Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
PEMAKAMAN



Beberapa jam kemudian.


Keluarga Tiffany sudah di hubungi oleh Garviil karena Vicky sudah tidak sanggup lagi untuk berbicara. Dia terlalu terpukul dan Vicky hanya memberikan ponselnya pada Garviil agar kakaknya bisa menghubungi keluarga Tifanny. Dan Tiffany di bawa pulang oleh keluarga nya untuk di makamkan di tempat mereka. Garviil sendiri sudah menghubungi kantornya untuk memeriksa cctv yang ada di bagian depan dan menyimpannya untuk kemudian di gunakan sebagai bukti jika kepolisian memerlukannya. Dan Garviil sendiri tidak habis pikir bagaimana bisa ada mobil melaju dengan kencang dan menabrak Tiffany. Mengingat pengendara mobil disini sangat menghormati pejalan kaki. Kebanyakan mereka akan berhenti ketika melihat ada orang yang berjalan kaki atau menyebrang jalan. Karena begitulah kebiasaan dan adab orang-orang disini. Mereka sangat menghormati pejalan kaki. Lalu bagaimana bisa ada mobil melaju kencang sampai menabrak orang yang menyebrang jalan.


Garviil saat ini masih mendampingi Vicky. Adiknya itu sangat kacau sekali. Hanya diam dan sesekali menitihkan airmata nya dan terus menyalahkan diri nya atas apa yang terjadi pada Tiffany. Karena seharusnya Tiffany tidak perlu datang menemui nya di kantor tetapi di apartemen saja. Garviil berusaha untuk terus membuat adiknya mengerti bahwa ini sudah takdir dari Tuhan. Kalau seandainya Tiffany berada di apartemen saja tetapi jika sudah waktunya di panggil oleh Tuhan, apapun tetap bisa terjadi. Karena tidak ada yang bisa menghalangi takdir yang sudah di gariskan oleh Tuhan.


Vicky juga tadi meminta maaf kepada orang tua Tiffany karena dia tidak bisa menjaga Tiffany. dan kedua orang tua Tiffany tampak bijak dan mereka meminta Vicky juga agar tidak terus menyalahkan diri sendiri. Menganggap ini adalah takdir yang sudah Tuhan gariskan untuk Tiffany.


Garviil masih menemani Vicky. Duduk di sebelah adiknya yang tertunduk sedih. Keluarga Tiffany saat ini sedang melakukan doa bersama. Vicky dan Garviil memilih menunggu di luar, menghormati keluarga Tiffany.


Garviil berdiri ketika mendengar ponselnya berbunyi dan kebetulan sekali itu adalah panggilan dari Mama nya. Garviil memilih menjauh dari keramaian. Dan mengangkat telepon Mama nya. "Iya Ma..."


"Viil.... Mama membeca pesanmu, dan Mama langsung menghubungi mu. Kenapa Viil??? Everything okay???" Tanya Mama Garviil.


"Ma...??? Tiffany kecelakaan siang tadi."


"Apa...???? Kecelakaan??? Bagaimana kondisi nya???" Suara Mama Garviil terdengar panik.


"Tiffany sudah meninggaI dunia. Dia mengalami benturan yang sangat keras dan meninggaI seketika. Aku sedang berada rumah duka bersama Vicky. Dia terpukul sekali dan sejak tadi diam."


."Ya Tuhan.....!!!! Tapi bagaimana bisa???? Apa yang terjadi???"


"Tiffany datang ke kantor untuk mengantar makan siang, dia menemui Vicky lalu hendak kembali, dia menyebrang jalan dan ada mobil melaju kencang lalu tertabrak. Kejadiannya tepat di depan kantor Ma."


"Ya Tuhan Tiffany...!!!" Mama Garviil pun terisak dan tidak menyangka. Kemarin lusa dia berbicara dengan Tiffany di telepon dan kemarin juga masih berkomunikasi. Lalu sekarang mendengar kabar bahwa Tiffany meninggaI dunia. "Mama kemarin masih mengobrol dengannya."


"Iya Ma, ini terjadi begitu cepat."


"Geffie, bagaimana dia??? Kau sudah memberitahu nya???"


