Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 109 So Jealous ....



"Marya ... ayolah!"


Elgio kehabisan cara bujuk Marya yang ngambek. Ia mengemudi tak tenang sembari melirik Marya, pada raut wajah gadis itu yang ditekuk hingga terlihat cemberut, pikirkan cara untuk mengubah mood buruk Marya.


"Jangan bicara padaku Elgio Durante! Kau sembunyikan hal sepenting itu dariku," gerutu Marya meledak-ledak.


"Karena bagiku itu tidak penting. Bukan aku yang mengurusnya tapi Abner, Marya. Kami bahkan tak pernah bertemu," sanggah Elgio dengan nada cepat nyaris putus asa.


"Tetap saja, aku istrimu! Kau perlu beritahu aku!"


"Baiklah, maafkan aku!" Elgio mengaku salah. "Aku bersalah, harusnya aku memberitahumu."


Marya menggeleng, menolak permintaan maaf Elgio. Ini kejadian luar biasa, bagaimana bisa minta maaf dengan mudah?


"Kali ini sulit, turunkan aku di kafe, aku harus bertemu Arumi. Kau boleh pulang atau pergi kemanapun yang kau suka, kau tak perlu beritahu aku! Turunkan saja aku di sana!"


"Marya?!" Elgio menepi dan coba bicara dengan nada lembut. "Aku tak sengaja bertemu Irish. Saat aku pulang kantor tak sengaja melihat seorang wanita berkerudung berlari dikejar-kejar preman dan aku menolongnya. Ternyata wanita itu adalah Irish. Ia minta tolong padaku dan Abner untuk sembunyikan dirinya dari kejaran penjahat!"


Takdir yang aneh. Dari sekian banyak pria di dunia ini, mengapa ia yang ada di sana untuk menolong Irish? Meski demikian, ia sama sekali tak tertarik pada Irishak Bella, seberapa menariknya wanita itu.


"Kau bisa menelpon pihak berwajib, bukankah Irish di bawah perlindungan pemerintah?"


"Masalahnya sedikit rumit, karena ...."


"Oh hentikan!" potong Marya. "Kau beritahu aku sekarang setelah kepergok olehku? Ya Tuhan, Elgio. Apakah inikah alasanmu selalu pulang larut malam dan terlihat gelisah?" tanya Marya curiga yang tidak-tidak. Hatinya terhasut dnegan sangat mudah. Bayangan Elgio bersama Irish tadi sungguh mengganggu. Pikiran Marya memburuk dengan cepat.


"Marya!!!" seru Elgio agak keras. "Kau keterlaluan. Kita tak bisa terus-terusan cemburu satu sama lain karena kita sudah menikah! Berhentilah konyol!" Elgio bicara menahan kesal. Ia kembali menyetir mobil dalam gusar dan hanya diam, menyusuri jalan yang separuh gelap. Tak percaya Marya berpikiran seburuk itu padanya. Baiklah, ia memang salah karena menolong Irish dan lindungi Irish, tetapi ia tak pernah pulang larut karena pergi bertemu Irish. Apa yang Marya pikirkan? Ia sendiri ingin bertanya siapa Hellton Pascalito, mereka terlihat sangat akrab tetapi alih-alih buka suara, pria itu hanya menggerutu tak jelas.


Mereka sampai di kafe masih tak saling bicara dan Arumi terlihat sibuk layani pelanggan. Raut Arumi berbinar-binar lihat sang kakak.


"Kakak?! Kau datang?" Arumi tinggalkan pelanggan pada Ethan Sanchez dan menggandeng Marya pergi ke pojok kafe.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya marya mengelus kepala Arumi lembut.


"Um, ya," angguk Arumi. Selama bersama Ethan Sanchez, dia akan baik-baik saja sekalipun tak bisa abaikan fakta bahwa seruan bodoh dan idiot yang dipakai Ethan untuknya, jika ditabung bisa membeli sebuah rumah.


