
"Kakak?! Apa yang kau lakukan? Reinha sangat mencintaimu ...." Claire menatap Lucky Luciano murka. "Aku tak percaya kau lakukan ini padanya?!"
Claire berbalik cepat ke dalam rumah, keluar dengan jaket dan kunci mobil di tangan. Ia menuruni tangga tergesa-gesa.
"Bos, kau harus mengejarnya!" Francis bicara pada Tuannya yang terlihat kacau.
"Francis benar, kau harus pergi Lucky. Jangan membuatku terlihat sangat jahat. Lagipula, aku tak akan menikahimu," kata Queena pelan.
"Baiklah, aku tak akan membunuh bayi ini, pergilah, kejar dia. Gadis itu mengemudi dalam marah, kau tahu itu sangat berbahaya."
Belum dikutuk saja Lucky Luciano sudah tahu tak mungkin bisa hidup tanpa melihat Reinha Durante. Kenangan demi kenangan menguntitnya kemanapun ia pergi. Ciuman dan cumbuan adalah reka adegan dengan senang hati menyiksanya sepanjang malam lantaran ingin bersama gadis itu. Kini setelah mereka bersama, ia melakukan kesalahan brutal dalam hubungan mereka, menyakiti Reinha. Seakan cinta mendalam di antara mereka cuma kisah satu malam.
Adakah gadis yang mencintainya dengan sungguh-sungguh, - bukan menggali semburan hasrat, terlebih bersedia berlarian kesana - kemari dengan pecundang seperti dirinya? Reinha bahkan mengubah prinsip dan menurunkan standar agar mereka bisa bersama. Apa yang baru saja dia lakukan pada gadis itu? Hidupnya telah berubah sejak mereka jatuh cinta dan Reinha berperan paling penting dalam mengubahnya.
"Bos, kau harus pergi! Nona Reinha mengebut dengan kecepatan tinggi, ia bisa melukai dirinya sendiri."
Francis tak sabaran dengan gadget di tangan. Untuk pertama kali, pria yang selalu datar terlihat kuatir pada seseorang.
"Kau akan terus mematung di situ?!"
Claire separuh berteriak dan seperti disambar sesuatu, Lucky berlari dan melompat ke dalam mobil. Ia memukul kemudi mobil marah.
I am so fuc*** dummy....
"Ikutlah Francis! Kemana Reinha pergi?! Kau di sini Claire, temani Queena!"
***
Sementara Reinha ugal-ugalan di jalanan. Kisah cintanya berubah macam siklus badai campuran antara tragis dan sirkus, Reinha tertawa kesakitan hingga tanpa sadar menjerit marah. Ia melepas kaca mata gelap dan melempar kesal. Mobilnya melaju cepat, seakan tanpa rem. Usapan air mata berulang kali dengan punggung tangan agar pandangannya tidak kabur dan hati yang rusak tak ingin ampuni Lucky Luciano.
Reinha menekan pedal gas kuat. Ini tidak masuk akal, sungguh tak masuk akal. Ibarat, pria itu menuntun Reinha ke puncak gunung dan mendorongnya jatuh dari sana tepat ketika Reinha berdiri di ujung. Tak ada hujan tak ada angin.
"Pria brengsek itu, harusnya aku tak percaya padanya."
Mobilnya meluncur di atas jalanan separuh melayang, disadarinya, sorot mata Lucky Luciano yang selalu menatap lembut menari di pelupuk. Setiap memikirkan pria itu, ia menemukan dirinya mencintai pria itu makin dalam bahkan setelah tersakiti. Apa yang terjadi kini? Setelah semuanya ia tak bisa sungguh-sungguh membenci Lucky Luciano. Ya Tuhan ... apa yang telah bedebah itu lakukan padanya? Setapak menuju Red Twilight terlihat di depan sana.
Reinha yang panas mendidih tak menyadari tindakannya mengebut di jalanan memancing sebuah mobil patroli.
