
"Marya, ayo pergi double date?"
Reinha berbisik dari bangku sebelah saat Ethan Sanchez pergi ke lorong belakang perpustakaan sibuk mengajari Arumi menempel ulang kartu pengembalian buku perpustakaan. Gara-gara Arumi, kepala perpustakaan menegur Ethan keras dan itu bikin Ethan Sanchez ingin mencekik Arumi.
Dari arah belakang terdengar perintah kejam Ethan Sanchez pada Arumi.
"Tempel di lembar terakhir buku dan rekatkan kembali sampulnya! Mengapa hal sepele begini kau tak bisa juga? Apa saja yang kau bisa?" hardik Ethan tidak sabaran.
Arumi bersungut-sungut meski tangannya terus bekerja. Ia berkeluh kesah.
"Perpustakaan ini punya pegawai Ethan, mengapa kau suruh-suruh aku? Tiap hari kau menyiksaku. Apa kau tidak bosan?"
Ethan terdengar depresi. Pikir tak habis pikir, ada seorang gadis blo'on minta ampun seperti Arumi di dunia ini. Jadi, kecerdasan dan kepintarannya di televisi itu tak lebih hanya tuntutan naskah drama.
"Jika kau tak merusak kartu pengembalian buku, tak ada yang akan menyiksamu, Arumi. Ya Tuhan, kau harusnya masuk sekolah luar biasa untuk gadis keterbelakangan mental. Sia-sia saja bicara denganmu! Selesaikan kerjaanmu dan menyingkir dari hadapanku!"
Disuruhnya menyingkir tetapi mereka akan bertemu lagi nanti sore saat les private. Ethan mulai tertekan.
Marya kembali pada Reinha meski iba pada Arumi, Marya tak berani konfrontasi dengan Ethan tegal Arumi.
"Double date?" tanya Marya.
"Ya. Mari kita pesan tempat untuk kencan romantis bersama Elgio dan Lucky. Bagaimana menurutmu?" Reinha berbisik lagi agak besar. Terus belajar capek juga otak mereka.
"Tapi di mana? Jangan di restoran Reinha. Aku tak begitu suka yang terlalu formal."
"Ada apa bisik-bisik?" tanya Ethan Sanchez mendadak muncul. Baik Marya maupun Reinha langsung menutup jidat mereka dengan telapak tangan, belakangan Ethan suka mengetuk kening mereka dengan keras.
"Tidak ada," sahut Reinha.
"Urusanmu dengan Arumi sudah beres?" tanya Marya geli lihat tampang kesal Ethan.
"Beres apanya? Aku ingin meneliti volume otak Arumi. Terbuat dari apa ya, otaknya itu?" dengusnya gusar. Gadis itu tak bisa apapun, fix, tulalit tingkat dewa.
"Ethan, kau jahat sekali. Tolong jangan keras-keras padanya," pinta Marya.
"Karenamu aku terus bersama Arumi. Jika tak ada kemajuan Minggu ini, aku tak peduli, aku akan berhenti," seru Ethan berapi-api. "Ngomong-ngomong, aku dengar kalian bingung cari tempat untuk kencan?"
"Eh?!" Reinha dan Marya saling pandang ternyata Ethan mendengar mereka.
"Datang saja ke kafe, tempatku kerja part time! Aku jamin kalian bisa saling pandang sampai saraf mata bengkak dan pecah," tawar Ethan.
"Kau promosi apa mengutuk kami, Ethan?" keluh Marya.
"Di mana itu? Kau ini banyak sekali tempat kerja?" sambung Reinha.
"Aku kan bukan billionaire macam kalian."
"Baiklah, share lokasinya. Kami akan ke sana nanti sore. Apa kau ada di sana nanti?" Reinha pertimbangkan usul Ethan setelah Marya juga terlihat setuju.
"Tergantung."
"Jika kau ada di sana, kami tak jadi pergi sebab kau tahu Elgio dan Tuan Lucky tak suka padamu," kata Marya tanpa bermaksud melukai Ethan. Pada kenyataannya dua pria itu tak suka pada Ethan.
"Pria-pria bodoh yang aneh. Mereka cocok baris-berbaris bersama Arumi," olok Ethan Sanchez.
"Ya, dan kau selalu membuat kami dalam masalah Ethan," ujar Reinha cemberut.
"Senang melihat kalian berantem gara-gara aku."
"Tunggu sampai Elgio benar-benar mengamuk dan kami disuruh belajar dari rumah. Ia sedang membahas masalah ini dengan Tuan Abner," ujar Reinha pura-pura muram.
Ethan terkejut berbalik pada Marya yang menjawabnya dengan anggukan malas, setujui Reinha.
