Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 80 Situasi Rumit!!!



Hari kemarin ketika Marya nyaris dinodai....


Lucky Luciano terburu-buru ke tempat Reinha dan Queena berada. Elgio diseret ke rumah sakit oleh Abner meski pria itu menolak keras. Lengannya akan dibedah untuk keluarkan proyektil dan Elgio yang terluka jiwa-raga akhirnya pasrah di meja operasi. Sedang Dilly juga dioperasi dan berhasil selamat. Tak ada yang bisa mereka lakukan sembari menunggu konfirmasi Valerie meski Elgio mati-matian memaksa Abner lacak keberadaan Valerie.


Sunny kembali ke Paviliun Diomanta karena Salsa yang kembali drop setelah Marya menghilang. Kesadaran wanita itu perlahan menurun akibat depresi Aruhi diculik, terus saja salahi dirinya sendiri sedang Arumi telah diusir dari rumah.


"Enya?!" Lucky mendekat, tak ambil pusing pada Axel dan Queena yang duduk di sofa ruangan itu, berseberangan dengan atmosfer aneh.


"Lucky?!" Reinha begitu sumringah melihat kekasihnya.


"Apa kau baik-baik saja?!" tanya Lucky seraya


menggendong Reinha yang lemas di atas sofa dan biarkan gadis itu duduk di pangkuannya, menghadap pada Axel dan Queena. Reinha duduk di pangkuan alih-alih bersandar padanya adalah kebiasaan untuk tunjukan pada gadis itu betapa ia sangat mengasihi Reinha.


"Ya, cuma masih mengantuk," jawab Reinha kalungkan tangannya pada Lucky. "Ya Tuhan, sejak jadi kekasihmu, aku selalu mabuk tidur," keluh Reinha.


Lucky beri dekapan hangat pada kekasihnya, mengecup kepala gadis itu berulang kali dan satukan jemari mereka. Ia mengangkat wajah Reinha dan menatap gadis itu.


"Apa Valerie menamparmu?" Lucky mengelus pipi kanan gadis itu yang membiru.


"Mana berani dia padaku? Seorang pria yang lakukan ini padaku," jawab Reinha murung. Keinginan untuk mencakar wajah Valerie.dan merobek mulut wanita itu makin besar. Lihat saja nanti!


"Aku akan patahkan tangannya, nanti! Aku merindukanmu!" kata Lucky Luciano. "Maafkan aku tak bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu," kata pria itu penuh penyesalan.


Banyak hal yang ingin Lucky tanyakan, ingin ia katakan tetapi saat ini, Lucky hanya ingin mendekap Reinha. Biarkan bibirnya berlabuh di kening Reinha. Gadisnya pasti lalui kejadian demi kejadian yang sangat rumit.


"Kau bisa bacakan dia puisi!" Axel bicara dari sebelah seakan "say hallo" pada Lucky.


"Trims, Axel. Meski aku tak ingin mengakui, tetapi aku berterima kasih padamu," sahut Lucky Luciano kian erat memeluk Reinha seakan takut gadis itu hilang.


Axel Anthony amati keduanya dan cemburu pada Lucky Luciano. Pria itu tak malu-malu unjuk mesra dan romantis pada pasangannya. Lucky tak risih manjakan kekasihnya di depan orang lain dan itu bisa jadi buat kekasihnya berbunga-bunga. Pria itu bahkan bacakan puisi untuk gadis yang dipangkunya itu.


Berbeda dengan dirinya.


Axel Anthony, pria pendiam, dingin, kaku, introvert. Romantis bukan gayanya dan menggelikan jika ia harus romantis. Itulah mengapa Axel tak punya kisah cinta sebab wanita adalah makhluk ambigu dan membingungkan, baginya. Mereka banyak mau dan Axel tak ingin buang-buang waktu untuk ladeni mereka. Tetapi kini, ia telah sebabkan Queena hamil dan tiap kali melihat perut wanita itu, tubuhnya berirama.


"Aku tak lakukan itu dengan cuma-cuma Lucky. Kau pasti tahu, sebab kita satu aliran. Apa kita impas sekarang? Kau menjaga milikku dan aku selamatkan milikmu. Kau akan biarkan Queena bersamaku, Lucky," kata Axel tak alihkan pandangannya dari Queena yang terang-terang protes.


"Tidak semudah itu, Axel," jawab Lucky. Keduanya saling menatap sangat serius.


"Aku telah buat segala hal mudah bagi kita berdua, Lucky. Queena adalah milikku."


"Kau menyiksanya di kamp, Queen tampak kurus dan layu saat aku temukan di sana."


Axel mendengus, "Dia mogok makan!"


