Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Kau harus Move on dari Tiffany



Vicky pulang ke rumah orang tua nya, dan asisten rumah tangga memberitahu nya jika Garviil ada disini. Vicky mengernyitkan dahi nya. Karena yang dia tahu Garviil sedang pergi ke Washington dc bersama Geffie untuk beberapa hari, sekitar satu minggu, tetapi ini baru sekitar 4 hari tetapi kakaknya sudah sampai disini lagi. Vicky ke jalan belakang dan terlihat kakaknya sedang duduk melamun sendirian.


"Woeee.....!!!!!" Vicky mengejutkan Garviil membuat Garviil hampir menjatuhkan gelas yang ada di meja.


"Brengseeeekkk.... Kau mengejutkanku saja."


"Kenapa melamun???. Masih pagi sudah melamun saja."


"Kau tidak ke kantor????"


"Andro bilang kau ada di rumah, jadi aku berniat menjemputmu, malah kau melamun. Kenapa??? Katanya akan seminggu di Washington Dc??? Kok sudah disini??? Kau mengantar Geffie pulang kenapa tidak mampir ke cafe???"


"Geffie tidak ikut kesini. Aku kembali sendiri." Gumam Garviil.


"Katanya barangnya masih disini semua???? Dan dia cuma mau mengurus administrasi saja di Washington dc dan mau kesini lagi, kok tidak ikut balik???"


"Dia akan kesini nanti, aku memang sengaja kembali lebih awal."


"Memangnya kenapa???"


"Kau ini, banyak sekali pertanyaan mu.." Protes Garviil.


Vicky terkekeh. "Lah memang aku ingin tahu alasannya, ya aku bertanya. Tetapi melihat wajah kusutmu, aku menduga bahwa sesuatu pasti sedang terjadi. Apa kau ada masalah dengan keluarga Geffie??? Ya aku menebak karena sebelumnya kau bilang kau ingin menemui orang tua nya disana. Kau tidak di restui ya???? Hahahaha..."


"Diamlah....!!!" Garviil tampak jengkel sekali.


"Hahahaha berarti benar dugaan ku... Kenapa??? Apa yang membuat mereka tidak merestui hubungan kalian????"


"Papa Geffie mengusirku dan menyuruhku kembali kesini."


"Kau di usir???? Lah kok bisa????" Vicky mengambil gelas minuman milik Garviil dan meminum jus nya.


Garviil mengangguk. "Aku bicara dengannya mengatakan keseriusanku dan meminta ijinnya untuk bisa menikahi Geffie secepatnya."


Vicky langsung tersedak ketika mendengar apa yang baru saja di katakan oleh kakaknya. Vicky terbatuk-batuk. "Apa kau bilang??? Kau meminta ijin menikahi Geffie secepatnya???"


"Iya, aku mengikuti apa yang kau katakan sebelum aku berangkat saat di kamar ku yang ada di cafe waktu itu."


"Ya Tuhan......!!!!! Aku kan bercanda Viil, kenapa kau menganggapnya serius???? pantas saja kau di usir oleh Papa nya Geffie. Parah... Kau nekat sekali.."


"Memangnya ada yang salah??? Aku kan ingin membuktikan kalau aku ingin serius dengan Geffie???"


"Ya serius sih serius, tapi Geffie kan masih 23 tahun kak??? Asih terlalu muda, kalau kau ingin mengajaknya menikah minimal 25 lah... Kau ada-ada saja. Pantaslah kau Di usir Papa nya Geffie."


"Memangnya aku salah??? Aku kan ingin membuktikan keseriusanku Vic???"


"Ya, I know...!!! Tetapi bukan langsung mengatakan ingin menikahi Geffie, kau bisa meminta untuk bertunangan dulu, atau apa gitu, apalagi Geffie mau melanjutkan kuliahnya."


"Kata-katamu seperti kak Kyros, kakak iparnya Geffie."


Vicky terkekeh. "Karena memang seharusnya itu yang kau lakukan, bukan malah mengada-ada ingin mengajak Geffie menikah. Kau sudah tidak waraas...."


"Aku tidak mau kehilangan Geffie, aku tidak mau dia di rebut laki-laki lain setelah jauh dariku, jadi aku ingin mengikatnya."


"Kakak... Kau terlalu berlebihan dengan ketakutanmu itu, Geffie bukan gadis seperti itu, dan dia tidak mungkin mengkhianatimu."


"Buktinya Bianca bisa melakukannya dulu."


"Dia tidak tahu."


