Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 36 Romantisme Konyol ....



"Apa perjodohanmu berjalan lancar, Kak?" tanya Reinha skeptis.


Reinha berdiri di ambang pintu ruang makan memandang ingin tahu, bergantian pada Elgio dan Tuan Abner, tetapi tak mendapat respon balik. Kedua pria itu duduk kaku dengan pikiran masing-masing.


"Apakah perlu mengundang mereka ke Durante Land sedang mereka adalah sekomplot pembunuh berdarah dingin? Kakak juga telah 'menikahi' Marya? Kalian berdua sungguh aneh."


Reinha kembali bertanya lalu manyunkan bibir jengkel saat dua pria di meja makan tak jauh beda dengan patung hidup. Entah ke mana angan-angan mereka melayang?


"Well, aku harus mandi. Kelas Muay Thai benar-benar melelahkan dan membakar kalori lebih dari perkiraanku," tambahnya semakin menekuk wajah.


Apa mereka tersambet sesuatu? Baik Tuan Abner maupun Elgio tampak seperti mati suri. Mungkin keluarga Diomanta membuat mood keduanya buruk. Tentu saja, duduk satu meja makan saling melempar senyum pada keluarga yang telah membunuh orang tua mereka, bukankah agak tidak wajar? Namun setelah diperhatikan baik-baik, keduanya seperti sedang lakukan aksi perang dingin, tumben. Biasanya mereka berdua naik bus yang sama meskipun sering berlawanan jalur. Reinha mengangkat bahu.


"Aku pergi sekarang. Aku seperti bicara pada tembok saja," katanya lebih lanjut segera menyingkir, tidak ingin mengganggu ketentraman berpikir keduanya.


"Kau tidak makan malam?" tanya Elgio tiba-tiba siuman dari lamunan lelap langsung hentikan langkah kaki Reinha.


"Hmm ... syukurlah Kakak sudah sadar. Kupikir kalian berdua akan mematung disitu sampai pagi layaknya prajurit Terakota. Aku akan makan nanti bersama Marya Corazon. Aku yakin ia belum makan malam lantaran selera makannya pasti rusak mengetahui kekasih pujaan hati dijodohkan dengan adik tirinya oleh ibunya sendiri. Jika aku jadi Marya, wajahmu sudah kucakar."


"Berhenti bawel, Enya! Kepalaku sedang sibuk berpikir."


Reinha tersenyum lebar, "Itu bagus. Semakin sering otak kiri bekerja, kau akan semakin jenius dan susah dihipnotis. Aku pergi!"


Reinha menaiki tangga cepat seraya melambai sebelum menghilang. Terdengar samar bunyi pintu kamarnya ditutup dari dalam.


"Apakah kau mengencani Sunny?"


Elgio bertanya setelah berdiam cukup lama. Abner tak seperti biasa, pria itu yang biasanya huru-hara kedapatan melamun sangat serius. Perubahan drastis Abner sedikit menakutkan. Abner seorang pria plegmatis yang tidak suka mencari musuh dan mencintai ketenangan dengan selera humor agak garing. Sunny Diomanta sedikit banyak telah mengacaukan Abner.


"Hmmm ...."


"Kau tak jatuh cinta padanya, kan?"


"Hmmm ...."


"Abner?!"


"Berhenti ingin tahu urusanku! Pikirkan dirimu sendiri."


"Demi Tuhan, aku peduli padamu! Kau ini ... lagipula kau yakin Sunny tak mencuri data perusahaan darimu?"


"Aku tidak seceroboh itu, Elgio. Aih wanita bodoh itu, aku hampir saja membawanya ke apartemenku. Untung saja aku tidak tidur dengannya."


Elgio berdecak, "Bukankah kau pria berprinsip?"


"Hmmm ... beruntung. Aku menyukainya. Wanita itu temperamental dan superior. Ia bahkan bisa menaklukkan apa saja jika sudah bulatkan tekad. Ia punya orientasi jelas dan terarah, aku terjebak pada sikapnya." Ia manggut-manggut menyesal.


