Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 129 Ups, Broken Again ....



"Maribel, kurasa aku tak bisa menyerah padamu."


Hansel Adelio memaksa bertemu dan ketika Maribella menolak, pria itu datangi rumah. Hansel tak akan pergi dari sana sebelum tahu alasan jelas mengapa mereka akhiri kencan lebih cepat. Keputusan Maribella kemarin sama sekali tak buat ia cepat puas.


"Aku tahu mungkin aku tak sempurna, Maribella. Tetapi kita bahkan belum mulai mencoba."


Hansel menangkup jemari mungil Maribella yang terkulai di atas meja.


Maribella amati balutan tangan itu merasa sangat ganjil. Tanpa membuat Hansel tersinggung, Maribella menarik tangannya perlahan lalu sembunyikan di atas pangkuan. Berbeda saat Abner menyentuhnya, terasa wajar dan terasa benar. Sentuhan Abner buatnya merasa nyaman dan ingin terus bersama pria itu.


"Hansel ... " sahut Maribella menatap Hansel Adelio dan berujar, "kurasa aku tak ingin menjalin hubungan dalam waktu dekat dengan siapapun. Aku minta maaf dan aku mohon maklumi aku."


Mereka berhadapan di sebuah kafe di perempatan menuju Broken Boulivard. Hansel menatap Maribella penuh harap. Ia melihat Maribella pertama kali saat Maribella mendaftar sebagai muridnya di kelas pastry. Maribella begitu lincah dan cekatan, sangat lihai di antara pantry. Terlepas dari itu, Hansel jatuh cinta pada sorot mata halus dan lembut Maribella. Wanita itu seperti puff cream, smooth dan sweet. Maribella juga seperti toping dessert yang lezat, icing sugar dan chocolatier, sangat-sangat menggugah hatinya.


"Apa Tuan Abner buatmu terluka?" tanya Hansel ragu-ragu amati Maribella tampak sendu dan lelah. "Kau terlihat seperti Bolu gagal karena kekurangan ovalet saat pikirkan pendapat Tuan Abner. Apa makananmu tidak buat Tuan Abner puas?" Hansel menggoda Maribella agar tersenyum.


Candaan itu berhasil buat bibir Maribella melengkung sedikit. Maribella baru tahu perasaannya belum sampai 72 jam dan ia merasa kesakitan dalam kurun waktu itu. Jadi, Maribella putuskan untuk tidak menjalin hubungan serius. Namun, bicarakan Abner dengan Hansel bukan sesuatu yang bijak. Bagaimanapun, Hansel tetaplah orang asing dan Abner adalah keluarganya.


"Tidak, aku hanya merasa sangat terganggu dengan sebuah hubungan. Aku butuh waktu pulihkan diriku sendiri." Maribella berpikir sebaiknya ia beri jeda bagi otaknya untuk berpikir dan beri waktu bagi hati untuk pulih. Intinya ia ingin jernihkan diri sendiri.


"Baiklah, boleh kita berteman?" tanya Hansel berharap.


"Tentu saja," jawab Maribella tersenyum lebar. "Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Hansel Adelio."


Hansel mengangguk balas tersenyum sementara hari mulai menggelap. Maribella harus segera pulang karena harus persiapkan makan malam. Ia akan mulai ajari Natalea, istri Augusto, memasak. Di waktu bersamaan ia ingin hindari rumah. Namun, ia akan sangat tersiksa jika jauh dari Marya yang sedang hamil muda dan Reinha yang bersedih ditinggal suami.


"Kau tahu, aku ingin kau bertemu keluargaku terlebih Ibuku. Aku ceritakan padanya tentang keahlian memasak-mu dan beliau sangat terpukau. Bergabunglah bersama kami di akhir pekan Maribella. Adik-adikku berkunjung dari luar kota dan aku senang jika kau bisa temani aku nanti."


Maribella menatap Hansel yang terus berharap padanya. Hansel terlihat sangat penyayang wanita. Jika Hansel bersedia menunggu hatinya pulih, Maribella berharap mungkin temukan dirinya ingin bersama Hansel. Tetapi, ia tak bisa utarakan keinginan agar Hansel menunggunya. Ia tidak ingin Hansel menaruh banyak harapan.


"Aku sangat tersanjung. Jika aku tak berhalangan, aku akan ikut denganmu, Hansel. Tetapi berjanjilah, kau tak boleh anggap aku lebih dari temanmu. Aku tak ingin ada hubungan istimewa saat ini."


