
Claire Luciano sedang rapat dengan manajemen personalia untuk membahas job desk divisi itu saat seorang staf mengetuk pintu ruangan rapat.
"Job analysis, job description, dan job spesification; Nona Claire." Sebuah berkas tersodor padanya.
Asisten pribadinya di CL Outlet adalah seorang wanita cantik, janda satu anak dan sangat lihai membantunya mengurus outlet fashion yang hanya bergerak khusus untuk kaum hawa. Mereka miliki garment terpisah dari yang dimiliki Double L. Berbeda dengan Francis yang mengurusi Lucky Luciano dari perusahaan hingga urusan pribadi, asisten pribadinya hanya bekerja di kantor membantu CL berkembang.
"Nona Claire maaf mengganggu Anda, para petugas kepolisian ada di sini!"
Claire amati staf yang bicara padanya di pintu, mengerut heran, lalu mengumpat.
Apakah Carlos Adelberth seriusan laporkan dirinya ke pihak berwajib?
"Persilahkan mereka ke ruanganku!"
"Baik, Nona."
Claire masih bahas pengintegrasian dengan kepala personalia hingga tuntas sebelum melangkah ke ruangannya. Meskipun lelah, ia menyukai, sangat cintai CL. Padahal, sejujurnya ia lebih sukai bisnis kuliner. Ia suka memasak. CL awalnya milik rekanan antara Lucky dan Diomanta sebelum Lucky miliki CL secara penuh dan berikan padanya.
"Nona Clairence Luciano?"
"Ya, aku sendiri! Apa ada masalah?" tanya Claire. "Sungguh mengejutkan aku mendadak didatangi pihak berwajib?"
"Ikut kami ke kantor polisi! Anda ditangkap atas tuduhan penyerangan terhadap Tuan Carlos Adelberth!" Sebuah surat penangkapan di layangkan depan matanya.
"Ya Tuhan, itu ...."
"Silahkan ikut kami ke kantor polisi!"
Claire mendesah geram. Rahangnya menegang. "Aku akan menelpon kakakku!"
"Anda bisa hubungi kerabat Anda juga pengacara Anda dari kantor polisi!"
"Hei ... ini sungguh memalukan!"
Ia digiring turun dari lantai dua. Para pengawal segera mengikut dari belakang, saling lemparkan pandangan bingung. Ia kemudian dibawa ke kantor polisi. Duduk dibalik meja layanan sementara telpon di ruangan itu terus menerus berdering, ia menjawab pertanyaan petugas ogah-ogahan. Keterangannya dicatat. Claire tak habis-habis mengumpat pada Carlos kira-kira mencapai berlembar-lembar jika ditulis.
"Ini salah paham, biarkan aku menelpon Tuan Carlos Adelberth!" keluh Claire saat dapati nomer kakaknya tidak aktif. Ia tak percaya Carlos Adelberth sungguhan laporkan dirinya ke pihak berwajib karena tak datang dua hari lalu seperti perintah Carlos.
"Baiklah!"
"Apa kalian punya nomer Tuan Adelberth?"
Petugas kepolisian mengangguk dan berikan sederet angka. Ketika tersambung, Claire ingin awali percakapan dengan makian kasar.
"Halo ...."
Oh, sialan kau, Carlos Adelberth. Claire menggigit bibirnya kuat lantaran ia nyaris lontarkan makian saat dengar suara berat Carlos Adelberth.
"Tuan Adelberth?"
Hening. Mungkin Carlos sedang menduga-duga, siapa yang menelponnya. Claire sengaja mengganti nomer ponselnya agar Carlos tak mencarinya.
"Nona Claire Luciano?!" tanya Carlos tenang dan santai.
"Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan?" tanya Claire menahan emosi.
"Aku sungguh tersanjung Anda menelpon aku. Apakah ada masalah? Aku sedang berburu sesuatu yang sangat cantik."
Kau brengsek, Carlos.
"Ya. Em, aku ingin tahu mengapa Anda laporkan aku ke pihak berwajib?"
Hening.
"Ya. Anda tak datang bantu aku perbaiki rumahku. Anda abaikan perintahku, aku tak sukai itu. Aku merasa dirugikan!"
"Berapa banyak kau butuh uang?" tanya Claire muak.
"Bukan soal uang! Anda perlu menjaga sikap dan sopan santun. Mungkin beberapa hari dibalik sel, Anda akan berubah lebih lembut!"
"Bre ...." Terputus di tengah jalan. Si petugas sedang amati dirinya. "Baiklah! Maafkan aku! Aku akan datang sekarang! Bisakah kau cabut laporanmu?"