Elgio mendelik. Kening bertautan, "Aku tak suka punya Ibu wali seperti Sunny. Kau bisa berhenti sekarang! Meskipun kalian terlihat serasi. Jiwa plegmatismu mungkin bisa meredam watak dinamisnya, memberi kestabilan dan keseimbangan tetapi aku tak menyukainya. Tolong, jangan sampai kau menyesal."


"Ya, kau benar. Mari kita fokus pada hal yang lebih penting. Aku masih heran, situasi kita ini terlalu tenang seperti buaian sebelum terjadi badai besar?"


"Kau menyerempet ke Lucky Luciano? Dia mungkin sibuk menggoda istri orang dan memelihara janda terlantar. Biarkan saja," sahut Elgio sinis.


"Aku pikir ... Nona Reinha melindungimu dengan baik!"


"Jaga saja Enya! Kau tahu Enya sangat kritis dan frontal. Jangan sampai Lucky mendekatinya."


"Augusto mengawasi Nona Reinha, jangan kuatir!" Hela napas Abner berat. Di usia menjelang kepala tiga, ia seperti ibu asrama harus mengurusi remaja-remaja ini. Belum apa-apa pinggangnya sudah encok. Jangan sampai menua sebelum menikah. Tak ada pernikahan. Mungkin ia adalah reinkarnasi salah satu Kasim dari Dinasti Joseon.


"Mari kita pikirkan tentangmu dan Nona Marya. Aku akan mengatur pernikahan kalian secepat mungkin. Entah mengapa, aku punya firasat aneh bahwa Salsa Diomanta mungkin sedang merencanakan sesuatu."


"Baiklah ... kami akan ke Bali setelah menikah dan akan bertemu Tuan Nakamura sesuai jadwal," jawab Elgio cepat tak menahan luapan bahagia. Ia berusaha biasa saja walaupun kerlap-kerlip sukacita mulai merambati wajahnya. Membayangkan Bali dan berdua dengan Marya membuatnya gembira.


"Jangan harap bisa berduaan saja dengannya, Elgio," seru Abner merusak khayalan Elgio. "Kau bisa buat Nona Marya melendung saat ia baru sehari duduk di tingkat tiga." Abner menggeleng ngeri.


"Abner, aku ingin memasangi rel resleting pada mulutmu itu dan menggemboknya! Kadang mulutmu lebih cepat dari otakmu," sahut Elgio sunggingkan senyum kesal. "Kami akan 'melakukannya' saat usianya 21 tahun."


Kejujuran Elgio membuat Abner terkekeh geli. Mana ada suami istri bertahan terhadap guncangan asmara yang mendera? Ia mendadak makan hati ketika Elgio mengejeknya.


"Jadi, aku bisa belajar banyak darimu, cara naik ran ...."


"Kau tak menengok Nona Marya? Ia mungkin sedang berduka saat ini," potong Abner melipat tangan dan menengadah memandang langit-langit rumah, tak mau menanggapi celotehan konyol Elgio. Ia nyaris pergi ke sana dengan Sunny.


"Aku akan memeriksanya. Kau diijinkan lubangi atap rumah. Kau juga diijinkan ratapi kisah cintamu yang tragis di perkebunan murbei. Jangan coba mengintipku! Aku akan melemparmu dengan tutupan panci jika kau berani maju 5 langkah ke arah dapur."


"Jangan berbuat mesum di dapur, Elgio!"


Elgio meringis sebelum meninju lengan Abner keras hingga pria itu terdorong dari duduknya dan nyaris terjungkal ke lantai. Ia berdiri puas lalu pergi ke dapur tinggalkan Abner yang kesakitan. Abner kembali berselonjor di kursinya duduk, kembali ke langit rumah seolah dapat mengakses profil Sunny Diomanta di sana. Ia menggerutu tidak jelas. Beruntung mereka belum mencapai level romantisme konyol. Ia mungkin lebih berbahaya dari Elgio Durante.


Sementara di dapur ....


