
"Marya, aku ingin katakan hal penting padamu," kata Elgio. Marya dalam pelukan, menempel di dadanya dengan napas pelan dan teratur. Wanita itu memakai kemeja kedodoran Elgio dan tidur dengan banyak pakaiannya berserakan di atas bantal.
"Em, ada apa Elgio? Kau tahu, aku sangat mengantuk. Kau lama sekali sampai rumah," keluh Marya terdengar berat bahkan terdengar tak sanggup buka mulut. "Kelasku sangat berat tadi, aku harus pelajari sains lanjutan. Dualisme partikel, reaksi inti, aku rasa itu berlebihan. Bukankah harusnya aku belajar kinematika, momen inersia, sains untuk siswa tingkat tiga? Mahasiswa-mahasiswa jenius dari universitas menyusun soal latihan yang sangat berat untuk aku selesaikan."
"Mau kubantu?" tanya Elgio mengusap lembut kepala Marya. Menyisir poni Marya dengan jemarinya.
"Apakah kau bisa, Elgio? Kau tak tampak seperti kutu buku, lebih mirip super model."
"Aku pelajari sains, Marya. Akan kuusahakan pulang lebih cepat untuk temani kau belajar, hmmm?"
"Pasti menyenangkan belajar berdua sambil pacaran dan ketika waktuku habis, aku hanya selesaikan dua soal," guman Marya tersenyum senang bayangkan apa yang akan dilakukannya pada Elgio?
"Apakah akan belajar memakai kemejaku dan menggodaku seperti yang sudah-sudah?" tanya Elgio bersemangat.
"Emm, aku akan buat eksperimen lain Elgio. Mungkin aku akan ke toko dan mencari sesuatu yang seksi untuk merayumu," ujar Marya menggoda suaminya lalu terkekeh saat Elgio berdecak di puncak kepalanya. "Aku temukan ide. Aku akan aku pakai di percobaan berikutnya untuk buatmu kabur dari rapat," tambah Marya terdengar sedikit bergelora meski setengah serak oleh serangan kantuk.
"No, Honey. Don't! Jangan lakukan itu saat aku lagi rapat, kita bisa bangkrut dan Abner akan mencambukku dengan ekor kuda, Marya. Hmm?!" ucap Elgio tetapi ia penasaran, apa yang akan kekasihnya lakukan nanti untuk memancingnya.
"Kau ingin bicara sesuatu tadi, Elgio?" tanya Marya mengingatkan Elgio.
Pria yang ditanya tampak mengerut. Apakah perlu ia beritahu Marya? Mereka mungkin akan berakhir dengan salah paham. Lagipula, Elgio tak peduli di mana Abner sembunyikan Irish.
"Aku lupa, Marya. Bukan sesuatu yang mendesak. Apakah kau masih merasa mual?"
"Em, ya. Kadang jika tanpa sengaja menghirup aroma kopi. Kepalaku langsung pening. Kau tahu, aku sembunyikan dasimu di tas sekolahku. Saat aku mual, aku menghirup aromamu. Ya Tuhan, aku harus lakukan sembunyi-sembunyi takut dilihat teman-teman dan disangka aku kurang waras," keluh Marya sebelum tertawa kecil.
Elgio longgarkan dekapan, tengadahkan wajah cantik yang berkilauan, menatap mata cokelat keoranyean diterangi lampu tidur, turun ke bibir bertekstur halus yang tersenyum malu-malu padanya, sebelum menciuminya dengan lembut, menari di sana agak lama dan tidak ingin berhenti. Marya berhenti mengantuk karena ciuman romantis yang intim dan mesra itu. Ia menarik kerah Elgio semakin dekat dengannya dan membelai pipi pria itu, menatap mata pria yang telah mengubah hidupnya itu sebelum menyentuhnya lagi. Elgio seperti candu untuknya. Perlahan tak terburu-buru, pejamkan mata dan kembali menyentuh Elgio diiringi detak jantung yang berdebaran indah. Ia ingin Elgio menikmatinya dan tahu bahwa betapa pria itu berarti segalanya. Elgio adalah dunianya. Ketika matanya terbuka, Elgio tersenyum padanya, merengkuhnya kembali ke dalam pelukan.
