gunakan jas lengkap dan earphone seperti yang biasa dipakai para pengawal.
"Aku ... Francis Blanco ..., asisten Tuan Lucky Luciano."
"Benarkah?" September mengerut amati Francis. "Mengapa kamu tertarik padaku? Tuan Luciano tampak tertarik dengan Dokter Irein di sisinya. Mereka mungkin akan berkencan setelah acara ini selesai."
"Hanya aku yang bisa mengatur dengan siapa pria hebat itu akan berkencan. Kau terlihat cocok dengannya untuk alasan yang tak aku mengerti.
Mungkin karena Anda berbeda dengan kebanyakan wanita," sahut Francis. "Jika Tuan Lucky menyukaimu, kamu mungkin akan diperistrinya."
Menggiurkan. Dekat dengan Lucky Luciano dan jadi istrinya? September menahan napas. Lucky Luciano menengok ke arah mereka dan tersenyum; jantung September hampir copot saking terpesona. Lucky dan si dokter cantik bertukar kartu nama.
"Apakah semudah itu?"
Francis mengangguk. "Tetapi, ada banyak persyaratan untuk berkencan dengan Tuan Lucky. Anda harus tanda tangani beberapa dokumen penting," tambah Francis.
"Aku tak keberatan," ujar September cepat.
"Baiklah, mari bertemu setelah acara amal ini selesai."
Begitulah akhirnya melalui pemeriksaan ketat di dokter ahli bagian dalam, September pergi kencan dengan Lucky Luciano tiga hari berikutnya. September dan Lucky Luciano, habiskan hari bersama termasuk di malam hari saat mereka berbagi gairah di sebuah suite mewah setelah berpesta di salah satu klub malam. Lucky sangat mabuk dan September menikmati Tuan Luciano yang berubah liar dan panas. Sebatas itu. Esok harinya, September harus menemani Irish Bella pergi ke Gaza untuk meliput berita dan mereka berpisah. Francis juga tak hubungi September lagi. Kencan itu berakhir singkat.
Dapati dirinya hamil dua bulan kemudian, September tak ingin Lucky Luciano tahu. Tetapi ketika ia tak sengaja melihat Lucky Luciano di rumah sakit berlarian bersama seorang gadis dengan pakaian seragam sekolah menengah, September tiba-tiba inginkan Lucky Luciano. Ia takut pada aturan yang dibuat Francis bahwa no baby. Misalkan nanti ada bayi, Francis akan bertanggung jawab untuk setiap "accident on bad" di malam buas antara dirinya dan Lucky. Francis akan nikahi dirinya jika ia menuntut pertanggung jawaban. Bahkan ada dokumen yang menyatakan ia tidur dengan Francis dan bukan Lucky Luciano. Betapa bejatnya kedua orang itu.
Beberapa kali bertemu Lucky Luciano dan perhatian tulus Lucky padanya membuat September inginkan pria itu lebih.
Di sanalah akhirnya September, terus berperang dengan Francis yang terlihat sangat membencinya dan menuduhnya manfaatkan situasi. Francis tampak sangat sayang pada kekasih muda belia Lucky Luciano. Ia bahkan mengancam akan lenyapkan September jika berani mengganggu hubungan Reinha Durante dan Lucky Luciano.
***
Suasana peternakan sangat hening selepas Reinha dan Lucky Luciano pergi. Amora tidur dalam dekapan September, ditimang penuh kasih sayang, pikirannya melayang kemana-mana. Ingatan pada pertemuannya dengan Francis, pada setiap amarah dan benci yang ditujukan pada Francis Blanco. Mereka telah saling mengancam, saling menggeram dan saling melukai sepanjang waktu. Sungguh gila ketika akhirnya ia jatuh pada Francis. Ia bertemu Lucky Luciano tadi, bertanya-tanya dalam hati apakah ia benaran telah lupakan pria itu dan tiap memikirkan Francis, September temukan satu hal pasti; bukan tak ada pilihan tetapi Francis adalah pilihannya. Lucky Luciano mungkin memiliki ketampanan terhakiki yang digandrungi para wanita tetapi Francis entah bagaimana mengubah patokan tentang seseorang untuk habiskan hari tua bersama.
September baringkan Amora dalam box. Perawat telah sediakan perlengkapan mandi untuk Francis dan telah mengajari September cara bersihkan ini tubuh pria itu. September telah merawat Francis sejak pria itu datang. Ia mengambil wash lap, celupkan dalam air hangat secara perlahan mulai mengusap tubuh pria yang akan menikahinya itu. Tidak terburu-buru tetapi tak terlalu lamban. Ia takut tubuh kokoh Francis kedinginan dan malah masuk angin. Setelah selesai ia keringkan dengan handuk. Hari-harinya habis untuk bicara pada pria itu.
