
"Enya ....?!"
Namanya dipanggil lembut, bergaung di kepalanya dalam keheningan bis berisi penumpang yang mulai mengantuk. Reinha hentakkan kaki pada lantai bis tanpa membuka mata, frustasi dan mengeluh panjang.
"Ya Tuhan, ini sungguh buruk. Apa aku mulai gila? Aku melihatnya tadi siang dalam mimpi dan sekarang aku berhalusinasi terus mendengar suaranya. Ini gila."
Ia gunakan tangan kanan untuk menutup mata dan tangan kiri terkulai di pegangan kursi bis. Memukul-mukul gugup di sana mencoba mengusir bayangan Lucky juga suara berat parau, yang anehnya terdengar sangat menarik saat menyebut namanya.
Ia segera buka mata saat merasa jemarinya disentuh, ditautkan dengan lembut kemudian terpana dapati jemarinya terjalin di antara jemari seseorang.
"Apa aku berhalusinasi?"
Punggung tangan kecokelatan dibalik, genggaman diperketat, perlihatkan nama ENYA tertera di buku-buku jari sementara musik dari ear phone sangat dekat, terdengar begitu jelas di telinganya.
I won't let you go (Aku tidak akan membiarkanmu pergi)
Cause when I'm lying in your arms (Karena saat aku berbaring di pelukanmu)
I know I'm home (Aku tahu aku menemukan rumah)
Ia tidak sedang bermimpi. Ini juga bukan ilusi. Reinha sontak menoleh dan terperangah dapati Lucky Luciano sedang lebarkan senyum padanya. Satu telinga pria itu terpasang ear phone sedang ear phone lain tersorong padanya. Lesung pipi Lucky melengkung menggoda di antara muka lebam memar, tak mempengaruhi kesan raut tampan. Wajah cinta pria itu telah menggelinding ke sana kemari sepanjang hari ini dan nyaris buatnya gegar otak. Napas Reinha tercekat di dada.
"Ya Tuhan, aku bisa mati gila." Ia bersungut dan mencoba menarik tangannya tetapi Lucky menjalin kuat. Reinha spontan berdiri dan memeriksa ke bangku belakang. Pemandangan di bangku belakang tak kalah mencengangkan.
Claire melambai "hai, Reinha", tersenyum sangat ceria sementara Augusto duduk kikuk menegang persis seperti patung ksatria di simpang Broken Boulivard. Claire jelas-jelas sedang menggoda pengawalnya. Tangan Claire tanpa dosa terkalung mesra pada lengan Augusto dan ia bersandar pada Augusto seakan pria sangar itu kekasihnya. Mereka berbagi earphone dan Claire mengunyah camilan, sesekali ia suapi camilan ke mulut Augusto yang menggigit kaku seperti robot saat diberi kepingan cassava. Ini gila. Ya Tuhan, duniaku sudah mulai gila. Mulut Reinha separuh terbuka lebar. Ia berseru tanpa sadar.
"Apa yang kalian lakukan di sini?! Kalian menguntitku?"
Histerisnya mengundang perhatian. Para penumpang bis melongok kepala mereka padanya. Beberapa orang merasa tidur mereka dirusak, menatap penuh kesal. Reinha segera tersadar, wajahnya memerah dan ia membungkuk ke segala sisi sampaikan maaf. Lucky menarik tangannya untuk kembali duduk.
"Demi Tuhan, apa yang kau lakukan di sini? Kakakku akan benar-benar memotong kaki-ku kini. Ya Tuhan, kau - "
"Maniak gila. Ya ya ya aku mendengarmu dengan baik. Duduklah!"
"Tidak mau. Aku akan turun dan kau bisa duduk dengan nyaman. Kau bisa taruh bokongmu di bangkumu itu dan bentangkan kaki panjangmu di bangku dudukku. I don't care anymore. Aku akan pergi sebelum Elgio ledakkan kepalaku." Ia melotot pada Lucky, sedikit meringis saat sudut bibirnya terasa nyeri.
Reinha bangun dari duduk, menendang kaki Lucky Luciano agar beri ia jalan. Ia berusaha melewati Lucky dan harus turun dari bis apapun yang terjadi. Matahari sudah pergi tetapi cahayanya masih tertinggal di luar. Itu berarti masih cukup sore untuk kembali ke Durante Land. Augusto berdiri sigap ketika melihat Nona-nya berdiri membuat Claire jengkel.
