Now! I FOUND YOU

Now! I FOUND YOU
Mengobrol dengan Axel



"Kau tidak pernah pulang ke Indonesia Viil???" Tanya Axel.


"Tahun kemarin aku pulang kak, Oma sakit dan Papa memingta ku pulang, jadi aku pulang sekitar satu minggu dan kembali lagi ke boston." Jawab Garviil.


" Lalu sampai sekarang tidak kesana lagi karena aku sibuk sekali." Lanjutnya. "Jadi tahun kemarin terakhir kau ke Indonesia???" Tanya Axel lagi. "Iya kak, tetapi tentu saja tahun ini ada rencana lagi pulang cuma belum tahu kapan." "Sejak kapan kau mengenal Geffie???" Sahut Kyra. Garviil tersenyum. "Baru beberapa bulan kak, belum lama. Geffie sering datang ke cafe ku, dan kami bertemu disana." "Owh kau punya Cafe??? Sama dong, Geffie juga punya cafe dan restoran di Indonesia,. Garviil tersenyum dan menganggukkan kepala nya. "Aku tahu kak, Geffie pernah bercerita kepadaku mengenai hal itu." "Wah ternyata kau sudah tahu banyak tentang Geffie, sayang sekali Uncle Iel dan Aunty Maysa tidak ikut kesini, kau bisa berkenalan dengan mereka juga." Ujar Kyra.


"Tapi Geffie kan akan lulus sebentar lagi, nanti mereka bisa bertemu dengan Uncle Iel dan Aunty Maysa." Sahut Axel. Garviil hanya melempar senyum, keraguan tiba-tiba muncul di benaknya. Siapkah dia nanti jika harus bertemu dengan kedua orang tua Geffie, mengingat mereka adalah orang yang sangat kaya sekali. Tetapi jika dia memang berniat membawa hubungannya dengan Geffie ke hal yang lebih serius lagi setelah nanti Geffie menerima nya sebagai seoang kekasih, tentu Garviil sendiri harus siap dan memiliki nyali untuk bertemu dengan orang tua Geffie. Dan semua itu butuh nyali yang besar dan juga kesiapan mental untuk menghadapi mereka. Karena tentu orang tua Geffie tidak akan sembarangan ketika mencari seorang menantu, bahkan kakak Geffie saja juga menikah dengan laki-laki yang tidak sembarangan, anak konglomerat juga sekaligus seorang astronot. Pastilah spesifikasi menjadi menantu mereka juga harus memiliki kelebihan yang tidak biasa.


Di tengah obrolan itu, Cahya memanggil Gienka dan bersamaan dengan itu juga Athan mengajak Kyra dan Geffie untuk berenang di bawah. Akhirnya mereka meninggalkan Garviil dan Axel di rooftop. Axel menoleh ke arah Garviil yang terdiam, dia bisa melihat bahwa sepertinya Garviil sedang memikirkan sesuatu dan sibuk sendirin dengan lamunan nya. "Kau kenapa Viil??" Tanya Axel.


Garviil menoleh dan tersenyum. "Tidak kak, tidak kenapa-kenapa." Jawabnya berbohong. Garviil sedang sibuk memikirkan Geffie dan orang tua nya. Garviil takut orang tua Geffie nanti tidak menerima nya. Axel menepuk paha Garviil.


"Jangan bohong, tadi aku dan istriku membahas orang tua Geffie dan setelah itu kau sedikit murung, apa kau memikirkan sesuatu??? Cerita saja, hanya ada kita berdua disini."


"Kenapa Viil??? Apa yang kau pikirkan???" Tanya Axel lagi.


Garviil melempar senyum. "Kak Axel dulu susah tidak saat mendekati Kak Kyra???" Tanya Garviil akhirnya. Axel tersenyum.


"Sebenarnya tidak susah tetapi nyali ku yang sulit aku kendalikan." Jawab Axel.


Gaviil mengernyit. "Nyali yang sulit di kendalikan??? Maksud kakak???" Garviil tampak bingung.