"Belum Ma, kemungkinan Geffie sampai besok siang, aku tidak mau membuatnya panik, aku akan memberitahu nya besok saja."


"Ya, lebih baik besok saja.... Ah ya Tuhan, Tiffany, kenapa kau pergi begitu cepat...???" Gumam Mama Garviil. "Kau coba kuatkan adikmu ya??? Dia pasti sedih sekali. Dia sangat mencintai Tiffany. Dia berusaha kiat tetapi kau tahu bahwa jika ada kesedihan seperti ini, dia sangat rapuh sekali."


"Iya Ma, aku sedang berusaha melakukannya."


"Sampaikan ucapan duka cita dari Mama dan Papa pada keluarga Tiffany ya??? Minta maaf karena kami tidak bisa berada disana. Kapan akan di makamkan???" Tanya Mama Garviil.


"Sepertinya besok, tapi aku juga tidak tahu Ma, semua kembali pada keluarga Tiffany. Aku berharap Geffie juga sempat melihat Tiffany untuk terakhir kali nya, meskipun aku sangat yakin dia akan sedih dan hancur sekali. Mereka begitu dekat."


"Ya, Mama tahu. Kau harus menguatkan mereka berdua nanti. Tapi bagaimana bisa Viil ada mobil melaju kencang di jalan yang ramai seperti itu???? Itu bukan jalan bebas hambatan. Bagaimana bisa???"


"Aku tidak tahu dan belum tahu pasti nya Ma, tetapi pengendara nya sudah di amankan polisi. Aku juga akan mengurus semua nya dan melihat rekaman cctv juga. Tapi yang aku dengar pengemudi nya sepertinya mabuk sehingga tidak bisa mengendalikan mobilnya, tapi itu belum pasti juga."


"Ya, kau harus mengurus semua nya supaya jelas. Mama ingin bicara dengan Vicky, tapi Mama rasa ini belum waktu yang tepat. Nanti saja Mama akan bicara dengannya. Jangan lupa sampaikan ucapan duka cita Mama dan Papa pada keluarga Tiffany."


"Iya Ma." Panggilan itu berakhir. Garviol sendiri masih bertanya-tanya kenapa biaa kecelakaan ini terjadi sampai Tiffany harus kehilangan Nyawa nya. Garviil akan mencaritahu apa yang terjadi.


)))M6


Garviil menghampiri Vicky lagi. "Vic... Ini sudah malam, kau belum makan sejak siang kan??? Kita makan ya??? Jangan sampai kau sakit."


Vicky menggelengkan kepala nya. "Tidak kak, aku tidak lapar."


"Kau bisa sakit. Laura akan kesini, aku akan meminta dia untuk membeli makanan, kau makan ya???"


Vicky menggelengkan kepala nya. "Kau saja." Gumam Vicky dengan suara lirih.


"Baiklah kalau kau tidak mau makan." Garviil mengambil ponselnya dan mengirim.pesan kepada sekretarisnya agar membawa kotak makanan yang tadi di bawa oleh Vicky. Kotak makanan berisi makanan yang di buat oleh Tiffany. Vicky tadi sempat bercerita padanya bahwa Tiffany ingin dia memakan dan menghabiskannya. Mungkin dengan itu, Vicky mau makan. Garviil sangat khawatir sekali dengan Vicky. Adiknya punya riwayat penyakit Maag, sehingga Vicky tidak boleh terlambat makan. Garviil benar-benar sedih sekali melihat keadaan adiknya seperti ini. Sabar berat sekali tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mendoakan Tiffany.


Vicky kemudian beranjak dari tempat duduknya dan dia masuk, Garviil pun mengikuti nya di belakang. Memastikan adiknya baik-baik saja. Keluarga Tiffany terlihat sedang berbincang satu sama lain. Vicky berjalan mendekati peti jenazaah Tiffany. Berdiri memaku di samping peti itu. Vicky terdiam cukup lama sembari memejamkan matanya. Garviil mencoba memberikan ruang untuk Adiknya itu. Dia membiarkan Vicky berada disana. Garviil kemudian berbincang dengan Papa Tiffany yang menanyakan mengenai cctv di depan kantornya. Garviil menjelaskan jika rekaman sudah di serahkan pada kepolisian dan pengemudi mobil itu dalam pemeriksaan.


