Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 34 Apa Ibu Masih Membenciku?!



Sementara di Paviliun Durante ....


Maribella sibuk persiapkan meja makan untuk jamuan nanti jelang malam, sedangkan Marya berkutat dengan banyak perkakas kotor. Hari ini jantung dan hatinya terus bekerja sepanjang hari, berirama tak beraturan seperti menderita kelainan dan disfungsi organ. Dimulai dari tadi pagi, saat sarapan di meja makan bersama Reinha dan Tuan Abner kemudian siang hari bersama Elgio. Bagaimana pria itu terus ciptakan debaran demi debaran seperti deburan ombak di tepian pantai lewat tatapan halus dan lembut yang berkumandang begitu intim.


Elgio nyaris terus memeluknya, jika saja Bibi Maribel tidak lekas kembali ke dapur. Mereka pacaran di dapur dan lupakan camilan dalam penggorengan di klaster terakhir hingga makanan itu menghangus dan hitam. Elgio nyaris membawanya kabur ke taman belakang, hindari omelan Bibi Maribel. Pria itu tidak kapok, ia kembali ke dapur setelah tiga jam bekerja bersama Tuan Abner dengan wajah tampan yang mempesona itu.


Kini ia berdebar kembali pikirkan akan melihat Ibu setelah bertahun-tahun. Sesekali ia berhenti beraktivitas, menengok keluar jendela, menghembuskan napas berat seakan tak mampu mengenali dan mendeteksi emosi jenis mana yang sedang bersarang di benaknya. Ia gelisah, marah, jengkel penuh dendam tetapi sangat ingin melihat Ibu. Apakah Ibu masih membencinya? Itu pasti. Ibu tak pernah mencarinya. Ia menjadi sedih.


"Apa kau gugup?" tanya Elgio.


Pria itu memperhatikan Marya yang bergerak gelisah. Elgio duduk di kursi rotan dari seberang meja, melipat tangan dengan pandangan intens seolah menikmati pertunjukan master chef. Ingin rasa menyeberangi meja dan memeluk gadis itu, ia menahan diri. Marya begitu rapuh, ringkih dan lembut, membuat Elgio terundang untuk melindunginya. Ada sesuatu pada Marya yang membuat Elgio begitu betah berada di dekatnya.


"Emmm, ya. Kau terus memandangiku tanpa berkedip. Aku jadi salah tingkah. Pupil matamu bisa mengering Elgio."


Marya meringis dengan raut muka memerah. Itu manis sekali. Elgio berkedip. Benar saja matanya terasa sakit saat ia berkedip akibat terlalu lama memelototi Marya.


Ia mendesah, "Oh, kupikir kau gugup karena akan bertemu Ibumu."


Marya berhenti sejenak, dari seberang meja ia menatap Elgio ragu-ragu. Tatapan mata sendunya menyiksa Elgio. Pria itu mengeratkan pelukan di lengannya sendiri. Jika tidak, ia akan berakhir di dekat Marya. Ia bahkan iri pada panci yang dipegang Marya, aih, separuh warasnya telah melayang pergi.


"Elgio ... bagaimana jika Ibu menolakku? Ibu pernah bilang tak ingin dikenali olehku jika aku dewasa. Aku tak tahu apakah aku membencinya atau merindukannya?"


Elgio berpikir sejenak. Ada ya, Ibu yang setega itu pada anaknya sendiri? Hewan saja tak akan melakukannya pada anak-anak mereka. Salsa sesali keputusan mencintai Benn setelah mereka memiliki Aruhi, bukankah hal itu sangat konyol? Elgio memperbaiki duduknya.


"Ada beberapa petunjuk untuk mengetahui bahwa Ibumu menginginkanmu atau tidak. Aku akan memancingnya. Pertama, jika ia tertarik bicara tentangmu sepanjang waktu dengan tulus ... kita akan tahu itu nanti ... kau boleh menemuinya. Kedua, kau bisa jadi Marya Corazon untuk membuatnya inginkanmu tetapi aku tak mau ambil resiko."


Bagaimana jika Salsa berpikir untuk menculik kekasihnya? Oh tidak, cukup sudah terpisah selama 13 tahun. Ia tak akan ijinkan itu terjadi lagi. Marya tak boleh lenyap dari pandangannya barang sedetik.


"Aku akan menguping dari dapur," putus Marya dilema. Lagipula ia tak ingin Salsa dalam masalah jika tiba-tiba melihatnya. Bagaimana jika Ibu terkena serangan jantung lalu pingsan? Marya menggeleng tanpa sadar.


