
Tragedi satu malam yang berawal dari kesalah-pahaman diikuti aksi penculikan dan penodaan kemudian berakhir dengan cinta yang tumbuh di antara dua hati, buat mereka bersama sepanjang waktu; itulah yang dialami Queena Mendeleya dan Axel Anthony. Banyak kisah tragis berakhir cinta dan kisah keduanya adalah salah satu kisah yang dimulai dengan tragedi dan berujung dengan melodi. Setidaknya itulah yang Queena bayangkan saat bersihkan wajah Axel Anthony sementara pria itu malas bangun. Terbuai oleh pijatan-pijatan ajaib di wajah maskulinnya.
"Axel, ayolah! Buka matamu! Ayo bangun. Bukankah pagi ini kau harus siapkan berkas untuk dikonfirmasi pada pihak auditor?" tanya Queena sembari perlahan beri tekanan lembut pada wajah Axel dengan minyak zaitun.
Perusahaan Axel termasuk salah satu yang akan diaudit Badan Pengawas Keuangan akibat keterlibatan Rocco Anthony Ayah Axel, dalam Familly Club' dan Axel telah bekerja penuh bahkan hingga begadang untuk siapkan banyak berkas.
Sedang Queena tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ayahnya sendiri disorot, masuk dalam daftar "most wanted" dan Pamannya yang walikota jadi bulan-bulanan partai oposisi untuk jatuhkan beliau akibat status Mafia Viktor Mendeleya yang adalah kakak tertua Jeremy Mendeleya, Pak Walikota. Banyak spekulasi beredar bahwa Viktor kabur, larikan diri, hilang kemudian jadi buronan tetapi lebih dari itu kabar bahwa Viktor dan Brigitta telah dilenyapkan oleh Valerie beredar luas dan paling trending muncul di permukaan. Para intelijen bekerja keras untuk temukan Viktor Mendeleya tetapi hasilnya nihil. Queena lantas pasrah bahwa orang tuanya telah dibunuh di suatu tempat atas perintah Valerie.
Axel Anthony hanya berdehem kecil bangunkan Queena dari lamunan dan masih ingin lanjutkan mimpi sebab ia baru tidur satu jam sebelum pagi setelah semalaman siapkan dokumen untuk diaudit.
"Baiklah, aku akan buatkan sarapan dan menunggumu di bawah," kata Queena sapukan handuk hangat di wajah pria itu hingga mengkilap sebelum turun dari ranjang dan mendorong troli facial treatment. Axel Anthony telah ikuti seluruh kemauan Queena meskipun itu berati melawan kodrat Axel sebagai pria macho yang tidak suka romantis demi puaskan keinginan aneh Queena yang sedang hamil. Queena tersenyum, keheranan pada takdir yang aneh. Bagaimana bisa ia berakhir dengan Axel Anthony? Tak ada dalam angan sedikitpun.
Pequeena mulai kegiatan rutin di pagi hari setelah dibawa ke apartemen Axel, mulai dengan lakukan pekerjaan paling mulia satu dunia, jadi ibu rumah tangga. Tak dipungkiri ia rindukan aroma obat rumah sakit dan teman-temannya. Ia ingin kembali ke sana tetapi semuanya tak akan mungkin terjadi. Ia Puteri seorang Mafia telah terekspos kini dan ia tak berani hadapi banyak komentar negatif dan pikiran buruk mereka padanya.
"Lupakan Queena!" lirihnya saat turuni tangga pergi ke dapur.
Axel dan dirinya membahas soal pernikahan, merancang hari bahagia itu dan persiapan kelahiran bayi mereka tetapi tak benar-benar melangkah lebih jauh daripada "rencana" sebab terkendala restu Ibunda Axel yang mati-matian menolak Queena.
Sambil seruput teh jeruk, Queena menghela napas panjang. Ia juga rindukan rumahnya yang damai, rindukan masakan ibu di pagi hari, celotehan riang Ibu dan bertanya-tanya pada angin dimana jasad wanita itu berbaring? Walaupun hati menolak percaya bahwa ibu telah dibunuh, tetapi, jika ingat Valerie si iblis jahanam ..., Queena mau tak mau memeluk hatinya yang sekarat bahwa ia telah jadi sebatang kara.
"Tidak, kau tak sendirian, Queena! Kau bersama bayimu dan Axel Anthony," gumannya lagi. "Oh, aku rindukan Ibuku. Kami berpisah tanpa kata," keluhnya pada diri sendiri merana.
Telur campuran banyak rempah dikukus di atas perapian kecil, Queena pegangi perutnya yang mulai bengkak, rasakan kehadiran satu nyawa di sana. Terlalu dini untuk melihat akhir kisah yang rumit tetapi ia berharap Axel adalah masa depannya sebab di luar dugaan, ia jatuh cinta pada pria yang tidak romantis itu.