Axel Anthony bersandar ke sofa, amati Queena yang gelisah. Memang tidak nyaman, bahkan tak mungkin bersama seseorang yang telah menodai-mu. Axel mengerti Queena, tetapi kisah satu malam mereka telah mengubahnya, walau dilakukan secara paksa olehnya. Haruskah segala hal dijelaskan dengan logika agar terdengar masuk akal?


Ingatannya kembali pada malam ketika Queena berusaha larikan diri dari kamp penyekapan dan Axel mengejarnya ke tengah hutan, menangkap gadis itu, dan membawanya kembali ke kamp sebelum memaksa Queena berserah padanya. Gadis itu masih perawan dan ia sendiri seorang pria kolot yang tak suka **** bebas. Tanpa Queena ketahui, itu pertama kalinya juga bagi Axel. Sebelum menculik Queena, Axel telah pelajari profil gadis itu, Queena tak punya kekasih dan sepertinya hanya peduli pada kuliahnya.


"Lucky Luciano, kau badboy karena banyak skandal dengan wanita. Aku dianggap badboy karena menculik seorang wanita dan tidur dengannya tanpa ijin. Tapi kau tahu ..., kita sama, posesif pada sesuatu yang memang adalah milik kita." Melirik Queena.


"Aku milikku sendiri, Axel, bukan milik siapa-siapa," seru Queena ketus. Sangat terganggu dengan kata "milikku" yang diulang-ulang.


Axel manggut-manggut. "Ya ... kau benar. Kau milikmu sendiri. Tetapi ketika kau berserah padaku, kau adalah milikku," balas pria itu dingin.


"Aku tak berserah padamu! Kau memaksaku!" seru Queena emosional. Lalu mengeluh saat perutnya keram-keram. Si embrio itu bereaksi seakan tak suka ia menghardik Axel, jatuh cinta pada suara itu saat Axel bicara, sungguh aneh. Bayinya pasti perempuan, Queena yakini itu.


"Dengar aku, Queena! Kini, ketika kau mengandung bayiku, kau adalah milikku utuh," kata Axel dengan penekanan kata-kata mendalam. Sedari tadi "milikku" digaris bawahi, diucapkan dengan penuh penekanan, seakan menutut Queena harus sepakat dengannya. Harus setuju soal "Milik Utuh".


Queena melotot pada Axel. "Aku akan gugurkan kandungan ini, kau tidak dengar?"


"Tidak boleh!" kata Lucky dan Axel bicara bersamaan. Keduanya menatap Queena tidak suka.


"Jangan konyol! Kau katakan itu karena kau sangat putus asa," tambah Lucky. "Jika kau tak mau bayi itu, aku dan Reinha akan jadi orang tuanya." Lucky berucap percaya diri.


Reinha mendesah. "Kau yakin, Lucky? Aku masih 18 tahun, bahkan belum benar-benar 18 tahun," keluh Reinha di leher pria itu. "Bayi itu punya Ibu dan Ayah, kenapa kita harus mengurusnya? Aku tak mungkin pergi ke sekolah bawa-bawa bayi. Kau aneh sekali! Aku hanya akan jadi Ibu baptisnya." Senyuman gadis itu mengembang di akhir kalimat. "Ya Tuhan, aku pasti jadi Ibu baptis termuda dan paling kece seantero bumi. Aku akan pakai gaun berwarna sama dengannya di hari pembaptisan. Bukankah kedengarannya keren, Lucky?"


"Ibu baptis terimut di dunia," sambung Lucky berbinar-binar. "Kita akan pilihkan dia nama yang bagus."


Dua orang itu sibuk mengkhayal jadi wali baptis sedang yang punya bayi masih kaku kejang satu sama lain. Mereka tak sepakat pada apapun.


"Gugurkan sama dengan membunuh. Bagaimana bisa seorang dokter sepertimu berpikir tentang membunuh nyawa seseorang? Bayimu sendiri!" ujar Axel keberatan pada pemikiran Queena. Gadis itu pintar, bagaimana bisa punya ide ingin membunuh bayinya sendiri. What the hell?!


"Karena aku dapatkan bayi ini darimu! Kau lupa, apa yang kau lakukan padaku?" Queena meninggi.


"Jika kau tak ingin hidup bersamaku, baiklah. Aku tak akan paksa. Lahirkan bayiku dan biarkan aku membawanya! Mari menikah kontrak," kata Axel Anthony. "Aku akan cari Ibu pengganti untuknya dan beritahu bayiku, Ibunya meninggal saat melahirkan."


