
Minggu kedua akan bertugas, Reinha sedikit terkejut saat Magnolio ada di depan Biara pagi-pagi buta, sendirian bersama beberapa pengawal datang menjemput dan hendak mengawal ia ke desa.
"Aku datang ambilkan bahan makanan sekalian menjemput Anda, Suster."
Reinha mengangguk paham ikut periksa bahan-bahan makanan, pakaian, selimut juga buku-buku yang segera diangkut ke mobil. Claire Luciano adalah donatur dominan lalu Oriana Fritelli yang kirimkan banyak buku. Banyak cinta sebenarnya untuk Pesisir Timur, kalau tidak dirampok.
"Aku dengar dari Suster Kepala, Biara dijarah hari kemarin?" tanya Magnolia buka percakapan dengannya.
"Ya, Tuan," angguk Reinha. "Namun, seseorang antarkan kembali bahan makanan ke Biara gunakan mobil yang sama. Kami menyebutnya Angelus Domini (Malaikat Tuhan) sebab barang yang dijarah kembali dalam keadaan utuh. Anda tahu, pria itu berpenampilan seperti Pengemis Tua dan bahkan minta semangkuk bubur untuk mengisi perut. Kurasa, Anda harus tempatkan beberapa orang untuk menjaga Biara. Para penambang liar ...."
"Sayangnya yang kemarin itu, bukan penambang liar, Suster. Mereka sekelompok penyamun keji. Para penambang liar tak selamanya penjahat. Ada yang menambang untuk mengganjal perut."
"Kita sepertinya sepakat bahwa Penambang Liar digunakan untuk sekelompok pencuri, penjarah, perampok kejam yang berkeliaran di tanah ini. Aku tidak tahu bahwa Penambang Liar alami perluasan identitas. Apa aku salah?"
"Em, ya, Anda benar. Bisakah kita pergi saja, Suster Bernadeth?" tanya Magnolio bukakan pintu mobil dua kabin, biarkan Reinha masuk dan duduk di bangku belakang.
"Silahkan gunakan sabuk pengaman! Tak ada polisi di sini tetapi banyak hewan melintas di jalanan!" kata Magnolio pergi ke samping sopir.
"Baiklah, Tuan!"
Reinha pasangkan sabuk pengaman. Suster Felicitas hari ini sedikit tak enak badan, jadi tak bisa ikut. Reinha sepertinya tak ingin pergi sendiri tetapi ia harus mencari Lucky Luciano. Bersyukur Magnolio duduk di depan sebab Reinha selipkan pistol dibalik jubahnya. Ia berpakaian bad girl dibalik jubah kecuali jaket hitam yang ditaruh di dalam tas bersama telpon pemberian Claire.
"Sejak kedatangan Anda, sepertinya banyak berkat mengalir. Anda sangat dilindungi, Suster," kata Magnolio tiba-tiba di tengah perjalanan menuju dermaga, sesekali menoleh ke belakang.
"Anda sama seperti yang lain, Tuan, awasi aku!" balas Reinha tersenyum ala kadarnya, ingin curigai niat terselubung pria di sampingnya. Tetapi Magnolio terdengar tulus saat bicara.
"Sungguh aku tersanjung," sahut Reinha pikirkan kata-kata Carlos tentang Oriana Fritelli dan Magnolio.
"Apa yang Anda cari?" tanya Magnolio tanpa basa-basi. "Tidak sembarang orang dapat bantuan dari Eurocopter. Benda itu bahkan terlihat tak ingin tinggalkan Anda. Tahukah Anda bahwa Eurocopter hanya digunakan untuk misi tertentu? Itu berarti, Anda bukan Suster biasa."
Reinha sangat terkejut dengan pertanyaan itu. Ia pikirkan jawaban, jadi kejadian seminggu lalu sebabkan Magnolio curigai sesuatu.
"Aku ponakan Padre Pio, Tuan. Kurasa meskipun seorang Biarawan, Padre Pio tak ingin hal buruk terjadi padaku," sahut Reinha ragu-ragu.
