
Lucky Luciano dan asisten setianya, Francis Blanco dalam perjalanan ke Pesisir Timur. Mereka menumpang kapal kargo memuat banyak bahan pangan, obat-obatan dan bantuan kemanusiaan jenis lain. Mereka akan temui Thomas Adolfus. Sementara itu, Carlos Adelberth lebih dulu bersiaga di tempat yang sudah ditentukan. Carlos bahkan bawa-bawa
Eurocopter Tiger, salah satu helikopter paling canggih di dunia yang memiliki rudal udara ke udara jarak pendek, dilengkapi roket peledak di beberapa sisi dan serenteng senapan mesin yang melekat di badan helikopter. Meskipun metode penyerangan diminimalisir untuk mencegah korban jiwa, tetapi Carlos ngotot harus bawa banyak senjata. Pria itu jelas akan ledakkan Pesisir Timur bila Oriana disakiti. Mereka akan menyamar termasuk
Carlos yang harus benar-benar menyaru agar tak mudah dikenali sebab dirinya adalah salah seorang prajurit yang populer.
"Francis, apa kau serius soal September?"
Francis terkejut sebelum mengangguk pasti.
"Ya, Bos."
Lautan luas bewarna biru kembalikan ingatannya pada siluet suram September saat ia akan pergi. Berharap cepat kembali dan September tidak berubah pikiran tentang "mereka" kemudian menghilang. Jika September lakukan itu, Francis tak punya pilihan selain biarkan September pergi dan berjanji tak akan mencari wanita itu meskipun ia sangat cintai Amora.
"Maafkan aku," ujar Lucky Luciano kelabu.
"Ini, salahku juga, Bos. Aku mendorong Anda untuk berkencan dengannya. Kupikir sejak awal, wanita itu cocok untuk Anda. Ternyata, aku memilihnya mungkin secara tak sadar karena aku tertarik padanya," sahut Francis menenggak soda, jujur pada dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan si bayi, Francis?" tanya Lucky. Ia punya bayi dengan September dan meski sepakat serahkan bayi itu pada Francis, Lucky tak bisa menolak fakta bahwa bayi itu puterinya.
"Amora Shine?"
Francis pegangi dada, ia rindukan Amora, ingin lihat bayi itu. Amora, datang tak diundang tetapi seakan ia bisa dengar detak jantung Amora di antara buih-buih ombak yang pecah di sisi kapal.
"Amora pasti akan secantik adik perempuan Anda, nona Claire."
"Atau secantik September," tambah Francis dalam hati. Apa yang wanita itu sedang lakukan? Francis pandangi Lucky Luciano yang tiga tahun lebih muda darinya tetapi sangat ia segani. "Bos, berjanjilah padaku, Anda tak akan mengambil Amora dariku."
Lucky menoleh pada Francis, naikkan alis. "Kau tak percaya padaku? Aku akan miliki banyak bayi dengan Enya. Mungkin saat usiaku sepertimu."
"Anda punya kekuasaan untuk merebut Amora," sahut Francis tampak ketakutan.
"Jika itu yang kau takutkan, kita bisa urus dokumen resmi agar Amora jadi Puterimu. Kuharap kau dan September bahagia, Francis."
Francis mengangguk. Lucky menepuk bahu Francis. "Mari fokus. Mari matangkan rencana jika kita ketahuan Thomas Adolfus."
"Aku harap militer tidak ikut campur sebab mereka akan tempatkan kita di situasi rumit. Selama tak ada yang merusuh, kita akan bawa Nona Oriana tanpa kendala dan tanpa permusuhan dengan Thomas."
"Carlos akan urusi bagiannya."
"Selamat siang Tuan-Tuan," sapa seorang pria tampak mirip salah seorang anak buah bajak laut dekati mereka dan menyela. Rambut berantakan dengan berewok banyak dan wajah bengis.
"Ya?!"
"Halo, Lucky Luciano, mata-mata pemerintah yang diselundupkan di dalam kapal barang ini," katanya menyeringai.
Lucky Luciano mengernyit sementara Francis bersiaga.
"Apakah tujuan kalian ke Pesisir Timur untuk dapatkan kebebasan? Angkat tanganmu sebab aku dari kejaksaan yang ditugaskan untuk membawa Lucky Luciano kembali ke penjara!" katanya todongkan pistol. Tangan satu keluarkan surat perintah penahanan berstempel. "Jangan lakukan gerakan mendadak atau Bos Anda, kutembak!" ancamnya saat baca gelagat Francis. "Membangkang padaku berarti Anda membangkang pada Negara dan hukuman Anda akan diperpanjang," ucapnya lagi dengan nada menyebalkan.
