Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 127 Not Your Enemy!!!



"Tuan Adolfus, aku sudah menikah dan aku penganut monogami," ulang Lucky dan semakin waspada.


"Ya ya, aku tahu. Tetapi, Lucky Luciano, punya banyak istri itu sangat menyenangkan. Ya sudahlah, biarkan Cataleia menjamu Anda selagi Anda di sini. Silahkan ikut dia ke ruang perjamuan."


Lucky mengangguk sebelum ikuti Cataleia, tinggalkan Adolfus bicara serius dengan Puteri sulungnya.


"Di sini kudengar banyak anggrek hitam yang langka, Bos," kata Francis ajak kedua pria lainnya mengobrol.


"Tentu saja aku tahu," sahut Lucky.


"Jika ada anggrek putih, aku berharap bisa lihat dia menjelang pagi. Bisakah kami berkeliling nanti untuk melihat anggrek putih, Nona Cataleia?" tanya Carlos sopan. Cataleia berbalik dan menatap tajam tanpa senyum. Meski demikian wanita itu menyahut.


"Kurasa kalian harus hati-hati sebab banyak ranjau terpasang di luar komunal untuk lindungi kami dari garimpeiro (penambang emas ilegal yang suka bawa senjata dan menyerang warga lokal). Lagipula tak ada anggrek putih di sini."


Lucky mengangkat bahu, "Baiklah, Nona. Kami akan berhati-hati."


Ketiganya tak perlu susah-susah mencari si anggrek putih sebab wanita itu muncul di ruang perjamuan. Tidak disandera seperti yang Lucky dan Carlos pikirkan. Lucky melirik Carlos yang menahan napas saat Oriana datang dan duduk dengan tenang di samping Cataleia tanpa rasa takut. Wanita itu sedikit terperanjat saat melihat Lucky Luciano tetapi lantas tak ambil peduli. Sama seperti Irish, Lucky juga sering bertemu Oriana. Mereka sama-sama berani, cerdas tetapi Oriana selalu berseberangan dengan Irish. Mereka selalu tak akur dan itu karena si bajak laut di sebelahnya. Oriana juga perhatikan Carlos tapi sekilas sekali lagi tak ambil pusing. Carlos gelengkan kepalanya frustasi lihat tingkah wanita itu.


"Aku sanksi dia diculik," bisik Lucky pelan pada Carlos.


"Kurasa dia sengaja buat dirinya diculik," keluh Carlos. "Kita akan tahu nanti!"


"Apa Jurnalis selalu mengejar berita tanpa rasa takut?"


Para wanita dan remaja masuk ke ruangan sementara Thomas duduk kursi kebesarannya. Dari wajah mereka yang tampak mirip, Lucky Luciano yakin bahwa mereka istri-istri dan anak-anak Thomas Adolfus. Acara itu dimulai dan Thomas beri orasi. Isinya kurang lebih perjuangan hingga tetes darah penghabisan untuk tanah kebanggaan mereka. Ketiganya menyimak dengan pikiran masing-masing sedang Carlos berusaha untuk tidak memeriksa gadis di hadapannya yang duduk seolah-olah dirinya adalah salah satu Puteri Adolfus.


Saat acara perjamuan hendak berakhir, Thomas mengajak Oriana bicara.


"Apa kau temukan sesuatu, Nona Oriana? Kurasa kekasihmu mengirim pesawat tanpa awak untuk melacak keberadaanmu," kata Thomas. "Sungguh romantis, ya, Carlos!" kata Thomas lagi mengejek. "Dia tak berani datang hanya kirimkan pesawat mainan untuk caritahu keberadaanmu."


"Kami bukan sepasang kekasih dan aku yakin Carlos terlalu sibuk urusi hal penting lain. Dia juga punya wanita yang harus dilindungi."


"Oh ... sayang sekali, aku berharap dia kemari dan aku ingin memenggal kepalanya."


"Carlos Adelberth tak akan lakukan itu, Tuan Adolfus!" sahut Oriana dengan nada sinis yang mengganggu Carlos. "Sebenarnya, jika aku bebas. Aku akan berjuang bersama Anda untuk Pesisir Timur. Mengapa Anda tak bantah banyak persepsi buruk tentang Anda? Banyak tuduhan buruk tentang perbudakan ******, perekrutan anak-anak di bawah umur untuk peperangan dan kekerasan lainnya?"


