
Banyak hal yang harus diurusi Elgio, banyak masalah seperti dugaannya. Pria itu terbenam berjam-jam di kantor dan menerima banyak laporan dari masing-masing divisi. Abner pergi untuk melihat keadaan Sunny dan belum kembali sejak siang. Hampir pukul 8 malam ketika Elgio putuskan kembali pulang. Marya temani Ibunya sebab Arumi menolak untuk pulang, meski Marya terus datang membujuknya.
Elgio serba salah, di satu sisi ia harus temani Marya dan di sisi lain, adik perempuannya begitu merana ditinggal sang suami lepas dua hari setelah menikah. Ia keluar dari kantor yang mulai remang-remang, beberapa pegawai menyapa di lobi kantor. Hanya balas mengangguk. Banyak kontrak dan pesanan dibatalkan, beberapa kerja sama terancam berakhir dan beberapa saingan manfaatkan situasi buruknya untuk menyerang produk mereka kini. Mereka hentikan produksi untuk sementara waktu sampai situasi kembali tenang.
"Pulanglah dan istirahatlah! Jangan buat aku terlihat seperti bos yang jahat!" katanya pada para pegawai yang masih lalu lalang di lobi perusahaan padahal hari mulai larut. Mereka membungkuk padanya dan mengiringi langkahnya dengan tatapan galau.
Ia pergi ke parkiran, membuka pintu mobil dan duduk dibalik kemudi. Mesin mobil dinyalakan dan ia keluar dari basement perusahaan. Hidupnya dan keluarganya lumayan dapat ujan berat selama seminggu ini. Ia berharap semuanya segera berakhir dan meski Lucky di penjara dalam waktu yang belum tahu pasti, Elgio berharap keduanya bisa bersama suatu waktu tanpa masalah.
Lampu merah pertama, pria itu mengirimkan pesan cinta pada Marya.
Aku merindukanmu, bisakah kita bersama malam ini?"
Menunggu balasan. Elgio kembali menyetir lewati kota yang masih ramai. Ia sangat penat hari ini, melihat Marya bisa jadi obati lelahnya. Ia rindukan Marya saat gadis itu agresif dan aneh seperti ketika Marya menggodanya sebagai reporter atau saat gadisnya bermain-main dengan ponsel untuk memancingnya datang. Elgio menggigit bibir bawahnya gemas sendiri ketika ingat tingkah konyol Marya. Lampu merah kedua, 28 detik. Ia renungi kota yang terang oleh lampu-lampu jalan dan perhatiannya beralih pada seorang wanita, berpenampilan seperti Lady Babushka sebab memakai syal penutup kepala serupa dengan yang biasa dipakai manula, juga gunakan kaca mata gelap besar yang tutupi separuh wajah, berlarian sedangkan beberapa preman mengejarnya dari belakang.
"Orang bahkan lakukan kejahatan di depan mata," keluhnya miris. Si wanita tampak terseok-seok kehabisan napas. Elgio putuskan untuk acuhkan. Ia sendiri sedang bermasalah. Mengapa tak ada petugas keamanan terlihat? Atau si wanita adalah pencuri, bisa jadi perampok. Lupakan saja!
Ia kembali berkendara tetapi jiwa baik hatinya meronta-ronta saat ikuti perkembangan peristiwa yang berlangsung di depan matanya. Si wanita akhirnya lakukan kesalahan, hindari keramaian tapi malah terdesak di lorong cukup gelap dan tiga preman itu bersiap menangkapnya.
"Oh yang benar saja," gerutu Elgio jengkel oleh belas kasihan yang mengusik di hati. Bagaimana jika Reinha atau Marya atau Bibi Maribel ada di posisi si wanita itu dan seseorang sepertinya lewat lalu hanya menonton.
"Oh shiittt!!!" umpatnya banting setir.
Pria itu memutar mobil ke arah lorong dan menyoroti ketiga preman. Dua orang dari mereka telah pegangi wanita yang ketakutan. Elgio menginjak rem kuat saat bagian depan mobil akan menabrak satu di antara mereka. Pria itu meraih senjata dari Dash board selipkan di balik jas dan turun dengan kesal. Bukan pada ketiga preman tapi pada dirinya sendiri karena tak bisa abaikan keadaan. Ia bahkan dibujuk untuk pulang saja oleh naluri dan memeluk istrinya. Tertibkan keamanan kota bukan tugasnya.
"Jangan ikut campur, Tuan!" tegur si preman tidak suka.
"Tentu saja, tapi kalian bertingkah sok hebat dengan mengejar seorang yang lemah. Singkirkan tanganmu darinya!" komen Elgio kasar.
