Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 74 The Wedding Day ....



Dupa dan kemenyan dalam ukupan bergerak teratur mengasapi altar suci, membumbung ke langit-langit Kapela. Aroma merebak wangi penuhi udara, diikuti alunan piano berdenting. Nyanyian lagu wedding mengisi kesunyian Biara Kapela, di Sabtu pagi yang teduh. Satu-persatu penghuni Durante Land memenuhi bangku-bangku kapel, menanti penuh penasaran, mempelai pria dan pengantin wanita-nya. Elgio Durante, pria pusaka Durante Land, akan menikahi seorang gadis remaja bernama Marya Corazon Aquino disaksikan satu Durante Land.


Bunga-bunga bergelantungan di sisi kiri-kanan bangku kapel dan karpet kelopak mawar berwarna creamy glitter terbentang di lorong, siap temani pengantin wanita menuju kekasihnya. Tiang-tiang bunga terpajang kokoh di pintu masuk dan tengah kapel, menambah nuansa romantis bak dunia dalam negeri dongeng.


Elgio di ruang tamu Biara, selesai bersiap-siap sedang Abner tampak klimis di sisi Elgio, penuh keharuan layaknya seorang Ayah saat hendak melepas anaknya menikah.


"Akhirnya kau akan menikah Elgio Durante! Kau masih bocah 11 tahun yang menyebalkan, bagiku." Abner berkaca-kaca saat mengatur ulang dasi Elgio dan mengait corsage perpaduan mawar merah tua dan baby breath pada jas di bagian dada Elgio Durante.


Elgio hembuskan napas berulang kali. Ia menggigit bibir bawahnya saking gelisah sementara Abner siap siaga dengan air mata di ujung pelupuk.


"Abner, aku hampir meledak karena gugup. Jangan menangis, tolonglah!"


"Akhirnya keinginan-mu untuk menikahi Aruhi berhasil dan kau sangat tampan dengan jas-mu ini." Suara Abner bergetar dan walinya itu menangis.


"Ya Tuhan, Abner! Mengapa kau jadi melow begini?"


"Aku menyayangimu, itulah sebab aku menangis. Bodoh sekali kau ini!"


"Makasih untuk cintamu yang tak berkesudahan padaku, Abner Luiz. Aku juga sangat menyayangimu. Jangan bersedih! Ayolah, aku tak akan pergi ke rumah istriku dan tinggalkan kau di Durante Land," bujuk Elgio. Terakhir kali Abner menangis waktu Ayah meninggal. Abner masih sangat muda waktu itu, belasan tahun dan tiba-tiba menerima mandat jadi wali untuk Elgio.


"Baiklah. Maukah kau dengar aku bacakan puisi untukmu?" tanya Abner siapkan vokal dan konsonan.


Elgio angkat tangan. "No no no, jangan sekarang!"


"Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti gelisah?"


"Tutup saja mulutmu, please!"


Elgio memakai jas tailcoat warna biru dongker hampir gelap ala pengantin Eropa dari zaman Victoria. Ia siap jadi pusat perhatian dengan dasi panjang dan rompi di bagian dalam jas, yang dijahit dengan sangat terperinci.


"Abner, mengapa aku sangat gelisah?" tanya Elgio lagi untuk kesekian kali.


"Ya, kau akan menikah, itulah mengapa kau sangat gelisah. Sayangnya tak akan ada malam pertama," goda Abner coba menghalau kegelisahan Elgio.


"Abner, aku berubah pikiran. Bisakah kamarku dihias?"


"Tentu," jawab Abner cepat.


"Benarkah? Terima kasih Abner. Kau pahami aku dengan sangat baik," ujar Elgio sumringah.


"Akan aku hias dengan berkas kerja, jadwal rapat dan banyak proposal. Kau tenang saja!" lanjut Abner bikin Elgio naik darah hingga lupakan gugupnya. "Kau akan tidur dengannya saat usianya 21 tahun, ingat?"


Elgio menggeleng. "Tidak Abner, aku tak akan kendalikan diriku lagi. Aku akan melepas perjaka-ku padanya. Sebaiknya hias kamarku dengan banyak kelopak bunga, banyak candle light."