"Oh baiklah, aku akan berhenti mengganggu kalian berdua. Silahkan berkencan dan ketularan bodoh lantaran cinta buta."
Ethan Sanchez akhirnya sanggupi dua sahabatnya yang sedang mabuk cinta untuk kencan ganda di Kafe tempatnya kerja part time meski hatinya sakit. Ethan tak mengerti lebih perih yang mana, melihat Marya bermesraan dengan Elgio atau melihat Arumi unjuk kebodohan. Yang pasti ia hanya harus memilih satu dan ia memutuskan untuk les privat dengan Arumi, berjanji pada Marya dan Reinha, tidak akan muncul di kafe.
Suasana Kafe di sore hari tampak sepi. Elgio Durante dan Lucky Luciano datang bersamaan, saling mengerut satu sama lain.
"Apa kau akan kencan dengan adikku di sini?" tanya Elgio tidak suka.
Lucky angkat bahu. "Sayangnya begitu, Reinha mengirim lokasi ini."
"Baiklah, kau boleh di ufuk timur dan aku di ufuk barat. Mood-ku bisa semaput melihatmu."
Lucky angguk-angguk. "Kami akan duduk di meja no.9, sepertinya dipojok Kafe."
Elgio memeriksa ponsel dan pesan dari Marya, meja no.9. Pria itu lagi-lagi mengernyit tidak suka.
"Ais yang benar saja! Meja No.9 juga?"
Lucky tersenyum tawarkan persahabatan meski cuma basa basi. Lucky juga tak begitu suka pada Elgio tetapi bersyukur berkat Elgio, ia temukan hatinya yang berdarah-darah untuk Reinha.
"Bagaimana kalau kita duduk saja dan tunggu mereka datang biar jelas."
Keduanya duduk hadap-hadapan tak saling bicara mula-nya, sampai Elgio merasa jenuh dan mengajak Lucky bercakap meski itu bukan obrolan tetapi interogasi panjang.
"Kemana kalian semalam? Reinha tak pulang ke rumah, aku tahu, meski Abner tak beritahu aku. Aku kehabisan kata. Apa kau tidur dengannya?" tanya Elgio. "Aku katakan pada Enya berkali-kali, tak ada ponaan dari hasil hubungan liar. Enya masih 17 tahun, baru akan 18 tahun. Bisakah kalian jaga jarak?!"
Lucky menatap Elgio, mencari kata yang pas untuk menjawab pertanyaan itu. Gadis 18 tahun yang terlihat sangat dewasa dan matang. Memikirkan Reinha, Lucky Luciano kepincut bolak-balik, pembuluh darahnya berdesir hanya dengan mendengar nama Enya disebut-sebut, benar-benar jatuh cinta sepenuh hati pada gadis itu.
Lucky hendak menjawab ketika dari pintu masuk, Reinha dan Marya tampak sangat bersemangat. Lihat Reinha yang secerah mentari jam tiga sore, Lucky langsung meleleh. Gadis itu terselubung sindrom yang bisa buat Lucky tergila-gila padanya.
"Apa kalian menunggu lama?" tanya Reinha ambil posisi di samping Lucky. Terlihat ingin mengecup pria itu tetapi segan pada Elgio yang melempar tatapan tajam padanya.
"Jadi kalian berdua sengaja mengatur pertemuan ini?" tanya Elgio menyipit pada adiknya. "Kau ingin aku turunkan restu pada hubunganmu dan Lucky?"
"Jangan berpikir terlalu berat, Kak. Bagaimana kalau kita nikmati saja sore ini? Sudah pesan minum?"
"Belum," jawab Lucky menatap kekasihnya berbunga-bunga. Bagaimana seorang gadis tampak sangat memikat dengan seragam sekolahnya?!
"Tak perlu terburu-buru," sahut Reinha balas menatap Lucky dengan senyuman terbaik. Rasanya menyenangkan duduk bersama kekasihmu dan kakak laki-laki di suasana tenang kafe walaupun keduanya tampak bersiaga untuk saling menggigit.
Elgio miringkan satu sudut bibir, mereka mabuk asmara di depannya secara terang-terangan.
"Eh?! Kapan kau ke sana Marya?" tanya Reinha keheranan segera cemburu pada Marya. Lucky tak pernah mengajaknya ke sana.
"Aku pergi bersama Elgio dan kami memilih beberapa kemeja," jawab Marya. Teringat sentuhan gila semalam, Marya merona merah. Apa yang dilakukannya pada Elgio di dalam sana semalam? Wajahnya menghangat, pipi dan puncak hidung memerah jambu. Marya mengibas wajah mengusir rasa hangat dari sana. Mereka bahkan bikin ronde kedua hingga pramuniaga toko datang karena mereka terlalu lama dalam ruangan.