"Bukankah ini sudah terlalu lama, Tuan? Punggungmu mungkin lecet karena terlalu lama berbaring," keluh September.
Alat bantu pernapasan pada Francis telah dilepas kecuali selang makanan. Pria itu hanya seperti terjebak dalam tidur panjang, tak tahu jalan kembali. Ia berdoa saat pria itu pergi agar Francis kembali padanya dalam keadaan selamat sekembalinya dari menjemput seseorang, tetapi tak menduga dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Jika Amora tak bisa buatmu terbangun bahkan Tuan Lucky Luciano tak bisa memanggilmu kembali ..., lalu ..., siapa aku Tuan?"
Setiap momen tentang mereka diputar ulang, hanya ekspresi kejam nan angkuh pria itu yang terbayang. Ketika ia lempari Francis dengan perkakas dapur karena kecewa pada Lucky Luciano, Francis Blanco nyaris melukainya saat mencengkeram lehernya.
Teringat ketika Lucky Luciano menghindar darinya karena harus bertemu Reinha Durante di acara pernikahan Elgio Durante. Francis menungguinya meski pria itu terlihat sangat kesal. Mereka telah bertarung sejak mereka bertemu kembali karena dirinya inginkan Lucky Luciano. Namun, dapati Francis terluka di jembatan, bicara padanya separuh memelas, September melihat wajah bengis Francis yang berubah lembut. Ketika Francis menggendongnya pulang ke vila sedang lengan Francis sendiri terkoyak besi jembatan, September luluh padanya.
"Kau terjebak di mana? Bisakah aku datang menyelamatkanmu?"
Andai saja dia tahu bahwa Francis akan hadapi badai, ia mungkin akan memeluk pria itu sebelum Francis pergi. Tangannya sampai di dada Francis. Ia tercekat. September selalu takut Francis tiba-tiba berhenti bernapas, seperti yang menimpa Ibunya. Didekatinya kuping pada dada Francis, melayang di sana. Tapi tak bisa deteksi apapun. Ia lalu menempel pada pria itu. Detak jantungnya berirama lambat tetapi kuat. Bagian bawah dada masih dibaluti perban.
Bukannya pergi ia malah bersandar di sana.
"Apakah kamu tak bangun karena takut bertanggung jawab pada kami? Apakah kau pikirkan kembali hubungan kita? Jika kau tak nyaman, atau mungkin berubah pikiran, kami bisa pergi. Kau bisa beritahu aku. Tolong bangun saja. Aku tak akan mengganggumu. Kau tahu bahwa aku bisa kembali bekerja, bepergian dengan para kru saat Amora cukup kuat untuk ditinggal. Amora bisa sementara waktu bersama pengasuh bayi, ia akan punya banyak teman. Kau bisa jalani harimu lagi dan bertemu wanita yang baik dan tepat untukmu. Bangun saja, mari kita bicara!"
Menahan tangis di sana.
"Ini lebih buruk ketimbang saat kau berlaku kasar padaku dan sakiti aku," ujarnya beberapa menit kemudian mulai menangis terisak.
"Aku tak bisa terus tinggal jika kau tak segera sadar. Aku akan bawa Amora pergi."
Entah berapa lama ia menangis dan bicara sembarangan. Tak sadari detak jantung yang berdetak lebih cepat, bertalu dibalik kulit.
"Hai ... Sep ... tember."
September masih terisak tenggelam dalam dunia yang ia buat sendiri. Menolak percaya saat ia mendengar samar-samar suara Francis.
"Septie?!"
Mengangkat wajah sebab ia baru saja mendengar bunyi suara yang berguman lirih memanggil namanya. Ia menoleh dan bermuram durja dapati Francis tetap sama, masih tidur nyenyak.
"Aku dengar suaramu! Sungguh amat buruk," ujar September dekati wajah Francis. Ia mencukur rahang Francis tiga hari sekali dan di waktu ini, raut kejamnya bertambah tampan dengan janggut tipis yang rapi. "Apakah ada kata-kata lain yang bisa kuucapkan untuk bawamu kembali padaku?"
September terdengar payah. Bahkan semua ucapannya terasa sia-sia. Ia bicara seperti wanita bodoh di sisi pria itu.
"Aku merindukanmu."
September menahan napas, tercengang. Tidak salah lagi, ia melihat bibir Francis bergerak dan mendengar pria itu bicara lambat meskipun mata-mata masih terpejam, katakan merindu.
"Francis?! Kaukah itu?" tanya September jelajahi wajah Francis dengan matanya, tangannya refleks menyentuh wajah Francis. Tatapan September buram oleh air mata, buru-buru menghapus air mata yang menetes di pipi.