"Baiklah, kalau itu maumu. Mari turun bersama," ujar Lucky mendongak pada Reinha. Kakinya dijulurkan agar Reinha terkurung dan tak bisa kemana-mana. Pahanya apiti Reinha.
Mereka sedang memasuki kawasan Cagar Alam Taman Nasional, Old Wood Tree National Park. Sepanjang lebih dari ribuan miles hanya ada pepohonan Til kuno tua yang berdiri tegap dan sangat mencekam apabila dilihat di malam hari. Pohon-pohon besar rimbun kehijauan yang penuh lumut membentang sepanjang kawasan itu dan hutan itu selalu lebih gelap meskipun cahaya matahari bersinar penuh.
"Aku bisa memelukmu saat kau ketakutan dan kita bisa berbagi kehangatan di alam terbuka. Kita mungkin bisa menulis kisah cinta dramatis di antara auman binatang malam dan ciptakan beberapa puisi di antara pepohonan monster. Mari kita turun terapkan idemu dan kembangkan ideku. Itu akan jadi kenangan tak terlupakan."
"Aish ...." Reinha melihat keluar jendela, turun dari bis bukan ide bagus tetapi ia tak peduli. Ia hanya harus menjauh dari Lucky. Bagaimana jika Tuan Abner mengirim mata-mata untuk menguntitnya? Ya Tuhan.
Reinha ancang-ancang ambil langkah seribu, tetapi Lucky menariknya tanpa sengaja terlalu bertenaga hingga gadis itu terduduk di atas pangkuannya. Reinha yang marah serta-merta memutar kepala lalu menanduk kening Lucky keras hingga pria itu meringis kesakitan.
"Awh ... mengapa kau sangat suka kekerasan? Sial sekali aku hari ini. Mula-mula dihajar Elgio lalu adik perempuannya. Apa yang kalian makan setiap hari hingga kalian begitu sangat pemarah?"
"Lepaskan aku!"desak Reinha memberontak kuat di tempat yang sangat sempit sementara Lucky menggeleng, memeluk Reinha lebih erat untuk meredam gerakan lalu baui aroma Reinha kemudian menggesek ujung hidung di lengan Reinha hingga buat gadis itu membeliak marah pada Lucky Luciano.
"Aku susah payah mengejarmu sampai kemari, tak bisa kulepaskan. Maaf saja, Enya."
"Lepaskan, aku. Kau memang ...."
"Halo Tuan, bisakah Anda kendalikan kekasih Anda? Ini bukan bis nenek moyang-mu sendiri! Kami butuh ketenangan. Kalian bisa buka jurus setelah sampai di tujuan," teguran datang dari bangku depan.
Seorang pria paruh baya menengok ke bangku mereka dan menyela. Ia terlihat sangat gusar sebab keduanya membuat bangku duduknya terus terpukul keras dan bergetar.
"Sayang, sudahlah! Biarkan mereka," tegur istrinya dari bangku sebelah.
Lucky menatap pada Reinha tersenyum menggoda, ia mengangkat satu alis mengirim tanya "mau lanjut?" lalu tersenyum memohon pengertian pada yang menegur.
"Maafkan kami, Tuan. Anda boleh istirahat lagi," jawab Lucky sopan. Ia bicara sangat manis pada Reinha sambil melirik orang yang menegur mereka, "Sayang, berhentilah ribut, kau mengganggu orang lain. Bisakah kita akhiri pertengkaran ini dan nikmati saja perjalanan dengan tenang?"
Bola mata Reinha membulat sempurna. Ingin rasanya lubangi kening Lucky dengan timah panas. Si pria paruh baya hanya menggeleng-geleng melihat tingkah dua anak muda di belakangnya.
"Sudahlah sayang. Mereka mungkin lagi selisih paham. Mereka manis sekali ya?" Istri yang duduk di sisi jendela, berbisik pada sang suami, menenangkannya.
"Mereka kelewat mengganggu, Sayang."
"Biarkan saja. Mereka sedang jatuh cinta. Sepertinya kekasihnya habis berantem. Lihatlah! Wajahnya hancur dan si gadis tak begitu suka kekasihnya berantem, jadi, si gadis kabur darinya. Mereka main kejar-kejaran, manis sekali, mengingatkan kita pada masa muda yang na'if." Sang Istri bicara sok tahu sebelum terkekeh geli.
Lucky tak mampu menahan senyuman sumringah di wajah sedang Reinha mendelik jengkel. Mengapa hari ini dirinya naas sekali?
"Lepaskan aku, brengsek sekali kau," desis Reinha berbisik.