"Apa Ibu datang dengan suami baru dan adik tiriku?" tanya Marya pelan, agak aneh menyebut adik tiri.


"Bisa saja iya. Bukankah Ibumu datang karena ingin menjodohkanku dengan adik tirimu itu?"


Marya tampak tak begitu suka. Apa reaksi Ibu jika tahu Elgio dan dirinya telah melangkah menuju pernikahan? Apakah ia akan merebut Elgio untuk Puterinya dan melukai Puterinya yang lain? Lagi? Marya pejamkan mata. Bayangan Ibu pergi kembali terulang, ia membuka matanya cepat dan Elgio terlihat di seberang meja, tak jemu menatapnya. Tidak. Ibu boleh melukainya dulu, tidak kali ini. Elgio adalah miliknya dan tak ada satu orangpun yang boleh merebutnya.


Sementara mereka mengobrol santai, sebuah mobil berhenti di halaman Paviliun. Elgio pergi ke jendela lalu kembali dan bicara datar penuh artian pada Marya.


"Umm, sepertinya kita kedatangan tamu."


Marya mengangkat bahu, mengirim pertanyaan, Aku tak mengerti maksudmu?


"Apa ... Ibu datang lebih awal?" tanya Marya dengan napas tersendat.


Elgio mengangguk keluar jendela sebagai jawaban dan Marya mendekat, gugup. Bukan Ibu tetapi ....


"Ethan Sanchez?!" Marya melongo keheranan, "untuk apa dia kemari?"


"Kita akan tahu. Aku akan menemuinya! Apa dia ingin mencari Reinha? Aku? Atau ... " tatap Elgio penasaran, "mencarimu di rumahku?"


"Umm ... Ethan tahu aku tinggal di sini dan ia juga yang pertama melihat wajahku. Ia melihatku tiga kali."


Kejujuran Marya membuat Elgio shock, saat tersadar cemburu menyelubungi wajah tampannya. Ia cemberut.


"Wah, itu membuatku marah. Tiga kali bukankah itu kelewatan? Kau sengaja pamer padanya?"


"Aih kau ini, aku tak sengaja. Terakhir kali seseorang menabrakku di pekan raya. Ethan melihatku di sana."


"Pekan raya maksudmu, baru-baru ini?! Jadi, aku yang menabrakmu?" tanya Elgio lebih pada dirinya sendiri.


"A, apa maksudmu?"


"Kau pergi kencan dengannya di pekan raya? Wah ... luar biasa."


"Bukan begitu ...."


Bibi Maribel masuk tergesa-gesa dan keheranan melihat dua sejoli itu sedang berdebat sesuatu, ia mengernyit. Mereka baru saja bermesraan seperti kasmaran berat dan tidak ingin saling melepas bahkan sampai melupakan satu wajan penuh peixiohos da horta yang telah menghitam dan mengepulkan asap. Mereka nyaris membakar dapur tercintanya, hal apa yang membuat wajah Elgio seakan baru saja menelan satu ember cuka? Teringat tujuannya ke dapur, Bibi Maribel bersuara.


"Nona Marya, kupikir teman lelakimu yang sangat manis itu datang mencarimu." Bibi Maribel malu-malu. Elgio menatap pengasuhnya, ia mengelus kening yang mendadak pening. Wajahnya bertambah masam.


"Manis? Apa kau menjilatinya saat menyuruhnya masuk, Bibi Mai? Manis apanya? Pucat begitu?" Elgio berkeluh tidak senang. "Tunggu saja di sini! Aku akan menemui dia!" katanya pada Marya membuat Marya terperangah.


"Ehh?! Kau tidak akan membuat keributan, kan?"


"Aku tak akan ribut dengan anak remaja. Kau tenang saja. Rasanya ingin mengurungmu di menara sebelum mata cantikmu itu terlihat oleh laki-laki lain dan mereka terhipnotis padamu."


Elgio menggerutu dan beranjak pergi meninggalkan dapur, meninggalkan Marya yang waspada penuh sedang Bibi Maribel tak mampu menahan tawa geli.


"Ya Tuhan, aku tak salah lihat? Tuan Muda cemburu berat, manis sekali."


Marya tersenyum kecut. Elgio terlihat dewasa tetapi jika Ethan memprovokasinya, bisa jadi pria itu akan berubah seperti Hulk.


"Aku penasaran siapa yang kau cari?"


Elgio menyambut Ethan di ruang tamu. Ethan membalas sambutan Elgio dengan tatapan tajam.


