
"Enya ... aku merindukanmu."
Bulan selalu jadi saksi untuk kisah mereka. Entah mengapa, terang cahayanya selalu tampak romantis saat sepasang kekasih itu bertemu kembali. Purnama jualah saat Lucky berenang di danau sebulan lalu sambil amati kekasihnya duduk di tepi dermaga dengan gincu merah terang yang menggoda iman. Ia masih kekasihnya waktu itu. Kini di bawah terang bulan, gadis itu telah naik status jadi istri tercintanya. Tak menyangka takdir bawa Reinha padanya dan persatukan mereka.
Lucky meraih Reinha ke dalam pelukan, hari biru, rasakan detak cepat jantung gadis itu dalam dekapannya dan aroma Jasmine khas gadis itu menambah kental rasa cinta, meski rindu sama sekali tak lekang oleh waktu.
"Malam tanpamu, Enya adalah malam dengan ribuan mimpi buruk. I can't tell you how I feel, Enya."
Seperti perkiraannya, selama tidur di tempat tidur tahanan, ia rindukan Reinha hingga tak berdaya. Bayangan raut cantik Reinha saat menangis di dekapannya ketika ia akan pergi ke penjara, belenggu dirinya dalam kepedihan tanpa ujung. Seakan ada keajaiban, ia bisa bersama kekasihnya malam ini, Lucky Luciano hanya ingin mendekapnya sepanjang detik tersisa.
"So do I, aku merindukanmu. Aku ingin pergi ke penjara dan tinggal denganmu di sana," kata Reinha tak tahan isak.
"Aku di sini, kita akan segera bersama."
"Bagaimana bisa?" Reinha mengangkat wajah. "Bagaimana bisa?" tanyanya lagi mengulang
"Menyakitkan lewati hari tanpamu, Lucky!"
"Jangan menangis, My dear. Aku janji, semua ini akan segera berakhir, Enya. Jangan sering-sering sendirian seperti ini. Para pria yang tak tahu berpikir kau masih remaja single. Aku tak sukai itu. Mereka sangat tertarik padamu. Kau sangat cantik, Enya."
Mereka berpelukan di bawah terang bulan berharap bisa selamanya begitu. Masa-masa indah telah berlalu dan kesakitan tanpa ampun menyelinap di kisah cinta itu seakan katakan hal manis telah lewat, waktunya rasakan sakit untuk ujian cinta.
Mereka kemudian berkendara pulang ke Durante Land. Reinha mengemudi sementara Lucky bersandar padanya, tak sekedar bersandar, ia mulai recoki Reinha. Pria itu menatap Reinha tak jemu-jemu tanpa kedip, jatuh cinta pada istrinya yang belia itu berulang-ulang, memuja sang kekasih lalu gregetan ingin berduaan dengan wanitanya itu.
"Lucky, mengapa kau keluyuran di luar penjara? Bagaimana jika ada yang melihatmu?" tanya Reinha tak suka, berusaha fokus meski sangat sulit. Bibir Lucky menempel di leher polosnya, menelusuri pelan.
"Aku sangat rindu pada istriku. Bagaimana ya? Aku sangat tersiksa karena tak bisa bertemu dengannya," sahut Lucky terdengar gundah di setiap kalimat. Ia kembali menggoda Reinha di rahang sang gadis. "Aku kabur dari penjara karena ingin berduaan dengan istriku."
"Lucky?! Aku akan mengantarmu pulang ke sana. Jadilah, warga negara yang baik!" seru Reinha jaga pandangannya agar tetap lurus ke depan. Ubun-ubunnya berdenyut.
"Enya, aku dapat ijinan keluar berbatas waktu," sahut Lucky.
Reinha mengernyit. "Apa maksudmu?" tanya Reinha. Lucky tak menyahut, ia sibuk kacaukan seluruh indera Reinha. "Ya ya baiklah, bisakah kau tak menggangguku? Kita bisa kencan di ICU jika kau terus bersarang di leherku."
"Bagaimana kalau kita pulang saja ke Puri Luciano atau pergi ke pondokan?" Pria itu mengerang. "Enya?!"
"Em, maafkan aku, tapi kita harus pulang ke Durante Land dan makan malam di sana. Kita hampir telat. Tuan Abner membawa teman kencannya pulang. Oh, wanita seperti apa yang bisa tandingi Peri Pengasuhku?"
"Hei Enya, bicara yang jelas!"
"Oh entahlah Lucky. Kita akan makan malam bersama kekasih Tuan Abner. Tadi pagi Bibi Mai pergi kencan dengan Tuan Hansel dan malam ini, Tuan Abner minta semua orang berkumpul. Ini buruk Lucky sebab kedua pengasuhku seperti sedang pamer kekasih, aku ditugaskan bersama Marya untuk memasak." Reinha mengeluh mengingat perilaku aneh Tuan Abner tadi pagi.
