
"Aruhi?!"
Marya berlinang air mata. Ia menggeleng keberatan, "Aku mohon, jangan panggil aku Aruhi! Itu membuatku takut."
Elgio mendekati Marya gontai kemudian melingkari gadis itu dengan lengan-lengan kokohnya. Helaan berat napas pria itu dan hembusan tertahan, terhempas berakhir seperti segukkan halus. Elgio mengecup puncak kepala gadis yang tersedu-sedu di dadanya coba menenangkan. Kepedihan gadis itu berjangkit, seperti virus, menggerogoti hati hingga iapun ikut gundah gulana. Melihatnya menangis mematahkan hati dan meremukkan Elgio. Mereka telah dewasa tanpa orang tua oleh sebab kekejaman orang tua lainnya. Elgio tak mampu deskripsikan lewat kata-kata betapa menderitanya mereka.
"Aku tak bisa ampuni Ibuku. Dia telah membunuhku dan Ayahku. 'Aruhi' yang aneh dan selalu ketakutan tercipta dari wanita jahat itu. Aku benci dia. Aku ingin ia mati di hadapanku dan aku ingin ia rasakan sakit seperti yang kurasakan ketika melihat Ayah meninggal. Mereka memukuli Ayah dengan kejam dan menyeretnya seperti bangkai binatang, Elgio, di hadapanku. Aku merengek bahkan memohon dan menjilati sepatu mereka agar lepaskan Ayahku ... tetapi aku didorong dengan kasar. Aku melihat Ayahku merintih kesakitan sepanjang malam. Kenangan buruk itu seperti hantu, mengejarku dan memaksaku memelototi kekejaman itu. Namun, sesuatu yang lain dalam diriku menyayangi Ibu. Dia masih Ibuku tak peduli seberapa bengisnya ia. Kau punya banyak uang, bisakah kau menghapus semua ingatan buruk Aruhi? Aku bahkan tak tahu siapa aku? Bisakah kita pergi dari sini dan hidup baru di suatu tempat?"
Elgio hanya terpaku diam seribu kata biarkan Marya berkeluh kesah dan merintih dalam dekapannya. Rahang pria itu masih mengeras. Elgio ingin Marya tahu, ia akan jadi perisai baginya, melindunginya sampai nanti sampai mati. Ia ingin Marya bersandar penuh padanya. Ia membelai rambut Marya, turut berduka cita untuk tiap kehilangan dan kemalangan gadis itu. Masih teringat jelas wajah luka Benn dan bagaimana mereka hampir terbakar hidup-hidup di rumah Aruhi. Nyonya Besar Diomanta lakukan hal nista tetapi akan sangat sadis jika Nyonya Salsa tahu dan tidak mencegah itu terjadi. Aruhi dan Marya adalah seseorang dengan dua nama yang menyimpan kesedihan tak berujung.
Marya masih menangis saat Elgio melerai dekapan meskipun hanya isak keras. Ia memegangi kedua sisi wajah dan menatap mata bergurat kepedihan itu. Elgio temukan dirinya telah hancur bersama Marya. Telunjuk pria itu bergerak halus singkirkan helaian rambut dari kening dan pelipis Marya.
Jadi, gadis ini telah bersembunyi di balik hoodie padahal ia punya wajah secantik Thylane Blondeau kecuali pupil irish cokelat muda yang begitu bening dan bersinar keoranyean kala sedih begini. Alis lurus alami menaungi kelopak mata almond simetris yang begitu sempurna dengan ekor mata yang sedikit terangkat. Hidung gadis itu mungil kecil, menukik imut di ujung. Tampilan rahang lembut tirus perkuat sisi feminim seorang bidadari.
"Kau bisa bertemu Ibumu sebagai Marya, Istriku atau jangan bertemu dengannya jika kamu tidak ingin."
Elgio tak jemu terpesona pada keindahan paras di hadapannya. Ibu jari mengusap air mata Marya dan ia kembali mendekap gadis itu memberi kekuatan. Marya menemukan kedamaian dan berusaha mengontrol diri.