Ia sendirian, bagaimana jika Magnolio habisi dirinya di hutan. Reinha mengerut. Pria ini adalah penculik Oriana Fritelli dan banyak orang lain, Thomas Adolfus terkenal sebagai pemberontak tetapi pergerakan Thomas dilakukan oleh Magnolio, Putera Thomas Adolfus. Reinha tak bisa bongkar identitasnya sekarang.
"Aku hanya akan percaya padamu, sebab Anda terlihat bisa dipercaya. Lagipula, adik-adikku sangat menyukai Anda. Mereka mengganti 'sorry' dengan puisi tiga baris yang Anda ajarkan. Terdengar aneh tapi sangat efektif," puji Magnolio angguk-angguk kagum.
"Terimakasih, Tuan. Jujur ... aku sebenarnya mencari sumber kehidupanku, sumber kedamaianku di tempat ini," kata Reinha. Pertama kali bertemu Magnolio, pria itu terlihat seperti para patriot pada umumnya, penuh wibawa dan tegas. Selalu datar dan tak banyak senyum, mungkin ekspresi taktik agar lebih disegani.
Magnolio terlihat coba mencerna perkataan Reinha. Suster Bernadeth sepertinya berasal dari keluarga kaya-raya yang bosan pada kehidupan glamour. Aura wajah sang Suster tunjukan bahwa ia berasal dari keluarga orang berada. Pria itu buat kesimpulannya sendiri.
"Maafkan kata-kataku yang curigai Anda, Suster. Bagaimana perkembangan adik-adikku?" Magnolio alihkan percakapan.
"Sangat bagus. Mereka adalah anak-anak brilian. Jiwa ingin tahu mereka sangat tinggi. Aku kagumi cara Anda mengayomi adik-adik Anda. Seorang wanita cerdas dan berani menulis kisah perjalanannya di blog pribadi. Sepertinya ia jatuh hati pada pria yang menculiknya selama beberapa hari dan temukan hal menarik selama ia disandera. Aku tak kenal siapa pria yang ia maksud tetapi wanita ini adalah seseorang yang aku kenal. Aku suka dengan satu alinea yang dia tulis di sana.
Kau boleh mutilasi aku seperti keinginanmu dan jika kau sudah selesai denganku, permusuhan ini akan terus berlangsung. Kau akan lahirkan bayi-bayi hanya untuk mengisi pikiran mereka dengan amarah, melatih mereka berperang untuk dendam dan lakukan itu selama berabad-abad!
Oriana Fritelli benar, ketika jiwa-jiwa polos anak-anak hanya dijejali amarah, mereka akan berakhir seperti monster. Tak akan pernah lagi seputih saat seperti kita mengenal mereka saat mereka kecil dan orang dewasa-lah yang bertanggung jawab sebab mencetak monster."
Magnolio terperangah seketika, perhatikan Reinha seksama penuh selidik.
"Anda seperti fans fanatiknya wanita itu?"
"Satu negara tahu siapa Oriana termasuk kami! Aku bertemu dengannya saat ia kembali dari Pesisir Timur, saat ia serahkan bantuan buku padaku. Buku yang kubawa Minggu lalu untuk adik-adik Anda."
Ketenangan Magnolio terusik, terlihat menahan diri tetapi akhirnya bertanya. "Apakah wanita itu baik-baik saja?"
Begitulah cinta mengubah seseorang, pikir Reinha. Saat Magnolio bertanya, nadanya terdengar rendah dan berat semacam terpengaruh emosi. Carlos benar, Tuan Magnolio menyukai Oriana Fritteli. Seluruh pria di negara ini cintai Oriana. Wanita itu adalah simbol cinta pertama para pria.
"Kurasa dia jatuh hati pada seseorang selama bertugas (diculik) di Pesisir Timur, sebab, kisah cintanya dengan Tuan Adelberth berakhir. Oriana menolak lamaran pria itu."
"Aku tak tahu kalau para Biarawati juga dengarkan infotainment?"
"Bahkan tak nonton Televisi, beritanya muncul di halaman pertama google. Hubungan Nona Oriana dan Tuan Carlos berakhir."
"Tidak heran. Tuan Adelberth tak datang selamatkan dirinya!"
"Tidak, kurasa bukan itu! Dengar - dengar Tuan Carlos datang sendiri untuk menjemput Oriana dan bawa ia pulang."