Reinha menyipit pada Marya lalu pada Elgio. "Mencoba kemeja atau apa?! Kenapa wajahmu kemerah-merahan, Marya?! Apa Elgio menggila di dalam ruang ganti? Tidak heran sih, kakakku tak pandai kendalikan diri. Aku tak yakin kau selamat sampai hari pernikahan," ujar Reinha menduga-duga. Ia sering begitu jika teringat kemesraannya pada Lucky, kemerah-merahan seperti fajar menyingsing.
Elgio menengok wajah gadisnya yang bersemu merah bak udang dalam minyak panas. Marya menangkup dua pipinya sendiri, tak tahu cara hentikan rona di wajah. Elgio terkekeh geli.
"Kemarilah! Kau manis sekali semalam itu!" bisik Elgio dan memeluk Marya merapat padanya dan mengecup puncak kepala gadis itu. "Mau kusembunyikan kau di dalam mantel?" tanya Elgio dan membuat Marya makin tersipu-sipu.
"Jangan menggodaku, Elgio!" sahut Marya menutup kedua wajahnya.
"Astaga, lihatlah mereka?! Benar-benar tak terselamatkan," ujar Ethan Sanchez datar.
Tak ada yang menyadari kedatangan Ethan Sanchez dan Arumi yang mengekor di belakang dengan wajah kusut dan lecek mirip pakaian yang belum di setrika.
"Duduk di pojok sana, buka bukumu dan kerjakan soal di halaman 5. Merepotkan saja," bentak Ethan pada Arumi.
"Eh?! Mengapa kau di sini? Bukannya tadi kau bilang tak masuk kerja?" tanya Reinha melirik pada Elgio dan Lucky yang ekspresi cinta mereka memudar perlahan lihat kedatangan Ethan.
"Apa kau juga akan kencan dengan Arumi di tempat ini?" tanya Lucky tak suka. Cukup buruk ada Elgio Durante, tambah buruk ada Ethan Sanchez lagi.
"Ini tempat kerjaku! Kedua gadis itu datang kemari atas rekomendasi dariku."
Elgio dan Lucky langsung menyipit pada gadis mereka masing-masing.
"Kehabisan tempat atau apa?" gerutu Lucky. Sementara Reinha dan Marya saling pandang, harusnya tak percaya pada Ethan.
"Kau tadi bilang tak akan bekerja?" tanya Marya galau sebab Ethan sering menatapnya jelas-jelas suka seakan dia punya hak lakukan itu sementara Elgio selalu bad mood jika bertemu Ethan Sanchez.
"Harusnya, tapi Bos-ku meminta aku masuk kerja karena pekerja lain mendadak ada urusan penting. Menyebalkan harus melihat banyak orang bodoh sore ini," gerutu Ethan Sanchez langsung melengos ke ruangan khusus karyawan.
Elgio mengerut, "Siapa yang dia kata 'bodoh'?" tanya Elgio pada Lucky. Yang ditanya hanya angkat bahu tetapi menyusul Elgio, tersinggung berat, merasa disindir Ethan meski tak paham bodoh dalam kasus apa?
Elgio berdiri. Ini bukan kencan tetapi Medan perang. "Ku rasa sebaiknya aku dan Marya pulang ke Durante Land, bergandengan tangan dan duduk menonton kambing merumput. Ayo pergi, Marya!"
Suasana sungguh tidak benar, ada Lucky Luciano dan ada Ethan Sanchez pula. Memang bisa mesra-mesraan dengan Marya sementara ada dua laki-laki brengsek itu?
Namun, bukan ide buruk bikin Ethan Sanchez cemburu padanya. Bukankah sekarang waktu yang tepat untuk buat Ethan Sanchez makan hati? Remaja itu terus saja mengejeknya, baiknya Elgio beri dia pelajaran.
"Kami akan tinggal," kata Lucky meraih Reinha ke dalam pelukannya dan melekat pada Reinha tanpa malu-malu, pajang wajah cinta hingga Reinha terheran-heran pada Lucky yang tiba-tiba kelewat romantis.
Elgio menimbang dan sepakat dengan Lucky, kenapa tidak tinggal saja. Oh konyol sekali ini, ia tiba-tiba merasa kekanak-kanakan.
"Baiklah, aku juga akan tinggal dan jadi obat nyamuk untuk adik perempuanku yang pacaran dengan kekasih brengseknya."
