
"Kita ke sini lagi?" tanya Reinha mengernyit.
Lucky angkat bahu pamerkan senyumannya yang menawan hati dan lepaskan helm dari kepala Reinha. Kening Reinha diusap pelan, suatu waktu, Lucky akan buat perhitungan dengan Ethan Sanchez. Berani sekali nyamuk itu hinggap di kening kekasihnya.
"Keningmu tak apa?" tanya Lucky menyipit.
"Nanti juga hilang. Untuk apa kita ke sini?"
"Bekerja di gudang. Kurasa kita cukup main-main, gadis cantik." Meraih tangan Reinha pergi ke gudang.
Gudang terlihat lebih hiruk pikuk dari hari kemarin. Seorang operator tampak lincah kemudikan kendaraan angkut barang dan beberapa trolley berisi paketan-paketan didorong oleh para pekerja.
"Halo, Bos. Halo Nona Durante. Apa kabarmu? Senang bisa jumpa lagi."
"Hai, D." Reinha balas lambaian tangan D.
"Apa paketnya sudah tiba?" tanya Lucky menaruh helm di atas meja di tengah gudang. Pertanyaan Lucky tentang paket membuat Reinha was-was dan sebuah troli didorong ke hadapan mereka. Tangan mereka masih terjalin erat, tak ingin saling melerai.
"Paket baru saja masuk. Ini sampelnya, Bos."
Lucky tersenyum sumringah sebelum membuka box gunakan cater sedang Reinha tahan napas. Meskipun Dream Fashion punya gudang stokis seperti ini tetapi produk Dream Fashion sangat transparan. Stokis ini lebih mirip tempat penyimpanan barang-barang haram. Pikirannya terbang kemana-mana. Satu lagi keanehan, pegawai mereka laki-laki dan berbadan kekar. Tak ada pegawai wanita.
"Anda tak ikut rapat, Bos? Baru berlangsung lima menitan."
"Tidak, D. Aku dan Nona Enya akan jadi operator gudang hari ini."
Box terbuka dan beberapa sampel blazer pria dan wanita terlihat rapi dalam kemasan. Reinha bernapas lega segera terbius dan mendekat.
"Ini untuk distro, Enya. Kau tahu kami mengembangkan Double L (LL) di tengah kota dan CL untuk model-model musim dingin, Claire adalah Chief Executive meski ia sangat ingin mengelola restoran."
Reinha mengambil satu sampel dan membukanya. Gadis itu berikan penilaian.
"Modelnya biasa saja dan tidak menarik menurutku. Mungkin kau menargetkan ini untuk wanita-wanita serius, yang tidak begitu fashionable. Atau untuk si kutu-buku."
"Kau memang kekasihku yang luar biasa," puji Lucky Luciano.
"Tetapi material ini sangat aku suka. Jika segmentasi-mu adalah pecinta kualitas, kau berhasil. Wool dengan metode penyisiran sempurna hasilkan kain berkualitas tinggi macam ini, aku suka, sangat nyaman dan elegan."
Lucky mengangguk-angguk. Gadisnya memang luar biasa teliti.
"Bagaimana dengan ini?" Lucky menyodorkan satu sampel berwarna blue navy dengan model kerah butterfly dan berpita belakang.
Reinha perhatikan blazer itu seksama. "Ini adjustable, fashionable, not bad, kau bisa menyaingi Dream Fashion. Aku menyukai yang satu ini hanya saja bahan leather? Tak cocok untuk acara formal."
"Aku tak bisa bersaing dengan gadis 17 tahun yang smart dan punya selera gaya yang tinggi, jadi, aku labeli ini dengan namamu ... ENYA. Ini bukan produk tandingan, ini semacam dukungan untukmu."
Reinha terkesima. Pria itu berhasil membuatnya takjub. Begitu cintanya-kah Lucky padanya.
"Kau suka?" tanya Lucky pelan.
"Em ya, luar biasa." Gadis itu tiba-tiba saja berjinjit dan mengecup pipi Lucky hingga pria itu bengong lalu salah tingkah. Sepertinya Lucky Luciano menyukai gerakan dadakan Reinha Durante. Ciuman itu berikan kebahagiaan tersendiri untuk Lucky, secara emosional ia telah terikat erat pada gadis itu. Cintanya menggelegar di dalam dada.