Queena terdiam, terlihat tak setuju tetapi tidak bersuara. Gadis itu memeluk lengannya sendiri. Ia hanya marah pada Axel dan katakan hal-hal yang tidak pantas. Semoga bayinya belum punya telinga untuk mendengar ocehan terkutuknya itu.


"Mereka telah berdebat seharian soal itu," bisik Reinha hembuskan nafas hangat di bawah dagu pria itu, turun ke jakun Lucky Luciano dan berakhir di pangkal leher pria itu. Aroma glacier dan tubuh Lucky adalah aroma yang memabukkan.


"Kau akan menggodaku di sini, Enya?" bisik Lucky parau. Ia tak keberatan, mereka akan pergi sebentar lagi dan berduaan.


Reinha tersenyum kecil, wajahnya kemerah-merahan. "Apa terlihat begitu? Seperti menggodamu? Ya ampun, aku bernapas di lehermu. Apa yang kau pikirkan?"


"Bisakah kita bersama malam ini? Aku ingin melihatmu sepanjang malam," kata Lucky lagi. "Dan memelukmu."


Dan begini ... dan begitu ... dan ... dan ....


Banyak "dan".


"Baiklah, mari bersama malam ini. Mari pergi ke Red Twilight dan menonton bintang."


Jika tak ada Queena dan Axel, mereka pasti sudah berciuman 8 bait di atas sofa. Seakan tersadar pada sesuatu, Reinha mendongak pada Lucky.


"Apakah kau berhasil temukan Marya? Ya Tuhan, bagaimana kabar Marya? Apa Marya telah bersama Elgio?"


Reinha terhenyak. "Oh Tuhan, tidak mungkin. Tidak mungkin, Valerie pasti akan lakukan sesuatu padanya."


"Aku pikirkan itu juga."


"Di mana Elgio?" tanya Reinha kuatir.


"Di rumah sakit, akan segera di-operasi."


"Di operasi? Aa,apa yang terjadi padanya?" tanya Reinha mulai panik.


"Em, Elgio tertembak tadi," sahut Lucky lagi.


Reinha bangkit berdiri, agak limbung. Kakaknya tertembak dan ia malah duduk manis di sini?! Apa ini?! Tuan Abner tak bilang padanya kalau Elgio tertembak.


"Mengapa bisa begitu? Apa lukanya parah? Apa dia baik-baik saja?"


"Enya, tenanglah!"


"Bagaimana aku bisa tenang? Kakakku tertembak? Bukankah kalian pergi bersama, Lucky? Mengapa ia bisa tertembak?" Reinha mulai uring-uringan.


"Enya, tenanglah!" Lucky kewalahan atasi kekasihnya yang berubah sangat gelisah.


"Bawa aku ke sana, aku harus bersama kakakku, Lucky! Harusnya kau beritahu aku sejak tadi," ucap Reinha hampir menangis.


"Baiklah! Mari kita ke rumah sakit. Tenanglah!" Menoleh pada Queena. "Kau akan tinggal atau ikut, Pequeena?!"


Meski Axel Anthony penjahat, Lucky tak bisa halangi pria itu sebab Queena mengandung bayi Axel. Oh ya, tapi apa bedanya Axel dan dirinya, mereka sama-sama penjahat dan berandalan. Walaupun demikian, Axel tak punya riwayat huru-hara dengan banyak wanita seperti dirinya. Satu-satunya sebab Axel disebut berandalan karena pria itu menodai Queena. Badboy seperti mereka liar dan brengsek tetapi ketika terkena panah cupid, mereka akan langsung tak berdaya, mati kutu, kehilangan taring, takut setengah mati pada kekasih. No debat.


Sementara Axel Anthony harap-harap cemas dari sofa sebelah, ingin menahan wanitanya itu tapi takut Queena meradang. Teringat bagaimana ia sakiti Queena secara fisik, wajah Axel Anthony turun seakan siap dipenggal.


"Kalian butuh waktu! Lakukan demi bayi itu!" ujar Reinha. Mungkin alasan "bayi" terlihat paling masuk akal, tetapi seiring waktu, Reinha yakin mereka akan benar-benar ketemu feeling. Lihat saja, Axel yang ingin menyentuh Queena tetapi penuh pertimbangan. Pria itu terlihat ingin pergi pada Queena dan bicara pada bayinya.


"Reinha benar, Queena. Kalian berdua butuh bicara. Aku akan minta Francis menungguimu."


"Aku akan membawanya pulang, Lucky. Kami akan mampir ke dokter kandungan," kata Axel tiba-tiba buat semua orang dalam ruangan itu tercengang.


Nothing for sure, I am already yours, sepertinya Axel ingin bilang begitu. Dan Queena yang hanya diam adalah jawaban untuk Axel. Pria itu bernapas lega.


