
Mosteiro Bell (lonceng biara) nyaring berdering di pukul 8 malam. Suasana biara seperti biasa senyap dan sunyi. Beberapa waktu lalu saat pergi ke Biara hendak bertemu Padre Pio, Reinha harus telan kekecewaan sebab Padre Pio ternyata sedang ada pertemuan penting di Keuskupan. Ia kembali ke Durante Land dan karena tak sanggup menahan sengsara hati, ia putuskan pergi mencari Claire di Puri Luciano. Seperti dugaannya Claire tak ada di sana.
Reinha ikuti jalur menuju keluar kota pergi ke tempat September. Ia akhirnya terobati setelah bermain dengan Amora Shine yang sangat lucu untuk dilihat gerak-geriknya. Bayi itu miliki mata penakluk suaminya, buat Reinha seakan melihat Lucky dan Claire dalam rupa Amora. Sedang menurut September, Claire pergi ke suatu tempat membawa banyak pengawal. September tanyakan keadaan Francis dan Reinha hanya minta September bersabar sebab pria itu akan pulang. September terlihat sangat sedih.
Sambil menunggu Padre Pio kembali, Reinha habiskan waktu untuk berlatih Muay Thai dan menembak. Ia memaksa Augusto berbohong pada Elgio bahwa ia habiskan hari di The Windows, menjual buku di sana selepas pulang sekolah sebab tinggal di rumah buat kepalanya pening pikirkan Lucky Luciano.
Reinha bunyikan lonceng biara sekali lagi, terdengar seperti kiriman putus asa dari seseorang jiwa yang merana. Ia dapat kabar bahwa Padre Pio telah kembali, jadi, meski telah gelap, Reinha putuskan untuk bertamu. Reinha terisak saat pintu biara tidak terbuka. Ia memeluk lutut depan gerbang biara, menahan dingin malam, rindukan Lucky sebab ia dan Lucky pernah berdiri di depan pintu Biara saat Lucky menyeretnya untuk pernikahan tanpa planning.
Ini hampir seminggu sejak ia tahu Lucky menghilang, sebulan setelah Lucky katanya hilang kontak, Reinha tak bisa percayai suaminya meninggal. Hatinya berkata, suaminya hidup di suatu tempat, mungkin sekarat, mungkin amnesia, mungkin terjebak, mungkin disandera. Kebanyakan mungkin.
Mendadak, pintu gerbang terbuka. Reinha segera berdiri, terhuyung-huyung sebab terlalu bersemangat.
"Nyonya Luciano?!"
Padre Pio berdiri keheranan di muka pintu lihat wanita belia, istri Lucky Luciano, berlumuran air mata hampir tengah malam di depan biara.
"Apa sesuatu terjadi pada suami Anda?"
Reinha mengangguk lantas bersimpuh. Telapak tangannya terkatup di depan dada dan bicara dengan sedih menyayat hati. "Tolong aku, Padre. Aku mohon."
"Nyonya?! Bangunlah? Apakah Tuan Luciano sakit? Apakah Anda butuh Sakramen Penguatan (minyak suci untuk orang sekarat)?"
Reinha menggeleng.
"Mari masuk, Nyonya. Di luar sangat dingin."
Reinha duduk di bangku belakang Kapela ditemani Padre Pio, sodorkan brosur berwarna biru tua tentang pelayanan Hamba Tuhan ke daerah konflik, Pesisir Timur.
"Ijinkan aku jadi salah satu sukarelawan untuk pergi ke Pesisir Timur, Padre. Tolong aku!"
"Nyonya, apa yang terjadi? Apakah Tuan Durante tahu?"
"Aku bukan milik keluargaku lagi, aku milik suamiku sejak aku menikahi Lucky Luciano."
"Anda keliru, Nyonya. Anda masih Nona Durante sesuai janji Pranikah."