Garviil eminta Papa Tiffany untuk tenang. Dia akan membantu nya mengenai masalah ini, dan sudah di konfirmasi jika pengemudi mobil itu dalam pengaruh alkohol.


Pengemudi itu harus mendapatkan hukuman berat karena sudah mengakibatkan kejadian sefatal ini.


"Yes Uncle, I was thinking that too." Garviil juga berpikir seperti itu.


Papa Tiffany bisa melihat jika Vicky terlihat begitu terpuruk, dia tahu bahwa Vicky sangat mencintai Tiffany, dan meminta Graviil agar bisa menguatkannya melewati ini. Semua ini bukanlah kesalahan Vicky, jadi Vicky jangan terus menyalahkan diri sendiri.


Garviil sendiri juga sedang berusaha untuk membuat adiknya ikhlas menerima ini. Dan memberitahu Papapa Tiffany jika tadi Mamanya juga menelepon dan mengucapkan duka cita, minta maaf karena tidak berada disini.


Papa Tiffany tersenyum.  Papa Tiffany mengucapkan terima kasih pada orang tua Garviil, dia tahu bahwa mereka ada jauh disana jadi sangat wajar tidak bisa datang. Papa Tiffany juga menanyakan agaimana dengan Aire atau Geffie.


Garviil menjelaskan jika besok pagi Aire akan sampai, diaa akan menjemputnya di bandara. Garviil belum memberitahu nya mengenai hal ini, takut dia panik, besok dia baru akan menjelaskannya. Garviil ingin memastikan pada Papa Tiffany bahwa pemakaman akan di lakukan besok siang.


Pemakaman akan di lakukan besok siang. Papa Tiffany memuji Garviil, karena Garviil belum memberitahu Aire. Karena nanti yang ada dia akan menangis, lebih baik di beritahu saat sampai disini saja. Papa Tiffany tahu Garviil dan Vicky belum makan dan meminta Garviil dan Vicky Lebih baik makan dulu.


Gaviil menjelaskan jika Vicky menolak makan, tapi dia sudah menghubungi sekretarisnya agar membawa makanan yang tadi siang di antar oleh Tiffany. Mungkin itu bisa membuat Vicky mau makan, karena Tiffany sudah memintanya untuk makan dan menghabiskan masakan yang di buatnya khusus untuk Vicky.


Garviil mengangguk dan Papa Tiffany meninggalkannya.


Setelah Papa Tiffany pergi untuk menemui pelayat. Garviil menghampiri Vicky yang masih terdiam di depan peti jenazaah Tiffany. Garviil menyentuh pundak adiknya dan kembali mengajak adiknya untuk duduk. Vicky tentu tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan agar Tiffany bisa pergi dengan tenang. Garviil juga masih menunggu kedatangan dari sekretaris nya kesini.


Sekitar satu jam kemudian, sekretaris Garviil pun datang. Dan menemui Garviil kemudian memberikan apa yang tadi di minta Garviil. Kemudian dia beralih menghampiri keluarga Tiffany untuk mengucapkan bela sungkawa.


"Vic.... ??? Laura membawa makan siangmu tadi yang di buatkan oleh Tiffany. Makanlah, Tiffany memintamu agar menghabiskan nya kan??? Jangan sampai kau sakit."


Vicky menoleh dan menatap Kakaknya. "Makanan itu yangembuat Tiffany jadi seperti ini." Gumamnya.


"Oh ayolah Vic, berhenti bersikap kekanak-kanakan. Kau kenapa menyalahkan makanan???? Semua ini takdir Vic, ini kecelakaan. Lagipula kenapa kau tidak mau memakannya??? Bukankah keinginan terakhir Tiffany adalah kau harus menghabiskan makanan pemberiannya???? Apa kau tega sekali tidak mau melakukan permintaan terakhirnya??? Kau konyol sekali." Ujar Garviil yang tampak kesal dengan adiknya.