"Apa kau temukan satu dari tuduhan di atas, Nona Oriana?" tanya Thomas tajam. "Aku adalah target Pengadilan Pidana Internasional padahal yang kulakukan adalah lindungi tanah nenek moyangku dari tata kelola yang buruk, institusi yang lemah dan korupsi yang meraja-lela." Ia menarik napas panjang.


"Kau tahu pemerintah tidak sepenuhnya benar. Aku hanya lindungi daerahku dari pengerukan liar. Kau tahu bahwa Pesisir Timur miliki sumber saya alam berlimpah mulai dari emas, berlian hingga tembaga. Kami juga punya coltan dan cassiterite. Daerah ini punya kekayaan 24 Triliun dolar dan sebagian besar masih dalam bentuk kandungan mineral yang belum dimanfaatkan. Aku hanya berusaha lindungi tanah nenek moyangku dari pencurian. Tingkah militer hanya akan membunuh banyak warga lokal dan suku pesisir timur."


"Aku paham, kau akan kembalikan aku dan aku akan menulis kisah-mu!"


"Lupakan pembahasan berat ini, Nona! Bagaimana kalau kita bersenang-senang saja malam ini. Silahkan makan dan minum lalu beristirahat. Anda pasti lelah diajak berkeliling belantara. Kau boleh anggap rumah ini, rumahmu Nona Oriana."


"Terima kasih Tuan Adolfus," jawab Oriana tak ingin perpanjang dan lantas mengobrol dengan Cataleia.


"Tuan-Tuan, ruang peristirahatan Anda di bagian Timur dan Cataleia akan antarkan Anda nanti. Makan dan minum lalu bersenang-senanglah. Kita akan bertemu pagi untuk sarapan," kata Adolfus pamitan diikuti Puteri sulungnya, Ratruitanae.


"Kurasa kami juga ingin beristirahat," sahut Lucky diikuti anggukkan dari Francis juga Carlos.


"Oh nikmati dulu pestanya, Tuan Lucky. Tak ada yang sensual di sini, hanya minuman dan kesenangan. Aku tak tawarkan Anda wanita sebab mereka adalah anak-anakku," balas Thomas. "Tetapi jika kau inginkan ... suatu kehormatan bisa serahkan salah satu Puteriku padamu."


"Oh tidak," sahut Lucky cepat. "Istriku akan datang dengan senjata biokimia termutakhir dan akan lelehkan tempat ini," tambahnya mulai membual dan bayangan Reinha dengan senjata di tangan buatnya merinding ngeri.


"Dia takut pada istrinya," tambah Carlos mengejek dan mereka tertawa.


"Ya, Anda tawarkan saja pada Alberth. Pria itu masih mencari kekasih," tawar Lucky Luciano.


"Kau bisa bertarung dengan putera-puteraku, Tuan dan memilih gadis yang kau sukai."


Carlos tampak berpikir sejenak. "Apa aku bisa bawa Nona reporter itu jika aku bisa kalahkan semua petarung-mu?" tanya Carlos bersemangat, tersenyum nakal ala-ala pria brengsek saat Cataleia membawa keluar Oriana dari ruangan yang mulai hiruk-pikuk oleh musik dan tarian. Carlos mengedip pada Lucky Luciano minta dukungan.


"Em, apa kau yakin? Aku tidak berani menyentuhnya sama sekali sebab dia adalah seorang sandera," balas Thomas ragu.


"Mari berjudi, aku akan kalahkan semua petarung-mu dan biarkan aku bersama Nona Oriana. Jika aku kalah, aku akan memberimu banyak uang dan senjata. Ayolah, ini hiburan yang menggairahkan," tawar Carlos.


"Wah, kantukku segera hilang," ujar Thomas. "Aku berikan petarung terbaikku," katanya lagi beri perintah memanggil si petarung.