Marya sedang sibuk merapikan meja yang sudah licin. Gadis itu menggosok meja kaca di ruang dapur dua kali lebih keras dan kuat dengan gerakan cepat seakan si meja ternoda sesuatu yang susah hilang. Ia kemudian menghadap westafel dan membereskan perkakas kotor, mencepur piring berulang kali lalu mengeringkannya. Ia membasahi panci, melumuri sabun dan menggosok sekuat tenaga sedang Bibi Maribel berdiri tak jauh darinya ..., memantau prihatin. Marya sedang mengalihkan amarahnya.


Ketika melihat Elgio, Bibi Maribel menggeleng sedih dan Elgio langsung mengerti kondisi Marya. Elgio mengirim isyarat agar Bibi Maribel pergi dan ia akan mengurus Marya.


"Mau kubantu?!" tanya Elgio sembari mendekat dari arah belakang, menggulung kemeja hingga sebatas lengan. Marya menggelung habis rambut di puncak kepala, sisakan beberapa helai berjatuhan dramatis di pelipis dan biarkan leher jenjangnya terhampar indah. Mata Elgio menyipit oleh desakan aneh dalam dirinya.


Seperti sebuah lirik lagu ....


Kau begitu seadanya tetapi bergetar sendu hati ini.


Persis itu. Ia selalu bergetar melihat Marya.


"Aku hampir selesai, Elgio. Ini lumayan kotor, aku harus menyikatnya lebih keras," ujar Marya terdengar getir dan masih menggosok panci yang sudah kinclong berulang kali. Air pancuran di bak westafel menyala dan suara gesek kawat penggosok panci menyakiti pendengaran tetapi Marya tidak terganggu. Tubuh itu refleksikan pikirannya, tak bisa dibohongi. Gadis itu mengalami ayunan emosi secara ekstrim.


"Marya ...."


"Kau butuh sesuatu? Aku akan siapkan, hanya saja tunggulah sampai aku selesai dengan panci ini," sahut Marya lirih.


"Are you okay, honey?"


"Apa kamu ingin makan sesuatu?" Sekarang nada suaranya bergetar membendung tangis. Ia menggosok panci makin keras dan cepat.


"Hei?! Berhentilah lakukan itu, Marya!"


"Ya Tuhan, kenapa panci ini susah sekali mengkilap ya?" Ia bicara lamat setengah putus asa sebelum mengalah. Ia terisak memandangi panci. Bahunya berguncang. Ia telah berhenti menangis tetapi ketika melihat Elgio, ia kembali nelangsa.


"Aruhi ...."


"Menjengkelkan karena aku tak tahu kenapa Ibu meninggalkanku? Mengapa Ibu hanya bisa melihatku menangis tanpa bisa menolongku? Mengapa Ibu sangat membenciku? Aku tak pernah minta dilahirkan olehnya. Bukankah ini tidak adil?"


Emosi Marya meledak, ia melempar alat penggosok panci ke dasar westafel. Elgio memeluknya makin erat.


"Bagaimana bisa Ibu lakukan ini padaku?! Aku tak tahu mengapa aku sangat merindukannya bukan membencinya? Ya Tuhan, ini sungguh buruk. Aku ampuni semua kesalahannya padaku ... pada Ayah ... tetapi itu macamnya tak berarti apa-apa. Ibu tak terganggu telah menyebabkan penderitaan padaku. Aku harus bagaimana?"


Benak Elgio berkecamuk pedih. Sentakan halus memaksa gadis itu memutar padanya dan ia memeluk Marya. Sepertinya Marya telah menangis sejak tadi. Mata itu bengkak dan hidung imutnya memerah seolah semua darah berkumpul di pucuk hidung.


Hasrat mendambakan Ibu yang dirasakannya begitu menggebu diawal dibalas dengan menelan sekaleng tuba.


