
Menjelang sore saat senja tampak merah jingga di angkasa barat, hati Reinha Durante ikut memerah akibat rindukan Lucky Luciano. Ia tak berani mengirim pesan untuk bertanya, semacam orang yang kalah sebelum berperang, ia tak akan mampu bersaing dengan seorang bayi. Benar-benar sangat merana sebab September berhasil merusuh dalam kisah mereka. Reinha sekali lagi percaya Lucky sedang ambil tindakan saat ini hingga bayi itu lahir dan kekasihnya jalani semua dengan ikhlas atas dukungan Reinha. Hanya sampai di situ, ia tak ingin meraba-raba kemanapun. Jika September macam-macam Reinha akan bertemu dengannya secara langsung dan itu berarti baik September atau bayinya tak akan pernah dapat apapun.
Satu-satunya keyakinan bahwa Lucky Luciano adalah ombak yang berenang ke tepi pantai, ia akan kembali padanya sejauh apapun pria itu pergi karena ada sesuatu di antara mereka yang tak mampu dijelaskan oleh kata, dengan bahasa yang mudah, mereka hanya saling memiliki secara istimewa.
Jadi, ketika Lucky Luciano datang menjemputnya di akhir hari yang tampak tak ada harapan, Reinha tak mampu lukiskan perasaannya.
"Kupikir, kau marah padaku," sapa Reinha. Mereka berjanji tak akan menyerah pada hubungan ini, pada cinta yang mengikat keduanya. Berjanji akan selalu bersama. Janji adalah utang dan utang butuh pelunasan.
"Hari ini sangat istimewa, jadi, mari kita habiskan waktu bersama," sahut Lucky tersenyum. Pria itu terlihat sedikit berantakan dan wajahnya awut-awutan.
"Apa bayinya baik-baik saja?" tanya Reinha lihat kondisi Lucky.
"Hhh," desah Lucky depresi. "Berhenti singgung-singgung soal bayi saat kita bersama Enya! Kita bertengkar terakhir kali gara-gara bayi. Aku mengurusinya dengan baik dan sangat muak tetapi aku bertahan karena kehendakmu. Aku merasa seperti salah satu pemeran horor yang diburu seorang bayi," keluh Lucky terdengar marah, kesal, kecewa dan sedih. Mereka berdiri hadap-hadapan di depan paviliun barat dan sore yang indah tak sanggup selamatkan prahara hidup yang dicambuk kefanaan tanpa ujung itu.
"Maafkan aku Enya, bukan maksudku berseru padamu!" sambung Lucky semakin terlihat tidak beraturan.
"Bertahanlah, Lucky. Aku tak akan pergi dari sisimu, seberapa hebat badai yang akan menimpamu. Kau bisa berpegang padaku," kata Reinha pelan. "Bisakah kita pergi saja?" tanya Reinha dengan hati yang terluka. Bukan soal bayi tetapi Lucky Luciano terlihat sangat tertekan dan Reinha rasakan kesedihan pria itu. Ia tak bisa lakukan apapun untuk menolongnya kecuali mendesaknya hadapi kenyataan. Apakah bisa mereka abaikan saja bayi-nya dan tak usah peduli? Bukankah Lucky dan September tanpa ikatan, tanpa cinta, murni hanya hasrat sesat dari dua manusia bodoh akan nafsu? Hampir semua manusia punya aib, kini tergantung bagaimana kau akan mengaku dosa dan terima idulgensi, pengampunan, dari Tuhan lalu mulai jalani hidup dengan lebih baik. Bukankah seorang penjahat sekalipun berhak untuk masa depan suci? Tuhan akan menghitung dosa dan manusia akan terus jalani hidup.
Mereka kehilangan semangat untuk bersama yang biasanya selalu bergelora. Kebisuan yang menyiksa oleh sebab konflik batin berkepanjangan dan wanita hamil yang mereka temui saat pergi kencan menambah derajat keasaman di hati. Apa yang harus dilakukan seorang gadis untuk menolong kekasih yang dulunya brengsek sejati yang kini telah temukan pencerahan?
Reinha dibawa ke sebuah restoran, tak perhatikan lagi dengan benar. Pusat pikirannya hanya pada Lucky Luciano, pegangi tangan Lucky erat dan beri pria itu semangat.
"Kau pernah dengar, badai pasti berlalu Lucky! Esok mungkin lebih baik, kau hanya harus percaya. Jika kau sungguh-sungguh bertobat dan berniat baik, bukankah Tuhan akan bukakan jalan dan pertolongan?"