Vicky menatap Garviil dalam diam untuk sesaat tetapi kemudian mengambil kotak makanan milik Tiffany itu dari tangan kakaknya. Vicky menunduk dan melihat ke arah kotak makan siang yang belum dia tahu apa isinya karena belum sempat membuka nya. Dengan hati-hatk dia membuka nya dan ternyata isinya adalah tulisan daging dengan sayur yang sebelumnya pernah di masak Tiffany di apartemen. Ada juga roti gandum dan saus alpukat. Garviil benar bahwa permintaan terakhir Tiffany adalah ingin masakannya di makan olehnya, dan Vicky tidak mau mengecewakan Tiffany, dia akan memakan makanan ini agar Tiffany juga merasa senang.


Melihat itu Garviil tersenyum. Usaha nya berhasil untuk membujuk adiknya agar makan. Garviil tidak mau Vicky sakit.


★★★★


))))KG


Keesokan harinya


Sampailah Garviil dan Geffie di rumah duka tempat di semayamkannya jenazaah Tiffany. Geffie bergegas turun dari mobil Garviil dan berlari masuk ke dalam rumah duka itu, dimana sudah ada banyak orang dari keluarga Tiffany yang ada disana.


Geffie langsung memeluk Mama Tiffany. Geffie menangis di pelukan Mama Tiffany, meminta maaf karena dia terlambat datang dan terlambat mengetahui nya. Mama Tiffany memaklumi karena Geffie memang baru kembali dari Indonesia. Mama Tiffany juga meminta maaf kepada Geffie, mungkin selama mereka bersahabat, Tiffany pernah berbuat salah baik di sengaja atau pun tidak di sengaja kepada Geffie.


Geffie tentu saja memaafkan dan selama mereka bersahabat, Tiffany tidak pernah melakukan kesalahan ataupun tidak pernah menyakiti Geffie. Tiffany adalah sahabat yang begitu luar biasa dan sangat baik sekali.


Setelah berpelukan dengan Mama Tiffany, Geffie pun beralih mendekat ke peti jenazaah Tiffany. Geffie memeluk peti berwarna putih itu dan menangis tersedu-sedu memanggil nama Tiffany. "Geffie sedih sekaligus marah pada Tiffany dan menganngap Tiffany jahat sekali padanya. Tiffany sudah berjanji dan bilang besok ingin mengirim cv ke kantor Garviil bersamanya dan juga bialng ingin menjemput nya di bandara hari ini. Kenapa sahabtanya itu tidak menunggu nya sampai disini dulu. Kenapa Tiffany pergi secepat ini. Dia belum sempat bertemu dengan Tiffany. Dan Tiffany bilang kalau sangat menyayanginya, tapi pergi begitu mendadak. Geffie menganggap Tiffany jahat sekali.


Tangisan Geffie benar-benar terdengar begitu pilu sekali. Dia kehilangan sahabat baiknya begitu cepat. Kedatangannya yang harusnya penuh suka cita justru harus berakhir seperti ini, dia malah bertemu dengan tiffany dengan keadaan yang sama sekali tidak pernah Geffie bayangkan sama sekali. Bagaimana bisa Tiffany meninggalkannya seperti ini.


Tiffany bilang padanya jika merindukan nya, dan Geffie sudah kembali kesini, tetapi kenapa Tiffany meninggalkannya. Geffie tidak tahu harus mencari Tiffany kemana nanti, kalau dia sedang butuh teman curhat. Geffie sudah tidak bisa menemui Tiffany lagi kalau dia ingin bertemu, juga bagaimana dia bisa menemukan raga Tiffany.


Geffie memukul peti itu dan menangis histeris. Tangisan nya begitu memilukan hingga semua orang yang mendengarnya juga ikut memutihkan air mata. Orang tua Tiffany juga kembali menangis. Mereka tahu bagaimana persahabatan Geffie dan putri mereka. Bahkan Geffie juga sudah mereka anggap seperti putri mereka sendiri layaknya Tiffany. Mereka juga mengenal baik orang tua Geffie yang juga menganggap Tiffany seperti anak mereka. Sehingga melihat Geffie seperti ini, mereka bisa merasakan kesedihan yang sama.


