
Keesokan harinya.
Geffie dan Ariel sampai juga di Boston. Mereka sudah ada di bandara dan tidak ada banyak barang hang di bawa oleh kedua nya. Karena memang tujuan mereka kesini adalah untuk mengemasi pakaian dan barang-barang Geffie di apartemen nya untuk kemudian di pindahkan ke Washington dc, ke rumah Gienka dan Kyros.
Setelah obrolan kemarin, Ariel tidak banyak bicara kepada Geffie seolah menolak untuk membahas keinginan Geffie untuk menikah dengan Garviil. Geffie juga tidak membahasnya karena Gienka dan Aditya mengatakan kepadanya bahwa lebih baik memberikan waktu kepada Ariel karena kemarin Ariel dalam keadaan yang masih di penuhi keterkejutan dan juga kemarahan. Tetapi jika di rasa Ariel sudah terlihat membaik, barulah Geffie bisa membahas dan bicara dengan Ariel lagi.
Selama penerbangan pun, Geffie memilih berbicara membahas hal lain dengan Papa nya itu. Geffie juga belum tahu alasan pasti kenapa Papa nya menolak Garviil, Geffie tahu bagaimana cara berpikir Papa nya. Dan apa keinginan Papa nya ketika anak-anaknya memilih pasangan. Papa nya tidak banyak menuntun selagi anak-anaknya bahagia dan calon pasangannya itu jelas. Dalam artian perilakunya harus baik, dan berasal dari keluarga yang baik juga. Tidak akan memandang asal usul keluarga laki-laki itu dalam artian kaya atau tidak yang penting bisa membahagiakan anaknya itu sangat cukup sekali. Itulah kenapa Geffie merasa penasaran dengan alasan Papa nya menolak permintaan Garviil.
Lalu sampailah mereka di pintu kedatangan. "Geff, kau sudah memanggil taksi???" Tanya Ariel.
"Kita sudah di jemput di depan." Ucap Geffie.
Mereka berdua keluar dan Geffie tersenyum melambaikan tangan kepada Garviol yang sudah menunggu nya di depan. Melihat Garviil, wajah Ariel pun berubah dingin. "Kau memintanya menjemput kota???" Tanya Ariel.
"Iya Pa. Garviil tidak ada pekerjaan yanv terlalu penting di kantor jadi dia bisa menjemput kita."
Garviil menghampiri Geffie dan Ariel. Dan dengan sopan dia menyalami Ariel. "Halo Om.." Sapa Garviil.
Ariel hanya diam. Garviil pun mengajak Geffie dan Ariel ke mobilnya. Ariel langsung membuka pintu depan dan akan duduk di sebelah Garviil. Gienka mengernyit karena Papa nya menyerobot begitu saja. Lalu Gienka pun memilih duduk di kursi belakang.
"Siapa yang memintamu untuk menjemput kami disini??" Tanya Ariel ketika Garviil baru saja menyalakan mobilnya dan meninggalkan airport.
"Saya sendiri Om yang meminta pada Geffie agar saya bisa menjemput kalian di airport." Garviil berbohong, yang meminta menjemput adalah Geffie, bukan dirinya.
"Kenapa??? Kami tidak meminta di jemput dan bisa memanggil taksi."
Garviol mencoba tetap tersenyum dna memahami sikap dingin Ariel kepadanya. "Karena saya sedang tidak terlalu sibuk Om, tidak masalah juga."
"Papa, sudah dong. Jangan galak-galak, cepat tua." Protes Geffie dari belakang.
"Om." Gumam Garviil. "Saya minta maaf untuk kejadian kemarin, saya tidak berniat membuat Om marah. Saya benar-benar minta maaf, dan tolong Om, jangan minta saya untuk menjauhi Geffie, saya sangat mencintainya. Om bisa katakan apa yang Om mau dari saya tapi jangan meminta saya untuk menjauhi Geffie, saya benar-benar tidak sanggup melakukannya. Setidaknya Om bisa memberi saya kesempatan untuk bisa membuat Om yakin bahwa cinta saya untuk Geffie sangat besar sekali."