"Aku mengerti Maribella. Kau butuh pulihkan dirimu sendiri," tambah Hansel tersenyum ulangi pernyataan Maribella. "Hari hampir gelap, mau kuantar pulang?"


Dua orang itu terlihat bercakap-cakap dengan akrab tak sadari mobil Elgio Durante yang akan kembali ke rumah, berhenti di persimpangan terkendala lampu merah. Mata tajam Elgio berhasil menangkap Maribella duduk bersama Hansel di sebuah kafe.


"Aku melihat pemandangan yang sangat bagus sore ini, Maribella kita bersama Hansel Adelio di kafe. Mereka tampak sangat dekat dan harmonis," kata Elgio runcingkan keadaan, mengangguk ke arah kafe. Abner spontan menoleh ikuti anggukan Elgio Durante dan mendesah jengkel, pegangi tengkuknya kemudian kembali perhatikan Maribella yang tampak tersenyum lebar pada Hansel.


"Kau tahu Abner ..., pagi-pagi tadi ..., Maribella pergi ke apartemenmu. Ia tinggalkan kami untuk sarapan denganmu."


"Ya, kami janjian untuk mulai kencan," sahut Abner gundah gulana.


"Lalu? Ia kembali sangat cepat dan tampak terus bersedih, Abner! Apa kau bersama Luna?" Elgio menebak dan saat Abner hanya pegangi setir erat, Elgio berdecak. "Ya Tuhan, aku tak percaya, kau sangat playboy."


"Terus saja memancing Elgio, pasang umpanmu dan gulung pancinganmu, kau hampir berhasil menangkap hiu merah," kata Abner gusar. "Kau terus berasumsi, beropini tentang aku, itu sangat mengganggu karena tak ada satupun yang benar, Bocah!"


"Itu karena kau seperti pria yang tak aku kenal, Abner. Kau jatuh cinta dan berkencan dalam beberapa hari ini, aku perhatikan kau seperti pria yang berbeda bukan lagi sahabatku. Kau berubah kasar, pemarah dan meledak-ledak. Kau butuh ahli saraf," omel Elgio terdengar separuh mengejek.


"Hentikan!"


"Beritahu aku, apa yang terjadi, aku bisa menolongmu Abner Luiz!" desak Elgio ketika menengok Abner semakin muram saat dapati Hansel pegangi tangan Maribella.


"Luna mabuk dan datang ke apartemenku. Kami tak tidur bersama! Demi Tuhan, aku hanya ingin bersama Maribella. Tetapi sepertinya Maribella melihat Luna pagi tadi dan Luna memprovokasi Maribella. Wanita itu pergi ke kamarku saat aku sedang mandi, mencuri kemejaku, berpenampilan seksi dan aku yakin dia mengoles gincu di pahanya untuk buat Maribella berpikir aku lakukan itu dengan Luna. Maribella-mu yang polos menelan bulat-bulat umpan Luna. Kau tebak saja apa yang terjadi selanjutnya? Sama seperti siang tadi. Aku yakin Luna sengaja lakukan hal yang tidak-tidak agar Maribella melihat kami sedang bermesraan."


Abner bicara berapi-api dan ia terlihat ingin meledak karena depresi.


Elgio menyerah pada pria di sampingnya. "Kuharap kau tak sakiti Maribella. Kau tahu bahwa kau akan di-kudeta oleh Marya dan Enya saat kau lakukan itu. Aku tak bisa bayangkan apa yang nanti terjadi padamu."


"Aku tak bisa bersama Maribella jika kepercayaannya padaku setipis kertas basah. Biarkan saja untuk saat ini. Jika, aku paksakan kehendak, aku mungkin akan menyakitinya."


"Jadi, kau akan biarkan Maribella pergi dengan Hansel?" tanya Elgio lebih terdengar seperti serangan.


Lampu merah hampir berakhir dan Maribella keluar dari kafe. Hansel tampak setia melangkah di sisinya, menggiring wanita itu ke mobil, bukakan pintu mobil dengan senyuman sumringah.


Apa mereka kembali berkencan? Apa mereka tak jadi berpisah?


Abner hempaskan napas kasar semakin frustasi.


Lampu merah berakhir dan Abner tancap gas seakan tak ingin melihat pemandangan barusan.


"Abner, kurasa Maribella tak ingin saingi Luna. Ia mungkin menyerah padamu. Tolonglah, mengapa aku jadi pengamat cinta juga penasihat untuk kedua waliku? Kau tak setampan aku tetapi berani sekali kau banyak tingkah!"