"Begitukah? Aku sedang berburu sesuatu, Nona. Masalah laporan akan kita lihat saja nanti, sejauh mana Anda serius dengan kata-kata Anda Nona Luciano."
Kau sialan!
"Dimana?"
"Dekat rumahku yang kau hancurkan! Satu kilometer arah Utara. Berikan ponselmu pada petugas kepolisian!"
Claire alihkan ponselnya kepada petugas.
"Sir, Tuan Adelberth ingin bicara!"
Ponselnya berpindah tangan lalu si petugas agak menjauh. Beberapa waktu berselang hanya mengangguk-angguk.
Claire makan hati, marah hingga di ujung-ujung saraf tetapi ia kendalikan dirinya. Ia pikirkan cara untuk membalas Carlos Adelberth. Si petugas kembali dengan cepat, kembalikan ponsel sambil bicara padanya.
"Anda kami lepas, tetapi jika nanti kami menerima laporan penyerangan lagi, Anda akan kembali kami tangkap, Nona Claire!"
"Baiklah ...."
Claire keluar dari kantor polisi, masih sempat dengar para petugas bicara di antara mereka.
"Sangat disayangkan, kita hidup di era para gadis berubah liar dan menakutkan. Termasuk riasan wajah mereka."
Claire turuni tangga, mengumpat marah sebab planning kerjanya hari ini harus tertunda gara-gara Carlos Adelberth. Ia menelpon Carlos.
"Beritahu aku, dimana lokasi pasti Anda, Tuan Carlos?"
"Kamu ingin berkunjung?" tanya Carlos skeptis.
"Ya!"
Mobilnya menunggu di halaman kantor polisi. Para pengawal terlihat bersiaga di sisi mobil. Ia menelpon kakaknya, masih tak aktif. Tidak, ia tak akan mengadu pada Lucky Luciano. Semoga tidak ada reporter sejenis Irish Bella yang melihat ia digiring pihak kepolisian. Ya Tuhan, terkutuklah Carlos Adelberth.
"Bisakah kita pergi ke gudang senjata?" tanya Claire pada pengawalnya.
"Nona, Anda dilarang masuk gudang senjata oleh Tuan Lucky Luciano dan Tuan Francis, aku tak ingin bermasalah," sahut si pengawal.
Claire menelpon Reinha Durante dan gembira saat panggilannya direspon.
"Reinha, apa kamu bersama kakakku?"
"Ya, tetapi Lucky sedang mandi. Kami akan pergi melihat Francis dan Amora. Apa ada sesuatu?"
"Bisakah aku meminjam sesuatu darimu? Aku sedang ingin berburu!"
"Berburu?! Bukankah kamu sangat sibuk hari ini?Bicarakan dengan kakakmu, Cla. Aku tak ingin dia marah padaku!"
"Ayolah, Reinha. Aku sedang suntuk karena failure project. Aku hanya ingin refreshing sebentar di hutan Pinus. Kepalaku sakit. Bukankah remaja seusia kita harusnya bersenang-senang alih-alih berhadapan dengan setumpuk file?"
Lama hening sebelum suara Reinha Durante terdengar kembali. "Baiklah, aku akan minta Augusto bawakanmu 'mata kecilku'."
"Tolong jangan beritahu Lucky!"
"Ya, baiklah! Kau hanya berburu kan?"
"Sim (ya)."
"Berhati-hatilah!"
Claire kembali ke CL dengan cepat dan mengambil beberapa pakaian. Kedatangannya cukup melegakan para karyawan sebagai pertanda segala hal baik-baik saja.
Menunggu Augusto di sebuah tempat sunyi di jalanan tanpa banyak kendaraan, Claire berdiri tegak ketika sebuah mobil bunyikan klakson dan pengawal pribadi Reinha Durante terlihat dibalik kemudi mencari parkiran di tepi jalan.
"Nona Claire, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Augusto serahkan gun bag dengan berat.
"Aku hanya akan berburu, Augusto," sahut Claire tatapi Augusto tersenyum ceria tetapi tajam saat ia bicara. "Bukankah kau sangat tidak sopan dengan mencari tahu urusanku?" tanya Claire menaruh benda itu di mobil. "Trims, sudah bawakan untukku!"
"Berhati-hatilah, Nona!" ujar Augusto membungkuk padanya.
Claire melambai pada mobil yang dibawa Augusto, pada wanita yang duduk di dalam mobil, Natalea.
Augusto mengangguk, masih berdiri di tempatnya. Claire perhatikan pantulan tubuh pria itu dari balik spion mobil.