Sementara Francis dan Lucky mengelus kening lihat tingkah Carlos, langsung mangap-mangap saat petarung yang dimaksud Thomas keluar. Tinggi besar, kekar dan berotot, bak keturunan raksasa.


"Goliath, dia tak terkalahkan," pamer Thomas.


"Oh Me Deus, dikiranya siapa dia?" keluh Lucky Luciano bicara pada Francis, menatap Carlos atas bawah ngilu-ngilu. Sementara Carlos mengangkat bahu tampak tak peduli.


"Biarkan saja dia, Bos!" balas Francis. "Tuan Alberth sepertinya butuh pelemasan sendi."


Tempat perjamuan berubah jadi arena tarung. Para wanita dan para pria mengelilingi arena sambil bersorak-sorai gembira.


Hu Ha Hu Ha Hu Ha Hu Ha ....


"Mau taruhan Tuan-Tuan?" tanya Thomas terkekeh saat lihat wajah suram Lucky Luciano.


Lucky berdecak. "Ya ya ya, bagaimanapun si bajak laut itu orangku!" sahut Lucky percaya saja pada Carlos. "Apa maumu Thomas? Jika kami menang, kau akan biarkan Tuan Alberth bersama wanita itu! Temanku sepertinya menyukai Nona Oriana."


"Oh ayolah, Lucky Luciano. Kau tahu bahwa Oriana adalah harta berharga?"


"Oleh karenanya pertarungan ini akan adil," sahut Lucky Luciano.


Thomas berpikir sejenak. "Baiklah, tetapi jika kau kalah?"


"Aku akan kirimkan kau banyak senjata dan uang. Aku sangat kaya, Thomas ditambah harta istriku. Alberth juga akan menyokongmu. Aku akan kirimkan segala hal yang kau butuhkan!" jawab Lucky asal-asalan.


"Tidak buruk!"


Pertarungan dimulai dan Carlos mulai pasang aksi. Tetapi si Goliath tak mudah di kalahkan sementara suara gemuruh dukungan untuk si raksasa bergema seantero belantara.


"Aku yakin sendinya akan segera hancur," kata Thomas terkekeh saat si raksasa membuat Carlos terlempar dalam sekejap. Carlos bangkit melawan, tinju dan tendangan sama sekali tak mempan di tubuh Goliath. Pria raksasa itu mengaum seperti seekor King Kong sambil pukul-pukul dadanya. Sorakkan makin riuh untuknya. Ia ayunkan satu pukulan dan Carlos kembali terlempar.


Carlos butuh strategi sebab ia kalah di postur dan kekuatan. Lucky kembali meringis saat Carlos dibenamkan dalam podium hingga podium yang terbuat dari kayu dan papan berlubang. Carlos masih bangkit dan Lucky kagumi kegigihan juga keuletan Carlos. Pria itu dengan sabar menggiring Goliath, berhasil menjebak Goliath menginjak lubang hingga tinggi mereka sejajar sekarang. Tanpa buang-buang waktu, pria itu menghajar si raksasa tanpa ampun dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi sisakan suara desahan kecewa dari penonton yang semula berhura-hura mengejeknya. Limbunglah si Goliath.


"Luar biasa juga dia," angguk Thomas sportif. "Meskipun dia menang, taklukan Nona Oriana adalah hal sulit lainnya."


"Biarkan saja dia," sahut Lucky. "Kurasa sampai jumpa besok, Tuan Adolfus. Aku sangat lelah dan harus tidur! Kau akan biarkan Tuan Alberth bersama Nona reporter itu, malam ini."


"Tentu saja, tapi tentara-ku akan berjaga-jaga di depan ruang tidur Nona Oriana."


Carlos kembali pada mereka dengan wajah setengah hancur bahkan suaranya terdengar aneh setelah dicekik Goliath. Lucky berdecak.


"Kuharap hadiahnya buatmu puas," kata Lucky mengangguk-angguk kagumi ketangguhan Carlos.


"Kurasa aku akan ditendang dengan penampilanku ini," sahut Carlos meringis kesakitan sementara darah meleleh di pelipisnya.