Aruhi mengakhiri kebencian lebih cepat dan menggantikannya dengan harapan indah. Ia meyakini dan bahkan menantikan sesuatu yang indah ... setidaknya ... Ibu merindukannya juga. Jika rindu terlalu berlebihan, cukup mencari tahu keberadaanya saja. Atau jika menemukannya juga terlalu berlebihan paling tidak Ibu cukup mengingatnya saja. Kenyataan, ia menggenggam harapan kosong.


"Tidak bisakah ia mencintaiku seperti ia mencintai adik tiriku itu? Aku bahkan tak pernah menghardik marah pada Ibu. Mengapa Ibu tega padaku? Ia bahkan berusaha membuatmu pergi pada adikku. Aku benar-benar tak ada dalam ingatannya."


Ia menyembur penuh amarah di dada Elgio dan menangis putus asa di sana. Paras cantik itu berlumur air mata. Mungkinkah akar permasalahan dari kondisi tidak stabil Aruhi berpusat pada Ibunya? Jika Salsa datang, memohon maaf pada Aruhi dan mengasihinya, maka penderitaan Aruhi mungkin akan berakhir. Adakah jalan lain?!


"Apakah aku tidak cukup untukmu?" tanya Elgio lirih. Ia mengangkat wajah Marya dan menatapnya lembut. "Aku bisa jadi siapapun yang kamu inginkan. Ayahmu, kakakmu, kekasihmu, sahabatmu bahkan aku bisa jadi Ibu bagimu... kau masih butuh Ibumu? Aku bisa mencurahkanmu kasih sayang, cinta, waktu dan seluruh perhatianku padamu. Bisakah kau hanya melihat padaku saja dan melupakan Ibumu?"


Marya menatap sendu, Elgio benar. Tidak ada untungnya menginginkan Ibu setelah semua kepedihan yang ditimbulkan Ibu padanya. Elgio melakukan banyak keputusan baik dan secara mendalam telah mencungkil satu-persatu kepedihan di dalam jiwanya. Bukankah Ibu hanyalah sosok antagonis yang sangat kejam dan tidak butuh dikenang? Mengapa Marya jadi bersandar pada Ibu? Mari singkirkan Ibu dan hidup dengan baik. Bukankah itu balas dendam terbaik? Terbersit untuk jadi gadis hebat melampaui Arumi dan menaklukan dunia.


Mata mereka hanya saling mengamati dan pergumulan terurai di mata cokelat terang Marya. Tidak mudah melupakan wanita itu, tetapi tidak berdosa jika ia berhenti mengingatnya.


"Berhentilah menangis! Kau mencintaiku bukan?" tanya Elgio emosional. "Bisakah aku cukup untukmu?"


Pria itu menunggu jawaban sembari mengusap air mata yang bergulir. Marya mengangguk dengan wajah basah. Ia menyingkirkan Ibu dari pikirannya, sekali lagi, meyakinkan diri ia hanya butuh Elgio untuk melanjutkan hidup. Ia bisa hidup tanpa Ibu, itu sudah berjalan selama 17 tahun. Ibu hanyalah sebuah sosok ilusi.


"Kau benar. Aku tidak punya Ibu sejak hari ini sampai aku mati. Aku tak akan peduli lagi padanya. Aku tak butuh Ibu, kau yang kuinginkan. Aku hanya membutuhkanmu."


Marya mengaitkan jemarinya di leher Elgio dan menarik pria itu turun padanya. Ia menyentuh Elgio di antara isak halus yang tertinggal, biarkan Elgio merengkuh kerapuhan. Mereka akan bersama selalu selamanya dan menjaga cinta, Ibu tak penting. Elgio menarik Marya merapat padanya, menelusuri gadis itu, berbagi semua emosi yang terperangkap dalam dadanya. Ciuman hangat mendalam mengandung kekuatan cinta sejati.


"Jika kau belum menemukanku, apakah kau akan menyukai Arumi? Dia sangat cantik."


Elgio mengusap bekas lelehan air mata di wajah indah itu. Marya seperti senja sungguhan, berpendar-pendar dengan cantik di ujung cakrawala menutup hari yang cerah dan menghipnotis mata yang memujanya.