"Padre, suamiku menghilang di Pesisir Timur. Oleh ikatan suci aku percaya, dia masih hidup. Ia mungkin terluka dan aku ingin mencarinya. Aku sangat mencintainya hingga tak bisa hidup tanpanya. Biarkan aku jadi salah satu sukarelawan."
Padre Pio terlihat berpikir sejenak. Tidak susah sebenarnya tetapi karena Reinha adalah Puteri Durante, segala hal akan ribet jika kakak laki-lakinya tahu ia pergi ke Pesisir Timur.
"Nyonya, situasi di sana sangat tidak bagus. Jika Anda pergi diam-diam dan kemudian sesuatu yang buruk terjadi pada Anda, aku tak akan bisa bertanggung jawab pada Tuan Durante."
"Aku akan mendaftar secara resmi jadi sukarelawan. Bukankah siapa saja bisa, Padre? Aku berjanji akan jaga diriku dengan baik. Aku hanya akan pergi dan temukan suamiku lalu bawa ia pulang."
"Nyonya, brosur cetak itu dikhususkan bagi sukarelawan yang nantinya akan jadi Suster untuk pelayanan pendidikan, pusat kesehatan dan panti asuhan. Bukan sukarelawan biasa dari kaum awam."
"Padre, tolong aku!" Reinha akhirnya menangis terisak-isak. "Aku akan ikuti semua prosedur. Ijinkan aku! Aku bisa sesuaikan diri, masuk biara dan hidup dalam doa, ijinkan aku."
"Para sukarelawan baru akan pergi beberapa hari lagi."
"Aku akan menunggu sebab liburan musim panas akan segera dimulai."
"Aku harus bicara pada kepala Kongregasi sebab aku memang penanggung jawab tetapi yang benar-benar mengurus hal ini adalah Suster Kepala Biara, aku akan menelpon beliau dan beri kabar pada Anda secepatnya."
Reinha mengerti alasan Padre Pio tetapi ia tak putus asa. Akhirnya selama beberapa hari berikutnya, gadis itu kenakan mantila (kerudung) warna hitam tanda berkabung terus bunyikan lonceng biara, memelas bahkan tidur di depan Kapela hingga akhirnya Padre Pio luluh padanya. Sang Biarawan memaksa Suster Kepala Biara untuk ikut sertakan Reinha jadi salah satu sukarelawan agar bisa pergi ke Pesisir Timur. Sambil menunggu liburan musim panas dimulai dan jadwal keberangkatannya tiba, ia benar-benar tingkatkan keahlian bela diri dan berlatih menembak. Para sukarelawan tak memegang senjata bahkan ketika mereka mati tertembak, mereka akan jadi martir (Orang Kudus). Tetapi, Reinha merasa butuh, sebab ia mungkin akan hadapi kemungkinan terburuk.
Selepas dapat restu dari Padre Pio, Reinha beritahukan keinginannya pada keluarganya saat sarapan bersama di suatu pagi.
"Aku akan masuk Biara dan jadi Biarawati!"
Biarawati (Nun), wanita yang jalankan kehidupan kontemplatif dalam biara tertutup, hanya boleh tinggalkan biara dalam kondisi tertentu dan atas ijin khusus. Kehidupan dalam biara sangat ketat bahkan saking ketat, pengunjung hanya boleh bicara pada sang Biarawati lewat jendela kecil.
Pernyataan Reinha benar-benar bikin Elgio Durante tersedak sarapan hingga batuk-batuk keras. Ia tak berhenti batuk meski telah minum segelas air yang disodorkan Marya. Istrinya terpaksa harus pukul-pukul punggungnya pelan agar batuk pria itu berakhir. Matanya bahkan berair. Ia mendorong piring sarapan sebab tiba-tiba kenyang.
"Enya ..., mengapa kau sangat putus asa? Lucky pasti kembali."