Lucky dan Francis pergi diantar cataleia ke ruangan masing-masing. Meski Francis ngotot berada satu ruangan dengan Lucky, Cataleia mengangguk keras ke arah ruang di seberang Lucky Luciano. Francis curigai sesuatu tetapi jika ia bertingkah, penyamaran mereka akan terbongkar. Lucky mengangguk pada Francis untuk waspada dan mereka cukup istirahat saat di kapal, sebaiknya mereka tak tidur sampai pagi.


Carlos diantar ke ruangan di mana Oriana disekap. Dua tentara berjaga-jaga di depan pintu. Wanita itu sangat terkejut saat melihat seorang pria di kamarnya.


"Kurasa Anda salah masuk ruangan!" kata Oriana berdiri waspada di pinggir ranjang. Ia punya sedikit ilmu bela diri.


"Tidak, ini ruangannya. Aku kalahkan Goliath, petarung Tuan Adolfus dan hadiahnya ada di ruangan ini," sahut Carlos berdehem sebab suaranya terdengar aneh dan wanita di depannya tak kenal lagi padanya.


"Silahkan Anda mencari harta karun yang dimaksud dan keluarlah. Aku harus istirahat," balas Oriana sapukan pandangan sekeliling menebak apa yang pria aneh di depannya inginkan. Waspada saat tahu yang dimaksud Thomas Adolfus adalah dirinya. Carlos menutup pintu di belakang dekati Oriana yang menyipit padanya.


"Berhenti di situ, Tuan! Aku punya jurus Budha di atas Teratai, kalau-kalau kau berani macam-macam," kata Oriana memutar kedua telapak tangan dan satu kaki menopang sedang kaki lain menekuk persis Budha di atas teratai.


Carlos tegak di tengah ruangan kamar yang hanya diterangi cahaya dari sebuah lentera.


"Posisimu tidak sempurna. Kuda-kudamu rapuh."


Carlos bergerak cepat sapukan satu gerakan pada kaki-kaki yang tidak kokoh itu, Oriana terjerembab di tempat tidur. Carlos menyusul wanita itu, menahannya di ranjang. Namun, Oriana loloskan dirinya, menggeliat seperti seekor hewan berlendir, turuni ranjang. Carlos berdecak sambil berguling cepat, bangkit dan duduk lalu meraih pinggang wanita itu kembali padanya sebelum wanita itu larikan diri.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Carlos pelan, memeluk Oriana yang tak lagi bisa bergerak karena kedua paha Carlos menjepit tubuhnya.


"Lepaskan aku!"


"Lizzy?!" bisik pria itu sangat pelan hingga seperti bunyi desisan.


"Ka,ka,kauuuu?!" Oriana terbelalak. "Apa yang kau lakukan di sini?" bisik Oriana Fritteli terperangah.


"Apa yang aku lakukan di sini?" ulang Carlos keheranan. "Berhentilah konyol dan buat aku dalam masalah! Kau tahu bahwa aku hanya punya waktu 72 jam untuk bawa kau kembali," balas Carlos berbisik di wajah Oriana, was-was suara mereka kedengaran dari luar.


"Aku sedang bekerja," seru si wanita antara kesal dan marah. "Aku memang diculik awalnya tetapi kupikir aku bisa merilis artikel untuk sudahi peperangan panjang dan perebutan harta di wilayah ini. Aku ingin jadi koresponden yang bertugas di sini," sahut Oriana cepat.


"Lizzy, jangan buat aku kesal! Kau pikir kau bisa bermain-main dengan Thomas Adolfus? Hanya karena dia terlihat lemah lembut padamu bukan berarti kau benar-benar bertingkah seperti temannya. Kau tahu bahwa negara sangat kuatir padamu! Pikirmu satu artikel-mu bisa merubah situasi? Aku akan bawa kau pulang besok."


"Kau harusnya menjaga Irishak Bella, kudengar dia dikejar-kejar Mafia," sungut Oriana. "Kupikir kau sibuk dengan Irish?"