"Reinha sedang bekerja di kota jika kau mencari Rein-"


"Marya Corazon ... aku ingin menemuinya," potong Ethan Sanchez datar.


Elgio terdiam. Ia membenci mengakui bahwa Ethan tampan dan berkarisma. Itulah mengapa Reinha menyukai Ethan dan satu lagi, Ethan tergila-gila pada Marya.


"Marya Corazon istriku," kata Elgio sekonyong-konyong membuat Ethan Sanchez terhenyak. Ia ingin mendepak Ethan secepat mungkin dan kembali ke dapur, menginterogasi Marya.


"Baiklah, aku minta ijin bertemu istrimu Marya Corazon. Aku ingin mendengar langsung darinya."


"Bagaimana jika aku keberatan?" tanya Elgio tanpa ekspresi.


"Jika Marya istrimu dan sangat mencintaimu, kau tak perlu takut ia tertarik padaku," sahut Ethan blak-blakan. Raut remaja itu mengejek Elgio dan itu membuat Elgio geram.


"Trims karena kau mengejekku. Kau keras kepala juga ya, aku tak akan ijinkan Marya bertemu denganmu. Kau boleh pergi!" Elgio bangkit berdiri dan hendak meninggalkan ruang tamu.


"Aku menyukai Marya Corazon."


Pernyataan yang terlalu berani itu matikan langkah Elgio. Ia berbalik cepat dan gusar. Berani sekali dia menyukai Marya.


"Aku perlu bertanya padanya untuk meyakini diriku sendiri. Aku butuh kepastian dan bukan jawaban darimu. Bagaimana jika kau menikahinya hanya karena terpaksa? Kau sangat temperamental. Aku merasa perlu mendengar kabar dari Marya."


Elgio miringkan leher menolak percaya Ethan Sanchez baru saja menuduhnya temperamental dan mungkin menyakiti Marya. Itu serangan verbal paling jenius, playing victim.


"Um, aku maafkan ketidak- tahuanmu. Aku dan Marya 'menikah' sejak Marya masih kecil dan aku berumur 11 tahun. Kami terlibat cinta monyet lalu cinta sungguhan dan menikah sungguhan."


"Panggil Marya, Elgio Durante!" ujar Ethan memaksa, tidak ingin mendengar omong-kosong Elgio. Bisa saja Elgio mengakalinya.


"Ethan ...."


Marya berdiri di ambang pintu lengkap dengan hoodie.


"Marya ... apa kau baik-baik saja?" Ethan tersenyum senang, bergerak mendekati Marya. "Aku mencarimu ke Laundry tetapi Madam Niels bilang kau tidak masuk kerja hari ini dan mungkin tidak akan pernah bekerja lagi. Jadi, aku kemari. Apa kau baik-baik saja?" Ethan hendak meraih tangan Marya tetapi terpukul mundur dan mematung saat melihat cincin di jemari Marya. Ia bertanya nyaris berbisik, "Ka, kau sungguhan telah menikahinya? Itukah alasanmu menolakku?"


Marya mengangguk, terlalu cepat. Setidaknya Marya berpikir dahulu untuk menahan jawaban, seperti seberkas harapan, tetapi gadis itu mengangguk cepat. Ethan mundur beberapa langkah.


Sementara Elgio nyaris melompat di tempatnya berdiri dan bersorak sorai di dalam hati, tak mampu menahan senyuman sumringah. Kendatipun, ia cemburu Ethan Sanchez bahkan tahu di mana Marya bekerja. Remaja itu malah juga mengenal Madam Niels.


"Baiklah. Apa kita masih bisa berteman? Kita ada di kelas yang sama di tingkat tiga," tanya Ethan penuh harap. Setidaknya, ia berharap bisa melihat Marya di sekolah dan belajar di perpustakaan bersama.


"Tidak. Marya akan ikut homeschooling begitupun Reinha," jawab Elgio cepat membuat Marya dan Ethan terperangah lalu menoleh bersamaan. Harapan Ethan pupus sudah. Ia menatap nanar pada Marya tak menyangka ia begitu menyukai Marya dan harus mengakhiri ini dengan cepat.


"Anda tak akan melakukannya, Elgio. Marya dan Reinha butuh lingkungan sekolah dan keduanya adalah panutan sekolah." Ethan memandang pasrah pada Elgio lebih pada memelas.


"Kau saja yang gantikan mereka berdua, Ethan. Kau cukup populer," sergah Elgio.