Lucky Luciano dan Francis saling bertatapan, berjalan dengan tangan terangkat di sisi tubuh. Mereka digiring sampai dalam ruangan makan dek paling atas kapal itu.
"Duduk di sana!" perintahnya sementara ia mengunci pintu ruangan.
Pria itu berdecak, sarung-kan senjata. "Senang Anda berdua bisa tertipu," ujar Carlos terkekeh geli.
"Kau di sini? Kau memang brengsek, Carlos." Lucky berdiri dan ayunkan tinju pada pria itu yang lantas berkelit, meremas kertas di tangannya dan lemparkan ke tempat sampah, kembali berdiri siaga saat lihat Lucky Luciano sepertinya butuh lampiaskan emosi. Lucky ayunkan satu tendangan dan Carlos menyingkir dari sana lompati kursi.
"Apa aku berhasil?"
"Ya, sangat! Kau tahu, aku senang jika dijemput kembali ke penjara, aku akan selundupkan istriku ke penjara dan bercinta dengannya tanpa peduli pada wanitamu yang hilang," keluh Lucky Luciano menahan tangannya di atas kursi lalu bersalto cepat dan saat ia tegak kembali dibawa serta kursinya ikut sebelum ayunkan sekuat tenaga memukul Carlos.
"Trims, kau masukan imajinasi liar soalmu dan Nona Reinha ke dalam pikiranku. Itu sesuatu yang sangat vulgar, Lucky Luciano! Tetapi aku tak keberatan membayangkannya," seru Carlos menangkis serangan kursi dengan posisi menyamping biarkan bentrok dengan salah satu lengan. Bunyi saat kursi menghantam badan Carlos cukup keras tetapi Carlos tampak biasa saja soal serangan itu.
"Oh tolonglah, imajinasikan saja dirimu dan kekasihmu, Carlos!" kata Lucky Luciano ayunkan satu pukulan keras. Francis berdecak lihat kedua manusia di hadapannya. Mereka akan duluan lemas sebelum hadapi musuh sungguhan.
"Baiklah, akan aku coba saat bertemu kekasihku. Aku akan melamarnya jadi kekasih sungguhan," keluh Carlos mundur dan balas adu pukulan.
"Jadi, kau sesumbar tentang kekasih padahal kalian belum resmi kencan?" Lucky menghindar menjauh ke sisi lain. Saat kembali menyerang Carlos menunggunya dengan dua pukulan cepat.
"Ya, sayangnya dia cemburu pada Irish." Carlos angkat kedua tangan, tak ingin lanjut.
"Banyak sekali wanita yang cemburui Irish Bella. Kurasa Irish tidak hanya bermasalah dengan para mafia," sahut Lucky mengatur napas, bercekak pinggang.
"Ia bersama Hellton Pascalito, kau kenal dia kan? Kalian satu kerajaan. Irish mencoba kabur darinya tetapi Hellton Pascalito membawanya dan sekarang menyekapnya di suatu tempat."
"Pascalito? Aku tak yakin Irish selamat jika pria itu ambil tindakan. Hellton sangat bar-bar dan primitif. Dia dijuluki Iblis di duniaku."
Carlos mengangguk rasa bersalah hantui dirinya karena tinggalkan Irish. "Jadi, kau kenal dia?"
"Yes, he is my soul brother, di Familly Club'. Aku yakin dia mencari Irish karena Irish menggangguku dan Diomanta. Aku tak akan bicara tentangnya. Kami harus loyal pada Pascalito."
"Bawa aku padanya setelah urusan kita beres."
"Tidak, kau harus temukan dia sendiri. Pria itu tak suka ditemukan. Ia akan muncul sendiri sesuai kehendak pribadi."
Mereka habiskan waktu mengobrol hal ringan, tidak ingin bahas strategi atau apapun. Dua puluh delapan jam mereka sampai di dermaga Pesisir Timur. Lucky telah kirimkan pesan lewat ponsel khusus kabari Thomas kedatangannya. Jadi, sebuah mobil menunggu di dermaga. Perjalanan membelah belantara dimulai. Salah satu hutan terluas di negara ini dan perjalanan mereka berhenti setelah 4 jam, berganti gunakan pesawat terbang kecil.