"D, kalian bisa pergi. Aku dan Nona ini akan mengatur barang ke save display."
Lucky melepas jaketnya dan menggulung kemeja. Mereka berdua akhirnya berkeliling dan memeriksa loker-loker penyimpanan produk satu-persatu sebelum Lucky menaiki kendaraan angkut barang, berdiri di balik kemudi operator dan ulurkan tangan pada Reinha.
"Em, terlalu sempit untuk berdua."
Lucky miringkan bibir, "Kau terlihat nyaman berdempetan dengan Ethan Sanchez? Padahal dia bukan kekasihmu?"
"Hoke, baiklah! Aku ikut." Reinha buru-buru naik dan pergi ke balik kemudi operator sebelum Lucky Luciano kumat cemburunya. Sedang Lucky di belakangnya mulai jalankan kendaraan itu.
"Kita bisa kacaukan gudang ini jika begini," ujar Reinha. Berdekatan dengan Lucky Luciano selalu berhasil buatnya oleng. Ditambah ia terpenjara dalam lengan-lengan Lucky yang mengemudi kendaraan angkut barang.
"Gudang ini milik berdua, Enya. Tak ada orang di sini," sahut Lucky. Suara Lucky Luciano berubah parau di kupingnya.
Lagu Fire on Fire dari Sam Smith mengalun lembut temani mereka.
"Waktu kencan kita tidak banyak," kata Reinha. "Aku diminta Tuan Abner urusi kaji ulang kontrak Dream Fashion." Reinha buat keputusan untuk tidak memberitahu Lucky soal makan malamnya dengan Giuseppe. Belakangan Lucky terlihat sangat cemburuan. Ia tak ingin mereka bertengkar.
"Baiklah, Enya. Boleh aku bertanya?"
"Hmmm?"
Mereka masih berkeliling, Reinha berkutat dengan gadget dan aplikasi penyimpanan produk yang terus terakses, kirimkan stok pada admin distro.
"Apakah kau sengaja bekerja sama dengan Ethan Sanchez untuk buatku cemburu?"
"Eh?! Apa maksudmu?" tanya Reinha gugup.
Loker 48, Lucky mengisi loker sebelum memutar Reinha berbalik padanya.
"Bodoh sekali aku cemburu pada Ethan Sanchez," keluh Lucky merasa konyol sendiri.
"Itu berarti aku boleh berdekatan dengan Ethan?!"
"Tidak boleh!" seru Lucky tegas. Ia meneliti Reinha, menyentuh wajah gadis itu dan pegangi dagunya. Pria itu hendak menyentuh Reinha ketika ponsel tiba-tiba bergetar. Tatapan sendunya berubah kesal.
"Aku harus terima telpon," katanya tanpa alihkan mata dari Reinha.
'"Tidak sekarang!" ujar Reinha memohon. "Sebentar saja," ucapnya lagi buat Lucky batal angkat telpon.
Gadis itu menyentuh Lucky Luciano lebih dulu. Ia suka menyentuh pria itu. Seakan jadi candu. Mereka berciuman dengan gairah yang meremang hingga ke ubun-ubun. Terbakar api tetapi segera padam seakan tersiram satu tabung full air dingin saat ponsel Lucky kembali berdering kedua kalinya, pertanda panggilan mendesak. Reinha mundur, kembalikan detak jantungnya yang berkobar-kobar.
"Angkat teleponmu," kata Reinha lirih. Lucky menjauh dengan berat hati.
"Kau baru saja merusak kencanku, Francis. Katakan ada apa? Sebaiknya sesuatu yang penting, atau riwayatmu selesai," ujar Lucky mengatur napas. Pria itu melirik Reinha yang berdiri di atas troli memukul-mukul hand troli pelan.
"Bos, Anda harus penuhi undangan makan malam Valerie nanti pukul tujuh. Ia punya informasi penting. Kali ini Anda harus datang, Bos."
"Coba aku lihat, seberapa penting informasi itu?"
"Valerie akan beri informasi lokasi penyekapan Viktor. Wanita itu tidak membunuhnya seperti yang ia akui. Mereka di daerah isolasi."
