
Terbangun di pagi hari, Elgio Durante pegangi kepalanya yang berdenyut. Matanya segera awas saat temukan ia tidur di sebuah kamar yang asing. Ingatannya pulang ke semalam. Apakah ia bercinta dengan pelayan club' dan biarkan istrinya gelisah? Ia tak ingat apapun.
Damn it .... What the hell? So fu***king stupid!
Marya?!
Ia berjanji untuk tenangkan diri dan kembali untuk bicara pada Marya dengan kepala dingin. Apa yang telah dilakukannya? Ia segera terduduk dan menyapu seluruh ruangan langsung membentur sesosok tubuh.
"Kau brengsek, Elgio Durante!" sapa Abner duduk di sofa menyangga kening di kedua tangan, ucapan selamat pagi yang tak biasa. Ia pantas dapatkan itu.
"Abner ... " sahut Elgio muram, pikirannya langsung pergi pada Marya. Apakah kekasih menunggunya? Marya tak bisa tidur tanpa pelukannya. Pikiran hanya didominasi pertanyaan, "Apa yang telah aku lakukan?"
"Apakah aku mendidikmu untuk kabur dari masalah dengan minum alkohol dan berlabuh di pelukan wanita lain?" tanya Abner sangat gusar, kecewa, marah dan benci.
Seumur hidup Abner selalu marah padanya jika ia lakukan kesalahan, tetapi baru sekali ini Abner tampak benar-benar murka.
"Berpakaianlah! Kau harus temui istrimu! Kali ini kau benar-benar akan aku cambuk hingga setengah daging tubuhmu hilang!"
"Aku tak akan sanggup menghadapinya, Abner! Apa yang telah kulakukan?" Pegangi kepalanya kuat, sadari kesalahannya. Marya, kekasihnya yang malang. Ia menghalau semua kesakitan dari gadis itu, tak menyangka ia sendiri yang akan hancurkan kekasihnya.
"Marya lakukan sesuatu yang sangat mulia untuk seorang pelayan yang dipanggilnya Pengasuh. Kau tak akan percaya pada apa yang akan aku katakan!"
"Mengapa kau tak beritahu aku semalam?" ujar Elgio kesal pada Abner.
"Lihat ponselmu! Berapa banyak panggilan, berapa banyak pesan? Aku kehilangan target oleh ulah konyolmu dan Marya dapatkan keduanya."
"Abner ... untuk apa sebuah kamar dipesan?"
"Apakah menurutmu istrimu yang sedang hamil akan pergi ke ranjang dengan pria lain? Kudengar kau curigai Archilles? Ya Tuhan, Elgio, kau tidak waras. Segitu sajakah, kepercayaanmu pada Marya?"
"Abner ... jangan beritahu Marya, aku kemari! Kau tahu, ia akan sangat tersakiti!"
Abner berdecak. "Harusnya kau pikirkan itu sebelum kemari, Elgio. Sayangnya, teman kencan satu malammu itu mengirim foto bug***lmu pada istrimu dan kau bisa dengar suara manja menggoda lalu suara kepedihan istrimu di riwayat panggilan keluar! Dengarkan itu dan tersiksalah sepanjang usiamu, Elgio Durante!"
"Abner ... apa aku melakukan itu?" Elgio terdengar seperti jiwa berdosa yang tak akan terampuni. Tak ingat apapun semalam kecuali langkah-langkah kaki panik di pintu.
"Tidak, kau beruntung! Aku datang tepat waktu untuk selamatkan dirimu dari masalah. Tepat waktu untuk pergoki si wanita sedang giat bekerja miliki dirimu! Apa kau ingin berakhir dengan seorang bayi lain dan sakiti istrimu?!" Abner tampak ingin mencekiknya hingga ia sekarat.
"Marya ... apakah dia baik-baik saja?!" Pikiran Elgio buntu seketika. Ia lakukan hal rendahan bahkan oleh dirinya sendiri tak termaafkan.