"Kau terlihat seperti wanita 35 tahun bukan gadis 18 tahun," sahut Lucky dan jemari mereka berkaitan dalam lift. Selanjutnya tak ada jeda, hanya obrolan santai, ringan, coba bercanda berusaha rekatkan kembali mood yang telah hancur.
"Tutup matamu, Enya!"
"Oh ayolah, Lucky."
Pria itu tak ingin terima protes, ia menarik Reinha dan menutup mata kekasihnya gunakan dasi. Pintu terbuka dan kejutan menanti Reinha Durante.
"Happy birthday my dear Enya!"
Memang benar ia bersedih, tetapi ketika lihat sesuatu yang ekstra romantis di depannya, Reinha Durante langsung berbinar-binar.
"Kupikir tak ada yang ingat hari ulang tahunku?"
"Aku siapkan sendirian, dibantu sedikit oleh Francis, semoga kau menyukainya, Reinha Durante. Maafkan ketidak- sempurnaan ku," kata Lucky Luciano tersenyum. Prianya terlihat sangat lelah. Oh Tuhan, demi apapun, tolong jangan biarkan seseorang menyela waktunya dengan Lucky. Tolong, sekali ini saja.
Lampion-lampion kertas berpijar indah di antara senar led laksana cahaya kuning keemasan kunang-kunang di waktu malam dengan sinar rembulan buatan, nuansa yang sangat-sangat romantis. Lucky seakan ingin ekspresikan cinta mereka seperti itu, meski remang-remang tetap masih ada harapan. Lucky dengan tegas katakan hanya akan menikahi Reinha Durante, bukan wanita lain. Efek lighting lembut, seteduh wajah kekasih yang luar biasa lapang. Suasana cocok untuk mereka yang sedang dilanda asmara tetapi terganjal masa lalu kekasih yang suram.
Kue ulang tiga tingkat dengan hiasan mawar creamy dan mutiara cokelat bertuliskan nama E-N-Y-A di antara potongan-potongan cokelat kecil bentuk hati seperti hati mereka. Di sekeliling kue ulang tahun, cupcakes berjejer di antara mason jar dengan laburan cat emas berselingan antara berisi bunga peach yang cantik dan stik cokelat yang beraroma lezat.
"Lucky, ini sangat luar biasa, aku menyukainya," ucap gadis itu berseri-seri. Meskipun ia terlihat sangat dewasa untuk ukuran seorang remaja, Reinha Durante hanya gadis berusia 18 tahun yang suka hal-hal manis seperti yang disuguhkan.
"Happy birthday, my darling Enya," ucap Lucky sekali lagi dan buat kejutan lain. Ia berdiri di belakang Reinha dan pakaikan kekasihnya kalung simple berukir abjad namanya, LUCKY. Benda itu berkilauan sama seperti mata pemiliknya.
"Aku sangat beruntung memilikimu di kehidupan ini," kata pria itu bertumpu di kepala Reinha. "Aku berhenti jadi mafia, berhenti lakukan kejahatan dan aku jalani bisnis secara terhormat berkatmu. Sekarang aku bertanggung jawab pada nyawa seseorang lain karenamu. Entahlah Enya, kurasa, kau dikirim Tuhan untuk selamatkan jiwaku dari neraka. Bisakah jangan lepaskan aku?"
Memeluk Reinha Durante adalah keharusan, bersama gadis itu adalah sebuah kepastian. Bahkan ketika Francis muncul di ambang pintu dengan gelisah sebab ponsel Lucky dimatikan sejak ia sibuk buat persiapan untuk ulang tahun Reinha.
"Apa lagi?" tanya Lucky emosional.. Belakangan amarahnya cepat sekali naik ke puncak kepala. "Pergilah, Francis! Aku tak ingin dengar apapun soal September!" desak Lucky tajam.
"Lucky?!" panggil Reinha pelan.
"Tidak Enya! Cukup sudah!" seru pria itu murka. "Berhentilah mendorongku, bagaimana kalau kau saja yang pergi padanya?" Lucky marah untuk pertama kalinya pada Reinha. "Sampai kapan akan begini?" tambahnya dingin. "Aku telah lakukan apa yang harus aku lakukan, tidak lagi! Sudah cukup!"
"Bos ...."
"Apa kau lakukan sesuatu lagi pada September? Bisakah kau menahan diri hingga bayinya lahir, Francis?" gerutu Lucky.
"Ada apa Francis?" tanya Reinha.
"September akan segera lahiran."
"Tetapi ini belum sampai bulannya?" Reinha mengerut sedang Lucky tak ingin dengar, rautnya turun, pandangan mata menggelap dan rahang membeku.