"Jika tak bisa menolongku, tutup saja mulutmu Elgio Durante! Kau tahu aku sedang berkabung untuk hatiku yang sedang sekarat."


Elgio tersenyum sedih untuk Abner. "Aku berharap kau temukan cara untuk bawa Maribella kita kembali. Kau tahu, Maribella sangat dewasa dan matang dalam berpikir. Aku rasa ia akan memilih kenyamanan dibanding cinta. Wanita dewasa kebanyakan tidak mengejar cinta karena mereka sangat-sangat mencintai - menghargai diri mereka sendiri dan akan bersama seseorang yang juga sangat respek pada pribadi mereka. Ini bukan kataku Abner, ini berdasarkan hasil penelitian. Kulihat Hansel lakukan itu, tinggal menunggu waktu Maribella merasa nyaman dengannya dan kau kehilangan Maribella."


"Apa yang harus aku lakukan?" Akhirnya Abner termakan hasil penelitian akal-akalan Elgio Durante padahal pria itu hanya sok tahu untuk menakut-nakuti Abner.


"Lupakan soal pemaksaan kehendak. Cobalah bicara padanya, Abner. Jika kau diam, Maribella akan berpikir yang ia lihat tadi pagi juga tadi siang, benar."


"Aku hanya ingin beri waktu baginya untuk percaya padaku!" keluh Abner saat mobil masuki halaman rumah, semakin tak karuan saat mobil Hansel masih di sana dan kedua orang itu sepertinya tak ingin berpisah. Hati Abner Luiz semakin menggelap.


"Waktu itu bisa jadi milik Hansel Adelio."


Elgio turun dari mobil dan menyapa Hansel sementara Abner memilih parkir mobil ke garasi.


"Apakah kencan Anda dengan Maribella berjalan lancar?" pancing Elgio setelah Maribella masuk. Ia sangat ingin menolong Abner. Kedua pengasuhnya lagi-lagi salah paham.


Hansel tersenyum bijak. "Tidak, kami putuskan hanya akan berteman. Meski aku ingin lebih dari sekedar teman. Aku hargai pendirian Maribella."


"Kau tahu, Tuan Hansel. Maribella bukan hanya pengasuh biasa. Bibi Mai adalah Ibu untukku dan adik-adikku. Jadi, jika Anda tak serius padanya, aku harap Anda tak coba-coba dengannya."


Masih tetap tersenyum Hansel menjawab, "Ini terlalu pribadi tetapi aku ingin berjuang untuk dapatkan cinta Maribella. Kuharap Anda mendukungku Tuan. Aku tulus padanya."


Elgio mengangguk-angguk sukai pribadi Hansel yang sopan. "Semoga beruntung, Tuan Hansel Adelio."


***


Tak bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya. Suasana ruangan makan sangat suram. Reinha terus saja gelisah dan Marya setia di sisi Reinha untuk menghibur.


"Aku merasa buruk karena tak tahu kabar tentang Lucky," keluh Reinha.


"Enya, doakan saja dia," bujuk Marya.


"Lakukan sesuatu, Kak!" rengek Reinha saat Elgio tampak hanya perhatikan dirinya. Nyatanya Elgio sedang berpikir keras.


"Enya, Lucky berjanji akan kembali dalam satu Minggu. Bagaimana kalau kau giat belajar untuk ...."


"Ya ya ya, aku mengerti," potong Reinha berusaha kendalikan dirinya. Berandal itu selalu buat dirinya gelisah dalam penantian yang tak berkesudahan.


Maribella masuk ke ruang makan sementara Natalea mulai belajar mengurusi ruangan makan. Abner renungi situasi dan menebak, Maribella bersiap-siap untuk berlari. Itu buat dirinya kehilangan ketenangan.


"Bibi Mai, bisakah temani aku nanti malam?"


"Ah, baiklah. Apa kau mau ikut Marya? Kita bisa nonton drama Asia terbaru," tawar Maribella dan Marya menggeleng.


"Bibi Mai, aku tak bisa tidur tanpa pelukan Elgio," kata Marya. "Maafkan aku, Enya. Tak bisa temani meski aku sangat ingin."


"It's okay, Marya. Hanya saja, aku punya firasat buruk. Entah mengapa, aku merasa Lucky sedang dalam masalah." Apakah pria itu terluka?