"Septie ..." panggil Francis sangat pelan tetapi cukup jelas didengar September.
"Apa kau merasa sakit? Aku akan panggil perawat," ujar September segera bangkit berdiri serentak berbalik hendak pergi. Tetapi, ujung sweater-nya tersangkut sesuatu. Saat ia menoleh, dilihatnya Francis pegangi ujung sweater-nya kuat.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja."
"Kau baru saja siuman, aku akan panggil Dokter Anna. Aku akan segera kembali."
"Tidak perlu!" Menahan sweater September makin kuat. September ulurkan tangan memegang tangan Francis. Ia mendekat pada pria itu dan mencium pria yang baru siuman, air matanya jatuh di atas wajah Francis.
"Aku tak tahu. Mungkin ke tempat di mana kau sangat mudah menemukan kami."
"Aku akan panggil Dokter Anna!"
"Jangan pergi!"
Di sanalah akhirnya September menggenggam tangan Francis dan menatap pria itu tanpa kedip sampaikan sukacita hebat.
***
Satu Bulan berlalu ....
Meski hampir bersama Francis setiap waktu setelah pria itu siuman, Francis Blanco tak pernah menyentuh September. Mereka tak punya gairah manis atau hal semacam impuls yang bisa getarkan hati hingga September berpikir bahwa mereka bersama karena Francis inginkan Amora bukan dirinya. Namun, ia bertahan sebab Francis begitu nikmati jadi Ayah untuk Amora dan Amora lebih nyaman bersama Francis Blanco ketimbang Ayah biologisnya.
Peternakan hari itu sangat ramai setelah acara pembaptisan Amora Shine. Meski belum menikah, jiwa Amora butuh terlebih dahulu diselamatkan. Dapatkan anugerah Kerahiman Tuhan, Amora dibaptis. Amora menjadi idola baru, menerima banyak cinta dari para kerabat yang hadir. Reinha Durante kembali ke peternakan dari Civic Center ditemani Lucky Luciano jadi wali baptis untuk Amora Shine Blanco. Elgio Durante juga Tuan Abner Luiz hadir bersama para istri mereka. Begitupula Carlos Adelberth. Nona Queena sudah sejak pagi buta siapkan banyak makanan sebelum pamit pergi untuk panggilan darurat.
Semua orang berbahagia. Francis duduk di kursi roda menimang Amora yang bersinar cantik, ladeni gurauan Lucky Luciano juga Carlos Adelberth, mereka bercanda dengan meriah. Saat wajah September terangkat, matanya dan mata Francis bertemu di tengah keramaian. Ekspresi Francis berubah cepat dari tersenyum ceria berubah datar, cukup lama sebab September tak tahu cara hindari tatapan itu. Francis palingkan wajah saat Claire Luciano bicara padanya. Mereka mengobrol dengan akrab, lemparkan candaan.
September pergi ke dapur, siapkan buah juga akan mengisi lagi kotak-kotak camilan yang kosong. Pikirannya galau dan bingung.
Apakah Francis pikirkan kembali hubungan mereka?
Mencuci beberapa buah segar untuk alihkan perhatian, pikiran September kalut.
"Kau tak bergabung?" tanya Claire Luciano berdiri di pintu dapur.
"Ya, sebentar lagi," sahut September di antara suara air keran yang mengalir. Segera menyusun buah ke dalam keranjang. Terkejut saat berbalik, Claire telah menghilang, hanya Francis Blanco menatapnya dengan ekspresi rumit.
"Apakah ... kamu butuh sesuatu?" tanya September, kepergok habis menangis, berdiri dengan siluet sedih bersandar pada wash bak ingin dekati Francis tapi ragu. Ia pandangi keranjang buah lalu pada Francis.
"Kamu bisa pergi September, kamu tidak harus nikahi aku. Kamu tahu, aku mungkin akan berada di kursi roda untuk waktu yang agak lama. Jika ingin pergi, kamu bisa pergi. Aku akan menjamin kehidupanmu dan Amora."
Francis memutar roda kursi hingga dekat dengan September. Angin musim panas berhembus di padang rumput sampai pada mereka, menerpa jendela dapur. September tatapi Francis.
"Apakah kami membuatmu tak nyaman?" tanya September.
Francis terdiam, lalu beberapa menit berselang ia berguman.
"Aku tidak ingin repotkan dirimu."
September pikirkan kalimat Francis. Ia ingin menyanggah;
Aku tak merasa repot.
Aku ingin tinggal.
Aku tak ingin pergi dari sisimu.
Aku ingin mengurusmu.
Aku menyayangimu.
