Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 149 Love Sick ....



"Abner ... " panggil Maribella pelan. "Jangan biarkan Marya sendirian!"


Bukan tanpa alasan. Maribella mengenal seluk beluk Marya dengan sangat baik. Gadis itu tak pernah sangat marah. Reaksi sepintas Marya buat Maribella takut. Marya seakan-akan menyimpan kemurkaan sangat dahsyat dalam dirinya dan terlihat sangat penuh dendam. Sorot mata terluka Marya mengganggu Maribella. Sungguh takut Marya lakukan sesuatu yang berbahaya. Bukan tidak mungkin sebab Marya sangat jenius. Maribella cemaskan gadis itu bahayakan dirinya sendiri.


Baca kegelisahan Maribella. Abner mendekat, duduk di sisi ranjang dan menyelimuti tangan Maribella dengan tangannya sendiri.


"Mai ... istirahatlah! Marya bersama Elgio. Jangan pikirkan apapun!" Abner tatapi Maribella dengan senyuman terbaik ingin tenangkan kegelisahan. "Kau tahu, Maribella, saat ini berakhir, aku ingin kita pergi piknik bersama. Aku ingin Reinha dan Marya ikut dan kita bisa bersenang-senang di suatu tempat."


Maribella tampak berbinar-binar. "Bisakah, lakukan besok atau lusa? Aku bosan berbaring dan sangat ingin hirup udara bebas. Kita bisa pergi ke pantai."


"Ya, oleh sebab itu cepatlah sembuh!"


"Apa Reinha baik-baik saja?"


Abner sedikit mengerut. "Ya. Hanya saja dia butuh waktu sendiri. Dia akan segera kemari mengunjungimu!" Abner berbohong. Tak mungkin beritahu Maribella bahwa Reinha pergi ke Biara dan mengurung diri di sana akibat patah hati pada Lucky Luciano yang menghilang.


Tuan Leon Durante, apa yang sedang terjadi sebenarnya?


"Abner, apa yang kau pikirkan?"


Abner menggeleng, "Segeralah membaik, aku tak sabar ingin mengajakmu bepergian denganku."


Ponsel Abner bergetar. Abner lepaskan kaitan jemari mereka, meraih tangan Maribella dan mengecupnya sambil tangan lain mengambil ponsel. Satu pesan tertera di sana. Abner menahan napas tercekat di tenggorokannya. Ia menegang.


Luna Hugo ....


💌 : Tuan Abner Luiz, kita harus bicara.


💌 : Tidak Luna, aku sedang sibuk!


💌 : Baiklah, aku akan menunggumu!


💌 : Aku sedang bersiap-siap untuk meeting virtual dengan Tuan Nakamura.


💌 : Aku akan menunggu Anda.


💌 : Ada apa?


💌 : Mari bertemu dan bicara, Tuan!


Disusul lokasi sebuah restoran. Abner bernapas berat di sisi Maribella segera mengatur ekspresi wajah saat Maribella menatapnya sendu.


"Apa sesuatu terjadi?"


"Tidak, Mai!" geleng Abner.


"Apakah itu Luna?" tanya Maribella lirih. "Aku dibebaskan dari penjara karena kau mengikat perjanjian dengannya, Abner?"


"Mai ... kita tak akan bahas apapun. Mari sembuh dan bepergian! Hmmm?!" Membungkuk dan mengecup kelopak mata Maribella. Sukai kelembutan yang terhampar di hadapannya. Membungkuk di atas Maribella, jempolnya bergerak menyusuri mata yang tampak lelah dan letih. Napasnya menghangat. "Kau ingat tepian hutan saat kita sering bepergian dulu?"


"Em, ya ... " angguk Maribella segera tersenyum.


"Sekarang dandelion mulai tua. Akan banyak kuncup yang bisa ditiup."


Senyum Maribella makin merekah bayangkan akan meniup serbuk dandelion bersama Abner saat usia mereka menjelang 30 tahun. Terlebih mereka akan susuri setapak dibalik pepohonan pinus dengan Dilly dan Azel berlarian di sisi mereka. "Mari ke sana selepas pulang dari pantai."


"Ya, dan menonton senja yang indah dari sisi bukit."


Maribella menatap Abner yang tampak kurusan. Menyentuh rahang pria itu. "Apa kau tak makan dengan baik?" tanya Maribella terdengar nyaris berbisik. "Tubuhmu menyusut."


"Tanpamu, beginilah aku!" sahut Abner beritahu Maribella seberapa berartinya ia bagi pria itu. "Aku akan memasak nanti malam di sini dan buatkan sesuatu yang lezat untuk makan malam."