"Nyaliku, aku tidak punya nyali saat menyukai Kyra, tidak memiliki nyali karena Kyra sangat kaya raya sedangkan aku tidak memiliki apapun, aku dari keluarga yang biasa saja, takut di tolak oleh keluarga Kyra. Mereka adalah keluarga yang kaya, dan berpengaruh" Axel terkekeh.


"Tapi kak Axel kan pemain bola??? Tentu itu bisa menjadi pertimbangan mereka kan?? Tanya Garviil lagi.


"Aku pikir itu tidak jadi penilaian mereka, ya sebenarnya itu yang aku ragukan awalnya Tapi ternyata tidak, mereka orang yang sangat baik, dan juga menerima ku dengan welcome. Apap mencari menantu bukan di lihat dari mana asalnya dari keluarga kaya atau tidak, tetapi bagi Apap yang terppenting adalah tanggung jawab terhadap Kyra dan mencintai Kyra dengan sangat tulus, begitulah cara mereka menerima ku, jika aku memang berniat berhubungan dengan Kyra, Apap menantangku untuk langsung menikahi Kyra, jadi ya aku terima saja, dan mengiyakan."


"Om Aditya menantang Kak Axel untuk menikahi kak Kyra???" Tanya Garviil yan tampak penasaran.


"Wah hebat juga kak Axel, Om Aditya juga ternyata tidak segalak itu ya???" "Tidak sama sekali, Apap sangat amah dan baik sekali meski terlihat dingin, dan Apap sangat menyayangi keluarga nya, bahkan aku juga terkejut ketika menyadari ternyata Apap orangnya seperti itu. Tapi ngomong-ngomong kenapa kau bertanya seperti itu??? Apa kau juga merasa takut jika dekat dengan Geffie karena tahu keluarga nya orang berada???" Tanya Axel.


Garviil tersenyum malu, ternyata Axel bisa membaca jalan pikirannya. "Ya, begitulah kak. Kakak pasti mengenal orang tua Geffie kan??? Apa mereka seperti mertua kakak??? Maksudku, Geffie pernah bercerita jika orang tua nya bersahabat dengan mertua kakak sejak lama. Kalau begitu mungkin kak Axel tahu."


Axel kembali tersenyum. "Ya, tentu saja aku tahu, aku bahkan sudah mengenal om Ariel sejak aku masih kecil, aku berteman baik dengan Gienka, kami bertetangga."


"Oh ya??? Wah berarti kakak banyak tahu dong." Axel menganggukkan kepala nya.


"Tentu saja. Tapi coba katakan padaku, sejauh apa hubunganmu dengan Geffie???" Tanya Axel sembari meminum jus yang ada di gelas.


"Ummmm sebenarnya, hubunganku dengan Geffie masih dalam tahap pendekatan, Geffie belum menerima ku sebagai kekasihnya, dia membeiku waktu untuk kami saling mengenal lebih dekat lagi, tetapi tentu aku sangat menyukai nya dan pribadi nya yang menyenangkan, tetepi beberapa hari yang lalu, aku mengetahu jika Geffie ternyata anak dari pengusaha terkenal dan seorang milyader, melihat fakta itu aku sangat terkejut sekali, dan takut. Ya takut aku tidak di terima oleh keluarga nya." Ujar Garviil.


Axel tersenyum. "Om Ariel seperti Apap, dia sangat baik sekali di balik tampangnya yang dingin dan kaku, Om Ariel sangat menyayangi Gienka dan Geffie bahkan juga sangat menyayangi Friddie keponakannya, anak dari Mama nya Gienka. Rasa sayangnya yang begitu besar membuatnya sedikit protektif terhadap anak-anaknya, tetapi dia tidak pernah mengekang apa yang mereka suka, dan selalu berakhir mengalah jika merasa anaknya suka terhadap sesuatu. Ya seperti Gienka dulu yang tiba-tiba saja meminta di nikahkan dalam hitungan hari, dia sempat tidak setuju tetapi rasa sayangnya yang begitu besar pada Gienka membuatnya akhirnya setuju. Yang terpenting laki-laki itu bertanggung jawab dan mencintai putrinya dengan tulus maka Om Ariel akan merestui nya, ya seperti hal nya yang aku ceritakan tadi, Apap juga seperti itu padaku dan Kyra." Axel menepuk pundak Garviil. "Dan kalau kau memang memiliki rasa cinta yang besar untuk Geffie, jalan yang haus kau ambil adalah membuktikan cinta yang kau miliki itu, abaikan mengenai status sosial atau kekayaan, aku rasa itu adalah hal nomor sekian, yang paling penting niat tulus dan bukti cintamu pada Geffie saja."