"Jangan percaya padanya!"
"Aku akan mengirimkan Anda foto dan video Viktor, Bos, serta lokasi makan malam Anda. Valerie mengatur pertemuan ini. Aku akan lindungi Anda dari jauh!"
Lucky bercakak pinggang, berdiri gelisah. Wanita ular itu .... Jadi, ia tak membunuh Viktor dan telah berbohong. Valerie sepertinya terobsesi padanya kini.
"Apa ada sesuatu?" tanya Reinha ketika wajah Lucky tiba-tiba muram.
"Kencan kita harus berakhir dengan cepat."
Reinha terlihat pengertian meskipun rautnya tak dapat sembunyikan ekspresi kecewa walau hanya setengah detik tetapi mata Lucky tak lewati itu. Gadis itu coba sembunyikan emosi dengan sangat baik.
"Maafkan aku, Enya ...."
***
Reinha memasuki Blue Ocean di sisi Timur kota, restauran yang menawarkan makanan khas Perancis. Interior restauran bergaya Eropa kental, dengan furniture kayu yang tersusun cantik dihiasi lampu mini chandilier yang bergantung di setiap meja. Suasana bagian dalam begitu elegan disatu sisi dan artistik disisi lainnya. Salah satu sudut ruang dipenuhi mural hampir seluruh bagian dinding. Lokasi lantai dua restauran yang sepi ini sepertinya telah diprivate oleh Giuseppe Gustav.
Reinha pejamkan mata, seandainya ia dan Lucky ada di sini, berdansa di temani lampu-lampu mini itu, dalam suasana temaram yang romantis. Otaknya bekerja keras hanya untuk mengukir Lucky Luciano. Saat kedua matanya terbuka, Giuseppe Gustav muncul dari arah tangga.
"Hai Nona Durante. Apa kabarmu? Senang kau datang penuhi undangan jamuan makan malamku." Pria itu berjabatan tangan erat dan agak membungkuk. Seorang pelayan sajikan pannacota dan strawberry jam, well, seandainya Reinha bersama Lucky Luciano akan terasa seperti something sweet like menu sambutan ini.
"Terus terang, aku sedikit bingung sebab kupikir kontrak kita baru akan habis beberapa waktu lagi." Reinha bicara apa adanya.
Para pelayan menghidangkan makanan utama. Meski Norwegian Salmon tersaji cukup menggugah, Reinha kehilangan selera makan.
"Anda tahu, tempat ini punya makanan terbaik dan aku senang bisa ke sini denganmu," kata Giuseppe antusias sedang Reinha melengkung senyuman kecil.
"Harusnya kita ada di lantai satu, tetapi tempat itu telah direservasi oleh seorang wanita untuk jamuan makan malam bersama kekasihnya."
Pandangan Reinha berpaling ke lantai satu sementara lagu You Are My Sunshine diperdengarkan halus dan mendayu. Detak sepatu high heels bergema di lantai satu, seorang wanita kenakan blackless dress hitam yang berani, duduk di sebuah meja dan seorang pria duduk di hadapannya. Reinha menahan napas, tajamkan penglihatan dan segera berkecamuk. Pria itu kekasihnya. Lucky Luciano tampak tak bertukar pakaian, masih dengan kemeja yang dikenakannya tadi sore kecuali ditambah blazer cokelat tua.
Setelah diperhatikan baik-baik, wanita di depan Lucky adalah .... Reinha tersenyum kecut dalam hati. Valerie?! Lucky Luciano tampak berantakan di lantai satu tetapi daya pikat seksual pria itu meningkat tajam. Reinha mendesah, mengapa pria itu pergi dengan Valerie, makan malam di tempat seromantis ini? Apa lagi sekarang? Reinha sama sekali abaikan Giuseppe.
"Their salmon is super fresh and no joke. Kamu harus coba, Nona."
Reinha menggeleng, "Aku tak ingin makan sekarang. Bisakah kita hanya nikmati musik?" tanya Reinha tanpa alihkan pandangan dari Lucky Luciano.
Reinha kehilangan selera, meski begitu ia berusaha mengunyah salmon dengan lemon butter sauce rasa asam manis yang meledak di mulut untuk menghargai Giuseppe.