"Bukankah itu berarti bayinya prematur?"
"Apa kau lakukan sesuatu padanya, Francis?" tanya Lucky dingin.
"Ya, aku melarangnya menelpon Anda dan aku mengancam akan tunjukan dokumen perjanjian kami sebelum Anda berkencan dengannya," kata Francis akhirnya buka suara juga soal itu.
"Dokumen apa?" tanya Lucky pada asisten-nya yang hanya tertunduk dengan amplop cokelat di tangannya.
"Setiap wanita yang akan berkencan dengan Anda menanda-tangani dokumen. Itulah mengapa tak pernah ada kasus bayi hingga sampai pada September. Peraturan nomer 6, jika sampai ada bayi, aku akan menikahi wanita bosku. September meradang karena itu dan ia alami kontraksi hebat. Sebenarnya, peraturan nomer 6 itu, hanya peraturan mengada-ada dariku, tak menyangka jika benaran akan ada bayi."
"Francis?!" Lucky menatap galau pada asistennya.
Ponsel Francis berdering dari September.
"Biarkan aku yang terima panggilan ponselmu, Francis!" kata Reinha Durante gemas. Francis sodorkan ponsel.
"September, apa yang kau inginkan?" tanya Reinha tenang tanpa intro pembuka, langsung pada inti. Timbul keinginan di hatinya untuk jambak-jambakan dengan wanita yang telah manfaatkan keadaan untuk penuhi keinginan hatinya itu.
"Halo, Nona Durante. Kita baru bertemu tadi di sekolahmu dan sekarang kau mengangkat ponsel asisten Lucky Luciano. Luar biasa," sambut Irish Bella dari seberang.
Reinha memutar bola mata muak. "Makin hari makin banyak ular beludak melata di muka bumi," sergah Reinha kasar.
"Trims untuk kata-kata sopan itu. Tuan Lucky bersamamu? Suruh kekasihmu kemari! September akan lahiran!" sahut Irish dingin.
Reinha bernapas panjang. "Sayang sekali, aku tak ijinkan kekasihku pergi. Kau bisa temani dia Irish, bukankah katamu September mengandung bayi itu bukan untuk pertanggung jawaban? Kini, temanmu itu terlihat ingin memeras seseorang. Awalnya, aku mendukung Lucky mengurusi bayi September tetapi pelacur itu mulai bertingkah dan banyak mau."
"Perhatikan ucapanmu Nona Muda!"
"Baiklah, tanya pada September, apa yang dia inginkan? Lucky Luciano tak akan datang. Apa perlu aku gantikan kekasihku untuk pegangi tangannya sementara dia mengedan? Apa perlu aku menghitung berapa centi pembukaan jalan lahir untuknya dengan tanganku?" serang Reinha dengan napas cepat akibat kesal. "Aku bisa datang dengan pisau kue ulang tahunku," tambahnya tajam penuh ancaman.
"Mulutmu itu sangat tidak beradab, Reinha! Lucky Luciano akan kemari atau aku akan mengumbar kasus mereka ke publik? Hmmm?! Oh, aku jadi ingin mengirimnya ke penjara." Irish bicara dengan nada mengintimidasi dari sebelah.
"Lakukan saja sesukamu, umbar saja aibnya ke publik dan mari cari atensi masyarakat sesuai keinginanmu. Jangan lupa, aku memegang dokumen berharga milik September-mu itu. Untungnya Francis pintar. Ya Tuhan, Irish Bella, kau makin tidak waras.Bukankah kau harus meliput berita di zona perang? Ada banyak bayi dan anak-anak korban perang butuhkan bantuanmu. Apakah skandal s*x salah satu kru-mu yang murahan itu lebih penting? Baiklah, mari kirimkan artikel ini ke publik, kau dan redaksimu, aku dan redaksiku lalu kita permalukan mereka di televisi?"
"Kau tak bisa lindungi Lucky Luciano, kekasihmu hanya penjahat!"
"Okay, Lucky Luciano adalah penjahat katakan pada September untuk berhenti berharap pada cintanya. Jika Lucky harus ke penjara karena kejahatan, dia akan pergi ke sana, tak akan ada yang halangi! Tetapi, kalian lebih mirip penjahat dan sindikat penipuan. Aku ragukan kini, bayi itu milik Lucky Luciano."
"Jaga mulutmu, Reinha!" geram Irish.
"Katakan pada September, Lucky Luciano tak akan pernah lagi datang menemuinya! Jangan macam-macam denganku, Irish!"