"Elgio ... kau tahu, aku mengerti situasimu. Kau sangat tertekan oleh saudara kembarmu yang tiba-tiba muncul, oleh adik perempuanmu yang menghilang dan oleh banyak masalah di kantor. Tetapi, kau harus tahu bahwa kau lemah oleh alkohol Elgio Durante. Satu tetes saja, bisa sangat fatal. Bagaimana bisa kau sengaja minum dengan wanita lain di sisimu?"
Mereka pergi dari klub setelah Elgio mandi, menggosok tubuhnya dengan keras di bawah pancuran, merasa telah menghina dirinya sendiri dengan biarkan seorang wanita lain menjilati tubuhnya. Abner masih ceramahi Elgio Durante di dalam mobil, setiap kata-kata diucapkan dengan tegas, jelas dan berulang sengaja ingin Elgio tersiksa lahir batin.
"Entah setan apa yang merasukiku."
"Kau pantas direndam dalam kolam air suci sebulan penuh hingga darahmu beku. Kau tak akan selamat kali ini. Aku akan mencambukmu dengan ekor arraia (ikan pari)."
Suasana rumah senyap. Elgio tak berani masuk tetapi Abner mendorong tubuhnya seperti dia seorang penjahat yang harus menghadap Pilatus untuk diadili.
"Elgio, syukurlah kau kembali!" Salsa segera berdiri, menyambut penuh sukacita. "Apa kau baik-baik saja, Nak?"
Elgio terdiam.
"Aku tahu tidak mudah jalani pernikahan dengan istrimu yang masih sangat belia dan butuh banyak bimbingan. Tolong maafkan tingkahnya," ujar Salsa menghapus air mata cepat-cepat. "Tetapi percayalah, ia tak lakukan hal yang buruk."
"Jadi, Ibu tahu?"
"Tidak, Aruhi tak ingin siapapun terlibat! Ia ingin mengambil tanggung jawab penuh untuk tiap tindakannya! Aku percaya padanya sebab aku tahu Aruhi tak akan lakukan keburukan."
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Abner.
"Beruntungnya, Dokter segera datang Abner. Aruhi hanya minum pil anti depresi dan obat tidur. Ia mengakui rasakan nyeri di sekujur tubuh, jadi ia minum obat untuk hentikan sakit."
"Aku tahu, dia berubah jadi gadis tangguh ...." Abner menghela napas kuat dan panjang.
Arumi di tangga lantai atas, duduk bersandar pada pembatas tangga, mengetuk keningnya perlahan. Archilles tak jauh dari Arumi, berdiri kikuk seperti patung hidup. Pengawal itu sepertinya telah berdiri membatu sepanjang malam. Seakan bersiap untuk di eksekusi mati oleh para algojo. Orang-orang rendahan sepertinya akan selalu ditempatkan di posisi yang tidak menguntungkan lantaran kerjaan mereka adalah melayani Tuan dan Nyonya. Tetapi, ia sadari kekeliruannya. Harusnya ia beritahu Tuan Elgio sebab Nyonya Marya bisa dalam bahaya jika salah bertindak.
"Bolehkah aku melihatnya? Apa dia sudah siuman?"
"Aku tak mengerti, Abner. Aruhi menolak bertemu semua orang! Ia hanya ingin sendiri!" sahut Salsa getir tak kuat menahan air mata.
Abner melirik tajam pada Elgio. "Apa kau akan mematung di situ?"
Seperti robot Elgio Durante bergerak ke tangga, naik anakan tangga satu persatu, merasa jijik pada dirinya sendiri tetapi tak sanggup lontarkan segala mual yang gerayangi perutnya. Penyesalan memang selalu datang di belakang, jika penyesalan datang lebih awal, bukan menyesal lagi namanya tetapi niat untuk menyesal. Tak bisa diungkapkan rasa menyesalnya. Hanya satu yang ia pahami, ia telah sakiti Marya. Ia selamatkan gadis itu dari segala penderitaan Aruhi hanya untuk ciptakan hal menyakitkan lainnya.
Abner menyusul di belakang Elgio ingin lihat keadaan Marya. Lewati Arumi yang kosong dan Archilles yang membungkuk.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Elgio saat dapati bibir pengawal itu pecah dan berdarah, juga tangannya tampak terluka.
"Ya Tuan, aku baik-baik saja."