"Bisakah aku bicara pada bayiku?" tanya Axel selepas Reinha dan Lucky pergi.


"Kau terlalu banyak menuntut, Axel," sahut Queena. Mereka hanya berdua saja, itu menggelisahkan tetapi sesuatu dalam dirinya begitu menyukai suasana tenang berduaan itu dan ingin terus dengar suara Axel. Pria itu agak pincang dan mungkin karena luka tembak di pahanya. Saat Axel diam, Queena tak suka.


"Kemarikan ponselmu!" kata Queena. Ia tak akan mungkin biarkan Axel dekat dengannya tetapi tak sanggup menolak keinginan bayinya. Sepertinya ngidam ini berurusan dengan masalah hati dan psikologis.


Meski heran, Axel tetap sorongkan ponsel. Queena mengetik nomernya sendiri lalu men-dial nomer itu.


"Pergilah ke jendela! Kau bisa bicara dengannya lewat ponsel."


Axel pandangi Queena tanpa kedip, pria itu menahan napas karena suatu dan lain hal, atau karena kejadian satu malam yang telah cairkan hatinya yang beku.


"Apa mesti seperti itu? Kau tahu kalau bicara langsung lebih jernih ketimbang bicara di ponsel?!"


"Kalau kau tak mau, ya sudah, Axel."


***


Sementara bagi Arumi ....


Perjalanan pulang ke rumah kali ini adalah perjalanan terasing. Ia berkeliaran seharian di jalanan sebab takut hadapi murka Ibu dan Aunty Sunny. Hari menjelang sore ketika ia kembali pulang. Koper-koper berjejer di depan rumah dan pintu tertutup baginya. Ia diusir. Niat hati mengusir Aruhi tetapi malah dirinya yang harus pergi. Apakah Aruhi dan Reinha baik-baik saja? Arumi tak akan sanggup hadapi kemarahan Elgio Durante, Lucky Luciano dan tentu saja Ethan Sanchez. Ia akan berhenti pergi ke sekolah, Ethan pasti akan benar-benar menyiksanya.


"Ibu! Dengar aku dulu!" teriaknya dari halaman. Ibu berdiri di lantai dua, menatapnya datar dari atas sana. Wajah Ibu pucat pasi dan kedapatan meremas dadanya berulang kali.


"Ibu, aku lakukan ini agar Ibu dan Aunty tak terbunuh. Mengapa aku salah? Aku harus pergi kemana? Ibu, tolonglah!" teriaknya lagi.


Sebuah taxi datang. Tanpa basa-basi koper-kopernya diangkut dan ia digiring pergi dari rumah.


"Baiklah, jika itu mau Ibu. Aku akan berhenti sekolah dan kembali jadi artis. Aku bisa hasilkan uang Ibu."


Arumi yang bodoh tak tahu bahwa Sunny telah mengirim CV-nya ke seluruh rumah produksi untuk tak menerimanya sebagai artis, figuran bahkan pesuruh di lokasi syuting. Ia telah di black-list.


Gadis itu naik taxi antara marah dan sedih. Semua orang menjauhinya sekarang. Baiklah, ia akan mencari flat yang nyaman dan buktikan bahwa ia bisa sendiri tanpa Ibu.


Sunny mendekat dengan obat di tangan dan segelas air. Keduanya perhatikan halaman yang kosong setelah Arumi pergi.


"Kak, apa kau tega biarkan Arumi di jalanan?"


"Kita terlalu manjakan dia, Sunny! Biarkan dia merasa kesakitan di jalanan. Siapa tahu dia bisa berubah. Suruh orang awasi dia dari jauh, jangan beri bantuan apapun."


"Kakak ... ayolah. Kakak tahu kenapa dia sangat bodoh? Arumi lahir prematur dan organ otaknya sama sekali belum terbentuk matang saat ia lahir. Lebih beresiko biarkan dia sendiri."


Salsa menangis. "Kesalahanku yang tak pernah berakhir, Sunny. Dia bodoh dan jahat pada kakaknya. Kau tahu Sunny, sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada Aruhi. Aku yakin Valerie menyakitinya."


"Kakak ...."


"Panggil Ethan Sanchez, minta tolong Ethan untuk pastikan Arumi datang ke sekolah dan belajar."


"Baik Kak, meski aku yakin Ethan tak akan mau," keluh Sunny. Ethan terlihat sangat muak dan marah pada Arumi. "Kita akan serahkan semua harta dan properti yang kita dapat saat bersama Valerie."


"Lakukan saja! Mari berhenti berurusan dengannya Sunny!"


***


Do you like this chapter?!


Beritahu Author ya .... Cintai saja aku sebab aku mencintaimu ....