***
Sementara Carlos Adelberth di hutan, mengendap-endap di antara bebatuan berlumut. Ia mengintai sesuatu di hutan. Seminggu lagi ia akan pergi ke Mozambik. Pemerintah ... baru saja tanda tangani perjanjian kerja sama dengan salah satu negara di Afrika itu. Mereka akan membangun basis militer bersama di selatan Mozambik tak jauh dari Ibukota Maputo.
Dua tim personil militer akan dikirimkan ke wilayah konflik untuk membantu pertahanan di wilayah itu. Dikabari bahwa kelompok bersenjata afiliasi Ter**** sudah meneror dan lakukan aksi kekerasan di Provinsi Cabo Delgado. Bahkan aktivitas kekerasan sebabkan ribuan korban jiwa dan ratusan ribu penduduk di bagian Utara Mozambik harus mengungsi.
Mereka akan memulai pelatihan langsung di lapangan. Ia ditunjuk oleh Komandan Tertinggi untuk memimpin latihan tersebut.
Saat menerima telpon dari pihak kepolisian, Carlos menyeringai senang. Ia akhirnya bisa menyeret adik perempuan Lucky Luciano padanya. Dari balik batu ia meneropong beberapa ekor rusa yang terlihat. Ia telah menggali lubang besar untuk jebakan dan merakit jaring dari tumbuhan-tumbuhan yang menjalar untuk memancing mereka datang alih-alih menembak.
Amati keadaan sekitar, sepertinya si rusa tak akan datangi lubang jebakan. Baiklah, ia akan menembak salah seekor rusa. Mendadak saja tempat persembunyiannya mendapat serangan bertubi-tubi. Diikuti teriakan marah.
"Kau suka itu brengsek?" Terdengar menggema di balik-balik pohon.
Carlos tersenyum. Claire Luciano benar-benar bar-bar dan ia sukai gadis tangguh. Carlos berpindah dari posisi semula, pergi ke balik pohon. Claire benar-benar menyerangnya dengan senjata sungguhan. Darimana dia dapat senjata? Sedang Lucky Luciano telah menyita semua senjata yang dimiliki gadis itu.
"Senang kau datang, Nona!" Ia mengirim lokasi pada Claire tanpa ada bayangan gadis itu akan bawa-bawa senjata.
Tembakan beruntun dari Claire, Carlos berlari, tengkurap dibalik batu.
"Tentu saja, Tuan! Bukankah itu yang kamu inginkan?"
Carlos mengira-ngira posisi Claire dari suara yang dihasilkan gadis itu.
"Apa kakakmu tahu kau bawa senjata, Nona?"
"Kau akan mengadu? Sejak kapan kau bersembunyi di ketiak kakakku?" balas Claire. Suaranya semakin jelas. Carlos berlari ke balik pohon besar yang tumbang, ada lubang besar di sana yang tadi digali untuk jerat rusa. Seekor ular melata di dekatnya, ia menghalau ular kuning keemasan dengan ranting kayu. Si ular lilitkan badannya di sana, Carlos segera lemparkan jauh darinya. Senjatanya terarah mencari posisi Claire Luciano.
Suasana hening. Sangat hening bahkan tak ada bunyi ranting patah.
"Kau akan ditangkap lagi jika kedapatan menyerangku dengan sengaja!" seru Carlos pancing Claire untuk datang padanya.
"Brengsek, aku tak peduli! Aku akan lubangi salah satu bagian tubuhmu, Tuan, lalu serahkan diriku pada pihak berwajib!"
Claire berteriak dari suatu tempat. Cukup panjang untuk membuatnya tertangkap kamera pengintai Carlos.
"Kena kau, Nona!"
Carlos tersenyum gembira. Aneh, ia merasa berdebar-debar dapati Claire Luciano dibalik sebuah pohon. Gadis itu gunakan pakaian hitam-hitam seperti salah satu pejuang samurai.
"Kita lihat, apa yang dia bawa?" ujar Carlos perbesar teleskop. Claire berlari cepat ke balik pohon lain, ia memegang senjata the Barret, M82. Tersemat belati di paha kiri. Gadis itu kidal. Luar biasa.
Carlos berguman sendiri sembari mengintai gerik Claire. "Jadi, kau dapat subsidi dari adik perempuanku?" Carlos kenali senjata kesayangan milik Reinha Durante.
"Aku penasaran senjata siapa yang kamu pakai untuk menyerangku, Nona?" tanya Carlos kencang.