"Maafkan Bosmu, dia sedang collapse, jadi, bertingkah aneh!" ujar Abner menyambung dengan sindiran pedas, menepuk bahu Archilles. "Obati lukamu, Archilles!"
"Ya, Tuan."
Saat Elgio dan Abner pergi ke kamar Marya, Arumi berdiri awasi pengawalnya.
"Ikut denganku! Aku akan obatimu!" suruh Arumi dengan gaya khasnya yang menyebalkan.
"Aku bisa sendiri, Nona!"
"Baiklah, jadi patung saja di situ!" Arumi putar-putar tangannya bentuk tongkat Peri, bim salabim ke arah Archilles sebelum menghilang kebalik kamar. Ia kembali dengan banyak plester luka warna-warni.
"Kau tak perlu bicara selama masih terluka."
Tinggal tambahkan perban yang baluti seluruh tubuhnya, Archilles akan mirip mumi dalam kartun anak dengan tempelan plester di sekujur wajah dan tangannya.
Salsa perhatikan dari bawah, amati Arumi yang sangat bersemangat tetapi konyol dan Archilles yang patuh, menggelengkan kepalanya pening sendiri. Sepertinya ia tak perlu cemas Archilles jatuh hati pada Arumi, bahkan Archilles mungkin sadari, betapa konyol puterinya itu.
Sementara Elgio dan Abner masih ragu-ragu di muka pintu yang tertutup. Kamar Marya telah berpindah sementara waktu berdekatan dengan Arumi.
Mendorong pintu kamar, mereka dapati Marya terbaring memeluk bantal guling belakangi pintu masuk. Guling dipakaikan kemeja Elgio dan kedua lengan kemeja memeluk leher Marya, sepertinya ia tidur dengan cara itu. Kepala Marya beralaskan bantal yang juga dibungkus kaos Elgio. Bahkan ranjang berserakan dengan pakaian Elgio. Gadis itu kecanduan pada Elgio Durante tak bisa tidur tanpa pelukan suaminya. Jadi, tak perlu dirasakan pedih hatinya. Desah napas Marya berbunyi teratur dan halus. Namun, sesekali isakannya terdengar panjang.
"Marya ... apa kau baik-baik saja?" tanya Abner pelan. "Bisakah kita bicara?"
Tak ada sahutan, tak ada geliat. Diam membisu. Seakan Abner bicara pada benda mati. Abner menunggu dengan sabar sedang Elgio menyiksa dirinya sendiri di sisi Abner. Tercenung, kebencian berkobar-kobar dalam dirinya.
"Aku menarik sejumlah uang di Bank kemarin siang Tuan Abner. Kupikir uang itu milikku jadi aku tak perlu minta ijin untuk mengambilnya. Aku membeli beberapa paket dan memaksa Archilles menggiring Patricia dan Angel Saclamente padaku. Aku beri mereka uang yang banyak untuk bawa paketan itu ke Indonesia. Aku tak bisa membalas perlakuan buruk mereka pada Maribella dengan kekerasan. Jadi, aku gunakan cara di mana mereka akan di hukum mati di negara yang sangat disiplin itu. Archilles membantuku, aku tidak tidur dengannya. Kamar yang disewa di Club hadiah dariku untuk Patricia dan seorang pelayan pria."
"Mengapa kamu lakukan itu, Marya? Kau bisa beritahu aku!" sahut Abner. "Mengapa rahasiakan dariku?"
"Aku melihat video Maribella di siksa. Aku menjadi sangat marah dan sakit hati. Sipir penjara sangat terangsang saat Maribella dipukuli. Patricia ingin menculik Maribella, menjerat leher pengasuhku, mengikatnya di ranjang dan katakan sesuatu yang mengerikan, ingin bercinta dengan Maribella. Keputusanku tepat mengirim mereka ke Indonesia. Mereka akan ditembak mati di sana," terang Marya dengan kata-kata pelan menahan isakan dan mengandung kebencian. Di kalimat terakhir suaranya jadi parau, ia mulai menangis sedih. "Aku tak bisa beritahu Elgio, sebab Elgio pasti akan menentangku."