Mereka menikah saat ia hanyalah seorang remaja dan kehidupan pernikahan mereka masih sangat panjang, mungkin berliku-liku, curam dan tajam. Tak masalah, seberat apapun pasti bisa diatasi asalkan bukan orang ketiga. Begitu banyak pernikahan berakhir karena orang ketiga.
"Jika, suatu ketika kau marah padaku, bisakah kau ingat banyak kenangan yang telah kita buat Marya?"
Marya mengerut menatap wajah muram Elgio. "Kau aneh, Sayang. Tak akan ada hal yang buatku marah, kecuali jika kau bersama wanita lain."
"Itu tak akan terjadi. Kau tahu, mungkin terdengar aneh, tetapi aku benar-benar tidak tertarik pada wanita lain seberapa menariknya mereka terlihat. Lagipula, aku memilikimu yang sempurna untukku. Betapa ajaibnya kau menyihirku dengan poni kambingmu itu!"
"Kau mulai lagi, Elgio. Akan aku hilangkan poni ini nanti! Saat disampirkan begini ...," kata Marya beri contoh. "Keningku tampak bagus dan aku tak tampak seperti gadis kecil lagi."
"Aku hanya bercanda. Tolong sembunyikan matamu dengan ponimu. Matamu sangat indah, Marya. Baiklah, ini sudah larut. Kau harus segera tidur."
"Um ... " angguk Marya dan pejamkan mata dibawah belaian lembut kekasihnya yang tak bisa tidur sebab Elgio memikirkan banyak hal, termasuk bagaimana cara ia akan hubungi walikota untuk lindungi Irish sebab jika sesuatu terjadi pada Irish di bawah perlindungannya, ia akan semakin disorot. Bisa jadi difitnah, ia menyandera Irish demi kepentingan pribadi. Lucky Luciano dan Diomanta akan ikut terseret lebih dalam. Ia harus lakukan besok sebelum bertambah runyam. Abner tak mengabarinya dan Elgio tak ingin peduli tetapi sesuatu sangat mengganggu tentang Irish. Sembunyikan wanita itu sangat berisiko pada keluarganya. Jika ketahuan oleh para mafia, mereka akan mengejar-ngejarnya untuk dapatkan Irish. Bukan hanya dirinya saja ..., Marya, Reinha bisa sangat riskan jadi perburuan Mafia yang marah. Ia harus segera perintahkan Abner pindahkan Irish ke tangan pemerintah. Elgio mendekap Marya lebih erat oleh kegugupan dan kegelisahan, mencium kening gadis itu berulang kali. Tangannya bergerak di balik kemeja, melekat di perut Marya dan biarkan nadinya berdesir oleh irama halus napas Marya. Mereka punya sesuatu yang sangat berharga untuk dilindungi. Tangan Marya ikut ke sana menangkup tangannya. Pria itu menghela napas berat.
Ketika pikirannya kembali pada Reinha, ia mendesah makin frustasi. Reinha terlihat seperti raga kosongan tanpa nyawa. Bicara seperlunya dan menyendiri. Apalagi Elgio lebih banyak di Paviliun Diomanta, Reinha pasti kesepian. Maribel setia temani Reinha, walau hanya duduk temani sambil merajut sweater couple sedang Francis mengurus masalah skandal Lucky dengan September dengan sangat baik meskipun asisten itu korbankan kehidupan pribadinya. Dirinya dan Lucky sangat beruntung di kelilingi oleh orang-orang dengan loyalitas sangat tinggi.
Ketika sambungan ponsel dari nomer baru ke ponsel Benn yang dipakainya berdering, lamunannya segera bubar.
"Abner?!"
"Elgio, aku telah lakukan tugasku," sambut Abner. "Tapi kau harus tahu lokasinya juga, kita sedang dalam situasi buruk. Aku tak bisa menyimpannya sendiri!"
Elgio turun dari pembaringan setelah yakin Marya telah lelap, mengecup kening indah Marya dan bergerak menjauh. Harusnya ia beritahu Marya saja tadi.
"Aku tak ingin tahu, Abner! Please, cari cara dan kembalikan dia ke tempat seharusnya dia berada. Kita tak boleh lindungi dia lebih lama Abner. Kau tahu berapa banyak member Familly Club'? Jutaan. Jika mereka tahu, kita sembunyikan wanita itu, mereka akan berbalik mengejar kita."