Lucky enggan lepaskan pelukannya, senang melihat Reinha kesal. Saat marah, aura kecantikannya memancar sempurna dan itu sangat menggemaskan.
Lucky Luciano manfaatkan situasi. Ia memandang gadis itu penuh kemenangan sebab berhasil meringkusnya serta menikmati wajah kuning keemasan Reinha yang mengemis dan sorot mata putus asa yang terlihat begitu memikat. Lucky bersyukur sebab ia bisa menghirup aroma Jasmine yang sangat feminim dan begitu menggugah sukma. Reinha adalah salah satu keajaiban dunia untuk pria penjahat sepertinya. Tanpa sadar ia berharap lebih. Mungkin nanti, suatu saat, meskipun masa depannya sangat suram, ia berharap bisa begini bersama Reinha Durante.
Tidak ada jaminan setelah membunuh Rocco ia sepenuhnya dibebaskan, tidak ada jaminan. Jika salah strategi, ia mungkin akan difitnah dan ditembak diam-diam. Tubuhnya mungkin akan lenyap mengisi salah satu lembah terdalam di benua ini atau diberikan pada anjing-anjing peliharaan yang berhasil membunuhnya.
Apa yang kau tabur itulah yang akan kau tuai? Saat kau menanam angin kau akan menuai badai.
Ia melihat jiwa-jiwa tak berdosa yang telah diperdayai olehnya, menyeringai senang oleh sebab karma yang sedang ia terima. Pria-pria sakit hati yang istrinya ia tiduri bahagia oleh sebab kata-kata sumpah serapah mereka turun menerpanya. Tak ada pengampunan tetapi ia memohon pada Tuhan agar bisa bersama Reinha Durante cukup sebentar. Bukankah tak ada yang mustahil bagi-Nya? Kendatipun, ia bukan orang yang layak untuk sebuah belas kasihan Sang Pencipta. Ia berencana jadi baik tetapi sedang membuat strategi untuk hilangkan nyawa seseorang. Pendosa yang mengucap tobat tetapi sedang mengacungkan senjata.
Dengan sangat terpaksa ia melepaskan Reinha dan biarkan Reinha kembali ke bangkunya.
"Mengapa kalian mengikutiku? Kau menguntitku?" tanya Reinha masih cemberut.
"Aku menunggumu di Broken Boulivard, menunggu kau mengintaiku dari teropong laras panjang Barret M82 yang kau agungkan itu, menunggu kau menembak kepalaku. Aku ingin katakan padamu, kau boleh menarik pelatuk dan menembak tepat di jantungku. Akan sangat bahagia bila aku mati terbunuh olehmu, tetapi kau malah kabur dengan bis senja. Jadi, kami mengikutimu kemari. Sebenarnya saat menelponmu, kami ada di Durante Land. Jangan marah pada Claire, aku menyeretnya dalam misi."
Reinha kehabisan kata-kata. Kosakatanya menguap bahkan punah dalam kepala, hanya ada satu kata, "gila-gila-gila". Seluruh keluarga Luciano sudah gila.
Lucky ikuti pandangan Reinha keluar jendela bis perhatikan pohon-pohon tua kuno sepanjang jalan. Gadis itu pasti sedang memikirkan cara untuk menyingkir darinya.
Tepat sekali. Reinha memijat kepala yang mulai pening. Mereka akan bersama dalam satu bis selama hampir 9 jam. Gila. Jika, Elgio tahu ini, berakhirlah hidupnya. Ia akan terlihat seperti menjilat ludah sendiri. Ia bahkan sesumbar Tuan Abner boleh memasang kamera pengintai di kancing baju Augusto untuk mengawasinya. Reinha meringkuk ke pojok bangku. Bagaimana jika Elgio tahu, ia duduk di pangkuan Lucky?
Habislah kau, Enya. Benar-benar celaka.
"Apa bibirmu masih sakit?" tanya Lucky pelan. "Aku ingin tahu keadaanmu karena aku sangat mencemaskanmu."
"Jangan bicara denganku. Tolonglah!" Reinha menjawab kasar. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Kau buatku dalam masalah. Jika Elgio tahu, ia bisa membunuhku. Mengapa kau lakukan ini padaku?"
Wajah ketakutan Reinha begitu manis. Lucky terpana padanya dan memuja Reinha dalam hati, inginkan dirinya. Ia meraih jemari Reinha yang terkulai lemah karena masih shock pada keadaan dan menggenggamnya kuat. Tangan mungil itu begitu pas dalam genggamannya. Nadinya berdesir.