Thomas Adolfus menunggu di bandara di sebuah puncak pegunungan. Begitu gembira saat melihat Lucky Luciano.
"Lucky Luciano, ku sangka kau akan ditembak mati oleh pemerintah yang kau agung-agungkan," sapanya saat Lucky lepaskan kaca mata, melangkah seperti seorang gangster sejati dan wajah tampannya dibiarkan dipenuhi janggut tipis sedang Francis dan Carlos ikut dari belakang.
"Kau tahu, aku menikahi seorang wanita kelas atas dan istriku sangat memujaku. Ia relakan hartanya habis untuk menebus aku dari penjara," sahut Lucky adu tinju pada Thomas.
"Tuan Adolfus, baik," jawab Francis.
"Jika kau tak berminat lagi pada Lucky Luciano, kau bisa datang padaku. Aku akan beri kau harta, tahta dan seorang istri yang setia," kata Thomas lagi pada Francis.
"Tentu saja, akan aku pertimbangkan!" sahut Francis datar tanpa ekspresi seperti biasa ia terlihat. Muka datar tetapi ia sedang berpikir. Apakah ia terlihat inginkan kehidupan lain sementara Amora yang terbaring dalam inkubator mencuri seluruh isi otaknya?
"Dan ini Alberth Costello. Dia salah seorang terdekatku," tambah Lucky Luciano perkenalkan Carlos.
"Tuan Alberth Costello, welcome home."
"Tuan Adolfus, senang berjumpa Anda," sapa Carlos bermetamorfosis sempurna kelabui Adolfus.
Thomas mengangguk-angguk amati Alberth dengan bersahabat. Awal yang bagus pikir Lucky Luciano.
"Apa istrimu tahu Anda kemari, Tuan Luciano?"
Mereka melangkah menuju mobil sedang banyak pengawal bersenjata Laras panjang berjaga-jaga. Francis beri kode bahwa mereka di kelilingi sniper. Untungnya mereka tak bawa senjata.
"Ya, aku katakan akan mengirim bantuan sosial. Istriku punya hati yang lembut dan saat aku ceritakan kondisimu, ia ikut gelontorkan uang dan mengirim salam untukmu," sahut Lucky kedipkan mata berharap Thomas percaya. Ya, memang Thomas Adolfus percaya melihat banyak sandang, pangan, obat-obatan yang dibawa Lucky Luciano.
"Terima kasih atas bantuannya. Para istriku telah siapkan pesta penyambutan untukmu, Tuan Lucky. Ini kebetulan juga dengan pengangkatan Puteri sulung-ku sebagai ketua suku yang baru," kata Thomas. "Jika saja kau belum punya istri, aku harap kau bisa tinggal bersama kami di sini, menikah dengan salah satu Puteriku."
Lucky berdecak dalam hati. Apakah Reinha Durante adalah seorang malaikat sungguhan? Gadis itu punya imajinasi yang terlalu bagus. Ia bisa menebak otak seorang Thomas dengan benar. Luar biasa gadis itu. Lucky juga tak perlu ajari Reinha cara bercinta, Reinha punya gaya sendiri yang buat dirinya mendidih dan meluap-luap. Aakkkhhh, ia rindukan gadis itu. Apakah Reinha akan bersiap pergi olimpiade? Apakah Reinha rindukan dirinya di antara angka-angka dan rumus kimia? Kekasihnya ... saat Lucky kancingkan seragam, pakaikan dasi dan mengikat rambut Reinha; sumpah demi kehidupan, Lucky Luciano rindukan Reinha Durante hingga ke tulang-tulangnya.
"Sayangnya aku penganut monogami setelah pernikahan, Thomas."
"Ya ya ya, aku dengar soal gangster pecinta wanita yang takluk pada seorang gadis remaja. Reputasi burukmu berakhir," kekeh Thomas geli.
"Kau tahu, menikahi wanita terhormat untuk tutupi keburukkanmu sangat layak untuk dijalani," kata Lucky terdengar meyakinkan. Jika Reinha dengar ucapan barusan, ia yakin gadis itu akan lubangi keningnya dengan Barret M-82.