"Ya aku tahu, bodoh! Kaulah yang memulai semua ini! Harusnya kau pikirkan itu saat biarkan dia masuk dalam mobilmu!" seru Abner dari sebelah hingga Elgio harus jauhkan ponsel dari telinganya. "Mengapa kau selalu gegabah, buat masalah dan kini kita terlibat makin jauh dengannya," tambah Abner terdengar sangat jengkel. "Belum lagi jika istrimu tahu, Irish Bella bersembunyi di bawah lindungan mu, apa tak akan ricuh?"
"Aku tak sengaja selamatkan dirinya dari para preman. Aku tak tahu kalau akan bertemu dia. Kaulah penyebab aku terlalu baik hati!" gerutu Elgio mulai marah-marah.
"Kau tak bisa menghindar? Berani-beraninya mengkritik caraku mendidikmu! Kembali ke sini, akan kurendam kau dalam tong es," balas Abner tajam. Kalimatnya bernada seru dengan sedikit pekikan tenor pertanda ia sangat kesal. "Baiklah, lupakan saja, bocah baik hati. Beritahu Nona Marya sebelum kita kepergok olehnya dan kau tahu ..., gabungan antara Istrimu dan Adik perempuanmu, bisa hancurkan tengkorak kepalamu! Beritahu keduanya sebelum mereka tahu sendiri!"
"Tidak, aku tak akan beritahu keduanya! Kau harus pindahkan dia secepatnya dan cuci tanganmu!" balas Elgio.
"Baiklah, jangan ciptakan masalah lain saat aku sedang buat solusi atau kau akan lihat nanti!"
**
Tiga hari berlalu. Marya amati Elgio, gelisah sepanjang saat dan tidak konsentrasi. Marya mendesah kalut. Prianya pasti hadapi banyak masalah di kantor. Kejaksaan bahkan berniat lakukan investigasi pada The Durante Company. Lucky Luciano adalah adik ipar Elgio Durante dan Diomanta adalah mertuanya, banyak yang curigai bisnis Elgio dari hasil pencucian uang. Beruntung Tuan Abner cekatan dan pasang badan untuk lindungi Elgio dan Durante Land.
Marya melangkah lunglai ke dalam perpustakaan. Teman-temannya tampak lesu. Reinha mendadak sangat murung sedang Claire yang selalu ceria, sama sekali tanpa senyuman dan sangat sensitif. Mereka terus mengusap bahu satu sama lain dan Marya tak tahan melihatnya. Kendatipun mendung, Claire datang ke sekolah tadi pagi dengan Chocolate roll cake dan coffee culture untuk menghibur Reinha. Aroma kopinya sangat mengganggu dan Marya terpaksa pergi ke toilet sekolah dan mendekam di sana untuk hindari aroma kopi.
"Ethan, bantu aku membujuk Arumi pulang," pinta Marya saat mereka di perpustakaan setelah ia kembali dari toilet. Arumi harus kembali ke rumah agar Marya tak merasa sepi. Elgio selalu pulang larut malam. Ibu tak banyak bicara, para pengawal dari kepolisian berjaga-jaga dan ia merasa hidup di penjara.
Melirik ke samping, Reinha tampak sibuk dengan buku-buku kimia, sekali-sekali gadis itu menatap cincin di jemarinya, mendengus sebentar dan mulai belajar lagi. Ia belajar sambil mendengar ear phone dan tak hiraukan keadaan sekitarnya. Belakangan, Reinha Durante tampak tak karu-karuan akibat masalah yang melilit suaminya. Claire dan dirinya tak cukup berhasil menghibur Reinha.
Profesor Samael yang sangat jeli tidak sepenuhnya memilih Reinha untuk kompetisi kimia meski Reinha adalah kandidat terkuat. Claire Luciano dan beberapa siswa lain dipilih langsung oleh profesor Samael bahkan seorang siswa tingkat dua yang juga terkenal sangat jenius, mengajukan diri untuk bersaing dengan Reinha untuk lolos ke kompetisi. Profesor Samael agak tak menyukai status Reinha sebagai seorang siswi belasan tahun bersuami sebab pernikahan di usia muda mengganggu efisiensi dan efektifitas belajar di sekolah. Lihat saja, Nona Durante yang kedapatan melamun di saat Profesor Samael bahas soal-soal olimpiade. Walaupun hasil post test nilai gadis itu nyaris sempurna tetapi Reinha hampir selalu kedapatan menatap lurus white board dengan hampa.