Aroma telur yang menggugah selera meletup dalam panci kukusan dan suara juicer yang berdering buat Queena tak sadar bahwa pintu apartemen Axel di akses masuk. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, tak sadari bahwa ia kedatangan tamu yang akan porak- porandakan kehidupannya. Queena terlalu telat bersembunyi untuk melihat siapa yang berkunjung di pagi itu dan ketika ia tersadar, Queena tak punya pilihan..., selain harus menyambut sang tamu.
"Lihat siapa ini?" sapa Ibunda Axel. "Queena Mendeleya? Putri si bengis Viktor?"
Wanita separuh baya yang kecantikannya masih terlihat sangat nyata itu, memandangnya dengan tatapan tajam dan dingin, ekspresi marah perlahan menyeruak dari pupil matanya, tak berniat ingin disembunyikan.
"I,I,ibu?!" guman Queena tahan napas. Ia tak mungkin hindari pertemuan ini.
"Ibu?!" ulang Nyonya Anthony sinis, rautnya semakin panas memicu bara. Nyonya Anthony menepuk dada perlahan. "Bagaimana bisa Axel terjebak denganmu?"
"I,ibu ...."
"Berhenti panggil aku Ibu, sebab aku bukan Ibumu! Tolong jangan berlaku konyol! Kau tahu apa yang dilakukan Victor Mendeleya pada suamiku, Queena? Ayahmu, ketua gila itu, turunkan perintah membasmi suamiku di hadapan khalayak umum sebagai peringatan bagi member mafia lainnya jika berani bocorkan rahasia club' pada pemerintah. Kau tahu, suamiku ditembak di depan cucunya sendiri dan meninggal dengan sadis. Cucuku bahkan alami gangguan mental akibat tragedi itu. Bagaimana bisa kau dan Axel berpikir untuk bersama?"
"I,ibu ... aku sama sekali tak terlibat dalam ...." jawab Queena dengan suara pelan dan kalimatnya terputus di akhir oleh ucapan tajam Ibunda Axel.
"Keluar dari sini, Puteri Viktor Mendeleya!" desis Nyonya Anthony.
Queena berdiri dengan gugup sementara alat pengukus telur mendidih di atas perapian. Lengkingannya seakan bersiap ledakan dapur. Mereka akan terus salah paham hingga dunia rubuh di atas mereka.
"KELUAR!!!" pekiknya marah saat Queena bergeming. Wanita itu dengan cepat datang ke arah Queena meraih garam dan percikkan pada Queena seperti mengusir ular dari rumah. Ia juga lempari Queena dengan segala macam yang terlihat, bawang bombai, dedaunan hingga lantai dapur penuh berserakan bahan-bahan makanan.
"IBUUU?!" Axel Anthony tergesa turuni tangga untuk dapati dapur berantakan dan Nyonya Anthony pandangi Queena dengan benci penuh amarah membara.
"Kau sembunyikan wanita ini di sini, Axel?" serang Ibunda Axel saat melihat puteranya turun dari tangga.
"Ibu, tekanan darahmu bisa kambuh. Tolong tenanglah!"
"Bagaimana aku bisa tenang? Kau tahu bahwa aku menderita karena kehilangan suamiku akibat perintah Ayahnya!" semprot Nyonya Anthony menunjuk pada Queena.
"Queena Mendeleya, kau tak ingin pergi-kan?" tanya Nyonya Anthony pandangi Queena yang merapat ke tembok di dinding dapur sementara Axel berusaha tenangkan Ibundanya yang murka.
"Ibu, tenanglah!" bujuk Axel kebingungan. Sementara Queena telah dipenuhi garam di sekujur tubuhnya.
"Aku akan beritahumu sesuatu, Queena. Mungkin pendirian kerasmu bisa berubah," kata Nyonya Anthony memandangi puteranya dengan sorot mata tajam penuh luka. "Apa kau tahu bahwa ..., Axel menculik Brigitta dari perternakan Mendeleya dan serahkan pada Valerie untuk dihabisi?"
"IBu???!!!" seru Axel menatap Ibunya kalut sebelum menoleh pada Queena yang terperangah lalu terpaku dengan wajah shock berat.
"Apa kau akan bersama dengan Axel sekarang? Keluarlah dari kehidupannya, aku tak peduli meski kalian akan punya bayi. Pergilah menjauh sebab tiap melihatmu, aku mengingat kebengisan ayahmu. Mereka bersahabat bahkan Rocco mendukung Viktor hingga jadi manusia yang paling disegani seantero dunia. Tetapi lihat yang dilakukan bedebah itu pada suamiku?"