Ariel hanya memilih diam dan memandang lurus ke depan, enggan menanggapi perkataan Garviil. Geffie juga hanya memandang sinis pada Papa nya yanga da di depan. Geffie berharap sekali bahwa Papa nya nanti mau merestui mya dengan Garviil.
"Om, saya tidak akan pernah menjauhkan Geffie dari Om, saya juga tidak akan mengajak Geffie tinggal disini selama nya. Saya akan kembali ke Indonesia dan membantu Papa saya di perusahaannya disana, jika Geffie sudah menyelesaikan pendidikannya disini. Sejak awal saya disini hanya akan tinggal sementara untuk mengurus bisnis Mama saya, dan karena Adik saya sudah mau membantu saya disini, dan jika saya merasa dia sudah cukup ahli untuk melakukan pekerjaannya, saya akan memberikan tanggung jawab pada perusahaan milik Mama kepada nya, jadi tentu saya akan kembali ke Indonesia dan fokus bekerja disana. Nanti Geffie jugaa akan saya biarkan untuk bekerja di kantor milik Om, karena Geffie pernah bilang pada saya jika Om sangat mengharapkan dia bisa membantu Om di perusahaan karena Kak Gienka sudah tinggal bersama suaminya disini." Ucap Garviil. "Sebagai seorang yang sangat mencintai Geffie, tentu saya juga harus menghargai keputusan Geffie dan tidak akan memaksa nya untuk tidak bekerja. Saya janji Om." Garviil berusaha meyakinkan Ariel lagi.
Setelah mengatakan itu dan tidak di respon oleh Ariel. Garviil pun berfokus mengemudi saja. Mungkin Ariel masih belum ingin membahasnya. Geffie juga memilih diam. Mood Papa nya sepertinya masih belum terlalu baik.
Perjalanan ke apartemen dalam keheningan lalu sampailah mereka di apartemen Geffie. Garviil menghentikan mobilnya. Dia hendak turun tetapi Ariel melarangnya dan dia keluar mengajak Geffie. "Tidak banyak barang yang kami bawa, jadi sampai disini saja. Ayo Geff..!!" Ucap Ariel.
Garviil menoleh ke belakang dan Geffie memberi isyarat agar kekasihnya itu tetap di dalam mobil dan dia akan masuk bersama Papanya. Garviil akhirnya memilih tetap bertahan di dalam mobil baru pergi setelah Geffie dan Ariel masuk. Sebelum masuk Geffie melambaikan tangan kepadanya dan tersenyum.
Geffie masuk di apartemen bersama Ariel. Dan meletakkan tas nya. "Kau istirahatlah, Papa akan keluar sebentar untuk mencari makanan. Papa lapar."
"Kita kan bisa pesan Pa. Aku akan pesan makanan kesini.
"Tidak perlu, Papa ingin jalan sebentar untuk cari udara segar.
"Baiklah kalau begitu." Geffie tersenyum.
Ariel kemudian keluar untuk mencari udara segar sekaligus membeli makan siang untuknya dan putrinya. Ariel tertuju pada sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari apartemen Geffie. Dia pernah melihat cafe ini sebelumnya saat dia berkunjung kesini di acara wisuda Geffie. Tetapi Ariel belum pernah masuk. Cafe itu seperti cafe pada umumnya dengan di kelilingi tanaman hijau yang membuatnya tampak sejuk dan asri. Ariel menyebrang jalan dan akhirnya memilih masuk ke cafe itu. Dia akan bersantai sebentar sambil minum kopi sebelum nanti kembali ke apartemen Geffie..
Ariel masuk dan mencari tempat duduk kosong. Karena memang cafe berada di dekat universitas maka wajar kebanyakan yang masuk ke cafe ini adalah anak muda. Tetapi Ariel tidak peduli, di usia nya saat ini, dia pun masih terlihat tampan dan mempesona.