"Kau harus pulang Arumi, Ibumu sakit dan butuh dirimu. Kakakmu juga sedang mengandung," ujar Elgio saat Arumi duduk di hadapan keduanya. Marya mengangguk setuju. Meskipun mereka sedang marahan, keduanya telah berjanji untuk tetap mesra di hadapan orang lain, terkecuali Ethan yang terlalu cerdas, mengerut sambil layani pesanan pelanggan. Marya terlihat tidak nyaman dan tidak menatap Elgio seperti biasa. Gadis itu tampak segera sangat tersiksa berada di dalam kafe dengan aroma kopi pekat penuhi udara. Ethan buru-buru layani pelanggan dan separuh mengusir mereka pergi dari kafe.


"Minumlah ini!" Ethan antarkan dua mug minuman, satu susu segar murni dan satunya lagi, cokelat untuk Elgio. "Sudah tahu tak tahan aroma kopi kenapa kemari?" tanya Ethan penuh perhatian.


"Trims Ethan," sahut Marya coba minum sedikit susu.


Ethan menghela napas panjang. "Aku seperti suami siaga saat di sekolah padahal bayi itu bukan milikku," ujar Ethan keluarkan lemon dari kantong ajaib dan sodorkan pada Marya. "Hirup lemonnya!"


"Tidak perlu, dia hanya perlu menghirup aroma tubuhku," tepis Elgio dan menarik Marya masuk dalam mantelnya, sembunyikan gadis itu di dadanya, seakan takut Ethan Sanchez membawa Marya kabur.


Ethan berdecak, Elgio masih curiga padanya. "Saat si baby cute lahir, dia akan kebingungan sebab ia lebih banyak mendengar suaraku bicara padanya di pagi hari, sepanjang siang hingga menjelang sore dan sedikit suaramu di malam hari, Elgio Durante. Akan sangat menyenangkan saat si bayi bingung nanti siapa ayahnya. Jadi, sebaiknya kau tak tidur di malam hari dan bacakan dia dongeng atau menyanyi untuknya," kata Ethan kambuh jahilnya, senang lihat Elgio tercekik hingga di ujung kerongkongan.


"Kau memang keparat Ethan Sanchez," gerutu Elgio ingin bikin wajah tampan Ethan lecet dan menyumbat mulut Ethan agar hentikan celotehan bodohnya itu, meski Elgio yakin Ethan benar. Marya habiskan hari di sekolah dan mereka baru bertemu jam 7 malam di rumah setelah Elgio balik dari kantor. Tak disangka Elgio pikirkan kata-kata Ethan. Ia jarang bicara pada si bayi dan brengsek di depannya ini memprovokasinya.


"Kalian sedang marahan?" selidik Ethan yang membaca gelagat sepasang suami istri itu.


"Tidak."


"Kalian tak saling menatap seperti biasa, tak ada lahar panas yang tumpah ruah dan mengalir sampai jauh di mata kalian berdua hanya gunung es yang bisa bekukan satu daratan," kata Ethan lagi tak berhenti usil.


"Apakah kau tak punya pelanggan?" tanya Elgio ingin menyepak Ethan pergi dari sana sedikit terhibur Marya tak menolak pelukannya. Suasana kafe mungkin bisa bantu mereka baikan tapi Ethan Sanchez merusuh sejak tadi.


"Tiap Marya kemari, kafenya aku tutup," sahut Ethan mengangguk pada pintu kafe di mana papan welcome beralih dari open ke close. "Sepertinya kau buat Marya kesal. Tinggalkan Marya di sini, aku akan menghiburnya." Ethan terlihat senang lihat dua orang itu marahan.


"Tidak akan terjadi, kami datang untuk menjemput Arumi pulang ke rumah!" sahut Elgio. "Kau tak bosan seharian melihat Marya di sekolah? Kuharap kau tak menggoda istriku saat kelas berlangsung! Aku akan minta Kepala Sekolah pindahkan Marya ke kelas lain."


Ethan melipat tangan, satu tangannya mengelus kening. "Tidak perlu lakukan itu. aku tak perlu merayunya. Sudah kubilang aku seperti suami siaga untuknya di sekolah. Menungguinya di kamar mandi, pastikan dia makan siang dengan baik dan pilihkan dia makanan, bawakan susu dan limun, menghalau aroma kopi. Satu yang tak bisa kulakukan adalah aku tak punya aroma tubuhmu, seandainya aku punya, habislah kau Elgio Durante!"