"Bukan Ayahku yang membunuh Tuan Rocco Anthony," sahut Queena katupkan rahang menahan sesak di dada. Ia merasa hatinya remuk redam memikirkan Ibunya dan kenyataan bahwa ia tak akan mungkin bersama Axel setelah ini. Ia menatap Axel dan Ibundanya dengan hati perih. Sesuatu yang menyakitkan menyerang nadinya hingga berdesir nyeri.
"Ibu, apa yang Ibu lakukan?" keluh Axel.
"Apa aku salah? Kau pergi dengan berapi-api ke peternakan Mendeleya dan menyeret kedua sampah itu dari sana!" tambahnya semakin menjadi-jadi. "Aku memujamu Puteraku oleh karena hari itu saat Valerie katakan kau menyeret mereka padanya dan ia telah habisi mereka lalu biarkan mayat mereka membusuk di dalam hutan. Meskipun hatiku masih sakit karena kematian Ayahmu dan tak bisa maafkan dengan mudah," tambah wanita itu mulai menangis sedih.
"Ibu, hentikan! Tolonglah!"
"Jangan bersamanya, tolong aku Axel. Ada banyak wanita, kau bisa menikahi yang mana saja. Tidak dengannya! Demi Tuhan." Menangis terisak-isak.
"Queena ...," panggil Axel pelan dapati reaksi terguncang Queena pandangi Axel, tersayat sembilu sangat dalam. Pria itu menyeret Ibunya?
"Apakah Ibuku sakit saat kau lakukan itu padanya, Axel?" tanya Queena lirih.
"Queena, aku ...."
"Aku dan Ibuku tak pernah tahu perihal Mafia, aturan Mafia, Familly Club' dan apapun yang berurusan dengan itu. Kami hanya jalani hidup kami seperti keluarga sederhana pada umumnya."
"Ya, aku dengar omong-kosong itu!"
"IBU?! Berhentilah sekarang!" kata Axel ketus serba salah antara dua wanita yang ia cintai itu.
"Queena ...."
"Axel, kurasa Ibumu benar ..., aku harus pergi!" kata Queena.
"Queena?!"
"Kau menculik aku dan menodaiku karena kesalah-pahaman aku menerimanya. Tetapi, kau menculik Ibuku yang tak berdosa dan serahkan pada Valerie untuk dibunuh. Kau bahkan menyeretnya? Kurasa ..., kita selesai di situ!"
"Queena ... semua yang terjadi pada kita karena kesalah-pahaman," ujar Axel Anthony bergerak dekati Queena.
"Ibuku sama sekali tak bersalah," geleng Queena menghindar akhirnya menangis.
"Aku akan ...."
"Menjauh dariku, Axel Anthony!" kata Queena mendesis. "Aku tak akan membunuh bayimu, aku janji. Hanya saja, kita tak perlu bersama. Aku akan mengurusnya dengan baik. Jika kau inginkan bayimu, kau bisa bertemu dengannya! Aku janji! Menjauh saja dariku!"
"Kau tak akan lakukan itu!" seru Axel marah besar pegangi lengan Queena erat. "Kau tahu kenapa aku menculik orang tuamu? Karena salah paham bahwa Ayahmu mengirimkan Lucky Luciano untuk habisi Ayahku. Walaupun kenyataannya, Lucky Luciano ada di sana pada hari itu dan bersiap menembaki Ayahku atas perintah Ayahmu, Queena! Sama sepertimu aku menderita karena kehilangan ayahku."
"Valerie mungkin menjebak Ayahku dan Lucky Luciano. Tapi terlepas dari itu, jangan sangkut pautkan aku dan Ibuku dengan segala hal buruk yang menimpamu!" keluh Queena geram. Hatinya yang lembut menahan sakit yang terlampau kuat hingga perutnya tanpa sadar mengejang.
Mereka saling luruskan kesalah-pahaman di hari itu tapi kebenaran yang menyakitkan malah terbuka semakin lebar untuk membuat kesalah-pahaman lain.
"Lucky Luciano bersumpah tak membunuh Ayahmu tetapi Valerie-lah orangnya, Axel," ulang Queena lagi.
"Queena ...."
Queena menatap pria itu tajam, terluka, marah dan kecewa menolak disentuh. Terlebih oleh patah hati karena merasa ia telah bodoh dengan jatuh cinta pada pria yang telah hancurkan kehidupannya dan membunuh Ibunya.
"Maafkan aku," kata Axel saat mata mereka saling menatap dengan luka masing-masing di hati dan sadari bahwa mereka memang ditakdirkan untuk saling mencintai tapi bukan ditakdirkan untuk bersama. "Aku tak bisa menyerah padamu, Queena. Jangan pergi!"