"Maafkan aku, kurasa aku tak tahan lagi. Aku akan masuk Biara dan mulai pendidikan Postulansi (Calon Biarawati tahap awal sebelum benar-benar jadi biarawati)."
Reinha bicara percaya diri, separuh merengek, memelas, mengemis kemudian menangis. Belakangan gara-gara Lucky Luciano, air matanya cepat merebak. Jika Elgio dan Tuan Abner relakan ia tinggal dalam biara maka keduanya hanya akan percaya bahwa ia di sana dan tak akan curigai macam-macam.
Bagaimana jika suaminya masih hidup dan terjebak dengan Puteri Thomas? Reinha tak kuasa menolak hasutan buruk itu dalam pikirannya. Suaminya sangat tampan dan susah abaikan pria itu sementara daya tarik Lucky Luciano sangat tinggi. Terlepas dari itu, Lucky adalah suaminya. Satu-satunya cara paling aman adalah ia akan ikut dalam kelompok Suster (Sister) yang bertugas di sana. Pesisir Timur memang berisi pemberontak tetapi para Pemuka Agama dihargai di sana sebab banyak berikan bantuan moral selain bantuan ada materi. Satu yang Reinha tak tahu bahwa para penambang liar banyak di sana. Ia dengar tapi tak peduli.
"Reinha ...." Abner kehabisan kata.
"Ini sudah lewat seminggu dan aku tak terima kabar dari suamiku. Aku akan terima kenyataan bahwa Lucky telah meninggal dan aku akan masuk Biara untuk doakan keselamatan arwah suamiku."
Ia hanya kelabui dua orang di depannya. Berkata ingin jadi Biarawati, sebenarnya ia akan menyusup di antara para Suster yang pergi ke Pesisir Timur. Cintanya pada Lucky Luciano buatnya nekat berbohong pada kakak dan wali-nya. Hanya itu satu-satunya cara.
"Aku akan bangun pukul empat pagi untuk lantunkan himne Veni Creator Spiritus, devosi berjam-jam untuk kedamaian dunia, meditasi untuk para pendosa dan akhiri malam dengan Tui Amoris Ignem. Aku akan hidup di Biara. Tak usah cemas aku akan pergi ke Pesisir Timur, kalian tahu bahwa Biarawati hanya ada dalam Biara untuk berdoa juga meditasi dalam kesunyian. Aku masuk dalam Biara yang sangat ketat."
"Reinha Durante, apakah kau sedang coba kelabui aku?" tanya Elgio penuh selidik. "Abner, dia belum selesaikan sekolah menengahnya, apakah bisa jadi biarawati? Apakah kau ingin masuk Biarawati dan ikut pelayanan ke Pesisir Timur?" Elgio curiga.
"Kak, Biarawati hanya ada dalam Biara mereka tak lakukan pelayanan di luar Biara. Aku hanya akan ikuti rutinitas biara sambil selesaikan sekolahku. Lagipula, liburan musim panas 8 Minggu sangat lama."
"Hei, pergilah ke Dream Fashion!"
"Tidak, apa kau tak mengerti, Kak? Aku tak bisa bernapas dengan baik dan benar. Aku butuh waktu untuk pulihkan diriku sendiri (ikuti kata-kata Maribella). Duniaku tanpa Lucky Luciano adalah hanya kesedihan. Aku akan obati diriku dalam biara."
Reinha menangis lagi sebab merasa sangat kesakitan dan hanya air mata saja yang bisa mengerti dirinya.
"Ya Tuhan, Lucky pasti kembali. Reinha, aku sedang berusaha dapatkan proyek kerja sama investasi dengan Pemerintah untuk pertambangan di sana. Agar, kita bisa masuk ke Pesisir Timur."
"Tidak perlu, Kak! Berapa lama kakak bertindak sejak tahu Lucky menghilang hingga hari ini untuk temukan suamiku? Ini sudah sebulan, Kak! Di mana suamiku?" Menghapus air mata. "Jika aku tak betah, aku akan kembali!"