Ponsel Lucky berdering. Pria itu terkejut. "Oh ya ampun, benda ini buatku kaget saja." Lucky menjawab panggilan.
"Lucky Luciano?"
"Ya, Carlos?"
"Posisi please!"
"Aku sedang menuju Durante Land, Carlos. Bisakah beri aku waktu? Aku bersama Reinha."
"Kita tak bisa buang-buang waktu, Lucky!"
"Baiklah, kau bersama Francis?
"Ya. Kami sedang menuju Durante Land."
"Baiklah, kita bertemu di rumah."
Ponsel dimatikan.
"Ya Tuhan, padahal aku berharap bisa berduaan denganmu, Enya. Oh, tolonglah. Mengapa banyak sekali iklan ya?" Lucky lepaskan simpul pengikat rambut Reinha hingga helaian jatuh di atas tengkuk. Ia membelai Reinha sambil memuja gadis itu.
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Reinha mendadak waspada.
"Bukan sesuatu yang penting." Lucky kembali merusuh, pergi ke leher Reinha dan beri kecupan ringan hingga Reinha merinding ngeri.
"Apa kau sungguhan ingin kita berakhir di rumah sakit Lucky Luciano?" raung Reinha hilang konsentrasi dan banting setir ke pinggir jalan. Beruntung mereka di Broken Boulivard yang sepi tak ada mobil yang lalu lalang di atas jam 7 malam. Reinha berbalik pada pria yang tak sabaran, mereka berciuman. Bahkan ketika bibir-bibir saling terkait satu dengan yang lain, terkunci bersama hasrat dan berbagai emosi, tetap saja tak bisa lunturkan kerinduan.
Ketika mata mereka bertemu, Reinha was-was. Ia merasa gelisah. Mengapa Lucky bisa keluar? Para Mafia ditempatkan di ruang isolasi termasuk Lucky. Apa yang terjadi?
"Lucky? Jujur padaku, apa yang terjadi?"
"Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak, Enya!" kata Lucky dan membungkam kekasihnya dengan ciuman panjang dan dalam. Tangannya mencengkeram leher Reinha lembut dan ia bergerak di bibir gadis itu seakan tak ada hari lain.
"Aku hampir gila karena rindukanmu, Enya!"
Kembali berciuman tanpa sadari dua buah mobil datang dari belakang. Klakson keras hingga keduanya terkejut dengan napas terengah-engah. Kaca diturunkan, Carlos Adelberth dan mobil merah Lucky Luciano di belakang Carlos dikendarai oleh Francis.
"Oh ya Tuhan, kalian bisa saling melepas rindu di rumah, kurasa terlalu ekstrim berciuman di jalanan," sapa Carlos melambai.
Lucky balas melambai sangat terpaksa jauhi Reinha. "Bisakah kau lewat saja? Anggap saja tak melihat sesuatu!"
Carlos mengangguk, beri hormat. "Siap Bos. Sampai jumpa di Paviliun, kuharap kalian tidak buat yang lain menunggu!" serunya lagi dan berlalu.
Francis lewat di sisi mereka, mengerutkan kening.
"Anda berdua bisa telat, Bos."
"Mengapa semua orang makan malam di rumah? Oh habislah aku Lucky Luciano, Elgio akan mengetuk kepalaku karena aku biarkan istrinya yang sedang mengandung memasak sendirian." Reinha kembali menyetir, kali ini mengebut lebih kencang, melaju lewati Francis lalu Carlos yang keheranan.
"Enya, pelan-pelan saja. Kita bisa celaka."
"Ya Tuhan, Marya pasti kesulitan siapkan makan malam."
Sedang di rumah, Elgio dan Abner saling mengernyit sedari tadi, sepertinya ingin banyak bicara tetapi Luna Hugo bergelayut manja di lengan Abner sejak kedatangannya hingga Elgio Durante kehabisan kata.
"Jadi, sejak kapan kalian mulai kencan?" tanya Elgio.
"Tuan Abner baru setuju untuk kencan denganku hari ini di kantor. Ia abaikan aku selama ini," lapor Luna dan cemberut pada Abner. Elgio mengelus keningnya tiba-tiba pening. Apakah Luna akan jadi Ibu wali mereka? Elgio tanpa sadar menggeleng. Mereka cocok secara penampilan fisik tetapi tidak, Luna tak cocok dengan Durante Land terlebih disandingkan karakternya dengan Abner.