Vicky mengernyit. "Dia tidak tahu kalau kau kembali kesini???"


Garviil menggeleng. "Bukan... Dia tidak tahu kalau Papa nya mengusirku, aku bilang kalau aku ada pekerjaan mendadak jadi harus kembali lebih cepat."


"Wait..... Wait.... Wait....!!! Apa maksudmu Geffie juga tidak tahu kalau kau mengatakan pada Papa nya bahwa kau ingin menikahi nya???" Tanya Vicky memastikan.


"Itu benar, aku hanya mengatakan pada Papa nya tentang rencanaku menikahi nya."


Vicky tergelak. "Bisa-bisa nya ada manusi seperti mu, aku tidak habis pikir...."


"Kau diamlah, jangan mengejekku, kau tidak memberi solusi malah mengejekku." Gerutu Garviil.


"Siapa yang mengejek... Kau memang sungguh terlalu."


Garviil diam enggan menanggapi adiknya. Tetapi dia masih dengan keputusannya untuk menikahi Geffie. Dia harus mencari cara untuk bisa meyakinkan Papa nya Geffie agar mengijinkannya. Mungkin benar kata Kyros kemarin bahwa masalah ini memang harus di diskusikan dengan Geffie dan di cari jalan keluarnya. Tetapi tentu hal itu juga perlu persetujuan Geffie agar mau menikah dengannya. Satu-satunya cara memang harus berdiskusi dengan Geffie.


"Kau sendiri masih betah sendiri. Biasanya tidak tahan untuk tidak memiliki kekasih, bahkan kau sering memiliki 2 sampai 3 kekasih sekaligus." Kali ini Garviil bergantian mengejek adiknya. Karena sejak kepergian Tiffany, Vicky tidak pernah dekat dengan siapa pun.


"Aku tidak tertarik." Gumam Vicky. Dia masih belum bisa move on dari Tiffany. Dia terlalu mencintai perempuan itu, dan Tiffany begitu banyak mengubah hidupnya, dan Vicky tidak ingin kembali seperti dulu lagi, menjadi pria bebas.


"Kau tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, kau juga butuh teman untuk berbagi cerita dan kebahagiaan, carilah perempuan yang memiliki kebaikan hati seperti Tiffany, pasti ada kok."


"Aku sedang mencari nya, dan belum menemukannya, aku tidak ingin mendapatkan perempuan yang hanya ingin bermain-main saja denganku, aku ingin yang bisa ku ajak serius."


Garviil tersenyum. "Semoga saja... Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Tapi aku rasa para perempuan disini akan susah di ajak serius. Hehehe."


"Sebenarnya lebih baik aku mencari di Indonesia saja tapi aku terjebak disini bersama mu."


"Kalau kau ingin tinggal di Indonesia ya pulang saja, aku tidak memaksamu bertahan disini."


"Ya, kau tidak memaksaku, tetapi aku sudah berjanji pada Oma."


"Kau bisa membantu Papa disana Vic."


Vicky menggelengkan kepala nya. "Aku belum siapa untuk mengurus perusahaan besar itu, pasti sibuk sekali nanti, disini saja aku sudah kewalahan. Dan aku pikir juga lebih santai disini daripada disana. Urusannya disana tender besar semua."


Garviil terkekeh. "Bagaimana kalau aku yang ke Indonesia dan nanti kau urus semua nya disini????"


"Aku???? Mengurus sendirian???? Aiiihhh tidak-tidak, aku belum siap."


"Ya nanti lah, kalau Geffie sudah lulus, aku akan mengajaknya pulang ke Indonesia, aku akan membantu Papa, Geffie juga bisa membantu Papa nya, dan kau mengurus disini. Bagaimana????"


"Lalu kapan aku bisa dapatkan istri perempuan Indonesia kalau aku disini???"


"Ahhhh brengseeekkaiii... Tadi aku sudah mengatakan menyuruhmu ke Indonesia, kau tidak mau, aku suruh disini kau bilang tidak bisa menemukan perempuan Indonesia, lalu mau mu apa??? Bilang saja kalau kau tidak suka bekerja kantoran. Repot sekali."


"Hahahaha bercanda.." Vicky beranjak dari kursi. "Aku ke kantor dulu, kau tidak ikut???"


"Tidak." Garviil menggeleng. "Besok saja, aku ingin di rumah hari ini."


"Oke, aku pergi dulu." Vicky menepuk bahu kakaknya lalu pergi meninggalkan halaman belakang untuk ke kantor.