"Tentu saja beritanya seperti itu! Pria itu pandai membual!" sinis Magnolio terdengar sama sekali tak menyukai Carlos Adelberth.
"Jadi, pria itu tidak benar? Sayang sekali, kisah cinta mereka kandas padahal mereka sangat serasi."
"Ya, tidak benar. Lucky Luciano yang datang untuk Oriana. Ayahku lepaskan Oriana demi banyak imbalan yang dijanjikan Lucky Luciano juga sahabat mereka, Tuan Alberth Costello. Pria itu bahkan sekarat akibat panah."
Magnolio bicara seakan lampiaskan isi hatinya, sungguh muram saat bicarakan Oriana, have no idea, bahwa ia telah menggigit umpan yang dilempar Reinha. Kabar dari Magnolio buat napas Reinha tertahan di dadanya. Jadi, benar Lucky sekarat seperti dugaannya. Ia meremas Kalung suci di dada kuat, menyebut nama Tuhan dalam hati, menahan kesakitan.
"Apakah pria yang ada dibalik tirai waktu Anda antarkan aku ketika aku terluka tempo itu?" tanya Reinha meski terguncang menjaga nada suaranya terdengar prihatin pada nasib seseorang bukan hati yang terluka.
Magnolio menoleh ke bangku belakang.
"Aku dengar suara erangan kesakitan dari sana." Reinha berkata cepat.
"Ya. Pria itu Lucky Luciano."
Reinha mengutuk diri dalam hati. Betapa bodoh. Harusnya ia menyingkap tirai itu. Reinha merenung sepanjang perjalanan. Apa yang harus ia lakukan? Lucky benar-benar ada di Desa Thomas. Mereka bohong padanya dengan katakan akan kirimkan kabar jika suaminya ditemukan. Nyatanya, mereka sembunyikan suaminya. Bukankah itu pertanda bahwa mereka punya niat lain? Lalu wanita yang waktu itu keluar dari ruang perawatan, Cataleia, adalah gadis yang merawat suaminya? Apakah gadis itu menyentuh Lucky? Rahangnya mengeras. Jika, menyangkut Lucky Luciano, tebakannya selalu benar.
Berusaha sekuat tenaga kendalikan diri, Reinha temukan tubuh bergetar oleh keinginan untuk bersua dengan Lucky Luciano. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh dalam hati, mohon kebaikan Tuhan. Bukankah di hadapan Tuhan ia bersatu dengan suaminya? Takdir pisahkan mereka tetapi kini tinggal selangkah, setipis tirai, bagaimana Tuhan buat segala hal jadi rumit untuk mereka? Selidiki hatinya dan Tuhan akan temukan cinta yang mengikat dirinya dan Lucky benar-benar cinta suci.
Mereka sampai di desa dan Magnolio antarkan dirinya ke ruang belajar. Reinha terus mencari cara agar bisa melihat suaminya. Anak-anak telah berkumpul dan melihat Reinha datang, mereka bertepuk tangan, sangat hormati pendidik.
"Bisa kita mulai?"
"Yes, Mam!" sahut mereka serempak.
"Red Twilight ketika mentari bersinar penuh, keemasan menerpa tebing merah.
Red Twilight ketika bayanganmu menepi pada bait-bait prosa.
Kau adalah elegi senja, bersenandung di celah cahaya, rona semerah jingga."
Mereka mulai berpuisi tetapi dengan sedikit gairah. Reinha perhatikan mereka, mengira-ngira apa yang terjadi sehingga mereka tampak lemas.
"Em, sayang sekali, aku tak dengar semangat dari anak-anakku yang biasanya bisa lumerkan hatiku dan buat aku jatuh cinta setengah mati. Apa kalian sudah sarapan?"
"Yes, Mam!"
"Lalu apakah gerangan yang buat kalian terlihat lesu? Tahukah Anda bahwa aku sangat rindukan pertemuan ini, bahkan matamu, hidungmu dan suaramu, terbawa dalam tidurku. Apakah ini balasannya untukku?" pancing Reinha hingga terbitlah senyum di wajah mereka secerah mentari pagi. "Mau ulangi lagi dengan lebih keras?"