"Ayolah, Kak. Kau tak bisa terus-terusan memanggilnya brengsek," protes Reinha. "Lagipula kau bersama Marya. Aku mengatur kencan romantis ini agar kami tak perlu back street."
"Kencan romantis? Apanya?" guman Elgio.
"Berhenti kesal Elgio. Mau kupesan minum?" tanya Marya meraih tangan kekasihnya dan menggenggam erat. Gadis itu tersenyum manis luluhkan hati Elgio yang suntuk. "Kita bisa minum dan berbincang banyak hal."
Seakan tahu, minuman datang dengan cepat. Ethan membawa empat gelas minuman. Dua caramel macchiato dan menaruhnya untuk Reinha lalu Marya dan 2 lemon tea penuh es untuk Lucky dan Elgio.
"Maaf telat, cokelat untuk hangatkan hati," kata Ethan tanpa ekspresi. "Aku tambahkan love di atasnya. Untukmu Marya Corazon, gadis yang sudah mencuri hatiku dan untukmu Reinha Durante, yang pernah tergila-gila padaku. Nikmati kencan kalian ya, aku ada di balik kasir. Jika patah hati, tahukan kemana harus cari bantuan? Masih simpan nomerku? Kalian berdua harus tahu, bahuku selalu available untuk kalian berdua."
Ethan merusuh, berkedip genit pada Reinha dan beri kecupan samar dari jarak jauh pada Marya. Ia lekas menjauh sebab bisa jadi ditabok Elgio jika saja Marya tak erat memeluk tubuh Elgio.
Sial sekali punya sahabat macam Ethan Sanchez, keluh Marya dalam hati.
Lucky minum lemon tea untuk kendalikan emosi. Ia ingin meninju wajah Ethan tetapi menahan diri.
"Ini lemon tea atau lemon beku?!" erang Lucky terbatuk-batuk. Gigi-giginya langsung ngilu.
"Kau bodoh? Mengapa diminum? Bisa jadi dia mengerjai kita," geleng Elgio.
"Es dengan sedikit lemon untuk dinginkan kepala kalian berdua agar tidak berlebihan impulsif padaku," sahut Ethan kalem dari balik counter kasir.
"Lakukan lagi, Ethan! Aku akan dengan senang hati bacakan balada umpatan untukmu," balas Lucky akhirnya terpancing juga.
Oh buruk sekali, keluh Reinha. Ethan mulai jahili mereka lagi dan double date itu ricuh. Harusnya ia tak bersemangat mengatur kencan model begini.
Beberapa remaja puteri masuk dan mengantri. Mereka melirik pada Elgio Durante dan Lucky Luciano, berbisik-bisik dan terpesona, tetapi menggeleng seakan bilang, mereka tampan tapi sayang sudah punya kekasih.
Tatapan beralih pada Ethan Sanchez dan merekah senyum, terang-terangan jatuh hati pada wajah tampan Ethan. Mereka membeli minuman sambil memujanya sementara Ethan terlihat tak peduli meski tersenyum tebar pesona untuk menarik hati pengunjung.
Arumi mencibir dari pojok. Dasar tukang pamer. Ia melamun. Sial sekali hari ini harus lihat Aruhi dan Elgio bermesraan di tengah kafe sedang ia harus bermesraan dengan banyak rumus. Jika tidak ada Aruhi, Elgio pasti jadi miliknya. Apa dia rebut saja Elgio? Bagaimana caranya? Elgio sangat menyayangi Aruhi dan terus saja terpesona pada Aruhi. Arumi akan tanya Valerie, siapa tahu Valerie punya usul yang bagus.
"Apa yang kau pikirkan?" Ethan mengetuk kepala Arumi keras.
"Awhhhh, apa yang kau lakukan? Sakit Ethan...." jeritnya tak sadar Ethan berada dua langkah darinya.
"Hampir 20 menit, satu soalpun belum selesai?" Ethan masukan kedua tangan dalam saku celemek. "Bisa gila aku jika terus begini."
"Kesana saja Ethan, pelangganmu datang," tegur Arumi.
Ethan buru-buru kembali ke balik counter dan layani pelanggan. Seorang gadis remaja membeli tiga gelas latte, curi-curi memotret wajah tampan Ethan.
"Apa kau sudah punya pacar?" Bertanya penuh harap.
Ethan menyodorkan tiga gelas americano latte, "Sudah. Tuh di sana!" Mengangguk skeptis pada Marya yang berada dalam dekapan Elgio.
"Eh?!"
"Aku menunggu mereka putus."
***
Aku gak bisa nulis chapter penuh badai, penuh getaran karena sangat sibuk. Jadi, nikmati chapter ini sebagai hiburan ya ....
Ketemu tipo tolong beritahu Author....