Hati tak terselamatkan itu menunggang lebih cepat, di luar kendali dan menikung tajam di setapak menuju Red Twilight. Mobilnya menderu di spiral perbukitan dan tercekat saat tebing hampir habis hanya beberapa meter terlihat. Ia menginjak pedal rem sekuat tenaga dan membanting setir mobil hingga mobil itu berputar 360 derajat empat kali putaran penuh sebelum berhenti total dan ban belakang mobil nongkrong di bibir tebing. Pusaran debu naik memenuhi udara yang bersih.
Reinha merangkak keluar dari mobil, terbatuk-batuk dan tersungkur. Ia menumpahkan isi sarapan tanpa sisa, bergidik ngeri lantaran nyaris saja terjun bebas dari ketinggian dan hancur benaran di dasar tebing. Jantungnya berdetak cepat, ia hampir ciderai diri sendiri.
Baiklah ... bodoh. Kau hampir mati. Bodoh sekali. Kau akan nikmati sakit ini dan menembaknya nanti. Pria itu telah salah sebab bermain-main denganmu. Kau akan berdarah-darah hari ini hingga kering dan mati rasa. Besok, berjanjilah, kau akan membaik kemudian lusa kau akan lenyapkan pria itu dari hidupmu.
Reinha menghibur dirinya sendiri meski tahu itu tak timbulkan efek, ia memikirkan pria itu, kutukannya pada Lucky laksana boomerang, berbalik menyerangnya. Reinha pasrah, bersandar pada mobil dan menangis berang. Ia bisa menahan rasa sakit selama punya tujuan, dengan Lucky ... cintanya sempurna tetapi kini ia benar-benar gundah gulana.
"Bagaimana bisa berakhir semudah ini?!"
Reinha tak menyadari mobil polisi yang berhenti tak jauh darinya. Ia terkejut saat seseorang menegurnya.
"Nona ... Apa Anda baik-baik saja?!"
Seorang pria berseragam polisi mendekatinya dengan nada cemas.
"Anda mengebut di jalanan dengan kecepatan tinggi, Anda bukan saja mengancam nyawa orang lain tetapi Anda bisa celaka, Nona. Anda akan saya tahan karena melanggar aturan lalu lintas."
Reinha mengambang. Ia melihat wajah Lucky Luciano di dinding-dinding tebing merah dan ciuman mereka yang mendalam di Civic Center merebak di sana. Mereka bahkan melakukannya semalam, itu baru kemarin belum 24 jam. Pria itu ada di langit-langit tengkorak kepalanya seperti ribuan lebah, berdengung. Apakah ia kembali saja ke Puri Luciano dan mengajak Lucky balikan? Pria itu mungkin ingin menikahi Queena karena situasi rumit gadis itu? Mengapa ia begitu gegabah tadi? Mengapa Lucky Luciano tak mengejarnya? Mengapa ia menginginkan pria brengsek itu?
Ya Tuhan, aku bisa gila.
"Saya akan memeriksa plat nomer Anda dan ... "
"Tolong pergilah!" potong Reinha mulai mengamuk. "Jangan ganggu aku!"
"Maaf?!"
"Tolonglah! Kau tak lihat aku sedang berkabung?!"
"Aku tak peduli sih, sebab aku sedang jalankan tugas," kata si polisi informal.
"Pergilah, aku tak akan lari. Aku akan serahkan diriku ke kantor polisi. Hanya saja ... aku butuh waktu." Ia mulai memelas.
"Bagaimana kalau Anda berbohong? Aku akan menunggu Anda selesai menangis dan akan menggiring Anda pergi ke kantor polisi."