"Baiklah," sahut Abner cepat. Itu lebih baik ketimbang gadis itu memilih masuk militer dan ikutan berperang.
"Abner?!" tegur Elgio keras.
Abner abaikan Elgio. "Apa kami boleh berkunjung?"
"Kau bisa berkunjung kapan saja, Tuan, tetapi kau mungkin hanya bisa bicara padaku lewat jendela kecil. Selama waktu-waktu sisa ini, aku akan bangun pagi, buatkan sarapan dan mengurus kalian."
Reinha layani keluarganya sarapan, tak bisa dipungkiri kakaknya terus amati tingkahnya, menoleh pada Marya dan Marya mengangkat bahunya hingga Elgio tahu bahwa Reinha tak libatkan Marya. Sedang Abner berpikir apa perlu ia beritahu Reinha bahwa Maribella sakit? Jika ia beritahu Reinha, gadis itu mungkin batal kan keinginan bersemedi dalam Biara.
Sore sepulang sekolah, Reinha kendarai mobil pergi ke pondokan tepi danau. Ia kehilangan dirinya, tak tentu arah dan tanpa tujuan. Terlebih ia tak tahu harus bagaimana hadapi kesulitan hatinya. Claire Luciano tak diketahui keberadaanya. Ponselnya juga tak bisa dihubungi. Reinha terus mengemudi setengah mengambang teringat pada Lucky dan sangat terkejut saat melihat Piqueena ada di sana, duduk sendirian. Reinha keheranan ketika tatapannya membentur tubuh Queena sedang melamun di ujung dermaga kayu. Apa sesuatu yang buruk terjadi?
"Hai Reinha, kau di sini? Apakah kau rindukan Lucky Luciano?"
Reinha mengangguk murung, ikut duduk di ujung dermaga, berbagi kesenduan.
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Reinha.
Sepertinya semua orang alami hari yang buruk.
"Ya," angguk Queena sedih, "Aku kehilangan bayiku dan larikan diri dari Axel Anthony. Lucky Luciano di penjara dan aku tak bisa hubungi Francis, jadi, aku tinggal di sini sementara waktu."
"I am so sorry, Dear," sahut Reinha rasakan kepedihan hati wanita di sisinya. "Pergilah ke Puri Luciano dan tinggal saja di sana, Queena!"
"Axel akan temukan aku di sana. Tetapi ia tak akan curiga jika aku berada di tempat ini. Aku menunggu kabar dari Pamanku dan akan tinggal di rumah walikota."
Mereka pandangi danau yang tenang saat sore hari, tak banyak angin tapi banyak badai terjadi belakangan dan hampir menimpa semua orang.
"Kau mau ke mana Reinha?"
"Aku akan pergi ke tempat aku dan Lucky berkunjung terakhir kali, ke sebelah barat hutan. Aku merindukan suamiku."
"Ia akan baik-baik saja dalam penjara."
"Ya kuharap begitu, tetapi Lucky tak di penjara."
"Apa maksudmu?" Queena berbalik dan dapati Reinha telah menangis. Jika itu berhubungan dengan Lucky ia merasa sangat sensitif dan sentimentil.
"Lucky pergi ke Pesisir Timur untuk selamatkan Oriana, kau mungkin tahu, kasus seorang reporter yang di sandera. Oriana kembali tapi suamiku menghilang."
Queena memeluk Reinha yang sesegukkan, menepuk bahunya.
"Jangan cemas, Reinha. Lucky Luciano itu gangster sejati bahkan sekalipun tubuhnya babak belur, jantungnya terus berdetak. Ia sering menghilang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tetapi aku selalu melihatnya lagi suatu waktu. Dulu aku merasa heran, tapi sekarang setelah aku tahu ayahku dan Lucky adalah mafia, aku mengerti. Mereka habiskan waktu untuk meregang nyawa."
