Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 85 Karma Untuk Arumi.



Cast for Ethan Sanchez.


Sebenarnya aku salah satu Author jadul yang gak suka ngasih visual untuk karakter yang aku ciptakan, karena ingin biarkan Readers punya imajinasi dari ilustrasi-ku. Ethan ini salah satu karakter yang dari awal memang disiapkan khusus untuk jadi seseorang yang dekat dengan Marya dan Reinha. Ethan is someone who is special di hati.



***


Arumi menghindari sekolah selama sepekan setelah ia merusak pernikahan Aruhi. Ia temukan flat kecil di lantai tiga sebuah bangunan dan hidup dalam kesendirian di sana. Beruntung, ia punya uang sendiri dari hasil jadi artis dan tak disita Ibu, jadi masih bisa makan. Lagipula, barang-barangnya ikut terbuang bersamanya, jadi, akan di garage sale jika nanti Arumi kekurangan uang.


Selasa pagi, ia akan pergi cast di sebuah rumah produksi kecil, katanya mereka menerima model untuk sebuah majalah fashion produk online. Upahnya tak seberapa tetapi ia akan kumpulkan uang dan beli rumah sendiri. Arumi telah bersiap-siap sejak pagi buta dan nyaris pingsan saat buka pintu flat, Ethan Sanchez berdiri di atas satu kaki dengan tangan terlipat, tersenyum kejam padanya seperti biasa.


"Aaa,a,pa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa tahu tempat tinggalku?" tanya Arumi gagap.


"Lima belas menit Arumi Chavez, bertukar dengan seragammu!" perintahnya datar.


"Tidak, aku akan berhenti sekolah dan bekerja sebagai model!"


Ethan menyeringai. "Jadi, kau pikir bisa bebas seperti kuda tanpa kekang setelah buat keonaran, ciptakan masalah dan lukai orang lain?" tanya Ethan muak.


Arumi terdiam. Tak pernah menyangka, Ethan akan temukan flatnya.


"Kau akan pergi ke sekolah atau ... ?!"


"Berhenti mengancamku Ethan Sanchez, aku tak akan pergi ke sekolah, aku putuskan untuk berhenti sekolah," seru Arumi kesal.


"Baiklah, kalau itu maumu. Aku pergi, kau tahu ..., videomu saat menipu seorang pria di altar direkam dengan sangat baik oleh seorang videografer yang bertugas mengambil gambar di hari pernikahan itu. Kau tahu, netizen akan sangat tercengang dengan tingkah lakumu. Kau bisa pilih sendiri, tersiksa di sekolah atau tersiksa di dunia luas ini, dicemooh, diasingkan, dibully dan banyak hal buruk lain yang akan menimpamu."


Ethan Sanchez memandangnya jijik seolah dia tikus got penyebab kolera.


"Aku akan unggah itu ke situs gosip dan kau tahu, kekuatan media sosial," ujar Ethan lagi mengintimidasi.


Arumi termenung, karmanya tiba. Sepekan selepas ia khianati kakaknya, karma itu tiba dibawa Ethan Sanchez dan senyuman jahatnya.


"Baiklah," sahut Arumi tanpa daya. "Aku akan ke sekolah!"


Di sana akhirnya dia, pergi ke sekolah, sangat terasingkan. Tak ada yang menegur, atau menyapanya, seakan satu sekolah tahu ia seorang penjahat. Tak ada yang bicara padanya. Ia mengekor di belakang Ethan dan celingukan. Apakah satu sekolah tahu yang ia lakukan pada kakaknya?! Atau cuma perasaannya? Sejak awal ia masuk sekolah memang tak ada yang ingin berteman dengannya karena ia sangat angkuh.


Jam istirahat, saat ia tak berani pergi ke kantin, karena tatapan-tatapan penuh penghakiman. Mereka ternyata tahu perbuatannya pada Aruhi. Entah siapa biang kerok di sini? Aruhi kakaknya adalah anak emas sekolahan, kakaknya itu seperti Dewi yang bersinar dan terangnya menyeret serta sekolah ini bercahaya. Aruhi dan teman-temannya banyak memenangkan lomba hingga sekolah mereka sering disorot. Ia telah melukai satu sekolah. Apa yang ia pikirkan? Ia telah melangkah ke altar gantikan kakaknya dan membuat kakaknya terluka.


