
"Apa????" Kali ini Garviil yang berseru untuk memastikan apa yang baru saja di dengar nya.
"Ya, bagaimana kalau aku mengiyakan niatmu itu??? Aku bisa bicara dengan Papa."
"Sayang???? Kau ini apa-apaan, aku sudah dalam masalah besar dengan Papamu, kau malah bilang seperti itu dan mengiyakan. Yang benar saja. Semakin marah dia nanti kepadaku, ini taruhannya hubungan kita sayang, dan aku bisa melihat dengan jelas Om Ariel serius sekali dengan ucapannya."
"Iya tahu, maksudku aku setuju dengan apa yang kau bilang, tidak ada salahnya kalau kita menikah dalam waktu dekat, aku akan bicara dengan Papa mengenai hal ini, mengatakan padanya kalau aku setuju menikah denganmu."
Garviil terperanjat. "Apa???? Kau setuju???"
Geffie menganggukkan kepala nya. "Iya, aku sejak dulu ingin menikah muda, memang apa salahnya??? Aku mau kalau kau mengajakku menikah" Ucap Geffie yang semakin membuat Garviil terkejut dan terperangah di buatnya.
"Kau setuju dengan keinginanku???"
Geffie menganggukkan kepala nya lagi. "Iya... Memangnya kau tidak percaya padaku???"
"Ah bukan seperti itu sayang, tapi aku pikir aku butuh banyak waktu untuk meyakinkanmu supaya mau menikah denganku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau akan menanggapi hal ini dengan mengiyakan keinginanku untuk menikahimu."
"Apa?????"
Geffie berdecap. "Kau ini kenapa???? Kok seperti tidak percaya kepadaku sih??? Aku serius. Masa aku harus mengulangi pernyataanku tadi sih???" Geffie tampak mulai kesal.
"Bukan begitu sayang, aku percaya. Akh hanya tidak menyangka saja kau akan merespon seperti ini. Kalau kau ingin bicara dengannya, bicara dulu nanti saat kau kesini aku akan bicara lagi dengannya, tetapi please, yakinkan dia bahwa aku memang benar-benar mencintaimu dan tulus"
Geffie tersenyum "Aku tahu.... Aku akan coba biar dengan Papa besok, aku juga akan meminta bantuan kak Gienka. Supaya ada yang mau mendukungmu meyakinkan Papa."
"Aku khawatir sekali, takut ini malah jadi Boomerang untuk kita."
"Percaya saja padaku, semuanya akan baik-baik saja. Sudah ya??? Aku mengantuk, kau juga lanjutkan pekerjaanmu, aku mencintaimu,"
"Aku juga mencintaimu, good night."
"Night...." Geffie mengakhiri panggilannya.
Garviil meletakkan ponselnya dan senyum-senyum sendiri. Ini di luar ekspektasi nya bahwa Geffie bersedia menikah dengannya dan membantunya untuk meyakinkan Ariel. "Ah ya Tuhan.....!!!" Garviil menggeseek geseek kedua telapak tangannya dengan penuh semangat. Dan langsung membayangkan segala persiapannya untuk menikahi Geffie nanti jika dia sudah mendapatkan restu dari Ariel. Garviil akan memberitahu kedua orang tua nya untuk bisa melamar Geffie serta Segal persiapan yang lainnya. Garviil berdoa agar Geffie berhasil meyakinkan Ariel nantinya.
****
Keesokan harinya.
Geffie menemui Gienka di kamarnya. Kakaknya itu sedang memakaikan pakaian pada bayi nya. Suasana sedang sepi karena suami kakaknya masih berolah raga pagi, dan yang lainnya juga ada di kamar masing-masing.
Geffie menghampiri Gienka. "Kakak... Mau bantu aku tidak???" Gumam Geffie.
"Bantu apa???" Tanya Gienka menoleh ke adiknya itu.
"Aku tahu kenapa Papa mengusir Garviil dari sini, bukan karena alasan pekerjaan."
Gienka meletakkan Lexia di box bayi nya dan menatap tajam adiknya. "Garviil di usir???" Gienka berpura-pura terkejut.
