Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 143 Waiting For Me, Lucky....



"Reinha?!"


Claire tak tahan haru saat lihat Reinha malam itu. Reinha tampak kacau, sangat kacau. Sepanjang mereka bersahabat, baru sekali Claire temukan sahabatnya berantakan. Reinha terlihat lebih kurusan, mata sembab dan tulang pipi agak menonjol. Mereka berdua lewati hari-hari berat.


"Kau berkendara kemari sendirian?" tanya Claire berpelukan dan menggosok punggung sahabatnya pelan.


Reinha menggeleng. "Tidak, aku bersama Carlos Adelberth. Di mana Francis?"


"Dokter dan perawat sedang bekerja membantunya," sahut Claire murung langsung menyipit tidak senang saat Carlos masuk. Tak ingin menyapa tetapi seakan ingin lampiaskan kesal. Carlos hempaskan napas berat saat Claire Luciano menatap tajam padanya.


"Aku berharap bisa ledakan rumah Anda, Tuan Adelberth!" sapa Claire hingga Reinha mengerut.


"Apa sesuatu terjadi?" Reinha tidak heran pada sikap permusuhan Claire pada Carlos sebab ia lakukan hal yang sama tetapi keheranan dengan sapaan Claire. Terlebih wajah gadis itu seperti terkena bekas goresan sesuatu, lukanya mengering tetapi bekasnya masih terlihat pada wajahnya. "Claire, apa kau baik-baik saja?" tanya Reinha amati Claire.


"Tentu saja, Reinha. Aku adik seorang mafia, jika kakakku tak bertobat, aku mungkin akan ikuti jejak Lucky jadi mafia," sahutnya tak alihkan tatapan gusar pada Carlos.


"Kau menyerang Carlos, Claire Luciano?" Reinha menduga dari ekspresi wajah Claire dan tebakannya benar.


"Nona Claire hampir robohkan rumahku," jawab Carlos sopan terdengar mengeluh lalu berbalik pada Claire. "Anda tahu bahwa tentara sepertiku tak punya banyak upah dari layani negara, kau hancurkan tempat tinggalku dan sekarang aku seperti tunawisma."


"Harusnya kulubangi juga kepalamu, Tuan, sebab kau timbulkan kesulitan padaku dan keluargaku. Salahmu sendiri, buat aku bolak-balik ke perbatasan sampai-sampai tak pergi sekolah."


Claire dan Carlos sepertinya berdebat tentang Francis, mungkin juga bagaimana akhirnya Francis berhasil dibawa pulang untuk menerima perawatan terbaik.


****


Seminggu lalu Carlos Adelberth kembali menyamar sebagai Alberth Costello untuk kedua kali kembali ke desa Thomas untuk mencari keberadaan Lucky Luciano. Dari para penambang liar yang berhasil ditangkap polisi patroli diketahui bahwa Ratruitanae tiap hari berburu ke belantara untuk mencari Lucky. Hindari mode transportasi udara, Carlos memilih naik perahu berjam-jam menuju desa sambil mencerna kabar yang terjadi di wilayah tersebut. Akhirnya Carlos bertemu Thomas dan Ratruitanae berharap temukan sesuatu sebab ia mengirim mata-mata tapi tak jua dapat kabar. Lucky Luciano seakan lenyap ditelan bumi sementara Carlos sangat yakin Lucky masih ada di sekitar sana. Ratruitanae meminta maaf sebab belum berhasil temukan Lucky Luciano bahkan tak temukan jejak Lucky sama sekali malah berjanji akan berusaha lebih keras. Meskipun, Carlos ragukan Ratruitanae sebab wanita itu seakan sembunyikan sesuatu tapi ia tak punya pilihan, memohon Ratruitanae kabari dirinya jika temukan jejak Lucky.