Arumi mengendap-endap ke perpustakaan dan membuka kotak makan siangnya di sana. Mengunyah dalam diam. Seorang bibi pengasuh paruh waktu bekerja untuk sediakan ia makanan tetapi ia tak mungkin terus-terusan begitu, sebab sang bibi pengasuh meminta gaji yang sangat tinggi.


"Apa perpustakaan ini boleh dipakai untuk habiskan makan siang?" tanya Ethan dari balik celah buku buat Arumi tersedak telur goreng.


Gadis itu terbatuk-batuk, sembunyikan kotak makannya. Reinha dan Marya duduk di tengah ruang perpustakaan dengan banyak buku. Mereka serius belajar. Saat Ethan menegurnya, Aruhi berbalik dan saat melihatnya, tatapan kakaknya sungguh sangat buat ia tersiksa. Aruhi tak marah tetapi juga tak senang ia ada di sana sedang Reinha Durante benar-benar terlihat akan ludahi wajahnya.


Mereka mungkin lewati hari sulit saat itu. Tetapi dirinya juga, seandainya mereka tahu. Tidak benar, Arumi menggeleng. Tak seharusnya ia mengirim mereka berdua pada Valerie karena bujuk rayu Valerie. Benar kata Ethan, ia sama bodoh dengan kambing betina.


Beranikan diri, Arumi ingin pergi ke tengah perpustakaan pada kedua gadis yang disakitinya itu, tetapi tatapan murka Reinha Durante sangat menakutkan, seakan-akan ingin melempar tubuhnya ke dalam lahar panas gunung berapi, Arumi bergidik ngeri, mundur perlahan dari sana. Ia akan cari kesempatan saat Aruhi sendiri dan coba minta maaf padanya. Kata orang, kakaknya itu manusia separuh malaikat, apakah Aruhi akan maafkan dirinya?


"Sore hari, kau akan bekerja di kafe sambil belajar," kata Ethan perhatikan Arumi yang bengong pada Reinha dan Marya.


"Eh?!"


"Kau akan ikuti semua perintahku," senyum Ethan melebar.


"Apa Ibuku membayarmu?!"


"Ya," jawab Ethan pendek. "Terlepas dari itu, manusia sepertimu perlu di kasih pelajaran, siapa tahu otakmu segera mencair! Aku akan tabah hadapimu demi upah besar."


"Aku akan beri kau uang yang banyak Ethan, melebihi yang ditawarkan Ibuku. Bisakah jangan ganggu aku?!"


Ethan Sanchez berdecak, "Kau akan bekerja di kafe selepas sekolah sambil belajar, hingga kau berhenti berpikir jadi kriminal!" ulang Ethan lagi. "Jangan coba-coba usil pada Marya, kau tahu aku akan lakukan sesuatu yang buruk padamu, Arumi!"


"Aku ingin minta maaf," katanya menahan tangis. Cukup tersiksa jauh dari Ibu bukan karena ia ingin tetapi karena diusir, cukup buruk saat Aruhi tampak tak ingin mengenalnya.


"Coba saja sana! Jangan berharap lebih, Arumi. Jika jadi Marya, pernikahanmu gagal, kau diracuni teh oleh adikmu sendiri, diculik orang asing dan lewati banyak kesulitan, apakah pikirmu mudah untuk berikan maaf?" Ethan Sanchez menatap gadis itu berdecak, "Jika ada kontes kebodohan di dunia, kau pasti dapat mahkota pemenangnya."


Meski sakit hati oleh ucapan Ethan, Arumi akui ia bersalah. Jadi, ia datang pada Marya dan Reinha dan berdiri serba salah sebab keduanya terlihat tak gubris.


"Kak, bolehkah kita bicara?" tanyanya gugup.