Ariel tersenyum dan duduk, pandangannya memutar melihat suasana cafe ini. Cafe yang memang identik dengan anak muda dan di sudut lain dia jiga melihat ada bar. Cafe ini ternyata memiliki bar. Ariel menganggukkan kepala nya memuji pemilik cafe ini yang cukup kreatif dan inovatif.
Sampai kemudian seorang pelayan paruh baya menghampiri Ariel dan memberikan buku menu. Dia menyapa Ariel dengan ramah dan menawarkan beberapa menu yang menarik. Ariel kemudian memesan secangkir kopi dan juga bolognese untuk makanannya. Ariel benar-benar lapar dan dia tidak bisa menikmati makanan di pesawat tadi.
Setelah mencatat pesanan, Andro kemudian meminta Ariel menunggu beberapa saat untuk di siap kan pesanan ya. Andro kemudian meninggalkan Ariel.
Andro menengok ke belakang dan mengawasi Ariel. Dia seperti merasa pernah melihat pria itu. Tetapi Andro lupa dimana. Hanya saja dia tidak asing dan benar-benar lupa. Andro memberikan catatan pesanan pria itu dan duduk menunggu untuk mengantarkan pesanan itu nanti. Andro menyuruh pelayan lain melayani tamu yang lain.
Andro berpikir dan duduk diam memikirkan siapa pria itu dan dimana dia pernah melihatnya. Sampai kemudian seorang pelayan menepuk pundak Andro dan memberitahu jika Garviil meminta jus dan Andro di minta mengantarkan ke atas. Andro pun mengiyakan dan menerima nampan berisi jus yang di pesan Garviil. Andro bergegas mengantarkannya ke atas ke kamar Garviil. karena tadi Garviil memang baru datang.
Andro mengetuk kamar Garviil dan dia masuk ketika tuan nya itu menyahut dari dalam. "Jus mu." Ucap Andro dan meletakkan jus itu di depan Garviil. Andro melihat wajah Garviil yanv tampak murung. "Kau kenapa???? Kok muring??? Tadi katanya kau menjemput Geffie kenapa malah kesini???"
Garviil meraih gelas berisi jus dan meminumnya. "Papa nya geffie, dia sangat tidak menyukai ku. Sungguh wajah dinginnya Ariel Harsha itu benar-benar menyiksaku dan membuatku takut, aku takut dia menyuruhku berpisah dengan Geffie."
"Ariel Harsha????" Andro tampak berpikir. "Ah ya Tuhan... Aku ingat, aku melihat nya di internet saat kau menunjukkannya kepadaku. Ya, sudah jelas tadi pasti Papa nya Geffie."
Garviil mengerutkan dahi nya. "Apa maksudmu???" Tanya Garviil bingung.
"Apa....????"
"Iya dia di bawah, dia memesan kopi dan makanan disini. Aku akan turun dan mengantar pesanannya." Andro pun keluar dari kamar Garviil dan di ke bagian dapur dan pesanan Pria itu sedang di siapkan. Setelah siap, Andro pun kembali mengantarnya ke Ariel yang masih duduk di kursinya.
Andro mengantar kan makanan dan kopi yang di pesan Ariel dan tersenyum. "Anda datang ke cafe ini untuk pertama kali nya kan???" Tanya Andro.
Ariel memandang Andro terkejut. "Anda berbahasa Indonesia??? Tadi tidak???"
"Iya, saya asli orang Indonesia dan sudah lama tinggal disini. Saat pertama.melihat anda, saya seperti tidak asing, saya melihat anda seperti seseorang yang juga sering datang kesini dan menjadi pelanggan disini."
"Oh iya???" Ariel terkejut.
"Ya, putri anda sering datang kesini, Geffie, di tinggal di apartemen depan. Dan sering mampir untuk mengerjakan tugas kuliahnya kadang juga sekedar duduk-duduk memesan makanan dan minuman disini. Anda Papa nya Geffie kan???"
"Ah iya.." Ariel tersenyum. "Apa kau pemilik cafe ini??? Cafe ini bagus, suasana hijau dan sejuknya serta suasana di dalamnya sangat luar biasa, pengunjungnya pasti akan sangat betah sekali berlama-lama disini."