Marya siapkan meja makan sedang Maribel sibuk di dapur, bergerak ke sana kemari dengan lincah. Walaupun demikian, rasanya tak nyaman bekerja sementara Tuan Abner terus mengawasinya. Mereka kembali dari kantor lebih cepat saat Tuan Abner mengajak Luna makan di rumah. Luna tak ingin ketinggalan, ia ingin ikut membantu. Jadilah, mereka berkendara pulang. Sayangnya, Luna hanya sibuk terpesona pada Abner yang terlihat terus gelisah kemudian tak begitu ambil pusing. Maribel tersenyum geli saat Abner salah tingkah pada Luna. Mereka mampir ke M23 Fashion dan Abner belikan Luna pakaian baru yang lebih pantas dan sopan. Abner juga belikan sesuatu untuknya, sebuah midi dress yang sangat bagus.
"Oh, apakah Marya masak sendirian?" tanya Reinha melengos ke dapur, tak perhatikan Luna yang berdempetan di meja makan, bergelantungan di lengan walinya.
"Lucky Luciano? Apa kabarmu? Apa kau buat kerusuhan di lapas hingga dikeluarkan lebih cepat?" goda Elgio.
"Elgio Durante, senang lihatmu rapi. Kupikir Nona Marya menggaruk wajahmu saat kau sembunyikan Irish kemarin hingga wajahmu cacat," balas Lucky Luciano geli. "Tuan Abner, oh, kekasih Tuan Abner ..., " sapa Lucky sopan dan mengerut saat melihat ke samping Abner. Tidak biasanya.
"Oh, Ayahku yang tampan, apa kekasihmu sudah datang?" tanya Reinha bawakan nampan berisi salmon panggang yang aromanya bikin perut keroncongan dan segera terguncang nyaris terjerembab saat tatapannya bentrok pada Tuan Abner dan Luna. Teman kencan Abner Luiz itu buru-buru berdiri dan sodorkan tangannya.
"Hai, aku Luna Hugo ... Nice to meet you Reinha Durante. Kau sangat cantik ya," pujinya manggut-manggut.
"Eh?! Em, selamat datang, Luna. Ini kakakku, Elgio Durante dan suamiku Lucky Luciano," Melirik Abner. Ya Tuhan, apa yang dilakukan walinya itu? Kencani wanita seksi yang meskipun telah menutup seluruh tubuhnya, dadanya yang membusung tak mampu disembunyikan dengan baik. Caranya bicara juga sangat seksi di atas bibir penuh yang sensual. Reinha pelototi Abner yang tampak tak peduli. Oh apa ini?
"Tuan Elgio adalah bosku di kantor. Dan aku kenal Tuan Lucky Luciano. Selamat malam Tuan," sapanya sopan pada Lucky.
"Hai Luna."
"Apa kau mengundang semua orang makan malam untuk perkenalkan kekasihmu, Tuan Abner?" tanya Reinha terang-terangan..Itu lebih halus dibanding, "Apa kau sedang pamer kekasihmu, Tuan Abner Luiz?"
"Em, ya. Tetapi Carlos Adelberth kemari karena ingin bicara denganmu."
"Denganku?" tanya Reinha. "Apa sesuatu terjadi?" tanya Reinha mengernyit.
Saat bel rumah berdering Maribella bergegas menyambut tamu di pintu, Carlos dan Francis datang barengan.
"Wah, ramai sekali malam ini!" Carlos menyapa semua orang dan langsung duduk di meja makan dekat Elgio begitu pula Francis yang terlihat senang melihat Lucky Luciano.
"Apakah kita bisa makan sekarang? Semua orang telah berkumpul," kata Elgio amati satu-persatu wajah dan tak mampu menahan geli saat dapati raut wajah Lucky Luciano yang tak lepas pandangi Reinha. Lucky Luciano adalah pria yang paling tak sabaran terlihat, sepertinya ia ingin membawa Reinha kabur sesegera mungkin.
Bel pintu berdering sekali lagi dan Elgio mengerut pada Abner, keheranan.
"Apa masih ada yang lain?"
Abner menggeleng, "Entahlah!"
Maribella pergi ke pintu. Saat temukan Tuan Hansel di depan pintu, Maribella mematung.
"Hai Maribel ...."
"Tuan Hansel?! Apa sesuatu terjadi?"
"Tidak, bukan begitu Maribel. Maaf aku mengganggu. Hanya saja aku merasa gelisah karena tinggalkanmu tadi pagi," kata Hansel bersuara rendah. "Ibuku tiba-tiba sakit, jadi aku harus membawanya ke dokter."
"Jadi, Anda datang karena ingin bicarakan masalah itu Tuan Hansel?" tanya Maribella tersanjung pria itu memikirkan perasaannya.