"Aku tak bisa berhenti bersedih." Menghapus air mata. Queena beri pelukan hangat.
"Reinha ...."
"Tetapi Queena, apakah kau baik-baik saja di sini sendirian?"
Queena tersenyum kecut. "Kehidupanku berantakan, aku bahkan tak bisa bekerja sebab kasus yang menimpa Ayahku."
Reinha berpikir akan minta Tuan Abner hubungi walikota sekali lagi untuk beritahukan keadaan Queena.
"Pergilah, Reinha. Tetapi berjanjilah kembali sebelum gelap. Aku akan buatkan makan malam, em, tetapi seadanya." Queena bicara murung sebab ia tak punya uang untuk beli makanan yang lezat. Beruntung ia kembali ke rumah mengambil banyak barang dapur dan penghangat. Jika tidak ia akan tidur kedinginan dalam pondokan. Bersyukur pondokkan itu - entah - bagaimana tak ikut disita. Ayahnya terbukti bersalah dan lakukan banyak kejahatan. Tak ada yang tersisa, harta, harkat dan martabat bahkan tak bisa jadi dokter. Ia terlalu bersedih untuk berpikir, kehilangan bayi juga Axel.
"Baiklah, aku pergi!"
Sementara mereka mengobrol, Axel Anthony amati kedua wanita itu dari jauh. Ekspresi wajahnya suram. Tak ingin tinggalkan Queena tapi wanita itu menolak bersamanya meski ia berjanji akan bawa kembali Brigitta. Axel ingin pergi dari sana bawa lukanya sendiri tetapi juga tak ingin berhenti mengintai wanita itu, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Queena. Gelisah sebab ia tidur dalam rumah mewahnya sedang Queena tidur di sebuah pondok berburu. Tak bisa menelan makanan dengan benar, sebab, teringat pada Queena yang menolak bantuannya. Jadi, pria itu seperti pemburu. Tidur di sisi hutan untuk menjaga Queena dari jauh.
Sebuah mobil lain masuk ke dalam setapak hutan. Axel terkejut saat mobil itu mencari tempat persembunyian dan seorang pria keluar dari sana. Sedikit keheranan saat melihat Carlos Adelberth tampak sama seperti dirinya kuatirkan seseorang. Hanya sebatas itu, Carlos bahkan tak memeriksa keadaan sekitarnya.
Sedangkan Reinha Durante tinggalkan Queena susuri tepian hutan, pergi ke tempat terakhir kali ia berkunjung bersama suaminya setelah malam penyerahan manis yang tak terlupakan. Ia segera saja terkoyak saat hendak melompat ke bebatuan licin teringat mereka berciuman di sana. Bertemu rusa tetapi hanya seekor, pasangannya mungkin tertembak, cerminan sempurna dirinya. Beruntung bunga-bunga hutan masih cantik dan segar.
Berbaring di tempat yang sama di kala ia dan Lucky berciuman untuk terakhir kali sebelum pria itu mengantarkannya pulang ke Durante Land dan kembali ke Puri Luciano untuk dibawa ke penjara, Reinha benar-benar terlempar pada kehampaan tanpa ujung. Pria itu telah hilang selama hampir sebulan. Entah di mana dia.
Kesedihan teramat dalam hasilkan kesepian. Semua isyarat bawa Reinha tersedot dalam dukacita. Tanpa ia sadari Lucky ternyata telah jadi sumber kebahagiaannya. Mungkinkah karena ia masih sangat muda saat jatuh cinta? Meskipun ia menyukai Ethan Sanchez sejak mereka berada di tingkat satu sekolah menengah tetapi tetap saja, Lucky Luciano adalah cinta pertamanya juga jadi cinta yang terakhir. Jika pria itu nanti benaran meninggal, maka Reinha berjanji akan berakhir sebagai pertapa. Ia menikah di usia muda dalam kurun waktu yang sangat dekat, berbagi hal-hal indah bersama Lucky Luciano hampir setiap hari dan saat kehilangan Lucky Luciano, jiwa 18 tahunnya benar-benar terpuruk dan hancur.