Arumi perhatikan dua pria di depannya, pening. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan? Keduanya tampak tak bermusuhan tapi terlalu hebat untuk berteman. Mereka lontarkan obrolan berisi lelucon super aneh. Percakapan paling konyol yang pernah ditangkap oleh telinganya.


"Aku tak mau pulang, maafkan aku, Kak," sela Arumi melerai perdebatan dua pria di depannya yang sepertinya tak akan selesai.


"Kau akan pulang, Arumi! Jika tidak ...."


"Kau tak bosan mengancamku tiap hari Ethan?" potong Arumi gusar. Keduanya saling menatap.


"Kau akan pulang, aku akan pecat kau dari sini, jika kau tak ingin pulang! Kau bisa pacaran dengan kekasih rapper-mu itu di tempat lain, mungkin di studio musik atau kafe lain," ujar Ethan tegas. "Atau kau bisa pergi ke taman kota, nikmati gombalannya dan hasilkan lirik lagu."


"Kau cemburu?" tanya Arumi menyipit pada Ethan dan berharap menangkap reaksi lebih dari Ethan Sanchez yang tampak tak peduli Arumi pacari seorang rapper yang sedang naik daun.


"Untuk apa cemburui dua orang idiot, Arumi? Aku bisa kencani gadis pintar dan populer dari sekolah lain. Aku akan meniup sangkakala bahkan para malaikat akan mengantri untuk pacaran denganku," sahut Ethan Sanchez hiperbola, melengkung senyum mengejek pada Arumi. "Kau tahu kenapa aku tidak pacaran? Kehidupan cinta itu rumit dan menyita waktu! Kau mulai tampak bodoh karena jatuh cinta, terlebih pada mulut kekasihmu yang romantis berisi jutaan mawar, tunggu sampai dia campakkanmu. Aku akan melihatmu merana dalam waktu dekat. Kau memang idola tapi seorang penulis lagu sepertinya terlalu melankolis untukmu. Pacarmu terlihat tukang ghosting. Nah, kau pulang ke rumah besok atau kau bisa berhenti dari sini!"


"Ethan?! Kau benar-benar menyebalkan," sungut Arumi.


"Pulanglah dan berkemas, aku akan menyusul untuk membantumu!"


Marya keluar dari balik mantel Elgio meskipun ia ingin terus di sana. Mood-nya cepat membaik saat menghirup aroma Elgio.


"Arumi ... rumah sangat sunyi tanpamu dan Aunty Sunny. Aku tak suka kesunyian, begitupula Ibu," kata Marya. "Pulang ya," pinta Marya lagi.


Arumi tampak berpikir keras. Perhatikan kakaknya yang tampak pucat.


"Kau sangat pucat, Kak. Tadi aku ingin memberimu soya tapi kau buru-buru pergi dengan seorang pria. Sepertinya tak asing. Siapa ya?" tanya Arumi lebih pada ingatannya sendiri.


"Ya, benar. Kakakmu ikut dengan pria asing yang baru dikenalnya. Mengapa mau saja ikut dan percaya pada orang asing? Bagaimana kalau dia orang jahat?" keluh Elgio. Cukup buruk hampir kehilangan Marya beberapa waktu lalu. Apakah ia perlu menyewa seorang pria terlatih untuk mengawal istrinya itu?


Marya menengok Elgio, menukik pada bola mata Elgio. "Aku ikut dengannya karena dia beritahu aku tentang kau dan Irish. Aku tak ingin dengar soal Irish, tetapi Tuan Hellton katakan bahwa kau sembunyikan wanita itu di suatu tempat."


"Tidak ada, aku dan Irish! Jangan mengada-ngada Marya. Baiklah, jika kau mau ngambek untuk cemburu butamu yang sama sekali aku tak paham."


"Cemburu buta katamu?" seru Marya galak hingga Ethan dan Arumi mengernyit, Marya tampak sangat berbeda. Sepertinya bayi itu sangat pemarah bukan seperti Ibunya yang lemah lembut. "Kau sembunyikan Irish tanpa sepengetahuanku dan kau katakan aku cemburu buta?"