Bagaimana jika bukan hanya Ethan Sanchez yang jatuh cinta pada Marya tetapi juga teman-teman lelaki lain di sekolah? Apakah ia harus ke sekolah Marya tiap hari dan berjaga-jaga di depan kelas seperti seorang suami yang menunggui istri melahirkan? Itu tak mungkin. Sebaiknya ia membangun menara dan mengurung Marya untuk dirinya sendiri. Elgio menggigit bibir untuk ide buruk itu.


"Reinha dan Marya akan gunakan metode belajar alternatif di rumah. Lagipula, mereka berdua sangat pintar, jadi, mereka tak butuh sekolah. Kau boleh pergi dan tak perlu kemari. Terima kasih atas perhatianmu pada Marya juga pada Reinha selama ini. Kau mau bertemu Bibi Maribel dulu? Ia sangat memujamu. Ia bahkan mengatakanmu manis seperti madu." Elgio bicara dengan sekali bernapas.


Ethan berbalik, "tidak. Terima kasih. Maaf telah mengganggu waktumu. Aku harap kau memperlakukannya dengan baik, sebab ada seseorang lain yang menunggunya di suatu tempat jika kau berani menyakitinya."


Kata-kata penuh ancaman Ethan Sanchez terlalu berani untuk ukuran anak remaja. Marya hanya diam sebab mood Elgio mendadak buruk.


"Itu tak akan terjadi. Aku sangat mencintai Marya," tukas Elgio sebelum Ethan berlalu pergi dari sana dengan rona kecewa.


Suasana hening mengisi ruang tamu. Marya tak berani mendatangi Elgio. Pria itu melamun ke arah pintu masuk. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Raut wajahnya tidak tertebak.


"Elgio ... a,aku ... " kata Marya gagu. Elgio menjadi murung hanya karena Ethan Sanchez menyukainya, ini buruk.


"Aku baik-baik saja, mi amor (sayang). Kembalilah ke dapur! Bukan salahmu jika dia menyukaimu," ucap Elgio menjaga raut muka hingga tak menakuti Marya. Bagaimana ini, ia sangat cemburu dan tak mampu mengontrol emosi.


"Menarik sekali ...." Tuan Abner yang menonton dari lantai atas bertepuk tangan keras setelah Marya pergi.


"Jangan menambah masalahku!" gerutu Elgio jengkel. "Kau cocok jadi penerawang atau tukang jampi-jampi."


"Kau bertingkah seperti anak-anak yang takut mainannya direbut. Ya Tuhan, Elgio. Kau tak perlu katakan, 'Marya istriku' hanya untuk mengalahkannya."


Elgio mendongak memandang Abner bertambah kesal.


"Kau bersamanya selama seminggu dan hari ini hampir seharian di dapur mengecupnya penuh hasrat mem ...."


"Kau?!"


"Aku mengintipmu tadi ... dan Maribel juga."


Elgio membelalak. Wajahnya merah kecokelatan. Ya Tuhan, tak ada privasi di rumah ini. Mereka seperti CCTV hidup dan bernapas, berkeliling rumah untuk memantau situasi.


"Kau nyaris mengunyah dan menelan Marya bulat-bulat tetapi kau masih belum yakin Marya merasakan hal yang sama padamu? Bukankah itu menggelikan?"


"Diamlah, Abner!"


"Kau payah Elgio Durante. Apa itu? Kau ingin homeschooling? Sekalian saja kau bangun menara dan menaruhnya di sana!"


"Abner, kau itu keturunan peramal?"


"Kenapa? Kau berkoar-koar di dapur tentang menara. Satu Durante Land mendengar celotehmu itu."


Abner terbahak-bahak, senang melihat Elgio bermuram durja. Elgio naik ke lantai dua dan ingin meninju Abner lalu menendangnya hingga nyangkut di lampu hias.


"Aku akan menasihatimu, Elgio. Terlalu banyak kasih sayang akan membuatmu menjadi posesif dan alih-alih seperti mencintainya, kau hanya akan memenjarakannya. Lama kelamaan, ia akan tertekan. Sebelum itu terjadi, jatuh cinta sewajar saja. Kau tahu, teman-teman sekolah adalah terapi yang bagus untuk membangun kepercayaan diri Nona Marya. Kau yakin akan mengurungnya?"


Terlepas dari Abner yang sangat bawel, walinya itu benar. Marya butuh lingkungan sekolah agar setengah sosiofobia-nya tidak punya alasan untuk terpenjara di dalam jiwa-raga kekasihnya itu. Lagipula, Elgio yakin Reinha akan menolak keras gagasan tentang homeschooling.


***


Well, panjang sekali ini chapter.... Harusnya bisa bagi dua chapter.


Selamat membaca, ya... Semoga Suka....