"Apakah kau harus begitu buta, Enya? Tak bisakah kau melihatnya sedikit saja, bahwa aku sangat ingin bersamamu?"
"Itu tidak lucu, Lucky Luciano!" Mereka bertatapan. Reinha buru-buru menarik tangannya seakan baru saja kesetrum arus listrik saat disentuh Lucky.
"Lalu bagaimana aku harus bersikap, Enya? Bisa beritahu aku. Bukankah kau bilang tak ada larangan untukku menyukaimu? Di sinilah aku, mengejarmu," ucap Lucky abaikan harga dirinya.
Untuk pertama kali, Reinha tak tahu cara mengatasi Lucky dan rasa sukanya itu. Ia bersandar di bangku dan pejamkan mata, pening.
Lampu bis dinyalakan dan jalanan mulai gelap. Perutnya mulai kelaparan. Tak dilihatnya Lucky mengangkat satu tangan dan Claire bangun dari duduknya, ia datang menyodorkan satu kotak makanan. Claire segera pergi meskipun ia ingin duduk di sisi Reinha dan mengobrol. Satu hari ini, hidup Lucky benar-benar seperti menaiki roller coaster paling ekstrim di dunia, begitupun dengan Reinha.
"Kau suka chocolate roll cake dan coffee culture, kan? Makanlah sebelum perutmu bangunkan penumpang satu bis."
Reinha tidak heran pria itu tahu kesukaannya. Jika menyeret Claire pergi ke Durante Land menjadi perihal mudah, berarti mengorek informasi tentangnya sama mudah bagi Lucky Luciano seperti membaca prosa.
"Tidak. Kau saja yang makan dan kenyangkan dirimu sendiri!"
"Enya ... kau boleh marah, tapi kau tak bisa abaikan perut kelaparanmu itu."
"Berhenti memanggil namaku seolah-olah kita begitu dekat. Itu mengerikan untuk didengar."
"Baiklah. Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti marah?"
Reinha berpaling keluar kaca. Diluar sangat gelap, refleksi sempurna hatinya bila teringat pada Elgio, Kakaknya. Pepohonan sudah tak terlihat lagi, hanya ada pantulan wajah kusut masai dan wajah tampan Lucky yang menungguinya. Pria itu terus menatap sedari tadi membuatnya sangat tidak nyaman. Tatapan lembut yang sangat mengganggu dan ia tak akan bertahan jika Lucky Luciano terus sangat perhatian.
"Bisakah kau berhenti menatapku?" serang Reinha.
"Jika kau mau makan ini, aku akan berhenti mengganggumu," sahut Lucky mengangkat bahunya memberi Reinha pilihan.
Reinha akhirnya berbalik, menatap Lucky menuntut janji kemudian pada kotak makanan. Aroma kelezatan cokelat manis dan gurih kopi susu benar-benar bangkitkan rasa lapar. Ia menelan ludah dan mengambil kotak itu dari tangan Lucky. Sementara Lucky hembuskan napas lega. Pria itu memasang ear phone tanpa mainkan musik, melipat kedua tangan dan bersandar nyaman pada bangku. Matanya terpejam menunggu Reinha mengantuk dan terlelap untuk menopang kepala Reinha bersandar di bahunya.
Membayangkan itu, dadanya berbuih. Ia berguman dalam hati.
"Enya, harusnya kau lihat mataku. Adakah cara lain untuk memberitahumu betapa aku sangat mencintaimu?"
Alih-alih menunggu Reinha mengantuk ia malah tertidur lebih dulu dan terbangun saat merasa kedinginan. Ia menoleh pada Reinha yang terlelap. Kepala gadis itu terantuk-antuk pada kaca bis. Reinha tersesat dalam mimpi indah dan Lucky tersesat pada wajah pulas itu. Reinha sedikit menggigil.
Lucky turunkan pembatas kursi bis dan menarik Reinha padanya. Memeluk Reinha betulkan imajinasi. Ia menggenggam tangan mungil yang dingin itu dan berdoa semoga waktu berhenti berputar, sekali ini saja. Ia menyukai aroma jasmine feminim Reinha dan tak ada satu katapun yang mampu deskripsikan perasaannya.
Tak percaya pada pendengarannya saat Reinha bicara lirih padanya.
"Bisakah kau berhenti jadi penjahat agar kita bisa bersama?"
***********
Just Wait me Up ya. Please telling me jika ketemu tipo...
Tinggalkan like dan komentarmu...