Sementara Lucky Luciano tak berniat menyentuh makanan atau minuman yang dihidangkan.
"Kau bohong soal membunuh Viktor dan Brigitta, mengapa aku percaya kalau mereka masih hidup?" tanya Lucky tajam.
Valerie tersenyum, bibirnya sangat seksi saat minum kaviar dan tatapannya telah menggoda sejak tadi. Lucky mengabaikannya.
"Minumlah! Aku tak menaruh racun di dalam sana," tunjuk Valerie pada gelas di depan Lucky.
"Tidak." Lucky menggeleng. Tatapan pria itu kelam.
"Di mana Viktor, Valerie?"
Valerie tertawa lembut. Saat berhenti tertawa, pandangannya sangat liar. "Kau bertanya seakan-akan dapat dengan mudah mendapat jawaban?"
"Lalu katakan apa maumu?"
"Dirimu," sahut Valerie singkat. Minuman dalam gelas berputar, ia minum lagi seteguk. Wanita itu bangun. "Berdansa-lah denganku. Aku akan beritahu-mu, rahasia kecil, my dear."
Valerie berdiri dan bergerak ke arah Lucky yang hanya diam. "Kau tak penasaran, apa yang kulakukan pada Kesayanganmu itu?" tanya Valerie makin dekat. Tangannya terulur. "Marilah, Lucky. Temani aku berdansa."
"Kembalilah duduk Valerie! Aku akan pergi!"
Valerie tiba-tiba duduk di pangkuan Lucky Luciano. Reinha Durante melihat itu dan tiba-tiba berdiri.
"Ada apa?" tanya Giuseppe keheranan pada wajah Reinha yang membara. "Apa kau kenal dengan Lucky Luciano dan kekasihnya?" tanya Giuseppe.
"Aku kekasih Lucky Luciano," jawab Reinha hingga Giuseppe terhenyak. Berbagai emosi campur aduk di benak Reinha. Ia cemburu, marah, jengkel dan membara.
Tatapan Reinha menggelap saat Valerie bergerak di dada Lucky Luciano naik ke leher pria itu dan menyentuh wajah Lucky yang mematung tanpa ekspresi.
Sementara bibir Valerie singgah di kuping Lucky berbisik penuh hasrat.
"Kau takut ada racun di dalam minumanmu?" Valerie angkat gelas Lucky dan meneguk sedikit di hadapan pria itu. "Lihat! Tak ada racun di sini. Minumlah!"
"Bergeserlah dariku Valerie!" Lucky meraih gelas kaviar dan mendorong wanita itu pelan. Ia meneguk kaviar sampai selesai lalu berdiri.
"Aku harus pergi!" kata Lucky.
"Viktor di sekap di suatu tempat ... " kata Valerie membuat Lucky berhenti. Ia berbalik dan Valerie menggandeng tangannya, mengajak Lucky berdansa.
"Aku akan mencari tahu Valerie," ujar Lucky kaku.
"Kau mengacaukan pekerjaan kita dan aku mati-matian pasang badan untukmu, kupikir, setidaknya kau harus berterima kasih padaku. Familly Club' sangat murka padamu dan Diomanta. Kalian kehilangan arah dan aku perlu meluruskan kalian."
Lucky memutar wanita itu dan memegangnya kuat, mencekik hingga Valerie mengernyit.
"Siapa kau? Tak lebih hanya simpanan seseorang, Valerie! Kau bukan Capo Tua, bukan Viktor, bukan seseorang yang harus aku takuti. Kau hanya wanita licik."
Pandangan Lucky Luciano kabur, ia menggeleng saat Valerie terlihat memecah jadi banyak rupa.
"Apa yang kau taruh di minumanku?" tanya Lucky lepaskan diri dari Valerie.
"Hanya sejenis Spanish fly dan sedikit date rape drugs, kau keras kepala, jadi aku terpaksa menyeretmu dengan cara ini. Kita akan bersenang-senang. Aku menunggumu kembali primitive."
Valerie mencumbu Lucky dan berbisik di telinga pria itu. "Senang kekasihmu ada di sini untuk melihat kita."
Lucky terjatuh di kursi dan menengok tepat ketika Reinha yang cantik bergerak penuh kemarahan dari lantai dua. Mengapa gadis itu ada di restauran ini? Mengapa Francis tidak beri peringatan?