Reinha dan Marya berhenti sejenak dan menoleh pada Arumi. Marya tak mampu sembunyikan sakit dan lukanya. Ia berharap terlalu banyak pada hubungan kasih sayang di antara mereka. Meskipun bodoh karena terlahir prematur, Marya tak berharap Arumi tega dan kejam padanya. Ia bahkan menyeret Reinha juga. Mereka berdua hampir kehilangan kesucian secara brutal. Arumi, adik yang ingin dicintainya sepenuh hati.


"Bicaralah Arumi! Tak ada kakakmu di sini, namaku Marya Corazon. Ingat kau pernah bilang kalau aku asing bagimu, begitulah kita. Kenyataannya kita memang hanya orang asing, kebetulan punya ibu yang sama,"


jawab Marya pedih.


"Kak, maafkan aku soal pernikahanmu dan ...."


Bbbraaakkk!!!


Marya membanting buku di depannya hingga berbunyi keras. Ethan beri isyarat pada pegawai perpustakaan, minta ijin buat keributan.


Mengingat hari penuh bencana itu, Marya trauma.


"Pergilah, Arumi! Anggap saja kau tak lakukan apapun. Kau juga tak perlu tanggung jawab untuk semua trauma yang aku alami akibat hari itu. Lupakan saja! Tolong pergi saja!"


"Kakak, aku diancam dan aku terpaksa lakukan itu!" seru Arumi hampir menangis.


"Benar sekali! Bukankah kau sangat dekat dengan Valerie? Sampai-sampai kau tak tahu kalau itu cuma jebakan? Aku berharap kita setidaknya bisa dekat seperti Ibu dan adik perempuannya. Apakah kau tahu akibat perbuatanmu?! Aku dilucuti pria asing dan nyaris diperkosa. Aku berpikir untuk bunuh diri di hutan jika sampai kejadian," balas Marya sakit hati. Hingga detik ini, ia takut bicara soal pernikahan. Otaknya yang jenius menyimpan momen saat betis-betisnya digerayangi dengan penuh nafsu, saat ia terpaksa memeluk pria asing dan menikam lehernya.


"Aku bukan kakakmu, Arumi. Tak akan pernah jadi kakakmu!"


"Kakak ...."


Reinha melotot pada Arumi mengusirnya pergi.


"Oh tolonglah, Arumi Chavez, pergi dari sini! Kau tidak lihat dia sangat terluka?" bentak Reinha galak. "Jika kau mengulang hal yang sama, aku akan dengan senang hati, mencekik lehermu dan menarik keluar lidahmu dari kerongkonganmu!"


"Maafkan aku, Reinha ...."


Reinha bangkit berdiri dan pergi ke jendela perpustakaan, hirup udara segar dan mengambil napas coba untuk redam kegusaran di sana. Ia dijual-belikan di situs dewasa, dipajang dan entah berapa banyak mata liar menikmati tubuhnya di internet situs mesum itu. Ia mendesah jengkel. Hari yang buruk dan Arumi semakin perparah situasi.


Pikirannya kembali pada pagi tadi, ia menyukai Lucky tadi pagi saat bergelung di sofa, saat pria itu bacakan sajak cinta hingga ia kembali tertidur dan lupa soal kimia. Cara pria itu kancingkan seragam dan pakaikan dasi, sesuatu yang biasa tetapi sangat spesial. Dan akhir dari pagi itu adalah kata "putus". Ia tak ingin berdebat soal kalimat panjang yang berakhir dengan, "Mari kita putus!"


Ia mengerti Lucky Luciano tapi tak mengerti dirinya sendiri kini. Kata-kata Irish kembali. Seorang wanita bernama September tak sengaja hamil dengan kekasihnya, itu berarti usia kandungan wanita itu kira-kira 6 atau 7 bulan. Reinha mendorong Lucky kembali buka lembaran masa lalu dan perbaiki satu persatu, ia akan beri Lucky waktu. Tetapi bagaimana jika pria itu seperti Axel Anthony, berseri-seri saat bertemu Queena yang hamil?!


Bukankah mereka terikat sesuatu oleh bayi?!