"Tolonglah, aku sedang ingin sendiri." Reinha bangkit berdiri dengan ekspresi gusar, ia menghapus air matanya. Bicara berapi-api, "Bisakah Anda memahamiku saat ini? Aku sedang marah sebab kekasihku yang brengsek akan menikahi wanita lain. Ia melamarnya di hadapanku padahal kami habiskan waktu bersama semalam. Kupikir cinta kami mendalam. Terserahlah ... kau tak tahu rasanya jadi aku." Reinha Menangis lagi. "Dia memelukku, kami berciuman semalam di bawah lampu merah dan dia mengatakan tak-bisa-hidup-tanpaku, tapi hari ini dia mencampakkan aku. Aku sangat mencintainya. Bagaimana bisa begini?!" Ia menangis lebih keras dan hidungnya telah meler. Ia kesulitan bernapas.
Sang polisi terlihat iba bercampur senyum geli, terbaca di wajahnya. Lucu saja, melihat seorang gadis menangis meraung-raung di tepian tebing dan tumpahkan isi hatinya pada petugas patroli. Sungguh konyol sekali. Apakah tugas mereka mengurusi jalanan dan masalah cinta pengguna jalan juga?!
"Sayang sekali, tugasku tertibkan lalu lintas meskipun aku ingin memborgol kekasih brengsekmu dan menyeret dia kemari."
"Pergi saja! Tolonglah ...."
"Aku tak mungkin pergi sebab aku harus menahan Anda karena tidak tertib berkendara. Lagipula, kondisi mental Anda sepertinya tidak baik, Anda bisa saja melompat dari tebing."
Reinha mengumpat menengok langit biru yang cerah, "Sial sekali aku hari ini." Ia kembali pada Pak Polisi. "Aku tak akan bunuh diri, meski aku sangat kesakitan. Bisakah Anda pergi saja! Aku ingin sendiri. Kau tak mengerti kata sendiri?!" Intonasinya naik, sebelum terisak.
"Anda tak bisa diajak kerja sama ... plat nomer mobil ini terdaftar atas nama ... em ... Nona Reinha De Nazario Durante." Si polisi berkerut, membaca data di ponselnya. "Anda adik Elgio Durante? Kami sebangku waktu tingkat tiga. Aku akan menghubunginya, kebetulan kami ada di group chat alumni."
Oh sial, mengapa Pak Polisi ini tidak berpihak?
"Apa Anda tak punya scanner patah hati? Anda bisa lihat aku sedang sekarat," ujar Reinha melirih.
"Jika pengguna jalan yang patah hati mohon maklumat untuk mengebut di jalanan, maka, apa jadinya negara kita?! Kurasa aku perlu menelpon Elgio Durante."
"Baiklah ... aku akan ikut Anda ke kantor polisi. Jangan ganggu kakakku dengan masalahku."
Meskipun Elgio akan senang mendengar kisah cintanya yang kandas. Reinha menyerah pada hari yang begitu buruk. Sang Polisi akan menyeretnya ke kantor polisi ketika sebuah mobil dengan kecepatan penuh terdengar menanjak dari bawah.
Mobil merah Lucky Luciano dan pria itu meloncat turun tergesa-gesa bahkan sebelum mobil berhenti sempurna, setengah berlari sementara Francis menyusul dengan wajah datar. Bos-nya yang sangat aneh, mencintai gadis lain dan melamar wanita lain.
"Kau baik-baik saja, Enya?!"
Ia berseru cemas, serta merta memeluk Reinha. Napasnya berhembus cepat oleh ketakutan. Pria itu mengusir semua helaian rambut yang menempel di dahi gadis itu, mengusap air mata sebelum kembali mendekapnya erat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Lucky lagi penuh penyesalan.
"Apa yang kau lakukan padaku?! Menyingkirlah! Kau mengacaukanku. Kau sungguh brengsek ...."
"Enya ...." Pria itu tak peduli, ia memeluk Reinha kuat.
Reinha berusaha keras untuk tidak luluh. Ia akan memberi pria itu pelajaran. Polisi mendekat dan berbicara menyela.