"AXEL ANTHONY?! Apa kau berani khianati orang tuamu?" tanya Nyonya Anthony kecewa di antara derai tangisnya.
"Aku bilang berhenti, Ibu!" balas Axel frustasi.
Queena menggeleng. "Ibumu benar. Kurasa Ibu membutuhkanmu Axel. Sampai jumpa."
Queena keluar dari sana setelah mengemas barangnya tinggalkan Axel yang mematung tak berdaya di tengah ruangan karena sekuat apapun Axel berusaha, Axel tak bisa menyangkal malam itu saat ia menculik Viktor dan Brigitta lalu serahkan pada Valerie untuk dihabisi. Meski Axel yakin bahwa Valerie tak habisi orang tua Queena seperti pengakuan Ibunya.
Sementara Queena naik taxi dan pulang ke rumahnya setelah berbulan-bulan ia tak kembali ke sana karena trauma. Hari masih pagi ketika rumah sederhana terlihat masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan rumah itu kecuali police line dipasang di sekeliling rumah dan papan besar berisikan perintah penyegelan.
Queena duduk dengan perasaan tak menentu di bangku taman, pandangi rumah yang menyimpan banyak kisah. Ia kembali ke malam mencekam itu.
"Pequeena Mendeleya, kau harus ikut denganku!"
Beberapa orang pria menyerbu rumahnya tengah malam dan ia yang belum habis terkejut sebab orang tuanya menghilang kembali terkejut saat ia dipanggul paksa oleh seorang pria dengan kemarahan membakar wajahnya.
"Siapa kau? Apa yang terjadi? Apa maumu?"
"Diamlah, kau akan tahu nanti!"
Begitulah malam yang penuh kelabu ia dibius dan dibawa pergi, dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, kemudian berakhir di sebuah tempat yang ia ketahui sebuah base camp kejahatan.
"Ayahmu membunuh Ayahku," kata si pria yang perkenalkan dirinya sebagai Axel Anthony, putera dari Rocco Anthony.
"Ayahku? Viktor Mendeleya?" Queena keheranan. "Ayahku hanyalah seorang pria tambun dengan perut setengah buncit yang lucu. ia tak mungkin membunuh orang."
"Ayahmu Viktor Mendeleya adalah Capo Tua dalam Familly Club' dan ia bertanggung jawab atas pembunuhan Rocco Anthony, Ayahku ...."
Queena yang bingung pada situasi rumit serba aneh dan ketakutan berusaha kabur ketika melihat kesempatan tetapi Axel yang setengah mabuk mengikutinya ke hutan dan berburu dirinya. Pria itu membawanya kembali ke kamp menenggak banyak minuman keras sebelum menodainya yang lemas akibat mogok makan takut makanannya diracuni ganja.
Queena pegangi perutnya yang tiba-tiba menegang, tenangkan diri sendiri. Rumah disegel, kemungkinan semua harta mereka ikut disita. Ia tak mungkin hubungi Paman Jeremy, sedang Lucky Luciano di penjara. Queena masuk ke dalam rumah gundah gulana. Pergi ke dapur, tempat favorit Ibu.
Apakah Ibu diseret dari dapur? Apa Ibu memanggil namanya? Apa Ibu memohon ampun?
"Ibuku yang malang ...." erangnya terduduk di lantai, mengetuk-ngetuk kepalanya ke tembok berulang kali. Bagaimana bisa ia berpikir akan hidup bahagia dengan Axel Anthony? Apakah cinta begitu buta?
"Ibu ...."
"Ibu ...."
Entah berapa lama ia terduduk lemas di sana, menangis sedih. Tadinya ia pikir, dirinya dan Axel bisa bersama, menikah dan merawat bayi mereka.
Ia mengerang putus asa. Hingga tiba-tiba ia rasakan sesuatu terjadi padanya. Rasa sakit muncul di bagian bawah perut, panggul juga pinggangnya. Bukan sakit biasa tetapi rasa sakit yang luar biasa. Perutnya berkontraksi.
"No no no," desisnya mencoba tidak panik perhatikan jarum jam di dapur. Lima menit kontraksi dan teratur, ia amati jam menarik napas perlahan dan hembuskan, berulang kali, tenangkan dirinya. Ia lakukan itu selama beberapa menit.
"Ampuni aku, mari berbaikan," bisiknya pegangi perut sementara pandangan matanya mulai kabur, ia merasa sangat pening. Queena coba pergi ke sofa dan berbaring. Namun, darah mengalir tanpa henti dari ************ dan dalam dua puluh menit yang naas ia memeriksa dirinya sendiri. Ia mengalami pendarahan hebat dan pembukaan jalan lahir.
"Tuhan, jangan ambil bayiku!"
***
Wait me up ....