Garviil menghampiri Geffie dan memeluk kekasihnya itu mencoba menenangkan Geffie. Dan sedikit memundurkan langkahnya untuk membuat kekasihnya itu kuat menerima takdir Tiffany seperti ini dan mengikhlaskan Tiffany. Suara Geffie bergetar menandakan betapa terpukulnya dia saat ini. Sebegitu kuat dan dalamnya persahabatan mereka hingga banyak mimpi yang sudah mereka rangkai dan janji untuk menjadi sahabat selama nya. Sehingga ketika ada salah satu yang pergi, tentu salah satunya lagi akan sangat hancur dan terpukul. Tiba-tiba kaki Geffie terasa lemas dan dia kehilangan kesadarannya di pelukan Garviil. Geffie pingsan. Dia begitu terpukul sekali dan tidak sanggup dengan semua ini. Garviil langsung membopongnya dan membawa nya ke ruangan lain.


Garviil membawa Geffie ke ruangan sebelah dan membaringkannya di sebuah sofa panjang yang ada di ruangan itu. Mama Tiffany mengikutinya di belikan dan memberikan bau-bauan untuk mmebuat Geffie tersadar. Terlihat sekali Geffie begitu terpukul.


Garviil berusaha menyadarkan Geffie dengan menepuk-nepuk pelan pipi nya dan memberi bebauan di hidung Geffie. "Sayang????" Panggil Garviil. "Bangunlah..... Geffie sayang???"


Hingga beberapa saat kemudian, Geffie membuka matanya dan kembali menangis. Garviil memeluknya lagi dan kembali menenangkannya. "Tiffany, dia kenapa meninggalkanku???" Ucap Geffie dan terisak di peukan Garviil.


Geffie mempererat pelukannya. "Aku sangat menyayangi Tiffany."


"Kami juga sangat menyayanginya, tapi Tuhan lebih sayang lagi padanya, itulah kenapa dia pergi meninggalkan kita lebih dulu."


Mama Tiffany yang tadi berdiri juga memilih duduk di sebelah Geffie. Geffie melepaskan pelukannya dan berganti memeluk Mama Tiffany untuk saling menguatkan. Mereka sama-ssama kehilangan orang yang sangat mereka sayangi. Dan Tiffany adalah pribadi yang sangat baik sehingga rasa kehilangan itu begitu mendalam sekali.


Mereka harus kuat dan mengantar Tiffany ke tempat peristirahatan terakhirnya. Menyeka airmata mereka dan mengantarnya dengan penuh keikhlasan. Satu jam lagi mereka akan ke pemakaman. Mama Tiffany meminta Geffie bersih-bersih dulu dan ganti pakaiannya dengan pakaian hitam untuk melepaskan Tiffany dan membiarkannya beristirahat dalam damai."


Geffie mnganggukkan kepala nya. Kemudian Mama Tiffany berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Garviil tersenyum memandang Geffi dan menyeka airmata perempuan itu.  "Kau ada pakaian hitam??? Atau kita pergi sekarang untuk membeli nya sebentar."


Geffie menggelengkan kepala nya. "Aku membawa nya, ada di koper."


"Baikah, kau ingin aku mengambil kopermu di mobil???"


"Antar aku keluar, akau akan mengambilnya sendiri di mobil, aku juga ingin mengambil ponselku dan menghubungi Mama Papa dan kak Gienka."


"Ya sudah, aku akan mengantarmu keluar."


Mereka beranjak dari sofa dan pergi keluar. Garviil memeluk Geffie, takut Geffie kembali pinsan atau tidak mampu berjalan seperti tadi.


&&&


Pemakaman Tiffany berlangsung sangat lancar meski tetap di iringi kesedihan yang begitu mendalam dari keluarga Tiffany. Dan Geffie juga sempat pingsan lagi karena dia masih belum bisa menerima bahwa Tiffany sudah meninggalkannya. Semua kenangannya bersama Tiffany muncul dan membuat Geffie begitu sedih. Akan tetapi Garviil bersama dengan Geffie untuk menguatkan kekasihnya. Dan Vicky juga menyalami kesedihan yang begitu mendalam.