"Istirahatlah Reinha! Aku akan cari kabar tentang Lucky besok," kata Abner setelah sekian lama perhatikan suasana ruangan makan yang dingin dan sembab oleh suasana hati penghuninya yang memburuk. Reinha mengangguk dan mereka lanjutkan makan malam dalam keheningan tanpa bersemangat.


Sementara Natalea beres-beres ruang makan dan dapur, Augusto bereskan hunian paling belakang untuk mereka tempati yang belum juga selesai dibereskan sejak semalam sedangkan Marya dan Reinha selonjoran di sofa ruang tamu sambil baca bacaan ringan yang mereka temukan dari perpustakaan pribadi Durante. Maribella menyendiri ke gudang perkakas.


"Reinha, kurasa Tuan Abner dan Maribella kembali bertengkar."


"Bukankah mereka selalu bertengkar?" tanya Reinha tertarik pada kisah cinta dua pengasuhnya itu.


"Mereka baikan dua malam lalu bahkan Tuan Abner bersama Maribella di hunian belakang. Tetapi, sepanjang hari sepertinya terjadi sesuatu. Kau tak lihat raut Maribella tadi pagi?" tanya Marya gemas sendiri. "Sangat mencekam," tambahnya merinding.


"Benarkah? Oh, aku sangat sibuk dengan diriku dan masalahku Marya, aku tak perhatikan Maribella."


"Kurasa, kita perlu lakukan sesuatu agar mereka bisa bersama. Siapa tahu saat kau sibuk, firasat burukmu pergi?" kata Marya lagi.


"Apa rencanamu, Marya?"


Keduanya bisik-bisik dan mendadak berhenti saat Abner turun dari lantai dua.


"Aku akan kembali ke apartemen. Istirahatlah! Terlalu padatkan otak dengan ilmu, bisa buat seseorang gila," tegur Abner pada kedua remaja yang terlihat sibuk baca buku di sofa ruang tamu. Heran saja lihat keduanya tiba-tiba pindah belajar ke sana.


"Baiklah, apa Anda tak ingin camilan?" Marya bangkit berdiri. "Maribella baru buatkan tempura dan saos pedas. Jika Anda mau, aku akan ambilkan untuk Anda," tawar Marya dan tak tunggu jawaban pergi ke dapur.


"Tuan Abner," sapa Reinha menyipit padanya. Perasaan Abner langsung kembang-kempis. Reinha Durante selalu tak tertebak tetapi jika raut matanya terlipat seperti itu, berarti Abner perlu waspada.


"Hmm ... ada apa?"


"Apa Anda akan langsung pulang tanpa bicara dengan Maribella? Berhentilah bertingkah! Apa Anda baru akan sadar saat seorang pria datang dan menikahi Maribella?"


"Enya ...." Abner menguap. "Aku sungguh capek, letih, lelah, lunglai dan tak bertenaga. Aku akan pulang dan beristirahat. Aku akan bertemu dengannya besok saja." Abner bersiap angkat kaki ketika pekikan terdengar dari dapur.


"Reinha???!!!" seru Marya dari dapur.


"Ada apa, Marya?" Reinha melompat dari sofa sangat terkejut.


"Kurasa Bibi Mai terkunci di gudang perkakas."


"Benarkah?" Abner langsung berlari lintasi ruang tengah menyusul Reinha. Mereka pergi ke ruang perkakas bawah tanah.


"Mai?!" seru pria itu panik di depan pintu gudang perkakas mengintip dari balik kaca ukuran sedang dan tak temukan Maribella. Pintu gudang dipaksa terbuka dan saat berhasil, Abner, segera masuk ke dalam lupakan bahwa pintu itu rusak dan mereka segera terkunci. Reinha dan Marya saling pandang di luar gudang perkakas.


"Oh bagaimana ini? Pintunya benar-benar rusak, Reinha!"


"Biarkan mereka bicara dan Augusto akan mengurus sisanya," sahut Reinha. "Semoga Tuan Abner se-ahli saat ia mengemudi perusahaan dan mendukung Elgio! Semuanya akan baik-baik saja."


Keduanya melambai pada Maribella dari luar dan Abner yang tersadar bahwa mereka tak akan dapat bantuan dalam waktu dekat, menghela napas tertahan. Ia berdiri di antara rak-rak piring sedang Maribella langsung mundur sejak tadi hingga mentok di sofa saat lihat pria itu masuk.


"Mai .... Apa kau baik-baik saja?"