"No! No! Saat kau tak waras aku akan mengendalikanmu."


"Aku akan tidur dengannya nanti malam, biarkan saja kami!"


"Sabar Elgio, kau bisa buat dia ...."


"Baiklah, kami akan berdansa sampai pagi dan lewatkan malam pertama."


Elgio akan menikahi Marya dan napasnya hilang muncul sejak tadi seperti lumba-lumba di pantai Lovina.


It's okay Elgio Durante, kau akan menikah dan berduaan di atas perahu di tengah samudera Bali yang tenang dan damai, menonton lumba-lumba berterbangan di udara sambil berciuman dengan Marya.


"Waktumu tiba Elgio."


Abner ulurkan lengannya dan untuk pertama kali Elgio tak tahu cara meredam gugup.


"Apakah Marya sudah siap?"


Sementara Marya dan Reinha di ruangan sebuah hotel yang terdekat dengan Kapela. Pengawal berjaga di luar sedang dalam ruangan; Sunny, Salsa, Reinha dan Marya duduk penuh ketegangan.


Marya begitu elegan dengan make up klasik, ditambah sedikit pulasan eyeshadow warna hitam pada bagian outer V, sehingga meski make up look terkesan natural tetapi kesan bold-nya tersampaikan walau tak begitu tegas. Matanya semakin lebar dan cerah dengan sentuhan shimmer white di sudut-sudut mata. Sementara pipi dan bibir dipoles warna lembut senada, peach coral.


"Aruhi akan menikah, mengapa tegang sekali seakan Aruhi akan melahirkan bayi kembar 6?" Sunny mengerut perhatikan wajah Salsa.


"Aku tak bisa tersenyum karena terlalu bahagia," sahut Salsa yang sejak tadi berkaca-kaca. "Aku akan menangis, Sunny. Mataku memanas."


Marya menatap Ibunya mulai tertular haru-biru, bisa bahaya. Make up-nya meskipun waterproof tetapi wajahnya tak akan tertolong saat menangis. Pipi dan puncak hidungnya suka memerah seolah semua darah berkumpul di sana. Itu akan merusak penampilannya.


"Bagaimana kalau Ibu menunggu aku di Kapela dan biarkan Reinha di sini, Ibu?" tanya Marya coba tidak menangis. "Aku tak akan tahan lihat Ibu menangis dan kita akan mengacau nanti!"


"Baiklah, Sayang. Maafkan aku. Masih tak percaya aku menyaksikan pernikahanmu setelah jadi Ibu yang tak berguna untukmu," ujar Salsa pecah juga tangisnya. Wanita itu sesegukkan biarkan saja air mata meleleh di atas riasan anggun wajahnya. "Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan padamu?"


"Ibu, aku mohon jangan menangis! Mari kita hidup dengan bahagia sejak hari ini."


"Ya Tuhan, kakak ... ayo kita pergi!" Sunny menyeret Salsa keluar dari ruangan dan berpapasan dengan Arumi di lobi depan yang tampak juga sangat tegang raut mukanya.


"Arumi, bawakan kakakmu teh manis agar ia tidak gugup," kata Sunny. "Bawakan dua gelas, ya, untuk Nona Reinha juga."


Arumi bersungut-sungut meski pergi juga dan segera kembali dengan banyak cangkir teh manis. Disuguhkan pada para pengawal dengan senyuman manis termasuk pada Augusto yang sempat menolak, sebelum sisakan dua gelas untuk Marya dan Reinha. Ia masuk ke ruangan Marya dan angguk-angguk melihat betapa cantik kakaknya itu.


"Aku bawakan teh, Kak. Minumlah!" kata Arumi dengan tampang seperti biasa.


"Terima kasih, Arumi," kata Marya menyentuh telinga cangkir, hargai perhatian kecil Arumi walaupun Arumi kelihatan tidak tulus sama sekali.


"Kau juga Reinha, minumlah!" kata Arumi lagi tawarkan pada Reinha sebelum ia pergi ke kaca cermin dan periksa dandanan.


Reinha mengangkat cangkir, datangi Marya, toast cangkir hingga berdenting.