"Yes, Mam!" sahut mereka terbakar semangat.
****
Seratus meter dari ruang belajar....
Lucky Luciano oleh sesuatu tertidur pulas. Mungkin karena tubuh butuh energi isi ulang setelah seolah jalani reparasi total. Matanya terpejam rapat tetapi telinganya mulai menangkap bebunyian yang masuk ke kamarnya. Ia mulai miliki kendali pada dirinya. Ia mimpikan Reinha sepanjang malam, rindukan istrinya dan romantic style yang tak sengaja tercipta di antara mereka. So many things. Kekasihnya pasti bersedih tetapi satu yang ia takutkan, Reinha akan nekat datang ke Pesisir Timur untuk temukan dirinya.
"Akkhh Enya, bersabarlah sedikit saja! Aku akan segera kembali padamu. Jangan menyusulku, di sini sangat berbahaya." Ia bicara pada gadisnya dalam mimpi sementara Reinha dalam lengannya.
Saat rasakan tangan menyentuh dadanya perlahan, Lucky Luciano segera terbangun, tak suka jika Cataleia abaikan peringatannya.
"Tolong jangan sentuh aku!" bisik Lucky Luciano tak senang dan terkejut saat dapati Ratruitanae sedang bersihkan ramuan dari tubuhnya, menghapus pelan. Oh, bisa gila jika seperti ini. Tangannya segera pegangi tangan Ratruitanae erat-erat sedang Cataleia berdiri mematung tak jauh darinya dengan ekspresi datar.
"Maafkan aku, Tuan Lucky! Tetapi tubuh Anda harus dibersihkan."
Tatapan Lucky tajam soroti Ratruitanae lalu berpindah pada Cataleia yang langsung berpaling dengan wajah memerah hingga Ratruitanae mengerut pada adiknya.
"Bisakah kabari pada Alberth Costello bahwa aku akan pulang? Istriku mungkin gelisah."
Magnolio masuk ke ruangan itu, tidak terkejut dapati Lucky Luciano duduk di ranjang tanpa atasan pegangi tangan kakak perempuannya sedang adik perempuannya kedapatan cemburu. Mereka seperti istri sungguhan Lucky Luciano. Magnolio menggeleng frustasi. Kedua gadis itu seperti kompas tanpa arah yang benar.
"Magnolio, di mana Tuan Thomas?" tanya Lucky lepaskan Ratruitanae. Ia pegangi rahang yang kaku-kejang. Pegangi wajah yang berantakan, ia yakini itu, sebab janggutnya sangat panjang. Jadi, ia mungkin tak sadarkan diri selama sebulan lebih.
"Ayahku sedang lakukan perjalanan, sayangnya, aku tak bisa beritahu Anda kemana dia pergi."
"Aku tak bisa bicara dengan kedua saudarimu sebab mereka terlihat inginkan aku di sini!" kata Lucky lemparkan tatapan tajam pada Ratruitanae.
"Ya, aku bisa lihat sendiri! Mereka abaikan tugas dan sibuk denganmu! Sungguh menggelikan!" Magnolio berujar menyinggung dua saudarinya. "Mereka bahkan tak menyambut Pendidik yang hampir mati di tengah jalan demi mengajar adik-adik mereka. Kurasa setelah ini kalian berdua wajib bacakan Red Twilight di depan kelas sebagai permintaan maaf pada saudara kalian!" tambah Magnolio hingga Lucky mengerut. Red Twilight?! Apakah Red Twilight adalah sesuatu yang sangat umum di tempat ini?
**Red Twilight ketika mentari bersinar penuh, keemasan menerpa tebing merah.
Red Twilight ketika bayanganmu menepi pada bait-bait prosa.
Kau adalah elegi senja, bersenandung di celah cahaya, rona semerah jingga**.
Ayat-ayat puisi mengalun di udara, dibacakan seperti yel-yel, diteriakan penuh gelora, seperti kata-kata peneguhan seorang istri pada suaminya sebelum pergi berperang. Gegap gempita seperti tabuhan gendang memecah keheningan pagi, dipantulkan ke dinding-dinding ruangan dan diteruskan oleh angin. Puisi itu sampai ke telinga penciptanya, yang ditulis bibir untuk kekasih tercinta sebagai kode rahasia bahwa ia akan datang dan temukan Reinha.