Meskipun Abner tak ceritakan apapun, Maribella tahu Abner terjebak antara dirinya dan Luna. Maribella meraih tangan Abner dari wajahnya, berpegangan erat seakan takut pria itu pergi darinya. Jadi, mereka belum berhasil pecahkan kasusnya. Maribella tersenyum saat Abner menatapnya.


"Aku akan percaya padamu, Tuan Abner Luiz. Lakukan saja apapun yang kau anggap perlu dan penting untuk temukan pelakunya. Aku bukan pembunuh!"


Abner akhirnya tak tahan, ia segera berbaring di sisi Maribella. Tangan-tangan mereka terjalin. Abner perlahan bernapas di kepala Maribella. Aroma obat-obatan langsung menyegapnya. Meski demikian bibirnya menempel pada kepala Maribella, mengusap lengan Maribella perlahan.


"Jangan pikirkan apapun. Aku akan bertanya padamu, jika aku ingin buat keputusan." pinta Abner pelan.


"Jika terlalu berat, kau diijinkan untuk tak beritahu aku!"


Maribella yakin keputusan sulit sedang menunggu Abner di hari esok. Ia tak ingin bertanya pada Abner sebab pria itu terlihat sangat tertekan. Maribella menduga, ia dibebaskan dari penjara ditukar dengan kebebasan pria itu. Reinha dan Marya pernah katakan beberapa waktu lalu bahwa Abner bersedia bersama Luna.


"Jangan coba-coba kabur dariku Mai! Meskipun keadaan terlihat sangat sulit nanti, tolong aku, jangan pergi!" kata Abner setengah memelas.


"Baiklah, aku janji! Maafkan aku yang sangat bodoh ini, Abner! Jika saja aku tak bawa makanan di hari itu, kita mungkin tak berakhir begini!"


"Lupakan saja. Jangan pikirkan apapun! Sembuhlah Mai. Jika kondisimu baik, aku bisa berpikir jernih, bisa konsentrasi bekerja."


"Baiklah Abner!"


Maribella sangat mengantuk tetapi tak bisa tidur. Ia melihat banyak bayangan hitam dalam tidurnya. Mereka mengikutinya dan mencekiknya hingga sulit bernapas. Ia ingin beritahu Abner rasanya seperti jiwanya akan dicabut dari raganya. Tetapi, Abner terlihat sangat kacau. Maribella tak ingin menambah masalah pria itu dengan masalahnya. Menyimpan ketakutan dalam dirinya, ia akhirnya terbaca penuh gelisah oleh Abner.


"Apa kau rasakan sesuatu? Atau apakah kau bermimpi buruk?"


Maribella terdiam. Cukup sebagai kata-kata bagi Abner bahwa dugaannya benar.


"Maribella," panggil Abner lembut, miringkan tubuh si wanita hati-hati hingga menghadap padanya. Wajah mereka begitu dekat hingga Maribella bisa lihat kerutan halus di kening Abner. Memuja sinar mata Abner yang teduh. Ia pernah lihat berbagai ekspresi sinar mata pria itu. Mulai dari marah hingga saat pria itu penuh gelora padanya. Saat mereka berciuman penuh hasrat di huniannya suatu pagi.


"Hmmm ...."


"Tidurlah! Saat Anda buka mata, Nona. Aku ada di sini! Cepat sembuh Maribella!" Kecupan di kelopak mata terasa sejuk.


Tangan Maribella terukur, berakhir di leher Abner, sedang Abner telah mengecup Maribella di mana-mana lalu berlabuh di bibir wanita itu. Pengobatan terbaik untuk kekasihmu yang sedang sakit adalah sebuah ciuman. Saat sentuhan bibirmu hasilkan hormon cinta, Abner yakin, ciumannya agar buat Maribella cepat sembuh.


Sementara Maribella berpikir ia mungkin butuh ciuman untuk sembuhkan nyeri dan pegal. Butuh sentuhan untuk akhiri mimpi buruk. Pikirannya yang sederhana menikmati gerakan lembut pada bibirnya sebagai suatu yang manis, hasilkan rasa senang dalam tubuhnya, temukan bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Abner. Mereka harusnya sudah menikah saat ini.


"Cepat sembuh Mai."


Abner pergi ke restoran yang lokasinya dikirim Luna. Duduk di hadapan Luna yang sama sekali tak bersahabat.


"Kita sepakat bahwa kamu akan beri aku waktu dua Minggu lagi?" tanya Abner melipat kedua lengannya, perhatikan Luna, ikuti nasihat Elgio. Ia tak akan buat Luna marah sekarang, tidak sampai mereka temukan bukti. Mungkin tujuan sakiti Maribella agar dirinya tak bisa konsentrasi pada kasus. Mereka berhasil.