"Ya, Papa mengusirnya karena dia bilang pada Papa ingin menikah denganku."
"Kau tahu darimana??? Apa Papa yang memberitahu mu???"
Geffie menggelengkan kepala nya. "Bukan, tapi Garviil sendiri, semalam.aku bicara dengan Garviil dan dia menjelaskan semuanya. Kak, bagaimana menurut kakak kalau aku menikah muda??? Misalnya kalau keinginan Garviil itu di setujui Papa, kakak setuju juga atau tidak???" Tanya Geffie.
"Kau ingin menikah muda??? Kau tertarik dengan tawaran Garviil????"
"Memangnya kalau iya, menurut kakak bagaimana???"
Gienka duduk di sofa dan memandangi adiknya. "Menikah itu adalah perjalanan baru untuk seorang perempuan, itu awal dari segala nya. Kakak rasa usiamu juga bukan anak kecil lagi, ya itu terserah kau saja, kakak juga tidak akan memberikan banyak nasehat, mengingat kakak dulu jiga ingin buru-buru menikah, yang pasti itu adalah perjalanan yang baru, kau harus siap dengan segala konsekuensi yang siap menghadangmu di depan."
"Aku tahu, dan aku merasa tidak ada salahnya menikah di usia seperti ini, menanggapi niat Garviil ingin menikahi ku, ya aku sih merasa bahwa itu adalah pemikiran yang bagus." Geffie mengangkat keponakan dan menggendongnya lalu duduk di kursi berhadapan dengan kakak nya.
"Kakak pasti tahu bagaimana Garviil, orang yang seperti apa dia. Dia laki-laki yang baik, sangat mencintaiku dan keluarga nya juga keluarga baik-baik. Di usianya yang sekarang, aku pikir dia sudah sangat matang, pekerjaan nya juga bagus. Aku juga merasa bahwa tidak ada salahnya kami menikah dan aku tetap menjalani kuliahku disini." Geffie tersenyum. "Kakak bantu aku ya???"
"Bantu apa???"
"Meyakinkan Papa, dia sepertinya marah sekali dengan Garviil, dan aku ingin Papa bisa memberikan restu untuk hubungan kami. Please bantu ya kak????"
Gienka terdiam memandangi adiknya. "Baiklah, untuk adikku tercinta apa yang tidak bisa aku lakukan, tapi kakak tidak yakin bisa seratus persen membantumu, kalau ini tidak terlalu berhasil, jalan terbaik nya adalah kau juga membicarakan ini dengan Mama, hanya Mama yang bisa membuat Papa Iel luluh. Kalau itu masih belum cukup, kau jiga harus meminta bantuan Papa Dan, merekalah yang selalu bisa membuat hati Papa Iel melunak."
Geffie tersenyum. "Ya, aku tahu senjata apa yang bisa aku manfaatkan untuk merebut hati Papa. Thanks ya Kak???"
"Iya...." Gienka juga tersenyum. Ya, Gienka tahu adiknya sudah cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu. Tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan keputusan yang di ambil oleh Geffie. Dan Garviil juga laki-laki yang baik. Usia Garviil sudah cukup mampu juga untuk menentukan sesuatu yang serius. Garviil bukan remaja yang cara pemikirannya labil. Garviil adalah sosok yang juga Gienka yakini bisa membahagiakan Geffie.
"Kak, aku akan bicara dengan Papa hari ini, dan besok saat kami sudah di Boston, Garviil akan kembali meyakinkan Papa."
"Baiklah, nanti kakak akan menemanimu."
"Thank you kak...".
****
Geffie di temani Gienka menemui Ariel yang sedang mengobrol dengan Aditya di area kolam renang. Gienka juga membawa Baby Lexia. Suasana rumah memang sedang lengang, Kyros pergi ke kantor dan Cahya seperti nya ada di kamar.
Ariel mengambil cucu nya dari gendongan Gienka, sementara Geffie dan Gienka ikut bergabung dengan Ariel dan juga Aditya.
Ariel tampak menciumi cucu nya dengan gemas. Lexia tumbuh menjadi bayi yang cantik dan menggemaskan,membuat siapa saja ingin menggendong dan menciumi nya.