"Tidak, Marya. Arumi jaga jarak denganku. Ia bahkan pergi kencan dengan Chris Wayne, kau tahukan, rapper yang sedang naik daun?" sahut Ethan lingkari nomer yang sudah dikerjakan dan sodorkan hasil pekerjaannya pada Marya. Matematika tak serumit Fisika yang butuh pemecahan dengan nalar yang tajam. Marya selalu jadi pedoman baginya dan Reinha untuk beberapa kasus.
"Bukannya dia menyukaimu?" tanya Marya heran, meraih kertas-kertas penyelesaian soal dan cermati seksama.
"Emm, aku tak ingin pacaran! Arumi bukan pilihan, walaupun hasil analisis padanya memuaskan. Ia tak mau repot-repot belajar sains Marya, Arumi belajar ilmu sosial dengan tekun dan kau tahu, nilainya bagus meski bukan yang pertama." Saat ceritakan perkembangan Arumi, Ethan terlihat bergairah.
Marya mengangguk. "Kau luar biasa Ethan. Kau cocok jadi profesor."
"Kau terdengar sangat bersemangat. Apa ...?!"
"Aku suka jika eksperimenku pada sebuah objek, mencapai tingkat keberhasilan tinggi!" potong Ethan. Arumi hanya kelinci percobaan baginya. "Jangan salah paham!"
"Baiklah," sahut Marya menyipit pada Ethan. "Kau semakin mahir Ethan, pekerjaanmu sempurna!" Marya angkat jempol dan kembalikan hasil pekerjaan pada Ethan.
"Aku akan bawa ini pada Ibu Alfonsa untuk diperiksa," kata Ethan berdiri dan tinggalkan Marya tepat ketika seorang siswa masuk ke perpustakaan, celingukan mencari seseorang. Saat melihat Marya ia mendekat dan bicara pelan.
"Marya Corazon? Seorang pria mencarimu!"
Marya mengangkat wajah dari buku-buku sains dan mengerutkan keningnya.
"Seorang pria?"
"Ya, katanya dia orang dekatmu dan menunggumu di bangku halaman depan."
"Elgio Durante?" tanyanya menebak.
"Bukan, aku tahu Elgio Durante! Cobalah ke sana dan temui dia!" tambahnya sebelum pergi.
Marya kembali melipat kening, berpikir keras. Siapa yang mencarinya ke sekolah? Seorang pria? Apakah penyidik? Apakah pihak kepolisian? Oh, tidak mungkin. Oleh rasa penasaran, gadis itu pergi ke arah yang ditunjuk temannya. Di bangku taman depan halaman sekolah, seorang pria duduk dengan santai, memakai kaca mata gelap, memangku kaki dan goyang-goyangkan kakinya ringan. Kedua tangan terlipat rapi. Saat Melihat Marya, pria itu berdiri.
"Aruhi Diomanta?" sapanya sopan.
Marya merasa asing dengar namanya disebut seperti itu. Si pria lantas lepaskan kaca-mata gelapnya. Meski tak tersenyum dan punya sorot mata sangat tajam, Marya tak bisa abaikan kelembutan dalam pertanyaannya itu. Ia lafalkan nama Aruhi Diomanta dengan hati-hati.
"Ya, siapa anda, Tuan?" tanya Marya sebab wajah itu benar-benar asing untuknya.
"Hai, namaku Hellton Pascalito. Aku sepupu Ibumu dan Sunny Diomanta. Aku kemari untuk berkenalan denganmu, mengunjungi Ibumu dan karena aku punya hal penting yang harus aku bicarakan denganmu," katanya seraya sodorkan tangan, menggenggam tangan Marya hangat sebelum lepaskan dengan hati-hati.
Marya menatap pria itu agak curiga. Ia tak percaya begitu saja tetapi mengusirnya terlihat sangat tak etis.
"Ya, katakan saja!"
"Anda terlihat tak percaya padaku. Kau bisa lihat ini!"
Si pria sodorkan ponsel dan tunjukan banyak foto. Ia bersama Ibu dan Aunty di sebuah pesta, berpelukan hangat dan saling berbagi senyum. Mereka tampak sangat dekat. Foto lainnya, si pria tampak berdansa dengan Aunty Sunny dan mereka tersenyum bahagia ke arah kamera. Foto lain, mereka ada di acara makan keluarga.