"*Kau tahu Enya, jauh darimu, aku seperti dedaunan gelap di sana, gulita tanpa cahaya, kering tanpa embun. Aku dikutuk oleh banyak wanita."
"Kutukan?"
"Terbelenggu padamu**."
Sore hampir berakhir saat ia mulai mengantuk terbuai wajah tampan Lucky dan jutaan kenangan berputar dalam ingatan. Oleh kelelahan batin juga jasmani, Reinha terlelap di pinggiran hutan. Abaikan angin dingin, hanya tidur berharap embun yang datang bisa obati lukanya. Ia tak sabaran ingin pergi ke Pesisir Timur dan habiskan liburan musim panas untuk temukan suaminya. Ia dan Lucky miliki sejenis telepati, hingga ia yakin Lucky masih hidup di suatu tempat. Saat menggeliat dan api unggun hangatkan tubuhnya, Reinha tersenyum sebab ia seakan bermimpi, Lucky bawa ia berputar-putar sambil bernyanyi I Love You, Baby.
"Reinha?!"
Carlos Adelberth berlutut di sisi tubuh terbaring merana di atas rerumputan yang mulai berembun. Oleh rasa bersalah, ia ikuti Reinha untuk jaga-jaga jika gadis itu sedang menyusun rencana nekat kabur ke Pesisir Timur, tetapi Reinha seperti kata Tuan Abner putuskan jadi Biarawati. Kedua walinya percaya tapi tidak dengan Carlos Adelberth. Carlos tahu bahwa Biarawati cuma alibi. Reinha akan pergi bersama rombongan Suster ke daerah berbahaya itu.
"Hei, Reinha Durante?! Sampai kapan kau akan seperti ini, Nona?" Carlos bangunkan gadis yang langsung berengut padanya. Reinha seperti adik baginya dan sungguh sedih dapati gadis itu terluka seperti itu.
"Kau brengsek Carlos. Harusnya kau tak tinggalkan dia di sana!"
"Ya, baiklah. Maafkan aku." Pakaikan Reinha jaket tebal dan lingkari satu lengannya.
"Aku akan maafkan kau, jika kau temani aku ke Pesisir Timur!"
"Reinha!!!"
"Tolong saja aku! Apa kau temukan suamiku? Tidakkan?"
"Baiklah," angguk Carlos menyerah akhirnya, "Kulihat kau telah temukan cara pergi ke Pesisir Timur."
"Jadi kau tahu, Carlos?"
"Ya, aku mungkin akan didisiplinkan atasanku karena sibuk menguntit adik angkatku yang sedang patah hati. Aku kehilangan kesempatan untuk kencan karena terlalu gelisah kau akan kabur."
"Ini semua salahmu," sahut Reinha jengkel. "Kau tak akan beritahu Elgio apalagi Tuan Abner. Jika aku dapati kau berkhianat, aku janji akan menembakmu, Carlos!"
"I promise you, Meu Amor! Bukankah kau sangat ingin bertemu Francis?"
Reinha menoleh pada Carlos, "Apakah dia sudah siuman?"
"Tidak, tapi Claire Luciano memaksa pindahkan Francis hari ini dari perbatasan."
Reinha langsung berdiri. "Di mana dia?"
***
Wait me Up ....
Pertemuan Reinha dan Lucky harusnya akan jadi pertanda akhir dari Novel ini. Mungkin tetap ada bonus chapter untuk kisah cinta beberapa karakter... Meskipun banyak readers yang minta semua karakter diselesaikan kisahnya di sini sebab sayang, susah untuk capai popularitas 1 M jika harus bikin Novel baru. Tahulah, Noveltoon kurang sahabatan pada Author sepertiku.
Cintai saja aku ....