Claire menghilang dengan cepat dari balik pohon. Menurut Lucky Luciano, sama seperti Lucky, Claire telah pegang senjata sejak usianya 10 tahun. Saat anak-anak perempuan lainnya bermain boneka, Claire telah memegang senjata dan belati. Tidak heran, mereka hampir diliputi ketegangan tak berkesudahan dan Lucky tak ingin adiknya tak pandai membela diri saat hadapi serangan mendadak dari semua musuh mereka. Belakangan setelah Claire kendalikan CL, Lucky Luciano melarang adiknya bermain dengan senjata. Ia ingin Claire hidup dengan baik dan bertemu pria terhormat. Begitulah akhirnya Claire selalu dikelilingi banyak pengawal.
"Kau ingin tahu?" tanya Claire miring kembali menembak.
"Tentu, mari bicara!"
Hening. Carlos amati keadaan sekitar. Claire akan temukan tempatnya. Dibiarkan saja. Ia terus tengkurap. Claire memutari posisinya, masih mengendap-ngendap.
"Hai ... Tuan Adelberth, kau pasti rindukan aku!" Claire berdiri di bibir lubang, tampak senang berhasil temukan Carlos. Ia benar-benar arahkan senjatanya pada Carlos sungguhan hendak menembak Carlos. Tidak sadari Carlos telah memasang jebakan.
"Ya, my soul feel glad today when I see you, (jiwaku terbang hari ini saat melihatmu)," sahut Carlos menyeringai cukup untuk sadarkan Claire tetapi terlambat. "Welcome home!"
Sekali sentak sesuatu yang tak jauh darinya, tubuh semampai Claire terperosok ke dalam lubang, terperangkap di dalam jaring laba-laba yang dibuat Carlos dari tumbuhan menjalar di dalam hutan. Senjata Claire terlempar jauh. Ujung-ujung simpul terkatup. Claire meronta kuat tetapi semakin ingin lepaskan diri, ia semakin kewalahan.
"Kau curang, Tuan Adelberth!
"Aku hanya amatiran!" sahut Carlos santai rendahkan diri, ambil kaleng soda dari saku celananya dan minum. "Aku dapat tangkapan bagus hari ini!" tambahnya arahkan kaleng soda pada Claire.
"Brengsek kau, Carlos Adelberth! Kau buat aku dalam masalah."
"Hmm," sahut Carlos tak peduli, meraih senjata Claire yang terlempar, amati sejenak. "Apa yang harus kulakukan padamu?" keluh Carlos sandarkan senjatanya dan senjata Claire di dinding tanah. Ia duduk amati Claire yang merah padam menahan murka. Tangan Claire bergerak perlahan, mencari celah menggapai sesuatu. Dalam tiga gerakan, belati di tangan sang gadis mampu putuskan tali temali. Ia segera melompat keluar.
Carlos bersandar pada dinding lubang, amati Claire yang berdiri memutar belati di tangan kirinya dengan ahli. Lucky Luciano dikelilingi gadis-gadis tangguh, Reinha Durante dan adik perempuannya. Jika, jadi Lucky Luciano, ia akan sangat waspada serta menjaga sikap.
"Kau ingin bertarung? Kau tahu aku akan kalahkanmu!"
"Bualan yang bagus!" sahut Claire, melempar benda itu dalam gerakan cepat.
"Ayolah, kau hanya harus menyimpan tenagamu untuk bantu aku memasang kaca jendela yang kau pecahkan," balas Carlos hindari belati, tangan kanannya terangkat dan saat ia berbalik, Claire telah melompat di punggungnya. Bergelantungan dengan kedua kaki terjalin di pinggangnya. Kedua lengan Claire mencekik lehernya.
Oh, yang benar saja!
"Aku punya banyak energi, berkatmu!" ujar Claire gusar dengan napas pendek dan tersengal-sengal sebab kerahkan banyak tenaga menjepit leher besar Carlos. "Kau menggangguku, Tuan! Aku harus bertemu Jhon Horta hari ini! Kau mengacau!
"Salah siapa?" Carlos berputar-putar. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Tak mungkin hantamkan punggungnya ke dinding tanah sebab Claire mungkin akan terluka. Tangannya menahan tangan Claire kuat.
Carlos berlutut dan jika ia lakukan roll ke depan maka Claire akan terbanting di tanah dan gadis itu mungkin akan kesakitan. Namun, si gadis tak main-main eratkan kaitan di lehernya hingga Carlos susah bernapas. Carlos gunakan pukulan agak kuat pada tulang kaki Claire hingga gadis itu kesakitan dan leraikan jalinan kaki-kaki. Tangan Carlos kemudian menggenggam pergelangan tangan Claire hingga seluruh otot tubuhnya berkontraksi. Tak butuh banyak tenaga, dari desah napas dan erangan, ia tahu Claire kesakitan tetapi ia tak punya pilihan. Ia mundur ke dinding tanah hempaskan Claire di sana di atas tumpukan dedaunan menjalar.