"Aku ingin pastikan semua yang telah membuatmu menderita menerima ganjaran, Aruhi. Tetapi, aku tidak begitu yakin, untuk alasan balas dendam. Aku bisa mengetuk satu jari dan Ibumu berakhir di penjara, mendekam di sana. Aku akan lakukan itu! Tetapi pikirkan lagi! Jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan, bukankah kita sama rendah seperti mereka?"
Marya eratkan pelukan, "Aku tak tahu Elgio. Aku ingin balas dendam tetapi aku tak sanggup melakukannya. Aku terus bersembunyi seperti pecundang."
"Jika kau ragu, biarlah Tuhan jadi hakim yang adil di antara kita dengan orang-orang yang menyakiti kita, Aruhi. Jika kita mengambil tindakan gantikan Tuhan, maka Tuhan tidak punya alasan untuk menghukum mereka."
Elgio tahu lebih baik dari siapapun, Marya tak akan mungkin balas dendam. Gadis itu memiliki hati selembut sutera.
"Kau tahu Albert Einstein dan filosofi tentang tidak ada ruang dalam kehendak bebas. Segala sesuatu ditentukan, awal dan juga akhir, oleh kekuatan-kekuatan yang tidak dapat kita kendalikan ... ibaratnya ... kita semua menari dengan irama yang misterius, dilantunkan di kejauhan oleh pemain yang tak terlihat. Biarkan sang Pemain Irama bermain dan kita menari saja dengan sukacita sebab kebahagiaan adalah balas dendam terbaik. Mengabaikan balas dendam akan memberimu kedamaian. Balas dendam juga tidak menyembuhkan lukamu. Aku akan di sisimu mengisi lukamu dan membuatmu bahagia."
Marya menatap Elgio, tangis gadis itu mereda tersisa isakkan halus. Elgio adalah pangeran impian yang datang untuk menenangkan badai dan menyelamatkannya dari kesedihan dan dari dendam. Mungkin pria ini benar, baik Aruhi atau Marya butuh psikiater.
"Bisakah kamu panggil aku Marya?"
"Elgio, aku ingin diterapi."
"Baiklah. Kita akan konsultasi Senin nanti. Mau ikut denganku, Marya Corazon? Aku punya sesuatu untukmu."
Elgio menggenggam tangan Marya. Tanpa menunggu jawaban, Elgio membawa Marya keluar dari hunian Bibi Maribel menuju ke dalam rumah utama.
"Mau kemana kita? Aku takut Reinha memergoki kita."
Marya belum terbiasa tanpa hoodie-nya. Apalagi jika sampai ketahuan oleh Reinha.
"Enya sudah tidur jam segini. Lampu rumah dan lampu kamarnya juga telah padam."
"Elgio ... aku takut. Bagaimana jika Bibi Mai melihat? Mau kemana kita?"
Marya berhenti di pintu masuk menuju ruang tengah rumah. Ia menahan tangan Elgio, ragu-ragu. Ini pertama kali kaki Marya menginjak Paviliun Durante setelah belasan tahun.
"Calm down, Bonita (cantik). Aku hanya akan perlihatkanmu sesuatu yang sangat istimewa."
Tatapan lembut Elgio membuat Marya tenang. Elgio kembali menggenggam tangan gadis itu kuat menuntutnya untuk percaya. Mereka melewati ruang tengah paling dalam dari Paviliun, di mana lampu hias yang bergelantungan di tengah ruangan itu mati, berganti lampu dinding redup. Keduanya menuju tangga.
Ceklek .... Saklar dipencet.
Lampu ruangan besar berhiaskan bola-bola mutiara indah menyala gemerlap menerangi ruangan itu. Seseorang berdecak keras dari lantai atas. Elgio dan Marya terkejut dan berhenti melangkah. Elgio mendongak ikuti arah decakan sementara Marya sembunyikan wajah di belakang tubuh Elgio.
"Enya?!"
***
Well, dukung Senja Cewen selalu.