"Beauty in white, very-very beautifull. Happy wedding day, Marya Corazon Aquino. Aku menyayangimu, menyayangi kakak. Semoga bahagia sampai maut memisahkan bersama Elgio Durante."


Reinha mengabadikan wajah keduanya dan mengirimkan pada Lucky Luciano. Mereka meneguk teh nikmat setelah beradu cangkir. Arumi perhatikan mereka dari pantulan cermin.


"Tenanglah, Marya. Kau kelihatan sangat gugup," kata Reinha seraya menangkup kedua tangan Marya dan menepuk perlahan untuk tenangkan gadis itu. Belum terlalu berhasil, jadi Reinha berikan remasan perlahan di pundak Marya.


"Atur napasmu, Marya. Waktumu tiba. Jemputan kita datang."


Reinha membantu Marya berdiri, digenggamnya tangan Marya kuat.


"Lihatlah aku, Marya. Kau yang akan menikah tetapi aku jadi gugup hingga pening."


Reinha masih sempat kirimkan beberapa foto selfie-nya pada Lucky. Pesan Reinha diterima Lucky Luciano dengan hati berdebar-debar oleh rindu. Baru beberapa hari tak berjumpa, rindunya pada Reinha kumat tak tertahan. Ia merindukan aroma Jasmine gadis itu.


"Kita sudah siap, Bos." Francis muncul di ruang kerja Lucky dan mulai bacakan jadwal mereka hari itu. "Peluncuran produk akan segera dimulai, Pak Walikota hampir sampai. Anda akan beri kata sambutan sebelum mengundang Pak Walikota ke podium."


"Siap Bos. Saat ini Anda hanya harus fokus pada peluncuran produk, Bos. Ini sangat penting untuk masa depan kita. Senang bisa temani Anda hingga ke tahap ini, Bos."


Meski tak semenarik menembaki musuh dan berkelahi ugal-ugalan, bisnisnya kini adalah jalan menuju pria terhormat. Ayah dan Ibunya pasti akan sangat bangga.


"Francis, pantau keadaan di Durante Land dan di tempat pemberkatan. Aku cemas, Valerie bertingkah."


"Tuan Abner dan Sunny telah mengatur pengawalan di sana, Bos. Jangan kuatir."


"Meski kau sibuk, tolong awasi Reinha."


"Baik Bos. Valerie tak akan lakukan hal buruk di hari pernikahan Tuan Elgio Durante sementara Walikota juga akan datang untuk ucapkan selamat pada Tuan Elgio. Meski tertutup, satu kota menunggu kabar berita dari Durante Land."


"Instingku berdering aneh," keluh Lucky Luciano membuka pesan masuk dan temukan foto selfie kekasihnya yang bersinar keemasan. Dipegangi jantungnya yang berdenyut hebat. Ingin hati berlari pada gadis itu dan melekat padanya.


"Mungkin karena ini pertama kalinya kita jalankan bisnis sesuai prosedur yang benar? Mohon fokus, Bos."


"Bisa jadi. Baiklah, mari sibuk dan malam yang indah menanti di Durante Land."


Lucky Luciano memakai kaca mata gelapnya dan melangkah keluar ruangan. Francis memberi kode dengan tangannya untuk scout sniper awasi mereka dari jauh dan diijinkan menembak siapa saja yang mencurigakan. Francis mendeteksi aktivitas tidak wajar dari beberapa anggota Familly Club' dan memilih siap siaga sebelum bencana terjadi pada mereka.


***


Elgio masuk ke dalam Kapela disambut tepuk tangan dari keluarga besarnya. Secara teknis ia melangkah sendirian, tak ada sanak saudara, tetapi Durante Land adalah home sweet home, dan penghuninya adalah keluarganya. Tanpa mereka, he is nothing. Dilly dengan Azel melekat di punggungnya berdiri di sisi kanan.


Padre Pio dalam balutan jubah biarawan, tersenyum damai pada Elgio, menemaninya di altar menunggu pengantin wanita. Pintu Kapela terbuka lebar dan puncak kepala mempelai wanita terlihat.


