
"Hai sayang...???" Sapa Garviil ketika dia mengangkat panggilan dari Geffie.
"Hai... Kau sedang apa??? Di kantor ya???"
"Ehhh aku masih di rumah, aku terlambat bangun, untung meetingnya masih jam sepuluh. Kau sendiri sedang apa???" Garviil berbohong, dia semalam tidak bisa tidur, dan hari ini dia tidak akan ke kantor untuk meeting. Dia di usir oleh Ariel dan memberi alasan ada meeting penting pada Geffie karena tidak mau Geffie mengetahui masalahnya dengan Ariel.
"Aku juga sedang bersiap ke kampus dengan Papa. Kau sudah sarapan???" Tanya Geffie.
"Sudah."
"Dengan apa???"
"Omellete, tadi aku membuat omelete sendiri."
"Oh iya, lusa aku akan kembali ke Boston dengan Papa, aku akan mengosongkan apartemen, kau bantu ya???"
"Ya, tentu saja sayang."
"Aku akan mengirimnya melalui ekspedisi saja ke Washinton dc, ya seperti buku dan barang lainnya, kalau pakaian ya aku akan bawa sendiri."
"Ya, ekspedisi jauh lebih baik, bukumu banyak sekali, belum lagi pernak-pernik di kamarmu, sayang kalau di tinggal, itu kebanyakan barang antik."
"Kau benar. Itulah kenapa aku bilang pada Papa agar nanti mengirimnya melalui ekspedisi saja."
"Ya, aku akan menunggumu disini, kabari detailnya, atau kau ingin aku jemput di airport???"
"Tentu saja, jemput kami ya???"
"Oke akan jemput."
"Oke, sudah dulu, Papa sudah menunggu di bawah, nanti aku akan menghubunhimu lagi, aku mencintaimu."
"Aku juga..."
"Bye..."
"Byee...." Panggilan itu berakhir, Garviil meletakkan ponsel nya. Garviil bingung akankah dia sanggup untuk bertemu dengan Ariel lagi, terlebih Ariel menyuruhnya agar mengakhiri hubungan dengan Geffie. Lalu bagaimana nanti dia harus menghadapi Ariel. Garviil tentu tidak bisa jika dia harus putus dengan Geffie. Perempuan itu sudah menjadi hasraatnya lalu bagaimana dia harus mengakhiri hubungannya dengan Geffie.
Bagaimana dia harus membuat Ariel yakin kepada nya bahwa dia memang serius dengan Geffie. Sebenarnya tadi Garviil ingin membahas masalah itu dengan Geffie tetapi Geffie akan pergi, mungkin nanti setelah Geffie tidak sibuk, dia akan bicara dengan Geffie.
***
Malam harinya. Geffie duduk di kamarnya. Dia tadi sudah makan malam dengan keluarga kakaknya dan sekarang ke kamar untuk beristirahat setelah berbincang dengan mereka sebentar. Geffie sudah berjanji pada Garviil akan menelepon lelaki itu.
Geffie membuka laptopnya dan dia akan melakukan panggilan video karena seharian ink belum melihat wajah kekasihnya itu. Sementara itu Garviil juga sedang sibuk membaca laporan pekerjaan yang di terimanya sore tadi dari sekretaris nya. Fokus nya terbuat kan ketika melihat Geffie menghubunginya. Garviil tersenyum dan menjawab panggilan video dari Geffie. "Hallo sayang???? Kau sudah selesai makan malamnya???" Tanya Garviil.
"Sudah, aku sedang di kamar, kau sedang apa???"
"Wah aku mengganggu dong???"
"Tidak sama sekali, hanya memeriksa saja." Garviil tersenyum. "Ehhhh..." Suara nya terbata. "Aku sebenarnya tadi pagi ingin membahas sesuatu denganmu, tetapi karena kau akan pergi jadi aku mengurungkan niatku itu."
"Katakan saja sekarang, kau ingin membahas apa???"
"Tapi aku harap kau tidak marah, ataupun kesal dan tidak memberitahu Om Ariel."
Geffie mengernyit. "Tidak memberitahu Papa???? Memangnya tentang apa????"
"Kau janji dulu jangan marah atau kesal pada siapapun, termasuk Papa mu. Please???"
"Iya iya. Kenapa??? Apa semua nya baik-baik saja????" Tanya Geffie penasaran.