"Kau cemburu?" tanya Carlos menarik si wanita dan jatuhkan tubuh mereka di atas ranjang sebelum memeluk si wanita erat-erat. "Kau bisa dijadikan istri ke 33 oleh Tuan Adolfus. Aku akan membawamu pergi besok pagi, berhentilah berkeliaran Lizzy Oriana! Mari menikah setelah kembali dari sini," ujar Carlos tanpa longgarkan lengannya bicara di telinga Oriana. Wanita itu terlihat kurusan. Bagaimana bisa Oriana dan Irish berkeliaran di dunia kekerasan dengan wajah cantik mereka? Apa yang mereka kejar? Mereka bisa jadi santapan empuk pria-pria lapar mata.


Oriana menatap pria di depannya tanpa kedip.


"Meskipun aku tergila-gila padamu, aku tak ingin menikah dalam waktu dekat. Aku masih mengejar karirku," jawab si wanita keras kepala.


"Ya, lakukan saja apapun yang kau inginkan, tetapi, menikahlah denganku."


"Apa Irish menolakmu? Kau berbalik padaku?" tanya Oriana curiga. Carlos amati Oriana, pada sorot mata setajam elang.


"Dengar Nona! Irish berhenti dari pekerjaannya. Kini ia dikejar-kejar Mafia dan ia benar-benar dalam cengkeraman mereka. Apa kau tak takut akan berakhir seperti Irish?"


"Aku tak ingin berakhir di dapur dan memasak makanan. Mungkin nanti, tidak sekarang dan Irish selalu keseleo. Aku tak akan lakukan itu. Kau tahu bahwa dia terjebak cinta pada Elgio Durante dan dia berakhir dengan masalah. Aku tak akan terjebak pada seorang pria meskipun aku ...."


Carlos letakkan telunjuk di bibir sang wanita memintanya diam sebelum mengusap lembut dan menciumnya perlahan.


"Ini terlalu berbahaya, Lizzy!"


Beberapa orang bergerak dia depan pintu menuju ruangan Lucky Luciano dan Francis Blanco. Terlihat dari bayangan yang melintas di bawah pintu. Mata Carlos awasi dan itu bukan gerakan tentara di depan ruangan Oriana. Instingnya berbunyi nyaring.


"Aku harus pergi," ujar Carlos ragu, apakah harus tinggalkan Oriana sendirian atau memeriksa ke kamar Lucky Luciano?


"C ... " panggil Oriana menarik pria itu padanya. Carlos yakin Lucky Luciano bersiaga dan tak tidur, begitupula Francis.


Jadi, pria itu kembali memeluk Oriana dan pasang telinga. Sementara Lucky Luciano pura-pura terlelap. Ia mendekap lengannya dan bayangkan memeluk Reinha Durante.


"Baiklah, aku akan bersabar dan lakukan ini dengan cepat selama 48 jam dan kembali padamu." Berguman pada diri sendiri.


Seseorang mengendap-endap masuk ke dalam ruangan kamarnya. Lampu lentera berpijar cukup bagus untuk berikan gambaran di dinding, bayangan seorang wanita mendekat dengan sebilah belati di tangannya. Lucky segera terbangun tetapi si wanita dengan sigap menaruh belati di lehernya.


"Katakan, apa tujuanmu datang kemari, Lucky Luciano?"


Lucky tak menghindari belati saat menempel di tenggorokannya. Ratruitanae menatapnya tajam.


"Kau tak lihat apa yang aku bawa, Nona?" tanya Lucky menatap wanita di depannya lurus.


"Jangan coba-coba trik-mu padaku. Kau harusnya ada di penjara! Mengapa kau bisa ada di sini? Apa pemerintah mengirimmu kemari?" tanya si wanita semakin menekan belati.


Lucky pegangi tangan dengan belati itu dan semakin tancapkan ke lehernya hingga tergores dan darah segar mengalir dari sana. Tingkahnya buat si wanita terpana.


"Apa kau percaya kini kalau aku bukan musuhmu? Aku akan segera pergi, jangan cari masalah denganku!"


***


Hadeeeh ini Author-nya haluuu parah. Jangan mencerna chapter-chapter tentang apa yang Lucky Luciano lakukan, ya, apalagi kait-kaitkan dengan institusi, pemerintahan dan wilayah atau daerah tertentu. Aku cuma ngarang bebas aja. Please anggap ini hiburan!


Cintai saja aku!!!