Di luar dugaan Ethan Sanchez duduk di bangku tengah bersama Abram Hartley dan Claire Luciano, rapikan jas dan tegang. Lucu saja siapa yang menikah dan siapa yang gugup? Pikirnya konyol. Ia tak bisa biarkan Marya tanpa dukungan meski hanya sebatas sahabat. Ia akan temukan gadis seperti Marya Corazon suatu waktu.


Pengantin wanita melangkah masuk. Kerudungnya menutupi wajah dan meski melangkah anggun, aura grogi si pengantin tak mampu tersamarkan dibalik gaun pengantin mermaid yang membingkai tubuh.


Saat melewati Ethan, sang pengantin menoleh dan tercengang sebelum buru-buru menatap ke depan, abaikan senyuman support Ethan Sanchez dan Ethan yang cerdas langsung menganalisa. Ada yang tidak beres dengan Marya.


Makin dekat ke altar, Ibu dan aunty Sunny terlihat bahagia. Ibu terus mengusap air mata dan Aunty Sunny menghiburnya. Riasan wajah Ibu sudah separuh tercoreng tetapi wanita itu tak peduli.


Akkhh Ibu, maafkan aku!


Elgio Durante dalam balutan jas biru Dongker ala-ala pria Eropa sejati, berdiri gugup dengan wajah tak terlukiskan. Elgio sedikit terganggu pada kerudung pengantin yang nyaris berlapis-lapis, hingga ia tak bisa mengintip wajah Marya. Apakah ini kerudung terakhir kali yang mereka fitting? Rasanya bukan.


Sang pengantin wanita berdiri di depan altar membungkuk. Elgio menahan napas. Semakin Marya mendekat, hatinya gelisah makin menggila.


Dilly tiba-tiba berdiri dan mengaing, mengendus dan telinganya bergerak gelisah. Anjing itu kemudian menggonggong pada pengantin wanita dan saat Dilly mendekat si pengantin wanita mundur seakan ketakutan pada hewan yang telah bersamanya tiap hari.


Dilly perlihatkan taring membuat seisi Kapela tercengang. Elgio berbisik pada Padre Pio dan dapat anggukan setuju kemudian datangi kekasihnya ragu-ragu. Sesuatu terasa salah. Pria itu memegang kerudung pengantin wanita dan akan terima konsekuensi. Beberapa orang protes oleh tindakan kasar Elgio, mengkritik tindakan tidak sopan itu.


Cincin pertunangan mereka berkilat-kilat di jemari Marya. Elgio menatap jemari kekasihnya dan terperangah. Itu bukan jemari yang sering ia genggam, bukan tangan yang sering memeluknya. Meski sangat mirip tetapi itu bukan kekasihnya. Gonggongan Dilly menjadi-jadi, jika tidak ditahan Maribel, anjing itu sudah melesat dan menggigit. Suasana berubah kisruh.


"Siapa kau?"


Elgio menarik kerudung hingga lepas dan menatap nanar pada wajah gadis di depannya yang ketakutan.


"KAU?! Apa yang telah kau lakukan? Di mana Marya?"


Elgio menepuk pipinya berharap ini cuma mimpi. Ia bengong di depan altar akibat shock. Hanya manusia bejat yang bisa menipu orang lain di depan Tuhan, di dalam rumah Tuhan.


"Arumi?!" Sunny mendekat dan menampar gadis itu keras hingga terjatuh di depan altar.


Seisi Kapela panik. Pengantin pria telah ditipu oleh adik iparnya sendiri. Salsa memegangi dadanya yang terasa hampir terjengkang dari cangkangnya.


"Di mana Aruhi? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Sunny mengedarkan pandangan berkeliling.


"Abner?!" seru Elgio panik dan ketakutan. "Abner di mana Marya? Di mana Enya?!"


Abner mendekati Arumi yang ketakutan.


"Di mana kakakmu, Arumi?" tanya Abner mencoba tenang. Ponselnya bergerak memanggil Augusto dan tak diangkat begitu pula pengawal lainnya.


"Arumi? Di mana kakakmu?" tanya Sunny dengan nada dingin menahan murka. Wanita itu kehabisan napas, ia menggertakkan gigi-giginya.