"Ya. Anda tahu, sekuat apapun Anda berusaha, Anda akan temukan bahwa aku tak tahu bahwa makanan itu beracun!" sahut Luna. "Abner, berapa lama aku bekerja untukmu? Apakah menurutmu, aku wanita cerdas gila yang akan menuang racun dalam makananku dan biarkan lidahku hancur?" tanya Luna bernada kecewa, pandangi Abner dengan sorot mata terluka. Dirinya dan harga dirinya.


"Itulah sebabnya, beri aku tambahan waktu untuk selesaikan misteri ini."


"Sebanyak yang kau butuhkan, Tuan Abner Luiz ... " balas Luna amati teh yang dibawa pelayan restoran.


"Kau mungkin akan menang dari Maribella sebab berhasil dapatkan aku, Luna." Abner menatap gadis di depannya datar.


"Aku ingin Maribella dapatkan hukuman setimpal karena coba racuni aku! Aku pikir Maribella tulus padaku, tetapi, aku sungguh keliru. Ia akan sakit hati dan merana saat aku menikahimu. Itu lebih baik bukan daripada terkungkung di penjara? Seandainya bisa kembali ke waktu itu, aku harusnya menyuruhnya makan dulu sebelum kusentuh makanan itu!"


"Maribella tak racuni dirimu, Luna! Aku mengenal Maribella sejak usiaku 17 tahun. Kami bersama dan bersahabat."


"Omong kosong ...," sinis Luna, "lalu Anda yakini aku racuni diriku sendiri? Aku tak segila itu, Tuan," serang gadis itu dari seberang. Luna menjadi gusar. "Kita akan menikah dalam waktu dekat, sesuai perjanjian. Jika kau berubah pikiran, maka aku akan lakukan hal yang sama. Kau tahu bahwa jika diteruskan kasus ini, Maribella akan dijatuhi hukuman berat?"


"Kau akan menyesal pada akhirnya! Sebab aku tak mencintaimu!"


"Aku akan temukan pelaku sebelum pernikahan konyol itu terjadi," tambah Abner dalam hati.


"Aku juga tidak, Tuan Abner Luiz!" sahut Luna tegas. "Setelah semua yang terjadi, aku tak menyukaimu seperti dulu. Tetapi senang akhirnya aku bisa menjeratmu dalam pernikahan. Mari saling menyiksa nanti! Kau salah, sebab bermain-main denganku, Abner. Aku peduli padamu, pada perusahaanmu, bekerja untukmu dan jadi staff terbaik dengan tulus, tetapi kau biarkan wanita yang kau cintai coba untuk membunuhku di depan matamu? Urusan kita belum selesai."


Meneriaki Luna bahwa Maribella bukan pelakunya terlihat konyol. Ia juga tak mungkin


beritahu Luna bahwa pengacara wanita itu coba celakai Maribella saat dalam penjara untuk sebuah pengakuan. Abner akan dapatkan sipir penjara sebagai saksi juga bukti. Ia hanya perlu waktu untuk ungkapkan kebenaran.


****


Sementara Marya setelah bicara dengan Archilles langsung pergi ke kamar Ibunya. Ia tak tahu balas dendam seperti apa yang ia siapkan untuk orang-orang yang telah lakukan kejahatan pada pengasuhnya. Ia sedang pikirkan sesuatu dan akan minta rekaman CCTV dari Elgio dan coba pelajari sesuatu di sana bersama Ethan. Andaikan ada Reinha. Marya yakin, sesuatu terlewati.


"Aruhi, kau di sini?" sapa Salsa tersenyum ceria ketika Marya masuk ke dalam kamar. Tangan-tangan terbentang. Aruhi berlari ke dalam pelukan Ibunya. Salsa langsung mendekapnya erat dan mengecup keningnya lalu membelai rambutnya. Wanita itu berkaca-kaca saat mata mereka bertemu. Hellton amati Ibu anak itu dan segera lengkung senyuman. Wajah Aruhi berseri-seri.


"Ibu ... aku merindukanmu. Hai, Uncle Hellton, apa kabar Anda? Senang melihat Anda di sini," sapa Marya pada pria di sisi pembaringan Ibunya.


Hellton mengangguk-angguk. "Ya, senang juga bertemu denganmu, Aruhi Diomanta. Apa kabarmu, Nak?"


"Baik, Uncle."


"Kelincinya?"


"Mereka sangat sehat dan juga sangat lucu," jawab Marya.