Ratruitanae setuju tentu saja dengan banyak imbalan balasan dan antarkan kepergiannya. Carlos tak benar-benar pergi ia mengintai Desa Thomas selama beberapa hari, 24 jam tanpa tutup mata. Ia tak temukan apapun di sana. Carlos kembali pulang ke perbatasan lalu kabari pada Claire bahwa kakaknya masih belum ditemukan; Lucky masih menghilang. Claire langsung matikan ponsel tanpa banyak kata. Carlos kemudian ke Durante Land kabari Reinha Durante dan menerima kebencian gadis itu.


Setelah jam-jam yang sulit harus hadapi amarah Reinha, Carlos berjalan pulang ke rumahnya di pinggiran kota. Dalam perjalanan mampir di Sunset Bar, membeli beberapa botol minuman ingin minum-minum dalam kesendirian mengusir bayangan buruk. Reinha Durante yang sangat berduka cita atas hilangnya Lucky sungguh kesedihan yang harus dilihat. Ia sering kehilangan teman-teman dalam operasi, keluarga yang ditinggal bersedih tetapi ketika terjadi pada salah satu kerabatnya, meskipun itu bukan kematian, ia merasa sangat gundah. Ekspresi marah Reinha saat dirinya membungkuk minta maaf benar-benar mengusik hatinya. Bertambah kalut lantaran Oriana menolak lamaran dan mereka berpisah setelah satu ciuman panjang yang menyakitkan, sebab wanita itu ingin mengejar karirnya.


Tenggak langsung dari botol minuman, sangat terkejut ketika tiba-tiba saja, kaca jendelanya ditembusi peluru dan langsung pada botol bir yang sedang ia teguk hingga pecahan botol melayang di depan matanya untung saja tak ciderai matanya. Isi botol tumpah ruah dan berceceran. Seseorang jelas sedang mengokang senjata dan jadikan dirinya target. Ia berlindung kebalik sofa, bergerak ke tempat senjata berada. Fotonya dan Oriana bahkan jungkir balik sebelum terjatuh ke lantai dan hancur. Beberapa serangan, Carlos temukan seluruh kaca rumahnya sisakan puing. Ia segera meraih senjata dan hendak balas menembak, mencari posisi penyerang dan terperangah temukan siapa yang terlihat olehnya. Claire Luciano datangi rumahnya menenteng senjata yang moncongnya telah dipasangi peredam dengan wajah marah. Gadis itu masuk ke ruang tamu dan tembaki isi rumahnya hingga hancur berkeping-keping. Carlos menunggu di ruang tengah, menyergap Claire di sana. Dan tak sengaja buat wajah Claire tergores saat ia jatuhkan Claire ke lantai untuk meredam serangan. Claire memaki dan Carlos biarkan saja hingga akhirnya gadis itu menangis karena kesal.


"Nona Claire Luciano?"


"Kau pria jahat, Carlos Adelberth. Kakakku hilang, aku pergi ke perbatasan untuk bawa Francis tapi kau menahan surat penanggung - jawabnya. Apa tujuanmu? Kau ingin membunuh Francis? Apakah kau penyebab kakakku tak kembali hingga hari ini? Kau jadikan Lucky tumbal?" jerit Claire di atas pecahan kaca sementara Carlos menahan tubuh di lantai bukan bermaksud melukai Claire.


"Francis butuh penanganan serius! Kau mungkin mengganggunya, Nona!"


"Persetan denganmu Carlos! Francis sebulan koma, perawatan seperti apa yang kau sediakan baginya? Kami punya banyak uang dan akan merawatnya. Ia bisa bawa aku pada Kakakku! Apa kau sengaja Carlos biarkan Francis terus tidur? Ia sering terluka bahkan nyaris mati tetapi ia tak pernah kritis lebih lama dari seminggu. Kau pasti lakukan sesuatu yang buruk padanya? Kau tahu bahwa agar kau bisa bersama kekasihmu, empat wanita kehilangan dua orang pria yang mereka sayangi!"


"Nona Claire...."


"Kau khianati mereka, aku yakin. Tunggu saja sampai Francis siuman, saat kudapati kau khianati saudaraku, kau akan tahu akibatnya!"