Elgio tersadar, "Abner, jangan sampai berita ini tersebar! Kita belum tahu apa yang terjadi. Jangan bertindak gegabah!"


Elgio dengan cepat berlari di lorong hendak keluar dari dalam Kapela sambil melepas jas dan melonggarkan dasi. Ethan menghadang di tengah lorong.


"Aku ikut, Elgio! Teman-temanku bisa jadi dalam bahaya. Arumi tidak mungkin bertindak sendirian. Gadis itu terlalu bodoh untuk bikin rencana sebaik ini," kata Ethan.


Elgio menggeleng frustasi. "Ethan, Arumi takut padamu. Caritahu apa yang terjadi, di mana Marya dan Enya? Aku akan mencari mereka ke hotel. Kabari aku jika kau temukan sesuatu!"


Pria itu keluar dari Kapela dan melompati beberapa anak tangga sekaligus lalu menaiki mobil. Tanpa disangka Dilly ikut meloncat gesit dan bertengger di kursi samping Elgio masih dengan Azel melekat erat di punggungnya. Hewan itu berbunyi memohon ikut. Elgio memutar mobil sambil menghubungi Lucky Luciano tetapi tak tersambung.


Hotel tempat Marya didandani tak begitu jauh dari Kapela. Beberapa pengawal yang bertugas menjaga Kapela mengekor dari belakang dengan mobil lain. Elgio mengebut di jalanan, mati rasa. Sampai di hotel, tak temukan satupun pengawal di sana. Dilly keluar dari mobil dan berlarian masuk ke dalam hotel, menggeram pada security yang coba mengahalanginya hingga si penjaga mundur ketakutan. Dilly pergi kemana ia mencium aroma Marya dan Reinha, dan Elgio menyusul di belakang si anjing. Dilly mengendus-ngendus sofa dalam ruangan tempat Marya juga Reinha sebelumnya berada, dan bolak-balik di sana. Anjing itu membaui cangkir teh lalu menyalak berputar-putar. Firasat Elgio memburuk. Ia mendekat dan meraba cangkir teh, masih hangat. Ia mulai ketakutan. Istri dan adik perempuannya kemungkinan disuguhi teh beracun.


Di mana mereka semua?


Elgio kembali pada security dan pria yang sangat panik itu merenggut kerah sang security.


"Di mana pengantin wanita yang akan menikah pagi ini?"


Si Security keheranan. "Tuan, pengantin wanita telah ke Kapela. Mereka mungkin sedang langsungkan prosesi pemberkatan saat ini," jawab sang security. "Semua pengawal telah ditarik dan mengawal sang pengantin wanita pergi ke sana."


Elgio berdiri sementara para pengawal yang ikut bersamanya memeriksa seluruh area hotel. Elgio menghubungi Lucky Luciano dan telpon itu tak diangkat. Satu-satunya jalan adalah menanyakan pada Arumi. Gadis itu tak mungkin bekerja sendirian. Dilly mengibaskan ekor, melolong pada parkiran.


"Bisakah aku lihat CCTV? Tolonglah! Ini sangat penting, pengantin yang kau lihat tadi bukan istriku. Seseorang telah menculik adik Perempuanku dan istriku," kata Elgio pada security.


"Tuan, hotel ini berada di kawasan rekoleksi untuk pengunjung Biara dan kami tak pasang CCTV di sini. Kami juga tak melihat aktivitas yang mencurigakan kecuali para pengawal Anda berkeliaran pagi ini."


Elgio menghela napas kesakitan di dadanya. Ia separuh berdiri pada Dilly yang masih menyalak.


"Kita akan temukan mereka, Dilly! Meskipun aku harus menodai tanganku dengan darah."


***


Yang Elgio Durante dan Lucky Luciano hadapi adalah Mafia, Tetua Mafia, bukan pedagang camilan. Ini Novel bukan naskah sinetron....


Nikmati ketegangan beberapa chapter penuh badai. Setelah badai aku siapkan banyak chapter nanti untuk Readers tergila-gila pada Elgio Durante dan Lucky Luciano.


Cintai Saja Aku....