"Aku yakin kamu merawat mereka dengan baik. Lalu, bagaimana kabar menantu kami, Elgio Durante?" tanya Hellton. "Apa ... dia tak ikut?" Menengok pintu, mungkin berharap bertemu Elgio.


"Elgio sangat sibuk belakangan, Uncle. Elgio tadi antarkan aku kemari tetapi langsung pergi."


"Ya ya ya, suamimu pasti sangat repot. Aku lihat berita sianida yang menyeret wali kalian."


Marya mengangguk. "Pengasuhku jadi tertuduh!"


"I am so sorry, Dear! Aku yakin Tuan Abner Luiz akan sanggup atasi masalah ini! Aku kagumi pria itu, a wise man."


Marya mengangguk lesu, terlihat ragu-ragu tetapi rasa penasarannya sangat kuat. "Bisakah aku bertanya?"


"Em ya ... ?!"


"Apakah Nona ...."


"Aruhi, aku mampir untuk melihat keadaan Ibumu juga ingin pastikan bahwa kau akan datangkan nanti bersama Arumi?" tanya Hellton memotong percakapan, tampak bisa menebak arah percakapan Marya, mungkin tak nyaman bicara tentang Irishak. Hellton menatap Aruhi lalu pada Salsa, "Aku sangat berharap para ponaanku datang."


"Tentu saja, Hellton. Mereka akan datang!" sahut Salsa antusias.


"Kami sangat bersemangat!" timpal Marya sama antusiasnya dengan Salsa.


"Baiklah, Kak, Aruhi. Aku harus segera pulang!" Hellton pandangi Marya sejenak sebelum putuskan bicara. "Aku punya seseorang yang sering menghilang jika aku pergi terlalu lama. Kami sudah bermain hide and seek (petak umpet) beberapa minggu ini hingga aku hampir kewalahan hadapinya. Dia sangat pandai kuasai ilmu kaburkan diri."


Marya menduga yang dimaksud Paman Hellton adalah Irishak Bella.


"Apakah dia ada di peternakan?" tanya Salsa tersenyum geli hingga Hellton ikut tersenyum pada kakaknya.


"Ya, dia mulai sukai sapi yang merumput tetapi dia pandai berpura-pura untuk kelabui aku. Apakah kau merasa tenang kini, Aruhi? Datanglah saja nanti, jika kamu sangat penasaran, Sayang. Aku akan menunggumu."


Marya mengangguk, itu pertanda, Paman Hellton benar-benar menyekap Irish. Mengapa dirinya senang? Pikir Marya gelisah sebab hari ini, ia merasa berubah jahat.


"Apakah kami akan segera mendengar berita baik, Hellton? Raut wajahmu tak seperti biasa. Kau melunak dan tampak lembut seperti bebatuan yang terus ditetesi air."


Hellton tersenyum sedikit. "Kurasa kau akan suka kejutan dariku, Kak!" balas Hellton.


"Ya, kau buat aku penasaran. Tunggu sampai kami bertemu dengannya."


"Semoga dia ingin tinggal, jadi, Kakak dan Sunny bisa bertemu dengannya. Seperti yang kubilang tadi, dia masih cari celah untuk kabur. Well, lain kali kita mengobrol lagi. Aku pamit, Kak! Aku akan berkunjung lagi nanti!" Hellton hampiri Salsa memeluk kakaknya erat. "Cepat sembuh, ya!"


Marya antarkan Paman Hellton ke depan, menengok lantai dua. Arumi seperti dugaan Marya tak ingin bertemu Paman Hellton. Gadis itu mengunci diri di lantai atas. Marya melambai pada Hellton Pascalito saat mobilnya pergi. Apakah mereka akan berjumpa Irish? Oh tidak, bagaimana bisa Paman Hellton minta ia tenang? Irish menyukai suaminya.


***


I am sorry tak tepati janji. Aku malah berhenti total seharian kemarin. Giliran mau ngetik pake laptop, aku lupa sandi masuk Noveltoon. Akkhhh parah banget.


Karakter Marya yang setengah sosiofobia berdasarkan karakter adik perempuanku nomer 3 yang meninggal 3 tahun lalu. Dia punya daya ingat yang bagus di usia 4 tahunan (anakku El Cesco juga, ia lambat bicara tapi masih mengingat dengan detil hal-hal baik juga buruk yang terjadi saat usianya 3 tahunan). Adikku bernama Stephany Fiola, adalah salah satu Mahasiswi dengan IQ tertinggi di Universitasnya, meninggal di usia 21 tahun karena sosiofobia. Next chapter ada Ethan Sanchez...


Cast for Abner Luiz.... Usianya 29 tahun. Aku malah lebih tua darinya. Usiaku 35 tahun.