"Baiklah, berhenti marah-marah, mari bicara! Kau bisa bawa dia besok sesuai keinginanmu."


Carlos tak heran oleh apa yang dilakukan Claire. Gadis itu adik perempuan Lucky Luciano, adik dari seorang Mafia dan sepertinya telah belajar lindungi dirinya sendiri selama masa-masa di mana Lucky menghilang bahkan tercengang sebab akurasi menembak Claire luar biasa tajam dan si gadis menyerangnya dengan emosional. Akhir dari pertemuan yang sebabkan rumahnya porak-poranda nyaris rubuh, Claire menuntut ia beri ijin untuk bawa Francis sebab Francis bisa dibawa keluar dari rumah sakit hanya atas persetujuan dirinya.


***


"Anda pasti menerima banyak lencana jasa di dadamu dan di pundakmu Tuan Adelberth? Aku yakin pasti banyak medali," sambut Claire kaku, "sementara saudara-saudaraku sekarat!" Menghela napas panjang.


Lamunan segera buyar oleh suara Claire, goresan pecahan beling masih terlihat di pipi dan dagu, mungkin akan tinggalkan bekas. Carlos mendesah berat. Cukup buruk dimusuhi Reinha Durante kini Claire Luciano. Carlos heran ada sekumpulan gadis usia 18 tahun tetapi terlihat hampir sama dewasa seperti Irish dan Oriana terlebih mereka sangat tangguh. Jika satu negara para gadisnya seperti dua orang di depannya, negara pasti aman sentosa. Sedang Reinha meraih tangan Claire dan beri ia dukungan.


"Aku akan sematkan lencana pada Francis jika kau tak keberatan." Coba pahami kesedihan para gadis.


"Diam saja di tempatmu! Menjengkelkan lihat kau masih bernapas, Tuan," ujar Claire tajam.


"Baiklah, aku akan menunggu di sini. Semoga amarahmu juga Nyonya Luciano segera reda." Carlos mengalah.


Claire Luciano punya tipe-tipe Mafia girl tetapi bawa kepribadian yang bertolak belakang dengan queen mafia pada umumnya. Claire supel persis seperti Lucky Luciano. Gadis itu kendalikan Double L dan CL dengan banyak pengawal di sisinya, kembaran sempurna Lucky Luciano. Kini, saat Reinha dan Claire saling mendukung, Carlos yakin jika Claire Luciano ambil alih strategi, rencanakan sesuatu ..., bisa jadi ..., keduanya akan timbulkan konflik baru di tempat di mana Lucky hilang yang akan sangat bahayakan keduanya.


Claire mendorong Reinha pergi ke ruangan di mana Amora Shine dirawat tinggalkan Carlos, terlihat membenci pria itu. Seorang Dokter dan beberapa perawat berjaga-jaga 24 jam begitu pula pengawal. Wellcome Reinha Durante in Mafia's family. Semacam itu.


"Ini Dokter Anna Marilyn. Anna, Reinha Durante!"


Claire perkenalkan seorang Dokter cantik pada Reinha.


"Ahhaa, Reinha Durante, istri cantik Lucky Luciano? Kau tahu kejutan ia takluk padamu, kukira ia akan habiskan waktu hingga tua bersama wanita yang 10 tahun lebih tua darinya."


"Anna?!" tegur Claire.


Reinha tersenyum. "Ya, senang bertemu denganmu juga, Anna. Bagaimana keadaan Francis?"


"Tanda-tanda vitalnya bekerja, tetapi Tuan Francis sama sekali belum berikan reaksi apapun pada lingkungan saat ini. Ia akan kembali sadar seiring berjalannya waktu."


"Baiklah. Tolong lakukan yang terbaik untuk selamatkan Francis!"


"Copied that, senhorita."