"Enya, pergi dari sini!" Lidahnya mulai kelu. Lucky mulai rasakan perubahan dalam dirinya, berdiri limbung. Reinha yang melihat gelagat tak beres, berlari turun tinggalkan Giuseppe.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Reinha dekati Lucky yang terduduk di kursi menggelepar seperti ikan menginginkan air.
"Enya, pergi dari sini!"
Reinha berbalik pada Valerie. "Apa yang kau lakukan padanya?" bentaknya marah.
Reinha kepalkan tangan dan ia berhadapan dengan Valerie. Tangannya terangkat dan telapaknya mekar hendak menyentuh wajah Valerie tetapi Valerie menangkap tangan itu dan hempaskan.
"Jangan sentuh aku! Kau tahu akhirnya akan buruk untuk kita berdua." Valerie mengancam.
"Tentu saja." Reinha naikkan dressnya hingga paha-paha mulusnya terpampang, ia berlutut cepat dan sapukan satu kaki bak Sambaran kilat hingga Valerie tersandung jatuh. Reinha bangkit dan menyeret wanita itu bangun, memelintir tangan Valerie yang tak menyangka Reinha Durante akan lakukan serangan mendadak. Belakang lutut Valerie ditendang keras hingga wanita itu separuh bertekuk di atas meja. Reinha dengan sangat kuat tenggelamkan wajah Valerie dalam sup mangkuk parisian mushroom soup yang masih hangat.
"Kau salah berurusan denganku," ujar Reinha marah, ia meraih vas bunga yang ada di atas meja dan memukul kepala Valerie hingga wanita itu tak sadarkan diri.
"Menjauh darinya Nona!" Beberapa pengawal Valerie masuk dan menodong senjata pada Reinha.
Francis dan beberapa orang berdatangan menodong senjata. Ruangan itu berisi orang yang saling acungkan senjata satu pada yang lain. Reinha melepas Valerie yang lantas luruh ke lantai seperti tanpa sendi. Gadis itu berlari pada Lucky Luciano yang memerah dan kesulitan bernapas. Francis mendekat, memberi kode agar Reinha membawa Lucky keluar dari restauran.
"Tolong, bawa Tuan Lucky ke Hotel Midnight, 5 menit dari sini, Nona. Aku telah reservasi, suite no.13. Anda Menjauhlah darinya untuk sementara waktu. Aku akan mengurus mereka." Angguk Francis pada orang-orang Valerie.
Reinha mengemudi dengan pikiran buntu, berbelok masuk di Midnight hotel.
"Lucky, kau tak apa?" tanya Reinha cemas memeluk pria itu erat.
"Menjauh dariku, Enya! Saat ini!"
"Tidak. Kau kelihatan tidak sehat."
Lucky tak mampu bicara banyak. Sesuatu dalam dirinya merambat naik, bekerja perlahan recoki saraf-saraf dan inderanya yang menghirup aroma Jasmine cepat tanggap. Pria itu mengerang resah oleh gairah yang meledak-ledak, kehilangan konsentrasi dan merasa sangat pening.
"Enya, menjauh dariku!" erangnya.
Pria itu keluar dari mobil, tertatih menuju hotel.
Reinha berlari dan menggapainya. Namun, Lucky mendorong kasar, menepis Reinha menjauh.
"Ada apa denganmu, aku hanya ingin menolongmu?"
Reinha memegang lengan pria itu kuat menolak pergi. Mereka pergi ke kamar hotel. Lucky kesusahan melepaskan diri dari Reinha yang tidak paham bahwa ia baru saja minum minuman racikan yang momotivasi tubuh untuk peningkatan libido ke level cukup berbahaya.
"Menjauh dariku sekarang!" bentak Lucky mendorong Reinha sekuat tenaga.
****
Aku cut jadi dua dan ini sumpah ditulis buru-buru cuma satu jam. Aku sibuk fitting hari ini dengan banyak klien untuk pernikahan yang menumpuk di Juni.
Lanjutannya besok ya ....
Cintai saja aku.... Ja'o Mora ne'e Miu (Aku mencintaimu sangat sangat) ...