Lucky Luciano tertegun, pegangi kepalanya. Ia baru saja mendengar Red Twilight bergema sangat keras dan nyata.
"Apakah kalian dengar itu?" tanyanya pada semua yang ada di ruangan itu.
"Apa yang Anda dengar, Tuan?" tanya Ratruitanae cemas. "Hanya ada suara adik-adikku. Suster Gemma Bernadeth, ajarkan adik-adikku sebuah puisi berjudul Red Twilight. Apa kau terganggu? Aku bisa minta mereka hentikan!"
"Suster Gemma Bernadeth?" ulang Lucky Luciano tak pernah dengar nama itu sebelumnya.
Ratruitanae terperanjat saat matanya terbentur pada dada Lucky Luciano tanpa sadar menyentuh tato peri di dada pria itu. Lucky pegangi tangan Ratruitanae cepat.
"Aku miliknya!" angguk Lucky pada dadanya. Ketiga orang dalam ruangan itu sama sepertinya, terkejut.
Jika Lucky Luciano terkejut dengar puisi Red Twilight maka ketiga orang dalam ruangan terkejut sebab baru sadari bahwa lukisan abadi di dada pria itu, mirip seseorang. Ketiganya saling pandang sebab baru saja melihat Suster Gemma Bernadeth di dada Lucky Luciano.
Tanpa buang-buang waktu, Lucky Luciano turuni ranjang, menyeret paksa kakinya yang masih kaku. Ia berhasil menggapai Magnolio.
"Saudarimu dalam masalah jika istriku tahu mereka berusaha jadikan aku milik mereka. Kau tahu, Magnolio? Istriku, Enya, sangat-sangat temperamen. Saat ia tahu kalian menahanku di sini, ia akan hancurkan tempat ini gunakan senjata biokimia."
"Tak ada Enya di sini! Tak ada istrimu! Tak ada yang boleh mengancamku."
"Kau benar, tak ada Enya! Tak ada yang boleh mengancammu tetapi istriku dapat lakukan itu. Ia bahkan habisi seorang Capo dan membunuh beberapa pengawalnya dengan tangannya sendiri. Dia pandai menembak, menghitung lintasan, me-reset senjata dan dia hanya seorang gadis 18 tahun. Kau benar tak ada Enya, hanya Red Twilight! Tetapi, pikirkan apa yang akan terjadi saat kau berani buat dia marah. Cari saja namanya di internet, Reinha Durante dan kau akan temukan sesuatu di sana termasuk kakak laki-laki dan walinya. Jangan berpikir untuk jadikan kami sandera, Magnolio!"
Sepertinya perkataan Lucky benarkan kecurigaan Magnolio bahwa Suster Gemma Bernadeth bukanlah biarawati. Wanita itu mencari sesuatu. Sumber kehidupan dan kedamaian yang wanita itu maksudkan adalah suaminya? Terlebih wanita itu bukan wanita biasa, sebab, sebuah benda udara tercanggih di dunia menjaganya dari udara saat mereka bertemu pertama kali di sungai. Itu juga berarti benarkan satu hal, para penjarah makanan yang ditemukan tewas di 3 km di luar Biara, mungkin saja dihabisi oleh istri Lucky Luciano? Mereka temukan jenazah pagi tadi saat ke biara sebab banyak bekas darah tercecer. Ia memeriksa. Enam orang dieksekusi dan peluru yang digunakan adalah NATO 7.62 x 51 buatan Amerika. Berarti senjata yang dipakai sniper bisa jadi M96 Windrunner atau Mark 11. Magnolio menyipit pada dua saudarinya. Apakah mungkin? Sementara Gemma Bernadeth tampak begitu cantik dan lembut?
Lucky pergi dari sana, tajamkan pendengaran, ikuti panggilan hati. Suara Reinha terdengar lembut saat menuntun anak-anak membaca. Lucky pegangi dinding-dinding melangkah seperti pria gila lewati halaman abaikan tatapan heran padanya. Ia terus saja melangkah seakan takut itu cuma mimpi. Ia sampai di kelas. Terpaku. Tak ada Enya hanya seorang Suster berkerudung memakai kalung suci serius pada buku, sedang seorang anak mengeja bacaan. Tetapi Suster cantik itu adalah istrinya.