Sementara itu inkubator telah ditinggal penghuninya bahkan sejak Reinha pertama kali berkunjung untuk mencari Claire. Amora, sang bayi, berkat perawatan intensif dan kontinu, telah hidup di luar inkubator dan Reinha sungguh terharu dengan pemandangan yang ia lihat. Pemandangan terbaik. Sang bayi, Amora Shine, berbaring dalam lengan Francis yang sehat sedang pria itu tertidur dalam mimpi lelap. September di samping Francis hanya tertegun hampa sembari pegangi Amora. Tubuh mungil Amora tampak tenang, sedikit menggeliat dan keluarkan suara-suara bayi yang menggemaskan. Amora merespon pada sesuatu, suara Ibunya, mungkin juga pada tubuh besar di sisinya. Reinha tak mengerti, hanya saja, pemandangan itu benar-benar mengharukan, menonton cukup lama. Jika Francis tak tertembak, Reinha yakin pria itu akan bersama Lucky. Apakah Lucky seperti Francis? Terbaring bak mati suri di suatu tempat? Pikirkan itu, Reinha menahan hati yang sedih.


"Fight, fight, fight Enya!" perintah dirinya sendiri. Cukup sudah jadi cengeng. Saatnya ia pergi, biarkan cahaya hati penuh cinta jadi bintang penunjuk hantarkan ia pada kekasih. Mereka terikat oleh sesuatu secara emosional, selama salah satu di antara mereka tak putuskan ikatan, Reinha yakin, cinta luar biasa akan bawa ia pada Lucky Luciano. Suaminya adalah bagian dari dirinya, ia rasakan Lucky bahkan saat mereka berjauhan seperti ini. Bukankah itu cinta sejati?


September berikan waktu bagi Reinha melihat Francis. Reinha bernapas kasar dan gusar saat lihat Francis terbaring kaku, tidak sukai apa yang ia lihat. Francis tidur dengan banyak alat bantu vital terpasang di tubuhnya. Francis adalah pendukung setianya dan Lucky, ia bersama Lucky salah-satunya berkat Francis yang gigih. Claire lakukan hal tepat dengan membawa Francis kembali, kagumi keteguhan Claire.


"Kau akan bangun, aku dan Lucky akan kalahkanmu di pertempuran hutan Pinus sebab kau mulai terlibat cinta saat ini! Aku akan kembali untuk jadi wali baptis Amora, Francis. Cepat sembuh, Sobat!"


Kemarahannya pada apa yang terjadi pada Francis berangsur sirna ketika matanya membentur Amora. Timbul kasih sayang pada Amora. Segenap hati mengelus wajah baby Amora yang sangat halus, kagumi saat bayi itu tertidur, sungguh menggemaskan. Amora akan menemani, menghibur, serta membantu penyembuhan Francis secara psikologis; Reinha yakini itu. Reinha keluar dari ruangan, tersenyum kecil pada September yang bersandar di pintu masuk.


"Sesuatu terjadi pada, Lucky, Cla. Aku sangat yakin suamiku sama seperti Francis, tak sadarkan diri di suatu tempat. Ia mungkin kritis," ujar Reinha tegarkan hati. Claire mengangguk sepakat. Mereka kembali ke ruang di mana Carlos duduk.


"Aku akan mencari kakakku ke Pesisir Timur, Reinha. Meski Lucky tak pernah ijinkan aku ikuti jejaknya, aku cukup tahu siapa saja yang ia temui termasuk Thomas Adolfus. Kau tahu, Thomas sangat inginkan Lucky menikahi salah satu puterinya!"


Claire menggigit lidahnya kuat saat ia keceplosan bicara. Tetapi lebih baik Reinha tahu.


"Itu tak akan terjadi, aku benar-benar akan buat keributan jika kudapati mereka menyandera suamiku. Tinggalah di sini, Cla. Aku tak punya seseorang yang bisa saat aku andalkan butuh bantuan. Aku akan pergi beberapa hari lagi, Claire."


"Reinha?! Aku ikut denganmu."