Tetapi semua kalimat kedengaran seperti ia wanita yang sangat murahan, mengharapkan Francis memilikinya. Ia dan Puterinya tak bisa pergi dari satu pria ke pria lain dan harapkan belas kasihan mereka. Well, ini berakhir sudah di sini. Ia tak ingin pergi tetapi tak bisa tinggal.
"Baiklah, kami akan segera pergi," kata September pelan.
Francis terpaku sejenak mungkin berharap menerima kalimat lain dari bibir September.selain yang baru saja ia dengar.
Dan mereka berdua dalam ruangan dapur di antara jeda suara, menyimpan detak kesedihan yang sama. September berpikir semuanya telah berakhir sejak Francis siuman. Tetapi, pria itu masih harus terapi akibat terlalu lama berbaring dan kondisi lumpuh sementaranya lumayan membunuh karakter Francis Blanco yang angkuh juga runtuhkan kepercayaan dirinya.
"Hei, mengapa kalian masih di sini?" tegur Claire Luciano untuk kedua kali datang menjenguk dapur sebab September dirasa terlalu lama pergi. Sadari aura kesedihan di antara kedua orang itu. "Aku akan bawa buahnya. September tolong bawa Francis keluar ya!"
Claire mengambil keranjang buah, pura-pura tak pahami situasi dua orang yang terlihat terselubung cinta mendalam tetapi tampak tersembunyi dengan baik di bawah permukaan. Entah apa yang halangi mereka?
"Kami akan menyusul," sahut September. "Bisakah kita bergabung dengan yang lain?" tanya September pada Francis mengusir pedih di hati lalu meraih pegangan kursi roda dan mendorong Francis keluar tanpa menunggu jawaban pria itu.
"Mommy and Daddy, Amora ingin punya foto keluarga," kata Reinha mengedip pada Claire Luciano, bicara dengan mimik gregetan. Gadis itu paling bersemangat pada Amora. Ia sumringah tak habis-habis pada tingkah Amora padahal yang dilakukan Amora hanya tersenyum.
"Yey," angguk Claire tepuk tangan sekencang yang bisa ia lakukan. Saatnya menyatukan dua orang itu.
September dan Francis di bawah tatapan yang mendoakan kebahagiaan mereka, duduk bersebelahan dengan kikuk. Amora dalam lengan Francis yang menatap dengan cinta seorang Ayah, memekik kecil dengan suara-suara khas para bayi. Bicara pada pria yang menggendongnya dengan bahasa kalbu.
Lalu, bagaimana Francis bisa lepaskan mereka pergi?
Ia tak tahu tentang hari esok dan masa depannya, tetapi ia telah jadikan Amora, Puterinya hari ini. Francis menoleh pada September saat gambar akan diambil oleh seorang fotografer.
"Apa kau sungguhan akan pergi?" tanya Francis berharap bisa mengubah keadaan.
September menatap Francis sedikit terkejut oleh pertanyaan itu.
"Baru kemarin, aku dengar kata-kata merindukanku saat ia siuman. Hari ini ia terdengar seperti tak ingin kami tinggal. Aku sangat tak beruntung dengan seorang pria yang baru bangun dari kritis. Aku bicara dengannya di hari-hari suram, setidaknya berharap ia bisa mengetahui perasaanku." Mengeluh.
"Kenyataannya, aku tak akan sanggup ditinggal olehmu dan Amora. Aku memang merindukanmu. Aku takut kau berubah pikiran tentang kita dengan kondisiku saat ini."
Tangan kanan meraih tangan kiri September yang terkulai di atas pangkuan.
"Aku tak mungkin mengemis cintamu untukku dan Puteriku, Tuan," ujar September berkaca-kaca. "Aku berpikir ... adakah cara agar aku tetap tinggal di sisimu karena kami mencintaimu?"
"Aku pikir kau akan kesulitan oleh keadaanku?" Francis mengecup jemari September. Betapa gestur September sangat kuat terekam dalam ingatan, terus saja berulang dalam benaknya bahkan dalam tidur panjang ..., "September" adalah nama yang paling sering didengungkan kepalanya. Ia tak mengerti tentang masa depan tetapi saat September bersamanya, segala hal terasa mudah untuk dijalani. September seakan dicipta untuk dirinya.
"Akan lebih sulit jika kita berpisah."
September sandarkan kepala di bahunya dan kedua tangan wanita itu membungkus tangannya di waktu yang tepat untuk abadikan momen yang manis.
***
Tinggalkan like, komentar, dan segala hal yang dibutuhkan Heart Darkness untuk lebih populer. Aku mencintaimu.
Ah, the Last Chapter. Kisah siapa yang akan tayang di sana?