"Tuan, pergilah sebelum kesabaranku habis!"
"Tidak. Bagaimana kalau kalian saja yang pergi?" balas Elgio bertanya.
Si pria yang memegangi si wanita berikan kode untuk singkirkan Elgio. Perkelahian tak bisa dihindari. Dari cara mereka ayunkan pukulan dan tendangan, Elgio menduga bahwa para pria ini bukan sembarang orang. Mereka terlatih untuk berkelahi dan pasti suruhan Mafia. Walaupun bukan masalah rumit untuk Elgio sebab sebulan belakangan ia masih saja terus berkelahi dengan penjahat, tetapi butuh waktu lama untuk Elgio Durante bertarung dengan dua pria yang mulai sempoyongan oleh tendangannya. Lengannya masih belum benar-benar pulih dari cidera beberapa waktu lalu.
Sedikit usaha, akhirnya pria itu berhasil jatuhkan dua preman tersisa satu yang memegangi si wanita. Elgio berpikir untuk gunakan senjata tetapi si preman lebih dulu menodong kepala si wanita.
"Menjauhlah Tuan, Anda salah telah ikut campur urusan kami," kata si preman.
Elgio rapikan jasnya. "Baiklah, aku akan pergi," sahut Elgio sinis. Ia datangi si penjahat.
"Berhenti!"
Pistol terarah padanya. Elgio berhenti angkat tangan dan mereka berhadap-hadapan. Saat itulah si wanita menyikut keras lengan sang penjahat sehingga pria itu terdorong. Tanpa buang kesempatan Elgio meraih senjata dan menembaki si penjahat di pahanya dan satu tembakan lagi di lengan yang memegangi pistol. Penjahat itu rubuh sedang dua temannya tergeletak tak berdaya.
Elgio meraih ponsel untuk hubungi polisi, tetapi si wanita tiba-tiba berlari padanya dan menahan gerakan Elgio.
"Kau tak akan lakukan itu, Elgio Durante! Jangan menelpon polisi!"
Elgio terperangah saat Irish lepaskan kaca mata hitamnya.
"Irish?!" Elgio keheranan dan menepis pegangan Irish darinya. Dengan jahatnya Elgio berpikir harusnya tak ikut campur.
"Mengapa? Aku akan menelpon polisi dan mereka bisa menjemputmu, bukankah kau dibawah pengawasan pemerintah?" tanya Elgio menatap wanita di depannya tajam.
"Elgio, kurasa kita harus bicara. Tapi, kau akan selamatkan aku terlebih dahulu," sahut Irish terdengar ketakutan.
"Tidak, aku akan menelpon polisi. Selamat tinggal, Irish." Pria itu berbalik dengan cepat ke mobil. Hidupkan mesin dan segera mundur untuk berputar. Tak disangka Irish Bella mendesak masuk, ikut di bangku belakang dan bersembunyi di balik bangku mobil.
Elgio mendengus tidak suka, ia ingin menyuruh Irish keluar tetapi beberapa pria besar berwajah sangar terlihat di spion mobil, berlari-lari di sepanjang toko celingukan mencari seseorang.
"Jangan menyeret aku dalam masalah yang kau buat Irish! Keluarlah!"
"Jika kau lindungi aku, kau bisa pegang janjiku. Aku akan mencabut semua berkas yang menyeret Durante Land. Beberapa orang Familly Club' mengejarku. Mereka menyuap para petugas yang mengawal aku dan mengejarku. Aku tak percaya pada pemerintah, aku mungkin akan berakhir seperti Rocco Anthony. Tolong aku, Elgio!"
"Irish, aku punya banyak masalah. Aku tak bisa libatkan diriku dengan masalahmu! Tolong pergilah! Aku akan menelpon Carlos!"
"Carlos ada di Gaza saat ini! Elgio, ponselmu juga disadap," kata Irish. "Bisakah kita pergi dari sini? Aku sungguhan dikejar-kejar Familly Club'."
Elgio amati Irish dan temukan wanita itu tidak berbohong. Beberapa pria terlihat mendekat. Elgio lajukan mobil perlahan agar tak timbulkan curiga. Lalu buru-buru tancap gas saat lewati by pass.
"Kau harus pergi pada kepolisian! Aku akan mengantarmu, Irish!" ujar Elgio tak ingin ambil resiko.
"Kau tak akan lakukan itu!"
"Mengapa tidak bisa?"
"Tidak ada yang bersih di pemerintah. Kau tahu bahwa walikota adalah adik laki-laki Viktor Mendeleya?"