"Ya, pintunya tiba-tiba macet," sahut Maribella kedapatan gugup.


"Mungkin karena terlalu tua. Mengapa kau kemari malam-malam begini?" Abner amati gudang perkakas pada mug-mug ukiran yang cantik kembali pada Maribella dan temukan bahwa ukiran-ukiran di mug keramik dilukis oleh Maribella.


"Ya, semoga Augusto segera kemari dan perbaiki pintunya."


"Apa kau berbaikan dengan Hansel dan kembali berkencan dengannya?" tanya Abner tiba-tiba. Waktunya bicara.


"Ya," angguk Maribella berbohong.


"Baiklah."


"Semoga kau dan Luna berjalan baik. Kalian sangat serasi," kata Maribella.


"Ya, semoga saja. Kurasa Hansel juga cocok untukmu."


"Em, ya. Hansel, pria yang baik, dia tak masalah berkencan dengan pelayan tak berpendidikan sepertiku," sahut Maribella terdengar mengandung pedih.


"Mai ...."


"Kurasa aku akan ikut dengannya," kata Maribella lagi. "Ia mengajakku bertemu orang tuanya pekan depan dan jika mereka menyukaiku, aku mungkin akan pindah ke restoran dan tinggal dengannya." Maribella berbohong, dan itu terdengar sungguhan.


"Kau tak akan kemana-mana," ujar Abner tegas.


"Abner, kau sangat egois. Aku mungkin mencintaimu tetapi bersama Hansel aku tak perlu takut kekasihku diambil seseorang. Kami hanya akan bersama sepanjang hari di restoran dan aku tak perlu gelisah seseorang yang lebih mempesona dariku akan terlihat di kamar tidurnya dengan banyak bekas merah di paha. Atau menggodanya di kantor sementara aku layani kekasihku sarapan di pagi hari."


"Kau boleh pikirkan macam-macam tentangku. Aku tak keberatan. Tetapi, yang kau lihat tadi pagi atau tadi siang tidak benar. Aku berharap kau tidak terhasut."


"Aku percaya satu kali, tidak jika pemandangan yang sama terulang dua kali."


Abner mendesah frustasi, "Mai, aku tak sembarang menyentuh wanita. Kau satu-satunya wanita itu, Maribella Williams."


Abner dekati wanita yang patah hati padanya karena kesalah-pahaman.


"Tolong jangan!" kata Maribella menjauh.


"Tidak, kurasa kau tak percaya padaku," ujar Abner bersandar di meja dan menarik Maribella padanya. Tak membuang-buang waktu untuk mencium Maribella. "Jangan lekas percaya pada apa yang kau lihat Maribella!"


Maribella bisa bangun tembok kokoh kuat dalam hatinya tetapi jika berurusan dengan Abner Luiz, Maribella yakin ia secara sukarela segera roboh. Persis dugaannya, mereka berciuman mula-mula lembut kemudian berubah panas dan kembali berakhir di sofa seperti dua malam sebelumnya. Tak ada niat dari keduanya membangun antisipasi untuk gelombang hasrat yang akan datang menerpa. Terus saja berciuman dan bercumbu biarkan api asmara berlomba-lomba menyala.


Semakin teringat sang wanita bisa saja terlepas dan pergi dengan pria lain, Abner Luiz semakin ketakutan dan tidak bisa rela. Bibirnya beralih ke leher berlarian pada urat-urat yang menonjol penuh tekanan dan tuntutan. Tersenyum puas saat berhasil tinggalkan kiss mark di sana, kembali lewati jalur pulang ke bibir si wanita. Berhenti sejenak untuk melihat reaksi Maribella yang pasrah padanya. Biarkan sang wanita mengambil napas sebelum kembali bergerilya.


Habislah mereka oleh hasrat yang menggebu-gebu, lupa bahwa pintunya sedang rusak. Abner Luiz kehilangan kendali, merengkuh pinggang mungil Maribella yang berbaring di sofa semakin melengkung padanya. Saat si pria sedang asyik kuasai arena, menggoda Maribella di pangkal leher wanita itu serta bertingkah seperti penakluk, satu pukulan keras di pintu.


Brrraaakk ....


Pintu tumbang dan Elgio Durante berdiri di sana dengan linggis di tangannya. Marya dan Reinha melongok beberapa detik berselang.


"Ooopss, Abner Luiz, apa aku mengganggu?"


***


Aaakkkhh Elgio Durante parah kali kau ini ....