"Salsa dan Sunny adalah saudara perempuanku, kami sangat dekat. Aku langsung terbang kemari saat tahu Sunny di penjara walaupun aku agak terlambat. Ibuku dan Ayah dari Ibumu bersaudara kandung. Jadi, aku pamanmu. Senang bertemu denganmu. Kau tahu, kau dan Arumi, benar-benar warisi kecantikan Diomanta," katanya tak berhenti perkenalkan diri.
Marya kembalikan ponsel. Pria itu tidak tampak tua, tapi tidak semuda Elgio. Mungkin berusia sekitar 30 tahunan. Ia tak tampak jahat meski matanya sangat tajam dan ia tidak cocok tersenyum. Saat ia lakukan itu, kontur wajahnya berubah kejam. Marya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tak begitu kenal keluarga Ibu, tetapi pria ini sepertinya tak bohong.
"Kau ingin aku menelpon Ibumu?" tanya si pria saat Marya tampak ragu-ragu. "Aku baru dari sana tadi, Ibumu sedang istirahat dan sayang sekali tak boleh terima kunjungan. Aku sungguh menyesal telat datang," ujarnya rendah dan dalam.
"Bagaimana Anda bisa menelpon? Ibuku dilarang gunakan ponsel!"
"Lihat ini, Aruhi," kata si pria keluarkan satu ponsel lain. "Kami punya ponsel khusus untuk tetap berhubungan."
"Ibuku tak lakukan kejahatan lagi, tolong jangan pengaruhi Ibu!" desak Marya tak suka, menduga-duga.
"Aku hanya sepupu kesayangan mereka dan kami lakukan bisnis bersama walaupun telah berhenti," jawab si pria dengan bibir bersatu yang terangkat sebentar. "Aku datang untuk berkunjung."
"Baiklah. Katakan, ada apa Tuan Hellton? Aku harus kembali masuk kelas," kata Marya berbohong. Pelajaran telah usai tetapi mereka masih tinggal di perpustakaan untuk belajar. Ia tak ingin terlihat bicara dengan pria asing, walaupun kerabat Ibu sekalipun.
"Selain itu, Ini tentang suamimu, Aruhi! Aku harus beritahu kau sesuatu!" kata si pria tak ingin basa-basi lebih lanjut.
"Suamiku?"
"Ya, Elgio Durante. Suamimu melindungi Irishak Bella dan sembunyikan dia di suatu tempat. Aku ingin minta tolong padamu, untuk biarkan aku bertemu Irish. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus diselesaikan dengan Irishak Bella."
"A,a,aapa maksudmu?" tanya Marya gagap. Tiap dengar nama itu disebut, sesuatu menggelitik hatinya. Perasaan tidak suka, tidak nyaman dan apa ini? Elgio sembunyikan Irish? Apakah itu alasannya Elgio tampak sangat gelisah beberapa hari belakangan? Bukan masalah di kantor?
"Jangan salah paham pada suamimu, aku yakin, Tuan Elgio dapat ancaman. Irishak Bella memegang banyak kartu di tangannya yang bisa membuatnya jungkir balikan Diomanta dan kartel Mafia lainnya. Tuan Elgio mungkin sedang dikendalikan."
Marya berdiri dengan lemas. Ia merasa perutnya sangat keram oleh ledakan emosi.
"Maukah kau ikut denganku? Kita bisa bicarakan ini di perjalanan, Aruhi Diomanta. Aku benar-benar seakan bicara dengan rupa muda Ibuku."
Marya yang marah dan kecewa pada Elgio kembali ke perpustakaan, rapikan buku dan pamitan pada Reinha.
"Enya, aku harus beli sesuatu untuk Elgio. Aku lebih dulu ya!"
"Eh?!"
Tak menjawab keheranan Reinha, Marya berlarian di koridor sekolah, abaikan Ethan yang melambai dan naik mobil bersama seseorang yang mengaku pamannya.
***
Wait Me Up ....
Irish akan terima takdir yang tak terbayangkan di chapter selanjutnya .... Aku rasa readers akan terhibur dengan chapter berikutnya tentang Irishak Bella.