
Melihat tatapan Ariel, Garviil sedikit bergidik, dia merasa ngeri tatapan Papa Geffie itu sangat tajam sekali dan juga Papa Geffie tidak membalas uluran tangannya.
"Papa!!!" Panggil Geffie sembari memegang bahu Ariel.
Ariel pun terlonjak, tetapi kemudian ia akhirnya membalas uluran tangan Garviil kemudian Garviil menyalami Ariel dan mencium tangan nya.
"Apa kau ingin mengantar Geffie ke sini???" Tanya Ariel dengan dingin.
"Iya Om, saya mengantar Geffie ke sini sekaligus ingin bertemu dengan keluarga Geffie dan berkenalan dengan keluarga nya, karena Geffie sering bercerita tentang keluarganya kepada saya dan saya penasaran jadi ingin bertemu dengan kalian semua."
"Kau akan menginap juga di sini???" Tanya Ariel lagi.
Geffie menyadari sikap ketus dari Papanya dan ketakutan dari Garviil terhadap Papanya. Geffie sebenarnya sedikit jengkel dengan cara Ariel memperlakukan Garviil dan Geffie harus membuat suasana tidak terlalu kaku. "Iya Papa, tentu saja dia akan menginap. Memang kenapa kalau dia mengantar aku ke sini??? Katanya dia tidak tega jika aku pergi ke Washington DC sendirian. Itulah kenapa dia mau menemaniku, dia juga sudah pernah menginap di sini jadi biarkan saja." Sahut Geffie.
"Garviil duduklah!!!" Perintah Maysa.
Garviil tersenyum menganggukkan kepalanya, kemudian dia duduk di sofa. Ariel masih bersikap sama terlihat sangat menakutkan sekali. Garviil tidak menyangka ternyata Papa Geffie orang yang sangat dingin dan cukup menakutkan karena selama ini di Geffie bercerita kepadanya jika Papanya yang sangat baik sekali dan penyayang akan tetapi ternyata tidak seperti apa yang dikatakan oleh Geffie. Ternyata Papa Geffie sangat menakutkan, tatapannya dan juga ekspresi wajahnya. Entah kenapa Garviil menjadi ngeri padahal biasanya dia bisa mengatasi masalah bisnis dan pekerjaannya serta para kliennya dengan baik akan tetapi kali ini sangat berbeda, dia harus menghadapi orang tua dari perempuan yang sangat dia cintai.
"Kau sebelumnya pernah menginap dan datang ke sini kan???" Tanya Ariel.
"Iya Om. Beberapa bulan yang lalu sebelum Kak Gienka pulang ke Indonesia."
"Kau tidur di mana???"
Geffie mencubit lengan Ariel ketika mendengar pertanyaan Papanya yang menurutnya konyol itu. Geffie pun memprotes Ariel. "Papa Kenapa bertanya seperti??? itu pertanyaan macam apa sih???" protes Geffie.
"Papa kan hanya bertanya, memang apa yang salah dengan pertanyaan Papa, apa dia tidur denganmu??"
"Ih Papa Mana ada yang seperti itu??? Aku tidak pernah tidur dengan siapapun, kemarin waktu kami ke sini, aku tidur di kamarnya Kakak. Garviil tidur di kamar tamu, lagi pula Papa juga aneh mana berani aku tidur dengan orang lain atau laki-laki denganku." Protes Geffie lagi. "Memangnya selama ini Papa dan Mama tidak mengajariku tentang menjaga diri dan kehormatan, kan kalian sudah mengajariku supaya aku bisa bersikap yang bisa menjaga diri. Papa ini aneh-aneh saja."
"Kau bisa berbahasa Indonesia, Memangnya kau berasal dari mana???"
"Saya memang memiliki darah Indonesia dan sejak kecil saya memang juga tinggal di Indonesia, hanya saja ketika SMA saya sekolah di Boston lalu berkuliah di Harvard University dan Mama saya asalnya dari Amerika kalau Papa memang asli orang Indonesia dan Kebetulan juga di Boston Mama punya usaha lalu saya yang bertugas untuk mengurus usahanya di sini sementara Mama sekarang bersama Papa di Indonesia."
Randy keluar dari kamar tamu, dan dia berjalan menuju ruang tamu untuk menghampiri Ariel dan yang lainnya. Randy tersenyum ketika dia melihat ternyata Geffie sudah datang. "Uncle Randy..!!" Teriak Geffie.