"Ya, tapi dia buktikan dirinya tak terlibat skandal Mafia."
"Kurasa, dia terlibat hanya tanpa bukti!"
"Irish berhentilah mengacau! Jika dia terlibat skandal, tak akan ada aksi penangkapan Mafia besar-besaran!"
"Itu cuma kamuflase. Kau mulai lemah Elgio Durante karena terlalu banyak di kelilingi penjahat. Kau memburu Lucky Luciano selama ini. Kau berubah pikiran hanya karena bedebah itu punya hubungan istimewa dnegan adik perempuanmu, begitu pula Diomanta. Kau menikahi anak perempuan mafia jadi kau berubah lembut dan pemurah, toleransi pada kejahatan. Rasa hormatku padamu berakhir. Kau lebih mirip salah satu di antara mereka saat ini," keluh Irish.
"Itu keliru Irish. Lucky berubah selama ini. Ia sama sekali tak terlibat kejahatan lagi. Itu yang mendorong aku berpihak padanya. Soal Diomanta, kau salah sangka. Aku dan Puteri Salsa Diomanta telah bersama sejak usia kami masih kanak-kanak. Tetapi saat ini Salsa dan Sunny telah lepaskan segala pengaruh buruk mereka sejak mereka temukan Marya. Mereka juga telah berhenti lakukan kejahatan."
"Aku punya bukti kejahatan mereka yang kau kumpulkan. Seorang hacker asal Rusia mencurinya dari komputer pribadimu, Elgio Durante. Aku berhasil mencurinya dari seseorang. Kau akan lindungi dan sembunyikan aku atau aku akan mengirim berkas ini pada jaksa penuntut umum. Itulah alasan aku hanya minta kau datang sebagai saksi tapi tak benar-benar penuh menyeretmu. Jika kau sembunyikan aku, kau mungkin tak perlu berdiri di pengadilan untuk jadi saksi yang beratkan mertuamu dan adik iparmu."
"Jangan tawar-menawar denganku, Irish. Aku akan antar kau ke pihak berwenang sekarang!"
"Apa maumu? Bukankah laporanmu telah ditindak lanjuti. Kau akan segera jadi pahlawan karena telah berhasil bersihkan kota dari Mafia."
Elgio tahu, Irish telah menyinggung beberapa Mafia. Sekarang wanita itu diburu, dikejar-kejar Mafia bukan hanya Family Club.
"Sembunyikan aku di suatu tempat, sampai aku dapatkan suaka."
"Kita akan ke rumah walikota! Kau akan bersembunyi di sana," ujar Elgio tegas. Sembunyikan Irish di mana? Di Durante Land? Yang benar saja? Marya akan mencekiknya, dan dengan senang hati pergi darinya. Ia tak akan sanggup hidup tanpa istrinya itu.
"Sudah kubilang, Walikota kita mungkin terlibat," seru Irish emosional.
"Kita akan tahu nanti, Irish!"
Elgio hentikan mobil di pinggir jalan dan hubungi Abner dari ponsel tua Benn. Ia menyimpan ponsel itu dan belum kembalikan pada Marya sebab Marya selalu bersedih jika melihat benda itu. Ponsel keluaran tahun-tahun di mana, secanggih apapun otak seorang manusia tak akan berhasil pada ponsel yang hanya memiliki beberapa fitur di ruang penyimpannya. Ia akan menggugat pihak yang berani menyadap ponselnya dan akan bikin perhitungan dengan hacker Rusia yang telah menyabotase komputer pribadinya. Ia akan bertemu Francis dan minta pria itu mencari tahu.
"Abner, bisakah sambungkan aku dari jalur pribadi dengan walikota?" sapa Elgio muram. Melirik Irish dari spion yang tampak sangat gelisah. Wanita ini terlalu berani hingga bertingkah gegabah, disangkanya setelah publikasinya tentang Mafia bisa buat ia hidup tenang. Ia akan dikejar seumur hidup oleh mereka sampai dia tutup mulut atau lenyap dari muka bumi. Elgio hampir lakukan itu beruntung Abner kendalikan dirinya.
"Tidak Elgio, kita tak bisa hubungi walikota sebab beliau menolak berurusan dengan kasus yang menyangkut Mafia. Beliau tak ingin diintervensi. Ini akan sangat sulit. Ada apa?"
"Ada cara lain? Kau tahu ponselku disadap?" tanya Elgio.
"Disadap? Aku akan periksa. Di mana kau saat ini?"
"Bersama Irishak Bella. Bisakah kau datang, Abner?" sahut Elgio pendek. "Kemari saja!"
