
Reinha melaju cepat menuju Puri Luciano di kawasan Faith Hill. Hubungannya dengan Claire memburuk terakhir kali sebab ulah Elgio dan Lucky. Kini persahabatan mereka akan benar-benar hancur. Lucky Luciano telah keterlaluan mengganggu Elgio dan menghina kemurniannya. Reinha tak bisa tinggal diam.
Tidak sulit lewati pengamanan di rumah Claire berkat pengakuan Reinha bahwa ia adalah teman sekelas Claire. Tak ada yang curiga padanya.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?!"
Ekspresi Claire keheranan saat menjumpai Reinha berdiri seperti superhero wanita di pintu rumah megahnya. Rambut Reinha dikuncir tinggi hingga tubuh imutnya terkesan semampai. Ia juga gunakan riasan mata bold dengan eyeliner melenceng jauh lewati garis mata untuk memberi kesan galak. Lipstik dark shades lapisi bibir tipis dipadu jaket kulit serta sepatu boot ..., Reinha Durante tampil layaknya wanita dewasa. Meski terlihat menyeramkan di awal dan terkesan jahat bahkan hampir seperti penyihir ..., Reinha malah mampu memukau Claire. Ini pertama kali Claire mendapati Reinha berpenampilan seperti itu.
"Di mana Lucky? Aku harus bicara dengannya!" sambar Reinha tanpa basa-basi. Tatapan matanya seserius fashion yang membungkus tubuh langsingnya. Ia menekankan kata harus agar Claire tidak banyak tanya.
"Jangan menimbulkan keributan di rumahku Reinha, pulanglah! Lucky tak akan suka."
Reinha berhembus kasar, "Di mana Lucky?! Beritahu saja di mana kakakmu itu!" tanya Reinha lagi.
Claire yang tertekan lakukan kesalahan dengan melirik ruangan atas. Reinha ikuti pupil mata Claire dan mengambil kesimpulan.
"Minggir!"
Ia mendorong Claire agar menyingkir dan bergerak ke atas. Claire beringsut cepat mencegah Reinha di anak tangga terbawah. Sekalipun mereka sedang renggang, Claire tidak ingin Lucky menyakiti Reinha.
"Reinha, Demi Tuhan. Mood Lucky sedang baik. Kau akan dalam masalah jika coba merusaknya."
Claire tahu Lucky berhasil menyabotase bisnis saingannya. Ia sedang bersenang-senang di lantai atas. Reinha mungkin akan membuat perkara yang bisa buat Lucky marah.
"Tentu saja ia sedang bahagia ... " ujar Reinha menatap Claire tajam, "Kakakmu sedang melakukan konspirasi untuk menghancurkan Kakakku."
"A-pa maksudmu?!"
"Jangan pura-pura tak tahu!"
"Dengar, Reinha ...."
"Tenanglah Claire! Aku hanya ingin bicara bukan membuat keributan. Aku mungkin bisa tawarkan perdamaian dan berunding dengannya." Nada Reinha melembut terdengar meyakinkan padahal itu adalah ayunan muslihat. Ia hanya ingin cepat-cepat bertatap muka dengan Lucky dan menghancurkan wajah mesum pria itu.
Reinha miringkan kepala meminta Claire membuka jalan. Mimik Claire penuh pertimbangan.
Reinha pergi ke lantai atas setelah sisakan senyuman "jangan cemas" pada Claire yang mundur bimbang. Rumah itu lengang tanpa pengawal hanya suara musik terdengar menghentak lantai rumah. Ia memutari tangga spiral menuju ruangan di mana suara Lucky Luciano terdengar penuh rayuan gombal di antara musik. Ia mengetuk pintu tiga kali lalu masuk ketika disuruh.
Wajah Reinha bersemu merah saat menyaksikan pemandangan di ruangan itu. Musik Attention - Charlie Puth mengalun dan Lucky Luciano sedang bersenang-senang dengan hamparan botol minuman. Di atas pangkuannya seorang wanita duduk manja menggoda sambil melingkari leher Lucky. Pria itu tanpa atasan pamerkan otot-otot tubuh cokelatnya. Bayangan lebam dan goresan luka masih hiasi wajah maskulinnya. Reinha mengatur raut wajah coba berdiri tanpa masalah menimbun kepercayaan diri.
Melihat Reinha berdiri merah padam di pintu, Lucky mengirim isyarat agar si wanita di pangkuannya pergi. Agak gusar karena merasa kesenangannya terganggu, si wanita condongkan wajah, julurkan lidah hendak menjilat wajah Lucky yang lantas bikin Reinha Durante hampir muntah. Ia beratraksi seolah Lucky Luciano adalah es lilin gurih. Lucky Luciano mengelak sembari mendorong wanita itu menjauh. Ia gunakan anggukan kepala dan tatapan anak mata tajam mengusir wanita itu keluar. Saat melewati Reinha, si wanita julurkan sapuan lidah pada bibir bawah sembari menggeram seakan ada lelehan ice cream berbekas di sana. Reinha tak bergeming hadapi tingkah si jalang sekalipun ia mual.
"Aku ingin bicara!" Kata Reinha setelah si wanita pergi. Lucky menekan remote untuk akhiri lagu.
"Ya, aku bisa lihat. Seorang gadis perawan di sarang seorang mafia, that's increadible. Claire ijinkan kamu masuk?"
Lucky bersandar di sofa dan bentangkan kedua tangannya menantang Reinha. Otot-otot lengannya mencuat mekar. Raut wajah pria itu sukar ditebak bahkan manik matanya misterius tak teraba. Bibir Lucky sunggingkan senyuman tipis. Ia sedang gunakan trik untuk meneror Reinha. Alih-alih takut, Reinha Durante mendatangi Lucky Luciano, berdiri tepat di tengah ruangan. Boot bertumit 7 centi mengaungi ruangan.
"Apa yang membawamu kemari, Enya?!"
Reinha tertegun. Aneh saja ada seseorang selain Elgio memanggilnya Enya. Bagaimana Lucky bisa tahu nama itu? Ia mulai gelisah sebab getaran suara Lucky saat mengucapkan, "Enya" sebabkan ia merinding mistis. Berani sekali mulut kotornya menyebut nama kecilnya itu. Reinha menyangga tubuh di atas boot, berdiri kokoh tak mau terpancing. Lucky Luciano pandai bermain drama.
"Kau tahu, aku maafkan raut mesummu padaku. Kau mungkin tak pernah tidur dengan gadis perawan kecuali memperkosa mereka!" Reinha menarik napas, "Aku mampir mengunjungimu sebab aku sama sekali tak suka kau mengganggu kakakku. Bisakah kau urusi urusanmu sendiri dan jangan ganggu keluargaku?"
Lucky perhatikan gadis di depannya. Bibir pria itu maju beberapa senti sementara keningnya terangkat naik. Beberapa saat kemudian Lucky berdecak pada keberanian dan keangkuhan seorang Reinha Durante, pada gestur tak gentar gadis itu.
"Jika mengusik Elgio bisa memancingmu kemari, maka aku akan lakukan itu sepanjang hidupku. Ini seperti 'sambil menyelam minum air'. Sekali lemparan dua ikan terpancing. Ikan tercantik dimoncong kailku. So pretty ...."
Reinha melangkah cepat, membungkuk bertumpu pada dua lengan di atas meja di antara botol-botol minuman keras, tepat di depan Lucky. Sorot matanya menikam Lucky.
"Aku tidak main-main, brengsek!"
****
Chapter berikutnya segera hadir...
Dukung Senja Cewen. Jangan lupa jempolnya yah ....