Randy menghampiri nya dan Geffie menyalami nya dengan sopan. Kemudian Geffie memperkenalkan Garviil pada Randy, akan tetapi ekspresi kedua nya terlihat benar-benar terkejut. Seperti orang yang sebelumnya pernah bertemu. "Kau Garviil kan???" Tanya Randy. "Kau anaknya David???"
Garviil tersenyum sambil menganggukkan kepala nya. "Iya Om, ini Om Randy kan??"
"Iya, ya Tuhan kau sudah dewasa sekali, lama sekali tidak bertemu denganmu."
"Kau mengenalnya Ran??" Tanya Ariel.
"Tentu saja iel, Garviil ini anaknya Ivander, David Ivander pemilik GVI Transportindo."
Ariel menegrnyit. "GVI Transportindo???? Apa maksudmu perusahaan jasa transportasi yang biasa aku sewa untuk membawa barang-barang dan material kebutuhan perumahan dan lai-lainnya??"
Randy tersenyum. "That's right...!!! Semua truck hingga berbagai kendaraan besar yang kau sewa untuk berbagai keperluan perusahaanmu itu adalah milik Pak Ivander, Papa nya Garviil ini. Dan Garviil memilih mengurus perusahaan milik Mama nya disini, karena menurutnya Papa nya masih cukup bisa mengatasi perusahaan yang ada di Indonesia. Dia juga punya saudara kembar tapi saudara kembarnya itu seorang seniman bukan pebisnis seperti kakaknya atau Papa nya, lebih tepatnya seorang pelukis."
"Ah ya, aku ingat, beberapa kali bertemu Pak Ivander sering bercerita kalau dia punya anak kembar dan mereka memilih tinggal di luar negeri." Gumam Ariel.
"Owh jadi Papa iel juga sudah mengenal orang tua Garviil ya???" Sahut Gienka dari belakang. Gienka baru saja turun dari lantai dua setelah mengantar minuman untuk Aditya. Gienka menghampiri keluarga nya di ruang tamu. "Hal yang sangat bagus sekali kalau begitu." Celetuk Gienka lagi sembari duduk di sofa di sebelah Garviil. "Orang tua sudah saling mengenal, itu atinya restu bisa lebih mudah di dapatkan??? Benar kan apa kataku????" Gienka menyikut pinggang Garviil dan mengedipkan matanya menggoda kekasih dari adiknya itu.
Randy terkekeh, memandangi Ariel seolah ingin mengejeknya. "Oh jadi kau adalah kekasihnya Geffie Viil?? Hahaha Pilihan yang sangat tepat sekali, Om setuju karena Geffie sudah cantik, cerdas dan juga ceria. Kau tidak akan menyesal memiliki Geffie, dan Ariel ini sangat baik sekali, Om sudah mengenalnya berpuluh-puluh tahun, dan sangat menyayangi anak-anaknya, baik itu Gienka ataupun Geffie, hanya saja satu pesan Om, jangan sekali-kali berulah apalagi membuat Geffie menangis, karena bisa saja Ariel akan menelanmu bulat-bulat seperti ular phiton, tidak berbisa tapi tetap berbahaya. Hahaha...."
Semua orang yang mendengar itu saling melempar senyum dan hanya Ariel saja yang memasang wajah datar. Antara ingin marah pada Randy atau juga merasa sungkan pada Garviil karena ternyata Garviil adalah anak dari kolega nya.
"Apa kau sudah memberitahu Papa mu kalau kau berpacaran dengan Geffie???" Tanya Randy pada Garviil.
"Sudah Om.."
"Oh sudah ya??? Tapi pasti Papamu belum tahu kalau Geffie anaknya Ariel???"
Garviil menggelengkan kepala nya. "Belum tahu, saya saja baru tahu sekarang kalau ternyata Om Ariel adalah rekan bisnis Papa."
"Hahaha kau harus memberitahu nya segera." Randy kembali tertawa memandangi wajah kesal Ariel. Sedangkan Danist juga tidak luput menertawakan adiknya. Mengingat tadi bagaimana Ariel seolah memberikan kesan dingin pada Garviil. "Jangan galak-galak iel, kasihan Garviil sejak tadi ketakutan karena tatapun yang tajam padanya." Ejek Danist.
Ariel pun berdiri dan meninggakan ruang tamu, dengan alasan bahwa dia ingin melihat Aditya. Hal itu membuat yang lainnya tertawa geli.