"Kau termakan ucapannya?" tanya Marya benar-benar marah. "Kembalilah ke peternakan Tuan Hellton, jemput Irish dan lindungi dia. Aku akan pulang sendirian."


Marya sekonyong-konyong bangkit berdiri dan berlari cepat keluar dari kafe, menuruni tangga, abaikan Elgio, hampir tersandung jatuh. Ia melambai pada taxi yang kebetulan lewat di depannya dan naik, biarkan Elgio mengejar taxi dengan frustasi. Pria itu kembali ke mobil.


"Jangan biarkan dia sendiri, Kak. Mengapa kalian selalu ribut soal Irish? Dan, pria asing tadi, adalah pamanku. Paman Hellton, sepupu Ibu," kata Arumi menyusul Elgio. "Aku baru ingat."


"Begitukah?"


Arumi mengangguk, "Ya, Kak. Hellton Pascalito, kerabat kami dan apakah Irish di sana dengannya?"


"Ya, Marya sangat cemburu pada Irish."


"Em, aku juga akan sangat cemburu kalau suamiku sembunyikan wanita lain," keluh Arumi. "Well, semoga kesalah-pahaman kalian segera berakhir. Aku akan pulang ke rumah dan merawat Ibu juga Aruhi."


Elgio mengangguk lesu dan pergi dari sana.


"Semakin ada kemajuan," ujar Ethan memuji sembari mengacak-acak rambut Arumi yang coba menghindar. Ethan Sanchez selalu lakukan hal-hal kecil yang manis hingga membuat hatinya salah paham.


"Jangan menyentuhku, kalau kalau kau tak menyukaiku!" kata Arumi ketus dan kembali ke dalam kafe.


"Eh?!"


"Aku akan pulang lebih dulu dan packing barang-barangku," sambung Arumi kembali dengan tas sekolah di punggung dan melengos pergi tanpa menunggu jawaban Ethan.


"Butuh bantuan untuk packing, Arumi?" tanya Ethan berteriak.


"Tak perlu, meskipun bodoh, aku bisa kerjakan hal itu sendirian," balas Arumi berteriak.


Ethan berdecak amati gadis itu pergi. Beberapa berandalan dengan botol di tangan sedang minum-minum di ujung jalan. Saat melihat Arumi, mereka usil padanya seraya bersiul genit. Ethan perhatikan seksama. Arumi berjalan kaki pulang ke flat karena jaraknya tak begitu jauh. Para pria itu saling mengajak, bangkit dari sana dan pergi ke arah Arumi menghilang.


"No no no," desis Ethan pelan. Ia buru-buru bertukar pakaian dengan kemeja dan menutup pintu kafe, mengikuti Arumi pulang. Harusnya saat lihat para preman mabuk, Arumi pulang saja ke kafe alih-alih berjalan pulang di antara lorong-lorong perumahan yang mulai sepi. Ethan berlarian ke arah flat Arumi dan tak temukan Arumi di jalanan. Dia mulai panik. Memutari lorong-lorong untuk memeriksa barangkali Arumi lewati jalur yang berbeda. Lalu, gusar saat Arumi benar-benar berdiri di pojokan ketakutan sementara berandalan bertato mengganggunya dengan kata-kata kotor.


"Kau sangat cantik, maukah temani kami?"


"Mari kita pergi bersenang-senang," sahut yang lainnya lebih berani dan dekati Arumi yang semakin rapat ke tembok.


Ethan memungut kaleng soda dari tempat sampah didekatnya dan ambil ancang-ancang sebelum melempar keras.


Plaaakkk! Satu kaleng soda kenai kepala salah seorang di antara mereka yang langsung berbalik padanya.


"Brengsek, berani sekali kau melempar kepalaku?"


"Kau mau lagi?" tanya Ethan dan lepaskan satu lemparan lagi. Mereka jadi marah dan datangi Ethan yang langsung melompat dan menendang salah satu di antara mereka hingga jungkir balik. Pecahlah saling kelahi dan saat Ethan berhasil sampai ditempat Arumi, beberapa preman lain muncul dari ujung lorong.