Sementara Reinha sambil menunggui seorang anak selesai membaca, berpikir keras bagaimana caranya ia bisa bertemu Lucky. Baiklah, ia akan beritahu saja pada Magnolio dan menelpon Carlos untuk menjemput mereka. Atau, ia akan pura-pura bawa air suci untuk yang menderita sakit dan akan pikirkan rencana selanjutnya setelah pastikan melihat langsung kondisi suaminya. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Ia menulis beberapa poin penting di notes sambil matangkan rencana. Konsentrasinya pecah belah. Ia sangat ingin bertemu Lucky Luciano.
"Bisakah aku bertanya, Mam?"
"Yes?!" sahut Reinha. Apa ia harus lepaskan jubah dan kerudung, berpakaian seperti bad girl? Ia selalu punya ide gila jika berkostum seperti bad girl. Ia telah berpakaian bad girl dibalik jubah meski jaket hitamnya dalam tas dan ia punya pistol di pahanya.
"Siapakah penulis Puisi Red Twilight, Mam?!" tanya di anak.
"Apa?! Penulis Red Twilight?" ulangnya mengangkat wajah.
Reinha berhenti menulis, mendadak gagu, tangannya tiba-tiba kaku. Apakah ia terkena stroke kini? Detik ini? Saat ia melihat si brengsek itu duduk di bangku belakang dengan wajah seperti penjahat? Penjahat paling tampan di dunia. Penjahat yang telah buat ia hilang waras selama sebulan lebih. Reinha menunduk pada buku di hadapannya. Air matanya jatuh di atas kertas.
"Aku menulis Red Twilight untuk seorang yang sangat aku cintai. Seorang gadis bernama, Enya!"
Menahan getaran di bibir saat ia mendengar suara berat yang menggetarkan hatinya itu. Berapa lama? Tatapan Reinha buram, tetapi coba berdiri. Suasana tiba-tiba saja hening. Ratruitanae, Cataleia juga Magnolia berlari ke rumah belajar, berdiri di muka pintu dan menahan napas di tenggorokan mereka. Sepertinya mereka tak punya kerjaan sebab kedatangan Reinha Durante kacaukan mereka.
"Suster Felicitas, aku temukan suamiku. Bisakah Anda melepas kerudung dan jubahku? Please forgive me, Lord," kata Reinha kebingungan. Ia bicara seakan-akan berharap Biarawati sungguhan ada di sana untuk lepaskan jubahnya sebab ia ingin berlari pada suaminya.
Lucky Luciano terseret ke tengah ruangan, melihat itu Reinha bersyukur mimpi buruknya berakhir. Kekasihnya di depan mata setelah berhari-hari menunggunya dalam putus asa.
"Lucky ... " bisiknya seraya putari meja dan melangkah seperti tersihir datangi Lucky Luciano. Sama seperti saat ia mendengar erangan kesakitan Lucky. Jadi, itu benar-benar suaminya? Tangan terulur menyentuh wajah Lucky Luciano yang berantakan seakan tak percaya mereka akan bertemu meski ia yakin pada Red Twilight yang akan antarkan Lucky padanya. Tak tahukah Lucky ia sangat menderita selama pria itu menghilang?
"Aku menemukanmu, Lucky! Aku akan menghukummu karena kau telah berani buat aku menderita! Aku janji!" kata Reinha dengan wajah penuh emosional.
"I am so sorry, My Dear Enya ... " balas Lucky pelan segera mendekap Reinha dalam pelukan penuh kerinduan.
"Kau tertidur sangat lama, jadi kau tak rasakan penderitaanku, Lucky! Aku nyaris terbunuh untuk sampai kemari!"
"Enya ... mengapa kau sangat berani? Sudah kukatakan aku akan kembali!"