"Dan Garviil, jangan terlalu di ambil pusing, Ariel memang seperti itu, apalagi kalau masalah tentang putri nya, maklumi saja. Tapi asal kau tahu bahwa Ariel sangatlah baik, kau hanya perlu mendapatkan hatinya saja untuk bisa dekat dengannya." Ucap Danist.
"Iya, cuek saja, Papa memang terkadang seperti itu." Sahut Gienka. "Sebentar aku ambilakn minum dulu, atau kalian berdua juga ingin menengok Apap dulu??"
"Ya sudah, istirshst dulu, Apap juga tadi baru selesai minum obatnya mungkin sekarang sudah tidur." Gienka kembali berdiri dan bergegas ke dapur untuk mengambilkan Garviil dan Geffie minuman.
Sore harinya Kyros Akhirnya datang dari kantor dan dia di sambut oleh Gienka dan juga baby Lexia yang sudah menunggu mereka di ruang tamu. Kyros tersenyum ketika dia melihat ada Geffie sudah ada di rumahnya. Geffie pun menyalami kakak iparnya itu kemudian mengenalkan Garviil pada Kyros karena Kyros belum pernah bertemu dengan Garviil. Saat itu Kyros sudah berangkat ke luar angkasa sehingga ketika Gienka kembali lagi ke rumah ini tanpa Kyros dan saat itu Geffie datang bersama dengan Garviil sehingga sekaranglah Garviil baru bisa bertemu dengan Kyros.
Kak Ky!!! Kenalkan ini Garviil temanku, dia sebelumnya sudah pernah ke sini saat Kakak pergi ke luar angkasa dan dia mengantarku ke sini untuk bertemu dengan Kak Gienka." ucap Geffie.
"Oh ya ya ya ya ya.. Uhmmm akhirnya bertemu juga denganmu, sebelumnya Gienka sudah cerita kalau Geffie mengajak seorang teman ke sini dan ternyata kau adalah Temannya Geffie tapi pasti bukan teman biasa ya kan??" Kyros mengulurkan tangannya untuk membalas uluran tangan Garviil dan mengenalkan dirinya sebagai Kyros suami dari Gienka kakaknya Geffie.
Garviil pun tersenyum dan akhirnya dia bisa bertemu juga dengan kakak ipar Geffie yaitu Kyros. Kyros Sahasya si Astronaut muda yang sudah dua kali pergi ke luar angkasa. Garviil sangat penasaran selama ini dan ingin sekali bertemu tetapi akhirnya dia bertemu juga. Kyros terlihat sangat baik dan ternyata lebih tampan daripada fotonya. "Saya Garviil, senang sekali bisa bertemu dengan Anda. Saya selalu penasaran ketika Geffie bercerita tentang anda. Kami sering membahasnya. Saya benar-benar bangga sekali bisa berhadapan langsung dengan orang hebat seperti anda." Puji Garviil.
Kyros terkekeh. "Ah jangan terlalu berlebihan dan bersikaplah biasa saja jangan formal, kau bisa memanggilku Kyos saja ataupun Kakak, terserah apapun yang bisa membuatmu merasa nyaman, kita tidak usah memakai bahasa yang formal seperti anda panggil saja kau, kamu atau yang lainnya. Nama saja juga boleh dan aku juga penasaran teman seperti apa yang dibawa oleh Geffie ke sini ternyata aku bertemu juga denganmu, hilang sekarang penasaranku."
Garviil pun tersenyum. "Ya senang juga bisa bertemu dengan Kak Kyros."
"Jam berapa tadi kalian datang???" Tanya Kyros.
"Tadi sekitar jam 2 Kak, sepertinya kakak baru saja pergi kembali ke kantor lagi tADI." Jawab Geffie.
"Ah iya, tadi aku kembali ke kantor sekitar setengah 2. Lalu kapan kau akan mulai mengurus pendaftaran kuliahmu Geff???" Tanya Kyros pada Geffie.
"Sebenarnya ya tinggal administrasi saja sih Kak, kalau untuk daftarnya kan sudah dari beberapa bulan yang lalu dan tesnya juga aku sudah dinyatakan lolos, jadi aku tinggal mengurus administrasi saja, sepertinya lusa."
"Oke Baguslah, kalau begitu nanti kau siapkan juga ya kepindahanmu, kau beritahu Kakak kalau butuh bantuan nanti kakak akan mengurusnya. Sekarang kakak akan naik ke atas dulu mau mandi. Kakak mau mencium Lexia tetapi tidak berani karena Kakak belum mandi dan belum berganti pakaian, kalian enjoy saja ya???" Kyros pun kemudian meninggalkan ruang tamu dan naik ke kamarnya ditemani oleh Gienka dan juga baby Lexia yang di gendong oleh Gienka.