"Lucky Luciano?! Aku cukup terkejut ... aku sedang menghubungi Elgio Durante un - "
"Em ... jangan hubungi Elgio, Pedro! Gadis ini bersamaku."
"Em?! Apa kau akan jadi penjaminnya?!"
"Aku ... kekasih gadis ini."
Si Polisi bernama Pedro itu manggut-manggut, "Oh I see, jadi kau si brengsek yang menciumnya semalam di bawah lampu merah dan katakan tak-bisa-hidup-tanpamu, tetapi kau melamar wanita lain hari ini?"
"A,apaa ... ?!"
"Ya, gadismu mengadu padaku tadi. Aku nyaris ingin pergi dan memborgol kekasih brengseknya yang telah sia-siakan gadis cantik sepertinya. Kau harus temukan cara untuk atasi emosi-nya, gadismu sangat pemarah."
"It's okay, Pedro. Terima kasih telah datang menghiburnya tepat waktu."
Francis memindahkan mobil Reinha, ban belakang mobil berada di pinggir tebing. Ia lakukan pengecekan pada mobil, menyambung sesuatu pada mobil dengan gadgetnya.
"Kau baik-baik saja?!"
"Apa aku terlihat baik? Setelah kekasihku melamar wanita lain?"
Lucky tak punya jawaban. Ia menuntun Reinha ke dalam mobil Reinha dan memasangkan sabuk pengaman pada gadis itu sebelum membawa Reinha pergi. Lucky Luciano mengemudi tanpa ketenangan sesekali melirik Reinha. Ekor mata Lucky bergerak gelisah, ia ingin bicara tetapi raut Reinha, memaksa bibirnya terkatup seakan tak sepatah katapun dalam kamus sanggup redakan kemarahan Reinha.
Lucky membawanya ke pondokan semalam. Jelang siang, danau menjadi sangat teduh, sedang ilalang tua siar-siur melambai. Dedaunan cemara bersenandung macam hari kemarin, romantis, kalau saja situasinya menggebu-gebu. Bekas api unggun masih terlihat dan seruan, "I Love You Baby" masih terngiang di telinga. Mereka duduk di mobil dalam diam. Lucky berbalik pada Reinha, gadis itu masih diam tak berkutik. Tak tahan, dalam situasi bungkam yang menyiksa itu, Lucky mengambil inisiatif turun dari mobil membuka pintu meminta Reinha keluar.
"Turunlah! Mari kita bicara."
Reinha turun dari sana membanting pintu mobil kasar dan bersandar pada sisi mobil. Ia melipat tangan, bibirnya terkunci rapat.
"Enya ...." Lucky jadi gregetan sebab kosakatanya menciut untuk membujuk Reinha. Terlebih tak jumpai kata yang pantas diucapkan setelah ia menyakiti dan menyinggung gadis itu.
"Baiklah, mari akhiri ini dengan mudah."
Pria itu mengambil pistol dari dalam mobil. Ia meraih tangan Reinha, menaruh pistol di tangan gadis itu mengarah pada jantungnya sendiri.
Lucky Luciano berkata putus asa, "Kau diijinkan menembakku, Enya. Aku memang pantas mati."
Tangan pria itu menggenggam tangan Reinha kuat. Reinha mengangkat wajah yang berantakan, mata bengkak, bekas lelehan air mata berpijar di pipi keemasan meski telah luntur dikeringkan oleh angin dan hidungnya yang memerah. Reinha menatap pria itu, ingin sekali menembaknya. Bagaimana bisa pria itu mengacaukannya?!
"I see no body but you ... I never knew how to love some one like you. Apa aku sejajar dengan kekasih liarmu kini?! Kau akan datang dan pergi sesukamu?"
"Enya ... "
"Jika aku tak datang ke Puri tadi, kau benar-benar akan menikah dengannya?" Reinha berseru kesal. "Baik, mari akhiri ini. Menikahlah dengannya."