"Marya ... " kata Abner kehilangan kata. Sesuatu yang berurusan dengan Marya Corazon selalu buat isi kepalanya menggelap.
"Yang harus kau lakukan, Tuan Abner, hubungi interpol untuk menguntit mereka. Dengan demikian, semua kerjaku tidak sia-sia. Aku ingin minta bantuan Paman Hellton. Ia bisa menolongku. Sesungguhnya tak diperlukan, aku ingin mereka tertangkap secara natural tanpa drama. Bea Cukai Bandara di Indonesia sangat ketat, mereka tak akan lolos."
Bernapas berat dan panjang sesekali sesenggukan. Suaranya sengau. Mungkin saja sudah habiskan waktu sepanjang malam untuk menangis. Elgio terguncang pikirkan bahwasannya ia telah sangat sakiti Marya dan tak tahu cara menebus dosa.
"Buku rekeningku ada pada Arumi, Tuan. Silahkan diambil. Aku putuskan untuk tidak menerima warisan Tuan Leon. Aku akan kembalikan uang yang kupakai pelan-pelan saat aku bekerja dan menerima upah."
"Marya ... kau mungkin sedang marah. Mari sembuhkan dirimu dan kita bicara nanti."
"Semuanya telah berakhir untukku, Tuan Abner. Saat Elgio pergi bersama wanita lain, duniaku telah runtuh."
"Tidak ada yang terjadi. Suamimu yang bodoh akan lakukan penebusan dosa. Kau akan menyiksanya hingga ia tak akan sanggup berpisah satu inci darimu. Perlu kau ketahui, ia sama sekali tak menyentuh wanita itu, ia hanya mabuk dan aku datang padanya saat tahu Elgio pergi ke Burka Club. Dia tak tidur dengan wanita jahat itu!"
"Tidak, Tuan Abner. Aku akan lepaskan semua ikatanku dengannya. Aku akan tinggalkan rumah ibuku dan hidup berdua bersama bayiku. Aku bisa jadi pegawai Laundry di tempat madam Niels dan hasilkan uang sendiri untuk kehidupan kami. Aku akan kembali ke beberapa bulan yang lalu saat kami belum bertemu dan melanjutkan hidupku dari sana." Marya tak bisa sembunyikan sakitnya, begitupula tekadnya. Tiap getaran di suaranya mengandung perih. Itu berarti ia akan berhenti sekolah dan mengurus bayinya.
"Kurasa kalian butuh bicara," ujar Abner mundur dari sana.
"Marya ... " guman Elgio pelan, mendekat dan berlutut di sisi ranjang, tak sanggup mendengar rencana Marya. Wajah gadis itu tersembunyi di antara bantal-bantal. Jemarinya terlihat mencengkeram bantal guling erat-erat melekat ke tubuhnya seakan ingin meredam sakit di sana. Marya sedang hamil, melihat wanita lain tersenyum pada Elgio buatnya cemburu buta, apalagi ini? Ketika seorang wanita lain mengangkat ponsel suamimu.
Bagaimana bisa Marya berpikir akan pergi bekerja di laundry dengan kehamilannya? Elgio mengutuki dirinya sendiri.
"Kau bisa menghukum aku sesuka hatimu, tetapi jangan tinggalkan aku! Aku bersalah padamu!"
"Ini salahku juga Elgio. Harusnya aku bicara terus terang padamu. Tetapi, sudah berakhir kini. Mari berpisah. Aku tak akan melarangmu bertemu anakmu, hanya saja, kita tak perlu bersama."
"Tidak!" balas Elgio menggeleng ketakutan. Menyentuh tangan Marya. Menangis penuh penyesalan di sana. "Jangan lakukan itu, padaku! Aku sungguh-sungguh menyesal."
"Aku menunggumu untuk bicara, Elgio tetapi kau tak pulang. Jadi, aku menghubungimu. Tetapi seorang gadis menjawab panggilanku dan berkata, kau tak ingin diganggu! Semuanya telah berakhir untuk kita."
"Hentikan, jangan bicara yang tidak-tidak! Maafkan aku, kau bisa menghukum aku sesukamu tetapi jangan tinggalkan aku."