"Oh bukan, saya hanya bekerja disini, pemiliknya adalah Garviil." Andro menengok ke belakang dan ternyata Garviil turun dari tangga dan mendekati meja Ariel. "Itu pemiliknya." Ucap Andro.
"Om Ariel" Garviil tersenyum. "Senang sekali Om datang ke cafe ku."
Andro mengucapkan permisi dan meninggalkan kedua nya. Ariel hanya diam dan menatap garviil. Melihat tatapan tajam Ariel. Garviil pun tidak ingin mengganggu waktu makan Ariel, lebih baik dia kembali ke kamar dan membiarkan Ariel disini. Setidaknya dia sudah menyapa Ariel. "Om Ariel, enjoy saja, dan nikmati kopi serta makanannya, saya tidak akan mengganggu Om, saya akan kembali ke kamar saya. Terima kasih sudah datang, saya harap Om bisa menikmati nya. Permisi. Silakan di lanjutkan makannya." Garviil tersenyum dan berbalik badan untuk kembali naik ke kamarnya.
"Tunggu Viil..." Ucap Ariel. Membuat langkah Garviil terhenti dan dia berbalik menghadap ke Ariel lagi.
"Ya Om???? Apa Om butuh sesuatu sebagai pelengkap???" Tanya Garviil.
"Duduklah!!!" Perintah Ariel.
"Oh, baik Om." Garviil pun maju beberapa langkah, menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Ariel. Garviil tiba-tiba merasa takut. "Kenapa Om???" Tanya Garviil.
"Aku tunggu kedatanganmu dan orang tua mu minggu depan di rumahku, jika kau memang serius dengan Geffie dan berniat menikahi nya. Maka lakukan tahap awal dengan mendatangi rumahku bersama kedua orang tua mu, aku menunggu nya. Jika kau memang serius." Ucap Ariel.
Garviil pun terperanjat dan matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya. "Apa Om???? Datang ke rumah Om???? Om serius????"
"Apa aku perlu mengulangi ucapan ku????"
"Ah tidak-tidak Om, jelas sekali, tentu Om, minggu depan saya akan kembali ke Indonesia dan mengajak kedua orang tua saya. Saya akan buktikan kalau saya serius dengan Geffie. Saya juga sudah tahu alamat rumah Om, saya pernah menjemput Geffie disana."
Kali ini Ariel yang terperanjat. "Kau pernah ke rumahku???? Kapan???"
Garviil memejamkan matanya. dia malah keceplosan. "Ah itu saat menjemput Geffie, dia ingin ke rumah saya waktu itu untuk bertakziah karena Oma saya baru saja meninggal. Dia datang dan mengucapkan bela sungkawa. Saya menjemputnya fi rumah tapi kebetulan Om dan Tante tidak ada di rumah waktu itu, kata Geffie Om sedang pergi keluar kota."
***
Sementara itu. Bianca menangis terisak di pelukan seorang perempuan cantik yang tidak lain adalah sepupu nya yang datang dadi Indonesia. Bianca menceritakan semuanya apa yang terjadi padanya dan batalnya rencana pernikahannya dengan Gerviil pada Ciara.
"Aku dipermalukan sedemikan rupa, dianggap sampah!" Bianca menangis sesenggukan di pelukan Ciara, sepupunya yang hanya bisa merangkulnya bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
Ciara menatap Bianca dengan kasihan, sepupunya itu gagal melaksanakan pernikahannya yang sudah di depan mata, ditinggalkan begitu saja oleh tunangannya. Pada mulanya Ciara memang agak bingung, semula Bianca bertunangan dengan Garviil, tetapi kemudian tiba-tiba saja Bianca berpaling hati dan mengumumkan ke seluruh keluarga bahwa dia sudah bertunangan dan akan berpacaran dengan Vicky, yang notabene adalah saudara kembar Garviil.... dan kemudian kabar menyedihkan itupun menyeruak, pernikahan Bianca batal, baik Garviil maupun Vicky meninggalkannya.