Sekarang mereka bertiga sedang dalam perjalanan pulang. Vicky duduk di belakang dan diam sejak tadi. Suasana di dalam mobil juga hening. Geffie juga diam karena masih mencoba mengatur emosi nya. Sekaligus menenangkan dirinya. Garviil juga memilih diam dan tidak mengatakan atau bertanya apapun kepada Geffie ataupun Vicky adiknya.


Garviil akan mengajak Geffie untuk ke rumahnya dulu. Dua khawatir Geffie akan semakin sedih dan terus kepikiran Tiffany. Lebih baik Geffie punya teman untuk mengobrol. Begitu juga dengan Vicky.


Sampai kemudian Garviil membelokkan mobilnya di halaman rumahnya. Raut wajah Geffie tampak terkejut. "Kok kesini???"


"Ini rumah Mama, aku sudah janji akan mengajakmu kesini kan??? Setidaknya kau bisa menenangkan diri disini, aku tidak bisa membiarkan mu sendirian di apartemen. Ada banyak kamar disini, kau bisa memilih mau tidur dimana, pokoknya kau harus disini dulu sementara, sampai aku bisa memastikan kau baik-baik saja."


.


"Tidak Sayang, aku tidak bisa disini dan aku baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan ku."


"Aku tidak mau kau merasa kesepian lalu menangis sendirian, setidaknya kalau kau ingin menangis, kau bisa menangis di pelukanku." Garviil tersenyum genit dan mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan bercanda."


"Ayo turun." Garviil membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil, tidak lupa dia membuka bagasi mobilnya untuk mengeluarkan koper milik Geffie.


Geffie juga turun, memang benar kata Garviil, lebih baik dia disini dan tidak sendirian di apartemen. Karena apartemennya punya banyak cerita dengan Tiffany. Dia pasti akan mengingat Tiffany dan bersedih.


Vicky juga turun dan dia langsung masuk ke dalam rumah. Garviil hanya memandangi adiknya dalam diam. Dia akan membiarkan Vicky sendiri lebih dulu, adiknya butuh waktu untuk menyendiri. Kejadian ini adalah pukulan berat untuk Vicky.


"Kita masuk." Ajak Garviil pada Geffie.


"Iya."


Garviil tersenyum dan bersama dengan Geffie dia masuk ke dalam rumah. Garviil kemudian mengantar Geffie ke kamar tamu. Dan meminta Geffie untuk beristirahat karena sejak tadi Geffie belum beristirahat sama sekali. Ini juga sudah malam. Tadi mereka berhenti di restoran tetapi baik Vicky dan Geffie sama sekali tidak bisa menghabiskan makanan mereka.


"Kau istirahat disini, mandi, dan tidur, jangan memikirkan yang sedih-sedih. Kamarku ada di atas, aku juga ingin mandi." Ucap Garviil. "Kalau ada apa-apa, kau bisa memanggil pelayan. Atau kau bisa memanggilku."


"Iya..."


Garviil mengecup kening Geffie. "Aku ke atas dulu, enjoy..."


"Iya." Gumam Geffie. Garviil meninggalkan kamar tamu. Membiarkan kekasihnya untuk istirahat.


Geffie duduk membongkar kopernya dan mengambil pakaiannya. Dia harus mandi, seharian ini begitu kacau dan badannya juga lengket. Geffie masih kacau sekali karena kehilangan Tiffany. Semua terlalu cepat hingga dia tidak bisa bertemu dengan sahabatnya itu untuk terakhir kalinya.


Saat sedang membongkar kopernya, Geffie menemukan sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang ingin dia berikan pada Tiffany. Yaitu sebuah cindera mata yang memang sudah di pesan oleh Tiffany sebelumnya. Tetapi sekarang dia tidak bisa memberikan itu kepada Tiffany. Geffie lagi-lagi menitohlan airmata nya mengingat Tiffany. Dia akan kesepian sekali berada disini karena sudah tidak ada Tiffany yang setiap hari selalu bertemu dengannya.


Geffie menyeka air mata nya ketika mendengar ponselnya berbunyi. Dia melihat kontak kakaknya yang menghubunginya melalui panggilan video. Geffie meraih ponselnya dan menjaawab panggilan dari Kakaknya yaitu Gienka.