Elgio meraung di sisi pembaringan, tak punya cara untuk membujuk Marya. Marya mengangkat wajah agak tinggi. Meskipun sangat sakit hati, ia bersyukur pria itu baik-baik saja. Seandainya Elgio tahu bahwa ia mencintai Elgio tanpa sisa. Tak punya gagasan cintai orang lain sedalam cintanya pada Elgio Durante. Tiap kali memikirkan Elgio Durante, Marya temukan ia jatuh cinta lagi dan lagi pada pria itu, tetapi, semalam semuanya hancur.
"Bisakah tinggalkan aku sendirian? Aku ingin tidur."
"Tidak, aku tak akan pergi! Maafkan aku, Marya. Jangan buat keputusan dalam situasi buruk, kita akan menyesalinya. Kita punya bayi, Marya."
"Harusnya kau pikirkan itu, Elgio sebelum biarkan wanita lain menyentuhmu, bahwa, istrimu sedang hamil," keluh Marya menangis sejadi-jadinya.
"Marya, ini yang pertama dan terakhir kali, aku sia-siakan kepercayaanmu. Aku tak akan lakukan lagi! Kau bisa congkel kedua mataku jika kau dapati aku berbohong. Aku tak bisa hidup tanpamu! Aku bersungguh-sungguh."
"Kau datang dan keluarkan aku dari keheningan. Kau memelukku kuat dan tak lepaskan aku! Kini, aku terlempar kembali ke sana, jatuh makin dalam. Semalam, aku menyesali pertemuan kita."
"Tidak!" Elgio bangkit, singkirkan selimut, satu lengannya menjulur ke bawah tengkuk Marya sedang lainnya di pinggang sang gadis, menarik kuat padanya. "Ingatlah semua kenangan yang telah tercipta, demi-nya, aku akan perbaiki semua ini."
Tak bisa menolak pelukan, Marya terisak-isak. Terpisah bertahun-tahun, mereka bertemu kembali dan dalam dua bulan penuh menulis banyak kisah.
"Yang aku lakukan salah, aku menyiksamu, aku menyakitimu, aku merusak cinta kita, dan aku sangat-sangat idiot. Tetapi, aku tak akan pergi dari sisimu meski kau menolakku. Aku akan menerima hukumanku. Jangan jauhkan aku darimu sebab kau milikku dan aku milikmu."
"Elgio, aku sangat mencintaimu. Apa yang kau lakukan padaku?"
Dalam posisi berdekatan, tampak jelas memar di sekitar tenggorokan Marya. Elgio memeluk Marya, baringkan kepala Marya dekat jantungnya. Ingin bertanya, ada apa dengan lehermu, Marya?
Badai dalam kehidupan rumah tangga terkadang datang sebagai guru yang bijak, hanya saja, terkadang manusia tidak ingin memetik pelajaran sebab lebih sibuk rasakan emosi.
Well, Marya pikirkan dirinya sebelum bertemu Elgio Durante dan ketika waktu membawanya pada Elgio, ia tak pernah sama lagi. Kehidupan setelah Elgio datang adalah kehidupan terbaik yang pernah ia jalani. Kehidupan kelabu mendung Aruhi pergi berganti dengan Marya yang selalu bahagia bersama Elgio Durante.
Jika ingin rumah tangganya kokoh maka Marya harus hadapi badai sebab badai pasti berlalu. Ia hanya perlu sedikit melangkah keluar dari pusara badai dan melihat dari sisi lain, ia akan temukan bahwa badai hanya butuh dilewati. Dan dibaliknya, matahari bersinar terang, pertanda selalu ada harapan dibalik prahara. Ada cerah setelah arungi badai.
Terkecuali, jika ia menyerah lebih cepat pada pernikahan mereka.
Apakah ia tetap akan pergi dan tinggalkan Elgio Durante? Atau takluk pada hatinya yang mencintai Elgio Durante tanpa sisa?
***
Well, ada tiga chapter hari ini, bantu aku dengan wajib tinggalin komentar dan like ditiap chapter. Itu sangat menolong Authormu ini.
Aku mencintaimu.