Ciara tentu saja masih belum jelas akan permasalahan di antara ketiga manusia ini. Yang dia tahu, Garviil meninggalkan Bianca demi seorang perempuan lain yang sekarang sudah di pacari nya, dan Vicky meninggalkan Bianca karena Bianca berbohong kepadanya. Lalu Vicky berpacaran dengan sahabat perempuan yang di pacari Garviil.
Ciara menatap sepupunya yang cantik itu dan mendesah dalam hati. Yah sebenarnya dia juga tidak respek dengan cara Bianca mencoba mengikat tunangannya. Garviil yang malang merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang kebetulan dialaminya bersama Bianca, yang menyebabkan Bianca mengalami kelumpuhan dan ternyata, kelumpuhan Bianca selama ini hanyalah pura-pura. Hanyalah sebuah cara licik untuk terus menerus mengikat Garviil.
Ciara tidak bisa menyalahkan kalau Garviil dan Vicky sama-sama marah atas penipuan yang dilakukan Bianca, tetapi Ciara tidak setuju dengan cara si kembar menangani Bianca, entah bagaimana caranya, Garviil mengumpankan Vicky untuk merebut hati Bianca, bahkan menurut Bianca, Garviil juga menyuruh Paul yang ternyata adalah sahabat Garviil untuk merayu Bianca. Mereka semua kemudian membuat Cela terjebak sehingga ketahuan kebohongannya, mempermalukan diri Bianca habis-habisan.
Bianca memang licik, egois dan manja, tetapi seharusnya si kembar bisa menempuh cara yang lebih baik daripada mempermalukan sepupunya itu dan seperti kata Bianca tadi - membuangnya seperti sampah.
"Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Bianca???" Ciara mencoba mengembalikan Bianca pada kenyataan, hingga Bianca berhenti menangis dan meratapi diri.
Bianca mengusap matanya yang bengkak dan penuh air mata. "Aku tidak tahu, rasanya aku sudah tidak ingin hidup lagi, aku benar-benar malu, pada semua keluarga, pada teman-teman... apalagi setelah Garviil dengan tanpa hati berpacaran begitu saja dengan perempuan itu, perempuan yang bahkan tidak aku ketahui keberadaannya sebelumnya! Garviil sudah mengkhianatiku di belakangku, jauh sebelum aku menerima rayuan Vicky dan Paul!" Mata Bianca berapi-api, tampak penuh dendam, tiba-tiba dia menatap Ciara dengan serius, "Aku butuh bantuanmu, Ciara, kau adalah sepupuku yang paling dekat denganku, jadi aku sangat mengharapkan bantuanmu."
"Bantuan apa?" Ciara mengernyitkan keningnya, menatap Bianca dengan bingung.
"Aku ingin kau mendekati mereka, mendekati orang-orang yang pernah menghancurkanku. Aku tahu kau perempuan kuat, tidak seperti aku. Kumohon Ciara, hancurkan Garviil dan isterinya, hancurkan juga Vicky, aku ingin membuat mereka terpuruk seperti sampah, sama seperti yang pernah mereka lakukan kepadaku!"
"Apa?" Ciara ternganga, tidak menyangka kalau pikiran itu yang ada di benak Bianca, "Apakah kau gila Bianca? Aku tidak mungkin melakukan itu!"
"Kenapa tidak?" Bianca berurai air mata kembali, "Kau adalah orang yang tepat untuk rencana ini, apalagi Garviil dan Vicky, mereka tidak pernah melihatmu dan tidak tahu kau adalah sepupuku, itu semua karena alasan khususmu tidak mau mengunjungi kota tempat kami tinggal ini. Jadi karena mereka tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya, akan mudah bagimu mengatur rencana dan mendekati mereka tanpa diwaspadai." napas Bianca terengah dan bersemangat, "Kumohon lakukanlah itu untukku Ciara, atau setidaknya kau bisa mencoba, kalau memang kau merasa tidak mampu, aku tidak akan menyalahkanmu kalau kau mundur.... "