Dua hari kemudian...
Gienka dibantu oleh Cahya menyiapkan makan malam dan semua orang turun. Ariel, Kyros, Geffie dan juga Garviil. Sore tadi Danist, Elea, Maysa, Adri dan Randy sudah pulang lebih dulu ke Indonesia dan hanya meninggalkan Ariel saja yang ada di sini.
Geffie tadi sedang bermain bersama baby Lexia ketika Gienka membuat makan malam. Geffie akan tinggal di sini selama beberapa hari untuk mengurus pendaftaran kuliahnya. Geffie akan melanjutkan s2-nya, akan tinggal bersama Gienka dan Kyros. Geffie sudah memutuskan dan mendaftar kuliah di salah satu universitas yang ada di Washington DC dan juga telah mengikuti beberapa tes kemudian dia dinyatakan diterima sehingga sekarang dia harus mengurus beberapa administrasi sebelum kemudian mulai beraktivitas untuk kuliah.
Gienka menyiapkan makanan di atas meja sementara Cahya akan menjemput Aditya yang masih ada di kamar. Kondisi Aditya semakin membaik, hanya saja Aditya memang tidak boleh terlalu banyak bergerak dan juga tidak boleh menahan beban yang terlalu berat karena Aditya belum sepenuhnya sembuh.
Geffie meletakkan baby Lexia di stroller, kemudian dia bersama yang lainnya duduk di kursi makan. Tidak lama Cahya mendorong kursi roda Aditya dan mereka juga ikut bergabung.
"Kali ini kita makan malam nya adalah makanan Indonesia, karena tadi Kyros yang memintanya. Katanya dia ingin makan makanan Indonesia yang dibuat oleh Amam, ya sudah kita memasak masakan yang di request oleh Ky." Ucap Gienka.
Kyros menggosok-gosokkan telapak tangannya karena dia tidak sabar untuk bisa segera memakannya. Bau masakan buatan Amam nya serta istrinya itu sangat menggugah selera.
Kyros sengaja request kepada Amamnya bahwa dia ingin makan sayur asam tetapi dengan ikan karena masakan Amamnya itu sangat enak dan segar. Kyros sejak dulu sangat menyukainya, ditambah lagi ada sambal serta beberapa makanan lain sebagai pendukung seperti tempe hingga bakwan jagung dan juga kerupuk serta lainnya.
"Garviil... Apa kau suka makanan Indonesia???" Tanya Gienka.
Garviil tersenyum. "Tentu saja kak,sudah lama sekali aku tidak makan makanan Indonesia. Biasanya Papa yang sering membuatkan makanan Indonesia untukku, tahu sendiri kalau Mama bukan berasal dari Indonesia dan aku juga terkadang membelinya di restoran Indonesia tapi sepertinya rasanya lebih enak yang ini."
Gienka terenyum. "Iya... Kau harus mencobanya ini adalah sayur asam ikan kesukaan kami semua. Amam sering membuatnya karena ini resep warisan dari ibunya Amam atau neneknya Kyros. Jangan khawatir meskipun ikannya dimasukkan ke dalam sayur, tetapi tidak bau amis karena banyak bumbu yang dimasukkan ke dalamnya termasuk kunyit yang membuat bau amis dari ikannya itu hilang, pokoknya enak sekali. Aku jamin kau akan ketagihan." Ucap Gienka lagi. "Oke tidak perlu banyak bicara kita makan sekarang...!!!"
Mereka pun membalikkan piring dan Mulai mengambil nasi serta lauk dan sayur yang ada di depan mereka secara bergantian. Baunya sangat harum sekali dan menggugah selera untuk bisa segera di nikmati.
"Kau tidak apa-apa Viil meninggalkan pekerjaanmu selama seminggu dan berada di sini???" Tanya Aditya.
"Oh tidak Om, pekerjaan bisa menunggu saya dan saya juga bisa mengerjakannya melalui email. Jadi tidak terlalu merepotkan, saya juga senang di sini karena ada banyak orang. Kebetulan saya sangat merindukan suasana kekeluargaan seperti ini sudah sekitar 1 tahun Mama dan Papa tidak datang ke Amerika karena memang mereka sibuk sekali, jadi saya sangat merindukan momen itu, kumpul bersama dengan kedua orang tua saya."