"Heeeiii, what's up man?" tanya preman yang badannya paling kekar.


"Ayo kabur, Arumi!" Ethan meraih tangan Arumi dan menyeretnya pergi dari sana.


"Kejar mereka!" pekik salah seorang preman lantang beri aba-aba.


"Kupikir kau pandai berkelahi?" tanya Arumi senang Ethan memegang tangannya. Ia berlari coba imbangi langkah lebar Ethan sementara para preman mengejar mereka.


"Kau sungguh bodoh, mereka terlalu banyak. Mengapa kau suka dikejar-kejar penjahat? Cantikmu itu bermasalah, Arumi Chavez."


"Mereka mendekat Ethan!" jerit Arumi abaikan kata-kata Ethan meski ia suka dengar pengakuan Ethan. Napasnya mulai ngos-ngosan. "Aku tak sanggup lari lagi Ethan! Napasku hampir putus."


Ethan memutar di lorong terakhir, mereka tak mungkin lari ke arah flat atau preman sialan akan tahu tempat tinggal Arumi.


"Berlari terus Arumi, jika kau jatuh aku akan tinggalkan kau. Kau bisa telpon pacar rapper-mu itu dan selamatkan dirimu!"


"Aku tak sanggup lari lagi, Ethan!" keluh Arumi kesekian kali.


Mereka dekat sebuah taman di komplek perumahan paling akhir. Ethan menarik Arumi pergi ke balik rerimbunan pepohonan yang mengapit tembok pembatas yang tinggi. Keduanya bersembunyi di sana. Tempat itu agak gelap hanya sedikit cahaya dari lampu taman.


"Cari mereka, tadi mereka kabur ke sekitar sini!" seru seseorang terbata-bata, mungkin karena terus berlari tanpa henti.


"Ethan?! Bagaimana ini?" bisik Arumi ketakutan.


"Jangan berisik!" balas Ethan menarik gadis itu merapat padanya hingga dagunya di kepala Arumi. Mereka tenggelam dibalik rerimbunan pepohonan merah tepat ketika langkah-langkah para preman terdengar bergema di dekat mereka.


"Tak ada bos, mereka pasti kabur ke jalan depan!" lapor seseorang.


"Awas ya, sialan bocah keparat, berani-beraninya lempari aku dengan kaleng soda," maki si bos preman kasar. "Ayo kembali!" Langkah-langkah menjauh.


"Mereka pergi?" tanya Arumi berbisik pelan, sangat senang berdempetan dan dipeluk erat Ethan Sancez seperti itu dalam rimbunan pohon hias berdaun merah.


"Tidak, kurasa. Mungkin saja mereka kelabui kita," jawab Ethan tetap berbisik, mengatur napas agar kembali normal setelah berlarian. "Kita akan menunggu sedikit lebih lama. Jangan buat keributan, Arumi! Diam saja!"


"Baiklah," sahut Arumi, menyukai momen itu dan berharap para preman masih di sana.


"Apa kau mencuci kepalamu dengan bubuk kopi? Rambutmu tercium seperti aroma cappucino?" tanya Ethan mengendus-endus kepala Arumi hingga Arumi ikutan meraih sedikit rambut dan menghirup lalu mendongak dan terkekeh pada Ethan sebelum berjinjit dan tiba-tiba mengecup Ethan kilat.


Yang dikecup berdecak tetapi tak lepaskan pelukannya. "Berhenti lakukan itu, Arumi! Kau pacaran dengan laki-laki lain dan mengecup bibir orang lain. Apa kau bodoh?"


Arumi memeluk Ethan kuat-kuat tak peduli jika nanti Ethan mengetuk kepalanya hingga bolong.


"Aku sangat menyukaimu Ethan Sanchez, kaulah yang bodoh di sini!"


****


Kadang aku pengen nangis kalau udah nulis tiba-tiba hilang dari draft karena sinyal yang sangat buruk di tempat tinggalku. Pengen gak update tapi gimana ya, aku sangat menghargai readers yang mencintai Heart Darkness.


Wait me Up, ya .... Aku mencintaimu ....