"Ya," angguk Hansel cepat. "Aku tak bisa antarkanmu pulang tadi. Aku merasa bersalah sepanjang hari dan kemari untuk minta maaf," ujarnya lagi harap-harap cemas menatap Maribella.
"Oh tak mengapa, Tuan Hansel. Aku langsung pulang tadi dan .... "
"Tuan Hansel? Anda?" Reinha menegur, berdiri di pintu keluar ruang makan tak sengaja memotong percakapan mereka.
"Maafkan aku mengganggu malam-malam, Nona Reinha. Aku hanya ingin bertemu Maribella."
"Bergabunglah bersama kami, Tuan Hansel," tawar Reinha.
"Oh tidak, terima kasih Nona Reinha. Ibuku sedang sakit, aku datang untuk bicara sebentar pada Maribella," tolak Hansel cepat.
"Baiklah, semoga Ibu Anda segera sembuh, Tuan Hansel," balas Reinha.
"Terima kasih, Nona," angguk Hansel hargai perhatian Reinha. Ia kembali pada Maribel. "Aku pergi Maribella, bisakah kau hadir di kelas besok? Kita akan berkencan setelah itu?" Hansel sekali lagi terlihat berharap banyak pada hubungan mereka yang baru dimulai. Ia menyukai kepribadian Maribella yang hangat, rendah hati dan sederhana.
"Aku tidak bisa janji, Tuan Hansel. Aku mungkin absen dari kelas dan tak bisa janji untuk kencan. Aku harus masak untuk rapat penting besok."
"Baiklah, aku akan hubungimu dan jika ada waktu, mari pergi kencan Maribella."
Maribella mengangguk cepat sangat antusias sebelum menutup pintu dan kembali ke ruangan makan.
"Eh, kau tak mengajaknya makan Bibi Maribel?" tanya Elgio dan mengekang lidahnya. Sudah sekali memanggil wanita itu dengan namanya saja.
"Tidak, Tuan Muda. Tuan Hansel hanya ingin bicara sebentar padaku!"
"Apakah dia mengajakmu mengatur kencan sekali lagi, Maribella?" sergah Abner sipitkan mata.
"Eh itu ...."
"Tinggalkan saja pria itu, Maribel! Dia tak cocok untukmu."
Nada itu penuh peringatan keras, Abner terdengar sumbang seperti tadi pagi sementara Maribella merasa tercekik oleh kata-kata Abner.
"Jangan salah paham padaku, aku katakan ini karena kau keluargaku! Dia tak sesopan yang terlihat!" kata Abner lagi sementara Elgio menahan napas dari seberang. Mengerut heran saat Abner lebih mirip menyerang dari pada memberi perhatian.
"Tuan Abner?!" seru Maribella tidak senang menatap Abner tajam. Orang-orang berhenti mengobrol dan perhatikan keduanya yang tiba-tiba seperti musuh kebuyutan. "Bukankah Anda yang terlihat tidak sopan bicarakan masalah pribadi di hadapan para tamu?" tegur Maribel tak suka.
Maribella tak pernah marah, wanita itu sangat lembut dan halus, murah hati juga penyayang. Saat ia meledak gusar, wajahnya memerah. Tangannya meremas sisi dressnya gelisah.
"Aku tak bisa menahan kesal saat dapatimu mematung persis tugu pahlawan di halte bis. Pria itu sopan menurutmu juga menurut bocah-bocahmu yang bodoh ini, tetapi lihatlah tingkahnya? Ia pamitan untuk mengajakmu kencan lalu pergi mendadak dan tinggalkan kau merana di halte bis?" Abner menggerutu. "Jika aku tak temukan kau tadi, apakah kau akan menunggu seharian di halte hingga menjelang malam baru akan kembali ke rumah, Maribella?"
"Tuan Abner?!" tegur Maribella lagi tak percaya pria itu menyinggung perasaannya.
"Okay pergilah kencan dengan pria sopan itu! Aku akan lewati saja kau, saat ia mendadak ada urusan dan kau ditinggalkan ditepi jalanan!"
"Ya Tuhan, kau keterlaluan, Tuan Abner Luiz! Tuan Hansel punya alasan pribadi yang tak bisa ditunda. Kau sungguh kelewatan," pekikan kecil itu terlontar begitu saja.
"Aku peduli padamu karena kau penghuni rumah ini, Maribel!" Abner balas berseru.
"Aku tak percaya kau lakukan itu padaku!"
Maribel bicara bendung tangis dan buru-buru angkat kaki dari sana dengan rasa malu yang melekat di hampir seluruh tubuhnya. Ia merasa mereka seperti sahabat tadinya, tetapi Abner berani sekali permalukan dirinya.
***
Well, Wait Me Up ....