"Aku hanya takut kalau di tolak." Gumam Garviil.


"Tidak akan.....!!! Aku sangat mengenal Om Ariel, intinya jangan sekalipun kau membuat Geffie sedih ataupun menyakitinya, itu tentu akan berpengaruh pada penilaian om Ariel kepadamu." Axel kemudian bercerita kepada Garvil bahwa dulu dia pernah di tolak oleh keluaga mantan kekasihnya karena mereka menganggap bahwa pekerjaan nya tidak bisa menghasilkan banyak uang dan Axel juga bukan pengusaha sehingga membuat mereka berpikir bahwa Axel tidak akan mampu menghidupi anak mereka. Dan Axel juga menerima hinaan serta cacian bahkan puncaknya, orang tua nya juga di rendahkan. Hal itu membuat Axel memutuskan mengakhiri hubungannya dengan mantan kekasihnya itu. Butuh waktu lama untuk Axel untuk bisa menghilangkan kesakitannya itu. Sampai kemudian dia bertemu dengan Kyra, dan saat mengetahui Kyra berasal dari keluarga yang berada, tentu ingatan Axel mengenai penghinaan yang di terima nya dulu dari orang tua mantan kekasihnya, Axel menjadi meragu untuk mendekati Kyra. Takut dia di tolak dan di hina lagi seperti dulu tetapi Gienka yang notabene nya adalah sahabat baik Kyra, berusaha meyakinnya agar tidak takut mendekati Kyra dan keluarga Kyra bukanlah orang yang seperti itu. Mereka orang yang baik dan tidak pernah menghina orang lain, atau meredahkan orang lain kecuali orang itu sudah membuat mereka maah atau sudah mengusik keluarga mereka. Akhirnya Axel coba memberanikan diri untuk mendekati Kyra. Dan apa yang di katakan Gienka memang benar bahwa keluarrga Kyra sangat baik sekali.


"Tapi kak, bukankah pekerjaan kakak sebagai pemain bola juga cukup besar gajinya??" Tanya Garviil.


"Ya dulu aku kan hanya bermain di club kecil, tentu berbeda dengan sekarang, ya meski begitu, penilaian setiap orang kan beda-beda Vill, lagipula jika aku pikir-pikir aku tidak akan pernah bisa untuk hidup berdampingan dengan orang seperti orang tua mantan kekasihku itu, mereka selalu menilai sesuatu dari materi saja dan sulit untuk menghargai orang lain. Ya, mantan kekasihku orangnya baik, tetapi sangat jauh berbeda dengan orang tua nya."


"Masih ada juga ya di jaman sekarang orang berpikiran sempit seperti itu." Gumam Garviil.


"Masih banyaklah... Tetapi aku bersyukur sekarang memiliki mertua yang luar biasa baik, dan mereka selalu mendukungku, tidak pernah merendahkanku. Sangat menyayangiku layaknya anak kandung mereka sendiri. Masih banyak orang kaya harta juga kaya hati kok. Tidak semua yang kaya juga sombong. Itu juga berlaku pada orang tua Geffie. Bahkan Mama Geffie sangat lembut dan penyayang, seperti Geffie." Garviil pun tersenyum. Dan dari cerita Axel sepetinya memang keluarga Geffie adalah oang yang baik. Garviil pun tidak akan merasa rendah diri lagi.