"Tidak, aku akan temukan Suamiku dan bawa dia pulang. Aku telah daftarkan diri ikut sukarelawan ke sana. Tugasmu, selama tak ada aku, berkunjunglah ke Biara bersama Augusto atau Ethan dan berikan laporan pada Elgio bahwa aku berada dalam Biara; aku bahagia jalani kehidupanku sebagai Biarawati. Maafkan aku, kau harus terlibat kebohongan, aku tak lihat cara lain. Aku punya seorang pria hebat di sini tetapi kurasa di tak bisa banyak membantu," keluh Reinha melirik pada Carlos.


"Menarik!" guman Carlos pada dirinya sendiri amati dua gadis. Reinha yang imut tetapi nyalinya seluas samudera dan Claire yang lebih mirip super model dengan tubuh tinggi semampai yang tak peduli apapun, keberaniannya setinggi gunung.


"Ya, tentu saja! Sangat menarik saat kakakku mati, lalu giliranmu berikutnya! Anggap saja kau sedang antri dan sedang menaruh bokongmu di kursi penunggu sampai namamu dipanggil!" balas Claire tajam.


"Keputusan bagus kau bawa Francis pulang. Aku yakin cinta Amora akan bawa jiwa-nya kembali. Kau tahu ia sangat mencintai Amora."


Claire mengangguk lesu, "harusnya aku lakukan sedari dulu. Aku terus saja percaya pada seseorang dengan banyak janji palsu!"


Carlos berdecak, tak punya kata untuk membela diri. Dibiarkan saja dirinya jadi bulan-bulanan kegusaran Reinha juga Claire.


"Aku harus pulang Claire, aku akan tinggal di Biara mulai besok dan segera berangkat beberapa hari lagi."


"Reinha ...." Mereka berpelukan. "Bawa ini!"


Seorang pengawal antarkan sebuah kotak. Ponsel satelit ukuran lumayan besar dengan model antena.


"Gunakan untuk kabari aku!"


"Baiklah, Claire. Sampai jumpa." Seakan teringat sesuatu, Reinha berbalik. "Cla, bisakah kau bantu Queena? Wanita itu tinggal sendirian di pondokan."


Claire terperanjat. "Sendirian?"


"Ya, kurasa ia dan Tuan Axel Anthony berpisah."


Claire menghela napas panjang. "Baiklah, Reinha. Aku akan jemput dia, nanti dan bawa dia ke sini!"


Reinha berpisah di malam itu setelah pelukan panjang. Ia kembali ke Durante Land diantar Carlos. Bayangkan ia akan pergi pada suaminya, buatnya begitu bergetar, tak ingin pikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi. Ia hanya akan pergi ke sana. Rumah sangat sepi, Reinha tak bisa fokus pada orang rumah, terus melangkah ke kamarnya setelah tak temukan satu orang pun dalam rumah. Berharap Maribella ada saat ia pergi sebab sangat rindukan pengasuhnya itu.


Reinha mengatur pakaian ke dalam tas ransel yang tidak seberapa besar, mengisi parfum glacier dan buku Love Looks Pretty On You, bendung tangisan saat selipkan beberapa lembar foto pernikahannya setelah mengusap wajah Lucky karena sangat rindukan pria itu. Di sinilah akhirnya dia, bersiap dalam perjalanan penuh misteri. Ia lepaskan cincin pernikahannya, jadikan mata kalung sebelum melingkar di leher.


"Okay brengsek, kau akan menyesal karena telah memaksaku datang padamu!"


***


Coba bertahan dan selesaikan heart darkness. Kirimkan aku vote, please. NT benar-benar aplikasi yang sangat tak adil untuk Author sepertiku....


Ada Bonus Chapter nanti judulnya : Hai September....


Wait me up ya agak malaman chapter berikutnya, ketika Reinha akhir injakan kaki di Pesisir Timur. Penyerangan Carlos harusnya di episode 141, aku nge-blank malah nulis Chapter Hantu Mesum Ethan Sanchez....