"Hal itu biasa terjadi, anak jauh dari orang tua pasti akan sering merindukan suasana bisa berkumpul bersama. Kyros juga merasakan seperti itu, dia dulu memilih melanjutkan sekolah SMA nya di Swiss lalu berpindah kuliah ke Amerika, bahkan di tengah kuliahnya dia memutuskan untuk merubah kewarganegaraannya menjadi warga negara Amerika sehingga dia juga selalu jauh dari kami semua. Dan bahkan bisa dibilang dia jarang sekali pulang, setahun hanya sekali itupun ketika niatnya akan pulang selama dua minggu bisa tiba-tiba berubah menjadi hanya 5 hari atau satu minggu karena dia harus kembali untuk pekerjaannya yang sangat menyita waktu itu. Akan tetapi harus dinikmati karena itu sudah tanggung jawab. Karena yang terpenting adalah ketika bersama harus dimanfaatkan dengan sangat baik waktu yang ada itu justru akan membuat kenangan yang lebih berkesan." Ujar Aditya.
"Iya Om, kami pun selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menikmati setiap kebersamaan kami."
Ariel menikmati makanannya sembari melirik dingin ke arah Garviil yang sedang mengobrol dengan Aditya. Ariel masih mencoba melihat seberapa cintanya Garviil terhadap Geffie dan Ariel memang sangat protektif terhadap orang-orang yang mendekati Putri yaitu Geffie. Dulu Ariel sebenarnya juga merasa was-was dengan Gienka tetapi Gienka sama sekali tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Dari mulai sekolah sampai berkuliah sehingga Ariel pun tidak terlalu mengkhawatirkannya karena Gienka memang tidak tertarik dengan laki-laki lain dan pandangan Genka saat itu hanyalah pada Kyros akan tetapi berbeda dengan Geffie yang memang beberapa kali dekat dengan laki-laki. Ariel tahu mengenai masalah yang terjadi di antara Geffie dan kekasihnya yang terakhir itu meskipun Geffie tidak menceritakannya. Tetapi Ariel mendengar cerita itu dari Gienka, di mana Geffie sudah dikhianati oleh kekasihnya yang bernama Mike dan yang membuat Ariel terkejut adalah justru Gienka tidak menceritakan sama sekali tentang Garviil yang ternyata adalah kekasih baru dari Geffie. sehingga Ariel cukup terkejut ketika tiba-tiba dia mendengar Geffie datang ke rumah Gienka beberapa bulan yang lalu dengan seorang teman laki-laki dan cerita itu adalah dapatkan dari Aditya karena memang saat itu Aditya ada di Amerika.
Dan kali ini Ariel langsung dihadapkan dan dipertemukan dengan Garviil secara langsung dan bisa melihat bagaimana laki-laki yang dekat dengan putrinya itu. Beberapa hari terakhir ini Ariel mengamati tingkah laku dari Garviil serta Bagaimana Garviil bersikap terhadapnya serta terhadap orang-orang yang ada di rumah ini. Ariel mencoba menimbang dan menilai Apakah Garviil benar-benar laki-laki yang baik dan pantas serta cocok untuk Geffie.
Ariel menelan makannan nya kemudian terdiam untuk sesaat seperti sedang memikirkan sesuatu. Ariel melirik ke arah Garviil yang sedang sibuk mengunyah makanannya.
"Garviil...!!!" Panggil Ariel membuat lelaki itu menoleh dan langsung meletakkan sendok serta garpu yang dipegangnya
."Iya Om???" Jawab Garviil.
"Karena istriku sudah pulang ke Indonesia dan aku tidur sendiri. Jadi apakah kau mau malam ini tidur bersama denganku???"
Sontak ucapan Ariel itu pun membuat semua orang tertegun dan mengarahkan pandangannya ke arah dirinya. Mereka semuanya terlihat bingung dan tidak mengerti dengan ucapan Ariel barusan. Ariel pun menyadari kesalahannya dalam berucap tadi. "Maksudku aku ingin tidur bersama dengan Garviil, tetapi sebelum tidur aku ingin berbicara dan mengobrol dengannya." Ucap Ariel meralat. "Jadi Apakah kau mau Viil??" tanya Ariel. Dan ekspresi Geffie ngsung berubah, tatapannya menajam ke arah Ariel. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Papanya Itu. Geffie melihat bahwa sepertinya beberapa hari ini Papanya tidak begitu suka dengan Garviil. Sejak lelaki itu datang dan memperkenalkan diri.