"Kebetulan kau membahas ini ... jika kembali masuk sekolah, jangan coba-coba mengerling pada Ethan Sanchez! Aku tidak menyukainya sama sekali."


"Ya Tuhan, Kakak. Kau kedengaran overposesif. That's no good."


Reinha muncul di dapur dengan wangi segar Jasmine yang langsung menebar ke seluruh penjuru dapur. Elgio menghembuskan angin dari mulutnya oleh gangguan Reinha.


"Oops, maaf aku interupsi kencanmu. Aku kelaparan. Kurasa Marya juga. Ciumanmu tak akan membuatnya kenyang. Kau boleh pergi, kami akan makan sesuatu dan bersenang-senang," usir Reinha membuat Elgio jengkel. Ia melerai pelukan pada Marya, tak ingin melepasnya.


"Kau bekerja di mana? Kirimkan padaku alamat kantormu!" kata Elgio tiba-tiba tidak ingin pergi dari sana. Lagipula ia harus tahu kejelasan kerja Reinha.


"Eh - oh -eh, itu?!" Reinha kelabakan. "Aku bekerja di Outlet Fashion di bagian marketing."


"Umm, baiklah. Aku akan mampir. Kirimkan alamatmu."


"Oh, ti, ti-dak perlu, Kak. Bukannya kau sangat sibuk?" Reinha kembali gagap.


"Mengapa?"


"Ummm ... kami menjual bikini dan pakaian dalam wanita," jawab Reinha asal-asalan.


"Mengapa aku merasa kau berbohong?"


Elgio menatapnya tajam. Reinha tidak pernah berbohong, jadi ketika gadis itu melakukannya, ia malah cenderung kepergok sedang berbohong.


"Aku akan panggil Augusto. Kau tahu jika kau berani berbohong?"


"A, a-kuuuu ... sebenarnya aku bekerja di toko buku The Windows. Tuan Lucas Gustav pemiliknya," aku Reinha akhirnya.


"Enya?!"


"Maaf, aku menyukai buku. Aku takut Kakak marah."


"Jadi kau berbohong?"


"Maafkan, aku!"


Reinha menunduk gelisah tak sanggup melihat tatapan meradang Elgio.


"Apa di sana ada banyak buku bacaan yang bagus?" tanya Marya pelan. Ia mengirim pesan pada Elgio agar berhenti bertanya pada Reinha yang mulai ketakutan.


"Ya, banyak. The Windows bahkan punya buku dari tahun 1930-an."


"Benarkah? Bolehkah aku mampir ke sana? Pasti menyenangkan."


"Tentu saja. Aku jamin, kau akan membuat Kakakku kesal karena tak ingin pulang ke rumah." Reinha mengerling jenaka melirik Elgio yang memperhatikan mereka berdua. "Buku apa yang kau suka?"


Mereka berdua duduk di ruang makan dan Marya menyiapkan makan malam. Sementara Elgio mengamati kedua gadis itu.


"Semua buku."


"Apakah kebetulan kamu menyukai prosa?" tanya Reinha terlihat senang punya teman yang searah.


"Ya, aku menyukai prosa dan aku suka novel Victor Hugo."


"The Hunchback Of Notre Dame?" Reinha bersemangat. Ia menarik piring dan terlihat tidak ingin makan saking antusias pada Marya.


"Kau juga menyukainya?" tanya Marya penuh minat.


"Sangat."


"Alur ceritanya menarik dan tragis. Esmerelda, wanita cantik yang malang. Ia dituduh melakukan kejahatan yang mengerikan, dan Quasimodo, si bungkuk eponymous. Aku menyukainya."


"Aku rasa Hugo punya tujuan lain dari menulis novel ini."


Elgio melengkung senyum melihat Marya yang teralihkan, merancang kencan dramatis di toko buku. Reinha dan Marya begitu manis dan keduanya adalah hartanya yang berharga.


"Apa kau akan mematung di sana sementara kami makan, Kak?"


***


Well, selamat membaca. Emmm, tiga chapter ini Author sebutnya, ketenangan sebelum badai....