Reinha tak mengikat ulang rambutnya meski yang dibuat Lucky sangat tidak rapi. Mereka punya banyak momen manis dan ia tak mungkin begitu saja lepaskan pria itu. Cintanya telah habis diberikan pada Lucky Luciano dan Reinha tak bersiap untuk patah hati lagi.


Well, mereka akan tetap pacaran dan jaga jarak, hingga Lucky beres dengan urusannya. Reinha akan fokus belajar dan mengurus Dream Fashion. Namun, jika Lucky Luciano memilih bersama wanita bernama September dan bayinya, maka Reinha hanya harus menyerah meski sulit. Ia tak akan berjuang untuk pertahankan Lucky di sisinya. Mungkin mereka tidak berjodoh.


Ethan Sanchez perhatikan suasana. Pada Arumi yang tertunduk pergi, lesu dan lunglai. Pada Marya yang tengkurap di atas meja terisak, perih hati lihat gadis itu menangis tetapi tak bisa pergi untuk menghibur meski sebatas sahabat. Ethan dengan sangat tegas telah menggembok Marya di sebuah kotak perak dan menyimpannya di dasar hati, tak akan pernah membukanya lagi. Kecuali jika Elgio Durante sakiti gadis itu. Ia akan dengan senang hati pergi dengan Marya.


Reinha di pojok perpustakaan di jendela, hanya pandangi gerbang sekolah dengan pikiran melayang jauh. Mobil merah Lucky Luciano di halaman sekolah dan ia melihat dirinya berlari pada Lucky, meloncat ke dalam lengan pria itu. Tatapannya buram saat mobil merah benar-benar terpeta di penglihatan, berhenti di depan sekolah dan kekasihnya turun dari sana, bersandar di mobil, menunggu gelisah. Seperti tersihir, ia melangkah pergi ke halaman sekolah sedang lonceng tanda pulang sekolah berbunyi.


"Bagaimana jika kau menginginkan wanita itu dan bayinya?" tanya Reinha saat mereka berhadapan.


"Bisakah kau menyetir?" tanya Lucky Luciano. Reinha masih ragukan dirinya, masih ragukan cintanya. Meski ia menggores puisi di setiap pasir putih pada pantai di seluruh dunia ini atau mengukir cintanya pada Reinha ditiap pohon yang ada di muka bumi, gadis itu tetap ragukan cintanya, karena masa lalu buruk. Jadi, Lucky Luciano bernapas putus asa, tersedot dalam kehampaan.


"Kau buat segala hal terlihat sia-sia untuk dijalani, Enya! Padahal, aku hanya minta kau percaya pada cintaku!" Pria itu mengeluh dan bersandar di bahu Reinha. Gadisnya hanya menyetir bisu. Ketika sadari dirinya tak bohong, Reinha hentikan mobil di tepian jalanan dan bersandar pada kepalanya. Mereka menonton jalanan yang lengang dalam diam.


"Aku takut kau pergi," jawab Reinha akhirnya ungkapkan isi hati, tak percaya ia telah terjampi-jampi oleh cinta pada Lucky Luciano.


"Aku tak akan pergi karena telah terikat padamu. Mari pergi ke Double L, maafkan aku soal tadi pagi. Kita tak akan putus, apapun yang terjadi."


Keadaan membaik untuk keduanya, satukan langkah dan bergandengan tangan ..., jika saja mereka tak menangkap sosok Irish Bella dan seorang wanita lain yang Reinha yakini, September. Dari cara Lucky terpaku diam, mati langkah dan menegang. Wanita itu sedang mengandung. Reinha tak mampu melangkah saat Irish Bella dan tampang ajaib itu melambai ke arah mereka dari antara display produk-produk busana wanita.


Lucky menahan napas tertahan sedang tangan Reinha kaku dalam genggamannya.


"Hai, Tuan Lucky Luciano. Kami kebetulan mampir untuk apresiasi pada produk baru-mu. Kami membeli banyak perlengkapan bayi," katanya seolah-olah Lucky harus berterima kasih padanya.


"Hai Tuan Lucky, apa kabarmu?" sapa wanita di sebelahnya, tersenyum hangat. "Lama tak bertemu."