"Aaaiiii (Aduh) ... " desis si gadis kesakitan. Claire lebih lihai memegang senjata dibanding Reinha tetapi ia tak pandai berkelahi. Reinha lebih pandai gunakan kaki dan tangannya.
"Skor-mu 6. Adik perempuanku 8 untuk pertarungan head to head," ujar Carlos, perhatikan si gadis yang kesakitan. Nyali adik perempuan Luciano ini benar-benar mencengangkan. "Biar aku lihat!" kata Carlos menyesal dan dekati Claire agak waspada lantaran menduga Claire akan menyerangnya. Tepat sekali. Claire kepalkan tangan hendak meninju wajahnya. Carlos menangkap gerakan tangan itu, cepat. Claire tak putus asa kembali mencoba dengan tangan lain. Tetapi tak juga cukup berhasil. Carlos pegangi kedua tangan Claire.
"Kau tampak putus asa!" ejek Carlos dan mendorong gadis itu kuat hingga terjatuh di atas tanaman-tanaman. Ia mengikuti Claire ke sana, sukai gerakan meronta gadis itu.
"Hei ... hei ... hei ..., apa yang akan kau lakukan?"
"Kamu tak pandai baca situasi?"
Carlos balik bertanya. Momen yang sangat tepat untuk ciptakan getaran sensual, waktu yang pas untuk berciuman. Carlos membungkuk dan menyandera bibir gadis di bawahnya tak peduli si gadis lebarkan mata padanya. Tak ada perlawanan sebab pergerakan gadis itu terkunci.
"Trims sudah datang!" ujar Carlos mengangkat wajah menatap intens raut di depannya yang menyipit padanya.
"Kau sengaja memancing aku kemari?"
Dua kata terakhir buyar sebelum hilang. Carlos kembali menyergap si gadis.
"Tak bisa menebak gelagat?" tanya Carlos sukai rasa cherry dari bibir si gadis, kembali menyesap dengan sentuhan lembut dan lambat. Lebih lama.
"Jadi, kau suka padaku?" tanya Claire menuduh.
"Ya." Kedipkan mata. "Apakah tidak boleh?"
Cukup terus terang dan tidak berbelit-belit, langsung pada sasaran.
"Tidak boleh," geleng Claire. "Aku punya banyak kekasih! Kau tahu, aku ahli bikin pria patah hati!"
"Begitukah?" tanya Carlos geli. "Gadis 18 tahun yang hebat!" ujar Carlos kembali bergelung, berikan kecupan ringan sebelum berbaring menentang langit di sisi Claire.
"Kau menciumku berkali-kali, jadi, kau akan menarik laporanmu. Kurasa itu juga cukup untuk mengganti rumahmu."
"Akan kupikirkan!"
"Kau pria baik-baik, mengapa kau berubah brengsek?"
"Pria brengsek lebih menarik. Mari kembali, aku harus memasang kaca mumpung aku dapat bala bantuan."
"Kakiku sakit," keluh Claire meringis. "Tolong pak Prajurit, aku hanya seorang warga sipil dan masih anak-anak!"
"Bangunlah! Jangan buat alasan! Anak-anak tak akan bikin banyak pria patah hati!" Carlos bangkit duduk ulurkan tangan pada Claire, menarik gadis itu bangun. Lantas membungkuk di depannya hendak memeriksa kaki si gadis.
"Tidak parah! Ayo, jangan pura-pura!" ujar Carlos ulurkan tangan. Claire menatap pria itu, tiba-tiba saja dengan gerakan cepat meninju wajah Carlos cukup keras.
"Oowwhh ... " jeritan itu memekik di tengah hutan. Claire kibaskan tangannya kesakitan. "Ya Tuhan, apakah wajahmu terbuat dari beton?"
"Bukankah aku yang harusnya kesakitan?"
Carlos meraih tangan Claire yang kesakitan, sedikit tiupan untuk kurangi sakit dan merengkuh si gadis ke dalam pelukannya.
"Mau makan malam denganku, Nona?"
***
Please ngirim vote ya ... Aku mencintaimu. Ini untuk readers yang minta dibikinkan chapter soal Claire dan Carlos. Semoga Suka. Misal ada, tipo, beritahu Author ya. Agar segera aku perbaiki.