"Sebenarnya, Kemarin Om Ariel yang menyuruhku untuk kembali ke Boston. Dia marah dan mengusirku."
"Apa.....???? Jadi Papa mengusirmu????" Seru Geffie.
"Iya, tapi dengar dulu, aku akan jelaskan penyebabnya, kau tenang dulu oke???"
"Kenapa Papa mengusirmu??? Apa yang kalian bahas???"
"Jadi sebenarnya malam itu, kami mengobrol, aku mengatakan keseriusanku padamu, awalnya sih tidak terjadi masalah apapun tetapi semua berubah ketika aku mengatakan kepadanya jika aku ingin menikahimu secepatnya."
Geffie tergelak. "Apa kau bilang?????"
Garviil mengangguk. "Iya sayang, aku bilang pada Om Ariel kalau aku ingin menikahimu dalam waktu dekat karena aku ingin memilikimu dan tidak ingin kau di ambil oleh laki-laki lain, aku sangat serius denganmu jadi aku berpikir bahwa lebih baik hubungan ini di bawah ke hal yang serius yaitu pernikahan. Om Ariel langsung marah kepadaku, dan memintaku pergi, dia juga meminta agar hubungan kita di akhiri. Dalam hal ini aku memang salah, aku terlalu buru-buru membahas hal yang sensitif itu, tetapi ya mau bagaimana lagi??? Aku tidak bisa menahan diri untuk mengatakan kalau aku ingin menikahi mu."
"Kenapa kau mengatakan hal itu???? Wajar kalau Papa marah, haduh kau ini bagaimana sih???"
"Ya bagaimana, aku memang serius ingin menikahimu, dan itu kenapa aku meminta restu pada Papa mu. Ya sih mungkin terlalu cepat, tapi jujur sayang, apa yang aku katalan kemarin benar adanya dan aku tidak main-main. Tapi please, jangan katakan apapun pada Om Ariel, aku tidak mau dia nanti malahembenciku karena aku mengatakan masalah ini padamu. Aku akan cari solusi dari masalah ini. Nanti kalau kau kembali, aku akan mengatakan bahwa aku akan bersabar dan tidak buru-buru untuk menikahi mu, supaya hubungan kita tetap berjalan dan kita tidak berpisah. Jangan katakan apapun pada Om Ariel ya kalau aku memberitahu mu masalah ini???"
"Oke aku tidak akan memberitahu Papa, tetapi aku hanya ingin tahu kenapa kau berani sekaliengatakan itu padanya??? Ya, aku tahu kau memang serius dengan hubungan kita, tapi bagaimana bisa kau terpikirkan mengenai hal itu????"
Garviil menunduk. "Karena aku memang ingin melakukannya, ya aku tahu usiamu masih terlalu muda, tetapi ku pikir tidak ada salahnya kalau kita menikah, aku juga sangat mencintaimu, menikah muda adalah jalan yang bagus untuk menghindarkan kita dari perbuatan yang melanggar norma. Dan aku juga tetap akan membebaskan mu untuk melanjutkan kuliah di Washington, sementara aku tetap disini dengan pekerjaanku. Aku hanya tidak mau kau di dekati oleh laki-laki lain, jadi aku ingin mengikatmu, itu saja sebenarnya."
"Kau berpikir sejauh itu???? Apa kau tidak percaya kepadaku???"
Garviil menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu sayang, aku hanya ingin hubungan kita ke jenjang yang lebih serius dan kuat lagi. Aku sadar aku salah, aku minta maaf, karena kecerobohanku, Om Ariel jadi marah dan tidak mengijinkanku untuk berhubungan denganmu lagi. Aku minta maaf."
"Apa kau serius dengan semua itu??? Maksudku dengan ucapanmu itu???"
"Iyalah sayang, ya masa kalau aku tidak serius aku akan mengatakan kepada Papa mu. Cari masalah dong namanya. Tapi ya kalau karena itu Papamu marah dan memintaku menjauhi mu, aku akan bicara lagi dengannya nanti saat kalian ada di Boston, aku tidak akan mengajakmu menikah buru-buru. Aku akan menunggumu sampai lulus. Aku tidak akan memaksakan kehendakku."
Geffie terdiam menatap layar laptopnya dan melihat kesungguhan di mata Garviil. "Kalau aku bilang iya untuk menikah denganmu bagaimana????" Gumam Geffie.