"Kau benar, teruslah berhubungan denganku. Aku butuh banyak senjata untuk melawan kediktatoran. Kau tahu bahwa, tanah kami ini dipenuhi sumber daya alam. Pemerintah mengeruk dari kami untuk hidupi kroni-kroninya. Kau lihat apa yang terjadi pada kami Tuan? Kerusakan hutan, pembalakan liar dan eksploitasi penambangan. Apa jadinya kami dalam 10 tahun ke depan?"
Lucky hanya mengangguk-angguk menyimak. Mereka naik mobil lewati jalanan berkerikil dan berbatu. Mobil dikemudikan oleh seorang wanita sepertinya salah satu Puteri Thomas.
"Aku lihat berita di televisi, operasi militer terjadi di perbatasan beberapa waktu lalu?"
"Ya, pasukan intelijen-ku menculik seorang reporter. Ia menulis artikel bodoh tentang kegiatanku. Jadi, aku perintahkan untuk menculiknya dan mengajaknya berkeliling belantara untuk hentikan ocehan bodohnya."
"Pria bodoh," sahut Lucky.
"Bukan pria seorang wanita yang sangat cantik. Jika saja aku tak takut dibunuh 32 istriku aku telah menikahinya untuk jadi istriku yang ke 33. Dia sangat cantik dan kudengar dia kekasih Carlos Adelberth."
"Kau tak takut, Carlos akan datang padamu?"
"Aku tak takut, aku sangat ingin membunuh Carlos Adelberth," katanya antusias. "Pria itu tak begitu hebat seperti yang kita lihat. Aku yakin dia hanya seorang pecundang."
"Ya aku juga yakin, dia hanya seorang pecundang idiot," sahut Lucky Luciano tekankan kata pecundang dan tersenyum di spion pada Carlos yang menatapnya tajam.
"Apa kau punya senjata terbaru?" tanya Thomas alihkan percakapan.
Lucky tersenyum. "Kau tahu bahwa kami terkena razia di perbatasan dan barang bawaan-ku disita. Tapi, aku berhasil selamatkan beberapa."
Thomas kegirangan. "Tak masalah, itu lebih dari cukup. Kau memang sangat pengertian padaku."
"Lebih dari itu aku bawakanmu scotch dan rum, kesukaanmu," tambah Lucky lagi.
Mereka sampai di sebuah desa di antara rerimbunan pohon-pohon raksasa. Orang-orang yang tinggal di rumah-rumah komunal yang besar di sisi setapak, melongok saat mobil mereka lewat. Lucky tahu bahwa deretan perumahan itu adalah rumah istri-istri Thomas Adolfus.
"Ayah," sambut seorang gadis muda dengan banyak gantungan emas berukir di lehernya.
"Ratruitanae, Puteri sulung-ku. Dia adalah seseorang yang akan gantikan aku. Ratrui, Ini tamu kita, Lucky Luciano dan asistennya."
"Ya, aku kenal beliau Ayah. Tuan Lucky terkenal sangat dermawan dan dia punya banyak wanita seperti Ayah," sahut sang Puteri terdengar sarkas. Entah siapa yang ia serang Lucky Luciano atau ayahnya.
"Aku tersanjung, Anda mengenalku, Nona."
"Aku pikir Anda harusnya di penjara," kata Ratruitanae dengan nada curiga. "Tapi aku yakin kau lakukan praktik suap agar bisa bebas."
"Anda benar, Nona! Insting Anda sungguh luar biasa."
"Kau tak pernah bertemu dengannya saat berkunjung kemari Lucky, sebab Puteriku adalah seorang ahli Geologi sampai aku memanggilnya kembali." kata Thomas perkenalkan puterinya dengan bangga.
"Ooopss, itu luar biasa," puji Lucky Luciano.
"Cataleia, bawa tamu kita ke ruang perjamuan dan layani mereka dengan baik."
"Tentu, Ayah," sahut gadis lain yang jadi sopir mereka tadi.
"Ini Puteriku yang lain dan dia seorang arkeolog. Dia adalah anggrek hitam dari hutan ini, Cataleia."
Lucky mengangguk beri salam pada Cataleia.
"Tiap melihatnya, aku berharap Cataleia berjodoh dengan Anda, Tuan Lucky Luciano," ujar Thomas dan Cataleia menatap sang Ayah tajam.
Lucky kerutkan kening, sebaiknya ia tidak makan minum di tempat ini. Aromanya Thomas benar-benar inginkan dia sebagai suami untuk salah satu puterinya.
***
Wait Me Up ....
Ada banyak chapter hari ini termasuk hati yang tersakiti....