"Aku tak percaya padamu, kau tak datang di hari aku meraih medali. Carlos katakan mobilmu meledak. Aku bohongi Abner Luiz dan Elgio Durante agar bisa kemari! Kau brengsek Lucky Luciano," tangisnya pecah menjadi-jadi dan ia meraung di dada Lucky yang bernapas tersendat-sendat.
"Maafkan aku! Maafkan aku!" Ia selalu minta maaf tapi selalu ulangi hal yang buat Reinha cemas.
Lucky lerai pelukan dan menatap wajah mungil Reinha Durante dalam telapak tangannya, pijaran sorot kesakitan dan kepedihan di mata gadis itu cukup untuk ungkapkan kepedihan Reinha. Bayangkan banyak hal buruk yang kekasihnya lewati, Lucky menunduk, mengecup mata, hidung, seluruh wajah sang gadis oleh kerinduan dan cinta yang akhirnya persatukan mereka. Berbisik di pelipisnya.
"Semua sudah berakhir, Enya!"
"Aku merindukanmu hingga tak kenali diriku lagi!" ujarnya menangis sedih. "Kau keparat sialan!"
"Baiklah, kita akan bersama. Maafkan aku!"
Apakah ada cinta lain di antara manusia, yang lebih besar dari cinta seorang istri setia, yang menempuh perjalanan sulit untuk temukan suaminya yang hilang? Terlebih wanita itu hanya gadis 18 tahun yang berani.
Tak peduli pada tatapan dalam ruangan itu, keduanya berciuman di antara air mata yang mengucur deras. Reinha memeluk Lucky erat dan berjanji akan membalas Tuhan untuk hari baik ini. Tak berhenti mengucap syukur sebab suaminya masih hidup.
Magnolio meminta adik-adiknya pergi dari ruangan, menatap tajam pada Ratruitanae juga Cataleia yang datar. Menganggukan kepala, beri warning, untuk tidak menyela. Atau mereka boleh menonton siaran langsung tanpa iklan itu agar kesadaran mereka kembali.
"Enya, ya Tuhan. Apa kau terluka, Sayang?" tanya Lucky mendekap makin kuat, kehabisan kata untuk diucapkan.
"Lucky, aku harus lepaskan kerudung dan jubahku!"
Perlahan menjauh dan lepaskan kerudung kemudian jubah, menaruhnya dengan hati-hati di atas meja, sisakan kaos hitam dan celana jeans hitam. Lucky tak terkejut dapati pistol di paha istrinya.
Lucky Luciano menuntun Reinha, memangku gadis itu di atas pahanya. Reinha seperti telah sembuhkan sakitnya. Mereka berpelukan dan berciuman di sana tak peduli pada aroma aneh Lucky Luciano. Lucky tenggelam di pelipis sang gadis. Telapak tangannya di rambut Reinha. Aroma Jasmine yang sangat ia rindukan.
"Aku merindukanmu Enya," bisik Lucky Luciano.
"Kurasa kau cukup terhibur dengan dua wanita yang merawatmu? Apakah mereka menyentuhmu, Lucky Luciano?" tanya Reinha sebab sekilas menangkap ungkapan aneh di mata biru jernih yang sangat memikat Ratruitanae dan Cataleia. Cemburunya kambuh, sangat manis untuk dilihat.
"Apa yang akan kau lakukan, Enya? Mereka sama sepertimu sangat berani!" Sengaja bikin Reinha cemburu.
"Tahu begitu, harusnya aku biarkan saja para Penambang Liar membunuhku dan lemparkan tubuhku ke sungai untuk di makan ikan monster!"
"Tidak, ampuni aku! Mengapa kau pandai sudutkan aku?" Lucky bicara di rambut sang gadis. "Aku tak akan lakukan itu, Enya. Aku hanya milikmu saja."
"Ya kau benar. Kau tak akan lakukan itu sebab aku dengan senang hati akan lubangi jantungmu!"
****
Wait me up ... Kurasa berat, kurasa berat, beban otakku!!! Owwwhhh ... Kondisi otak Author mendadak ngenes, ingat-ingat dua kakak beradik yang tak ingin Lucky pergi. Resiko punya suami babang tamvan.
Jang lupa e kirim kas Beta vote yang banyak Kaka Nona.... Rimagazi woso (Terima kasih banyak)....