"Jangan terlibat dengannya Elgio Durante. Atau tahan dia dan kita bicara! Aku akan hubungi Francis. Walikota tak akan menolak jika Nona Queena yang menelpon."
Ponsel dimatikan sedang ponsel satunya bergetar.
"Come to me, Elgio Durante. Aku tak bisa tidur."
Diikuti dengan gambar diri, wajah mengantuk yang separuhnya tenggelam dibalik bantal. Mata yang setengah terpejam dengan ekspresi merengek menatap kamera dan memancingnya pulang. Elgio hembuskan napas berat, duduk dengan gelisah.
"Jangan tidur dulu Marya. Aku perlu bicarakan sesuatu denganmu."
"Baiklah. I miss you so much."
Menunggu adalah hal paling menyebalkan, jadi ketika mobil Abner datang, Elgio merasa lega.
"Irish ...." sapa Abner datar.
"Hai Tuan Abner," balas Irish dengan wajah lelah. Sepertinya ia dikejar-kejar seharian. "Surat perintah penyidikan telah diterbitkan dan Lucky Luciano juga besan Anda telah ditetapkan jadi tersangka. Familly Club' memburuku!"
"Aku pastikan itu bukan Luciano atau Diomanta!" jawab Abner tenang. "Kau menyusahkan dengan banyak kartel Mafia dan terang-terangan menyerang mereka. Kupikir kau punya perisai untuk menangkis serangan balik."
"Durante akan lindungi aku!"
"Tidak, pemerintah akan lindungimu, Irish," sahut Elgio tegas. "Abner, bawa dia pada Queena dan biarkan Irish bertemu walikota."
"Francis mengatakan Queena juga ditolak!"
"Katakan padanya, Irishak Bella bersama kita karena diburu Mafia. Irishak meminta perlindungan!"
Irish menggeleng. "Kau terlihat sangat ketakutan berdekatan denganku, Elgio Durante?" tanya Irish.
"Irish, aku harus pulang karena istriku menunggu. Harusnya aku tak menolongmu tadi, kupikir kau adalah manula, wanita tua yang butuh pertolongan."
"Apa kau takut? Sebab takdir secara aneh pertemukan kita?"
Elgio hembuskan napas panjang dan kesal. Coba bersabar. "Dengar! Aku mencari tempat perlindungan untukmu, Irish, dan walikota adalah tempat yang tepat. Tak akan ada yang berani menyentuhmu di sana!"
"Tidak, kau akan lindungi aku. Tak ada jaminan aku tak berakhir seperti Rocco Anthony."
"Itu bukan urusanku."
"Jadi, saat aku menyeretmu juga ke pengadilan, itu bukan urusanmu?" tanya Irish sarkas. "Harusnya kau tanya preman tadi, siapa yang menyuruh mereka. Aku yakin itu suruhan Diomanta. Hanya Diomanta yang paling dirugikan saat aku buka suara! Mertuamu adalah tahanan kota dan masih bisa ambil tindakan."
"Jaga bicaramu, Irish!"
"Kau lindungi Diomanta dari kejahatan karena istrimu itu. Apakah aku tidak waras?"
"Abner ...?!" keluh Elgio gertakan gigi. Dia tak ingin berdebat dengan Irish soal apapun.
"Jangan libatkan Elgio Durante! Aku akan mengurusmu, Irishak Bella. Aku akan lindungimu sampai bisa hubungi walikota. Tapi tidak gratis, kau harus berhenti menyeret Elgio untuk urusan apapun. Atau aku akan biarkan kau ditemukan mafia sebelum sidang dimulai," kata Abner tak ingin kompromi.
"Sepertinya Elgio Durante takut, tak bisa hindari takdir denganku! Kau tipe pria idamanku dulunya, saat kau mengejar penjahat."
"Turunlah, Irish," potong Elgio. "Ikut dengan Abner! Takdirku hanya seorang wanita bernama Marya Corazon! Tolong jangan mengada-ada! Kau menyeretku akhirnya seperti terobsesi padaku bukan karena kau benar-benar ingin meringkus kejahatan."
"Itu tidak benar. Aku tak suka penjahat, kau termasuk di dalamnya kini, Elgio Durante. Lindungi saja mereka dan lihat bagaimana ini akan berakhir!"
***
Tak bisa dihindari untuk menulis chapter ini sekuat apapun aku mikir. Aku juga harus ngurus wedding besok pagi jam 3 di luar kota. Aku nulis ini sementara mobil melaju. Kebayang peningnya....
Tinggalkan komentar...
Do you love this chapter? Do you Love me? I love you Readers. Vote, Senja Cewen ya....