"Hai," sapa Lucky kikuk, ekor mata bergerak pada Reinha yang tanpa ekspresi. "Apa kau baik-baik saja, September?" tanya Lucky basa-basi, berusaha tak melihat pada perut wanita itu.


"Ya, maaf tak bermaksud ganggu Anda, Tuan. Kami hanya kebetulan mampir," kata September amati Reinha dalam balutan seragam sekolah, lalu pada Lucky Luciano. Ia sedikit keheranan.


"Hai, Nona Durante! Kau terlihat tak suka, kami ada di sini!" sapa Irish tajam dan meruncing.


Reinha menghela napas panjang. Apakah arwah Valerie berpindah pada Irish?


"Nona Irish?! Apa kabarmu?" Reinha tersenyum. "Aku bukan tak suka kau ada di sini, aku hanya tak suka lihat wajahmu!" balas Reinha blak-blakan hingga Irish mengerut.


"Apa karena aku bicara soal September yang sedang hamil? Aku bicara fakta, Nona!" kata Irish kedipkan satu mata.


Reinha tersenyum lebar. "Aku tak akan bahas masa lalu kekasihku yang kelam. Bukan rahasia lagi, beberapa wanita murahan datang dan pergi dalam hidupnya di saat itu. Mereka tanpa ikatan, bersenang-senang, hura-hura, ciptakan kesalahan dan dosa, tetapi ... sekarang pria ini kekasihku dan kami sepakat untuk perbaiki masa lalunya yang rusak tanpa berpisah."


Irish terlihat takjub pada Reinha. Bibirnya maju beberapa senti sedikit ragukan argumentasi Reinha.


"Bagaimana caranya? Apakah bertanggung jawab pada hasil perbuatan? Kau lihat sendiri?" tanya Irish seakan mengejeknya.


Reinha berdecak. "Anda seorang reporter Irish tapi tak paham kata-kataku, itulah pentingnya, untuk tidak jadi wanita murahan. Mau saja diajak tidur bersama. Kuramalkan kau juga begitu akhirnya, memburu kakakku seperti wanita murahan."


"Jaga bicaramu, Reinha Durante!"


"Sayang sekali, padahal kau terlihat sangat independen. Kau mungkin akan melengket padanya jika tak diusir!" Reinha lemparkan pandangan merendahkan.


"Hati-hati dengan ucapanmu, Nona!"


"Apa aku salah? Jangan buang-buang waktu dengan Elgio, Irish. Kau tahu, meskipun kau terlihat menarik, Marya jauh segalanya dibandingmu. Kau seperti merpati yang menginginkan pejantan merpati lain. Temukanlah milikmu sendiri dan jangan merebut milik orang lain!"


Irish terlihat mengunyah gigi-giginya dengar ucapan telak Reinha. Irish Bella mencari tahu profil Marya dan terheran-heran, tipe wanita Elgio. Sama sekali tak ada banding dengannya. Gadis itu mungkin cantik, pintar dan polos tetapi terlalu kuno untuk pria sehebat Elgio Durante. Dirinya lebih cocok disandingkan dengan Elgio. Lagipula, Marya masih sangat remaja, Elgio pasti hanya bersenang-senang dengannya untuk lambungkan gadis bernama Marya itu.


"Elgio dan Marya punya ikatan sejak mereka masih kanak-kanak, Irish. Kau tak akan mampu menggeser Marya. Aku juga akan pastikan itu! Menyingkirlah dari jalan kami!"


Seakan teringat sesuatu, Reinha menoleh pada Lucky yang hanya menyimak mereka.


"Kau bisa bicara dengannya Lucky! Pergilah ke ruanganmu!" Mengangguk pada September.


Reinha melepas genggaman tangan Lucky yang terlihat enggan, menepuk tangan pria itu seolah ingin bilang, saatnya cari solusi!


"Jangan berpikir untuk mengejarnya seperti yang dilakukan Irish pada Elgio Durante! Anda hanya akan terlihat semakin murahan, September."


***


Just Wait Me Up!


Tinggalkan komentar ya!!! Cintai Aku, aku mencintaimu...