"No no no ... Enya."
"Aku mulai meragukanmu."
"Enya ... apa yang harus kulakukan untuk menebus dosa?" bisiknya lagi tak bisa berhenti menyesal. Ia mulai tampak bodoh dan frustasi.
"Kau melukaiku. Aku mencintaimu tanpa sisa. Berani sekali kau menyakitiku ... " keluh Reinha murung.
"Aku memang idiot. Kau bisa menembakku, Enya. Lakukan saja! Kau bisa menyeret tubuhku dan benamkan ke danau. Aku akan menerimanya."
Lucky menyokong tangan Reinha, mendorong senjata naik dari jantung dan mengarah di bawah dagunya kini. Satu tekanan dan Lucky mati seperti skenario dalam angannya yang ia rancang di Tebing Merah tadi.
Reinha menarik pistol itu, berbalik dan telunjuknya di pelatuk. Ia asal menembaki biji-biji cemara sampai peluru habis sebelum melemparkan benda itu sejauh mungkin. Ia kembali pada Lucky dan menamparnya keras tetapi tak cukup merasa baikan.
Mata mereka bertemu, Reinha menangis kesal pada dirinya sendiri sebab terbakar oleh cinta mendalam pada Lucky. Bisakah Lucky merasakan sakitnya?
Sementara Lucky meringis, sudut-sudut bibirnya melengkung menahan sakit. Ia tak tahu cara menghadapi Reinha terlebih untuk sakit yang ia ciptakan untuk gadis itu.
"Lakukan lagi hingga kau merasa baikan!" tantang pria itu semakin dekat dengannya.
Rainha pejamkan mata, ia selalu luluh pada tatapan lembut Lucky. Ponsel di dalam mobil berdering dan nama Pak Jerry tertera di layarnya. Reinha ingin merespon tetapi Lucky menahannya.
"Aku harus kembali ke sekolah." Reinha berbisik pelan.
"Bagaimana dengan kita?"
"Tak ada kita, Lucky Luciano."
"Kau akan tinggalkan aku di sini?"
"Ya, kau bisa menonton elang berburu ikan sembari bersemedi, mungkin."
Lucky merengkuh Reinha ke dalam lengannya, tak biarkan gadis itu pergi. Ia berkubang di ceruk leher Reinha dan mengerang di sana.
"No, my Lady. Kau milikku hari ini."
Lucky menyusuri gadis itu pelan. Memaki dalam hati, sungguh idiot. Apakah ia akan biarkan Reinha pergi dan pria beruntung lain menemukannya? Apakah ia akan sanggup melihat gadisnya berkeliaran dengan orang lain, yang akan menyentuh Reinha sama seperti yang ia lakukan? Lengan - lengannya berkontraksi mengangkat Reinha pergi ke dalam pondokan. Ia menutup pintu dengan kakinya. Mencumbu gadis itu di atas sofa dan tak berikan waktu bagi Reinha untuk protes. Tangannya bergerak sangat halus dan lembut. Lucky Luciano memaksa Reinha melihat padanya.
"Enya ... aku akan menebus dosaku padamu. Aku tak akan menikah dengan wanita manapun di dunia ini selain dirimu. Meskipun kau tinggalkan aku menikahi pria lain."
***
Dukung Senja Cewen selalu, vote, like, share, rate bintang 5, pokoknya segala hal yang dibutuhkan Heart Darkness agar semakin populer. Aku andalkanmu, Readers.
Follow me, ya....
Aku selalu hindari hal-hal basi semacam hilang ingatan sebab novelku yang pertama Menikahi Tuan AroGan (Judul asli The Bride's Of Alves) telah bahas soal-soal skizofrenia dan hilang ingatan. Silahkan mampir ya...
"Apakah Kalian Menyukai Chapter ini?!"
Cintai Aku dan Aku mencintai kalian....