"Papa...???" Gumam Geffie meragu.
Ariel melirik ke arah putri bungsu nya itu. "Kenapa???" Tanya Ariel.
"Kalau aku meminta ijin Papa untuk menikah bagaimana???" Geffie akhirnya langsung mengungkapkan keinginan nya.
Mendengar itu, Aditya dan Ariel langsung mengalihkan pandangan terkejut mereka ke Geffie. "Apa kau bilang????" Ucap Ariel.
"Aku sudah sepakat dengan Garviil untuk mengatakan ini kepada Papa, kami berdua punya keinginan untuk bisa segera menikah."
Ariel memberikan Lexia kepada Gienka, lalu menatap tajam putrinya. "Kau, sadar tidak dengan apa yang kau katakan???? Apa Garviil sudah mempengaruhi pikiranmu??? Sehingga kau bisa mengatakan hal sekonyol ini kepada Papa mu."
"Papa, ini bukan kekonyolan, aku bicara serius, dan aku ingin memberitahu Papa kalau aku sangat menyayangi garviil, dan aku ingin menikah dengannya."
"Kau bicara soal menikah, sedangkan saat ini kau sedang di sibukkan dengan persiapan kuliahmu. Kau ingin melanjutkan kuliah atau menikah????"
"Dua-dua nya." Gumam Geffie dengan entengnya.
"Geffie...!!!" Teriak Ariel yang membuat Gienka dan Adita cukup terkejut.
"Papa..?? Jangan berteriak. Papa ada di depan Lexia. Papa bersikaplah dengan tenang." Sela Gienka. "Papa ini kebiasaan deh. Apa-apa itu di dengerin sampai selesai dulu, jangan gedein emosi dulu."
"Pasti kau sudah kong kalikong dengan adikmu???" Ariel menduh Gienka.
"Bukan kong kalikong or something, tapi Papa ini bisa dong kalaubahas hal yang seperti itu harusnya bisa tenang, dan jangan apa-apa udah teriak." Gienka memprotes kebiasaan Papa nya.
"Iya Iel,setidaknya biarkan putrimu bicara dulu sampai selesai mengenai keinginannya atau apa yang ingin di bicarakan." Sahur Aditya. "Geffie sayang, ciba kau jelaskan secara detail semua yangbjngin kau sampaikan kepada Papa mu" Ucap Aditya pada Geffie.
"Iya Pa. Sebenarnya aku sudah tahu masalah Papa dan Garviil kemarin, dia bukan ada pekerjaan tetapi karena Papa mengusirnya kan????" Tanya Geffie tetapi dia tidak butuh jawaban dari Papa nya. Geffie pun melanjutkan. "Papa, kenapa menolak keinginan Garviil??? Dia datang kesini untuk mendapatkan restu dari Papa untuk hubungan kami, dia memang sejak awal mengajakku untuk berhubungan dengan serius dan aku juga sudah mengenal baik keluarga Garviil. Jadi aku yakin dengannya dan ingin membawa hubungan kami ke tahap yang lebih serius lagi. Aku tidak masalah tinggal terpisah dengannya nanti, aku disini dan dia di Boston, karena dia juga punya tanggung jawab dengan.perusahaannya, sedangkan aku berkuliah disini."
"Tidak...!!!" Sela Ariel dengan cepat.
"Kalau begitu britahu alasannya kenapa Papa menolak???? Alasan umur??? Atau karena aku masih akan kuliah???? Aku rasa hal itu tidak perlu terlalu di pikirkan, usiaku 23 tahun dan itu sudah cukup untuk seorang perempuan menikah, berkuliah pun todak ada msalahnya kan??? Lalu apa alasan besar Papa menolak hubungan kami??? Garviil berasal dari keluarga baik-baik dan Papa juga mengenal Papanya Garviil kan???" Tanya Geffie. "Aku hanya ingin tahu alasan besar apa yang membuat Papa menolak kami???"
"Tidak ada...!!!" Jawab Ariel kemudian berdiri dan meninggalkan area kolam renang dengan.kemarahan. Dia tetap tidak bsa menerima jika Geffie akan menikah dengan Garviil. Hal itu tidak boleh terjadi.