"Terserah kau saja! Aku jadi semakin punya alasan yang kuat, mengirim kekasihmu itu ke penjara! Kau tahu berkas kejahatannya ada padaku!"
"Tak masalah, lakukan saja Irish! Tetapi September dan bayinya tak akan dapatkan apa yang dia mau! Tidak, selama Lucky Luciano kekasihku!" kata Reinha tegas dan matikan ponsel.
Lucky memandang Reinha yang berjuang untuknya dan merasa sedih. Betapa malang, kekasihnya rendahkan harga diri dan berdiri membelanya. Apakah ada wanita lain akan lakukan hal yang sama? Seandainya Tuhan pertemukan mereka lebih awal, seandainya orang tuanya tak dibunuh dan dia tidak hidup sebagai penjahat.
"Enya, berhentilah! Jangan lukai harga dirimu untukku!" Pria itu berdiri gundah gulana di ujung meja sedang Reinha gemetaran menahan marah, berkaca-kaca. "Jika aku tak menikahimu, aku akan tinggal di biara dan jadi pertapa, Reinha Durante. Aku bersumpah demi Tuhan."
Ponsel masih dipegang dan satu pesan masuk. Irish mengirim gambar.
"Lupakan pertikaian kita, Reinha Durante. Setidaknya biarkan Lucky Luciano bertemu puterinya sebab bayi ini kemungkinan kecil tak akan bisa bertahan sampai tengah malam."
Reinha menatap gambar sesosok bayi yang agak menakutkan untuk dilihat, kecil, rapuh, merah dan lemas dalam kaca inkubator dengan banyak elektroda, selang-selang. Wajah gadis itu memucat.
"Enya?!"
"Bayinya perempuan Lucky. Untuk penghabisan, pergilah dan lihatlah bayimu, Lucky! Dia mungkin tak bertahan sampai malam. Setidaknya, kau harus pergi dan bacakan dia doa penguatan."
Tatapan mata mereka bertemu dan hanya sisakan kesakitan yang dirajut di atas kesakitan jadi jembatan paling menyedihkan untuk dilalui.
"Aku yang akan pergi, Bos. Tetaplah tinggal di sini. Bagaimana kalau ...."
"Francis?!" sergah Reinha tak suka. "Jangan lakukan itu pada bayi yang tidak berdosa. Aku juga seorang wanita," keluh Reinha.
"Bos tidak harus pergi, Nona!"
"Baiklah, mari kita potong kue ulang tahunku dan minum kaviar lalu berdansa sampai pagi sementara seseorang meregang nyawa, darah dagingmu sendiri," bisik Reinha. Mengapa nasib Lucky Luciano sangat buruk? "Pergilah, Sayang. Aku akan menyusulmu ke rumah sakit. Aku hanya harus lakukan sesuatu."
Begitulah akhirnya, Lucky Luciano pergi dengan gontai untuk melihat bayi yang sekarat sedang Reinha masih terpaku menatap kue ulang tahun yang indah. Gadis itu minta pada para pelayan untuk memotong kue sebelum mengepak ke kotak-kotak. Ia juga memesan banyak makanan lalu minta mereka bawakan ke mobil. Tak ada Augusto, sebab Augusto sibuk dengan neneknya yang sakit.
Ia naik ke mobil. Pergi ke sebuah daerah kumuh di pinggiran kota, di mana para gelandangan dan tunawisma tidur seadanya, berhimpitan dalam dingin. Reinha dekati mereka dan bagikan kotak-kotak makanan.
"Tolong doakan seorang bayi yang sedang sekarat, Tuan, Nyonya," pintanya sambil membungkuk separuh menangis untuk kekasihnya.
Mereka berkerubut kelilingi Reinha yang bersinar seperti purnama malam, memujanya seakan dia peri utusan Tuhan. Makanan habis dengan cepat, Reinha masih termenung di tempatnya berdiri. Ia kembali ke mobil saat semua orang telah pergi untuk menikmati makanan dan terkejut lihat siapa yang berdiri tak bersahabat di sisi mobilnya.
"Hai, Nona Durante ... apa kabarmu?"
Reinha benci situasi ini. "Seoza?!"
"Senang berjumpa denganmu lagi."
Buuuuukkk!!! Satu pukulan di kepala entah siapa pelakunya, Reinha Durante jatuh tidak sadarkan diri.
***
Kalau gak ada konflik, Novel ini berakhir. Komentarnya tolong jangan kelewat skeptis. Susah nulis Novel dengan lebih dari 10 karakter. Nikmati saja sebagai hiburan.