"Hai kak...???" Sapa Geffie.


"Dek??? Kau serius dengan pesanmu tadi???" Tanya Gienka langsung. Tadi Geffie mengirim pesan, memberitahu jika Tiffany meninggaI.


Geffie langsung menangis di depan layar ponselnya. "Iya kak, aku baru kembali dari pemakaman nya."


"Ya Tuhan.....!!! Tiffany. Tapi dek, bagaimana bisa itu terjadi???" Tanya Gienka.


"Aku juga tidak tahu kak, kejadiannya di depan kantor Garviil. Tiffany baru selesai mengantar makan siang untuk Vicky, dia menyebrang dan langsung tertabrak. Garviil bilang pengemudinya sedang mabuk."


"Mabuk???? Pantas saja kalau begitu. Tapi sudah di tangkap????"


"Sudah kak, dan di tahan."


"Syukurlah, Tiffany harus mendapatkan keadilan."...


"Iya kak."


Gienka tersenyum. "Kau pasti sedih sekali kan??? Kakak bisa melihat matamu sembab. Ini pasti berat sekali."


Geffie kembali menangis lagi. "Aku sedih sekali kak. Masih tidak menyangka jika Tiffany begitu cepat meninggalkan kita semua."


"Ya, kita tidak bisa mengetahui sampai kapan umur kita, ada pertemuan dan pasti ada perpisahan. Kita harus siap dengan semua itu kan???"


"Iya kak, aku hanya masih tidak menyangka saja, ini seperti mimpi. Dan aku bingung juga, disinj aku akan sangat kesepian sekali kak. Apa aku kembali pulang saja ya??? Kakak kan masih lama kembali ke Washington??? Aku tidak punya teman."


"Kan ada Garviil???"


"Dih kakak, Garviil kan sibuk bekerja, akuakan sendirian disini, biasanya Tiffany menemaniku setiap waktu."


"Kau tetap harus mengirim cv ke kantor Garviil, isi harimu dengan kesibukan bekerja. Kesibukan akan membuatmu melupakan kesedihanmu."


Geffie terdiam untuk beberapa saat. "Iya kak, aku akan melanjutkan rencana ku bekerja di perusahaan Garviil."


"Nah bagus, kau harus banyak belajar mulai sekarang untuk mengasah kemampuan mu, Papa juga pasti akan bangga denganmu."


"Aku akan mencoba nya dan berdiskusi dengan Garviil."


"Bagus kalau begitu. Kau jangan terlalu sedih, nanti Tiffany jiga akan sedih disana. Kau lanjutkan mimpi kalian berdua. Baik-baik ya disana???"


"Iya kak, thanks ya???"


"Thanks???? For what???" Tanya Gienka.


"Kakak selalu memberi saran yang positif untukku."


Gienka tersenyum. "Masa aku harus memberi saran yang negatif??? Yang ada aku bisa di marahi oleh Papa Iel dan Mamah. Sudah ya??? Keponakanmu sejak tadi ke nendang nendang karena kelaparan, Kakak harus turun untuk sarapan, sudah di tunggu oleh yang lain."


"Iya kak, salam untuk semuanya. Aku juga ingin mandi."


"Oke, bye-bye.. Jaga diri dan kalau sedih kau bisa mengajak garviil bicara, jangan menangis sendiri. Kau butuh teman untuk berbagi. Kakak menyayangimu.. Bye.."


"Bye Kak Gienka."


Panggilan di akhiri oleh Gienka. Geffie meletakkan kembali ponselnya dan pergi ke kamar mandi. Lalu akan langsung beristirahat. Geffie juga sadar bahwa kehilangan yang paling berat di rasakan oleh Vicky. Vicky sangat mencintai Tiffany dan bahkan keduanya sedang berusaha menjalani hubungan yang sehat, mendnadakan mereka benar-benar ingin berubah menjadi baik. Dan cinta mereka sangat kuat sekali. Tetapi semua musnah seketika karena Vicky harus berpisah dari Tiffany dengan cara seperti ini.